Isyaroh

Isyaroh
Gempar pasca Aqiqoh


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


............


Dan di kampung Sulis justru Sulis menyebarkan adanya seorang pedagang kakek kakek yang sangat baik hati. Dan anak anak sebayanya juga di beri tahu jika beberapa hari lagi Sulis akan diberi buah hasil kebun kakek itu secara gratis. Dan anak anak sebayanya akan ikut menunggu kakek itu. dan yang tidak disadari oleh Sulis adalah bahwa dirinya terancam dengan bahaya. Dan yang lebih parah adalah ada seorang anak sebaya Sulis yang lahir dihari yang sama hanya berbeda waktu dalam hitungan menit sampai jam saja.


Sehingga bisa jadi nanti dua anak tersebut akan diculik sekalian oleh Maheso Suro dan Mento Rogo….!!!?


“Kakek itu baik banget Indri, juga dia pinter bisa membaca garis tangan kita.” Kata Sulis pada teman se dusun Sulis yang bernama Indri.


“Indri kenalin juga dong Sulis, kan Indri juga kebetulan udah gak punya kakek. Pasti seneng deh punya kakek yang baik gitu ?” ucap Indri.


Tanpa mereka berdua sadari jika keduanya dalam bahaya jika sampai bertemu dengan Maheso Suro dan Mento Rogo nanti. Karena Maheso Suro punya keahlian mampu melihat ciri ciri anak yang lahir di hari selasa kliwon. Berdasarkan buku Primbon yang dia pelajari,meskipun itu sebenarnya tidak bernilai seratus persen benar. Melainkan hanya sebuah catatan yang berdasarkan kebiasaan yang tingkat kebenaranya hanya sekitar 70 % saja.


Namun tidak bermaksut menyinggung orang yang menggunakan ilmu ‘Titen’ ( teliti ) tersebut. Perhitungan seperti itu tidak boleh dianggap seperti sebuah kepastian, meskipun ada nila kemungkinan yang cukup besar. Masih ada factor lain yang menjadi hak prerogative ‘Sang Pencipta’ untuk menentukan yang sering disebut Qodo dan Qodar.


Manusia boleh merencanakan dan memperhitungkan apa yang mungkin akan terjadi, sesuai disiplin ilmu yang dimiliki. Namun harus tetap meyakini bahwa semua yang terjadi itu atas kehendak ‘Sang Pencipta’. Seperti halnya manusia bisa memprediksi akan datangnya Hujan badai dan lainnya, sesuai dengan tanda tanda Alam yang dalam bahasa Pesantren disebut ‘ISYAROH’. Selama tidak menganggap itu sebagai sebuah kepastian, karena itu sama halnya mendahului kehendak-Nya.


Ada tiga unsur yang harus di perhatikan dalam kehidupan ini yaitu Usaha, Doa dan Tawakal. Maksutnya adalah, manusia boleh merencanakan sesuatu (Usaha Lahiriyah ) dan berdoa memohon kepada Allah (Usaha Batiniyah ) Namun keduanya harus dalam bingkai Tawakal kepada Allah. Dan menerima apapun yang Allah tetapkan, karena apa yang kita kehendaki belum tentu sesuai dengan Kehendak-Nya.


*****


 


Nasib sulis dan Indri dalam bahaya besar yang bisa membahayakan mereka berdua, karena kelicikan Maheso Suro dan Mento Rogo yang bersekutu dengan Iblis.


Hingga sampailah pada hari yang telah di janjikan oleh Maheso Suro kepada Sulis dimana Maheso Suro menjanjikan akan memberikan hadiah kepada Sulis gadis dusun yang masih sangat polos itu. Gadis yang belum mengenal dan belum terkontaminasi oleh pemikiran pemikiran licik.


Dari pagi Sulis dan Indri sudah tak sabar untuk menunggu kehadiran Maheso Suro yang dianggap orang baik itu. yang sebenarnya adalah Serigala berbulu Domba, yang siap memangsa mereka.


