Isyaroh

Isyaroh
Rahasia masa lalu Yuyut


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Mas bapak dan ibu sedang dalam perjalanan kesini bersama Yuyut, mas Yasin  disuruh mempersiapkan segala sesuatu dan mengumpulkan orang orang yang akan diajak menyerang mereka.” Ucap Fatimah istriku.


*****


Episode ini


“Hah menyerang mereka, maksutnya bagaimana ?” tanyaku kaget.


“Bukan menyerang secara Fisik mas, tapi kata Yuyut harus diserang dengan kebatinan juga.” Kata Istriku malah semakin membuatku bingung.


“Aku gak faham dengan maksut ucapan kamu, tolong dijelaskan secara detail ?” jawabku.


“Yuyut bilang mereka telah mengirimkan pasukan jin kerumah kita, dan jin suruhan mereka itulah yang harus diserang. Agar kejadian yang menimpa Khotimah kemarin tidak terulang lagi .” kata Fatimah.


“Nah gitu dong biar jelas, kirain nyerang mereka secara fisik. Iya kita bahkan sudah mulai dengan seaman yang kita lakukan dari kemarin Sore itu. Insya Allah mampu membantu mengusir jin jin jahat yang menyerang rumah kita ini.” jawabku.


“Yaudah tunggu Yuyut saja, biar nanti Yuyut yang jelasin sendiri iar mas juga faham.” Jawab Fatimah istriku.


“Iya Fat, seandainya harus dengan mengajak banyak jamaah pasti kang salim juga sudah kasih perintah. Saat ini kan belum ada perintah khusus dari kang Salim.” Jawabku. Bukan gak percaya sama Yuyut namun sebagai santri harus menggu perintah seniornya yang sudah ditunjuk Abah guru sebagai mentornya.


Namun begitu untuk menghormati Yuyut yang juga sebagai nenek mertuaku, aku tetap harus memenuhi permintaanya.


Ada ada saja Yuyut ini, kok bisa bisanya beliau seakan tahu jika kami habis mengalami sebuah incident kecil. Pasti Yuyut pun menerapkan ilmu ‘Titen’ ( Teliti / mencermati ) perubahan alam dan semua hal untuk bisa memperhitungakan apa yang terjadi. Tanpa bermaksut mendahuli kehendak-Nya.


Kalo aku di dunia pesantren dulu diajarkan membaca Isyaroh, sedangkan dalam istilah dan budaya jawa disebut ilmu titen. Artinya sebuah kejelian dalam mengamati gejala gejala Alam yang bisa menjadi sebuah kode akan terjadinya sesuatu.


Seperti warga didaerahku yang selalu melihat tanda tanda alam jika binatang liar yang ada di gutan merapi pada turun, itu pertanda gunung Merapi akan meletus. Sebuah kepercayaan/ilmu titen yang pernah dianggap Takhayul/Bid’ah/Khurofat. Namun setelah diselidiki ternyata itu ilmiah, karena hewan mempunyai tingkat kepekaan yang lbh tinggi dari manusia. Ketika gunung akan meletus, mereka merasakan suhu yang meningkat secara tajam. Sehingga sebelum gunung meletus mereka turun dari habitatnya. Dan oleh orang orang tua jaman dahulu perilaku hewan itu diamati dan dijadikan pertanda/Rambu rambu. Jika hewan sudah pada turun gunung istilahnya, maka warga di kawasan merapi ikut ngungsi.


Orang jaman dahulu mana tahu tekhnologi yang mampu mengukur suhu sekitar pegunungan ? jadi mereka hanya mengamati kejadian kejadian yang dilihat itu kemudian disimpulkan berdasar kebiasaan.


Meski menurut sebagian orang itu Syirik dll tapi bagiku itu tidak. Karena kita tetap percaya semua yang terjadi atas kehendak Allah. Sedang tanda tanda Alam tersebut hanya sebatas peringatan akan adanya ‘kemungkinan’ gunung akan meletus. Hanya sebatas kemungkinan bukan kepastian karena berdasarkan peristiwa peristiwa yang biasa terjadi.


