
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Dan saat mata kananku di tetesi obat iku aku hanya menjerit tertahan, dan menggigit gigi gerahamku menahan sakit. Dan mengeluarkan nafas yang tadi kutahan.
“Sudah kan sekarang yang satunya, mata yang kiri gak terlalu sakit karena yang parah yang kanan.” Kata ibu mertuaku.
Aku agak lega mendengar penjelasan ibu mertuaku, jika yang ini tidak sesakit yang kanan.
Tapi sungguh diluar dugaanku ternyata justru yang kiri sakitnya tiga kali lipat dari sebelumnya. Sehingga spontan aku menjerit lagi.
“Aaawww periiiih bangeet bu….!” Jeritku meski gak sekeras siang hari tadi.
Ibu mertuaku hanya tersenyum melihat kelakuanku…???
*****
Episode ini
“Kamu ini begitu saja menjerit, apa tadi waktu bertarung dengan musuhmu juga kamu menjerit begini ?” ledek ibu mertuaku. Membuat aku jadi tengsin banget.
“Ya gak lah bu, masak iya didepan musuh menjerit, malu lah…!” jawabku sambil meringis menahan sakit.
“Ibu kira dulu Fatimah yang bohong bilang kamu manja, ternyata kamu memang manja beneran kalo dirumah.” Ucap ibu mertuaku makin membuat mukaku merah padam. Untung saja hanya ada Fatimah ibu mertua dan Yuyut. Gak ada orang lain lagi.
“Iya bu, maaf memang Yasin dulu kecilnya manja sama ibu kandung Yasin sampai Yasin masuk SMP…..” Jawabku malu malu.
“Sampai masuk SMP kenapa ?” Tanya ibu mertuaku.
“He he he…. Sampai masuk SMP baru makan sendiri gak disuapin ibuk.” Jawabku.
Sehingga diketawain semua yang ada disitu termasuk Yuyut sampai terkekeh kekeh ketawanya.
“Dasar bocah geblek, ora sumbut karo biyene saiki pethakilan.” Dasar anak geblek, gak sesuai dengan dulunya sekarang belagu ) kata yuyut sambil terkekeh. Sementara ibu mertuaku pun ikutan tertawa sampai punggungnya berguncang guncang. Dan Fatimah ngakak sampai keluar air matanya.
Biarinlah dari pada mereka denger dari orang lain, toh mereka keluarga dekatku ini, pikirku.
“Aduh Fatimah sampai sakit perut mas, berarti kamu dulu cengeng banget ya mas. Makan aja minta disuapin terus, pantesan masih kebawa sampai sekarang manjanya.” Ucap Fatimah.
Aku hanya diam tak menjawab mendengarkan ketawa dan komentar mereka.
“Udah Fat, kasihan suamimu kamu ledekin terus.” Bela ibu mertuaku padaku.
“Ibuk gak ngerti sih, jahilnya mas yasin dulu sama Fatimah dan kawan kawan Fatimah di pondok.” Jawab Fatimah.
“Fat lepasin nih aku gak bisa gerak mau mandi dan Sholat Asar.” Kataku mengalihkan perhatian.
Kemudian Fatimah membuka jalan darahku dari totokanya, dan aku segera menuju ke kamar mandi. Aku memang merasakan efek setelah diobati tadi pandanganku semakin jelas dari sebelumnya. Mudah mudahan saja besuk udah sembuh, gak perlu diobatin lagi, batinku.
Setelah mandi dan sholat Asar aku mencoba untuk ikut nyemak ( membaca Quran mengikuti apa yang dibaca orang lain. Tapi ternyata mataku belum mampu bertahan lama untuk membaca, masih terasa nyeri dan perih saat kugunakan untuk membaca. Sehingga tidak aku teruskan, dan aku menuju keruang tamu untuk ngopi sore.
“Fat udah masak Air belum, aku pingin ngopi nih yang lain lagi pada ngaji.” Kataku.
“Udah, sementar Fatimah bikini.” Jawab Fatimah.
“Gak usah bikin sendiri aja.” Jawabku.
“Eeeh kok Tumben gak minta dibikinin, masih malu ya ?” ledek Fatimah.
“Bodo….!” Jawabku kesal.
