Isyaroh

Isyaroh
Peran Ardian menghadapi makhluk astral


__ADS_3

Episode 83


Kemudian Ardian memjamkan matanya sesaat,setelah itu dia berkata.


“ Rumah ini dikepung makhluk Astral pak.” Kata Ardian.


Semua menjadi tegang dan ketakutan mendengar pernyataan Ardian yang dikenal sebagai seorang Cenayang atau ada yang menyebut dia Indigo.


“ Semua harap tenang dulu, Insya Allah makhluk Astral itu tidak akan berani memasuki rumah ini. Secara batin sudah aku pagari dengan ayat ayat suci sesuai ajaran agama. Kita harus yakin akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas.” Ucapku menghibur mereka.


“ Apakah kita hanya akan terus bertahan seperti ini Zain, apa kita tidak mencoba menggempur mereka dengan kekuatan penuh. Agar mereka tidak selalu menteror kita terus ?” Tanya Rofiq.


“ Tidak bang, justru itu yang mereka harapkan, kita semua pergi meninggalkan rumah, agar mereka leluasa menyerang  anggota keluarga kita.” Jawabku pada Rofiq.


“ Ardian, coba kamu usahakan sama pak Yasin untuk mengusir mahluk Astral itu. Biar yang lain berjaga jaga dari ancaman lahiriyah.” Perintah pak Yadi pada Ardian.


“ Baik pak, mari pak Yasin kita berdua saja yang keluar hadapi makhluk makhluk itu.” Ajak Ardian.


Aku menuruti kata Ardian keluar rumah menghadapi makhluk itu, dikawal pak Yadi dan Dicky. Sementara Fanani menunggu di dalam rumah sebagai pertahanan terakhir dari ancaman fisik.


Aku berjalan mengitari Rumah, merasakan aura negative yang begitu kuat, namun mata telanjangku tak mampu melihat kehadiran sosok makhluk Astral itu. Kemudian aku mencoba membaca doa khusus untuk membuka Lathoif nafsi atau orang ada yang menyebut membuka mata batin.


Aku kaget juga melihat begitu banyak penampakan disekitar rumah dengaan berbagai jenis dan berbagai ujut yang bagi orang awam sangat menakutan. Dari mulai pocong, banaspati kuntilanak dan lain lain. Dalam hati aku berbisik, beruntung orang yang tidak bisa melihat mereka. Karena jika melihat mungkin akan berpengaruh terhadap perilakunya. Karena mereka menggoda dengaan ujutnya, suaranya dan tingkah lakunya.


Ada yang memperlihatkan kepalnya yang terlepas kemudian diambil dan ditempelkan lagi, ada yang memperlihatkan isi perutnya dengan usus yang terurai keluar. Belum lagi ada yang mencoba menggoda dengan suara tangisan hingga keteawanya yang memuakkan. Bahkan ada yang berusaha mendekat dan menjahili dengan meniup bulu kuduknya, memegang anggota tubuh dan berbagai perilaku lain yang kadang membuat jengkel.


Hanya Ardian dan aku yang melihat semua itu, untung saja pak Yadi dan Dicky tidak melihatnya. Sehingga bisa focus mengawasi keberadaan manusia asli yang mungkin saja mau berbuat jahat.


Dengan senjata pistol yang siap ditangan pak Yadi dan Dicky berjalan mendahului kami, agar tidak ada gangguan fisik yang mengganngu kami. Sementara kami dibelakang berusaha melindungi pak Yadi dan Dicky dari gangguan makhluk makhluk Astral tersebut.


Sambil terus melantunkan doa, untuk mengusir makhluk Astral itu agar tidak mengganggu kami dan sekeluarga. Aku dan Ardian terus berjalan mengikuti pak Yadi dan Dicky. Hanya aku yang tidak membawa senjata waktu itu, namun dengan kewaspadaan para polisi itu aku tetap merasa tenang. Setidaknya usaha lahir batin sudah kami lakukan. Selebihnya kami pasrahkan kepada Allah apa yang akan terjadi, karena semua yang terjadi adalah atas kehendak Nya.


Sosok yang berupa bola api yang biasa disebut banaspati, hamper saja membakar kami. Untung aku dan Ardian tanggap, Ardian menyiramkan pasir kearah banaspati itu sementara aku membuat perlindungan ghoib dengan bacaan ayat ayat pelindung.


Kemudian bergantian sosok yang lain mengganggu secara bergantian, dan Aku serta Ardian sibuk menghalau mereka. Sementara pak Yadi dan Dicky berkonsentrasi mengawasi keadaan sekitar, menjaga kemungkinan terburuk adanya seorang sniper lagi.


