
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Kamu ini Khot, punya saudar di jogja juga gak bilang bilang sih.” ucap Fatimah.
“Maaf mbak Fatim, dik Sena inikan sepupu jauh dari jalur dari Yuyut takutnya Khotimah bingung jelasin silsilahnya bagaimana nanti.” Ucap Khotimah.
“Bagimu sepupu jauh dari Yuyut,tapi bagiku sepupu dekat dari kakekku Jafar Sanjaya Khot….!” Kataku membuat Khotimah kaget.
“Maksut mas yasin,,,,????” Khotimah bingung apa maksutku.
*****
Episode ini
“Sena itu masih termasuk cucu dari istri kakek Jafar Sanjaya kakekku jadi cucu kakek Jafar juga. Otomatis masih saudaraku juga Khotimah…!?” ucapku pada Khotimah.
“Maasyaa Allah,,, Khotimah gak tahu mas, kalo dik Sena masih saudara mas Yasin juga.” Kata Khotimah.
“Udah jangan pada ribut, kamu Yasin sekarang sudah paham maksut dari Suro Diro Joyo Ningrat Lebur Dening Pangastuti dengan kejadian ini ?” Tanya Yuyut padaku.
“Maksut Yuyut bagaimana ?” tanyaku pada Yuyut.
“Seandainya kamu tadi menanggapi para pemuda yang mengganggumu dan Fatimah dengan kekerasan kamu gak akan bertemu dengan Sena saudaramu dalam kondisi damai. Bisa jadi kalian malah bertempur satu sama lain. Tapi karena kamu tadi mengalah, kamu memberikan kasih sayang maka angkara murka yang ada di para pemuda tadi justru lenyap dan berujung dengan damai dan persaudaraan.” Ucap yuyut.
“Owh iya yut saya paham sekarang, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan. Tapi justru dengan rasa kasih sayang yang akan membuat amarah sirna. Berarti sama dengan peribahasa air yang dingin lah yang mampu memadamkan api, ya Yut.” Jawabku.
“Lah itu kamu bisa tahu sekarang, tapi gak cukup tahu tapi juga harus diamalkan di kerjakan>” ucap Yuyut.
“Baik Yut, saya akan berusaha Yut.” Jawabku.
“Maaf mas Yasin ini dulu bertemu mbak Fatim dimana, kan jauh dari sini.” Tanya sena. Mengalihkan pembicaraan.
“Dulu kami teman satu pesantren, dan dijodohkan oleh Abah guru saya.” Jawabku.
“Kok bisa pas begitu yut, maksutnya apa yang Yuyut inginkan sekarang benar benar terwujud. Dengan pernikahan mbakyu Fatim dengan mas Yasin yang keturunan Eyang Jafar Sanjaya dan sekaligus keturunan Eyang Sidiq Ali ?” Tanya Sena pada Yuyut.
“Itu pinternya Abah gurunya Yasin dan Fatimah saja, Yuyut saja hampir nyerah waktu itu sebenarnya.” Kata Yuyut.
“Nyerah bagaimana yut ?” Tanya Sena.
“Ibu dan bapaknya Fatimah udah pingin nimang cucu, sementara Yuyut belum nemuin keturunan dari salah satunya akhirnya Yuyut pasrah. Dan bilang ke ibunya Fatimah, terserah mau kamu nikahkan dengan siapa.” Kata Yuyut.
“Terus bisa ketemu mas Yasin “ Tanya Sena bingung.
“Karena sudah buntu, mau minta tolong kamu yang masih cucu Jafar Sanjaya meski tidak langsung juga kamu gak tahu dzuriyah Jafar Sanjaya. Sementara ayahmu juga sudah tiada yang deket dengan Sidiq Ali. Akhirnya Orang tua Fatimah yang menyerahkan jodoh Fatimah pada Abah gurunya Fatimah dan Yasin.” Kata yuyut.