Antara aku dan Fatimah memang kadang bercandanya seperti itu, tapi kami justru menikmati suasana seperti itu. aku justru canggung jika Fatimah terlalu menghormatiku sebagai suami. Bukan menentang aturan Agama sih maksutku, tapi aku lebih nyaman jika istriku pun bisa tersenyum dan tertawa saat bercanda.
__ADS_1
Dan saat aku kedepan lagi sambil membawa kopi, baru saja duduk sebentar datang pak Yadi yang sudah agak lama tidak bertemu.
“Assalaamu’alaikum pak.” sapa pak Yadi
“Wa’alaikummussalam pak Yadi, gak pernah bertemu beberapa hari sibuk terus ya pak ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Iya pak, dan maksut saya kesini hanya mengantarkan undangan ini dari kantor pengadilan.” Jawab pak Yadi.
OWh iya pak masuk dulu, sudah agak lama kita gak ngopi bareng. Mari duduk dulu.” Jawabku mempersilahkan pak Yadi duduk dan aku kebelakan lagi membuta kopi buat pak yadi.
Setelah sampai diruang tamu aku menuyuguhkan Kopi kepada pak Yadi. Kemudian membuka pembicaraan seputar undangan yang dibawa pak yadi.
“Undangan dari kantor pengadilan untuk siapa pak ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Untuk Pak Rofiq, sebagai saksi kunci juga pak Yqasi sebagai saksi juga.” Kata pak Yadi.
“Serius ini pak, apa dari pihak lawan tidak menunda persidangan lagi ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Iya pak, tampaknya memang ada perpecahan di kelompok lawan sehingga kekuatan mereka berkurang saat ini.” kata pak Yadi.
“Perpecahan ? perpecahan bagaimana pak maksutnya ?” tanyaku kemudian.
Tepatnya kurang tahu, tapi info dari informan kami mengatakan mereka kemarin pecah menjadi dua kubu. Dan saat ini ada dua kepemimpinan, satu masih dibawah Maheso Suro dan Satunga dibawah Ajar Panggiring.” Jelas pak Yadi.
Ajar Panggiring ? bagaimana dia sekarang ini, apakah sudah sembuh dari luka dalamnya. Sayang sekali dia bisa selamat dari tangkapanku, tapi harusnya dia masih tergeletak belum bisa bangun saat ini, batinku. Aku sengaja menyembunyikan jika Ajar panggiring semalam terluka olehku biar pak Yadi gak usah tahu dulu.
“Owh begitu ya pak, sukurlah kalo begitu biar situasi semakin kondusif.” Jawabke ke pak Yadi.
Setelah ngobrol sedikit smbil ngopi pak yadi pun pamit pulang karena memang waktu juga sudah sore.
*****
Di pedepokan Joyo maruto
“Ampun guru, sampai sekarang rombongan kami belum dapat tumbal yag dimaksut.” Ucap Ajar panggiring kepada Joyo Maruto.
“Kita tunda dulu ritual Agung itu, sekarang konsentrasi untuk mengecoh anak itu agar saat sidang nanti dia lengah. Biarkan sementara kamu dan kawanmu Maheso suro untuk sementara waktu terpisah biar mereka mengira kelompokmu terpecah.” Ucap Joyo Maruto.
“Ampun guru, sebenarnya apa tujuanya menyebarkan berita bohonh seperti itu ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Siapa itu Guru ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Dia adalah kenalan lamaku seorang perempuan yang bernama Siti Aminah. Dulu aku dan dia memang selalu selisih faham. Jika waktu itu memang aku selalu kalah dengan dia karena dibantu dua lelaki sahabatnya. Tapi sekarang dua lelaki itu sudah menjadi tanah semua. Sehingga aku tidak Akan gentar lagi.” Jawab Joyo Maruto.
“Jadi Yasin itu masih keturunan perempuan itu Guru ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Bukan keturunan langsung, tap Yasin hanya cucu menantu perempuan itu, jadi gak usah khawatir karena keturnun langsung dari perempuan itu wanita semuanya. Jadi tidak ada pewaris lelaki yang bisa mewarisi ilmu perempuan itu secara sempurna.” Jawab Joyo Maruto.
“Lalu apa rencana selanjutnya guru ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Kita pancing Yasin keluar dari Rumahnya, kemudian kamu temui dia dan kamu bisa balas dendam agar perempuan tua itu muncul dan aku yang akan menghadapi ilmu lebur saketinya dengan ‘kelabang Sayuto’ ku.” Ucap Joyo Maruto.
