Isyaroh

Isyaroh
Duel denan pemilik ilmu kebal sajam


__ADS_3

Episode 74


Kemudian kulihat orang itu mau kabur, aku bersiap memukul dia dengan kayu yang sebesar lengan yang kupungut tadi.


Dor…dor..dor…


“Berhenti atau kutembak !” suara tembakan peringatan dan teriakan pak Yadi. Tapi tak dihiraukan. Orang itu terus berlari, sampai sekitar tiga meter dari tempatku bersembunyi aku bersiap mengayunkan pukulan dari balik pohon. Dan tepat saat dia didepanku, langsung kuayunkan kayu pemukulku.


Pllaak…. Tepat mengenai jidatnya hingga dia jatuh terjengkang.


Lumayan keras aku memukul, sehingga orang itu tak bisa langsung bangun. Meski aku tak langsung mendekati, takut dia bersenjata. Beberapa saat kemudian Fanani dan seorang kawanya datang meringkusnya. Dengan penerangan dari senter hp, aku lihat wajah orang itu.


“ Kamu….?!?”


“ Kamu Japra, gak ada Kapok kapoknya.” Kataku sambil menampar wajah lelaki itu.


“ Sabar pak, bapak kenal diya ?” Tanya pak Yadi yang tahu tahu sudah disampingku.


“ Dia yang dulu hamper mencelakakan saya, mebakar saya hidup hidup.” Jawabku.


“ Tidak salah lagi, pasti kamu kerja sama dengan anak buah Sosro Sukmo, kamu gunakan bubuk bibit sirep dari sana kan, pantas hawanya seperti aku ingat pernah alami !” bentakku pada Japra.


Kali ini Japra tak berani bicara, hanya tertunduk takut. Aku jadi sedikit heran, kenapa dia bisa sampai disini. Apakah ada kaitanya dengan kasus yang baru dalam proses atau murni dendam pribadinya. Kalo murni dendam pribadinya, bagaimana dia bisa menemukan rumahku ? bisiku dalam hati.


Akhirnya Japra di borgol dan digiring masuk ke rumahku. Sampai dirumah semua kaget dengan kehadiran laki laki asing yang ujut fisiknya saja sudah menyeramkan begitu.


Dengan posisi tangan diborgol, Japra di interogasi oleh pak Yadi. Tentu saja dengan pengawalan anak buah pak Yadi, Fanani cs.  


“ Nama Bapak siapa ?” Tanya pak Yadi.


“Nama saya Japra pak.” Jawab Japra.


“ Bapak kenal dengan pak Yasin ?” Tanya pak Yadi.


“ Aki pernah bertemu dengan dia di lembur Aki.” Jawab Japra.


“ Maksutnya, ketemu dikampung dia pak.” Kataku menjelaskan maksut Japra.


“ Owh begitu, terus tujuan kamu kesini mau apa ?” Tanya pak Yadi.


“ Saya diutus Guru saya, untuk menebar aji sirep Megananda.” Kata si Japra.


Benar dugaanku, si Japra yang menebar sirep. Dan tadi dia mau mengulangi agar seisi rumah tertidur. Tapi apa tujuanya dengan membuat tertidur seisi rumah ?


“ Tujuanya apa, menebarkan sirep ?” Tanya pak Yadi.


“ Aki hanya disuruh menebar saja, agar kalian tertidur. Tidak melakukan doa bersama, karena guru aki akan mengarah seseorang yang lain di luar rumah ini.” Jawab si Japra.


“ Rofiq pak, dia dalam bahaya !” sahutku.


“ Yaudah, bawa saja dia ke kantor, biar aku lihat kondisi Rofiq.” Perintah pak Yadi paa Fanani.


Kemudian Fanani dan seorang temanya membawa Japra ke Polsek dan satunya tetap stay dirumah. Aku sendiri tak bisa menemani pak Yadi menjenguk Rofiq, mengingat kondisi rumah yang juga perlu penjagaan ekstra ketat.


Kopi yang disajikan sudah hamper dingin, kuteguk kopi sambil bicara debgan Fatimah dan Isti juga yang lain yang belum tertidur waktu itu.


