
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode sebelumnya
“Kamu mau ngapain bikin ribut disini, apa masih kekurangan lahan buat cari duit. Masih ingat aku juga kan, apa pingin kepalamu mau aku bikin tambah pitak lagi ?” tanyaku pada orang itu yang ternyata aalah orang yang pernah menghajar Jendul kemudian aku pukul kepalanya dengan kayu. Tapi apa urusanya dia kesini.
“Lo si Zain kan, ngapain juga lo disini. Aku mau cari orang yang bernama Yasin disini, yang katanya jagoan kemarin menghajar abang dari sahabatku.” Kata orang itu yag berjuluk si Pitak. Karena kepalnya penuh pitak karena bekas luka.
Â
*****
Episode ini
*****
“Orang yang kamu cari sudah ada dihadapan kamu sekarang !” kataku pada si Pitak.
“Mana orangnya ? aku mau ajak dia fight satu lawan satu ?” katnya.
“Aku orangnya ?” jawabku datar.
“Maksut kamu ?” Tanya Pitak bingung.
“Aku yang mereka sebut Yasin, dan aku juga yang kemarin menghajar kakak dari sahabatmu itu. dan aku juga kenal dengan sahabat kamu yang bernama Marjuni itu.” kataku pada Pitak.
“Bagaimana bisa kamu juga kenal Marjuni ?” Tanya Pitak.
“Bukan urusanmu, le[asin saja dia aku mau lihat dia mau apa ?” kataku pada Ardian dan Fanani.
Kemudian Fanani dan Ardian melepaskan si Pitak, tapi tetap dengan pengawasan mereka.
“Apa kamu ganti nama sekarang, sejak kapan kamu ganti nama jadi Yasin ?” Tanya si Pitak tersebut.
“Sudah ku bilang itu bukan urusan kamu, sekarang orang yang kamu cari sudah dihadapan kamu. Lakukan apa yang mau kamu lakukan atau kamu pilih balik lapor ke marjuni bahwa orang yang bernama Yasin itu ternyata teman sekolah dia dulu yang nama Aslinya Ahmad Sidiq. Yang dulu mau duel denganya saat masih sekolah tapi dilerai, jika masih penasaran suruh ketemu aku disini.” Ucapku pada Pitak.
“Kali ini kamu kulepasin, tapi lain waktu gak akan kulepasin lagi jika bertemu.” Ucp Pitak sambil melangkah pergi.
Dalam hati aku berkata, “orang kalo sudah sombong gak juga mau mengakui kegentaranya. Jelas dia yang aku lepasin malah ngancam aku begitu.” Batinku.
Keudian aku kembali masuk kerumah, dan sudah ditungguin dua Satpam wanita yang galak. Fatimah dan Isti yang langsung menghujani aku dan Rofiq dengan pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan.
“Kalian ini bukanya sudah berniat mau taubat, malah masih begitu terus kali ketemu orang.” Omel Isti padaku dan Rofiq kakaknya.
“Iya tuh, mas Yasin udah dibilangin jangan nambah masalah juga masih saja begitu.” Sahut Fatimah.
Aku dan Rofiq hanya tersenyum,menahan tawa berdua.
“Tu kan kalo dibilangi Cuma senyum senyum begitu kan ?” ucap Isti kemudian.
“Kakakmu sama suamiku ternnnyata sama aja, sukanya ribut melulu.” Ucap Ftimah kali ini dengan amrah yang besar. Aku terpaksa menenangkan Fatimah.
“Enggak say, mas sudah ngukur kalo dia gak bakalan berani macam macam denganku dan bang Rofiq. Karena dari dulu gak pernah menang. Apalagi kita sekarng bersatu dn dia kesini sendirian.” Jawabku pada Fatimah.
“Itukan dulu mas, orang itu gak selalu diatas kadang dibawah juga ?” kata Fatimah Istriku.
“Orang apa emang ?” tanyaku bercanda.
Tanpa menjawab Fatimah langsung nyubit perutku sampai aku menjerit kesakitan.
“Aduh ampun sakit iya iya, besuk aku juga cabut kok berkas pengaduanya.” Kataku menahan sakit. Kalo udah gitu aku gak ngaku salah bisa kelamaan dia nyubit gak dilepas.