“Bagaimana dengan persidangan itu Guru ?” Tanya Ajar panggiring.
“Itu biar menjadi tugas Maheso Suro Kawanmu untuk mengacaukan. Dan bagiku itu gak terlalu penting, yang lebih penting adalah menyelesaikan Dendam lama perguruan kita dengan perempuan tua itu. aku akn memanggil kakak seperguruanmu Mento Rogo untuk membantu kamu jika diperlukann nanti.” Kata Joyo Maruto.
“Baiklah Guru, saya juga pingin melihat dari dekat kakak seperguruanku itu.” jawab Ajar panggiring.
“Nanti malam dia akan kesini, aku sudah memanggilnya dengan Aji Pameling. Dan kumpulkan juga semua kawanmu nanti malam disini. Aku yakin saat ini Yasin belum pulih benar jadi kita bisa mengadakan serangan kecil ke rumahnya agar memberikan kekacauan pada mereka.” Kata Joyo Maruto.
“Tapi pagar rumah YAasin masih Sangat kuat guru, kemarin semua prewangan yang kukirim saja semua pulang tak ada yang mamppu mendekati apa lagi memasuki rumah nya.” Ucap Ajar Panggiring.
“Kamu tidak usah khawatir, kakangmu Mento rogo sudah memiliki ajian Welut Putih dengan Sempurna. Sehingga dia akan dengan mudah masuk ke rumah Yasin karena raganya tidak terlihat mata manusia biasa.” Jawab Joyo Maruto.
“Ajian Welut putih guru ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Iya dengan Ajian itu dia tidak akan terlihat oleh mata manusia biasa, apa lagi saat ini Yasin sendiri belum jelas apakah sudah mampu melihat lagi atau belum atau bahkan jadi buta setelah kamu berhasil menaburkan warangan padanya.” Ucap Joyo Maruto.
“Owh iya guru, saya sepakat jika rumah mereka kita kacaukan bisa jai saat sidang nanti mereka tidak bisa menghadiri sidang tersebut.” Ucap Ajar panggiring.
“Makanya semua nanti kumpul disini, aku Yakin mereka saat ini sedang lengah. Pertama termakan isu nahwa kelompokmu pecah, kedua mereka mengira kamu mungkin masih sakit yang ketiga mereka mengira kita sudah menyerah dan sidang akan dilanjutkan kembali.” Jelas joyo maruto kepada Ajar Panggiring.
Setelah cukup lama memberikan penjelasan kepada Ajar Panggiring, kemudian Joyo Maruto mewariskan ilmu baru kepada Ajar Panggiring sebuah ilmu kanuragan yang bersifat Agresif untuk menyerang dan juga bisa untuk bertahan dengan sebuah ritual yang bagi kebanyakan orang sangat menjijikan.
__ADS_1
Ajar panggiring diguyur dengan darah babi hutan dalam posisi duduk dengan tangan bersedekap, dan setelah itu disuruh memakan hati babi mentah mentah. Swemakin banyak yang dapat dimakan semakin kuat pula ilmu yang terserap.
Lebih mengerikan dari saat bersumpah menjadi murit setia Joyo Maruto yang hanya disuruh makan kembang setaman dan meminum darh ayam Cemani secangkir.
Ajar Panggiring sendiri jika tidak dilandasi dendam kesumat terhadap Yasin mungkin juga tidak akan mau menerima ilmu tersebut jika persyaratanya begitu menjijikan. Namun karena dorongan amarah dan dendamnya Ajar Panggiring rela melakukan itu.
Kemudian Ajar panggiring disuruh membaca mantera mantera khusu untuk memanggil Khodam. Dan tubuh ajar panggiring yang bau Hanyir darah tersebut ditutup dengan kain Mori ( Kafan ) sampai Matahari melewati kepalanya ( dari sebelum tengah sampai dengan lewat tengah hari.
Entah bagaimana rasanya tengah hari bolong diguyur darah dan ditutup kain mori begitu. Pasti sangat engap, gerah dan baunya sangat membuat mual. Namun begitulah ritual ritual pemuja Jin yang sering kali di lakukan dengan jalan bermacam macam namun tujuanya sama memuja Jin. Sesuai hajat dan keperluanya masing masing.
