
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Maaf ya Khot, mas mau bertanya tolong jawab dengan jujur. Karena ini sangat penting bagi keselamatan kita semua. Apakah kamu dengan Fanani dalam berpacaran kemarin melampaui batas ?” aku bertanya dengan pelan dan hati hati agar Khotimah tidak tersinggung, juga Fatimah tidak salah Faham.
Khotimah tidak langsung menjawab, hanya tertunduk malu dan kulihat hampir menitikan air mata.
“Jawab pertanyaan mas mu Khot, jangan hanya diam saja…!” tiba tiba Fatimah malah membentak.
“Gak mbak Fatim,,,, Khotimah masih menjaga kesucian Khotimah. Meski memang pernah hampir larut dalam buaian asmara dengan mas Fanani. Khotimah yang memang belum pernah dijamah satu lelakipun waktu itu hampir saja menyerahkan harta paling pribadi milik Khotimah. Namun waktu itu terselamatkan karena Khotimah baru dapet tamu bulanan. Dan sejak saat itulah Khotimah gak mau bila diajak mojok berdua dengan mas Fanani, karena Khotimah menyadari jika Iman Khotimah masih lemah. Jadi lebih baik menghindari dari pada keterusan.” Jawab Khotimah pelan sambil menangis. Aku menjaga agar jangan samopai orang lain mendengar selain kami bertiga waktu itu.
“Kapan peristiwa itu terjadi Khot ?” tanyaku pada Khotimah.
Kemudian Khotimah menceritakan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar dua hari setelah kang Salim pulang ke pondoknya. Khotimah yang waktu itu ngobrol dengan Fanani menceritakan komentar kang Salim yang mengatakan bahwa dirumah ini ada aroma calon pengantin dan tidak hanya satu. Kemudian oleh Khotimah dan Fanani diartikan bahwa mereka lah salah satu dari calon pengantin tersebut. Sehingga baik Khotimah maupun Fanani berpikir mereka akan bisa dinikahkan.
Meskipun waktu itu Fanani berpikir bisa menikah siri tanpa pengesahan Negara sedangkan Khotimah terbuai dengan janji Fanani yang katanya baru dalam proses perceraian dengan istrinya. Tanpa menceritakan yang sebenarnya. Bahwa Fanani lah yang masih berat menceraikan istrinya dan masih berharap bisa rujuk dengan istrinya. Namun begitu dia juga tetap berharap dapat menikahi Khotimah juga, meskipun hanya nikah dbawah tangan tanpa melewati KUA atau mencari legalitas formal pemerintah.
Aku menghela nafas panjang, hampir saja mahkota adik sepupu istriku direnggut lelaki brengsek yang hanya mau enaknya sendiri. Ataukah ini juga sekaligus menjadi teguran bagiku, bagaimana rasanya jika mempunyai saudara perempuan yang direnggut kesucianya oleh lelaki yang belum menikahinya.
Dengan mengingat apa yang dulu aku pernah lakukan kepada Arum, membuat aku bisa menahan emosiku. Hampir saja aku bertindak kasar pada Fanani, untung masih sadar jika diriku pun bukan orang yang bersih dalam hal itu. Setidaknya sedikit bisa mengurangi kemarahanku, meskipun aku masih merasa perlu menegur Fanani. Namun itu sifatnya hanyalah peringatan tidak boleh mengancam apa lagi sampai menggunaakan kekerasan.
“Mas jangan apa apain mas Fanani, semua itu kesalahan kami berdua. Bukan hanya kesalahan mas Fanani saja, dan yang pasti kesucian Khotimah masih terjaga sampai detik ini. dan Insya Allah akan Khotimah jaga sampai pada waktunya nanti. Jika sudah ada yang menghalalkan Khotimah.” Ucap Khotimah yang tampaknya khawatir jika aku sampai menangani Fanani. Aku merasakan masih ada sisa sisa rasa cinta Khotimah dengan Fanani. Aku memaklumi hal itu, karena pernah juga mengalami harus move on dari orang yang dicintai dan belajar mencintai orang yang sebelumnya tidak aku cintai.
