Isyaroh

Isyaroh
Perjanjian dengan Fatimah


__ADS_3

Dialog akhir eisode lalu.


Tapi bisa saja mas Yasin masih memendam rasa sama ibunya Sidiq dan menjalin hubungan lagi Is !" sanggah Fatimah.


" Kamu tahu gak Fat, tuduhan kamu itu tidak benar sama sekali !" balas Isti dengan nada suara seperti menangis.


"Maksutnya Is ?" tanya Fatimah.


" Suamimu minta tolong aku, untuk menjodohkan Arum ibunya Sidiq bekas pacarnya itu dengan Mas Rofiq kakakku. Katanya sebagai bentuk tanggung jawabnya pada bekas pacarnya itu. Sedang terhadap Sidiq anak biologisnya, dia tetap akan memperlakukan sebagai anak." jawab Isti.


" Beneran begitu kah Isti ?" tanya Fatimah kali ini ikut menangis.


" Iya Fat, apakah kamu ragu denganku ? Bukankah selama ini aku selalu jujur padamu. Kamu udah seperti saudaraku. Jika kamu berkenan besuk Isti tunggu di Jogja. Isti kangen denganmu. Besuk aku jelaskan semua di Jodja Fat !" pinta Isti pada Fatimah.


Fatimah agak ragu dan berikir sejenak.


" Fatimah usahakan Is, meski jujur Fatimah belum bisa nerima sepenuhnya keadaan ini Is !" jawab Fatimah.


" Yaudah Fat, satu pesanku buatmu. Jodoh itu sudah diatur Fat. Dan kurasa suamimu itu saat ini sudah jadi lebih baik. Jangan pandang masa lalunya, tapi tataplah masa depan kalian berdua. Assalaamu 'alaikum Fatimah saudaraku !" kata Isti mengakhiri percakapan.


" Wa 'alaikummussalaam Isti...!" jawab Fatimah.


Kata kata Isti terakhir mengingatkan pesan Yuyut nya Fatimah. Karena kalimatnya yg serupa dan senada.


Dulu Yuyut berpasan ;


*Apapun yg terjadi aku dan Mas Yasin harus tetap bersama.


...&...


Harus berjalan lurus kedepan jangan kembali ke masa lalu / belakang.


Mungkin itu juga pesan untukku, bukan hanya untuk mas Yasin.


" Baiklah, ini sudah takdirku yg harus aku terima !" ucap Fatimah dalam hati.


Tiba tiba Khotimah angkat bicara,


" Apa mbak Fatim yg dikatakan Mbak Isti ?" tanya Khotimah.


" Isti bilang mas Yasin juga gak ngerti jika sudah punya anak dari perbuatanya dulu. Dan Fatimah rasa, memang benar seperti itu." jawab Fatimah.


" Jujur Khotimah tadi juga sempert kecewa dan marah dengan mas Yasin. Tapi Khotimah pikir itu masa lalu mas Yasin. Jadi buat apa kita benci masa lalunya, Khotimah justru merasa bersalah !" ucap Khotimah.


" Apa baiknya kita temui mas Yasin sekarang Khot ? Takutnya dia jadi sedih, Fatimah juga gak tega !" kata Fatimah.


" Maksut mbak Fatim, mbak Fatim memaafkan dan mau menerima mas Yasin apa adanya ?" tanya Khotimah.


" Ya gimana lagi Khot, hati mbak sudah kuserahkan padanya seutuhnya. Asal mas Yasin mau lupakan mantan pacarnya. Mbak tetap akan terima dia apa adanya !" jawab Fatimah.


" Kalo soal anak mas Yasin mbak ?" tanya Khotimah lanjut.


Fatimah terdiam sesaat, ada keraguan dalam hatinya.


" Soal itu mbak masih ragu Khot, jujur saja. Apa saat lihat dia nanti jd inget ibunya lantas ada rasa cemburu. Atau saat lihat dia nanti, ingat kalo dia itu juga anak suamiku meskipun bukan dari rahimku." jawab Fatimah.


" Jadi maksut mbak Fatim gimana ?" desak Khotimah.

__ADS_1


" Secara nurani, mbak tahu anak itu tidak bersalah. Mbak harus mengakui dia sebagai anak suamiku. Tapi sisi manusiawi mbak, belum bisa menerima itu Khot. Makanya mbak jadi bingung !" jawab Fatimah.


" Iya sih mbak, Khotimah tahu Khotimah juga wanita. Pasti sulit mengambil sikap untuk itu !" ucap Khotimah.


" Terus menurut Khotimah, perlu nemuin mas Yasin sekarang tidak mbak, atau nunggu besuk saja ?" tanya Fatimah.


" Saat ini belum terlalu malam jika mau bicara sebagai suami istri. Tapi Khotimah gak bisa ikut. Mbak Fatim sendiri saja yg bicara dengan mas Yasin !" jawab Khotimah.


" Iya deh, mbak coba bicara berdua. Tapi mbak lihat dulu, mas Yasin udah tidur aoa belum." kata Fatimah.


" Menurutku sih belum tidur, pasti mas Yasin lagi mikirin mbak Fatim gak bisa tidur sekarang !" jawab Khotimah.


" Mbak pikir juga begitu Khot tapi mbak pastiin dulu aja." jawab Fatimah.


...........................