*****


Flashback di rumah Yasin


Yasin POV


Setelah Wiwin siuman dari pingsan, Wiwin tampak seperti orang yang kebingungan.


“Ibu,,,apa yang terjadi kenapa Wiwin ada disini ?” Tanya Wiwin pada ibunya.


“Alhamdulillah kamu sudah sadar Win, cukup lama kamu pingsan tadi. Apa yang kamu ingat nak, cobalah ceritakan kepada ibu dan bapakmu sekarang !” kata ibunya Wiwin.


Wiwin masih belum juga sadar seratus persen akan dirinya, sehingga setiap kali mengingat justru kepalanya merasa pusing. Melihat itu aku kemudian mendekati dan menyapa Wiwin, dengan harapan bisa mengingatkan wiwin dengan peristiwa yang barusan terjadi.


“Masih ingat aku gak Win ?” tanyaku pada Wiwin.


Wiwin menatapku tajam mencoba mengingat sesuatu yang ada di dalam memori pikirannya. Cukup lama wiwin menatapku seakan hendak mengucapkan sesuatu namun tertahan di dalam tenggorokan nya. Sehingga hanya mampu membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


“Katakanlah apa yang ingin kamu katakana Win, kami siap mendengarkan. Atau jika kamu hanya ingin bapak ibumu saja yang mendengar kami yang lain akan menyingkir dahulu.” Ucapku pada Wiwin.


“Aku ada dimana Ahmad ?” Tanya Wiwin memanggilku dengan nama Asliku. Memang Wiwin dan masyarakat dilingkungan Dusunku lebih banyak yang mengenalku sebagai Ahmad Sidiq dan menyebutku dengan nick name Ahmad.


  “Kamu di rumahku, masa lupa rumahku hampir tidak mengalami perubahan dari dulu kan ?” jawabku.


Kemudian Wiwin memperhatikan sekelilingnya dan mengamati kamar yang dia tempati. Masih dalam kebingungannya Wiwin kemudian ingat dengan peristiwa sebelumnya. Saat bertempur denganku tadi, dan dia menggeleng gelengkan kepalanya seakan tiak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya.


“Tidaaak… tidaaak…. Aku gak mungkin, gak mungkin Ahmad….!” Ucap Wiwin entah apa maksutnya.


“Apa yang gak mungkin Wiwin ?” tanyaku kepada Wiwin.


“Aku… mimpi kan ?” Tanya Wiwin.


“Maksutnya mimpi apa Win ? kamu gak mimpi sekarang ini kamu berada di rumahku, sudah lama kita gak pernah bertemu. Dan sudah lama kamu meninggalkan kedua orang tuamu, apa kamu sudah ingat semuanya ?” tanyaku pads Wiwin.


Wiwin tidak menjawab, hanya menangis menitikkan air matanya dan mengeluarkan suara tangisannya. Aku biarkan dia menangis dan aku minta ibu dan bapaknya untuk menghibur Wiwin. Sementara yang lain aku ajak keluar kamar dulu, aku biarkan Wiwin menumpahkan tangisan penyesalan kepada kedua orang tuanya.


*****


Aku meninggalkan kamar yang ditempati Wiwin bersama saudara saudaraku, kemudian berbicara di ruang Mujahadah.


“Apakah mungkin temen ma situ daam pengaruh ki Soma selama bertahun tahun ini ?” Tanya Sena kepadaku.


“Gak gitu Sena, pada awalnya kayaknya Wiwin sendiri memang ada ketertarikan dengan ki Soma. Dan mungkin itulah yang dijadikan modal oleh ki Soma untuk mengikat Wiwin dengan rapal mantera yang di tuliskan dalam kulit kijang ini.” kataku sambil mengeluarkan lembaran kulit kijang yang bertuliskan Rajah dalam huruf Jawa.


“Coba aku lihat apa isinya ?” pinta kang Tohari yang dari tadi tidak membuka mulut sama sekali.

