Isyaroh

Isyaroh
Mimpi didalam mimpi


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Beneran datang kamu Jun, kirain lupa ?” kataku pada Marjuni.


“Gak lah, ini sekalian aku bawa si Pitak ke hadapanmu mau diapakan sekarang ?” Tanya Marjuni padaku.


“Itu sih terserah kamu jun, kan kamu yang suruh dia tadi ?” kataku.


“Aku serahin padamu aja sekarang, mau kamu apain terserah.” Ucap Marjuni.


“Gak bisa begitu dong Bro, kan aku berbuat begitu juga kamu yang suruh dan aku juga gak tahu jika kamu kenal dia.” Ucap si Pitak.


“Kamu juga kenal aku kok, terus ngapain kalo udah kenal ?” tanyaku pada Pitak.


*****


Episode ini


“Aku kan gak tahu kalo Yasin itu kamu, dan aku juga gak tahu kalo ini rumah kamu ?” kata si Pitak.


“Terus kalo Yasin yang kamu cari bukan aku kenapa, apa bedanya ? kalo misalnya Yasin itu orangnya pendiam terus mengalah mau kamu injak injak, tapi kalo ternyata Yasin itu orangnya Berani dan siap  fight denganmu kamu mau lari gitu. Jadi orang itu yang sportif, jangan asal slonong aja, merasa banyak punya gang terus nindas orang.” Kataku ku jeda sebentar aku agak kaget karena yang membawa minuman justru Rofiq.


“Kok kamu yang bawa minuman bang ? para wanita dimana ?” tanyaku pada Rofiq.


“Istri istrimu semua pada takut ngeluarin minuman jadi aku sendiri yang bawa kesini. Sekalian pingin ikut ngobrol sama si Pitak. Lama gak ngobrol sama dia.” Kata Rofiq sambil melototin kea rah Pitak.


Ini pasti kerjaan para wanita mungkin saja si Isti yang balas dendam dengan gurauanku tadi. Atau bisa jadi memang mereka pada takut, setelah ku kasih tahu bagaimana Marjuni. Aah mugkin juga begitu, dan si Rofiq lah yang sengaja ngerjain aku dengan menyebut istri istriku pada mereka. Wah kurang kerjaan saja ini Rofiq. Tunggu saja balasanku, sebentar lagi, batinku.


“Banyak gang bubar, terus anggotanya yang tadinya garang jadi pada takut, bahkan pimpinan gang pun ada yang lantas jadi pramusaji tugasnya ngeluarin minuman. Karena udah gak punya anak buah. Makanya jadi orang itu kalo berani ya karena diri sendiri, kalo takut juga akui saja kalo takut.” Kataku sambil menahan tawa.


“Kampret lo Zain, njatuhin martabat gue aja lo.” Bisik Rofiq padaku.


Aku hanya tersenyum geli mendengarnya, sementara Rofiq terus menginjak kakiku.


“Iya bener kata Zain, bahkan ada orang pemberani tapi justru takluk dihadpan istrinya.” Balas Rofiq padaku.


“Ah kamu sih nyindir Marjuni tuh, meski istrinya dua tapi dibawah kendali istri.” Kataku mengalihkan pembicaraan. Membuat Marjuni yang kesebut namanya jadi agak tersinggung.


“Jangan bawa bawa masalh pribadi gue dong !” kata Marjuni.


“Wkakaka,,,, masih punya malu juga kamu Jun. santai saja kita kan Cuma bercanda. Udah tampar aja tu si Pitak kalo gak mau biar Rofiq yang nampar dia.” Kataku.


Marjuni bingung mendengar ucapanku, tapi keder dengan penampilan Rofiq yang memang wajahnya cukup sangar. Badanya gempal dan kekar membuat orang yang baru pertama lihat ciut nyalinya.


“Aku gak enak kalo harus nampar dia, dia udah banyak bantu aku soalnya. Lagian soal kaca jendela kamu juga sedang dalam proses perbaikan.” Ucap Marjuni.


“Sama, aku juga gak tega kalo aku yang harus nampar dia karena dia pernah kuhajar juga. Masa harus aku hajar dua kali. Mau berapa Pitak di kepalanya nanti.” Jawabku sekenanya.