Sementara, setelah Fatimah masuk kamar. Masih ada pembicaraan dari bapak ibu mertua dan Ahmad Sidiq.


" Jadi, kamu juga baru sadar nak, jika kamu sudah punya anak ? " tanya ibu mertuaku.


" Njih bu, saya benar benar baru sadar setelah itu terjadi." jawabku.


"Ya sudah, kamu istirah dulu biartenang. Bapak ibu juga mau istirahat." kata ibu mertuaku.


Kemudian ibu dan bapak mertuaku bankit dari ruang keluarga masuk ke kamar.


" Aku pun masuk kemar tidur, yg biasa dipakai Khotimah.


Aku barbaring, tapi anganku menerawang jauh ke masa silam.


Dari berbaring miring ke kanan ganti kekiri. Tak juga mampu menghilangkan bayangan masa lalu.


Segala posisi terasa salah, kegelisahan hati yang membuat serba salah. Mata kupaksa terpejam namun anganku melayang.


Batin menjerit meneriakkan keresahan. Semakin lama justru semakin gundah kurasakan.


" Aah aku harus keuar rumah sebentar, sekedar cari angin dan cari ketenangan !" bisikku dalam hati.


Aku lantas keluar rumah, duduk duduk saja di teras sambil menunggu kantuk. Kebetulan kamar yg ditempati khotimah lebih dekat ke pintu. Jadi aku buka sedikit pintunya agar kelihatan jika ada yg diluar.


Tiba tiba aku dengar langkah kaki menuju kamarku. Aku tengok dari teras rumah.


"Fatimah.... mau apa ngintip ke kamarku ?" bisikku dalam hati.


Aku jadi makin was was, apa dia mau marahin aku ? Atau..... aah aju gak mau berspikulasi.


Tiba tiba Fatimah berbalik ke kamarnya lagi. Aku sebenarnya mau menyapa tapi takut, justru dia jadi marah besar lagi. Maka jubiarkan dia kembali ke kamarnya.


Tak lama kemudian, gantian khtimah yg keluar kamar. Khotimah menuju kamar yg aku tempati tadi. Dan membuka sedikit pintu kamar.


" Mas... mas Yasin !" suara Khotimah pelan memanggilku.


Mau gak mau aku harus menjawab.


" Aku di teras Khot..!" jawabku pelan.


Kemudian Khotimah menyusulku ke teras.

__ADS_1


" Kenapa di luar mas ?" tanya Khotimah.


" Aku gak bisa tidur Khot, makanya keluar kamar. Kamu gak ikutan marah ke aku Khot ?" tanyaku ke Khotimah.


" Jangan gitu mas, Khotimah sudah dijelasin sama mbak Isti tadi. Mbak Fatim juga udah faham sekarang. Baiknya mas Yasin bicara sama mbak Fatim dikamar. Khotimah mau tidur di kamar khotimah aja !" ucap Khotimah sambil jln ke kamarnya.


Aku terdiam sejenak, semudahitukah Fatimah berubah fikiran. Atau pintarnya Isti dalam menjelaskan.


Aku agak ragu, namun aku tetap melangkahkan kakiku ke kamar Fatimah.


Keraguan kembali muncul saat di depan pintu. Aku tidak mengetuk pintu, ah lansung masuk saja. Apapun yg terjadi harus kuhadapi.


Saat aku masuk, kulihat Fatimah tidak tidur. Tapi duduk di tepi ranjang dengan kaki menapak di lantai dan pandangan menunduk ke bawah.


Aku lantas ikut duduk disampingnya.


Hening sesaat...!


Baik Fatimah maupun aku hanya diam.


"Maafkan aku Fatimah, aku tahu kamu kecewa padaku. Tapi sungguh itu semua terjadi di masa lalu." kataku membuka pembicaraan.


" Apa mas Yasin masih mencintai Arum ?" tanya Fatimah dengan tiba tiba.


" Tidak Fatimah, itu adalah masa laluku. Sama halnya dengan Eis sudah jadi masa laluku." jawabku.


"Beda mas kasus Eis dan Arum. Eis memang sudah jadi masa lalumu. Sama seperti mas Samsudin jadi masa lalu Fatimah. Tapi Arum beda mas, Arum sampai mengandungdan melahirkan anakmu Sidiq !" desak Fatimah.


" Iya memang Fatimah, tapi soal Arum ibunya sidiq. Mas sudah minta tolong Isti untuk dijodohin dengan kakaknya Isti. Yaitu bang Rofiq yg sekarang di penjara. Ms juga udah bilang ke Arum, kalo mas gak mungkin kembali padanya !" jawabku.


" Apakah itu bisa berhasil ?" tanya Fatimah lagi.


" Mas juga gak tahu, tapi minimal berusaha dan membuktikan padamu. Jika saat ini Arum tak lagi ada di hatiku. Karena dihatiku sekarang hanya ada kamu Fatimah istriku." jelasku pada Fatimah.


" Jujur mas, Fatimah masih sakit hati, dan saat ini belum bisa menerima keadaan ini. Jadi Fatimah mohon maaf jika belum bisa bersikap seperti bisanya." ucap Fatimah.


" Maksut Fatimah gimana ?" tanyaku kaget.


...bersambung...


mohon maaf up nya agak terlambat, baru ada urusan yg harus diselesaikan.


Mohon dukunganya ya.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2