
Dialog akhir eisode lalu
...( Masih Fatimah pov )...
Udah kalian ni, sukanya ribut mulu !" seru ibuku.
" Yuk siapa yg mau ke pasar mas anterin yuk !" ucap mas Yasin.
" Ya mbak Fatim lah mas !" celetuk Khotimah.
Fatimah hanya melotot ke Khotimah mau nyubit dia di deket ibu.
" Udah yuk sayang, jalan kaki saja yuk !" ajak mas Yasin pada Fatimah.
Fatimah tak menjawab, tapi langsung melangkah keluar. Mas Yasin mengikuti dari belakang, masih menjaga jarak.
Fatimah sengaja pura pura cuek, sekedar menguji mas Yasin.
Meski sebenarnya, hati Fatimah sudah jauh lebih tenang dari semalam. Sudah bisa menerima keadaan ini.
Bahkan ada rasa penasaran pingin lihat secara dekat. Seperti apa anak mas Yasin suamiku yang lahir dari rahim wanita lain itu. Aneh memang, kenapa rasa itu justru seperti rasa kangen ?!?. Padahal, awalnya hanya rasa penasaran.
Memang sih, sudah pernah lihat fotonya sekali. Itupun sekilas saat ada panggilan masuk dari nick name Sidiq. Dengan profile anak itu ternyata yang bernama Sidiq itu adalah anak mas Yasin.
Pantas, dulu angkat telpunya bilang begitu. Rupanya kode, kalo baru bersamaku.
Tapi anak itu memang cute, imut banget. Fatimah juga ingin anak fatimah besuk seperti anak itu. Fatimah juga ingin tahu, seperti apa wajah Arum, bagaimana sufatnya.
Rasa penasaran Fatimah justru semakin besar, semakin ingin segera sampai Jogja. Bertemu isti, mungkin juga bisa bertemu Arum dan Sidiq, sekedar memenuhi rasa penasaran Fatimah.
Ah kenapa pikiranku justru terfokus disitu. Sampai tak kusadari mas Yasin sudah berjalan disampingku.
" Mikir apa sayang, kok dari tadi melamun terus ?" ucap suamiku.
" Gak mikir apapa !" ucapku bohong.
" Jangan begitulah, ingat kandunganmu sayang !" ucap mas Yasin suamiku.
" Gak mikir apapa, cuma takut nanti di jogja kamu merasa lebih leluasa bertemu mantan aja !" jawabku sekenanya saja.
" Apa masih kurang percaya, jika saat ini yang kupikirkan hanya kamu Seorang ?" tanya suamiku.
" Fatimah maunya bukti bukan hanya obralan janji, jadi sebelum ada bukti Fatimah juga gak akan percaya penuh." jawab Fatimah.
" Iya bukti itu akan segera kamu dapatkan nanti." jawab suamiku penuh kemantapan
" Bukti apa yg akan dia berikan ?" bisik Fatimah dalam hati.
" Mas nungguin dipenjual Ronde yang dulu aja ya ?" tanya mas Yasin.
" Mas tega biarin istri hamil bawa belanjaan sendiri ?" tanyaku.
Padahal perutku belum begitu besar waktu itu, sengaja ngerjain suamiku yang biasa jahil.
" Owh iya mas lupa, yaudah ayuk jalan. Biar mas yang bawa belanjaanya!" ucap suamiku.
Rahangku aku katupkan kuat kuat, menahan tawa. Agar tak keluar tawa yang bisa bongkar sandiwaraku.
Fatimah perhatikan mas Yasin gak curiga jika aku pura pura aja masih kesel.
Biarin sekali sekali, ngusilin suami yangtukang usil.
Sebenarnya juga gak tega lihat suami macam pembantu bawain semua belanjaan begitu.
Tapi kulihar mas Yasin masih kelihatan enjoy gitu. Jadi kubiarin saja dia ngikutin sambil bawa barang belanjaan.
__ADS_1
Sampai akhirnya semua kebutuhan sudah dibeli kami berdua melangkah pulang. Saat sudah dekat rumah baru aku ngomong.
" Berat gak mas ?" tanyaku.
" Gak lah cuma segini !" katanya.
" Yaudah sini Fatimah bawa sebagian !" ucap Fatimah.
sampai dirumah Khotimah sudah selesai berkemas. Kemudian aku dan Khotimah ke dapur menyiapkan sarapan. Sementara mas Yasin diminta menemani bapak dan ibu minum teh di ruang makan. Sambil nunggu hidangan siap.
" Ibu bersyukur kamu dan Fatimah istrimu bisa akur lagi." Ibuku berkata membuka obrolan.
" Njih bu, alhamdulillah Fatimah masih mau terima saya apa adanya." jawab mas Yasin membawa logat jogjanya.
" Yang sudah ya sudah nak, asal kamu Istiqomah dalam bertaubat. Bapak dan ibu selalu merestui kaliyan." lanjut ibuku.