“ Makasih ya istriku, tadi sudah ingatkan aku sehingga tidak jadi keluar rumah. Saat ini mas akan lebih focus dirumah, terutama malam hari. Mas gak mau diantara kita ada yg celaka, karena keteledoranku.” Kataku membuka obrolan.


“ Iya mas, tapi Fatimah heran apakah orang itu tadi beneran yang mau celakain mas. Waktu di pondok nya kang Salim dulu ?” Tanya Fatimah.


“ Iya dia orangnya, dia dendam karena aku menggagalkan aksinya yang mau menjembatani seseorang untuk bersekutu dengan Jin !” kataku.


“ Berarti dia yang membakar gubuk yang mas pakai buat wirit itu ?” Tanya Fatimah lanjut.


“ Iya, tapi itu gak penting. Sekarang yang terpenting bahas Rofiq kakak isti yang baru di incar. Jadi mala mini mas mau begadang, tirakatan mohon keselamatan untuk semuanya. Kalian istirahat saja gak papa.” Kataku.


“ Gimana Isti bisa istirahat mas, kalo kakaknya dalam bahaya gitu. Isti juga mau bantu doa.” Kata Isti.


“ Fatimah juga ah.” Sahut Fatimah.


“ Jangan Fat, kamu kan lagi hamil. Harus jaga kondisi kesehatanmu dan Bayimu.” Larang Isti.

__ADS_1


“ Iya Fat, biar Arum dan Khotimah yang temenin Isti.” Kata Arum.


“ Udah gini aja, biar Fatimah ikut diruang mujahadah nanti. Kalo ngantuk ya biar tidur disana semua. Sekalian Sidiq, pindahkan saja tidurnya disamping tempat mujahadah. Malah lebih mudah mengawasi, kalo kita kumpul.” Kataku.


“ Sidiq juga ?” Tanya Arum.


“ Iya, maksutku biar tidurnya disana sekalian. Kan mudah mengawasi, saat ini aku khawatir jika ada yang lepas dari pengamatan.” Jawabku.


“ Iya bener, Fatimah juga ngerasa begitu. Kita semua kumpul diruang mujahadah saja supaya bisa saling awasi.” Sahut Fatimah.


“ Betul, biar yang jaga depan nanti teman teman mas Fanani.” Kata Khotimah.


Aku sedikit kaget mendemgar Khotimah menyebut Fanani dengan sebutan Mas, sayangnya suasana baru genting. Jadi aku gak isengin Khotimah, bisa pada marah nanti.


Beberapa saat berlalu, Fanani datang bersama temanya.


“ Assalaamu ‘alaikum.” Ucap Fanani.


“Wa’alaikummussalaam.” Sahut kami bersama.


“ Tersangka sudah diamankan pak, rencana selanjutnya bagimana ?” Tanya Fanani.


“ Malam ini, yang memungkinkan kuharap jangan tidur sebelum jam 00.00 sukur sebagian bisa ikut begadang sampai pagi yang cowok.” Kataku.


“ Ada pesan dari pak Yadi tadi, agar dibantu doa mengingat saudara Rofiq semalam juga diganggu makhluk Astral.” Kata Fanani.


“ Baiklah, untuk kalian bertiga jaga didepan sini. Kami semua akan berkumpul di ruang Mujahadah semuanya. Kecuali ibu nya Isti, biar istirahat di kamar saja.” Kataku.


“ Baik pak.” Jawab Fanani dan kedua temanya.


“ Silahkan kopinya di tambah lagi, nanti jika mau bikin lagi atau masak mie instan atau goreng telur langsung kedapur saja. Semua keperluan untuk berjaga jika perlu bilang saja gak usah sungkan.” Kataku sebelum masuk ke ruang mujahadah.


Selanjutnya kami menuju ruang mujahadah, dengan terlebih dulu mengambil air wudhu. Aku belakangan ambil air wudhunya, karena memindahkan Sidiq tidur disamping kami. Semua kemungkinan buruk kita antisipasi, baik secara lahiriah maupun batiniyah.


Sebuah tindakan perlindungan standart yang harus dilakukan. Meski semua sudah diatur Allah, tapi sebagai manusia wajib berusaha.


