Isyaroh

Isyaroh
Berbagi tugas Yasin mencari Gong Simo Ludro


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Aku ingin tiap bangun pagi, kamu beri aku kepala kepala jin yang menyesatkan manusia termasuk terakhir kali kepala kamu sendiri, bagaimana mau tidak ?” tanyaku yang membuat Jin itu sangat marah dan memandangku dengan sorot mata tajam dan menjadi kemerahan seperti bara api yang sangat panas saja tatapannya.


“Dasar manusia Rakus, diberi hati malah jadi kurang ajar saja kamu…!” ucap jin itu penuh amarah.


Dan saat kemudian Jin itu melompat hendak menyerangku….???


Aku sudah hafal dengan perilaku Jin dengan level seperti itu, Sehingga aku tidak terlalu khawatir dengan ancaman Jin itu. Aku membaca dengan keyakinan penuh doa pelindung dari godaan dan ancaman semua makhluk termasuk Jin dalam hati, “ a’udzu bikalimattilahi tammati min Syarri maa Kholaq” secar terus menerus kulafadzkan dalam hatiku. Sehingga ketika Jin itu hendak menyentuhku justru dia merasakan kepanasan terkena imbas atau orang jawa bilang ‘Sawab’ dari doa tersebut. dan segera Jin itu aku tangkap dan kemudian aku ringkus dengan rangkaian bacan Al-Fatihah, awal Al-Baqoroh ayat kursiy dan tiga akhir surat Al Ikhlash al Falaq dan Annas.


Jin itu pun menyerah terpuruk ta berdaya, selanjutnya aku masukan kedalam pundi pundi yang sudah aku siapkan. Selanjutnya meminta tolong warga untuk mengurus mayat korban joyo Maruto dan anak buahnya itu. setelah lebih dulu aku sempurnakan posisi meninggalnya agar tidak menimbulkan rasa takut bagi yang melihatnya.


Aku tidak menunggu sampai mensholatkan karena kata pak yadi masih ada dua korban meninggal lagi yang mengalami kondisi yang hampir sama.


Dan dengan cara yang sama pula aku memperlakukan mayat yang kedua ( Mayat \= orang meninggal sebelum dimandikan dan di kafani. Stelah di kafani \= Jenazah ) dan setelah siap di sucikan/dimandikan aku menuju jenazah yang ke Tiga.


“Pak sebelum berangkat ke korban yang ketiga tolong tutup dulu mata batin saya, saya jadi ngeri saat bawa kendaraan suka lihat yang aneh aneh.” Kata pak Yadi.


“Owh iya pak, saya juga lupa tadi.” kataku pada pak Yadi.


Kemudian aku Sena dan pak Yadi segera menuju ke korban ke tiga. Kali ini justru kondisi mayat korban tersebut lebih mengerikan. Mayat tidak sekedar susut tapia menjadi keriput bahkan tampak jauh lebih tua dari sebelum meninggal. Kata warga sekitar yang sudah melihat kondisi korban. Sehingga sama saja tak ada orang yang berani mendekat untuk memandikan mayat tersebut.


Terpaksa aku sendiri di bantu Sena dan pak Yadi yang harus memandikan mayat tersebut. setelah mengusir makhluk makhluk astral yang menggerogoti jenasah tersebut sebagai santapan pesta mereka.


Dan setelah memandikan aku meminta warga untuk mensholatkan jenazah yang sudah siap untuk di sholatkan.


“Pak mohon maaf, bisakah bapak memimpin untuk mensholatkan jenazah ?” Tanya tetua kampung tersebut.


“Maaf pak, bukan saya tidak mau. Tapi kami bertiga tadi habis memandikan mayat aturanya setelah memandikanharus mandi besar dulu, sebelum mensholatkan. Juga harus berganti pakaian jadi saya mohon maaf belum bisa mensholatkan saat ini.” jawabku pada warga yang akan mensholatkan.