Yang tidak boleh itu jika menganggap itu sebagi sebuah kepastian, karena penyebab hewan pada turun bisa jadi karena hal lain.


Jika sekarang memang lebih mudah karena technologi berkembang pesat, namun jaman dulu sebelum technologi seperti sekarang. Pertanda alam seperti itulah yang dijadikan Rambu rambu.


Yuyutku adalah sesepuh yang sangat menjunjung tinggi ilmu titen warisan budaya leluhur, yang sebenarnya logis. Dan aku sendiri juga menggunkan cara yang hampir sama yaitu membaca Isyaroh/tanda tanda alam tersebut. Hanya berbeda istilah dengan yang dipakai Yuyutku atau Yuyutnya Fatimah istriku.


Aku harus bersiap menyambut kedatangan mertuaku dan Yuyut. Kalo sampai kecewa bisa dihajar Yuyut aku, batinku. Meski Yuyut usianya sudah sepuh, tapi aku yang masih muda saja bisa dibuat tak berkutik dengan sekali sentuh. Bahkan turun ke Fatimah istriku, sekali menotok jalan darah diurat besar aku jadi kaku seperti kayu tak bergerak.


“Mas,,,, diajak ngobrol malah ngelamun, ngelamunin siapa sih ?” Tanya Fatimah istriku. Aku baru sadar jika sedang bersama Fatimah istriku.


“Eeh maaf, jujur aku jadi kepikiran Yuyut, bisa habis nanti kalo aku salah ucap sama Yuyut.” Kataku.


Kemudian Fatimah malah tertawa ngakaka.


“Wah mana keberanian kamu mas, cuman mau ketemu nenek nenek saja sudah ketakutan setengah mati. Malu maluin saja masa suami Fatimah penakut begitu…!!?” goda Fatimah malah mengejekku habis habisan.


Tapi jujur sih, aku memang takut banget sama nenek nenek satu itu, sudah beberapa kali dibuat tak berkutik. Namun kalo tidak lantaran beliau mungkin aku bisa cacat seumur hidup kalo gak meninggal karena racun jerat sukma yang pernah hampir membunuhku.


Jadi bercampur antara perasaan takut tapi butuh kehadiran beliau menjadi satu.


“Jangan begitu dong sayang, bikin malu suami kamu aja kamu ini. Mast u hormat sama Yuyut karena dia nenek kamu bukanya takut.” Jawabku berkilah.


“Owh gitu, jadi gak takut tapi cuman hormat saja. Yaudah nanti aku bilangin Yuyut kalo begitu.” Ucap Fatimah.


“Hee jangan begitu juga lah, namanya kamu bikin aku sengsara kalo begitu !” jawabku.


“Jadi takut juga nih ?” Tanya Fatimah.


“Iya iya aku memang takut, jangankan sama Yuyut sama kamu aja aku takut, udah Puaaass….!” Jawabku kesal.


“Diiih gitu aja marah sih mas, kan Fatimah Cuma bercanda saja.” Kata Fatimah.


“Aku setuju Fat, bilang Yuyut kamu kalo suami kamu suka jahil biar dihukum.” Kata Isti yang tiba tiba muncul.


“Iya, suka genit juga kayak kemarin bilang Khotimah istri kedua terus mbak Isti istri ketiga, nanti Khotimah adukan ke Yuyut deh.” Kata Khotimah yang muncul barengan sama Isti.


Untung Rofiq gak lihat, kalo dia lihat dan dengar tamat sudah riwayatku dibully sama dia, batinku.


