Isyaroh

Isyaroh
Khotimah bersedia dipinang Candra


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Ok, satu hal lagi yang kurasa kamu perlu juga tahu bahwa sebenarnya dalam waktu dekat ini Khotimah akan dilamar seseorang. Kuharap kamu bisa memahami dan jangan sampai kamu berpikir macam macam. Krena aku memutuskan untuk member ijin orang itu melamar setelah tahu hbunganmu dengan Khotimah yang jika diteruskan akan tidak baik. lain halnya jika kamu single, maka aku akan bilang ke orang itu jika aku akan menunggu lamaran kamu. Tapi sekarang kan ternyata tidak mungkin, makanya aku mempersilahkan orang itu untuk melamar Khotimah.” Kataku pada fanani.


Sehingga Fanani pun tampak sedih atau bagaimana gak jelas yang jelas tampak kekecewaan dirautt wajahnya. Mendengar jika Khotimah akan segera dilamar seseorang. Mungkin memang terlalu cepat baginya, tapi itu juga demi memisahkan Khotimah dan fanani agar tidak menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Fanani. Mau dia terima atau tidak pun aku juga tiak akan peduli, yang jelas aku punya alasan mengapa memisahakan mereka dan mempersilahkan Candra untuk melamar Khotimah. Meski keputusan tetap aku serahkan pada Khotimah sendiri yang akan menjalani.


“siapa pak yang akan melamar Khotimah ?” pertanyaan spontan dari Fanani terucap. Sehingga dia sendiri tampak malu dengan pertanyaanya sendiri.


“Kenapa Fan, apa kamu cemburu Khotimah akan dilamar orang ?” tanyaku sambil senyum agar suasana tidak tegang.


“Gak kok pak, maksut saya apakah  Khotimah juga menerima ?” Tanya Fanani lagi.


“Kalo itu aku gak tahu, biar Khotimah yang menjawab nanti. Kalo Khotimah belum bisa menjawab langsung maka sebelum memberikan jawaban Khotimah juga tidak bisa menerima lamaran dari orang lain, begitu aturanya.” Jawabku pada Fanani.


Meski aku melihat masih ada rasa cemburu dihati Fanani tapi dia tidak berbuat apa apa. Mungkin juga Fanani sendiri merasa masih membutuhkan bantuanku untuk mendamaikan dengan istrinya. Kadang dalam suasana tertentu memanfaatkan keadaan juga perlu, selama bukan untuk kepentingan pribadi. Seperti saat ini aku memanfaatkan suasana yang masih dibutuhkan Fanani untuk menyadarkan dia dan menyelamatkan Khotimah.


Beda lagi kalo aku memanfaatkan suasana demi kepentingan pribadiku sendiri, itu yang dimaksut mencari kesempatan dalam kesempitan. Sehingga Fanani yang sebenarnya kecewa pun tidak bisa berbuat apapun. Selain masih membutuhkan aku, dia juga gak punya alasan untuk kecewa sebenarnya. Dan itu pasti juga disadari oleh Fanani, sehingga mau gak mau Fananipun harus menerima hal itu.


“Owh iya pak, semoga Khotimah mendapatkan jodoh yang baik.” ucap Fanani.


“Aamin, maksih doanya kamu juga semoga bisa berkumpul lagi dengan istrimu dan dapat menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.” Jawabku.


Kemudian Fanani dengan agak lesu meninggalkan aku setelah pamitan. Aku sendiri menengok Khotimah yang masih bersedih didalam kamar bersama Fatimah Istriku. Tampak air mata Khotimah masih menetes dan buru buru diusap oleh Khotimah.


“Sekali lagi mas minta maaf ya Khot, mas sama sekali gak bermaksut membuat kamu sedih. Justru mas pingin kamu bahagia nanti saat berumah tangga. Kadang kita memang harus berani menelan pahitnya hidup jika pahit itu akan menkadi obat bagi kita. Jangan hanya menelan yang manis saja Khot, karena yang manis itu kadang malah membuat kita sakit setelahnya.” Kataku menghibur Khotimah yang masih terisak dalam dekapan Fatimah istriku.


“Iya mas, Khotimmah juga sadar sekarang ini bahwa mas Fanani sebatas suka dengan Khotimah tapi cintanya hanya pada istrinya. Dan lagi Khotimah yang salah kemarin tidak bisa berpikir panjang, makasih mas sudah belain Khotimah.” Ucap Khotimah tulus meski masih memancarkan kesedihan hatinya.


