Isyaroh

Isyaroh
Rencana memancing tokoh antagonis keluar kandang.


__ADS_3

Tak satupun dari mereka berani menjawab, dari keempat orang itu hanya satu yang menurutku cenderung lebih dekat ke Gembul.


Tanpa pikir panjang, kudekati dia dan kupegang kerah lehernya.


“ Gue tahu lo, dekat sama Gembul. Lo pergi bilang ke Gembul, kalo dia laki laki bukan banci suruh hadapi gue. Jangan libatkan keluarga gue.” Kataku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur.


“ Lo jangan main kasar Zein !” katanya melotot. Namun emosiku yang sudah memuncak justru membuat aku ingin menonjoknya.


Saat aku melangkah mendekatinya, tiba tiba dua orang lainya menghalangiku.


“ Cukup hentikan Pertikaian !” kata dua orang tersebut.


“ Lo mau keroyokan ?” tanyaku membentak.


Tiba tiba Burhan yang dari tadi diam angkat bicara.


“Sabar Zein, lo terlalu emosi belum jelas siapa kawan siapa lawan saat ini. Semua saat ini saling curiga. Dan sekarang kita gak ada pimpinanan, kita dah bubar.” Seru Burhan.


“ Yaudah tentuin sikap sekarang juga, gue gak ada waktu banyak, biar jelas siapa kawan dan siapa lawan !” kataku.


“ Gak semudah itu bro, pengaruh Gembul sekarang makin gila. Dia didukung banyak kekuatan dan modal.meski kita juga gak suka sama Gembul, tapi dia yang hidupi kita saat ini.” Jawab salah satu orang yang menghadangku.


Hamper saja tinjuku mendarat diwajahnya, namun ditarik teman yang satunya.


“ Gue dah bilang,gue gak cari ribut sebenarnya. Tapi kalo lo ada yg dukung Gembul, itu musuh gue. Karena Gembul ancam keluarga gue. Lo ikut Gembul sama aja lo memusuhi gue.” Ucapku.


“ Gue Tanya sekali lagi lo jawab yang jujur, dan semua ada konsekuensinya.” Kataku.


“ Maksut lo gimana Zein ?” Tanya Burhan.


“ Lo pade nyadar gak, selama ini udah di bohongi Gembul. Bininya Rofiq aja dijual sama gembul. Bukan gak mungkin besuk besuk bini lo, adik lo saudara lo yang bakal dimasukan kedunia Prostitusi.” Ucapku.


“ Lo coba pengaruhi gue zein ?” kata Dino yang sempat kudorong tadi.


“ Terserah kalian mo percaya siapa, alasan Rofiq berbalik mendukungku. Salah satunya karena Gembul lah yang sudah menipu istri Rofiq dan dijadikan wanita penghibur. Makanya Rofiq dendam sama Gembul.” Jawabku.


“ Lo fitnah aja zein, gembul gak kayak gitu. Gembul orangnya aja halus gak kayak lo brangasan !” kata Dino.


“ Lo sembarangan omong sekali lagi beneran gue tonjok muke lo Din !” ancamku.


“ Lo pikir gue takut “ balas Dino.


Aku yang sudah menahan emosi sejak dengar Sidiq jadi sasaran, langsung mengeluarkan double stick ku.


“ Siapa yang mau bela Gembul hadapi gue dulu, Dino lo pilih single atau keroyokan sekarang ?” tanyaku. Sambil memukulkan doble stik ke meja tempat nongkrong.


Semua menepi kecuali Dino,.


“ Lo bawa senjata, gue kagak zein !” ucap nya.


“ Kalo lo maju sendirian gue gak pakai senjata, kalo lo keroyokan terpaksa gue pakai senjata gue.” Jawabku.


Double stick mau aku letakkan, namu tiba tiba Dino mengeluarkan belatinya dan mengarahkan ke lambungku. Secepat yang kumampu doble stick yang hamper kuletakkan itu aku pakai untuk menangkis. Setelah berhasil menangkis sekaligus ku putar menghantamkan kepala Dino.


