
Episode 79
“ Assalaamu ‘alaikum, maaf dengan siapa saya bicara.”
“ Siapa aku itu gak penting. Yang jelas aku peringatkan kamu jangan macam macam. Aku sudah suruh orang bayaran untuk mengawasi rumah kamu. Jadi jangan melakukan hal hal yang bisa merugikan kamu.”
“ Hei pengecut… aku gak peduli siapa kamu. Jika kamu berani macam macam kamu yang akan aku habisi nanti.”
“ Ha ha ha… kamu saat ini ada didepan pintu kan, kalo aku mau bisa menembakmu dari sini. Karena jarak ku denganmu masih dalam jangkauan peluru.”
“ Kamu gak usah menggertakku, kalo kamu berani tunjukkan kamu diamana, aku siap menghadapi kamu “ jawabku’
“ Sekedar buat peringatan saja,kamu perhatikan lampu taman kamu.” Ucap orang itu. Kemudian disusul suara tembakan..
Dooorr…… Praaankk…
Lampu taman pecah berantakan, semua berhambur keluar. Namun kularang untuk keluar rumah, karena sangat berbahaya. Musuh yang bersenjata laaras panjang, bahaya mereka menggunakan sniper.
Fanani, Hanif dan Dicky pun sudah mencabut pistolnya hendak mencari sumber suara. Namun aku larang.
“ Sudah gak usah saja, kita masuk kerumah semuanya.” Pintaku.
“ Tapi pak, mereka sangat berbahaya membawa senjata laras panjang.” Ucap Fanani.
“ Percayalah, mereka tidak mengincar nyawaku. Mereka berharap aku tetap hidup dan mau mengakui jika aku adalah pembunuhnya. Jadi gak mungkin mereka mau membunuhku.” Kataku.
“ Justru yang aku khawatirkan anggota keluargaku yang lain, bisa saja mereka menyakiti untuk mengancam agar aku mau mengikuti kehendak mereka.” Kataku lebih Lanjut.
Suasana malam itu lebih tegang, dari malam malam sebenarnya. Sebuah terror mental yang dilakukan pihak lawan semakin membuat anggota keluargaku ketakutan. Emosiku sebenarnya sudah memuncak,akan tetapi aku harus tetap bisa mengontrol diri demi keselamatam keluargaku.
Setelah kejadian itu, rasa lapar dan selera makanku jadi hilang, aku langsung mengajak semuanya ikut bermujahadah. Kecuali Fanani, Hanif dan Dicky. Yang aku mintai tolong untuk mengawasi dan menjaga kemungkinan terburuk jangan sampai terjadi.
Mujahadah berjalan lancar tanpa ada gangguan dari makhluk astral maupun manusia. Namun karena kejadian penembakan lampu taman tadi, membuat semua menjadi tegang. Tak satupun dari mereka yang berani angkat suara.
“ Kita semua harus tetap tenang, semua permasalahan pasti akan berlalu.” Ucapku menghibur mereka agar tidak tegang.
“ Apa yang harus kita lakukan mas ?” Tanya Fatimah.
“ Semua harus berhati hati, tidak boleh keluar rumah bahkan. Terutama saat malam hari, takutnya mereka mengincar salah satu dari kaliyan untuk menteror mental kita. Kalo mengincar aku, kayaknya gak mungkin, karena mereka menginginkan aku hidup hidup. Agar mau mengakui sebagai pelaku pembunuhan.” Jawabku.
Belum lama kami memulai obrolan, Hanif masuk ke ruang Mujahadah.
“ Pak ada pak Yadi mencari bapak.” Ucapnya.
“ Baiklah, suruh tunggu sebentar.” Ucapku.
Kemudian aku melanjutkan bicara kepada Fatimah dan lainya.
“ Apapun yang terjadi, kaliyan tidak boleh keluar rumah saat ini. Bisa jadi mereka membuat kegaduhan untuk memancing kaliyan keluar, agar bisa melukai salah satu dari kaliyan. Tolong perhatikan betul ini, karena dalam hal ini, aku lebih hafal dan lebih faham dari kaliyan.” Kataku. Kemudian keluar menemui pak Yadi.
“ Assalaamu ‘alaikum pak Yadi.” Sapaku pada pak Yadi yang sedang mendengarkan cerita dari Fanani tentang kejadian tadi.
“ Wa ‘alaikummussalam pak, benarkah tadi ada kejadian penembakan ?” Tanya pak Yadi.
“ Iya pak, tapi hanya sebagai terror mental bukan mau menembak saya.” Jawabku.
“ Bagaimana kronologisnya pak ?” Tanya lanjut pak Yadi.
Kemudian aku menceritakan, dari awal saat aku menerima telpon ancaman sampai dengan terjadinya penembakan tersebut.