“Itu sudah tanggung jawabku dan istriku Khot, gak usah kamu pikirin. Yang penting kamu sudah menyadari kekeliruanmu dan mau merubahnya itu suatu kebahagian bagiku dan istriku. Karena kamu adalah amanah yang harus kami jaga.” Kataku menghibur dan membesarkan hati Khotimah.


“Iya Khot, mbak bahagia banget akhirnya kamu bisa menyadari telah salah dalam memberikan hati kamu.” Sahut Fatimah sambil memeluk dan menciumi adik sepupunya itu. aku jadi ingat saat awal bertemu Khotimah dan dia menemani Fatimah istriku di rumah mertua saat aku ungsikan disana demi keamanan Fatimah.


Khotimah yang suka iseng dan jahil kepadaku dan istriku, yang sering bertengkar dan saling meledek dengan istriku namun keduanya sangat dekat dan sangat rukun. Meski keusilan Khotimah kadang juga menyerempet ke hal hal privasiku dan istriku. Saat ini dia baru sedih dan Fatimah pun tampak merasakan kesedihan yang dialami Khotimah adiknya.


Aku berniat keluar kamar dan hendak tiduran di ruang mujahadah.


“Mas mau kemana, kalo mau istirahat biar Khotimah kembali kekamar Khotimah.” Ucap Khotimah.


“Gak, aku masih mau ngopi ngopi dulu kamu lanjutin dulu sama Fatimah kakakmu. Aku belum ngantuk.” Jawabku berbohong.


“Iya Khotimah disini dulu saja, kalo mau cerita atau mau menangis mbak siap dengerin dan menjadi tumpahan semua isi hati Khotimah.” Jawab istriku.


“Gak gangguin mbak Fatim nanti ?” Tanya Khotimah.


“Yeee kayak sama siapa saja Khot, gak papa lah mau semalam suntuk ngobrol disini juga boleh kok.” Jawab Fatimah istriku.


Aku segera keluar kamar dan menuju ke ruang mujahadah, disana berbaring sambil memikirkan cara yang tepat merukunkan Fanani dengan istrinya. Sambil menyelam minum air, selain menyelamatkan rumah tangga Fanani juga menyelamatkan Khotimah juga, pikirku.


Jika besuk aku berhasil merukunkan mereka, maka saat Candra datang melamar Khotimah tentunya Fanani sudah tidak lagi merasa cemburu karena sudah berkumpul lagi dengan istrinya. Mungkin juga kemarin Fanani mendekati Khotimah sekedar mencari pelarian saja awalnya. Dan Khotimah pun awalnya mungkin sekedar memposisikan diri sebagai teman curhat. Namun karena intensitas pertemuan yang hampir tiap hari membuat keduanya merasa saling membutuhkan sehingga timbul simpati di hati Khotimah, mendengar cerita Fanani, entah ceritanya diedit seperti apa oleh Fanani sehingga Khotimah dari iba jadi simpatik kemudian berubah menjadi suka. Sementara Fanani merasa mendapat perhatian dari wanita yang tidak pernah dia dapatkan dari istrinya mulai membanding bandingkan Khotimah dengan Istrinya. Sehingga kebaikan yang tampak pada Khotimah menutup semua kebaikan yang ada pada istrinya.


Memang repot jika salah satu pasangan suami istri sudah membandingkan pasanganya dengan orang lain. Pasti yang tampak pada pasanganya yang buruk. Dan yang tampak pada orang lain semua yang baik saja. Aah gak ada puasnya manusia, kadang sifat egois yang muncul.


Berharap pasangannya sempurna/ideal sesuai impianya, tidak pernah menyari jika dirinya sendiri juga tidak sempurna. Jika mau merenung, suami istri adalah paangan untuk saling melengkapi. Dua duanya tidak akan sempurna, dan ketidak sempurnaan itulah yang harusnya masing masing bisa saling melengkapi.


Tapi itu memang sifat manusiawi, aku sendiri mungkin bisa lebih parah dari itu seandainya tidak pernah belajar tentang kehidupan. Tiba tiba aku tersenyum sendiri ingat masa laluku yang kelam, merasa betapa bodoh nya kau dulu. Jika ingat itu semua rasanya malu pada diri sendiri, untung saja dirumah ini gak ada yang pernah lihat kelakuanku dulu, kecuali Rofiq. Owh iya Rofiq sudah tidur belum ya, mendingan ajak dia ngobrol kalo belum tidur.


