
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
............
Kang Tohari Selesai membaca Wirid lathief dan . Diam sesaat dan selanjutnya memberi isyarat kepada kami untuk duduk melingkar.
“Assalaamu’alaikum Eyang mustolih, kami cucu cucumu hendak menumpas kebathilan yang ada. Yang banyak menimbulkan korban bagi warga yang tidak berdosa.” Ucap kang Tohari namun aku tak melihat apapun, meski sudah membuka mata batinku sekalipun.
Namun tahu tahu di hadapanku muncul sosok kakek berjubah putih yang kayaknya aku pernah lihat, tapi dimana aku lupa.
“Wa’alaikummussalaam wahai cucu cucuku, memang sudah dekat waktunya untuk memenjarakan Jin pemimpin Khodam sesat itu. dan kalian semua memang sudah saatnya bekerja sama, demi memperjuangkan anak cucu kalian juga besuk. Aku dulu selama dua tahun tiap berdoa hanya meminta satu hal, yakni diberikan anak cucu yang soleh solihah. Dan melalui kalian eyang berharap ada yang meneruskan perjuangan Amar ma’ruf Nahi Munkar.” Ucap eyang mustolih itu. aku jadi ingat bahwa beliau yang menemuiku saat kholwat waktu itu.
“Maaf Eyang, apakah sudah saatnya eyang meminjamkan gong itu sekarang juga ?” tanyaku pada eyang Mustolih.
“Belum saatnya Angger, nanti pada saat yang tepatlah Eyang akan menyerahkan padamu. Sebelum itu kamu harus berjuang dengan tanpa menggunakan itu. dan aku percaya kalian semua bisa saling mendukung nanti. Ada hal yang lebih penting untuk masa depan kalian dan anak cucu kalian.” Ucap Eyang mustolih.
“Apa itu Eyang ?” tanyaku bertiga Kompak.
“Akan datang pada Waktunya, dan waktu itu kini semakin dekat. Nanti akan muncul sebuah ujian besar, dimana orang akan saling mudah menyalahkan satu dengan lainya. Hanya karena hal sepele. Dan di saat itu salah satu bukti kebenaran Al-Quran Firman Allah sudah di depan mata. Namun orang tidak bisa memahaminya.” Jawab eyang mustolih.
“Apa itu eyang ?” tanyaku penasaran.
“Saat orang tak lagi hanya berbicara dengan mulutnya, bahkan jari jari tangan manusia lebih sering melakukan Fitnah dan ujaran kebencian dan akan menyebar dengan cepat lebih cepat dari kilat.” Ucap eyang Mustolih.
“Bukankah itu hanya akan terjadi nanti eyang, saat di yaumul hisap mutut kita dikunci dan tangan sertq kaki kita yang bicara ?” tanyaku pada Eyang Mustolih.
“Saat ini sudah terjadi, kamu nanti akan Faham, sekarang berangkatlah kalian menuju arah rembulan tadi terbit. Dan segera hancurkan tempat pemujaan manusia manusia sesat itu. dan hancurkan batu Altar mereka dengan batu pembuka dua dimensi itu. kemudian Jin dalang sesat itu akan muncul setelahnya bersama seluruh jin pasukannya. Saat itu Cucuku Ahmad Sidiq yang melawan Jin penyesat umat itu. dan Cucuku Tohari dan Cucuku Sena kalian berdua yang menghadapi Tujuh Naga dan Tujuh Harimau pengawal Jin itu. gunakan cambuk kyai pamuk. Sedangkan kamu ngger Ahmad Sidiq, sebelum eyang datang membawa gong itu, kamu gunakan penabuh gong itu untuk melawan pemimpin jin itu. gunakan caramu yang terbaik. Gong akan eyang serahkan di saat saat yang tepat dan kamu hanya boleh menggunakan sekali itu saja.” Ucap Eyang Mustolih.
Beberapa saat kemudian eyang Mustolih lenyap dari hadapan kami, dan semua peralatan yang bisa jadi wasilah untuk melawan kebathilan itu segera kami persiapkan. Dan kami segera berjalan menuju ke arah rembulan terbit tadi.
Dan saat itu rembulan terbit dari arah barat laut, apakah itu merupakan daerah lereng merapi di sisi barat, pikirku. Cukup jauh jika benar di sana, karena kami saat ini justru berada di wilayah timur Merapi. Dan itu hanya bisa kami lakukan dengan jalan kaki saja. Waktu semakin mepet saja, pikirku.