Begini rasanya dikeroyok wanita yang sudah mengetaui kelemahan seorang lelaki, ternyata mereka lebih bengis dari lelaki. Aku sampai tak bisa membantah apa lagi membalas ancaman mereka. Aku benar benar dibuat harus mengaku kalah bahkan memohon mohon belas kasihan, meski sebenarnya gengsi banget seorang Ahmad Sidiq alias Zain alias Yasin samapi memohon mohon. Tapi tak ada pilihan lain, dari pada pada nekat ngadu ke Yuyut.


“Janganlah Khotimah, adikku yang cantik, mas kemarin kan cuman jagain kamu dari sifat buaya daratnya Marjuni saja. Harusnya kamu malah berterima kasih dong sama aku.” Kataku pada Khotimah.


“Iya kalo sama Khotimah, tapi kalo sama Isti kamu gak bisa berdalih begitu mas. Karena Isti gak bertemu dengan orang itu, jadi biar Isti saja yang bilang ke Yuyut nanti.” Sahut Isti.


“Gak lah, kan cuman bercanda Isti, memang aku pernah kurang ajar padamu ? ggak kan, aku tetap menghargai wanita kok.” Jawabku.


“Itu kan cuman kata kamu mas, apa gak ingat waktu dipondok dulu. Semua santri wanita kamu jahilin dan sudah masuk kategori kurang ajar, inget gak ?” kata Isti.


“Itukan masa lalu Isti, jangan bawa bawa dendam lama dong semua orang pasti pernah berbuat salah kan.” Jawabku.


“Gak bisa harus diadukan ke Yuyut pokoknya.” Kata Isti.


“Fat kok kamu malah diem saja sih, suamimu mau dianiaya begini ?” tanyaku pada Fatimah.


“Ya biar mas kapok lah, lah suka jahilin orang Fatimah saja kalo ingat kelakuan mas yang dulu masih jengkel sampai sekarang.” Kata Fatimah malah semakin menyudutkan aku.


Tiba tiba muncul bapak dan ibu mertuaku bersama Yuyut yang sudah memasuki halaman rumahku. Panas dingin kurasa tubuhku saat itu begitu melihat kedatangan mereka.


“Bapak, Ibu Yuyut…!” ucap Fatimah sambil terisak menahan Rindu kepada kedua orang tuanya dan Neneknya.

__ADS_1


“Pak de, Bude Yut.” Khotimah ikut menyalami dan encium tangan mereka.


Akupun segeramemberikan salam Hormatku kepada mereka semua tapi pada saat hendak menyalami Yuyut aku ditahan dengan tongkatnya yang selalu dibawa untuk membantu berjalan. Membuat aku Dag dig dug tak karuan, kenapa Yuyut menahanku begini, pikirku.


“Hei bocah bejujag, akhirnya kamu akan memberikan aku cicit ( genarasi dibawah cucu ) juga. He he he…!” tawanya jelek dan menakutkan bagiku. Tapi aku jadi sedikit lega tidak dimarahi beliau.


“Iya Yut, doakan saja Fatimah dan bayinya Sehat.” Jawabku dengan nafas lega.


“Ya harus sehat, kalo sampai salah satunya sakit kamu yang aku hajar…!” jawab Yuyut sambil memukulkan tongkatnya ke lenganku. Seakan sudah langganan tiap ketemu selalu memukul lenganku dengan tongkatnya. Udah gitu pas mengenai luka bekas kena pisau Khotimah kemarin. Rasanya linu sampai ketulang tapi aku tetap menahan takut Yuyut makin marah jika tahu kronologis kejadian Khotimah kemarin.


“Iya nek eeh Yut.” Jawabku.


Kemudian Isti ikut menyalami mereka dan semua yang ada dirumahku ikut menyalami mereka, sebelum kuantar ke kamar yang sudah disiapkan.


Baik bapak ibu maupun Yuyut bersitirhat melepas lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh.


“Fat minta salah satu beliin makanan kesukaan Yuyut, biasanya Yuyut suka apa ?” tanyaku pada Fatimah.