Didahului dengan melaksanakan sholat lail, kami kemudian melaksanakan doa dan wirit sendiri sendiri. Dengan tujuan yang sama memohon keselamatan dan keselamatan dari ancaman yang ada.


Aku harus wirit di tempat terbuka, biar lebih leluasa menahan sirep. Di tempat yang tidak terhalang atap, biarlah yang lain tertidur tapi aku harus terjaga.


Dan benar saja, sesaat kemudian semua sudah terlelap tidur, kulihat jam pukul 11.15 aah biarin lah. Yang penting aku masih terjaga, tapi bagaimana dengan Fanani dan kedua temanya ? aku segera melangkah keluar melihat keadaan.


“ Kalian masih terjaga ?” tanyaku basa basi.


“Masih pak, tapi sedikit ngantuk.” Jawab salah satunya.


“Ayu kita keluar rumah sebentar, biar gak ngantuk !” ajakku.


Di luar rumah aku memberitahu jika salah satu cara menahan kantuk akibat sirep adalah berada di alam terbuka, yang tidak terhalang atab rumah. Kemudian banyak membaca ayat kursy, serta bergerak aktif jangan berdiam duduk apa lagi berbaring.


“ Owh begitu ya pak ?” Tanya Fanani.


“ Iya, makanya tadi kamu waktu jalan sama aku gak kena pengaruh sirep, tapi begitu suruh bangunin malah ikut tertidur kan ?” jawabku.


“ Iya pak, begitu menyentuh mereka malah jadi ngantuk berat jadi tertidur juga. “ ucap Fanani.


“ Mohon maaf, malam ini kalian jadi harus tidak tidur. Pihak lawan semakin membabi buta. Kita harus selalu waspada, nanti usahakan kita giliran keliling rumah.” Kataku menjelaskan.


Aku sedikit merasakan pengaruh sirep itu, beeberapa kali aku menguap. Aku atur pernafasan dan lebih banyak melakukan gerakan. Ini lebih kuat dari yang tadi pikirku, apakah disekitar sini masih ada orang yang beraksi menebar sirep, bisiku dalam hati. Aku perhatikan Fanani dan kedua rekanya pun seperti tak kuat menahan kantuk.


“ Apakah kalian merasa sangat mengantuk ?” tanyaku.


“ Iya pak,sudah kutahan tahan masih juga ngantuk sekali.” Jawab fanani.


“ Berwudhulah dahulu, aku tunggu kalian disini.” Kataku.


Ini malam kedua mereka melancarkan serangan, apakah besuk akan memberikan serangan yang lebih kuat lagi, pikirku. Jika malam ini saja aku sedikit terpengaruh dengan sirepnya, apa lagi jika besuk serangan mereka lebih kuat. Aku harus hadapi dengan apa lagi ? pikirku dalam hati.


Ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku, namun aku tak boleh menunjukkan itu di depan orang. Aku berpikir keras, menghadapi kemungkinan yang akan terjadi besuk. Untuk mala mini kurasa masih mampu bertahan, namun untuk esuk dan seterusnya harus ada persiapan yang lebih matang.


Tiba tiba aku teringat pesan Abah guruku. “ Rasa kantuk itu, cepat datang jika perut kamu kenyang. Biar gak cepet ngantuk, pasalah karena perut yang lapar itu menahan kantuk.” Begitu pesan Abah guruku saat aku diberi wirit yang harus diamalkan sambil begadang. Bukan untuk tujuan apa apa, tapi melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Mengurangi tidur, makan dan semua keinginan yang bersumber dari nafsu manusiawi.

__ADS_1


“ Astaghfirrullahal ‘adzim, aku memang jarang sekali puasa sunnah.” Kataku dalam hati.


“ Besuk aku akan puasa sunah, berbuka cukup dengan minum dan makan sedikit. Makan lagi waktu sahur saja.” Gumamku dalam hati.


Agak lama menunggu Fanani dan kedua rekanya belum datang juga. Aku terpaksa menengok mereka yang kusuruh wudhu tadi.


Ternyata mereka malah tertidur di ruang tamu, mau kubangunkan pun percuma. Tampaknya pengaruh sirep kali ini sangat kuat. Aku harus berjuang sendiri malam ini, batinku.