Setelah mereka paham akhirnya aku mohon pamit disamping juga sudah cukup lelah sehabis berkeliling kampung menjaga keamanan dan bertempur dengan Ki Soma yang sudah berubah ujut itu. juga menangani tiga korban yang meninggal.


Aku dan Sena segera diantarkan pak Yadi untuk pulang kerumah. Aku melihat pak Yadi pun sudah cukup Lelah. Mungkin kemarin siang sibuk dengan identifikasi korban yang ditemukan di markas Joyo maruto sudah di berikan tugas lain lagi yang cukup berat dan diluar bidang atau keahlian pak yadi sendiri. Sehingga aku merasa kasihan juga dengan pak Yadi. Meski terlihat keikhlasan beliau dalam menjalankan tugas tersebut.


Stelah sampai dirumahku aku menawarkan pak Yadi istirhat sebentar di rumahku, karena kayaknya pak Yadi benar benar kelelahan dengan tugas yang dia kerjakan dari kemarin.


“Sebaiknya pak Yadi istirahat sebentar dulu pak sebelum pulang. Bahaya jika bawa kendaraan sendiri saat mengantuk dan lelah begitu pak !” kataku pada Pak Yadi.


“Apa gak merepotkan pak jika saya ikut istirahat disini ?” Tanya pak Yadi.


“Jangan seperti orang lain pak, kita ini sudah seperti saudara dipertemukan untuk bekerja sama menumpas kebathilan dengan cara masing masing.” Kataku pada pak Yadi.


Kemudian kami pun beristirahat, aku persilahkan pak yadi istirahat di kamar yang biasa digunakan Zulfan sementara Zulfan dan Aku istirahat di ruang mujahadah karena takut kehilangan Subuh yang tinggal beberapa jam lagi.


“Bagaimana kondisinya sekarang mas ?” Tanya Zulfan.


“Ya begitulah Fan, banyak korban dan kemungkinan akan terus bertambah. Baiknya kita lanjut besuk pagi saja aku sudah ngantuk berat dan sangat lelah hari ini.” kataku.


Kemudian aku pun tertidur setelahnya,  dan bangun bangun sudah pada siap untuk menjalankan sholat subuh. Meski masih sangat mengantuk aku memaksakan diri bangun dan ikut solat subuh berjamaah dan wirid jamaah sebentar. Kemudian aku melanjutkan tidur lagi karena kondisi fisikku yang sangat lelah dan masih mengantuk.


Baru sekitar jam delapan pagi aku dibangunin Fatimah, dan aku segera mandi kemudian sarapan bersama sama yang lain. Dan ternyata pak Yadi sudah pulang setelah bangun jam lima pagi tadi saat aku sudah kembali tidur.


“Apa perlu Farhan ibu panggil kesini lagi nak, sekalian kamu juga panggil kakangmu Tohari. Ibu gak tega lihat kamu seperti itu.” ucap ibu mertuaku yang sangat baik hati itu.


“Saya malu bu, baru juga berapa hari Farhan dan kang Tohari pulang sudah diminta kesini lagi.” Jawabku pada ibu mertuaku.


“Gak papa nak, namanya manusia kan harus saling membantu. Kalo kamu sendirian menghadapi ini semua tentu kamu sangat berat dalam menjalaninya.” Jawab ibu mertuaku.


“Jika memang tidak terlalu merepotkan mereka gak papa bu. Namun kita juga harus memaklumi jika mereka punya kegiatan lain yang juga penting.” Kataku pada ibu mertuaku.


“mas jangan menolak tawaran ibu mas, Fatimah juga lihat mas akhir akhir ini kurang istirahat terus. Sampai agak kurusan sekarang.” Ucap Fatimah.


“iya aku gak menolak kok. Hanya gak enak saja sama Farhan dan kang Tohari.” Jawabku pada Fatimah.


“Jangan terlalu dirasa kalian semua kan bersaudara jadi sudah selayaknya saling bantu.” Tambah ibu mertuaku.