“Yuyut gak suka apa apa kok mas, paling dia minta telur ayam kampong saja sekalian buat jamu.” Kata Fatimah.


“Owh yaudah, minta Amir beliin atau hubungi mbak Surti saja nanti suruh nyariin.” Kataku.


Setelah istirahat sejenak melepas lelah menempuh perjalanan jauh, ibu dan  bapak mertuaku memanggil aku dan Fatimah.


“Kandunganmu udah besar sekali Fatimah, apa sudah Hampir waktunya untuk lahiran. Kalo sudah mau ngelahirin disini atau di rumah kita. Mengingat kondisi disini kurang Aman saat ini.” kata ibu mertuaku pada Fatimah.


“Fatimah nurut sama mas Yasin saja bu, disini juga gak papa, dirumah Majenang juga gak papa. Yang penting Fatimah maunya ditungguin suami saat melahirkan nanti.” Jawab Fatimah.


“Insya Allah kalo itu Fat, selama tidak ada sesuatu aku akan selalu mendampingimu saat persalinan nanti. Dan soal mau ngelahirin dimana, menurutku kita lihat sikon saja nanti. Jika memang harus di Majenang aku juga akan ikut kesana nungguin kamu. Jika harus disini aku juga siap menjaga dan menemani kamu.” Jawabku.


“Kalian atur saja lah, aku dan ibumu merestui dan membantu doa saja. Yang penting kalian selalu akur. Owh iya Khotimah panggil kesini sekalian saja.” Pinta bapak mertuaku.


“Njih pak.” Aku langsung berdiri memanggil Khotimah yang baru ngobrol sama Yuyut.


“Khot dipanggil pakde tuh, disuruh ikut gabung kesana.” Kataku pada Khotimah.


“Nanti dulu, Yuyut lagi bicara sama Khotimah, apa kamu gak lihat !” bentak Yuyut.


“Iya Yut maaf.” Kataku pada Yuyutku yang galak itu.


“Udah kamu duluan pergi, nanti Khotimah nyusul sama aku !” kembali bentak Yuyut. Dan aku langsung pergi dari pada kena pukul tongatnya yang sudah dipegangnya.


Gak tahu kenapa, Yuyut itu sekilas kayak memenci aku, meski hanya lahiriahnya saja. Sebab saat aku sakit dulu dia juga mengusahakan aku sembuh dengan sepenuh hati. Namun tetap dengan sifat galaknya padaku.


Aku kembali kehadpan bapak dan ibu mertuaku lagi.


“Mas di bentak Yuyut ya ?” Tanya Fatimah sambil senyum senyum senang setiap aku dimarahin Yuyut.


“Iya, anu pak Khotimah baru diwejang Yuyut, nanti mau kesini sama Yuyut.” Jawabku.


“Yaudah gak papa, jangan dimasukin ke hati kalo Yuyut ngomel memang begitu Yuyut. Justru kalo dia sayang sama orang malah galaknya yang keluar. Kalo dia diem berarti dia gak peduli sama orang itu.” jawab ibu mertuaku.


“Njih bu, gak papa kok bu, kalo gak ada Yuyut juga mungkin Saya sudah tidak tertolong waktu itu.” jawabku.


“Lah kenapa bu, Fatimah kan masih kangen sama Bapak ibu dan Yuyut…!?” rengek Fatimah.


Kamu kan tahu Fatimah, kalo bapak ibu juga punya tanggungan dirumah. Jadi gak bisa ninggalin rumah lama lama. Yang penting tahu kondisi kalian baik baik saja udah cukup. Kalo kamu kangen kan tinggal telpon bisa lihat wajah bapak ibumu  juga.” Kata ibu mertuaku itu.


Aku tidak berani komentar karena Fatimah memang sering kali bilang kangen bapak ibunya. Namun karena kondisi kehamilan dia dan suasana yang kurang kondusif harus menahan diri untuk tidak pergi pergi dulu.