“ Baiklah, malam ini aku sendiri yang akan ronda.” Kataku dalam hati. Kulihat jam menunjukkan pukul 00.30. Sementara jadwal subuh jam 04.35 masih sekitar tiga jam lagi.


Aku harus kembali keliling rumah sendirian, tapi kali ini aku membawa sebuah golok dan double stick untuk berjaga jaga. Jika ada serangan dari manusia, ingat saat dicelakai Japra waktu itu.


Aku berputar mengelilingi rumah kembali, dengan melafalkan ayat ayat dan doa untuk memagari rumah dari pengaruh jahat. Dengan tetap menjaga kewaspadaan akan kemungkinan datangnya bahaya lahiriyah.


Sambil berjalan, tangan kananku memegang golok yang aku selipkan di pinggangku, Naluriku membisikan akan adanya orang yang mengamatiku dan memperhatikan aku.


Aku memandang berkeliling, mencari keberadaan orang tersebut. Akhirnya aku menemukan persembunyian orang tersebut, namun aku pura pura tidak tahu saja. Lebih baik menghindari bentrokan fisik, jika masih mungkin. Asal aku tidak tertidur pasti dia juga gak akan bisa leluasa melakukan rencana jahatnya.


Namun begitu kewaspadaanku harus tetap terjaga, apa bila dia secara tiba tiba menyerang secara mendadak. Yang aku heran, siapa orang itu dan apa hubunganya dengan si Japra. Kenapa juga dia bergabung dengan gerombolan si Gembul.


Aku mondar mandir disekitar tempat itu saja, tidak berjalan keliling rumah. Khawatir dia mendekati dan masuk rumah. Meski dengan begitu dia jadi sadar jika sedang kuamati, tapi itu lebih baik dari pada dia bisa mendekati dan masuk kerumah. Sementara semua tertidur pulas.


Benar saja, tak lama berselang justru dia yang datang menghampiriku.


“ Lumayan juga kamu, bisa mengadapi sirepku. Akan tetapi jangan senang dulu, ini baru awal. Besuk aka nada kejutan yang lebih besar buat kamu.” Kata orang itu.


“ Hanya pengecut yang menggunakan permainan sirep seperti ini. Jika laki laki harus berani berhadapan langsung, bukan sembunyi sembunyi begitu.” Kataku memancing emosinya.


“ Asal kamu tahu, sangat mudah bagiku menghabisimu. Namun tujuanku bukan untuk itu, kalo sekedar memisahkan nyawamu dari jasadmu itu perkara mudah.” Katanya.


“ Kalimatmu itu hanya untuk menghibur dirimu sendiri yang seorang pengecut. Sekedar gertak sambal, tidak akan sedikitpun mempengaruhi aku.” Jawabku memancing amarahnya.


“ Kamu pikir kamu siapa ? Merasa hebat, apa bisa mengalahkan aku ?” Tanya orang itu.


“ Setidaknya aku bukan pengecut, yang datang sembunyi sembunyi seperti maling, dasar kamu pengecut.” Aku terus mencing amarahnya.


Dan itu berhasil membuat dia tersinggung kemudian mendekatiku sambil menghunus pedangnya. Kemudian menebas pohon pohon disekitarnya dengan sekali tebas. Pohon pohon itupun terpotong sekali tebas, memamerkan tajamnya pedang.


Sekiatar jarak 3 meter dia berhenti.


“ Kamu tahu tajamnya pedangku ini kan, sekarang perhatikan !” orang itu memerlihatkan aksi dia mengiris lidahnya dengan pedang, kemudian membacokkan pedangnya ke bagian tubuhnya sendiri yang tidak meninggalkan luka.


“ Permainan anak kecil, gak usah pamer padaku.” Kataku.


Orang itu tampak marah, kulihat dari dekat penampilanya. Ternyata selain pedang, dia juga membawa sebuah keris. Ini pasti yang diceritakan Burhan siang tadi, kataku dalam hati. Menghadapi orang ini bukan dengan senjata  tajam, kemudian golokku aku letakkan di tanah. Aku ambil double stick yg kuselipkan di pinggang belakang.


“ Silahkan kamu maju jika mau mencoba kerasnya benda ini.” Kataku.


...bersambung...


..............................


Mohon maaf, Author berusaha update tiap hari.


Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2