Baru saja aku mau bangkit tiba tiba Rofiq sudah ada di dekatku.


“Ngapain kamu senyum senyum sendiri dari tadi aku perhatiin. Kirain lagi mimpiin sesuatu, sampai senyum senyum sendiri !” sapa Rofiq membuatku kaget akan kedatanganya yang Tiba tiba.


“Eeh udah dari tadi bang ?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaanya.


“Lumayan udah lihatin kamu senyum senyum gak jelas, lagi mikirin apa ?” Tanya Rofiq.


“Gak kok gak mikirin apa apa, Cuma ingat masa lalu kita jadi merasa betapa bodohnya aku dulu.” Jawabku.


“Ngapain mengingat asa lalu gak penting banget kali zain !” kata Rofiq yang sama sama punya masa lalu buruk dan juga sama sama melakukanya.


Kemudian aku menjelaskan kronologisnya kenapa aku bisa ingat masa lalu, bukan sengaja mengingat masa lalu. Rofiq mendengarkan dengan serius, karena dalam cerita itu juga menyebut nama Candra kakaknya Arum.


“Lo serius, kakaknya Arum mau melamar Khotimah ?” Tanya Rofiq.

__ADS_1


“Tanya aja sama Isti besok kalo gak percaya.” Jawabku.


“Wah kita bakalan jadi saudara dong Zain ?” kata Rofiq.


“Ya emang, mudah mudahan saja semua lancer, dan kalian segera bisa menikah. Kalo perlu barengin sekalian pernikahan kamu dengan Arum dan Khotimah dengan Candra.” Gurauku pada Rofiq.


“Sembarangan lo Zain, kata orang jawa gak baik begitu.” Jawab Rofiq.


“Gak papa kali bang, karena suasana mendesak kalo Candra duluan bang rofiq yang nunggu kelamaan. Kalo bang Rofiq duluan mungkin juga Candra yang gak sabar nunggu kelamaan. Kan katanya orang jawa gak baik juga dalam setahun menikahkan anak dua kali.” Jawabku.


“Eeh tapi kenapa bisa begitu ya ?” Tanya Rofiq.


“Gak tahu juga lah bang, tapi yang pasti kalo setahun dua kali menikahkan anak itu bisa di anggap maruk dikira mencari untung dengan hajatan. Atau kalo wanita bisa dikira karena sudah hamil duluan sehingga harus segera dinikahkan biar menutup aib, tapi masih mungkin loh itu.” jawabku.


“Yah itu kan lo, kalo dulu jadi Nikah sama Arum nikah karena MBA.”kata rofiq yang gak sungkan sungkan ngomongin calon istrinya sendiri. Sehingga spontan aku jadi jengkel dan memukul dia dengan telapak tanganku.


“Suek lo bang, calon bini lo juga diomongin begitu katanya gak usah inget inget masa lalu. Lagian bang Rofiq bisa bisanya ngomongin kekurangan calon bini sendiri. Aku aja malu dengerinya bang.” Kataku jengkel.


“Sori sori, aku keceplosan lagian antara kita berdua aja gak papa kali gak usah merasa kikuk begitu. Aku aja gak merasa risih kok menikahi orang yang pernah…..” kata kata Rofiq langsung kupotong.


“Stop bang….! Dulu aku melakukan sudah berdosa, kalo diomongin lagi malah nambah dosa tahu. Dosa gak perlu diumbar, bukan gak jujur tapi bagaimana Allah mau menutupi aib kita di akhirat kalo kita sendirimalah mengumbar aib kita sendiri. Gak boleh begitu bang, biar itu cukup jadi pengingat pribadi kita cukup Allah yang tahu. Gak usah diomongin jika tidak ada manfaatnya.” Kataku dengan intonasi yang agak tinggi.


Untunglah Rofiq memahami, dan mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.


“Ya sori, kan aku keceplosan tadi. Btw udah denger kapan siding akan digelar lagi belum ?” Tanya Rofiq.


“Belum bang, coba besuk aku Tanya pak Yadi dulu mungkin beliau tahu.” Jawabku.


“Kira kira masih lama gak ya, jujur aku saat ini seringkali merasa rindu dengan Sidiq dan Ibunya.” Kata Rofiq.