“Sekarang yang penting Fat, menyelesaikan permasalahan yang terjadi saat ini dulu. Bapak dan ibu juga Yuyut kesini karena mendengar dari kamu kalo suamimu saat ini baru dalam kesulitan. Coba nanti kalian jelaskan kalo Yuyut sudah kesini.” Kata ibu mertuaku.


“Dan satu lagi nak, kamu yang sabar betul menghadapai Yuyut. Biasanya dia suka marah marah ulu sebelum memberikan nasehat dan solusi.” Kata bapak mertuaku.


“Njih pak, saya paham kok pak. Saya tidak akan sakit hati dimarahin Yuyut seperti apapun.” Jawabku.


Tiba tiba Yuyut muncul bersama Khotimah dan langsung memukul aku dengan Tongkatnya.


Buuuk…


suara tongkat Yuyut mendarat di pinggangku.


“Bocah Bejujag disuruh jagain Khotimah sepupunya malah ditinggal keluyuran terus. Sampai Khotimah hampir celaka beberapa kali. Mau kamu Yuyut bikin dendeng.” Kata Yuyut yang tiba tiba muncul dibelakangku.


“Gak Yut, ampun Yasin gak keluyuran kok Yut. Hanya baru banyak urusan penting kemarin.” Kataku.


Buuu…


Malah pukulan lagi yang aku dapatkan, sehingga pinggang kanan kiriku sudah mendapat pukulan dari yuyut semua.


“Masih banyak Alasan, kamu pikir urusan Khotimah gak penting apa ?” kata Yuyut.


“Penting Yut penting kok,maksut saya bukan begitu tapi saya hanya mengerjakan hal yang lain dulu.” Jawabku. Sebenarnya aku juga gak faham apa maksut Yuyut Khotimah hmapir celaka itu apa. Apa kasusnya dengan Fanani atau karena kemarin saat terkena ‘Gendam’ ilmu ‘Panggiring Sukma atau keduanya. Namun aku juga tidak berani menanyakan lebih lanjut.


Karena aku tahu jika Khotimah itu cucu kesayangan Yuyut yang selama ini tinggal sama yuyut sebelum menemani Fatimah dirumah Fatimah, karena Fatimah aku ungsikan waktu itu.


“Lain kali, kamu harus awasi Khotimah dua puluh empat jamgak boleh meleng. Termasuk juga dengan Fatimah kamu gak boleh meleng.” Kata Yuyut.


“Iya yut, maafkan saya Yut.” Jawabku gak berani menentang Yuyut.


“Ingatlah kata kata ini jika kamu ingin seluruh anggota keluargamu selamat dari ancaman yang kamu hadapi.” Kata Yuyut kemudian mengucapkan kalimat dalam bahasa jawa yang aku sendiri tidak tahu persis makna dan maksutnya.


“SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI” kata Yuyut.


“Maksutnya apa itu Yut ?” tanyaku yang memang tidak faham maksutnya.


“Bocah geblek banyak Tanya kamu harus cari sendiri apa maksutnya…!” bentak Yuyut. Sambil mengacungkan tongkatnya kearah kepalaku.


“Njih yut…!” jawabku dengan melindungi kepalaku dari tongkt Yuyut.


 Sukurlah kali ini Yuyut hanya menakut nakuti aku, tidk beneran memukulku. Kuliht beliu menurunkan lagi tongktnya.


Kemudian yuyut mendekatiku dan duduk disamping kiiku sementara Ftimah disamping kananku.


“Mana tangan kamu ?” kaata Yuyut.

__ADS_1


Aku terpaksa mengulurkan tangan kananku, dengan agak gemetaran. Ingat ketika dipegang Yuyut waktu itu kemudin tanganku dikibas kibaskan sampai terasa isi perutku seperti dikocok kocok mau muntah bahkan tulang tulngku seperti lepas semua persendianya.


