Isyaroh

Isyaroh
Perjalanan melawan kelompok Joyo Maruto


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


............


Al hasil warga pun geger mengetahui bahwa Sulis dan Indri belum pulang sampai selepas maghrib. Hingga membuat ibu Sulis menjadi syok, lantaran sebelumnya sudah mendapatkan firasat kurang baik tentang anakanya Sulis. Demikian juga dengan ibunya Indri, dan akhirnya seluruh warga kampong itu geger dan menyimpulkan Sulis dan Indri di culik untuk keperluan ritual, karena keduanya lahir sama sama hari selasa Kliwon.


“Cepat lapor polisi saja, dan sebagian ke rumah pak Yasin yang kemarin membantu menghalau serigala buas !” perintah salah satu tetua warga.


 *****


Flashback beberapa saat di Rumah Yasin


Yasin POV


Beberpa saat kemuian datang rombongan kang Salim bersama the Atikah  juga Eis dan Samsudin. Sehingga suasana rumahku semakin ramai. Bahkan tak lama setelah itu disusul rombongan Arum dan Candra yang hampir bersamaan dengan kedatangan Yuyut dan bapak mertuaku.


Kemudian acara aqiqoh yang diisi dengan sholawatan dan potong rambut Jafar pun dimulai. Dan stelahnya di lanjutkan dengan proses akad Nikah, yang pertama adalah akad Nikah Arum dan Rofiq dilanjutkan dengan Khotimah dengan Candra.


Setelah acara formil dan sacral selesai dilanjutkan dengan acara saantai makan bersama sekaligus penbagian masakan hasil penyembelihan kambing aqiqioh untuk Jafar anakku. Suasana yang benar benar penuh suka cita.


Kedua pasangan pengantin yang baru saja menikah itupun sudah mulai berani berdua duan mengobrol. Aku tersenyum bahagia melihat kedua pasangan itu.


“Ehheeem lihatin siapa mas, kok kayaknya ada yang berat ?” Tanya Fatimah menggodaku saat aku melihat ROfiq dan Arum yang tengah  bergurau bersama Sidiq.


“aah kamu aja yang gede cemburu, aku hanya lihat Sidiq aja kok. Aku hanya berharap Sidiq tetap ikut bersama kita nanti, meski Arum sekarang sudah bersuami.” Kataku pada Fatimah.


“Ya gak papa, asal jangan berharap ibunya juga tinggal bersama kita lagi…!” jawab Fatimah sambil senyum mengejek.


Aku yang sejujurnya sedang berusaha menenangkan diri, walau bagaimanapun antara aku degan ibu kandungnya Sidiq menyimpan banyak kenangan pahit dan manis. Sehingga naluri manusiawiku juga merasakan ada semacam perasaan yang entah apa namanya. Tak mampu aku gambarkan dengan kata kata.


Namun logika ku masih berjalan bahwa itu semua hanyalah masa lalu dan masa sekarang aku sudah memiliki Fatimah dan Jafar. Meski Sidiq juga sudah menjadi bagian hidupku, namun Arum tetaplah menjadi masa laluku saja.


Aku cubit Fatimah, sambil berbisik pelan.


“Jangan mengungkit ungkit masa lalu, itu sudah aku kubur dalam dalam. Apa kamu gak kasihan Jafar jika mengungkit masa laluku.” Bisikku pada Fatimah. Dan sebelum Fatimah menjawab tiba tiba ada yang nyeletuk dari belakang kami.


“Wah makin mesra saja kalian, jadi iri nih aku….!” Suara Samsudin yang tiba tiba menghampiri kami bersama Eis.


“Eeh lo Din, jangan ngiri nganann aja kalo ngiri bisa nabrak ntar !” jawabku asal.


Ku lihat Eis hanya tersenyum mendengar jawabanku, tampaknya Samsudin dan Eis pun tengah berbahagia karena kulihat Eis juga tengah mengandung dengan perut yang sudah tampak membuncit, meski belum begitu besar.


“Eis,,,, selamat ya kamu akhirnya juga akan mempunyai anak…!” ucap Fatimah sambil memeluk Eis yang tengah di gandeng Samsudin. Sehingga sifat isengku kembali muncul dan mengejek mereka.