“ Mungkin ini adalah rentetan scenario mereka pak, mulai dari terror ghoib sampai dengan terror fisik.” Kataku pada pak Yadi.
“ Kalo begitu, tingkat pengamanan harus ditingkatkan lagi pak, jangan sampai apa yang sudah kita persiapkan sia sia karena musuh sudah semakin brutal. Dan kayaknya dengan kekuatan finansialnya dia menyewa banyak pihak untuk menjalankan rencananya.” Kata pak Yadi.
“ Sebenarnya, siapa dia pak. Kelihatanya selain financial yang lebih dari cukup. Tampaknya mempunyai jaringan dan pengaruh yang cukup besar. Karena kalo hanya financial saja tanpa ada jaringan gak mungkin bisa secepat itu membentuk sebuah gerakan yang rapid dan terstruktur seperti ini.” Kataku.
“ Betul pak, tapi sementara ini sebut saja dia adalah Mr.XX. orang yang memang punya uang dan pengaruh cukup besar. Makanya rencana melepaskan Tuti itu untuk memancing dia keluar dan bisa menangkap basah dia.” Kata pak Yadi.
“ Tapi kayaknya sulit juga pak, yang turun pasti hanya kaki tanganya saja.” Kataku.
“ Dari kaki tanganya itulah, kita bisa mencari tahu pak. Kalo Mr.XX sendiri yang terjun langsung kayaknya gak mungkin.” Jawab pak Yadi.
“ Caranya bagaimana pak ?” tanyaku.
“ Itu yang harus dipikirkan secara cermat pak, mungkin harus ada yang dibiarkan tertangkap. Untuk bisa memantau siapa Mr.XX itu dan dimana keberadaanya.” Jawb pak Yadi.
“ Jangan bilang, saya harus menyerahkan didi ke mereka lo pak, bisa kacau nanti.” Kataku.
“ Ya nggak harus bapak, tapi cari alternative yang lain.” Kata pak Yadi.
“ Pandangan pak Yadi sendiri siapa yang cocok pak ?” tanyaku.
Pak Yadi terdiam sejenak, tampak ragu mau menyampaikan usulan.
__ADS_1
“ Ya ini baru pandangan pak, kalo saat ini yang bisa masuk kesarang mereka hanya ada tiga nama yang mungkin.” Kata pak Yadi.
“ Siapa saja itu pak ?” tanyaku penasaran.
“ Yang pertama Gembul, karena dia cukup dikenal di kalangan mereka. Dan dulunya satu komunitas dengan mereka.” Jawab pak Yadi.
“ Yang berikutnya pak ?” tanyaku makin penasaran.
“ Ke dua kakanya mbak Isti, Rofiq yang awalnya dipihak mereka ?” lanjut pak Yadi.
“ Wah agak sulit saya terima pak itu, saya gak tega dengan Isti dan lagi Rofiq itu baru mau bertaubat pak. Yang lain lagi pak ?” tanyaku setengah memaksa pak Yadi untuk menjawab jujur.
“ Itulah pak, saya berat mengatakanya. Yang pas karena dipandang mampu menjaga diri dan bisa dipercaya penuh ya cuman bapak !” kata pak Yadi, yang sebenarnya sudah aku duga dari awal.
Meski aku sendiri berat menerimanya, mengingat aku harus menjaga keselamatan semua anggota keluargaku. Disamping istriku yang baru hamil.
Kami terdiam sesaat, mencoba menvari alternative lain atau mempertimbangkan kemungkinan antara Gembul atau Rofiq yang akan dijadikan umpan berikutnya. Agar bisa mendeteksi siapa Mr.XX dan diamana dia.
Jika Gembul, terlalu penakut jika menghadapi orang orang semacam itu. Kemungkinan malah dia sendiri yang akan terekrut kembali oleh mereka sehingga berbalik membantu mereka.
Jika Rofiq, dia berani tapi control emosinya jelas tidak mendukung. Bisa bisa ngamuk disana dan malah dihabisi disana. Karena berada di markas mereka penuh dengan orang orang kuat. Dan Rofiq tidak bisa mengukur dan mengontrol diri.
Aku tidak berani berkomentar tentang itu. Aku sendiripun merasa berat jika harus masuk ke markas mereka, dengan berpura pura tertangkap menjadi tawanan mereka.
“ Owh iya pak, hamper saja saya lupa. Ini ada titipan dari Siska istri saya untuk sekedar menambah buat bikin kopi yang jaga.” Ucap pak Yadi sambil menyerahkan bingkisan.
“ Kenapa harus repot repot begitu pak, Cuma buat ngopi dirumah juga sudah cukup banyak.” Kataku.
“ Gak papa pak, biar sedikit membantu saja.” Kata pak Yadi.