“Mau diapakan lagi Yut ?” tanyaku.


Plaak…


Tangan keriput Yuyut menamparku.


“Diaam…!” hanya itu kata Yuyut sambil memegang tepak tangan kananku dn di bolak balik.


Sesaat kemudian telapak tanganku tepat dibagian tengah ditekan kencang dengan jari telunjuknya. Awalnya aku hanya merasakan tekanan yang sangat kuat dari jari Yuyut meski tangan keriputnya sudah tampak lelah tapi masih sangat kuat.


Lama lama bahkan aku merasa panas dan semakin panas dari ujung jari Yuyut yangg menempel kemudian merambat keatas sampai ke pangkal tanganku bahkan sampai kurasakan sampai ke kepaku terasa panas.


Aku menjerit tertahan menahan sakitnya dipegang Yuyut, dari posisi duduk biasa sampai aku membungkuk menahan sakit. Setelah lama barulah tanganku dilepaskan oleh Yuyut.


Aku merasa lega, namun nafasku ngos ngosan menahan nafas saat kesakitan tadi. Tapi Yuyut cuek seperti tidk terjadi apa apa denganku. Bahkan beliau tertawa terkekeh kekeh, melihat peluhku sampai keluar banyak.


“He he he he he…. Dasar bocah gemblung kamu ini. untungnya darah yang megalir ditubuhmu itu darah Sanjaya dan darah Sidiq Ali. Kalo bukan sudah kubunuh kamu dari dulu.” Kata Yuyut.


Aku tersentak kaget mendengar ucapan Yuyut, dari mana dia tahu nama kakekku dri ayah dan kakeku dri ibuku.


“Kok Yuyut bisa tahu nama nama Kakekku dari Ayah dan ibuku Yut ?” aku beranikan diri bertanya pada Yuyut. Tapi Yuyut tidak mau menjelaskan bahkan hanya membentakku.


“Diam kamu, gak perlu tahu urusan orang tua. Masih untung aku gak hajar kamu sekarang ini.” jawab Yuyut membuatku semakin bingung apa maksutnya.


“Yut, kasih tahu saja biar suami Fatimah tahu cara menghadapi lawan.” Seru ibu mertuaku.


“Suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti, yaitu kuncinya. Selebihnya biar dia cari tahu sendiri. Aku gak mau punya cucu mantu yang manja.” Jawab Yuyut.


Mati dah aku, harus bertanya kesiapa tentang makna kalimat yang diucapkan Yuyut tersebut.


Kemudian Yuyut mengajak Khtomah kembali ke kamar.


“Khot Anterin Yuyut ke Kamar, nanti aku kasih sesuatu. Biar kalo kakakmu suami Fatimah macem macem kamu bisa menghajarnya juga.” Ucap Yuyut.


Khotimah kemudian mengantar Yuyut ke kamarnya.


Setelah yuyut pergi, ibu mertuaku senyum senyum kepadaku kemudian bertanya padaku.


“Owh jadi kakek kamu dari ayah dan ibumu itu bernama Jafar Sanjaya dan Sidiq Ali ?” Tanya ibu mertuaku.


“Iya bu, tapi saya tidak pernah bertemu langsung dengan beliau berdua. Ibu kenal kakek saya juga ?” tanyaku.


“Gak kenal sih, hanya pernah dengar dari Yuyut dulu saat ibu masih Gadis.” Kata ibu mertukau.


 “Dengar bagaimana ceritanya bu ?” tanyaku penasaran.


“Gak papa, itu masa lalu Yuyut dengan kedua kakek kamu itu.” kata ibu mertuaku membuat kau semakin penasaran saja.


“Masa lalu gimana sih bu ?” tanyaku mendesak pada ibu mertuaku yang malah senyum senyum.


“Intinya kamu beristrikan Fatimah itu sudah pas. Karena menyambung cerita cinta masa lalu.” Kata ibu mertuaku. Aku malah semakin penasaran namun mau mendesak juga takut dianggap kurang ajar. Untung gentian Fatimah istriku yang penasaran dan bertanya pada Ibunya.