“Sudahlah, gak usah mengungkit yang dulu dulu lagi, yang jelas Fatimah memang sudah ditakdirkan jadi istriku sekarang.” Sahutku takut merembet ke masa lalu yang lainya di depan sena.
“He he he mas Yasin menyembunyikan masa lalu juga kah, apa dulu dengan mbakyu Fatim gak saling cinta juga ya. Karena menikah dengan perjodohan.” Kata Sena.
“Bukan pejodohan lagi, dihadapkan dan langsung dinikahkan.” Gurauku.
“tapi sekarang cinta kan mas Yasin sama Mbakyu Fatimah ?” gurau Sena.
“Gak usah ditanya kalo sekarang ya sudah pasti cinta lah.” Jawabku ke Sena.
“Eheem kay dik Sena gak ngalamin begitu aja, dulu juga sama dik Nurul gimana ? samapi udah nikah aja sering ditinggal kerumah Yuyut kok.” Ucap Khotimah.
Owh jadi kamu dulu juga dijodohkan, udah nikah malah istrimu kamu tinggal kerumah yuyut. Jangan jangan kamu dulu naksir Khotimah ya ?” kataku senang bisa membalas Sena.
“Wah mas Yasin ini jangan bilang bilang istriku loh ?” kata Sena gugup.
“Jdi benr begitu Sena ? kamu dulu Naksir Khotimah ?” tanyaku.
Sena hanya diam malu, sementara Khotimah hanya senyum senyum saja.
“Owh pantes Khotimah gak mau cerita punya saudara dijogja, ternyata ada apa apanya.” Sahut Fatimah.
“Gak gitu mbak, mmaf dik Sena mbak bilang jujur ya. Dulu memang dik Sena suka sama Khotimah tapi Khotimah anggap dia adik saja meski usianya tua dik Sena tapi kan dia adik sepupu Khotimah meski sepupu jauh juga.” Ucap Khotimah.
“Udah kasihan Sena, jadi malu begitu kan. Lupain aja Sena mungkin dulu Khotimah agak rabun gak mau sama kamu.” Gurauku.
“Yee mas Yasin mah sentiment sama Khotimah, ingat ya sekarang Khotimah bisa balas mas Yasin kalo mas Yasin masih jahat sama Khotimah.” Kata Khotimah.
“Diih mentang mentang sekarang sudah dibuka sama Yuyut jadi berani ngelawan aku kakakmu ya Kot ?” jawabku.
“Ya gak gitu juga kali mas, kalo mas Yasin gak iseng juga Khotimah tetep hormat sama saudara tua.” Kata Khotimah serius padahal aku hanya bercanda saja.
“Iya iya, mask an Cuma bercanda Khot, itu mantan eeeh dik Sena gak dibuatin minum apa ?” tanyaku menggoda Khotimah.
“Iya iih bawel mas nih.” jawab Khotimah sambil jalan ke dapur.
Kemudian aku melanjutkan obrolan dengan Sena seputar permasalahan yang aku haapi. Sena tampak serius mendengarkan. Bahkan beberapa kali dia tampak kaget ketika aku menceritakan masa laluku sampai dengan cerita jika aku sudah punya anak dengan perempuan bukan Fatimah yang lahir diluar nikah. Sampai dengan proses ritual dan akhirnya mimipi bertemu kakek Jafar Sanjaya dihutan yang berbau darah.
“Bau darah itu menandakan jika kakek kamu Jafar Sanjaya itu dulu meninggalnya bersimbha darah. Dan aroma bangkai itu adalah sengkolo yang semalam bersemayam dalam tubuhmu yang kalo tidak dikeluarkan akan membuatmu jadi bangkai dalam waktu dekat dengan bersimbah darah seperti kakekmu Jafar Sanjaya itu.” ucap Yuyut.
Semua terkejut dengan keterangan Yuyut, terlebih Fatimah istriku bahkan sampai ketakutan sekali.
“Terus bagaimana Yut, apakah sekarag ini masih berbahaya atau artinya aka nada pertumpahan darah lagi ?” Tanya Fatimah pada Yuyut.