“Kalo aku sih masih punya dendam sama dia, karena pernah ngeroyok aku. Kalo boleh fight one by one sama aku gak papa. Tapi kayaknya udah gak punya nyali sekarang.” Ucap Rofiq.


Sementara si Pitak Cuma diam menunduk tanpa berani menjawab.


“Yaudah lah, biarin dia hidup saja asal gak berulah lagi. Tapi kalo masih petentang petenteng kayak tadi ya terpaksa aku habisin juga nanti.” Kataku membuat Pitak makin diem karena malu.


Mau lawan Rofiq gak berani satu lawan satu, mau lawan aku udah pernah tapi kalah. Sehingga justru semakin minder ketika harga dirinya habis didepan sahabatnya Marjuni.


Aku tersenyum cukup pus, bisa mempermalukan penjahat kacangan macam si Pitak dan Marjuni.


Gak perlu dengan kekersan juga ternyata bisa mengalahkan lawan. Sehingga bisa menghemat energy, karena mungkin dalam waktu dekat entah kapan akan menghadapi lawan tangguh anak buah Maheso Suro dan Maheso suronya sendiri. Belum lagi memikirkan cara menghadapi ilmu ‘Panggiring Sukma’ yang belum ada gambaran jelas dengan cara apa.


Jika boleh jujur, akupun cukup gentar dengan ilmu itu. bukan karena ilmunya yang menakutkan atau dahsyat tapi jika berhasil mengendalikan keluarga dekatku untuk menyerangku. Aku gak mungkin bisa memberikan perlawanan. Sementar istriku yang bisa menotok jalan darh juga baru hamil, dan yang lebih menakutkan jika istriku yang kena. Kemudian menyerangku dibawah kendali ilmu tersebut.


Mana mungkin aku bisa melawan, sedang sekedar menampar saja aku gak akan tega. Benaar benar memusingkan aku, mana kang Salim dan Yuyut juga belum member kepastian jawaban lagi.


“Pak, jendelanya sudah jadi sudah diganti kaca yang baru.” Ucap tukang yang dibawa Marjuni.


“Yaudah pak, makasih upahnya minta Marjuni, kalo kurang ngomong saja biar aku yang memintakan ke dia.” Ucapku.


“Sudah dikasih kok pak tadi waktu mau kesini.” Jawab tukang itu polos.


“Yaudah kalo gitu aku pulang dulu saja. Aku mengaku salah dan minta maaf ya, soal kakaku aku nanti akan bilang kalo kamu akan mencabut berkas pengaduan. Dan biar dia meminta maaf padamu sendiri, mungkin aku besuk sudah harus berangkat kejakarta lagi. Tiket pesawat sudah dapet berangkat jam 6 pagi.” Kata Marjuni.


Kemudian Marjuni dan pitak pulang diikuti pak tukang yang membetulkan jendela rumahku.


Setelah mereka pergi Rofiq tiba tiba memukul pinggangku dengan keras, macam orang berantem beneran.


“Kumat apa kesurupan kamu bang ?” tanyaku.


“Dasar kampret lo samain aku sama pramusaji.” Sahut Rofiq.

__ADS_1


“Wkakaka,,, salah sendiri kenapa mau jadi pramusaji disini.” Jawabku.


Rofiq hanya nyengir menahan tawa, karena malu. Kemudian aku pergi ke belakang melihat tanaman hasil grafting apakah sudah pada tumbuh tunas baru atau belum. Dan berapa persen yang tidak menunjukan gejala hidup.


Saat dibelakan rumah melihat tanaman, aku teringat ketika bersama Samsudin dibukakan mata batinku oleh kang Salim. Bahwa di arah merapi dekat rumahku itu ada sebuah kerajaan jin, dimana sudah ratusan tahun jin itu disitu dan dia tahu tentang leluhurku semasa hidupnya dulu.


“Apa nanti malam aku kesana ya, coba selidiki siapa tahu ada petunjuk yang kutemukan disana. Mungkin bisa berguna mencari cara menghadapi ilmu ‘Panggiring Sukma’.” pikirku.