“Fatimah juga gak Faham bu, maksut ibu Fatimah jadi istri mas Yasin itu menyambung cerita cinta lama itu bagaimana ?” Tanya Fatimah.


“Dulu sewaktu ibu masih Gadis, pernah di minta Yuyut kamu untuk mencari keturunan salah satu dari Jafar Sanjaya atau Sidiq Ali. Dan akan dinikahkan dengan salah satu keturunan dari orang itu, karena Sidiq Ali dan Jafar sanjaya itu dulu mencintai Yuyut kamu. Tapi yuyut kamu gak mau memiloih salah satunya karena takut menyakiti yang lain. Dan Yuyutmu pun sebenarnya menyukai keduanya, tapi juga gak mungkin dan gak mungkin juga memilih salah satunya.


Sampai jafar Sanjaya dan Sidiq Ali hampir berantem di depan Yuyut kamu. Dan memaksa Yuyut kamu memilih salah satu diantara mereka. Tapi yuyut kamu malah bilang, gak memilih dua duanya. Karena takut keduanya jadi berantem dan salah satunya sakit hati.”


“Lah kok bisa begitu sih bu ?” Tanya Fatimah. Sementara aku justru makin bingung, belum lagi harus mencari makna dar suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti itu apa.


“Udah lah Fatimah, yang jelas ibu sekarang jadi tahu kenapa Abah gurumu dulu langsung menikahkan kamu dengan suamimu ini. itu bukti kalo gurumu itu waskito. Karena ibu juga baru tahu kalo kamu dulu sudah punya pacar dan suamimu juga sudah pacar setelah kamu menikah. Tapi Abah kamu gak cerita dan malah menikahkan kalian. Ternyata inilah maksut Abah gurumu itu. menyambung cerita cinta lama yang sudah terpendam lama.” Kata ibu mertuaku.


Aku dan Fatimah saling berpandangan karena merasa seperti mendengar sebuah dongeng klasik saja.


“Ceritanya gimana bu, antara Yuyut dengan kedua kakeknya Mas Yasin ?” Tanya Fatimah.


“Ceritanya panjang Fat, biar Yuyut nanti yang cerita. Saat ini Yuyut baru member wejangan pada Khotimah, biar dia tidak lemah. Karena sebenarnya Khotimah lah yang lebih pas menerima ilmu dari Yuyut. Hanya selama ini memang masih dittupi oleh Yuyut. Dan saat ini memang sudah waktunya Khotimah menerima ilmu dari Yuyut, untuk menjaga diri dan membantu kalian nanti dalam menghadapi musuh musuh kalian.” Kata ibu mertuaku.


Dalam hati aku berkata, “Wah berarti gak bisa seenaknya saja nanti menggoda Khotimha kalo diwarisi Ilmu dari Yuyut. Bisa bisa aku yang bakal di habisi oleh Khotimah, batinku.


“Maaf bu, kenapa selama ini ditutupi sehingga Khotimah terkesan lemah ?” tanyaku pada ibu mertuaku.


Tiba tiba bapak mertuaku yang menjawab.


“Itulah kenapa Khotimah selama ini disembunyikan kesanya, kedua orang tua Khotimah meninggal saat Khotimah masih kecil. Dan Khotimah diaush Yuyut sejak kecil, ternyata dalam diri Khotimah itu lebih kental darah Yuyut dan berbakat menguasai ilmu yang Yuyut miliki. Namun jika dari dulu diberikan maka Khotimah akan sangat berbahaya bagi orang lain. Sehingga ditunggu sampai kira kira Khotimah bias mengendalikan dirinya. Dan sekaranglah saatnya.” Jawab bapak mertuaku.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


@@@@@*****>>>>>????

__ADS_1


__ADS_2