Pak Yadi yang membawa senter khusus menyoroti kearah sniper yang tadi pagi berhasil di tangkap. Ada juga rasa was was yang aku rasakan, karena bagaimanapun musuh sangat pintar dan licik. Mereka leluasa mencari kesempatan menyerang sedang kita hanya mampu bertahan. Karena keberadaan mereka yang sengaja berpindah pindah tempat untuk bermarkas, sehingga sangat sulit untuk di tebak.


“ Awas Ardian, ada yang menebar sirep lagi, berarti ada orang disekitar sini.” Kataku pada Ardian.


“ Berarti ada ujut manuisa Asli ya pak ?” Tanya Dicky khawatir.


“ Iya ****, kita harus hati hati dengan Setan yang berujut manusia itu.” Kataku.


“ Maksutnya pak ?” Tanya Dicky.


“Ya para manusia jahat itulah Setan yang berujut manusia.” Jawabku.


“ Owh…!” komentar dicky pendek.


Sementara Ardian tampak focus dengan perujudan makhluk Astral yang ada. Bahkan Nampak sedikit ketegangan diraut wajahnya meski dalam temaram lampu yang agak remang karena diluar rumah.


“Maaf pak Yasin dengan jumlah makhluk Astral sebanyak ini rasanya sulit untuk menghalau mereka dengan cara yang biasa saya terapkan.” Kata Ardian.


Aku jadi teringat saat menghadapi ratusan makhluk astral dimakam beberapa malam yang lalu. Aku harus mengambil pemukul gong Simo ludro itu, pikirku.


“Kalo begitu kalian tunggu sebentar aku akan mengambil sesuatu dirumah untuk mengambil sarana pengusir Makhluk Astral tersebut.” Kataku kemudian kembali masuk kerumah. Sementara pak Yadi memimpin nereka yang keliling rumah, aku kedalam rumah mengambil pemukul gong simo ludro itu.


“ Ada apa Zain kok kamu kembali kerumah ?” Tanya Rofiq yang masih belum bisa meninggalkan menyebut panggilanku dimasa lalu dengan sebutan Zain.


“Ada sesuatu yang harus aku ambil bang, abang stay dirumah saja dulu sampai makhluk astral itu pergi jangan keluar dulu ya !” pintaku pada Rofiq, karena jiwanya yang masih agak Labil, sehingga mudah dirasuki makhluk makhluk astral itu jika keluar rumah.


Semua yang dirumah berkumpul diruang mujahadah, sehingga aku agak tenang. Minimal mengurangi kemungkinan serangan dari Sniper bayaran. Dan di dalam rumah terutama ruang mujahadah itu yang menjadi tempat bermunajat pada Allah, merupakan tempat yang cukup aman dari gangguan makhluk Astra dibanding tempat lain.


Setelah mengambil penabuh gong simo ludro itu aku kembali menyusul rombongan pak Yadi. Aku membisikkan sesuatu pada Ardian, agar dia ikut melantukan doa mohon perlindungan pada Allah dari gangguan semua makhluk.


Kemudian aku sambil membaca doa dan melantunkan ayat ayat quran tertentu memutar penabuh gong itu. Penabuh gong yang berlubang itu mengeluarkan suara pelan yang semakin lama semakin jelas seperti dengungan lebah. Kemudian terlihat semua makhluk Astral itu berteriak dan menutupi kedua telinganya.


Raungan kesakitan mereka hanya dapat didengar olehku dan Ardian, sungguh membuat merinding suaranya. Tak lama setelah itu semua makhluk astral itu pun pergi menghilang. Tinggalah kami mengamati dan mencari seseorang yang menebarkan sirep dan kemungkinan ada orang lain yang ditugaskan untuk menculik salah satu anggota keluargaku.


Dalam hal itu pak Yadi dan lainya yang lebih berpengalaman mencari seseorang. Gentian pak Yadi yang memberi aba aba.


“ Dicky dan Ardian berputar lawan arah, biar pak Yasin dan aku yang meneruskan langkah kearah jalan ini. Ardian kan cukup punya bekal hadapi makhluk halus juga, jadi bersama Dicky. Dan aku sendiri bersama pak Yasin.” Perintah pak Yadi pada anak buahnya.

__ADS_1


Kami pun berpencar sesuai arahan dari pak Yadi, Ardian bersama Dicky berputar berbalik arah. Sedang aku dan pak Yadi melanjutkan lanhgkah. Aku tidak tahu dengan maksut pak Yadi membagi arah berjalan, tapi aku ikuti saja karena beliau yang lebih ahli dibidang itu.


...*****...


Di tengah kami berputar mengamati situasi, terdengar suara teriakan Dicky.


“Jangan bergerak atau kutembak…!” sura Dicky membentak seseorang. Aku yang hamper berlari kearaah Dicky dan Ardian dicegah pak Yadi.


“Tidak usah kesana pak. Kita lanjut mengitari dri sini saja. Takutnya masih ada orang lain lagi.” Kata pak Yadi.