“Aah dicoba apa salahnya, yang penting tidak bersekutu dengan mereka.” Kataku dalam hati.


“Atau aku ziarah ke makam seperti dulu saja, sudah cukup lama tidak ziarah, sejak kelurgku terancam oleh Maheso Suro. Apakah dia yang punya ilmu ‘Panggiring Sukma’ kalo iya berrti ilmu kebatinanya cukup tinggi. Aku harus berhati hati dengan dia, salah perhitungan bisa fatal akibatnya.” Kataku dalam hati.


Waktu waktu ini benar benar menegangkan, meskipun aku selalu menampakkan wajah biasa saja didepan yang lain. Namun sejujurnya dalam diriku timbul rasa was was yang sangat menghantuiku. Jelas jika aku sendiri merasa kesulitan atau bahkan tidak akan mampu menghadapi serangan dari para duku itu. mereka sangat kuat, apakah aku harus menemui Damar memaksa dia untuk mengatakan siapa pemilik ilmu ‘Panggiring Sukma tersebut ? tapi apalah gunaya tahu siapa pemiliknya kalo tidak tahu cara menghadapinya.


“Mas,,, mask ok ngelamun ada masalah baru kah ?” Tanya Fatimah istriku.


“Aah gak kok, Yuyut belum kasih kabar apapun sampai sekarang ?” tanyaku pada Fatimah.


“belum mas, biar aku telpon lagi atau bagaimana ?” Tanya Fatimah kenudian.


“Iya boleh, mas masih bingung belum dapat petunjuk menghadapi ilmu ‘Panggiring Sukma tersebut.” Kataku.


“Iya mas, nanti aku sampaikan biar Yuyut bisa Bantuin.” Ucap Fatimah.


Tiba tiba aku merasa pusing sekali, aku minta Fatimah mengantarku masuk ke kamar. Sempat ditanya Isti kenapa wajahku agak pucat.


“Mas kok wajahnya pucat sekali, ada apa ?” Tanya Isti.


“Gak papa, paling masuk angin saja, kataku.” Aku lanjut jalan ke kamar diikuti Fatimah di belakangku dengan agak khawatir.


Sampai kamar aku langsung tiduran menahan kepalaku yang semakin berat saja.


“Mas,,, mas kamu kenapa ?” kudengar Fatimah memanggil manggil aku namun aku sudah setengah sadar. Telingaku masih mendengar tapi badanku tak dapat bergerak. Bahkan sekedar bicarapun aku tak mampu.


Aku seperti mengalami saat terkena racun jerat sukma pertama kali dulu. Namun kali ini indera pendengaran dan penglihatanku masih berfungsi normal. Ada apa dengan diriku kenapa tiba tiba tak lagi mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhku ini…???


Aku masih melihat Fatimah duduk ditepi ranjang memandangi aku, namun lama lama mataku kabur tak lagi dapat melihat wajah istriku dengan jelas. Bahkan semakin lama semakin samar, wajah istriku tak dapat lagi kulihat. Bahkan berubah wujud menjadi sosok asing yang tak aku kenal, wajah yang jauh berbeda dengan wajah istriku. Meski sama sama cantik tapi bukan wajah istriku, dan senyum nya menyeringai memperlihatkan taring taringnya yang panjang, Spllaassh….


Ujut itu berubah bentuk bukan lagi istriku bahkan bukan ujut wanita melainkan sosok lelaki besar dan bertaring dengan sorot mata merah menyala. Dengan memperlihtkan kuku tanganya yang panjang kuat dan tajam serta runcing. Seakan siap untuk mencabik cabik tubuhku yang tak mampu bergerak sama sekali.


Aku hanya bisa pasrah menerima semua ini, kemana istriku tadi, kemana yang lainya semua seakan menghilang. Bahkan aku meras ini bukan dirumahku, meski aku seakan tidak asing dengan tempat ini. tapi dimana ini, aku lupa lupa ingat akan dimana tempat ini.


Sementara sosok yang menakutkan itu benar benar sudah siap mencabik cabik perutku seakan hendak mengeluarkan seluruh isi organ dalamku. Dari taringnya sudah mengeluarkan liur seakan menahan lapar dan hendak menyantap tubuhku.