“Awas jangan sampai salah peluk bisa bahaya…!” kataku bercanda. Sehingga membuat Fatimah dan Samsudin merasa keki dan kemudian Samsudin gentian mendekati aku.


“Kita ngobrol berdua saja bro, biar para Wanita ngobrol sendiri.” Ajak Samsudin.


“Kenapa,,,? Ngobrol bareng juga gak masalah kita sudah sama sama jadi orang tua sekarang jangan larut dalam situasi.” Kataku sok cool. Padahal juga masih berusaha menahan banyak perasaan yang lebih berkecamuk dari mereka semua.


Karena kalo samsudin hanya punya kenangan dengan Fatimah istriku dan sebaliknya. Sedangkan aku selain punya kenangan dengan Eis istri Samsudin juga tengah berkecamuk karena Arum yang sudah melahirkan anakku Sidiq baru saja menikah dengan Rofiq kakaknya Isti. Jadi istilahnya masalahku lebih komplek dari mereka semua.


Ditengah obrolan kami berempat tiba tiba Isti datang menyapa kami.


“Subhannallah… pemandangan yang begitu indah melihat kalian berkumpul begitu damai.:” ucap Isti.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Isti tersebut, dalam hati aku berkata, “ kamu gak tahu jika aku begini sebenarnya sedang perang batin Isti. Tidak sebaik yang kamu duga.” Kataku dalam hati.


“Eeeh Isti, kapan kamu mau menyusul dan segera menikah juga Isti ?” Tanya Fatimah kepada Isti.


“Inya Allah sebentar lagi, sebenarnya juga sudah siap namun menunggu waktu saja masak habis kakaku menikah langsung aku. Kita kan perlu menjaga masyarakat biar gak timbul Fitnah.” Jawab Isti.


“Betul Is, tap kenapa gak dilaksankan sekalian barengan saja tadi ?” tanyaku pada Isti.

__ADS_1


“Kan calon suamiku juga masih di luar jawa mas. Lagian Isti juga gak terlalu buru buru, biar ngumpulin modal buat usaha bersama suami Isti nanti.” Jawab Isti.


“Gak usah lama lama Is, biar kita besuk saat ada waktu bisa reunian dan sudah bawa nak semuanya.” Komentar Samsudin. Disambut tawa kami semua.


“Diiih mentang mentang yang istrinya juga sudah hamil.” Jawab Isti pada Samsudin. Kemudian Isti pun mengucapkan selamat kepada Eis sambil berpelukan. Dan kulihat keduanya menitikkan air mata haru, mungkin masih teringat peristiwa yang hampir menimbulkan masalah diantara mereka.


Dimana dulu hampir semua santriwati mau menyalahkan Fatimah dan aku atas pernikahan kami. Namun ternyata Eis yang saat itu dekat dengan aku dan semua santri putri juga tahu. Justru dia yang menjelaskan permasalahan sebenarnya yang terjadi. Sehingga keadaan berbalik semua meminta maaf pada Fatimah. Dan mensuport Fatimah juga Isti agar tabah dalam menjalani kehidupan selanjutnya.


Sama sekali tidak pernah terbayang jika endingnya justru dengan peristiwa itu justru makin merekatkan persahabatan dan persaudaraan kami. Meski jujur itu sangat berat awalnya baik bagi aku Fatimah Eis maupun Samsudin.


Namun itulah bukti, kelemahan manusia yang hanya mampu berencana, namun tak mampu untuk menentukan. Dan harus di yakini jika ‘Pilihan Allah’ adalah yang terbaik.


Kami makan bersama dengan penuh suka cita, saling berbagi dan bercanda. Antara aku dan Eis sudah tidak ada rasa canggung, juga dengan Fatimah dan Samsudin sudah bisa berbicara lepas tanpa ada rasa canggung lagi. Karena sudah saling sadar diri dengan posisi masing masing.