Dan akupun hanya mengikuti komando dari pak Yadi. Sambil kami berjalan pelan menuju arah suara Dicky lewat jalur memutar. Kemudian terdengar langkah kaki orang berlari dan diikuti suara tembakan.


Door…door..door.


Suara tembakan dari Dicky atau mungkin Ardian.


“ Jangan lari, atau kutembak.” Susul suara Ardian kemudian.


Door… suara tembakan pertama setelah tembakan peringatan, namun orang itu masih terdengar berlari. Disusul suara tembakan ke dua dank e tiga, namun sepertinya orang tersebut berhasil meloloskan diri. Sampai akhirnya aku dan pak Yadi sampai ditempat Dicky dan Ardian.


“ Ada apa ?” Tanya pak Yadi.


“Ada yang berusaha menyelinap, mau masuk rumah pak Yasin pak. Tapi orangnya kabur.” Jawab dicky.


“Kudengar kamu sudah menembak sampai tiga kali, setelah tembakan peringatan ke atas. Tidak ada yang kena ?” Tanya pak Yadi lanjut.


“Tembakan pertama mengenai pohon pak, sedang yang kedua meleset. Kalo tembakan ketiga sepertinya mengenai paha kaki orang itu pak. Tapi sepertinya tidak mempan.” Jawab Dicky.


“ Apa orang itu punya ilmu kebal senjata pak ?” Tanya pak Yasin kepadaku.


“ Kayaknya gak pak, hanya saja mungkin tembakan tadi tidak tepat mengenai, hanya meleset atau menyerempat saja. Saya gak yakin orang itu kebal senjata api.” Kataku pada pak Yadi.


Kita cek saja dilokasi orang itu terkena tembakan. Kalo ada ceceran darah berarti orang itu kena tembakan. Tapi jika tidak, kemungkinan meleset atau orang itu memang punya ilmu kebal. Meski kemunkinan itu sangat kecil menurut saya pak.” Kataku.


Akhirnya kami sepakat memeriksa lokasi orang itu diperkirakan tertembak, dan memang benar disitu ada ceceran darah. Berarti betul terkena tembakan dan orang itu tidak kebal.


Meski aku juga cukup heran, jika tertembak bagian paha kaki tapi oraang itu msih bisa lolos. Berarti dia cukup punya daya tahan tubuh yang prima,pikirku.


“Tidak usah, lebih baik menjaga keamanan dirumah ini saja, takutnya itu memancing kita keluar, kemudian mereka menyuruh seseoarang untuk masuk rumah itu.” Kata pak Yadi.


Kemudian kami kembali berkeliling mengamati keadaan sekitar rumah, pengalaman beberapa hari kemarin akhirnya membuat kami berpikir cara untuk membuat jadwal pengamanan.  Karena gak mungkin setiap malam kami begadang tanpa istirahat.


Setelah selesai pak Yadi pamit pulang dan kamipun melepaskan beliau, tampak kelelahan diwajahnya sampai larut malam belum tidur. Kulihta jam sudah menunjukkan pukul 01.45’.


“Kalian boleh istirahat dulu, tentu kalian juga capai.” Kataku pada Dicky dan kawan kawan. Aku sendiri masih duduk bersama Rofiq diruang tamu.


“ Tiap malam kamu begini terus Zain ?” Tanya Rofiq.


“ Yah harus bagaimana lagi, keselamatan keluargaku lebih dari yang laimya. Apapun akan kulakukan, meski cape bahkan sakit pun aku gak peduli.” Jawabku pada Rofiq.


“Kamu udah total berubah sekarang Zain, aku iri padamu !” tiba tibqa Rofiq berkata sambil berkaca kaca.


“ Iri kenapa bang, perasaan hidupku juga biasa biasa aja kok. Gak ada istimewanya, banyak kekurangan mah iya.” Kataku ke Rofiq.


“ Maksutku, kamu sudah punya anak dan istri yang begitu baik sementara aku saat ini gak jelas. Istri hilang,anak belum ada, lihat kamu jadi iri. Ada yang dibela,dilindungi dan di perjuangkan. Demi anak istrimu, apapun akan kamu lakukan. Lah aku Zain, demi siapa ?” kata Rofiq.


Aku agak tersentak mendengarnya, jadi menyesal mengucapkan seperti itu tadi. Mungkin membuat Rofiq jadi kepikiran begitu.


“Nikah lagi lah bang, secara abang juga masih muda, paling beda tiga atau empat  tahunan sama aku. Abang juga cukup ganteng kan.” Kataku kepada Rofiq.


“ Sipa yang mau sama bekas baj****n sepertiku Zain ?” kata Rofiq.


“Buktinya sama aku juga ada yang mau bang, kita kan punya masa lalu yang sama juga,wkakaka…!” kataku sambil tertawa.