Tak ada yang dapat aku lakukan ketika, kuku panjang di tanganya menenbus kulit perutku pelan pelan kemudian setelah menembus sampai kedalam, kuku tanganya ditarik kesamping menyayat panjang perutku. Seakan mau melihat isi did lam perutku.


Tak ada yang mampu kulakukan, bahkan sekedar mengaduh pun aku tak sanggup. Rasa sakit yang kurasakan hanya dapat aku ekspresikan dengan air mata yang tak terbendung. Saat kuku kuku makhluk itu menyayat nyayat kulit tubuhku.


Aku hanya bisa menjerit dala hati,memanggil semua yang ada dirumah itu dari istriku, Khotimah adikku sampai semua isi rumah aku panggil satu persatu. Namun sayang tak sedikitpun suara keluar dari mulutku.


“Ha ha ha kamu tak akan lepas lagi sekarang, tak ada satupun orang yang mampu mendengarmu apalagi menyelamatkan kamu” ucap makhluk itu.


Aku sduah tidak peduli dengan rasa sakitku yang masih terus disayat sayat dengan kuku mkhluk itu. aku justru panasaran dimana ini, tempat apa ini kenapa aku bisa disini.


Otakku pun rasanya beku tak mampu berpikir seperti sebelumnya, aku seperti mengalami penurunan daya berpikir sampai dengan titik terendah. Nahkan sampai akhirnya aku tidak ingat siapa aku ini ?


Rasa sakit tak lagi aku rasakan, apapun tidak dapat aku rasakan bahkan darah yang masih mengalir luka yang masih menganga pun tak dapat aku rasakan. Aku kenapa, aku siapa apakah aku ini manusia atau siluman ? otakku sudah tak mampu mengingat siapa diriku ini bahkan apa aku ini.


Aku hanyalah seonggok daging yang ada tulangnya yang bisa hidup dan bernafas, taktahu siapa aku tak tahu mau apa aku.


“Kamu adalah budakku, ikuti kata kataku sekarang !” kudengar suara entah siapa dan dari mana.


Dan aku tak kuasa menolak perintahnya, aku ikuti semua perintahnya.


Suara


“Aku budak kamu, aku bergerak atas perintahmu, aku hanya mengikuti apa yang kamu perintahkan.


Aku tidak ada, aku hanyalah tanganmu, aku hanyalah kakimu.


aku berjalan karena perintahmu, aku bergerak dengan perintahmu dan aku melakukan semua atas kemauanmu. Aku bukan siapa siapa tidak punya siapa siapa aku hanya kaki dan tangan yang mengikuti semua perintahmu,karena kamu majikanku dan aku adalah budakmu.”


Ada kekuatan yang memaksa aku untuk mengikuti suara itu dan tiba tiba aku mampu bergerak tapi dengan gerakan kaku layaknya gerakan Zomby. Aku berjalan dengan tatapan mata kosong, langkah yang kaku dan hanya mengikuti bisika suara tadi.


Suara


“Bunuh bunuh habiskan habiskan habiskan keluarganya…!”


Aku bergerak mengikuti perintah itu, berjalan lurus kedepan tanpa tahu tujuan hanya mengikuti semua bisikan yang ada.


Aku melihat istriku Fatimah namun aku tak mampu menyapa, bahkan membalas senyumanya pun aku tidak bisa. Bagiku sosok Fatimah itu seperti wanita membosankan entah mengapa aku jai muak melihat senyumanya. Senyuman itu seperti sebuah ejekan melihat perutku yang sobek menganga, bahkan semua malah menertawakan aku sehingga aku semakin membenci mereka semua.


Aku tetap berjalan lurus kedepan, yang kudapati didepanku semua kulempar kucekik dan aku gigit. Mereka membalasku dengan pukulan tapi aku tak merasakan apapun juga. Bahkan ketika ada yang memotong lenganku, menusukku semua tak aku rasakan.


Semua yang menghalangiku aku lemparkan aku injak atau aku cekik lehernya.


Tiba tiba aku disiraam dengan air yang sangat dingin,


dingin ???