Sementaara Yuyut hanya menghela nafas beberapa kali, kemudian baru menjawab pertanyaan Fatimah.
__ADS_1
“Yuyut tidak bisa membayangkan, bukan berarti mau mendahuli kehendak Allah. Tapi dari pengamatan Yuyut, jika saja tidak dikeluarkan sebelum anakmu lahir maka suamimu sudah lebih dulu meninggalkan kamu. Seperti Jafar Sanjaya dulu. Pergi sebelum anak terakhir yang dikandung istrinya terlahir.” Jawab Yuyut.
“Apakah akan terjadi pertumpahan darah lagi Yut ?” Tanya ulang Fatimah.
“Dari pengamatan Yuyut memang seperti itu, makanya Yuyut perintahkan agar suamimu mencari kawan yang siap berjuang dn sekarang sudah bertambah satu kekuatan dari saudaranya sendiri, yakni Sena.” Ucap Yuyut.
“Jadi semua ini sudah Yuyut aturkah, pertemuan kami dengan Sena ini ?” tanyaku pada Yuyut.
“Manusia hanya bisa merencanakan dan mengupayakan, Yuyut sendiri tidak berani memastikan kalian bisa dipertemukan tadi. Hanya melakukan sesuatu berdasarkan ISYAROH yang Yuyut terima, Ngumpulake Balung Pisah’ ( Mengumpulkan Tulang yang terpisah \= mengumpulkan saudara yang terpisah maksutnya ).” Kata Yuyut.
“Tapi kenapa Yuyut gak langsung menemui saya saja Yut, jika saudara saya dalam bahaya begini ?” Tanya Sena.
“Yuyut melakukan sebuah ritual dipantai salah satu tujuanya agar dipertemukan denganmu. Karena Yuyut sendiri belum pernah ketempat kamu. Hanya pernah mendengar kamu tinggal dipesisir pantai selatan saja. Dan dalam memilih tempat pun Yuyut sudah mohon petunjuk, sekiranya bisa dipertemukan denganmu.” Jawab Yuyut.
“Owh begitu ya Yut, Yuyut gak cerita ke mbakyu Khotimah tentang hal ini ?” Tanya Sena.
“Dalam hal ini Khotimah tidak boleh tahu dulu,karena akan berbeda dampaknya jika Khotimah lebih tahu dulu.” Ucap Yuyut.
“Apa yang harus Sena lakukan untuk membantu mas Yasin Yut, Sena gak mungkin membirkan mas Yasin Cucu Eyang Jafar dan EYang Sidiq Ali menempuh bahaya sendirian.” Ucap Sena membuatku terharu.
“Kalian berdua seringlah ziaroh kubur pada kedua kakek itu, termasuk kepada kedua orang tuamu. Perbanyak doa kepada leluhurmu, dan bacakan amalan khusus mereka agar kalian diberi petunjuk oleh Allah lantaran bakti kalian kepada leluhur kalian.” Ucap Yuyut.
“Baiklah Yut. Kapan sebaiknya kita memulai ?” tanyaku pada Yuyut.
“Nanti malam kemakam Sidiq Ali, Yuyut ikut kesana nanti.” Kata Yuyut.
“Yuyut gak kecapaian yut ?” tanyaku pada Yuyut.
“Kamu pikir Yuyut sudah lemah, seperti kamu semalam yang hampir tenggelam dilaut karena kelelahan.” Jawab yuyut.
“Gak Yut, maksutku gak gitu. Maksutku biar Yuyut bisa istirhat dulu malam ini.” kataku.
“Tidak, besuk Yuyut harus kembali pulang.” Jawab Yuyut.
“Yaaah Yuyut, kan Fatimah belum ilang kangenya Yut.” Protes Fatimah.
“Yuyut juga banyak urusan disana gak Cuma ngurus kalian saja.” Ucap Yuyut.