Hingga akhir acara makan bersama kami habiskan sambil mengobrol santai. Kulihat para Sesepuh juga sedang mengobrol dengan ceria juga. Termasuk Yuyut juga tampak beberapa kali tersenyum dan tertawa dalam obrolan para sesepuh tersebut.


Hingga tak terasa waktu sudah masuk maghrib dan kami semua segera melaksanakan sholat maghrib bersama, dilanjutkan wirid berjamaah dan sekaligus berdoa memanjatkan Syukur kepada Allah. Ditengah permasalahan yang kami hadapi itu masih bisa bersama sama kumpul dalam suasana bahagia seperti itu.


Dan setelah selesai dilanjutkan dengan tausiyah dari kang Salim, yang banyak memberikan nasehat kepada kami semua.


“Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuhu…” salam kang salim membuka tasiyah yang dijawab bersamaan oleh kami semua.


“Alhamdulillah acara bahagia hari ini bisa berjalan dengan lancar. Namun jangan sampai kita lupa disaat bahagia seperti ini. kita harus tetap mengingat Allah, karena bukan tidak mungkin Allah hanya menunda permasalahan sebentar untuk member kita rasa bahagia sebelum menghadapi permasalahan yang sebenarnya. Namun begitu kita tetap harus bersukur, hari ini sudah terlaksana pernikahan dua pasang pengantin dan aqiqoh anak dari saudara kita Ahmad Sidiq alias Yasin. Bagi dua pasangan mempelai, satu saja nasehat saya. Hidup bahagia itu mudah, Hilangkan sifat iri dengki dalam hati kalian maka kalian akan bahagia.


karena yang membuat kita tidak bahagia itu bukan karena kita kekurangan atau apapun yang dianggap orang membuat kita susah. Namun kita tidak bahagia itu karena kita mempunyai sifat Thomak ( Tamak/Rakus ) sehingga mengharap yang bukan haknya. Sehingga kita sering merasa sedih bukan karena kekurangan tapi justru karena melihat orang lain yang mendapat  lebih dari kita. Meski kita juga tidak kekurangan, itu muncul karena sifat Dengki kita.” Penjelasan kang Salim terhenti karena ada orang yang teriak teriak memanggil namaku dari luar pintu rumahku.


“Kang Yasin, ada tamu silahkan kamu temui dulu, karena menghormati tamu itu wajib.” Perintah kang Salim kepadaku.


Akupun segera membukakan pintu untu tamu tersebut dan menemuinya di ruang tamuku.


“Ada apa pak kok kayaknya gugup seperti itu ? ini diminum dulu masih ada teh Hangat ini pak !’ kataku pada tamu yang datang ke rumahku itu.


Kemudian tamu tersebut menceritakan kejadian di kampungnya yang menurut informasi yang di dengarnya ada kakek kakek yang menculik dua gadis kecil di dusunnya. Dan gadis itu adalah sama sama lahir di hari selasa Kliwon. Yang oleh sebagian orang itu bisa di kaitkan dengan hal hal yang mistis.


Aku terkejut dengan apa yang disampaikan oleh orang tersebut, kemudian aku mauk untuk minta pendapat kang Salim dan kang Tohari juga Yuyut dan bapak ibu mertuaku.


Dan atas hasil musyawarah semuanya, maka ditunjuk tiga orang untuk datang ke wilayah dusun orang orang tersebut. Dan tiga orang tersebut adalah Aku sendiri, kang Tohari dan Sena, untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya di dusun itu. Dan setelah itu, disuruh pulang dulu untuk menentukan langkah berikutnya agar tidak sampai salah langkah.


Kemudian mereka menceritakan bahwa sebelumnya Sulis member kabar kepada teman teman sebayanya jika ada kakek kakek yang baik yang akan memberikan buah buahan kepadanya. Dan Sulis mengajak beberapa orang untuk menemui kakek tersebut.


“Bisa saya di pertemukan dengn salah satu anak yang ikut dengan rombongan Sulis sebelum Sulis menghilang ?” tanyaku pad orang tua Sulis.


Kemudian salah seorang anak dia panggil dan di perintahkan untuk menceritakan kejadian yang mereka lihat.