“Bilang gitu dari tadi kenapa, gak usah bikin orang sebel.” Kata Fatimah.
Aku tidak menjawab langsung masuk kamar buka baju lihat bekas cubitan Fatimah, “wah beneran sampai membekas merah begini. Pakai apa kali Fatimah kalo nyubit.” Kataku menggerutu.
__ADS_1
Belum selesai aku melihat bekas cubitan Fatimah, tiba tiba Fatimah masuk.
“Enak mas ?” godanya.
“Kamu keterlaluan say, mask an malu didepan orang kamu gituin sampai ampun ampunan gitu. Jangan gitu lagi dong !” jawabku.
“Baru juga dicubit mas kamu udah begitu, apa lagi kalo dipukul apa gak lebih sakit lagi. Makanya jangan suka ribut kenapa ?” kata Fatimah memojokkan aku. Entah kemana arah pembiraan Fatimah itu.
“Fatimah sebel saja mas kalo ngomong asla begitu, terus mengarah ke hal hal yang privasi kayak tadi, didepan orang pula. Mas pikir Fatimah gak malu mas bilang gitu ?” katanya.
Owh aku baru sadar kalo candaanku tadi bikin Fatimah malu dan marah, karena disitu sudah pada dewasa dan pasti tahu maksut bicaraku.
“Iya maaf, keceplosan memang tadi.” Kataku.
“Terus kalo misalnya orang itu beneran ngadu ke sahabatnya gimana ?” Tanya Fatimah khawatir.
“Kalo soal itu gak usah khawatir sayang, yang namanya Marjuni itu dari dulu zaman sekolah sudah paling keder kalo sama aku, bahkan sampai kami sama sama lulus sekolah dia gak berani macam macam denganku. Jadi missal dia kesini pun pasti hanya ngajak damai, yakin saja begitu.” Kataku.
“Mas terlalu PD aja, buktinya baru dicubit gitu aja udah kesakitan begitu.” Kata Fatimah.
“Beda dong sayang, kalo sama kamu diapa apain juga mas ngalah saja gak mungkin bales. Masak sama orang yang dicintai mau bales ?” kataku menggoda.
“Tuh kan mulai lagi gombalanya, emang kamu tu mas sukanya bikin sebel orang aja.” Kata Fatimah tapi kali ini dengan nada datar saja.
Sessat kemudian terdengar kumandang adzan dhuhur, segera kami melaksanakan sholat dhuhur.
Sesudah sholat dhuhur sebelum beranjak dari tempat tiba tiba Rofiq membuka obrolan.
“Fat, boleh gak aku minta tolong suatu hari nanti ?” Tanya Rofiq serius.
“Minta tolong apa mas, boleh saja kalo Fatimah bisa.” Jawab Fatimah penasaran.
“Kalo suatu saat suami kamu marah padaku minta tolong cubit dia ya, karena hanya kamu yag di takutin sama suami kamu, kayaknya. Wkakaka….!” Kata Rofiq sambil ngakak diikuti semua yang ada disitu.
Hanya aku yang tidak tertawa karena malu dibully Rofiq didepan orang banyak. Nah beneran kan, jatuh sudah martabatku didepan mereka semua gara gara Fatimah istriku tadi.
“Reseh lo bang, awas kalo macem macem atau nyebarin gossip kita sesame lelaki akan berhadapan lagi nanti.” Ancamku meski hanya sambil bercanda.
“Wkakaka… lo pikir gue masih takut Zain ? kan udah tahu kelemahan kamu sekarang ?” ucap Rofiq.
“Emang kebanyakan orang yang dianggap kuat dan berani kelemahanya justru hal sepele dan kadang kalahnya sama Wanita.” Sambung Rofiq lagi.
“Sekali sekali kamu perlu nyoba bagaimana badan kamu seperti rontok saat diobati oleh Yuyutnya Fatimah, biaar tahu rasanya dipijit Yuyut wanita sepuh yang sudah renta. Biar gak asal ngomong sembarangan.” Balasku pada Rofiq.
“Aku gak percaya Zain, aku kan bukan kamu jadi gak akan kayak kamu.” Sesumbar Rofiq.