“Bilang saja kangen sama Arum pingin segera dihalalkan bang, gak usah bawa bawa Sidiq. Sidiq itu urusanku bukan urusan abang.” Jawabku gentian ngerjain Rofiq.


“Gak bisa begitu dong, kan Sidiq bakalan jadi anakku juga nanti.” Balas Rofiq.


“Gak bisa, Sidiq tetep milikku kalo ibunya Sidiq jadi jadi milikmu gak papa bang !” kataku pada Rofiq.


“Lah kok bisa gitu, kan hak asuh anak usia segitu ada pada ibunya !” kata Rofiq.


“Itukan kalo terjadi perceraian bang, memangnya aku pernah cerai sama Arum, orang nikah saja gak kok cerai ?” kataku mulai ngelantur ngobrolnya.


“Kampret lo, katanya gak usah nginget dan ngomongin masa lalu.” Gerutu Rofiq.


“Dasar lo kalo ngomong gak mau kalah.” Jawab Rofiq.


“Bukan aku gak mau kalah bang, hanya saja bang Rofiq yang gak pernah menang.” Kataku sambil tertawa. Dan Rofiqpun jadi ikutan tertawa, sampai tiba tiba Khotimah datang dan menghentikan tawa kami.


“Mas, Khotimah mau balik ke kamar Khotimah dulu, kalo mas mau istirahat udah ditunggu mbak Fatim.” Kata Fatimah polos.


Waduh bisa jadi bahan bullyan Rofiq nih,pikirku. Benar saja begitu Khotimah masuk kamar Rofiq langsung nyahut.


“Udah sana, udah ditungguin tuh tar kalo kelamaan Cuma dikasih punggung doing lo.” Kata Rofiq sambil cengengesan. Aku berpikir sesaat untuk membalasnya.


“Mending dikasih punggung juga bang, dari pada lo gak ada yang ngasih.” Kataku sambil ngeloyor pergi tak member kesempatan pada rofiq umtuk membalas. Hanya terdengar kata umpatanya saja.


“Kampret lo Zain.” Gerutu Rofiq gak bisa membalas dengan kalimat lebih dari sekedar umpatan.


 Aku gak pedulikan Rofiq yang masih penasaran dengan perdebatan tadi, aku mengira pasti masih ada sesuatu yang akan disampaikan Fatimah terkait soal Khotimah adik sepupunya itu. kalo tidak gak mungkin Fatimah bilang menungguku, jika soal ranjang dia gak akan sevulgar itu. meskipun mungkin Rofiq berpikirnya begitu, bodo amat biar capek sendiri ngebayanginya, pikirku.


Sesampai dikamr benar dugaanku, Fatimah istriku masih duduk di tepi pembaringan menungguku.


“Ngapain panggil aku, masihkurangkah semalam ?” gurauku.


“Iiih mas apaan sih, bukan soal itu kok ini soal Khotimah. Dia sudah bersedia untuk dilamar Candra, kata Khotimah dia pingin nurut sama kita dan mencontoh kita. Sekarang masalahnya mas yakin gak kalo Candra itu orang baik ?” Tanya Fatimah.


“Sebagai manusia aku gak berani memastikan lah Fat, hanya saja kalo dari pengamatanku dia itu cukup bertanggung jawab. Sebagai seorang  yang punya adik perempuan dalam menjaga adiknya dia serius, teman sekampungnya saja dulu gak ada yang berani godain adiknya. Intinya sikap Candra terhadap wanita itu sangat care, dari situ aku menyimpulkan Candra itu bertanggung jawab.” Kataku menjelaskan.


“Mas kenapa bilang adiknya, adiknya sebut nama Arum juga Fatimah gak cemburu kok sekarang ini. tapi dari mana mas tahu Candra seperti itu, maksut Fatimah kok tahu pemuda sana gak ada yang berani godain Arum dulu ?” Tanya Fatimah.


Kemudian aku ceritakan saat kejadian aku didorong dan  hendak diusir oleh salah seorang pemuda sana saat mengantar jenazah pak Sastro kemarin. Kemudian melerai dan menjelaskan bahwa aku kesana atas permintaan dia dan bapaknya.


Kemudian Candra menjelaskan bahwa pemuda itu dulunya naksir Arum tapi gak kesampaian dan gak berani mendekati Arum. Sehingga merasa sakit hati denganku, maka berusaha mengusir aku.


“Owh jadi begitu toh, berarti mast tu nekatnya gak ketulungan ya berani macarin Arum dulu.” Kata Fatimah.