Dino terjatuh, dengan posisi kepalanya berdarah dan belati sudah lepas dari tanganya.


Belum puas dengan itu, aku tendang wajah Dino hingga kembali terjengkang ke belakang. Aku tetap mengejar Dino bermaksut memaksa dia mencari tahu keberadaan Gembul.


Namun aku terhenti karena mendengar teriakan orang orang datang, tak ingin jadi bermaslah dengan warga. Aku tarik Burhan kuajak pergi dengan motorku meninggalkan tempat itu.


Sampai disuatu tempat aku hentikan motorku dan kutanya pada burhan.


” Aku mau bicara penting padamu baiknya dimana ?” ucapku.


“ Dirumah gue aja Zein, gue jadi gak enak kepikiran orang rumah.” Jawab Burhan.


“ Ok kuantar kamu pulang sekarang.” Kataku.


Aku berbelok arah menuju rumah Burhan, dalam perjalanan pulang dia lebih banyak diam. Dan wajahnya kuperhatikan dari spion tampak murung. Pasti menyembunyikan sesuatu, pikirku.


Sampai di rumah Burhan, disambut istrinya yang tadi sempat ketakutan denganku.


“ Sudah pulang Pak ?” Tanya istrinya.


“ Iya, kamu minggir dulu sana,aku mau bicara berdua dengan Zein !” ucap Burhan.

__ADS_1


Istrinya pun hanya menurut dan pergi ke belakang. Burhan tampak bingung dan ketakutan. Seperti baru mendapat sebuah ancaman yg berat.


“ Lo takut apa ?” tanyaku ke Burhan.


“ Gue mikirin anak bini gue Zein, Dino mang pendukung Gembul. Dan mengajak orang lain juga dukung Gembul.” Kata Burhan


“ Terus lo juga mau dukung Gembul gitu ?” tanyaku ke Burhan.


“ Gak gitu juga, cuman semua pada takut ancaman Gembul, yang dukung Lo bakal dihabisin keluarganya. Yang dukung dia akan dapat hadiah. Yang diam saja tidak dukung sana sini dianggap sudah mati.” Jelasnya.


“ Sejak kapan lo Takut sama Gembul ?” tanyaku.


“ Bukan Gembulnya yang ditakutin, tapi orang orang disampingnya serem serem. Bahkan ada yang gak mempan di bacok !” kata Burhan.


“ Haah serius lo  Burhan ?” tanyaku lebih lanjut.


“ Iya gue serius, kemarin di datangi Gembul bersama seoarang yang menakutkan pakaianya serba hitam. Pakai kalung dan bawa keris, katanya mau habisin lo !” begitu keterangan Burhan.


“ Terus apa lagi yang kamu tahu ?” desakku.


“ Orang itu gak banyak omong, tapi menyeramkan, aku gak berani menatap matanya. Seperti ada kekuatan magis yang kuat. Aku dan teman teman lain disuruh mencoba ilmu kebalnya.disuruh bacok dia rame rame tapi gak ada yang mempan.” Ucap Burhan.


“ Terus ?” tanyaku.


“ Kami semua ditawari diajarkan ilmu kebal, tapi harus bantu rencananya. Dan Dino sudah menjadi muritnya.” Kata Burhan.


“ Owh begitu, pantas dia tadi berani melawanku. Rupanya mau coba ilmu barunya. Tapi kamu lihat sendiri dia gak kebal kan,masih berdarah tadi. Jadi kalian Cuma mau dibohongi saja.” Kataku.


“ Gak tahu juga gue, tapi banyak yang terpengaruh.” Kata Burhan.