Entah mengapa, kejadian ini justru seperti mempertontonkan kepada diriku betapa buruknya masa laluku. Dan aku diposisikan seperti posisi Candra pada waktu itu. tanpa sadar aku justru tersenyum sendiri, mengingat kebodohanku dimasa lalu.
“Mask ok malah senyum senyum sendiri, jangan jangan mas merencanakan sesuatu rencana terhadap Fanani yang hanya mas sendiri yang tahu ?” ucap Fatimah khawatir juga seperti Khotimah.
“Jangan suudzon dulu dong sayang, mas gak punya rencana jahat sama sekali. Tidak merasa dendam atau marah yang berlebihan pada Fanani.” Jawabku pada Fatimah.
“Lah terus kenapa mas malah senyum senyum sendiri kayak merahasiakan sebuah rencana yang gak ingin Fatimah ketahui ?” desak Fatimah.
__ADS_1
Sebenarnya bukan maksutku merahasiakan apa yang aku pikirkan. Namun lebih menjaga perasaan istriku, jika aku menceritakan bahwa aku merasa ditegur dengan kejadian ini. Jadi ingat kebodohanku saat dulu bersama Arum yang sampai menodai bahkan menghamili hingga lahir Sidiq. Aku khawatir Fatimah mengira aku masih memikirkan Arum, yang sebentar lagi akan dipinang Rofiq, dikira aku masih menyimpan perasaan kepada Arum.
“Gak gitu say, hanya aku gak sampai hati jika harus cerita apa yang aku pikirkan. Takut kamu jadi salah paham nanti.” Jawabku.
“Mas cerita aja, asal masuk akal Fatimah gak akan salah paham. Tapi kalo itu hanya akal akalan mas saja maka Fatimah gak akan maafin mas, sampai mas bener bener menyesali kebohongan mas itu.” Ancam Fatimah.
“Yaudah mas jujur saja, tadinya memang aku sangat marah kepada Fanani atas apa yang dia lakukan pada Khotimah yang hampir merenggut kesucian Khotimah. Mas seperti gak dipandang sama Fanani, berani kurang ajar dengan adik kita Khotimah. Tapi kemudian mas malah seperti merasa seperti mendapat teguran dari Allah, betapa buruk dan bodohnya mas dulu. Dan mas seperti ditempatkan pada posisi Candra waktu itu. meskipun ini gak separah mas dahulu. Jadi mas merasa kalo sampai menangani Fanani seperti mengutuk diriku sendiri. Jadi mas tadi malah tersenyum karena merasa bodoh, jika mas dendam dengan Fanani.” Jawabku pada Fatimah.
“Jadi mas beneran gak akan main kekerasan dengan Fanani ?” Tanya Fatimah.
“Iya mas gak bohong, sekedar memperingatkan pasti tapi tidak akan maju tangan, percayalah padaku Fat.” Jawabku pada Fatimah. Yang membuat Fatimah dan Khotimah agak lega. Mendengar penjelaanku yang tidak akan main kekerasan pada Fanani.
“Yaudah Fatimah pegang omongan mas ya, tapi awas jika terbukti bohong maka Fatimah akan ngambek sama mas.” Ancam Fatimah.
Aku hanya tersenyum geli melihat kekhawatiran istriku yang menurutku agak berlebihan.
“Ok, sekarang kembali kepada pembicaraan awal kita tentang ‘ilmu panggiring sukma’ kalian semua harus berhati hati. Dan maaf apa yang khotimh dan Fanani itu lakukan sebenarnya yang membuat pagar ghaib rumah kita bisa ditembus makhluk astral itu.” kataku.
“Maaf mas yasin atas kesalahan khotimah, tapi benarkah itu bisa membuat pagar ghaib rumah ini bisa tertembus. Padahal kita gak sampai melakukan hubungan intim mas.” Kata Khotimah.