Akhirnya aku memang harus menghubungi kang Tohari dan meminta saran dan bantuannya. Agar segera menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi saat ini. dan baik Farhan maupun kang Tohari semua sepakat untuk datang kerumahku lagi untuk membantu menyelesaikan bencana diwilayahku dan sekitarnya.


Karena tampaknya langkah Joyo Maruto memang hendak membuat keonaran dengan membuat penduduk disekitar wilayahku dari berbagai arah. Timur barat utara dan selatan kampung dimana aku tinggal semua di jadikan sasaran tindak biadabnya.


Sehingga konsentrasiku juga terpecah tidak dapat menduga kemana Joyo Maruto akan mengadakan serangan ke warga. Tampaknya otak licik Joyo Maruto mampu membuat dan mempermainkan perasaanku. Sehingga dengan tindakan dia seperti itu membuat aku sedikit kerepotan. Sampai harus lari kesana kemari ketika mendengar ada info serangan ke warga yang kadang datang bersamaan di dua atau lebih dusun di sekitarku.


Untunglah kang Tohari dan Farhan segera datang membantu kami, sehingga kami juga bisa memecah konsentrasi. Aku mengawasi wilayah timur, dan Sena wilayah barat serta kang Tohari wilayah utara. Untuk sementara wilayah selatan jika ada berita maka yang lebih dekat dengan lokasi atau yang tidak sedang mengusir makhluk yang lain juga itu yang kan mengejar kearah selatan.

__ADS_1


Dan lebih bersukur lagi pemuda pemuda dari berbagai dusun sangat antusias untuk membantu. Dan mereka semua ikut berlatih ilmu bela diri yang secara bergantian aku Sena dan kang Tohari mengajarinya.


*****


Suatu sore saat pemuda pemuda sedang berlatih jurus suci


“Ahmad… biar anak anak dilatih sama Sena dulu, aku ada perlu sama kamu sebentar.” Ucap kang Tohari padaku.


“Baik kang !” aku segera meminta Sena untuk menggantikan aku melatih anak anak dengan jurus lahiriyah dulu. Kemudian aku mengikuti kang Tohari masuk ke rumah.


“Kamu jangan takut dan jangan ragu dalam melangkah. Sudah saatnya kamu harus melakukan tirakat seorang diri. Nanti malam kamu akan aku antar kesuatu tempat dan kamu harus tinggal di tempat itu. kamu hanya boleh makan dan minum dari apa yang kamu temukan disitu tidak boleh membawa bekal apapun dari rumah. Serta jangan pulang kerumah sebelum kamu bisa menemukan Gong Simo ludro itu.” kata kang Tohari.


“Tapi kang, bukankah gong Simo Ludro itu bisa ditemukan dengan penggabungan kekuatan kita ?” tanyaku ke kang Tohari.


“Betul, namun kamulah sebagai eksekutornya yang harus secara langsung menemukan Gong itu. sedang yang lain hanya boleh membantu secara spiritual dari rumah saja.” Jawab kang Tohari.


“Kemudian bagaimana dengan kasus yang tengah terjadi saat ini kang. Belum lagi sebentar lagi aku harus melaksanakan aqiqah dan juga bersamaan dengan pernikahan Khotimah dengan Candra juga Arum dengan Rofiq ?” tanyaku pada kang Tohari.


“Semua itu bisa berjalan tanpa ada kamu dirumah, dan jika Allah menghendaki kamu akan pulang membawa Gong itu sebelum pelaksanaan acara itu.” jawab kang Tohari enteng.


Padahal pelaksanaan aqiqah anakku jafar kurang dari sepuluh hari lagi, apakah mungkin aku bisa menyelesaikan tugas itu dalam waktu singkat. Dan bagaimana dengan kondisi kampungku dan sekitarnya yang selalu terancam bahaya seperti ini, batinku. Namun aku juga tidak punya pilihan lain, karena kehadiran dalang Anyi anyi tampaknya juga sudah semakin dekat. Sehingga aku juga harus segera menemukan benda itu sebagai wasilah untuk mengalahkan jin tangguh itu.