“Ngapain sih malah ngomongin itu, katanya mau bahas Khotimah. Kalo soal Candra Insya Allah dia orang baik kok, masalah dulu ada kejadian denganku itu kan masa lalu dan jujur memang salahku juga. Tapi itu justru menunjukkan candra itu bertanggung jawab.” Kataku.


“Mas ni gak mau ngomonginmasa lalu dengan Arum karena di depan istrinya atau memang sudah bener bener move on, hayo jujur saja. Jangan jangan di belakangku masih sering ngomongin atau mengingat dia nih ?” kata Fatimah istriku menggodaku.


Aku tidak langsung menjawab melainkan langsung memeluknya.


“Apa sih yang kurang dari kamu sayang, istriku yang pengertian sabar dan baik hati. Apa lagi yang harus aku cari selain itu coba. Kalo kamu bisa sebutin coba sebutin aja, apa yang harus aku cari lagi yang gak ada padamu sekarang ?” tanyaku pada Fatimah istriku, sambil menciumi tengkuk  istriku dan mengusap usap perutnya yang semakin membuncit.

__ADS_1


“Geli ah mas, Fatimah geli kalo tengkuknya diciumin. Eeh sikecil sudah bisa menendang nendang sekarang.” Ucap Fatimah.


aku memang merasakan ada benjolan entah siku entah lutut yang berpindah pindah tempat dipermukaan perut Fatimah istriku. Sehingga setiap ada benjolan aku pegang benjolan itu bergeser tempatnya. Seperti ngajak bercanda saja ini anak dalam perut, batinku.


“Kamu belum jawab, apa yang harus aku cari pada wanita lain yang gak aku dapatkan dari kamu. Perhatian kamu sangat perhatian padaku, pengertian sudah lebih dari cukup pengertian yang kamu berikan padaku. Apa lagi yang gak aku dapatkan dari kamu ? sampai urusan ranjang pun sudah lebih dari cukup aku dapatkan dari kamu. Masak sih aku masih bisa berpaling ke yang lain ?” kataku pada Fatimah.


“Mas nih, paling bisa bikin Fatimah melelh deh. Apa dulu tiap pacaran mas juga selalu begitu. O iya pantes, Arum jadi nekat begitu pasti karena rayuan kamu bisa bikin dia meleleh yam as ?” kata Fatimah.


“Udah dong sayang gak usah mengungkit masa lalu, aku dulu juga gak bisa merayu begini kok. Kalo gak percayaa boleh kapan kapan kamu Tanya Arum langsung. Apa pernah aku merayu begini, pasti jawabnya gak pernah.” Kataku.


“Serius mas, besuk Fatimah Tanya beneran ya, tapi kenapa kok sekarang jadi suka ngerayu begini ?” Tanya Fatimah.


“Ya karena aku hanya mengatakan seluruh isi hatiku yang jujur, bukan sebuah rayuan jadi kamu mendengarnya jadi indah. Berbeda dengan rayuan palsu di dengernya pasti gak enak bahkan menjemuka.” Kataku.


“Masak sih mas begitu ?” Tanya Fatimah meyakinkan dirinya.


“Iya lah, rayuan palsu itu seperti omongan orang yang gak ikhlash pasti banyak janggalnya karena dibuat buat. Sedangkan aku bicara dari hati yang jujur, ibarat omongan yang ikhlash jadi kamu mendengarnya pasti nyaman karena tidak ada kepalsuan atau dusta sayang.” Bisikku lembut pada Fatimah.


Fatimah balik mendekapku dengan lembut dan dari posisi sama sama duduk akhirnya aku baringkan tubuh istriku yang sudah agak kesulitan untuk berbaring karena perutnya yang membesar.


“Mas Fatimah seperti mimpi saja mas perlakukan Fatimah seperti ini. Fatimah jadi malah takut makin takut kehilangan kamu mas. Fatimah gak rela kalo mas ada yang lain diantara kita, saat ini Fatimah merasa jadi orang yang paling bahagia.” Kata Fatimah.


“Sama kok sayang, mas juga sangat bahagia menikahi kamu. Aku akan selalu membuatmu jatuh cinta padaku karena aku juga ingin cintamu hanya untuku sekarang dan selamanya. Apa lagi kita sebentar lagi akan dikaruniai seorang anak. Lengkap sudah kebahagiaan kita sayang. Ini yang tidak ternilai harganya, yang tidak akan mungkin mas temukan selain denganmu.” Kataku sambil berbaring disamping Fatimah istriku.


