
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Kemudian keduanya turun dari mobil dan mendekati kerumunan orang yang sedang mengepung sesosok makhluk yang menyerupai seekor serigala.
“Hentikan perbuatanmu wahai pemuja Iblis…!” bentak Tohari kepada sebuah sosok yang akan menghisap darah seorang warga…???
Warga yang berkerumun itu ada yang sudah mengenal Sena saat ikut menjadi relawan membongkar makam korban Joyo Maruto.
“Itu teman dari orang yang mengalahkan jin di markas yang menelan banyak Korban kemarin. Biar dia dan temennya itu yang melawan Siluman itu.” ucap salah satu warga yang mengenal Sena.
“Auuuunggh… kamu gak usah ikut campur urusanku lagi. Kali ini kamu gak akan mampu mengalahkan aku, auuuuunngh….!” Ancam sosok itu.
“Sena saatnya kamu hadapi dia, gunakan juga jurus suci dan kemampuan kinestesismu. Aku bantu dari jauh saja.” Ucap Tohari kepada Sena.
“Baik kang, aku akan coba hadapi makhluk itu perbuatannya sungguh sudah sangat keterlaluan.” Ucap sena.
Kemudian Sena mendekat kepada sosok itu yang tak lain adalah sosok perubahan ujut ki Soma yang wajahnya sudah separuh Serigala itu.
“Owh rupanya kamu lagi, kemarin sudah dihajar kakak ku Yasin masih juga belum kapok. Masih mau bertingkah lagi. Sekarang kamu akan rasakan akibat dari perbuatan kamu itu.” ucap Sena.
Makhluk berujut ki Soma itu tidak menjawab namun secepat kilat dia menyerang Sena. Namun Sena yang sudah memusatkan konsentrasinya menggunakan kinestesisnya gerakan refleknya dengan cepat menghindari serangan makhluk itu. dan hampir saja serangan makhluk itu mengenai warga yang mengitari pertarungan Sena dan ki Soma dengan ujud barunya itu. untunglah Tohari dengan sigap memukul ki Soma dari jauh hingga terjatuh. Namun dasar Siluman yang sudah dikendalikan Jin, dia tak merasakannya apa apa dan kembali bangkit hendak menyerang Tohari juga.
Dan Tohari pun terpaksa turun tangan menghadapi makhluk itu yang sudah menyerang dia. Secepat kilat juga Tohari mendahului menendang makhluk itu ke tengah Arena agar menjauhi warga. Taku ada warga tak bersalah menjadi korban makhluk itu.
“Sena minggirlah, rupanya makhluk itu lebih memilih aku untuk menjajal ilmu sesatnya.” Kata Tohari.
“Baiklah kang, biar makhluk itu tau rasa berhadapan denganmu kang.” Kata Sena kemudian.
Maka ki Soma segera menyerang Tohari dengan serangan cakaran kuku bahkan gigitan taringnya dengan disertai lengkingan dan teriakan auman serigala lapar.
Namun Tohari mendapat firasat jika makhluk itu dalam meraung dengan auman serigala itu seakan seperti memanggil bala bantuan, karena merasa dirinya terkepung warga dan dibantu Sena dan Tohari.
Dan benar saja sesaat kemudian datang dua rekannya, makhluk berujud separuh Serigala itu. yang tak lain adalah Mento Rogo dan Maheso Suro yang datang bersamaan bagai sepasang serigala kelaparan. Dan sesaat kemudian menerobos ke kerumunan sehingga mengejutkan semua yang disitu termasuk Sena. Sena pun langsung masuk ke arena dan membantu Tohari.
Dan pertempuran tiga makhluk setengah jin melawan Tohari dan Sena pun tak dapat di hindarkan lagi. Namun di tengah kesibukan Tohari melawan makhluk itu dia masih sempat untuk memperingatkan warga untuk menyingkir agak jauh, karena sangat berbahaya jika terlalu dekat bisa kena serangan makhluk gak jelas itu.
“Bapak bapak mohon agak menjauh lagi, supaya tidak terkena amukan makhluk ini.” ucap Tohari sambil menghindari cakaran Maheso Suro yang mengarah ke perutnya. Sementara Mento Rogo menyerang kepala Tohari. Sedangkan Sena sibuk juga melayani gebrakan ki Soma, namun dibantu reflek dan kinestesisnya Sena selalu dapat menghindari serangan dari ki Soma yang cepat dan membabi buta itu.