“ Ok Han, gue gak paksa lo bantu gue. Tapi jangan lo berada dipihak mereka, sekali gue tahu lo bantu pihak mereka lo adalah musuh gue. Sekarang gue cuma minta tunjukin markas si Gembul. Gue harus bikin perhitungan khusus sama dia, baru gue urus yang lainya.” Kataku sedikit mengancam.


“ Gue gak tahu pasti Zein, markasnya berpindah pindah katanya. Tapi info terakhir nanti malam aka nada pertemuan di salah satu bukit di lereng merapi. Yang melibatkan semua “orang pintar” ( sebutan untuk Para Normal ) yang mendukung Gembul.” Kata Burhan.


“ Lo denger dari mana ?” tanyaku.


“ Sori Zein, salah satu pengikutnya adalah suami alm kakak kandungmu. Dia ikut membantu Gembul.” Kata burhan.


Bagai suara petir, kalimat Burhan terakhir itu. Spontan emosiku semakin naik, sulit aku mengendalikan diri. Bahkan hamper saja aku meluapkan emosiku di rumah Burhan. Untungnya aku masih bisa menahan diri, sehingga tidak berbuat yang merugikan.


Aku putar arah motorku menuju kerumah, soal mencari gembul bisa nanti sambil jalan. Sampai dirumah, Fatimah sudah menungguku bersama Isti.


“ Assalaamu ‘alaikum…!” ucapku.


“ Wa’alaikummussalam mas…!” sahut Fatimah dan Isti bersamaan.


“ Maaf baru sampai rumah,ada urusan penting tadi.” Kataku.


“ Mas dari mana saja, bukankah sudah dipesan agar hati hati !” kata Fatimah.


“ Dari menemui seseorang, iya kan mas hati hati dan gak aneh aneh kok !” jawabku berbohong. Tak mau membuat istriku khawatir.


“ Besuk kalo pergi, disuruh mengajak salah satu dari Fanani atau temanya mas, pak Yadi tadi bilang begitu.”  Ucap Fatimah.


“ Iya besuk, aku ajak salah satu dari mereka, tolong buatin kopi sebelum solat asar. Aku agak capek tadi banyak urusan yang harus aku selesaikan. “ kataku.


“ Oiya tadi pak Yadi bilang sore ini mau kesini. Tadi mas pergi lupa gak bawa hp.” Sahut Fatimah. Dalam hatiku bilang “ bukan lupa mang sengaja gak bawa.”


Tak lama kemudian Khotimah datang membawa kopi, dan ikut nimbrung.


“ Mas Yasin dari mana saja, seharian Sidiq nyariin !” kata Khotimah.


“ Aku kan pergi dah siang, sudah habis dhuhur baru keluar.“ jawabku.


Kemudian aku menyeruput kopi yang masih panas, sedikit demi sedikit untuk mengurangi ketegangan dan meredakan emosiku yang tadi meluap.


“ Sebenarnya mas dari mana ?” Tanya Isti.


“ Dari nemuin temen lama, cari informasi tentang langkah musuh yang mau mencelakai kita. Biar kita tidak salah langkang dan kalah langkah.” Jawabku.


“ Terus hasilnya ?” Tanya lanjut Isti.


“ Banyak, kakak iparku dipihak mereka, nanti malem aka nada pertemuan di lereng merapi. Anak buah abangmu semua diancam Gembul dan pendukungnya. Untuk membantu atau minimal tutup mulut.” Jawabku.


“ Berarti tadi pasti sempat bersitegang dengan sebagian dari mereka ?” Tanya Fatimah menimpali.

__ADS_1


“ biasa perang mulut saja, biar tahu mana lawnmana kawan.” Jawabku.


“ yang mas maksut kakak ipar ma situ bapaknya Rendy ?” Tanya Fatimah.


“ Iya “ jawabku.


“ Kok bisa begitu mas ?” desak Fatimah.


“ Dari awal kan aku dah bilang, dia itu Cuma berharap uang.” Kataku. Aku merasa tak perlu mengatakan jika bapaknya Rendy sebenarnya mengincar Rumah ini.