“Baik kang aku nurut saja.” Jawabku meski dengan berat hati juga. Karena akan meninggalkan anak istriku entah berapa lama.


Kemudian aku menyampaikan hal itu kepada Fatimah dan ibu mertuaku. Mereka pn tampak sedih, namun juga tak mampu berbuat apa apa.


“Ibu tahu perasaan kamu dan istrimu, tentunya sangat berat. Terutama kamu yang akan berpisah sementara dengan anak kamu Jafar dan Sidiq. Sementara Jafar juga akan segera di aqiqahi, namun demi tugas yang kamu emban kamu harus siap melakukan itu.” kata ibu mertuaku.


“Iya mas, kalo bisa memilih mungkin Fatimah juga akan meminta jangan mas yang melakukan namun semua itu sudah merupakan takdir yang harus kita jalani. Soal aku dan Jafar mas gak usah khawatir, bukankah yuyut juga sebentar lagi akan kesini. Sehingga bisa membantu menjaga jafar dan aku juga Sidiq.” Ucap Fatimah.


“Sukurlah kalo Ibu dan Fatimah ikhlash. Karena tanpa ridho ibu saya gak akan berani bu.” Kataku sambil mencium tangan ibu mertuaku sebagai bentuk hormatku kepadanya.


“Ibu merestui kamu, gak usah ragu mantapkan niat dan hatimu untuk melaksanakan tugas yang kamu emban saat ini.” lanjut ibu mertuaku itu.


“Alhamdulillah bu, insya Allah saya sudah memantapkan hati saya untuk menuntaskan perjuangan ini agar kehidupan keluarga dan semua warga tenang.” Jawabku pada ibu mertuaku.


Tiba tiba Fatimah memelukku sambil menangis dia berkata.


“Mas, Fatimah dan lainya hanya bisa membantu doa saja. Fatimah percaya kamu pasti kuat dan bisa menghadapai semuanya nanti. Sebenarnya kang Tohari sudah lebih dulu member tahu kami sebelum mengatakan kepadamu mas.” Kata Fatimah dala isak tangisnya.


Sebenarnya aku merasa sedikit risih dipeluk Fatimah di depan ibu mertuaku, namun mengingat ketulusan Fatimah dalam bicara maka aku membiarkan dia menangis dan memelukku erat. Akhirnya aku belai rambutnya yang tidak tertutup jilbabnya, karena di dalam kamar. Kemudian aku bisikan kepada Fatimah.


“Kamu gak usah sedih, doakan saja sebelum Jafar di Aqiqahi aku sudah sampai rumah. Sekarang biarkan aku menggendong Jafar buat obat kangenku agar nanti disana gak teringat Jafar terus.” Ucapku pada Fatimah agar melepas pelukannya.


Aku pandangi wajah Jafar, lah kok lama lama kelihatan mirip Sidiq juga kataku dalam hati sambil tersenyum.


“Jafar kok lama lama kelihatan mirip Sidiq juga ya ?” kata ibu mertuaku spontan.


“Iya lah bu, kan ayahnya satu.” Jawabku pada ibu mertuaku.


Kemudian setelah kesedihan Fatimah reda dia pun ikut menimpali.


“Mas gak usah khawatirin Jafar ataupun Sidiq. Baik Fatimah maupun ibu sudah anggap Sidiq sebagi bagian dari hidup kami juga. Dan gak usah merasa gimana gimana, Fatimah sudah benar benar menerima mas apa adanya berikut juga Sidiq. Apa lagi Khotimah sebentar lagi juga menikah dengan Candra. Semoga itu pertanda baik buat kita semuanya.” Ucap Fatimah.


Kali ini kau tak dapat menyembunyikan keharuanku. Air mataku hampir saja menetes, meski masih tertahan di sudut mataku. Namun sepertinya bisa terbaca oleh ibu mertuaku.


“Kamu persiapkan lahir batinmu nak untuk keberangkatan kamu dalam berjuang nanti.” Kata ibu mertuaku.