Membuat Rofiq pun jadi ikut tertawa.


“ Iya juga ya, kamu juga dulu gak klah brengseknya sama aku, hahaha…!” sahut Rofiq.


“ Nah tu tahu, kenapa meski minder sekarang. Abang mo cerita bekas peminum, bekas penjudi, dulu sukanya berantem, mainya dikaraoke atau apa lagi ? gak ada gunanya bang, kita sama sama pelakunya kan ?” gurauku pada Rofiq.


“ Busyet deh, kamu masih suka inget gak apa yang jadi kebiasaan kita dulu ?” Tanya Rofiq.


“ Kadang kadang sih bang, tapi itu semua udah aku buang jauh jauh. Gak mau mengingat sama sekali bang.” Kataku.

__ADS_1


“Btw kamu dulu bisa memutuskan bertaubat apa sebabnya Zain. Maaf secara kamu dulu kan termasuk yang paling demen maksiat. Maaf nih, jujur waktu aku denger pertama kali kamu bertaubat kupikir itu hanya akal bulus kamu saja soalnya.” Ungkapan jujur Rofiq justru membuat aku tersenyum geli.


Aku gak langsung menjawab tapi justru menyalakan rokok dulu, sambil berpikir bagaimana menjelaskanya. Karena mau gak mau aku harus melibatkan nama Arum dalam proses pertaubatanku. Sementara aku lihat Rofiq baru PDKT sama Arum apa gak bikin dia jealous pikirku.


“Kok kamu senyum senyum saja Zain, apa ada rahasia besar yang harus kamu tutupin dan gak bisa kamu ceritakan ke aku ?” Tanya Rofiq.


Sebenarnya aku agak risih bukan karena harus cerita tentang masa laluku, tapi dengan sebutan Zain itu aku malah jadi suka ingat masa suramku dulu. Tapi aku agak sungkan melarang kakaknya Isti itu untuk tidak memanggil dengan sebutan itu.


“Gak juga sih bang, tapi aku bingung saja mau mulai dari mana. Karena cerita perjalanan itu begitu panjang, kenapa aku bisa sampai sadar dan bertaubat. Tapi yang jelas bukan karena aku membuat tipu muslihat atau akal bulus begitu lah.” Kataku sambil tertawa.


“Terus, apa musababnya ?” desak Rofiq.


“Ngerokok dulu nih bang, nyantai aja gak usah terlalu kepo kayak mak mak aja bang Rofiq ini.”  Candaku.


“ Sialan kamu Zain, malah ngatain aku kayak mak mak.” Kata Rofiq sambil menyalakan rokok juga.


Saat itu mengingatkan aku dulu jika sedang bercanda dengan Rofiq dan gang ketika sedang ngepos sambil minum minum. Kenangan itu sangat menyiksa diriku sebenarnya, kenapa juga harus terkenang yang seperti itu ???


“Kamu keberatan cerita sama aku Zain “? Tanya Rofiq mendesak.


“Gak sih, hanya aku minta satu hal saja sama bang Rofiq.”kataku.


“Apa itu ?” Tanya Rofiq.


“Aku Tanya dulu, jawab jujur bang. Abang ada hati sama Arum ibunya Sidiq ?” tanyaku pelan sambil menatap wajah Rofiq, mencoba melihat reaksi mimik wajahnya. Dia tampak kaget aku Tanya begitu, entah apa yang dia pikirkan.


Lama dia agak termenung, seakan mau menjawab tapi ragu ragu.


“ Seandainya iya, kamu keberatan gak Zain, atau kamu juga masih ada hati sama dia ?” Tanya balik dia padaku.


Kami berbicara cukup pelan, agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kami.


“Sama sekali tidak bang.” Kataku.


“Terus kenapa kamu bertanya begitu ?” Tanya Rofiq lagi.


“Karena mau gak mau, kalo aku cerita penyebab aku bertaubat harus menyebut nama Arum juga. Takutnya abang jadi ill fill sama Arum. Sementara kuperhatikan abang lagi deketin dia.” Terangku.


Kulihat Rofiq terdiam cukup lama, semakin penasaran dengan apa yang akan aku ceritakan karena menyangkut Arum ibunya Sidiq. Sementara Rofiq tahu Sidiq anak biologisku dengan Arum, dan akan mewarnai cerita yang akan aku sampaikan.


“Jadi mau dengerin ceritanya gak bang, kalo gak siap mending gak usah saja lah.” Kataku pada Rofiq.


“ Ceritain saja, aku penasaran nih apa penyebab kamu jadi bertaubat.” Kata Rofiq.


“Yakin siap dengerin ?” tanyaku.


Rofiq hanya mengangguk dan agak ragu juga penasaran.


...bersambung...


Satu komen readers adalah seribu semangat bagi Author.


Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2