“Iya Khot, masalahnya Fanani itu statusnya sudah beristri jadi efeknya beda jika kalian sama sama belum menikah. Meskipun sama dosanya tapi efeknya yang beda, ketika itu dilakukan oleh pasangan yang belum nikah dengan pasangan atau salah satunya sudah menikah.” Jawabku kuhentikan sejenak menunggu reaksi Fatimah dan Khotimah.
“Kok bisa beda efeknya bagaimana mas maksutnya ?” Tanya Khotimah.
“Jadi itu yang membuat dampaknya juga berbeda mas ?” Tanya khotimah.
“Iya Khotimah adikku, makanya mas agak cerewet sama kamu bukan mass ok ngatur hidupmu nukan. Tapi mas gak mau kamu menjadi korban daari laki laki yang kurang / tidak bertanggung jawab. Jadi terpaksa mas cerewetin kamu.” Kataku.
“Iya mas, maafin Khotimah yang sudah melanggar aturan.” Jawab Khotimah tertunduk.
“Iya Khot, bagaimanapun kamu tetap adikku jadi sebesar apapun salahmu mas tetap akan menjagamu dengan Fatimah. Karena kita sudah menjadi keluarga, seperti saat aku pamitan dan kamu menangis waktu itu. Ingat kan Khot, saat kamu bilang aku harus jaga diri semua mengkhawatirkan aku termasuk kamu. Begitu juga aku Khot, selalu Khawatir dengan kamu dan lainya.” Jawabku pada Khotimah.
“Iya Khot, dalam hal ini mbak percaya dengan mas mu. Asal jangan sampai ada kekerasan lagi saja, kalo soal itu mbak belum Yakin sama mas mu Khot.” Sahut Fatimah masihjuga menyindir aku.
“Aah kamu selalu saja menyudutkan aku didepan adikmu say.” Ucapku pada Fatimah yang tak lagi mali kupanggil sayang didepan adiknya. Gak seperti dulu suka protes kalo aku panggil sayang didepan Khotimah adik sepupunya itu.
“Habis mas Yasin tu mang masih suka berantem nyatanya, meski berdalih membela diri tapi sebenarnya mas sebenarnya suka memancing orang memulai perkelahian. Terus mas alasan hanya membela diri, padahal mas yang mincing mincing mereka untuk memulai kan ?” ucap Fatimah panjang lebar.
Aku gak memulai Fat, aku gak pernah memulai duluan tapi mereka yang memaksa aku untuk main kekerasan.” Kataku.
__ADS_1
“Udah deh mas Yasin dan mbak Fatim kenapa malah jadi berantem sendiri sih. Malah bikin Khotimah makin merasa bersalah.” Ucap Khotimah.
“Gak papa Khot, mbak kalo sama mas mu itu gak pakai acara berantem mulut sehari aja rasanya juga ada yang kurang kok. Kayak makan sop gak ada sambelnya hambar.” Gurau Fatimah.
“Iya juga ya Fat, bener juga kamu bilang kalo kita sehari gak pakai perang mulut kayak ada yang kurang gitu. Asalkan jangan dilanjutkan perang yang lain saja Fat, kasihan Khotimah nanti.” Balasku.
Fatimah yang disebalahku langsung menginjak kakiku kenceng.
“Auw sakit Fat, tuh kan malah kamu yang suka main fisik.” Godaku pada Fatimah. Sehingga Khotimah yang dari tadi murung kini bisa tersenyum meski tertahan karena malu melihat tingkahku dan istriku.
Ditengah senda gurau kami tiba tiba datang Fanani yang mengatakan ingin bicara berdua denganku.
“Assalaamu ‘alaikum pak, maaf saya mohon ijin mau bicara berdua dengan bapak jika diperkenankan.” Ucap Fanani.
Fatimah bingung urusan istrinya atau urusan Khotimah tadi dia dengar. Sementara Khotimah tidak mau menatap wajah Fanani sedangkan Fanani sendiri berusaha mencuri pandang pada Khotimah.
“Mas, kamu bicara diluar aja gih jangan diruang mujahadh ini.” bisik Fatimah yang menampakkan sedikit rasa cemas padaku.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...