*****
Malam hari setelah mujahadah
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Yuyut mengajak aku dan Sena ziaroh ke makam kakek Sidiq Ali. Dan permintaan Yuyut berangkat ke makam harus jalan kaki pulang pergi, gak boleh bawa kendaraan. Wah aneh aneh saja ini nenek nenek, jarak yang cukup jauh hampir dua kilometer harus ditempuh jalan kaki. Apa gak kecapaian di jalan ini Nenek nenek, batinku.
“Cukup jauh nek, nanti nenek kecapaian.” Kataku pada Yuyut.
“Berisik kamu, jalan saja udah disuruh nurut aja susah.” Bentak Yuyut.
Aku dan Sena hanya nurut saja kemauan Yuyut, dari pada kena semprot.
Dengan tongkat ditanganya untuk membantu jalan Yuyut mulai melangkah mengajak aku dan Sena jalan. Agak khawatir juga melihat Yuyut yang sudah sepuh begitu haru jalan kaki malam hari cukup jauh lagi, batinku. Namun bagaimana lagi itu permintaan beliau, gak bisa ditawar lagi. Akhirnya dengan pelan kami berjalan mengikuti irama langkah kaki Yuyut agar tidak ketinggalan jauh, Sena menggandeng tangan yuyut.
Aku berjalan didepan sebagai penunjuk jalan, akhirnya sampailah kami di depan makam kakekku Sidiq Ali.
Tanpa menjawab Yuyut langsung mengikuti arahan langkahku dan berhenti dimakam kakek dan nenekku yang berdampingan.
Dalam temaram lampu yang remang remang dan pancaran sinar rembulan yang sedikit tertutup awan tipis dan juga kabut pegunungan yang mulai turun. Suasana dingin dan hening agak mencekam, aku jadi ingat saat ziarah kehujanan dan berteduh di cungkup kemudian di temui nenek nenek tua yang sangat berwibawa.
“Kalian mulailah kirim doa, Yuyut akan berdoa sendiri secara Khusus mendoakan Kang Ali dan mbakyu lamah.”Kata yuyut. Aku kaget Yuyut juga tahu nama nenekku istri kakekku. Apakah mereka dulu juga saling kenal juga, batinku.
Kemudian aku sempat mendengar Yuyut berucp pelan, sebelum aku sendiri memulai berdoa.
“Assalaamu’alaikum kang Ali lan mbakyu Lamah, Siti lantunkan doa buat kalian berdua semoga kalian bahagia disana…………..!” ucap Yuyut setelahnya apa lagi aku gak jelas. Karena aku sendiri lantas melantunkan doa sendiri selain kepada kakek nenekku juga buat kedua orang tuaku yg juga dimakamkan disitu.
Aku perbanyak hidyah Fatihah kepada mereka, entah sampai berapa kali mungki sudah ratusan kali Fatihah yang aku lafadzkan. Sampai aku merasakan angin malam dank abut dingin yang terasa menusuk nusuk tulangku dan membuat aku jadi sangat mengantuk. Namun ditengah kantukku itu tiba tiba aku seperti mendengr suara klenengan ( Gamelan yang ditabuh ) dan lamat lamat aku mendengar sebuah tembang jawa yang agak asing bagiku, syairnya.
...Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro...
...Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro...
...Senajan setan gentayangan tansah gawe rubedo...
...Hinggo pupusing jaman...
...Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko...
...Maper hardaning ponco saben ulesing netro...
...Linambaran sih kawelasan Ingkang Paring Kamulyan...
...Sang Hyang Jati Pangeran...
...Jiwanggo kalbu samudro pepuntoning laku...
...Tumuju dhateng Gusti Zat Kang Amurbo Dumadi...
...Manunggaling kawulo Gusti krenteg ati bakal dumadi...
...Mukti ingsun tanpo piranti...
...Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito...
...Maneko warno prodo mbangun projo sampurno...
...Sengkolo tido mukso kolobendu nyoto sirno...
...Tyasing roso mardiko...
...Mugiyo den sedyo pusoko kalimosodo...
...Yekti dadi mustiko sakjroning jiwo rogo...