Dengan bahasa anak anak salah satu rombongan Sulis itupun bercerita, yang intinya bahwa anak anak yang lain diberi buah buahan gratis Sementara Sulis dan Indri ditahan katanya akan diberi hadiah khusus. Dan yang lain diminta pulang lebih dahulu agar tidak dicari orang tuanya.


Dalam hati aku berkata, “ dasar anak anak begitu mudah dibohongi, dan entah kenapa feelingku mengatakan ii adalah perbuatan anak buah Joyo Maruto. Belum lagi aku selesai bicara dengan anak itu, terdengar sirine mobil Polisi datang.


Dan seperti sebelumnya yang selalu datang dalam kasus krimanal di sektor kami adalah Pak Yadi.


Sehingga dengan mudah kamu mengadakan koordinasi, karena memang suah sering melakukannya.


“Lah kok panjenengan semua sudah sampai lebih dulu dari kami pak ?” Tanya pak Yadi.


“Kebetulan, jarak Kantor Polisi dan rumah kami kan lebih deket rumah kami pak, sehingga yang lapor polisi belum sampai kami sudah mendengar lebih dulu dan langsung berangkat kemari.” Jawabku


Kemudian kami mengadakan musyawarah, dan pak Yadi meminta bantuan anak yang ikut rombongan Sulis untuk melihat Lokasi. Untuk mengadakan ‘Olah TKP’. Dalam hal ini tentu saja pak Yadi adalah komandonya, aku dan saudara saudaraku hanya mengikuti pa yang diperintahkan pak Yadi.


Dan sesampai di lokasi yang dimaksut, pak Yadi membisikkan sesuatu kepadaku.


“Pak minta tolong untuk dibantu secara spiritual, biar saya dan jajaran yang olah TKP secara lahiriyahnya.” Bisik pak Yadi.


Kemudian aku juga menyampaikan pesan pak Yadi tersebut kepada kang Tohari dan Sena.


Kami bertiga membuka mata batin kami untuk melihat jejak jejak batin yang bisa dijadikan petunjuk. Dan dari hasil meditasi dan pengamatan batin kami, menunjukkan tanda tanda adanya laku supranatural dan arahnya adalah dua gadis itu akan di jadikan ‘Tumbal’. Dan Pelaku adalah target lama kami, anak buah Joyo Maruto.


“Sudah pak, ini ulah orang lama yang sekarang pindah markas dan sekaligus menjadi ‘SANGGAR PAMUJAN’ ( Tempat Memuja ) bagi mereka.” Bisikku pada pak Yadi.


“Kemudian bagaimana langkah kita selanjutnya pak ?” Tanya pak Yadi.


“kalo langkah hukumm monggo pak Yadi, tapi kalo lanhkah spiritual nanti kita bicarakan dirumah saja pak.” Jawabku pada pak Yadi.

__ADS_1


Kemudian aku menyampaikan kepada orang tua kedua korban dan masyarakat sekitar, jika kami bersaudara dan pihak yang berwajib akan bekerja sama mencari anak anak yang hilang tersebut. berusaha secara lahir dan batin. Kemudian kami mohon diri untuk pulang kerumah. Begitu juga dengan pak Yadi dan jajaranya mohon ijin untuk membuat berkas berita acara kehilangan.


Dan kami pun segera pergi meninggalkan dusun tersebut,menuju ke rumah. Dan di rumah pun sudah ditunggu oleh beberapa orang.


“Bagaimana hasilnya Kang ?” Tanya kang Salim kepadaku.


“Seperti dugaanku sebelumnya kang, orang lama yang hendak menumbalkan anak dengan hari pasaran khusus ( Selasa Kliwon) untuk mendapatkan ilmu sesat.” Jawabku pada Kang Salim.


“Kalo begitu kalian harus segera menyusul mereka, jangan sampai terlambat.” Bukan begitu Yut ?” Tanya kang Salim kepada Yuyut.


“Iya bener nang, beberapa malam lagi adalah malam purnama dan saat itulah mereka akan menjadikan dua bocah itu sebagai tumbal.” Maka kalian harus berangkat mala mini juga sebelum mereka memulai acara ritual mereka.” Ucap Yuyut.