“Iya bu, sebentar lagi biar saya puas dulu menggendong Jafar. Lah ini hidung ibunya nempel di Jafar, juga sorot matanya mirip banget dengan ibu dan neneknya bu !” ucapku memperlihatkan Jafar yang terbuka matanya seperti ikut mengamati aku ayahnya. Seakan tahu jika aku adalah ayahnya dan sedang merasakan kesedihan akan meninggalkan Jafar beberapa hari untuk sebuah tugas.


“Aah kamu bisa aja nak, mana mungkin sorot mata anak laki laki seperti ibu dan neneknya.” Kata ibu mertuaku.


“Beneran kok bu, lihat saja tatapan matanya begitu teduh seperti tatapan mata ibu dan eneknya.” Jawabku.


Setelah beberapa saat aku menggendong Jafar dan menciumnya dengan lembut. Serta bersenda gurau dengan Fatimah dan ibu mertuaku kemudian aku pamit untuk mencari Sidiq.


”Udah ya nak, Jafar ikut nenek dulu ayah mau mencari kakak Sidiq dulu. Kalian besuk besarnya harus akur, agar bisa bahu membahu menegakkan keadilan dan kebenaran.” Kataku pada Jafar. Jafar yang masih bayi itu hanya memandangi aku dan kemudian ada seulas senyum di bibirnya seakan mengerti sedang di nasehati Ayahnya.


“Sidiq lagi sama Khotimah tuh di kamar Khotimah, biasa dia mah kalo gak nungguin Jafar adiknya ya godain Khotimah buleknya, tap sebentar lagi bisa juga Sidiq manggil dia bude kalo Khotimah jadi istri Candra.” Kata ibu mertuaku.


“Soalnya Khotimahnya juga suka godain Sidiq jadinya gentian Sidiq juga balas godain Khotimah bu.” Jawabku sambil senyum


“Aah itukan keturunan ayahnya yang suka jahil.” Sahut Fatimah.


“Yee jangan gitu dong di depan ibu malu kan aku Fat.” Gerutuku pada Fatimah.


Kemudian aku segera keluar kama mencari Sidiq.


“Sidiq, kamu di dalam sama bulek Khotimah ? keluar dulu nak Ayah mau bicara sebentar sama Sidiq.” Kataku dari luar kamar Khotimah.


“Iya yah, bentar lagi mijitin bulek Khotimah.” Jawab Sidiq polos.


Sesaat kemudian Sidiq keluar kamar diikuti Khotimah, yang kali ini sudah menggunakan jilbab juga.

__ADS_1


“Wah kamu tambah cantik Khot, kalo pakai Jilbab begitu makin Nampak keibuan.” Kataku menyanjung Khotimah.


“Memang kalo kemarin Khotimah Nampak apa kalo gak keibuan ?” Tanya Khotimah.


“Kalo kemarin gak Nampak keibuan Khot, tapi Nampak kayak kesebelasan alias pemain bola.” Gurauku pada Khotimah.


“Enak saja mas ini kalo bicara asala saja.” Gerutu Khotimah.


“Kesebelasan itu pemain bola to to Yah ? memang bulek Khotimah juga pemain bola ?” Tanya Sidiq dengan polosnya.


Aku jadi agak menyesal mengucapkan kata kata gurauan di depan Sidiq anakku, lantaran anak seusia Sidiq memang daya ingatnya baru kuat kuatnya. Wah harus banyak jaga mulut nih apa lagi di depan anak anak seperti Siddiq, batinku.


“Rasain tu di ikutin sama anaknya sendiri.” Kata Khotimah sambil tertawa dan Pergi.


“Sidiq, ayah mau bicara Sidiq dengerin ayah dulu ya ?” kataku pada Sidiq mengalihkan pembicaraan.


“Soal apa Yah ?” Tanya Sidiq.