...Bejo mulyo waskito digdoyo bowo leksono...
__ADS_1
...Byar manjing sigro sigro...
...Ampuh sepuh wutuh tan keno tineluh.....
...gagah bungah sumringah ndadar ing wayah wayah...
...satriyo toto sembodo wirotomo katon sewu kartikoketaman wahyu kolosebo...
...memuji ingsun kanti suwito linuhung...
...segoro gondo arum swuh rep dupo kumelung...
...tinulah niat ingsun hangidung sabdo kang luhur...
...titahin sang hyang agung...
...rembesing tresno tondo luhing netro rosoroso...
... rasaning ati kadyo tirto kang suci...
...kawistoro...
... jopo montro kondang dadi pepadang...
...palilahing sang hyang wenang...
...nowo dewo jawoto talisantiko bawono...
... prasido sidikoro ing sasono asmoro loyo...
...sri narendro kolosebo winisudo ing gegono datan gingsir sewu warso...
entah kenapa aku jadi merinding mendengar syair lagu itu,meski gak begitu faham dengan makna lagu tersebut. Seperti tertarik medan magnet aku mencari sumber sara itu, ternyata ada sekelompok orang yang sedang mendengarkan seorang tua yang mendendangkan lagu tersebut dengan diiringi gamelan jawa.
Aku tak mampu menahan langkahku seperti tersedot oleh keindhan lagu tersebut, bahkan tanpa kusadari aku ikut mendendangkan syair tersebut mengikuti orang tua yang menyanyika lagu tersebut.
Semakin lama aku semakin mendekati tempat kerumunan tersebut.
“Reneo ngger ora usah wedi, sun ajari siro tembang kang migunani tumrap wong urip.” ( Kesinilah Ngger gak usah takut aku ajari kamu tembang yang berguna bagi orang yang masih hidup ) Kata orang tua itu.
Aku celingukan mencari siapa yang dipanggil orang tua tersebut.
“Sliramu ngger, siro putu ingsun aku iki mbahmu Sidiq Ali siro putu ragil soko anakku ragil” ( Kamu ngger, kamu cucuku aku ini kakekmu Sidiq Ali kamu cucu bungsu dari anakku yang bungsu. ) Ucap orang tua itu yang mengaku sebagai kakek Sidiq Ali.
Kemudian kakek itu menyuruh yang lain pergi dan menuntunku duduk di dekatnya. Kemudian menyapaku.
“Sliramu oleh anut mbahmu Jafar, ananging kudu duwe landesan kasabaran kang luwih.”
kamu boleh mengikuti kakekmu Jafar ( Olah kanuragan ) tapi harus punya kesabaran yang lebih.
“Iki tembang keno tok nggo maca urip lan kauripan.”
ini tembang bisa kamu gunakan membaca hidup dan kehidupan.
“Ingsun jarwaake maknane karben siro biso mangerti saripatine tembang iki.”
(Aku terjemahkan artinya biar kamu bisa mengerti esensi tembang ini )
“Tembang iki minongko pepeling kanggo manungso, supoyo Hameteg nafsu angkoro kang ngujo marang haedaning ponco. Kanti linambaran sih kawelasan sang Hyang jati pengeran. Supoyo sengkolo iso mukso lan sirno. Saenggo besuk yen sowan marang sang hyang wenang biso koyo dijamsi tirto kang suci. Iku saripatine. Wondene makna kang lengkape mengkene ngger,…!”
“Tembang ini merupakan pengingat buat manusia, agar menahan hawa Nafsu angkkara murka yang mengumbar keinginan panca Indera saja. Dengan berbekal rasa kasih sayang dari sang hyang wenang ( yang maha Berkehendak \= Allah swt ) agar ‘Sengkolo’ bisa sirna dan mati, sehingga besuk kalo menghadap yang maha berkehendak bisa seperti habis di mandikan denga air yang suci. Itu esensinya, sedangkan makna lengkapnya begini…..!?” ucap kakek tersebut.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1