__ADS_1


Kemudian lembaran kulit kijang itu di pegang serta dipandanginya, sampai bibirnya beberapa kali berdecak melihat isi dari rajah tersebut.


“Kamu tahu gak isinya ini apa Ahmad ?” Tanya Kang Tohari kepadaku tiba tiba.


“Tahu kang, itu semacam mantera pengikat hati wanita !” jawabku.


“Sungguh kasihan teman kamu itu, meskipun sudah kau buang semua khodam yang bersemayam di hatinya. Namun hatinya masih terkunci oleh laki laki itu, dan butuh waktu serta beberapa sarana untuk mengurai simpul gaib yang mengikat hatinya.” Kata kang Tohari.


“Waduh kalo itu kang Tohari saja yang melakukan kang, kayaknya aku dan Sena sudah maksimal mengeluarkan jin jin yang menjadi khodam dia tadi.” Jawabku.


“Ini orang yang bersangkutan harus menebus dosanya dengan Fida Al Ikhlash ( Membaca surat al ikhlash dalam jumlah tertentu ) agar diampuni dulu kesalahannya yang cukup besar.” Ucap kang Tohari.


“Sebentar kang, ada beberapa pendapat tentang jumlah pembacaan Fida, ada yang dua belas ribu, tujuh puluh ribu sampai dengan seratus ribu kali. Kita mau pakai yang mana kang ?” tanyaku pada kang Tohari.


“Pakai yang seratus ribu, dan kita lakukan bersama diniatkan untuk memohonkan ampunan bagi teman kamu itu. memang butuh waktu cukup lama, jika memang tidak selesai satu majlis maka boleh dilakukan beberapa kali sampai sejumlah seratus ribu.” Kata kang Tohari.


Kemudian kami menghitung jumlah orang yang mungkin bisa membantu membaca doa dan Fida surat Al-Ikhlash tersebut. dengan harapan bisa selesai satu Majlis ( Satu kali pertemuan ) karena tiga hari lagi pun aku juga ada acara yang penting yaitu aqiqah buat jafar anakku. Juga di rumahku akan dijadikan tempat pernikahan Khotimah dan Candra juga Arum dengan Rofiq.


Saat kami sedang berembuk, tiba tiba aku mendengar Pak Subekti memanggilku.


“Nak Ahmad, bisa saya minta waktunya sebentar ?” ucap pak Subekti memanggilku.


“Iya pak, sebentar saya kesitu.” Jawabku sambil melangkah ke arah pak Subekti.


“Kalian lanjutkan dulu bicara Soal Fida tadi, aku mau menemui pak Subekti bapaknya Wiwin.”kataku sambil jalan.


Tanpa menunggu jawaban aku segera menemui pak Subekti.


“Iya pak ada perintah apa pak ? Bagaimana kondisi Wiwin sekarang pak ?” tanyaku pada pak Subekti.


Beliau terdiam sesaat, tampak agak ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya itu.


“Bapak dan ibu minta tolong padamu. Bagaimana caranya agar anakku Wiwin bisa melupakan laki laki yang kemarin menjadi pasangan hidupnya. Sebenarnya bapak malu mengatakan, tapi bagaimana lagi, kenyataanya Wiwin kemarin memang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.” Ucap pak Subekti.


Sebenarnya aku pun sudah menduga itu, namun aku gak tega mengatakan hal tersebut.


“Apa yang bisa kami bantu pak ?” tanyaku pada pak Subekti.


“Terserah padamu nak Ahmad, jika memang butuh biaya atau apapun jangan sungkan untuk bilang kepada kami.” Ucap pak Subekti.


“Aah bukan itu pak maksutnya, tidak akan ada biaya apapun dalam menolong sesame. Karena yang kami bisa lakukan hanyalah membantu doa saja. Bukan dengan sarana yang membutuhkan materi pak.” Jawabku .