Wah bener bener ini orang, nanti kalo Yuyut jadi kesini biar aku kerjain dia. Bagaimana hanya dipegang tanganya oleh yuyut rasanya seluruh tubuh seperti rontok bahkan sampai ke organ dalam rasanya seperti diaduk aduk perut mual dan hendak mengeluarkan seluruh isinya, batinku.
Tapi yang jelas saat itu aku gak bisa banyak berkata habis dibully oleh orang orang dekatku. Meski hanya bercanda rasanya ada dendam yang harus aku balas suatu ketika, terutama Rofiq sebagai trouble makernya.
“Tunggu saja pembalasanke bang, kalo kamu gak sampai nangis aku belum puas nanyi ngerjain kamu.” Ancamku pada Rofiq.
Meskipun ancamanku serius tapi semua sudah pada maklum dan faham jika hubunganku dengan Rofiq memang seperti itu dan bukan seperti ancaman pada orang lain atau musuh. Sekedar ancaman candaan yang balasanyapun sebatas candaan buka ancaman membahayakan. Sehingga ibunya Rofiqpun hanya senyum senyum melihat candaanku yang sekilas seperti ancaman orang yang mau berantem.
“Ok, kali ini aku kalah tapi tunggu lain waktu satu persatu dari kalian akan ku bikin malu sampai nangis.” Kataku dalam hati.  Â
Begitulah suasana kehidupan sehari hari kami semenjak berkumpul untuk saling menjaga keselamatan satu dengan lainya. Sangat kontras dengan sebelum mereka datang dulu. Dirumah selalu hanya aku dan Fatimah berdua, paling kadang ditemani Amir saja bersama anak anak kecil yang pada belajar baca alquran tiap sore, jika istriku baru cuti sebelum dia hamil.
Namun saat ini suasana rumahku selalu ramai dan meriah, kadang aku sampai tidak terbayang jika suatu saat mereka pada pulang dan kembali hanya ada aku dan Fatimah lagi. Pasti terasa begitu sepi rumah ini, inget itu aku jadi agak sedih. Pingin masalah ini cepat selesai, tapi kalo selesai mereka pada pulang aku juga kesepian. Kalo gak cepat selesai kasihan mereka juga yang terancam keselamatanya setiap saat.
“Udah mas, gak usah melamun sekali kali merasakan dibully kan gak papa.” Kata Fatimah ikut menggoda aku.
“Enggak bukan itu yang aku pikirkan kok.” Jawabku serius.
“Terus mikirin apa ?” Tanya Fatimah.
Kemudian aku ceritakan apa yang aku pikirkan tadi, dari sebelum mereka datang ketika aku hanya berdua dengan Fatimah dan setelah mereka datang yang membawa suasana jadi sangat meriah. Ada perasaan sedih ketika suatu hari nanti mereka pada pulang kerumah masing masing, pasti rumah ini kembali sepi seperti sebelumnya.
Mendadak Fatimah juga menjadi sedih setelah mendengar apa yang aku risaukan itu, bahkan Isti dan semuanya jiga hanya terdiam seperti hanyut dalam suasana haru.
“Tenang saja mas, Isti juga akan selalu sering kesini nanti mengunjungi kalian. Kalau tidak kalian juga yang berkunjung kerumah Isti.” Kata Isti.
“Iya Zain. Kita kan bakal jadi saudara juga aku akan menikahi Arum dan Khotimah akan dinikahi Candra jadi aku akan jadi adik ipar Khotimah nanti sementara Khotimaah adalah adik sepupu istrimu yang berarti adik kamu juga.” Kata Rofiq.
“Tumben kamu cerdas bang…!” kataku sambil senyum.
__ADS_1
Aku melihat Khotimah mendengar itu juga tersenyum, berarti dia sudah bisa menerima keadaan dan bisa melupakan Fanani. Mungki Khotimah tai juga ikut nguping pembicaraan kami dengan Winda, Fanani dan Ayah Winda. Sehingga dia mendengar semuanya dri kedua beleh pihak. Sukurlah aku bisa kembali melihat senyum dari adik sepupu istriku ini. yang dalam beberapa hari senyum itu menghilang dari wajahnya.