Sebenarnya Sena sendiri merasa kewalahan menghadapi ki Soma, setiap serangan ki Soma seperti disertai angin panas yang mampu menyengat kulit jika dia tersentuh. Namun Sena seperti bergerak bukan atas kehendaknya sendiri. Ada dorongan yang membuat dia bergerak diluar kendalinya, sehingga dorongan yang menggerakan dirinya itulah yang menyebabkan dia selalu luput dari serangan ki Soma.
Sehingga ki Soma justru semakin marah, karena Sena sebenarnya belum juga melakukan serangan kepada ki Soma. Dia hanya bergerak menghindari semua serangan ki Soma itu. memang itulah salah satu kelebihan yang Sena miliki. Selalu mendapat dorongan untuk menghindari serangan musuh melalui getaran bulu bulu halus di kulitnya Sehingga tak sekalipun serangan ki Soma dapat menyentuhnya.
Ki Soma bahkan membandingkan dengan ketika dia melawan yasin saja masih bisa mendaratkan pukulan meski hanya satu dua kali. Namun dengan Sena ini dia justru jadi frustasi karena tak sekalipun dia dapat mendaratkan pukulannya ke tubuh sena.
“Pukul kepalanya dengan menggunakan ismuldzat dan asmaul husna Sena.” Teriak Tohari di tengah kesibukanya yang masih menghadapi Maheso Suro dan Mento Rogo itu.
“Baik kang.” Sahut sena singkat sambil terus menghindari serangan ki Soma yang semakin kuat dan cepat dan semakin mengarah kepada titik titik mematikan. Namun Sena dengan mudah menghindari semua itu. meski kadang harus melompat ke kiri ke kanan bahkan juga berguling di tanah. Dan semua itu bukanlah kemauan Sena sendiri, namun mengikuti getaran halus bulunya disertai gerakan reflek dan kinestesisnya.
Sehingga warga yang melihat pertempuran itu pun menjadi tegang, karena sedari tadi sudah puluhan jurus yang di sarangkan lawan ke Sena dan Tohari. Namun Sena dan Tohari sendiri belum melakukan balasan satu kali pun. Padahal beberapa kali warga sudah sport jantung, saat melihat serangan ke arah Sena dan Tohari. Para warga sampai beberapa kali menjerit mengira Sena dan Tohari bakal terkena serangan mereka. Namun kembali bernafas lega ketika mereka tahu serangan itu tidak mengenai keduanya.
Namun begitu mereka justru semakin berdebar saja, karena apa yang mereka tunggu agar Sena ataupun Tohari membalas menyerang dan ingin tahu seperti apa serangannya namun belum juga dilakukan.
Sementara Sena yang masih mempermainkan ki Soma dengan memancing emosinya, masih terus menghindari serangan ki soma. Sambil mencari kesempatan untuk melancarkan serangan kepada ki Soma. Dan saat kesempatan itu datang, akibat ki Soma yang setengah putus asa sehingga lengah maka secepat dan sekuat tenaganya Sena memukul kepala ki Soma. Dan suara benturan keras pun terdengar hingga semua mata tertuju ke arah Sena dan ki Soma.
“Auuuuuunghh……!” jeritan ki Soma dan akhirnya jatuh mencium tanah dan tak bergerak lagi.
__ADS_1
Melihat ki Soma jatuh tak bergerak Mento Rogo dan Maheso Suro segera Kabur meninggalkan Tohari dan warga kabur secepatnya.
“horeeeee……….!!!” Teriak warga mengelu elukan Sena dan Tohari yang sudah berhasil melawan bahkan membunuh salah satu makhluk buas tersebut.
Kemudiaan semua warga mengerubungi sena dan Tohari, dan sebagian melihat kondisi ki Soma. Dan semua melihat perubahan wujud ki Soma yang kembali ke ujud aslinya dengan kepala penuh darah akibat pukulan tangan Sena.
“Owh ini wajah asli makhluk itu.” teriak warga.
Kemudian salah satu warga pun menghubungi polisi, mengatakan bahwa salah satu makhluk sudah berhasil dilumpuhkan dan meninggal dunia.
Kemudian beberapa waktu kemudian datanglah rombongan polisi yang diantaranya adalah pak Yadi.