“Iya bapak tahu, hanya seandainya membutuhkan sesuatu yang memang perlu mengeluarkan dana jangan sungkan bicara denganku. Ucap pak Subekti.


“Terimakasih nak, kalo begitu aku titip anakku ya. Bapak sama ibu mau berembuk di rumah dan juga mau membicarakan dengan Nunung kakak Wiwin.” Ucap Pak Subekti.


Kemudian pak Subekti dan istrinya mohon pamit untuk pulang ke rumahnya. Dan aku pun menghantarkan beliau berdua sampai ke halaman rumahku.


Kemudian aku meminta tolong Khotimah untuk menemani Wiwin.


“Fat, Khotimah mana suruh nemenin Wiwin dulu. Aku masih mau berembuk dengan yang lain, terkait rencana Fida untuk Wiwin. Dan sekaligus membahas Aqiqah besuk.” Kataku pada Fatimah.


“Iya mas, jangan sampai acara besuk jai tertunda ya. Sebisa mungkin urusan yang lain di pending dulu, karena urusan kita besuk juga sangat penting.” Kata Fatimah.


“Iya Fat, saat acara besuk jika ada urusan di luar biar Sena atau kang Tohari yang yang menangani. Aku tetap konsentrasi dengan acara kita dulu.” Jawabku.


“Sukurlah kalo begitu, yaudah Fatimah cari Khotimah dulu buat jagain Wiwin.” Ucap Fatimah sambil melangkah. Akupun kembali bergabung dengan saudara saudaraku yang lain.


Dan dari hasil pembicaraan kami tersebut disepakati jika nanti malam akan melakukan Fida untuk Wiwin dengan satu kali majlis. Karena nanti aka nada tambahan personil Isti dan rofiq yang akan segera datang ke rumahku.


Sementara Khotimah menemani Wiwin yang kadang masih suka bingung dan teriak teriak gak jelas, karena factor psikologis saja tetapi. Bukan karena gangguan makhluk astral yang kemarin bersemayam dalam tubuhnya.


Hingga sore hari sekitar jam Lima sore, Isti datang bersama rofiq dan Ibunya. Sehingga rumahku pun serasa menjadi ramai seperti beberapa waktu yang lalu. Untunglah rumah warisan leluhurku itu meski gak bagus bagus amat. Tapi cukup luas dan mempunyai banyak kamar kamar, menurut cerita katanya dulu memang dijadikan kamar kamar bagi orang yang mengaji kepada kakekku, Sidiq Ali.


Singkat cerita malam hari saat kami membacakan Fida untuk Wiwin, terjadi respon yang sangat mengejutkan kami semua.


Dari saat pelaksanaan Fida sampai akhir pelaksanaan Wiwin teriak teriak kesakitan dan akhirnya sampai mutah mutah. Untunglah waktu itu tetap dalam pengawasan Khotimah sehingga semuanya bisa di atasi oleh Khotimah.


Bahkan setelahnya Wiwin merasakan demam yang luar biasa membuat beberapa orang jadi khawatir akan keadaanya. Namun aku tidak begitu panik, karena aku dulu juga mengalami begitu saat selesai melakukan fida. Badan panas dingin, perut mual kepala pusing berhari hari. Dan kata senior seniorku di pesantren semua mengalami itu. ada yang mengatakan jika itu adalah proses keluarnya atau diampuninya dosa kita dengan merasakan sakit yang luar biasa tersebut, wallahu a’lam bishowab.


“Mas temen kamu itu aneh juga ya, Isti heran kok temen temen kamu dulu gak ada yang bener sih ?” ledek Isti padaku  sambil senyum senyum senang bisa meledekku.


“Iya memang, dan yang paling gak bener adalah kakak kamu tuh…!” balasku pada Isti.


Sehingga rofiq yang dari tadi diam saj kemudian menyahut.


“Suek lo Zain, aku gak ngapa ngapain lo bawa bawa…!” gerutu Rofiq.