Aku bisa merasakan dingin ?

__ADS_1


Aku bisa mendengar jelas ?


Aku bisa melihat jelas ?


Perutku masih utuh tidak robek ?


lenganku masih utuh dua ?


Plaak.... aku ditampar hingga terbangun, rupanya aku mimipi buruk.


Tapi,,,,, aku sangat terkejut karena yang ada dihadapanku tadi Fatimah saat hendak tidur.


Kok sekarang bukan Fatimah yang dihadapanku ? melainkan Kang Salim…???


Apakah aku masih di alam mimpi saat ini ?!?


“Kang sadar kang !” ucap kang Salim.


“Apakah aku sedang bermimpi sekarang ?” tanyaku pada kang Salim.


“Gak kamu bukan mimpi, kamu kan harus merasakan ilmu ‘Panggiring Sukma’ nah barusan kamu merasakan ilmu itu, tugasmu sekarang mencari cara mellawan ilmu itu. harus segera ketemu karena sebentar lagi kamu harus berhadapan dengan orang yangmemiliki ilmu tersebut.” Kata Kang Salim.


“Aku masih bingung kang, aku hanya merasakan pusing, kaku tak dpat bergerak, dan akhirnya aku tidak dapat mengontrol diri. Melihat orang adanya hanya benci dn ingin membunh orang.” Kataku pada Kang Salim.


“IYa itu yang harus kamu pikirkan sampai kamu sadar tadi apa yang membuatmu Sadar.” Kata kaang Salim.


“iya kang sekarang akau dimana ini ?” tanyaku pada kang Salim.


“Sekarang pulanglah kamu Yasin.” Kata kang Salim.


Tiba tiba aku tersedot pusaran ngin dan terjatuh, sehingga merasakan sakit pada pinggangku hingga menjerit, kecil.


“Adduuuh…!” jeritku.


“Mas sudah sadar ?” Tanya Fatimah istriku.


“Loh Fat, kang Salim tadi mana ?” tanyaku pada Fatimah.


“Haaah Kang Salim ? mang kang Salim disini, mas ngimpi kali ketemu kang Salim. Mas kan tadi kesakitan terus aku antar masuk kamar, tapi tadi sempat pingsan sampai Fatimah khawatir banget. Sampai dikasih minyak angin macam macam di hidung banyak banget. Baru mas bisa siuman bentar eeh tidur lagi lama tadi.” Kata Fatimah.


“Mimpi…? Aku tadi mimpi terkena ilmu ‘Panggiring Sukma’ dan terbangun disadarkan atau dibangunkan kang Salim. Kemudian aku diwejang kang Salim, tapi ternyata itu juga hanya mimpi, dan aku disadarkan oleh istriku Fatimah. Apakah ini juga hanya mimpi lagi ???” tanyaku dalam Hati.


Aku bangkit dari ranjag sempat dilarang oleh Fatimah.


“Mas jangan dulu, mas harus hati hati baru saja siuman dari pingsan.” Kata Fatimah. Tapi kau tak hiraukan, aku menapak tanahku berarti ini real bukan suasana yang baru gak menentu.


“Aah aku bukan mimpi lagi sekarang, ini nyata.” Kataku.


Kemudian aku peluk istriku dan aku ciumi dia sampai Fatimah bingung bahkan terkesan ketakutan.


“Maaf sayang aku hanya buktiin ini bukan mimpi lagi.” Kataku.


“Mimpi,,,? mas bukanya tadi pingsan ?”


 “Iya Fat, mas mimpi bertingkat, dalam mimpi mas juga mimpi aduh gimana ya jelasinya.” Kataku.


“Mas tenangin diri dulu baru cerita !” kata Fatimah.


Belum jadi aku menceritakan terdengar suara jeritaan Khotimah seperti kesakitan.


Semua lamgsung menuju ketempat suara Khotimah menjerit.


Semua terkejut, melihat Khotimah memandang yang mendekatinya dengan tatapan kosong. Tibaa tiba Khotimah yang baru didapur mengambil pisau dapur daan hendak menyerang Isti…!


“Khotimah jangaaaan….!” Teriak Isti.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2