Fatimah istriku menatap wajahku lama sekali sampai aku merasa agak aneh dipandangi seperti itu.


“Mas jujur kan ?” Tanya Fatimah istriku.


“Apakah kamu melihat tanda tanda kebohongan dari raut wajahku atau sorot mataku atau dari apa saja ?” jawabku.


“Gak sih mas, Cuma mastiin saja tapi aku jujur agak khawatir juga mas !” kata Fatimah.


“Khawatir kenapa sayang ?” tanyaku heran


“Fatimah khawatir, jika saat ini Fatimah sudah bulat bulat menyerahkan semua milik Fatimah sampai ke hati Fatimah. Tapi tiba tiba nanti mas hanya membohongi Fatimah, hanya bermanis manis di depan Faatimah dan ternyata mas menyimpan wanita lain. Fatimah gak bisa bayangin mas, betapa hancur leburnya hati Ftimah nanti.” Kata Fatimah sambil menitikkan air mata.


“Lah kok Fatimah bilang begitu, pakai nangis lagi apa ada kecurigaan padaku. Apakah kamu mencurigai aku dekat wanita lain selain kamu ?” tanyaku heran.


“Bukan mas, Fatimah justru nangis bahagia saat ini serasa mimpi saja. Masih ingat saat dulu sebelum mas ungsikan aku kerumah bapak ibuku kan. Waktu Fatimah bilang, kalo dihati mas gak ada sedikit rasa cinta mendingan gak usah sok perhatian melindungi Fatimah dengan memulangkan Fatimah. Dari pada Fatimah terlanjur mencintaimu dengan sepenuh hati tapi mas gak bisa mencitai Fatimah. Nah saat inilah mas, Fatimah merasa itu sudah terjadi. Fatimah sudah menyerahkan Fatimah seutuhnya kepada mas bukan hanya tubuh tapi dengan segenap hati dan jiwa Fatimah hanya mencintai kamu mas.” Kata Fatimah dengan air mata yang tampak dikerling matanya.


“Kamu tahu, saat kamu mengatakan hamil sepulang dari belanja dulu itu. saat itu juga aku sudah menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku untukmu seutuhnya. Tak sedikitpun ada niatan berpaling sama sekali.” Kataku myakinkan Fatimah.


“Saat itu juga, aku sudah merasakan jika kamulah yyang akan menjadi ibu dari anak anakku nanti. Dan kamu bukan hanya sekedar istri tapi sudah menjadi belahan jiwa bagiku. Karena di dalam Rahimmu sudah tertanam benih cinta kita. Dan saat ini benih itu tumbuh semakin subur, sesubur cinta kita sayang.


“Mas..!” kata Fatimah tertahan seakan berat untuk berkata.


Akupun tak menuntut dia melanjutkan bicar melainkan mendekapnya dengan lembut serta membelai rambut dan menciumnya dengan kasih sayang. Saat saat mesra dengan kasih sayang kami berdua, bukan sekedar menyalurkan nafsu birahi semata. Kami saling tatap dengan sunggingan senyuman dan kasih sayang. Seperti orang yang baru saling jatuh cinta, yang malu malu untuk mulai menyapa.


Sehingga yang terjadi kemudian bukanlah bahasa lisan lagi, melainkan bahasa tubuh yang bicara. Kami saling cium dan saling belai mungkin jika digambarkan laksana pengantin baru dimalam pertama. Ada rasa ingin ada rasa malu dan banyak lagi perasaan yang menyelimuti kami berdua. Sehingga tanpa terasa kami sudah sama sama merasa lelah dan mengantuk setelah bersama mendaki puncak kenikmatan suami istri. Fatimah istrikupun tertidur lelap dengan sunggingan senyum penuh kepuasan. Sementara kau masih sempat mencium kening istriku yang sangat aku cintai.


Dalam hati aku berkata.


“Kamu adalah istri yang sempurna, tidak akan ada yang mampu menggantikan. Tidak yang kurang juga tidak juga yang lebih. Jika bukan kamu itu bukan cintaku, kamulah yang pas dihatiku tidak kurang dan tidak lebih.” Kataku dalam hati. Sebelum akhirnya aku pun tertidur dibalik selimut yang kami gunakan bersama.  


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2