“Ayo kita jalan sekarang !” ajak kang Tohari.
“Sebentar kang, Sena masih bingung dengan maksut eyang mustolih tadi, tentang bukti kebenaran Al-Quran bahwa tangan yang bicara itu maksutnya apa. “ Tanya Sena sambil bangkit melangkah mengikuti kang Tohari.
“Gak usah bingung, jelas sudah kelihatan sekarang orang melakukan Fitnah dan ujaran kebencian melalu sosmed. Itukan artinya jari tangan mereka yang berbicara bukan lagi dengan mulutnya.” Jawabku pad Sena.
“Iya juga ya mas, kok aku gak kepikiran begitu ya ?” ucap Sena.
“Udah yang penting sekarang kita harus sesegera mungkin membasmi kebathilan itu. sekalian menyelamatkan dua gadis kecil yang tak berdosa itu sebelum terlambat menjadi korban kebiadaban Joyo Maruto.” Kataku pada Sena.
“kita di perintahkan berjalan ke arah rembulan terbit, berarti dari arah barat laut. Itu kira kira daerah mana Ahmad ?” Tanya Kang Tohari padaku.
“Kalo feelingku di utara bukit turgo itu di seberang sungai masuk wilayah barat lereng merapi, jadi cukup jauh. Mungkin sampai besok sore kita baru bisa mencapai daerah itu.” jawabku.
“Kelamaan kalo begitu “ ucap Kang Tohari.
“ Lah terus bagaimana kang ?” tanyaku.
__ADS_1
“Udah kalian pegangan aku dengan kuat, tai aku dipinjami tatar bayu oleh eyang mustolih. Kita harus segera sampai disana sekarang.” Kata kang Tohari.
Kemudia aku dan Sena berpegangan pada kang Tohari, dan sesaat kemudian kami sudah sampai di lokasi tempat atang aku sebutkan.
“Nah iya ini kemungkinan tempat yang mereka jadikan tempat sembunyi. Arena memang jarang diambah manusia. Dan itu diseberang adalah bukit Turgo. Ada petilasan syaikh Jumadil Kubro disitu.” Kataku pada Sena dan Kang Tohari.
“Iya, kapan kapan kita Ziaroh kesana gak papa, meski itu bukan makam hanya petilasan saja. “ jawab kang Tohari.
“Kang aku merasakan kita sudah dekat dengan tempat persembunyian mereka.” Bisikku pada kang Tohari.
“Iya,,, dan mereka pun sudah tahu akan kehadiran kita bertiga. Jadi sebaiknya kita berpencar aku pancing mereka keluar dan kalian selamatkan dua bocah gadis itu. dan segera bawa kembali ke dusun mereka.” Ucap kang Tohari.
Dan sesaat kemudian kang Tohari Nampak melakukan gerakan jurus jurus Hijaiyah kemudian menghantamkan paa sebuah pohon besar sehingga pohon itu tumbang. Kemudian tampaklah dua gadis kecil yang diikat di sebuah tiang. Aku dan Sena yang saat itu bersembunyi di balik batu mengintip apa yang terjadi kemudian.
Ternyata munculah dua sosok serigala jadi jadian yang tak lain adalah Maheso Suro dan Mento Rogo. Yang sejurus kemudian langsung menyerang kang Tohari. “Sena kamu yang selamatkan dua gadis kecil itu, aku amati kang Tohari sekiranya butuh bantuan biar aku yang menangani mereka.” Kataku pada Sena. Dan tanpa menjawab Sena pun langsung melompat mendekati dua gadis kecil yang tak berdosa itu. Namun gerakan Sena dapat di ketahui oleh Mento Rogo dan berusaha mencegahnya. Sehingga aku pun segera melompat menghadapi Mento Rogo.
“UDh kamu selamatkan dua gadis itu, biar aku yang hadapi cecunguk ini.” kataku pada Sena.
Mento Rogo pun marah besar aku bilang cecunguk dan langsung melancarkan serangan fatal kearahku. Namun aku juga sudah bersiap untuk menyambut serangan Mento Rogo sehingga aku tidak menghindar namun langsung menyambut serangan Mento Rogo dengan jurus bertahanku. Sekaligus juga melancarkan serangan kearahnya dengan segenap kekuatanku.
Sehingga tubuh Mento rogo terpelanting jauh karena tidak menduga jika aku akan langsung menyerangnya juga, mungkin Mento rogo masih berpikir aku akan main main dulu seperti biasanya. Hal itu member kesempatan kepada Sena untuk membawa kabur dua Gadis kecil itu. karena memang itulah rencanaku kenapa langsung menyerang Mento Rogi dengan kekuatan penuh.