Kemudian aku bawa ke belakang bingkisan tersebut ke dapur, dan meminta untuk dibuatkan Minum. Karena semua sampai lupa membuatkan minum tamu, disebabkan suasana tegang yang masih menghantui semua pikiran mereka.
...***********...
Ditempat lain markas 7 para normal.
...Author POV...
“ Semua sudah berjalan sesuai rencana untuk malam ini.” Ucap seseorang melapor kepada Maheso Suro pemimpin pergerakan tersebut.
“ Bagus, apa yang terjadi disana tadi ?” Tanya Maheso Suro.
“ Saya pancing dia keluar rumah, kemudian sniper menmbak lampu taman dirumahnya. Dengan saya bilang, saya bisa saja membunuhmu jika mau.” Kata orang tersebut.
“ Terus apa reaksinya ?” Tanya Maheso Suro.
“ Gak papa, itu bisa lain kali, saat ini cukup untuk menteror mereka seperti itu. Paling tidak akan membuat mereka ketakutan.” Ucap Maheso Suro.
“ Rencana selanjutnya bagaimana ?” Tanya orang itu.
“ Tembak salah satu yang tinggal dirumah itu, tapi jangan tiga polisi yang jaga itu. Pilih yang lain, sukur bisa salah satu yang masih kerabatnya. Agar si Zain emosi dan mencari kita, nanti salah satu dari kita memancing agar dia mengejar dan masuk ke perangkap kita. Setelah itu baru lebih leluasa menculik salah satu anggota keluarga yang lain. Dan kita jadikan satu dengan Zain, dan kita ancam jika dia tidak mau mengakui sebagai pembunuh. Maka keluarga dia yang di tawan itu akan kita bunuh beneran.” Jawab Maheso Suro.
“ Kenapa gak landsung kita culik saja salah satunya ?” orang tersebut kembali bertanya.
“ Sulit, jika Zain masih disana karena jika dengan fisik dijaga polisi. Jika dengan cara metafisik dijaga Zain. Dan jalan yang paling aman adalah dengan jalan metafisik dan Zain harus lebih dulu ditangkab. Agar tidak ada yang bisa menghalangi langkah metafisik yang kita jalankan.” Ucap Maheso Suro.
...*********...
Kembali di rumah Yasin
...Yasin POV...
“ Mari pak diminum dulu, maaf sampai kelupaan tadi. Semua masih pada tegang ketakutan.” Kataku.
“ Iya pak gak papa, namanya juga baru kena Teror.” Jawab pak Yadi.
“ Iya pak, sedikit berpangaruh juga terhadap psykis kami.” Kataku.
“ Saya faham pak, jadi bagaimana baiknya menurut bapak ?” Tanya pak Yadi.
“ Saya mana tahu pak, itu kan pak Yadi yang lebih faham. Saya hanya bisa membantu menangani hal yang berbau metafisik. Sedangkan untuk strategi dan kontak fisik saya ikut pak Yadi saja.” Kilahku.
“ Iya pak, kita juga masih berpikir keras menghadapi dan merencanakan strategi untuk mengantisipasi gerakan mereka.” Ucap pak Yadi.
Saat kami sedang bicara serius, tiba tiba hp ku bergetar drrrt….drrrrt….drrrrt….
Kemudian aku buka chat masuk dari nomor misterius tadi.
“ itu tadi baru awal, besuk akan ada kejutan kecil yang mungkin bisa membuatmu tahu apa rasanya, jika anggota keluarga kita dilukai orang. Biar kamu bisa merasakan, betapa sedihnya Mr.XX yang anaknya akan kau masukkan ke penjara.” Chat orang tersebut.
Aku menunjukkan chat itu pada pak Yadi, dan pak Yadipun membacanya.
__ADS_1
“ Sudah makin jelas sekarang siapa Mr.XX.” kataku.
“ Iya pak, tapi kita tetap harus menahan diri agar tidak salah langkah nanti.” Ucap pak Yadi.
“ Betul pak, soal itu saya serahkan pada pak Yadi. Monggo bagaimana baiknya, jujur saat ini saya mau konsentrasi untuk menjaga keselamatan keluarga saya dulu.” Jawabku.
Tak lama kemudian pak Yadi mohon pamit, untuk pulang, dikarenakan waktu yang sudah cukup malam.
Aku kembali keruang mujahadah dimana semua masih berkumpul disitu dengan wajah tegang.
“ Mas, jangan sampai mas Yasin menyetujui usul pak Yadi. Untuk masuk ke markas mereka, ataupun menyetujui mas Rofiq masuk kesana !” Kata Fatiamh membuatku terkejut. Rupanya ada yang nguping pembicaraanku dengan pak Yadi tadi.
“ Iya mas juga udah bilang begitu tadi, sangat berbahaya jika aku keluar rumah apa lagi jika malam hari.” Jawabku.