Kemudian, bapak ku pun menimpali.
" Tidak ada manusia yang sempurna, pasti selalu ada saja kekuranganya. Sebaik baik orang adalah, orang yang menyadari kekuranganya dan mau memperbaikinya." kata bapakku.
"Njih pak, saya sadari banyak ekurangan saya. Dan insyaa Allah akan saya perbaiki, serta menutup kesalahan masa lalu saya dengan berbuat kebaikan." Ucap mas Yasin.
Kemudian ibuku melanjutkan bertanya.
" Apa Fatimah sudah benar benar reda amarahnya ? " tanya ibuku.
" Kalo reda seratus persen mungki belum bu, masih butuh proses biar benar benar ikhlash menerima saya." ucap mas Yasin.
" Gini nak Yasin, semua orang pnya kesempatan yang sama. Orang baik seperti apapun, pasti punya masa lalu yang buruk. Dan orang jahatpun punya masa depan untuk menjadi baik. Jika punya niat, tekat dan kemauan berbuat baik." kata bapak.
Mas Yasin mendengarkan semua Nasehat bapak dengan sangat serius dan Antusias.
" Nak Yasin harus benar benar berjalan di relnya, jangan sampai melampaui batas." ucap ibuku.
" Njih bu " kata mas Yasin menunduk.
Sementara Fatimmah dan Khotimah didapur menyiapkan sarapan pagi berdua.
" Biasanya mas Yasin ikut ngebantuin ya Mbak ?" tanya Khotimah.
" Iya sekarang baru dinasehati bapak ibu !" jawabku.
"Eh mbak, semalam udah akur beneran kah ?" tanya Fatimah.
" Iya damai bersyarat lah, Selama mas Yasin tidak kembali ke pelukan mantan pacarnya ya Fatimah terima saja. Mungkin sudah nasib mbak mu punya anak tiri Khot !" ucapku agak melo.
" Gak papa mbak, buktinya mas Yasin juga sangat sayang mbak Fatim." ucap Khotimah menyesali pertanyaanya.
" Iya Khot, mbak Fatim dah bersukur dapet suami meski terbukti punya anak dari masa lalunya. Yang penting sekarang cintanya tulus untuk mbak saja !" ucapku menghibur diri sendiri.
Karena dalam hatiku masih ada pergulatan batin meski tak separah semalam.
" Betul mbak, Khotimah aja bangga lihat kemesraan kalian mbak." ujar Khotimah.
" Mbak juga sudah bulat hanya mencintai mas Yasin kok." ucapku pelan ke Khotimah.
" Eh mbak pernah lihat anak mas Yasin katanya, kayak gimana ?" tanya Khotimah.
" Cuma di pp wa gak begitu seksama melihatnya !" ucapku.
" Minta temen mbak yang namanya Isti itu saja mbak. Barang kali punya !" usul Khotimah.
" O iya, sekaligus bilang jadi berangkat ke jogja. Aku belum kasih kabar ke Isti." seruku. Baru ingat, ditunggu kabarnya sama Isti.
" Yaudah mbak Fatim kontak mbak Isti dulu saja. Biar urusan masak Khotimah yg beresin." seru Khotimah.
__ADS_1
Tanpa bicara Fatimah langsung cht Isti.
" السلام علیكم و و
Pagi Isti
Hari ini Fatimah jadi berangkatke jogja. Kalo kamu punya, tolong dong kirimin foto anak mas Yasin dan juga Arum mantan mas Yasin.
Chat ku ke Isti.
Sudah centang dua, o sampai. Dan kulihat Isti langsung mengetik balasan. Mungkin Isti juga sudah nunggu kabar dariku, pikirku.
Dan beberapa menit kemudian, balasan Isti masuk.
" وعلیكم اسلام و و
الحمدلله یا الله
Akhirnya kau jaga juga keutuhan rumah tangga saudaraku. Tapi untuk apa Fatimah minta foto Sidiq dan Ibunya ?"
Balasan chat Isti, yg langsung ku balas.
" Gak papa kok Is, hanya pingin tahu saja."
Chatku berikutnya ke Isti.
Beberapa saat kemudian Chat dari isti masuk.
Ini Sidiq, anak mas Yasin.
Dan ini ibunya Sidiq.
Dua chat dari isti yg berisi foto Sidiq dan ibunya.
" Ok makasih Isti, anak tiriku ganteng juga. Fatimah mau kok rawat dia juga. Tapi tanpa ibunya tentunya."
Chat ku kemudian.
" Sukurlah Fat, gimanapun juga, dia anak suamimu. Jadi rawatlah dia seperti anak kandungmu !"
jawaban chat Isti.
**Note :
Orang baik punya masa lalu. yang mungkin buruk
Orang jahat punya masa depan bisa jadi lebih baik**.
...bersambung...
mohon maaf, karena satu dan lain hal. Struktur, retorika dan gaya bahasa sedikit ada perubahan. Tanpa mengurangi isi dan tema cerita.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...