Namun tubuh Mento rogo yang terpelanting jauh dan tak mampu bangkit itu segera dilompati oleh Maheso Suro sehingga Mento Rogo bangkit dan kembali segar Bugar. Kemudian ganti menyerang kang Tohari. Sementara Maheso Suro berbalik menyerang aku, akupun sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi sehingga saat maheso suro menyerang aku pun dengan cepat menghindari serangannya. Memancing agar dia emosi dan member kesempatan kepada Sena untuk lebih jauh lagi kabur membawa dua gadis kecil itu.
Kemudian Maheso Suro dan Mento Rogo berdiri berdampingan dan segera mengeluarkan Auman Serigala secara Bersamaan.
“Dia memanggil serigala serigala Gaib, kamu yang hadapi serigala gaib itu dan aku hadapi keduanya, biar Sena bisa leluasa menyelamatkan kedua gadis kecil itu.” ucap kang Tohari. Masuk akal juga batinku.
“Baik kang, aku sudah siap dan sudah menggunakan Lathoif Nafsiku dari tadi.” Jawabku.
Tak sampai setengah menit tempat itu sudah penuh dengan serigala gaib yang melotot kearah aku dan kang Tohari. Aku segera mengeluarkan garam dan kubacakan doa untuk mengusir makhluk makhluk itu.
Dan aku pun segera mengeluarkan penabuh gongku itu, kemudian segera aku putar dengan terlebih membacakan Sholawat dan doa doa lainya. Dengan segenap kekuatan lahir batin aku memutar penabuh gong itu sehingga menimbulkan dengungan yang maki lam makin kencang bagai ribuan tawon mereka menyerang serigala gaib itu sehingga kerumunan serigala Gaib itu pun bubar kalang kabut seperti dikejar dan di sengat ribuan Tawon yang mengejarnya.
Kemudian aku mengalihkan perhatian pandanganku kepada pertempuran kang Tohari melawan Maheso Suru dan Mento rogo. Beberapa kali aku melihat Maheso Suru maupun Mento rogo dibuat jatuh tak berkutik namun selalu salah satu dari eduanya bergantian saling melompati sehingga yang tadinya salah satu diantara mereka sudah tak berkutik kembali segar dan kembali menyerang kang Tohari.
Aku berpikir bagaimana caranya melawan mereka agar tidak bisa saling membantu jika yang satu sudah tak berkutik, sehingga keduanya bisa dimusnahkan. Karena mereka bukan lagi manusia, pikirku.
“Hai pengecut kalian salah satu lawan aku jangan main keroyokan begitu…!” ucapku pada Maheso Suro dan Mento Rogo. Aku berpikir jika keduanya bertempur secara terpisah maka tidak akan mungkin satunya bisa melompati lainya yang sudah jatuh tak berdaya hingga bisa segar bugar lagi. Jika mereka bersama maka harus dibunuh secara bersamaan dan itu lebih sulit lagi, batinku.
Namun diluar dugaanku mereka sama sekali tidak merespon ucapanku dan tetap secara bersamaan menyerang kang Tohari. Sehingga aku mau gak mau juga harus bergabung dengan kang tohari, untuk dapat melumpuhkan keduanya bersamaan atau jika perlu membunuh mereka demi menyelamatkan nyawa orang bayak, pikirku.
“Auuuunnggh…auuuunngh….auuuunggh…!” berkal kali Mento Rogo dan Maheso Suro berteriak dengan auman serigalanya.
“Teman teman kamu sudah kabur semua tak mungkin lagi mereka akan membantumu saat ini.” ucapku kepada Mereka sambil melayangkan serangan kepada keduanya membatu kang Tohari.
Namun mereka saat ini sudah benar benar tidak mau merespon setiap ucapanku, mereka tetap mengaum dengan auman serigalanya. Sambil menyerang aku dan kang Tohari.
“Ahmad pancing mereka saling menjauh agar kita mudah menghabisi mereka, gak usah dikasih ampun lagi mereka sudah benar benar menyatu dengan Iblis.” Perintah kang Tohari.
“Kalo mereka tidak mau berpencar gunakan jurus pamungkas saja kang, biar keduanya mati bersamaan>’ jawabku kepada kang tohari.