“Wkakaka…. Ya kan memang kenyataanya begitu kan ?” ledekku pada Rofiq. Namun Isti juga ikut terkena imbas ledekanku. Dan gak bisa komentar apapun.


Malam itu kami merasa lega karena Wiwin sudah mulai menyadari kesalahannya. Meski masih takut ketika diajak untuk sholat, entah karena apa.  Dan pagi harinya Wiwin dijemput oleh kedua orang tuanya dan dibawa pulang kembali kerumahnya.


Aku mengijinkan Wiwin dibawa pulang oleh kedua orang tuanya, dan menyampaikan jika ada apa apa silahkan hubungi salah satu dari kami yang siap datang untuk membantu, kataku pada kedua orang tua wiwin tersebut.

__ADS_1


Waktu berjalan dengan damai bahkan gangguan serigala jadian pun tidak terdengar malam itu. mungkin juga Maheso Suro dan Mento Rogo cukup jera denganku malam itu, sehingga baru menyusun sebuah rencana baru untuk membuat kekacauan di dusunku dan dusun sekitar kami.


Samapi dengan Hari H Aku melaksanakan Aqiqoh tidak ada hal yang terjadi, mudah mudahan saja memang sudah tidak ada ancaman lagi. Sehingga aku bisa hidup dengan Damai.


Sejak pagi buta rumahku sudah ramai karena ada acara Aqiqoh dan juga pernikahan dua pasang sekaligus. Sehingga hari itu benar benar merupakan momentum yang sangat bersejarah bagi kami.


Aqiqoh buat Anakku Jafar dengan menyembelih dua ekor kambing, sekaligus di jadikan menu sajian bagi tamu keluarga pasangan pengantin yang melakukan pernikahan nanti. Ada seutas senyum kebahagiaan yang terlihat di wajah istriku dan ibu mertuaku. Dan tentu saja itu juga membuat aku bahagia, melihat orang orang terkasih tersenyum penuh kebahagiaan. Sampai tak kusadari akupun tersenyum sendiri melihat Fatimah dan mertuaku tersenyum.


“senyum senyum sendiri ngapain mas ?” Tanya Isti yang tiba tiba muncul dihadapanku bersama Khotimah sambil membawakan kopi dan camilan ringan.


“Iya Is, coba kamu perhatikan Fatimah dan Ibunya tuh. Dia bahagia sekali hari ini, itulah yang membuat aku jadi ikut bahagia.” Jawabku pada Isti.


“Ow iya mas, mungkin sebentar lagi Yuyut sama Pak de juga akan sampai kesini.” Ucap Khotimah member kabar bahwa Yuyut juga akan datang.


“Alhamdulillah jika Yuyut bisa hadir disini.” Jawabku senang.


“Gak hanya itu mas, kang Salim Samsudin dan Eis juga hari ini akan sampai sini.” Sambung Isti kemudian.


Aku sampai tidak bisa melukiskan betapa bahagianya aku waktu itu. bahkan semua persoalan yang terjadi selama ini pun seakan pergi menjauh. Dengan adanya Yuyut, Kang Salim, kang Tohari dan semua saudaraku rasanya semua kekuatan sudah terkumpul dan siap menghadapi siapapun saat ini. jangankan hanya menghadapai dua orang Maheso Suro dan Mento Rogo. Seandainya joyo Maruto dan Jin dalang itu ikut terjun pun rasanya aku gaka akan gentar lagi menghadapi mereka semua.


Palin tidak untuk acara aqiqoh dan pernikahan akan berjalan dengan lancar. Dan saat ini tinggal menunggu kehadiran Arum dan Candra yang akan melangsungkan pernikahan di Rumahku ini, sekaligus kakak beradik itu akan menikah bersamaan. Candra menikah dengan Khotimah dan Arum menikah dengan Rofiq kakak kandung Isti.


Suasana bahagia menyelimuti seluruh anggota keluargaku saat itu, tinggal menunggu kedatangan Rombongan kang Salim dan Rombongan Keluarga Candra saja. Sidiq pun sudah mindar mandir menunggu kedatangan ibu kandungnya Arum.