“Ayah nanti akan pergi beberapa hari, Sidiq gak boleh nakal ya. Sidiq harus bantuin bunda dan nenek jagain Dedek Jafar.” Kataku pada Sidiq.


“Iya yah, tapi kenapa ayah suka pergi pergi terus sih sekarang. Sidiq sampai gak pernah diajak jalan jalan lagi. Hanya nenek dan bulek saja yang suka ngajak Sidiq jalan jalan sekarang.” Protes Sidiq.


“Eeeh maafin ayah ya, ayah baru sibuk sekarang besuk kalo udah selesai pekerjaan nya Sidiq dan dedek Jafar ayah ajak jalan jalan deh, mau kep pantai atau ke gunung terserah Sidiq.” Kataku.


“Sidiq belum pernah ke pantai yah, Sidiq pingin ke pantai saja.”Ucap Sidiq bahagia meski baru mendengarnya saja. “aku harus bisa menepati janjiku pada anakku Sidiq ini.”kataku dalam hati.


*****


Author POV


Malam harinya, setelah selesai sholat Isya berjamaah, Tohari dan Sena mengantarkan Yasin ke suatu tempat. Yaitu di sebuah lereng pegunungan merapi, tidak terlalu jauh memang dari rumah Yasin. Dengan perjalanan kendaraan bisa ditempuh dalam waktu setengah jam.


“Ini adalah tempat dulu dimana mbah Hadiyan sering melakukan Kholwat disini. Dan sekarang kamu harus melakukan kholwat juga disini.” Kata Tohari kepada Yasin.


“Apa yang harus aku lakukan di tempat ini dan kapan aku boleh meninggalkan tempat ini ?” Tanya Yasin kepada Tohari.


“Kamu berdzikir disini, renungkan keagungan Allah disini. Gunakan fikir dan dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kamu hanya boleh meninggalkan tempat ini ketika buang hadats dan berwudhu saja. Selain itu tidak boleh meninggalkan tempat ini, apapun yang kamu lihat dan apapun yang terjadi. Kamu harus bisa menemukan siapa dirimu dan untuk apa kamu diciptakan di bumi ini dan akan kemana kamu nanti.” Ucap Tohari kepada Yasin.


“Bagaimana jika hujan atau panas apakah aku boleh berteduh kang ?” Tanya Yasin pada Tohari.


“Tidak…! Aku sudah bisa mengukur kekuatan fisikmu saat ini cukup mampu menahan panas dan dinginnya udara disini. Dan Insya Allah kamu akan mendapatkan arti dari sebuah keikhlasan jika mampu menghadapi ujian di tempat ini nanti. Lantunkan sholawat, kalimah dzikr dan ayat ayat suci Al-Quran. Jika batal berwudhulah. Ketika masuk waktu sholat segera tunaikan Sholat, jangan ditunda.” Kata Tohari.


“Jika waktu sholat jumat kang ?” Tanya Yasin.


“Kamu disini bukan mukimin, jadi gak wajib jumatan jadi tunaikan sholat dhuhur sebagai I’adah ( pengganti sholat jumat.” Jelas Tohari.


 Setelah dirasa cukup member penjelasan kepada Yasin Tohari segera meninggalkan Yasin dengan menempuh jalan menurun tajam dan penuh dengan rumput dan batu pegunungan menuju ke tempat memakirkan mobil Sena.


Kemudian segera menuju ke rumah Yasin untuk mengatur strategi menghadapi makhluk makhluk yang mengganggu warga pedusunan. Namun belum juga sampai di kampung Yasin, mereka terpaksa menghentikan langkah. Karena melihat sebuah pertarungan.


“berhenti, tampaknya ada pertarungan di sudut kampung itu.” kata Tohari kepada Sena.


Kemudian keduanya turun dari mobil dan mendekati kerumunan orang yang sedang mengepung sesosok makhluk yang menyerupai seekor serigala.


“Hentikan perbuatanmu wahai pemuja Iblis…!” bentak Tohari kepada sebuah sosok yang akan menghisap darah seorang warga…???


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2