“Sungguh aku hari ini merasakan kebahagiaan yang tiada tara, meskipun kita semua dalam sebuah ancaman namun masih bisa tertawa tawa dan masih bisa saling bercanda. Bahkan dirumah ini akan menghadirkan dua pasangan kekasih yang membina rumah tangga. Benar kata kang salim dulu, insya Allah rumah ini berkah dan semua yang ada disinilah yang membuat rumah ini menjadi berkah. Aku gak bisa member apa apa kecuali ucapan terimakasih saja.” Kataku pada semua.
Membuat mereka kembali hanyut dalam Susana haru.
“Mas kamu kalo bicara begitu sungguh membuat kita semua jadi terhanyut dalan haru dn bahagia. Sangat berbeda kalo lagi kambuh isengnya bikin kami jengkel marah dan laian lainya.” Kata Isti jujur dan tulus.
“Iya Is, Fatimah tiap hari dari dulu sampai sekarang selalu dibuat begitu. Kadang haru,sedih tersanjung tapi kadang juga geram jengkel dan marah.” Sahut Fatimah.
“Udah jangan curhat ke Isti,itu rahasia kita berdua saja Fat.” Kataku sambil tertawa.
Tiba tiba saja terdengar suar ketok pintu dari pintu depan.
“Siapa lagi nih, atau ada maslah apa lagi nih.” Pikirku .
“Mas ada yang ketok ketok pintu.” Ucap Fatimah.
“Biar Ardian atau yang lain dulu saja yang nemuin kalo sudah jelas urusanya baru kita temuin.” Ucapku.
Kemudian samar samar terdengar orang berbicara sepertinyaada yang mencari aku. Kayak kenal suara itu, aku mencoba mengingatnya. Kayak suara Marjuni adik Margono ? mau apa dia kesini mencari aku. Wah bisa bikin khawatir Fatimah ini nanti, padahal belum tentu juga dia berniat buruk jika tahu yang dia cari adalah aku.
Aku masih menahan diri tidak member tahu siapa yang datang agar Fatimah tidak khawatir. Biarlah fanani atau Ardian yang menyampaikan nanti, berikut maksut dan tujuanya kesini mau apa.
Kami menunggu agak lama belum juga salah satu dari Ardian atau Fanani belum juga muncul. Kayaknya terjadi negosiasi yang cukup a lot, apakah aku keluar saja pikirku. Saat aku mau bangkit, tiba tiba Fatimah melarangku.
“Mas jangan keluar dulu kalo belum jelas urusanya apa, biar Fanani dan Ardian saja yang menemui tamu itu.” kata Fatimah.
“Lo kenal suaranya gak Zain ?” bisik Rofiq padaku.
“Suara Marjuni adiknya Margono.” Balasku pada Rofiq juga sambil berbisik biar gak didengar Fatimah.
“Ada apa sih bisik bisik ?” Tanya Isti.
“Gak papa, kakamu Tanya masih punya rokok gak, aku jawab nanti aja kalo diruang tamu ngrokoknya disinibanyak wanita dan ada ibu hamil. Takut mengganggu kesehatan.” Jawabku asal.
“owh,,, iya mas Rofiq nih mikirin Fatimah juga dong yang lagi Hamil jangan merokok deket Fatimah dulu kenapa ?” ucap Isti.
“EEh anu….!” Belum selesai Rofiq ngomong aku senggol biar diam.
“Gak maksut Rofiq dia juga mau merokoknya diluar tapi aku bilang nanti saja bareng bareng keluar maksutny.” Potongku tidak member kesempatan Rofiq ngomong.
Tiba tiba Ardian yang datang menyampaikan, jika yang datang adalah Marjuni adik Margono.
“Pak ada yang nyari, namanya Marjuni katanya adiknya pak Margono yang sekarang di tahan di Polsek. Orangnya ngotot pingin ketemu bapak, sebaiknya bagaimana ?” ucap Ardian.
“Tuh kan mas, apa Fatimah bilang tadi ?” kata Fatimah tanpa intro langsung masuk ke nada tinggi….!!!”
Â
@@@@****>>>>????
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
Â