*****


Maheso Suro dan Mento Rogo bersiap menculik Sulis


Saat Yasin dan keluarganya sedang berbahagia di rumahnya, menanti kedatangan tamu tamu yang akan menjadi pasangan pengantin dan menjadi tamu special bagi keluarga Yasin. Saat itu juga bersamaan dengan Maheso Suro dan Mento Rogo bersiap menculiok Sulis.


“Sekarang sudah saatnya kang, jangan sampai keburu rembulan muncul. Kalo sampai rembulan muncul, kita gak akan bisa berbicara seperti ini lagi kang.” Ucap maheso Suro.


“Hmm Iya, kita berangkat sekarang, tapi kamu duluan yang sudah mengenal mereka. Disamping aku beluum dikenal, dengan penampilan wajahku yang seperti ini aku takut justru mereka akan ketakutan.” Kata Mento rogo.


Dan berangkatlah Maheso Suro dengan membawa beberapa buah buahan sebagai alat untuk memancing Sulis dan menculiknya dan disandera untuk di jadikan tumbal saat malam bulan purnama nanti.


Dan sesampainya di dusun Sulis ternyata Sulis dan beberapa temannya sudah menunggu Maheso Suro. Maheso Suro pun kaget dengan beberapa anak yang menyertai sulis. Sehingga harus memikirkan trik agar bisa menculik Sulis tanpa harus diteriaki penduduk. Belum sempat hilang kagetnya Maheso Suro dia lebih kaget lagi melihat indri teman sulis yang mempunyai cirikhas anak yang lahir di hari selasa kliwon.


“Maaf ya kek, Sulis membawa temen temen sulis. Dan kebetulan temen Sulis ini juga  hari ulang tahunnya sama, karena waktu lahirnya hampir bersamaan dengan Sulis.” Ucap Sulis.


“Owh gak papa nak, dan kakek juga bawa temen yang sebentar lagi juga kesini bawa buah buahan yang banyak juga. Biar buah yang kakek bawa ini untuk teman teman Sulis saja. Sedangkan untuk Sulis dan temen sulis yang ulang tahunya sama. Nanti ada hadiah khusus yang dibawa temen kakek.” Kata Maheso Suro.


Kemudian Maheso Suro membagi bagikan buah buahan kepada anak anak teman teman Sulis. Hanya Sulis dan Indri yang tidak di berinya.


“Nah yang udah mendapatkan buah segera pulang ya, jangan sampai dicari orang tua kalian. Sedangkan Sulis Dan anak ini sebentar lagi akan kakek beri hadiah khusus, biar nanti pulangnya menyusul belakangan.” Ucap Maheso Suro.


Dan dengan mudah Maheso Suro membawa Sulis dan Indri ketempat Mento Rogo bersembunyi. Dengan iSyarat khusus akhirnya Mento Rogo membuat Sulis dan Indri pingsan serta membawa merka berdua ketempat persembunyian mereka. Tanpa di ketahui oleh satu orangpun warga kampong tersebut.


Al hasil warga pun geger mengetahui bahwa Sulis dan Indri belum pulang sampai selepas maghrib. Hingga membuat ibu Sulis menjadi syok, lantaran sebelumnya sudah mendapatkan firasat kurang baik tentang anaknya Sulis. Demikian juga dengan ibunya Indri, dan akhirnya seluruh warga kampung itu geger dan menyimpulkan Sulis dan Indri di culik untuk keperluan ritual, karena keduanya lahir sama sama hari selasa Kliwon.


“Cepat lapor polisi saja, dan sebagian ke rumah pak Yasin yang kemarin membantu menghalau serigala buas !” perintah salah satu tetua warga.


beberapa episode lagi novel ini akan Tamat.


Dan Akan dilanjutkan dengan "ISYAROH 2"


dengan judul....



...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2