“Bener juga kata kamu, ayo kita lakukan bersamaan biar mereka berdua segera dapat di musnahkan.” Kata Kang Tohari.
Kemudian aku dan kang Tohari sama sama melakukan gerakan jurus Hijaiyah jurus ‘YA’ untuk menghantam mereka bersama sama.
Tapi begitu mereka melihat aku dan kang Tohari melakukan gerakan jurus ‘YA’ mereka dengan sendirinya berpencar satu di depan kami dan satu di belakang kami. Mereka pikir aku dan kang Tohari tidak bisa memukul mereka ketika berpencar seperti itu.
__ADS_1
“Aku serang Maheso Suro, kang Tohari yang serang Mento Rogo.” Kataku pada kang Tohari. Dan segera kami melancarkan serangan dengan masing masing menyerang salah satu dari mereka.
Dan ketika serangan kami mengenai keduanya maka kedua serigala jadi jadian itu terpental jauh dan tubuh Maheso Suro sempat membentur batu yang cup besar yang mencuat keluar pada tebing di sisi kami bertempur. Sehingga tak ayal lagi tubuh maheso suro yang membentur batu itupun jatuh tak berkutik lagi.
Kemudian aku melihat tubuh Mento rogo yang terkena serangan kang Tohari juga tak jauh berbeda, tubuhnya terpental jauh dan tidak berkutik lagi.
“Kamu periksa Maheso Suro aku periksa tubuh Mento Rogo, jangan sampai dari mereka ada yang siuman dan melompati salah satunya. Itu berbahaya jika terjadi.” Kata Kang Tohari padaku.
“Baik kang.” Jawabku singkat dan hendak melangkah menuju ke arah jasad Maheso Suro, dan kang Tohari melangkah menuju ke arah tubuh Mento Rogo.
Namun belum juga tiga langkah aku melangkah tiba tiba kang Tohari berteriak.
“Awas lompat….!” Teriak kang Tohari. Dan aku pun melompat menjauh, ternyata Joyo Maruto datang langsung menyerang kami dengan kelabang sayuto miliknya.
“Auuuunnggh.. kalian datang menghantarkan nyawa kalin, auuuunnggh…!” teriak Joyo Maruto.
Dan secepat kilat dengan ilmu anginnya dia mengambil jasad maheso suro dan dilemparkan segera melompati tubuh Mento Rogo. Sehingga Mento Rogo kembali segar bugar, dan kemudian melompati jasad Maheso Suro dan Maheso Suro pun kembali Segar bugar. Sehingga aku dan kang Tohari harus melawan tiga orang sekaligus.
“Auuuunngh… kalian akan merasakan akibat dari campur tangan kalian pada urusan kami, auuuunngh…!” teriak Maheso suro setelah bangkit karena dilompati Mento Rogo.
“Bagaimana ini kang, cara kita menghadapi mereka bertiga yang menggunakan ilmu Iblis.” Tanyaku pada Kang Tohari.
“Kamu diam dulu awasi Maheso Suro dan Mento Rogo. Aku akan gunakan Tatar bayuku, untuk menyerang Joyo Maruto. Agar nanti tak ada lagi yang bisa menolong dua serigala itu.” ucap kang Tohari.
Dan secepat kilat kang Tohari menyerang Joyo Maruto dengan Jurus Hijaiyah jurus ‘QOF’ dari Quwata \= kekuatan. Dan tanpa terliohat oleh mata telanjang kang Tohari sudah mendaratkan pukulanya ke kepala Joyo Maruto. Sehingga Joyo Maruto yang tak menduga itupun tak dapat mengelak dan kepalanya harus dibiarkan terkena pukulan kang Tohari.
Dan
Bruuuk…
Suara tubuh Joyo Maruto ambruk tak berkutik lagi. Dan tahu tahu kang Tohari suah kembali berada disampingku. Sehingga membuat Maheso Suro dan Mento Rogo kaget. Melihat tubuh Joyo Maruto jatuh dengan kepala hampir terpecah dan mengeluarkan darah.
Namun kekagetan mereka dan kami juga bertambah. Ketika darah Joyo Maruto menyentuh Tanah dia malah hidup dan bangkit lagi sambil tertawa terkekeh kekeh.
“Auuuunngh….. ha ha ha tak ada lagi yang mampu membunuh aku sekarang ini, Auuuunngh….!” Teriak Joyo Maruto.
Aku dan kang Tohari jadu semakin heran denga orang orang itu yang rela menyatu dengan Iblis sampai segitunya…??
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...