“ Beneran mas, tadi sudah bilang begitu ke pak Yadi.” Sela isti.
“ Iya serius, bahlan tadi Aku tunjukkan chat orang misterius tersebut. Yang mengancam salah satu dari anggota keluarga kita. Tapi justru bukan aku. Makanya aku mohon kalian hati hati, jangan keluar rumah dulu. Biar Fanani cs yang mengawasi keadaan sekitar kita.” Kataku.
“ Kenapa bisa begitu mas ?” Khotimah ikut menimpali.
“ Tujuan mereka adalah agar aku mau mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Agar pelaku sebenarnya lepas dari tuduhan. Dengan cara menteror aku mengancam keselamatan keluarga kita. Karena mengancam diriku sendiri justru merugikan mereka, kehilangan orang yang akan dijadikan tersangka.” Jawabku.
“ Kan bisa saja, mereka mencari orang lain untuk dijadikan tersangka mas ?” Tanya Fatimah padaku, yang kayaknya gak yakin jika mereka tidak akan berani melukai aku secara pribadi.
“ Gak semudah itu, kalo aku kan termasuk yang awal melihat mayat itu. Kemudian didukung masalaluku yang tidak baik dan jujur aku dulu sering berinteraksi dengan orang orang semacan korban pembunuhan itu.” Kataku yang mau gak mau harus jujur tentang masa laluku dihadapan semua. Demi agar mereka percaya, bahwa aku tidak dijadikan target pembunuhan. Tapi akan dijadikan tersangka pelaku pembunuhan saja.
“ Memangnya korban itu siapa mas dan apa profesinya ?” Tanya Khotimah.
“ Dia seorang pemandu karaoke, dan memang aku dulu kadang pergi ketempat tempat begitu bareng sama kakaknya Isti bang Rofiq.” Jawabku.
“ Terus kenapa mas yang akan dijadikan tersangkanya, maaf hanya butuh alas an kenapa bukan bang Rofiq ?” Tanya Fatimah.
“ Iya aku mau jujur, harap semua bisa mengerti dan jangan salah faham. Kemarin bang Rofiq ada dipihak mereka yang akan menjebakku. Maaf ya Isti, bukan maksutku mau mebuka aib kakakmu.” Kataku berhenti dulu menyusun kalimat agar tidak menyinggung Isti dan menjaga perasaan ibunya juga.
“ Terus ?” Tanya lanjut Fatimah.
“ Posisi Rofiq tidak mungkin dijadikan tersangka, karena dia sudah menjadi saksi kunci dan pernah mengikuti sidang dan dipihak mereka. Sehingga akan kelihatan skenarionya jika Rofiq yang akan dijadikan tersangka. Kemudian Rofiq berbalik berpihak ke kita, setelah mengetahui bahwa Gembul yang ada di pihak mereka adalah musuh yang selama ini dia buru.” Kataku menjelaskan.
Baru saja aku berhenti bicara kembali terdengar suara tembakan, dan kali ini mengarah ke jendela rumah.
Fanani dan kedua temanya segera mengejar kearah pelaku penembakan. Hingga baku tembak pun tak dapat terhindarkan. Sayang musuh bersenjata laras panjang, sehingga cukup menyulitkan Fanani dan kedua temanya. Karena posisinya juga lebih menguntungkan musuh.
Beberapa kali Fanani dan kedua temanya bahkan nyaris terkena tembakan. Aku berteriak agar mereka berlindung, sekedar menjaga saja, tidak usah mengejar musuh.
Musuh yang dalam posisi menguntungkan akhirnya bisa melepaskan tembakan dan mengenai, lengan Dicky, sehingga Dicky mengaduh. Aku mengendap menghampiri Dicky yang memegangi lenganya.
Segera kupapah kubawa masuk kerumah, dan segera mendapaktkan pertolongan pertama dibantu semua yang ada dirumah.
“ Kenapa mereka kembali menyerang lagi ya ?” Tanyaku dalam hati.
Aku kemudian menelpon pak Yadi, mengabarkan kejadian yang baru saja terjadi.
Pak Yadi segera bilang akan segera meluncur, akan tetapi suara baku tembak sudah tidak terdengar. Fanani dan Hanif masuk dan segera menghampiri Dicky yang terluka.
“ Gimana ****, dalam gak lukanya ?” Tanya Fanani.
“ Gak kok, Cuma terserempet saja. Proyektil pelirunya juga gak masuk ke kulit. Gak papa, Cuma kaget saja tadi.” Kata Dicky.
Suasana yang sudah cukup tenang itu tiba tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan lagi yang mengarah ke pintu dapur. Dan terdengar suara jeritan…
“ Aaaaaakh… tolong…!” suara jeritan dari dapur.
“ Siapa yang di dapur, semua kumpul disini dulu “ kataku
...bersambung...
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...