Setelah ngopi aku bergegas solat asar,karena waktu makin sore.


Setelah asar aku kembai keruang tamu, pak yadi sudah menunggu disitu.


Kami membicarakan seputar rencana menghadapi situasi yang semakin panas. Akupun menceritakan informasi yang aku peroleh tadi. Dan soal aka nada pertemuan di lereng Merapi pak Yadi pun sudah mendengar pula.


“ Jadi apa rencana kita nanti pak ?” tanyaku pada pak Yadi.


“ Tenang pak, saya sudah tempatkan orang masuk kedalam rombongan itu. Biar kita bisa memantau kegiatan mereka.” Sahut pak Pak Yadi.


“ Sukurlah, jadi saya bisa konsentrasi mujahadah di rumah.” Jawabku.


“ Iya pak, sama satu Hal lagi. Gembul itu hanya alat, ada orang kuat dibalik Gembul yang menjadi otak kejahatan yang terjadi saat ini. Dan Gembul sendiri tidak tahu siapa orangnya. Karena permainan mereka sangat rapi.” Kata pak Yadi lagi.


Ini membuat situasi dan kondisi yang semakin tak karuan. Harus benar benar menggunakan akal dalam bertindak. Sekali salah melangkah bisa berakibat Fatal. Jauh lebih berat dari menghadapi makhluq tak kasat mata, karena saat ini musuh yang kasat mata tapi tak tahu dia siapa. Disamping musuh yang tak kasat mata beneran juga memang ada.


“ Saya punya rencana, memancing actor intelektualnya itu mau muncul. Tapi tidak mudah, dan resikonya juga cukup besar pak ?” kata pak Yadi.


“Apa itu pak ?” tanyaku.


“ kita lepaskan tikus untuk menangkap kucing, Istilahnya begitu pak ?” jawab pak Yadi.


“ Iya saya faham pak, tapi siapa yg akan kita jadikan umpan. Dan saya tidak mengijinkan salah satu keluarga besar saya yang dijadikan umpa.” Jawabku.


“ Tentu saja bukan pak, tapi rencana saya mau melepaskan Tuti pak !” jawab pak Yadi.


“ Terus langkah berikutnya, dan tindkan pengamanan bagi tuti sendiri pak ?” tanyaku.


Aku agak berat menerima usul pak Yadi sebenarnya, karena bagaimanapun Tuti itu juga manusia yang harus dilindungi. Meskipun saksi kuncinya bukan pada Tuti itu sendiri.


“ Kenapa saya pilih Tuti, karena dia masih kuliah dan harus kekampus juga. Untuk pengamatan dan keamanan sudah saya tempatkan orang. Baik di lingkungan kampus Tuti maupun disekitar kos nya tuti pak. Sementara saksi kunci sebenarnya tetap kita jaga ketat.


“ Kapan rencana Tuti akan dilepas pak ?” tanyaku.


“ Besuk pak !” jawab pak Yadi.


“ Besuk, apa gak buru buru pak ?” tanyaku.


“ tidak pak, semua persiapan sudah disiapkan secara matang. Kasus ini harus segera selesai pak.” Harus ada tindakan yang berani tpi tetap memperhitungkan resiko secara matang.


“ Baik saya setuju, tapi keamanan Tuti harus benar benar dijaga pak.dan saya ingin ketemu Tuti sebelum dia dilepaskan. Karena saya yang dulu janji mau melindungi dia,jika mau diajak kerja sama.” Kataku.


“ Bisa pak, nanti malam selepas mujahadah, bapak saya jemput saya ajak menemui tuti dan sekaligus mengintai kegiatan mereka di lereng merapi.” Kata pak Yadi.


Kebetulan,aku bisa menangkap basah ayahnya Rendy,akan aku beri pelajaran dia,pikirku.


Terimakasi *atas dukungan dari Readers semuanya.


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.*


...bersambung...


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2