Dan tidak selesai sampai disitu saja, Ajar Panggiring masih harus dimandikan dengan air kembang Tujuh Rupa yang airnya diambil dari Tujuh Sumber mata air yang berbeda.
Setelah itu baru kemudian Ajar Panggiring diajak masuk kedalam Padepokan untuk menguji ilmu barunya. Dan setelah Joyo Maruto komat kamit sebentar Ajar panggiring diminta untuk berdiri berhadap hadapan dengan Joyo Maruto.
“Apapun yang kamu lihat dan kamu alami kamu tidak boleh bergerak dan harus tetap bertahan di tempatmu.” Ucap Joyo maruto.
Kemudian Ajar Panggiring melihat benda benda disekelilingna bergerak sendiri, ada yang seperti digoyang goyang aa yang seperti dilempar dan ada pula yang seperti melayang.
Ajar Panggiring tetap dia saja, sungguh pemandangan yang cukup mistis dan itu terjadi disiang hari. Datangnya para Khodam jin dengan berbagai tanda menunjukkan kehadiranya seakan meminta diakui keberadaan dan minta dihargai kehadiranya atas undangan berupa ritual yang dilakukan Ajar Panggiring di bawah bimbingan Joyo Maruto.
“….Iki muridku,, saiki dadi omahmu, manggono neng awak e dadio prewangane, lan iso mbiantu tandang gawene. Sirah e yen nyruduk koyo babi rosane, sikile yen ndupak koyo jaran bantere………. Dadio siji nyawiji dadi aji aji……….”
(….ini muridku, sekarang jadi rumahmu ( Para Khodam ) tinggalah di badannya jadilah pembantunya, dan bisa membantu pekerjaanya, kepalanya jika menyeruduk seperti babi kuatnya, kakinya jika menendang seperti kuda cepatnya…… menyatulah jadi satu jadi sebuah ilmu….)
Kemudian tubuh Ajar Panggiring tampak bergetar hebat dan wajahnya menengadah dan berteriak kuat dan tiba tiba matanya menjadi merah.
Sesaat kemudian ada kursi kayu yang melayang laying dan tiba tiba menghantam kepala Ajar Panggiring hingga menimbulkan suara keras.
Praaaak…..
Kursi kayu itu hancur berkeping keeping tetapi kepala Ajar panggiring tidak lecet sedikitpun. Kemudian berganti balok kau sebesar betis melayang dan menghantam kepala ajar Panggiring dan hasilnya sama, balok kayu itu yang patah dan terbelah kepala Ajar Panggiring pun tidak lecet sedikitpun.
“Cukup Mento Rogo, adik seperguruanmu sudah berhasil menguasai ‘Mustika Babi’.” Ucap Joyo Maruto.
Dan seketika itu juga muncul sosok laki laki yang tersenyum dan member Hormat kepada Joyo Maruto.
“Ampun guru, murit siap melaksanakan perintah guru.” Ucap orang itu yang tak lain adalah Mento Rogo kakak seperguruan Ajar Panggiring yang baru saja menggunakan Aji welut putihnya sehingga tak dilihat kehadirnaya oleh Ajar Panggiring.
“Owh ini yang namanya kakang Mento Rogo, salam kakang aku adik seperguruanmu member hormat padamu.” Ucap Ajar Panggiring.
“Iya di, maaf Kakang hanya menjalankan perintah guru untuk menguji ilmu barumu tadi. Tidak bermaksut untuk menyakitimu.” Ucap Mento Rogo.
“Ha ha ha… tidak jadi apa kakang, aku malah Bnagga diuji oleh kakak seperguruanku sendiri. Tapi katanya kakang mau kesini nanti malam kok sekarang suda disini ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Sebenarnya kakang malah sudah dari tadi sejak kamu melakukan ritual, hanya sama guru tidak boleh menampakkan diri dulu dan disuruh menguji ilmu barumu. Selamat Adi kamu sudah berhasil.” Ucap Mento Rogo.
“Terimakasih kakang, sepertinya dengan bersatunya kita nanti malam akan mapu menghancurkan dan mengacaukan rumah Yasin musuh besar perguruan kita.” Ucap Ajar panggiring sambil tertawa gembira.
Mohon maaf terlambat up
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1