Yaa Allah, baru istirahat sejenak baru merasakan kehangatan keluarga sejenak sekarang sudah harus bertempur lagi, batinku.


“Kamu gak usah  mengeluh kang, hadapi saja semua yang harus kita hadapi. Meski kadang kita berjuang yang memetik hasil adalah anak cucu kita bukan kita secara langsung.” Ucap kang Salim yang seakan tahu kalo aku barusan mengeluh dalam hati.


“Iya kang, saya siap berangkat malam ini juga.” Jawabku.


“Yaudah, kamu segera laksanakan sholat Isya, dan lakukan sholat sunah Safar ( perjalanan ) karena mungkin kalian akan beberapa hari meninggalkan rumah. Dan kamu kana, gak usah khawatir, karena selama kamu belum menyelesaikan tugas maka kami semua masih akan tetap disini menjaga rumah kamu dan keluargamu.” Ucap kang Salim sedikit melegakan aku.


“Tapi, tugas kamu sampai bisa memenjarakan Dalang Anyi anyi Raja Khodam Jin jahat itu…!” ucap Yuyut.


“Tapi Yut, menghadapi Jin itu katanya bisa tujuh hari tujuh malam baru bisa selesai ?” protesku.


“Ya selama itu pula kami juga akan menjaga rumah dan keluargamu  sampai kalian berhasil.” Kang Salim yang menjawab.


Aku rasa bukan waktunya untuk berdebat, yang jelas memang ini jalan yang harus aku tempuh. Maka aku Kang Tohari dan Sena segera melaksanakan sholat Isya karena yang lain sudah dari tadi. Dan kemudian melaksanakan sholat sunah Safar untuk memohon kepada Alllah diberi kemudahan dalam ‘Perjalanan’ menumpas kebathilan tersebut.


Setelah selesai saat kami hendak berangkat tiba tiba tiba pak Yadi tadi datang, aku bahkan sampai lupa jika janjian dengan pak Yadi. Namun aku kemudian menjelaskan bahwa secara spiritual kami harus melakukan perjalanan ini, dan pak Yadi bisa menerima itu. bahkan beliau sanggup mengantarkan kami untuk menuju ke titik dimana kami akan memulai pencarian. Karena pencarian selanjutnya adalah dengan berjalan kaki. Dan harus ketemu sebelum malam bulan purnama, jika lewat malam purnama maka semuanya sudah terlambat, karena dua anak itu pasti sudah menjadi korban.


Akhirnya kami di antar pak Yadi dan, kang Tohari meminta untuk titik awal pencarian adalah markas Joyo Maruto yang sudah dihancurkan dulu. Dari tempat itu mungkin bisa ditemukan petunjuk untuk mencari markas Joyo Maruto yang sekarang ini.


Kamipun hanya mengikuti perintah kang Tohari sebagai saudara tertua kami. Dan akhirnya kami sampai di markas Joyo Maruto yang dulu sudah kami hancurkan. Namun ternyata tempat itu masih juga ber Aura negative dan sangat mencekam.


Kang Tohari memimpin Wirid Lathief untuk memohon perlindungan kepada Allah.


Baru juga kami memulai wirid Lathief tempat sekitar kami tiba tiba sudah di penuhi makhluk Astral yang berusaha mengganggu doa kami. Dari yang berujud pocong, kuntilanak genderuwo dan sebagainya. Untunglan kami bertiga sudah terlalu sering melihat ujud mereka dalam bentuk seperti itu. dan kami tahu bahwa ujud mereka memang bisa menyeruapai apa saja yang mereka inginkan.


Sehingga kami gak terusik dengan kehadiran mereka dengan berbagai ujud tersebut. namun itu barulah permulaan. Sesaat kemudian datang semacam angin kencang yang menerpa kami, padahal pohon pohon di sekitar kami satupun tidak ada bergerak…!!!


Jangan lewatkan episode episode akhir Isyaroh


dan segera dilanjutkan dengan kelanjutan cerita berikutnya. dengan Judul


Pewaris Stambul Al-Quran



...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2