Kemudian beberapa Polisi melakukan identifikasi terhadap ki Soma yang sudah menjadi mayat tersebut. wajah ki Soma memang sudah kembali ke aslinya, namun tanganya masih menyisakan bulu dan kuku kuku panjangnya.
Tohari sampai merinding dan berkata dalam hati, “sungguh malang nasib kamu kisanak, jalan yang kamu ambil adalah salah. Sehingga di saat ajal kamu pun Allah membuat kamu sebagai contoh yang buruk. Wajahmu kembali ke Asli namun tubuhmu yang lain masih tubuh separo binatang. Sungguh itu sangat memalukan jasadmu juga keluargamu.” Kata Tohari dalam hati.
“Assalaamu ‘alaikum….!” Sapa pak Yadi.
“Wa’alaikummussalam,, eeh pak Yadi sudah sampai sini.” Kata Tohari.
“Iya pak, saya tadi agak ragu ketika mendengar makhluk itu sudah ada yang tertangkap dan terbunuh. Ternyata ada pak Tohari dan Mas Sena, ya wajar kalo dapat mengalahkan makhluk itu.” ucap pak Yadi.
“Aah gak juga kok pak, kita juga kerepotan tadi jadi dengan terpaksa kita harus membunuhnya agar tidak membahayakan warga masyarakat.” Ucap Sena.
“Gak papa pak, untuk kasus seperti ini panjenengan sifatnya membela diri dan melindungi warga jadi gak masuk pasal pembunuhan. Saya Jamin, tapi pak Yasin dimana ini kok gak kelihatan.
Kemudian Tohari menceritakan bahwa saat ini Yasin sedang disuruh Kholwat untuk segera dapat mencari cara menyelesaikan sampai ke akar permasalahannya. Agar tidak muncul kasus kasus baru lagi dan dapat segera mencapai ketentraman warga.
Pak Yadi hanya mengangguk angguk ketika Tohari menjelaskan apa itu kholwat.
“Berarti dalam beberapa hari ini pak Yasin tidak bisa di temui ya Pak ?” Tanya pak Yadi.
“Betul pak, dan jika ada perlu dengan Yasin adik saya nanti saya yang akan menggantikan untuk mewakili Yasin adik saya.” Ucap Tohari kemudian.
“Baiklah pak, mungkin besuk saya akan sowan ke panjenengan, karena memang ada beberapa hal yang ingin saya konsultasikan juga.” Kata pak Yadi.
*****
*****
Di tempat Yasin Kholwat
Yasin POV
“Bagaimana dengan keadaan keluarga dan warga masyarakat yang sedang terancam bahaya jika aku kelamaan disini.” Kataku dalam hati.
Mana gak boleh bawa rokok dan sebagainya disini, dingin dan angin malam sangat kencang seperti sampai menusuk tulang tulangku rasanya. Aku harus bisa melawan semua ini, rasa lapar dingin dan sebagainya harus bisa aku kendalikan.
Kemudian aku mulai melantunkan doa doa dan kalimah dzikir untuk mengusir rasa was was yang ada. Aku terus melantunkan doa dan bacaan kalimah Ayat ayat Quran. Hingga tak terasa dari kejauhan aku mendengar adzan subuh. Kemudian aku segera malaksanakan solat subuh, namun baru saja aku berdiri aku merasakan perutku kembung sehingga buang angin. Sehingga batal wudhuku, maka aku turun mencari sumber air untuk wudhu.
Aku menemukan sumber air yang cukup jauh dari tempatku, kemudian aku berwudhu dan naik lagi ketempatku tadi. Namun belum juga melaksanakan sholat aku kembali buang angin, karena perutku memang terasa begah dan kembung.
Maka mau gak mau aku harus kembali ke tempat berwudhu tadi, namun setelah sampai ke tempatku aku kembali buang angin. Hal itu terulang sampai dengan Tujuh kali. Baru aku bisa melakukan sholat, namun begitu selesai sholat aku pun tak tahan menahan perut ku yang kembung.
Aku harus mencari tempat untuk buang hadast, dan melepas hajat disana. Baru semalam aku sudah merasakan perutku begini. Bagaimana malam malam berikutnya nanti, mana perut juga sudah merasakan lapar. Kosong hingga terasa kembung karena hanya berisi angin.
Aku pun turun mencari tempat buang hadast dan sekaligus mencari sesuatu yang bisa dimakan. Selepas membuang hajat aku kembali berjalan rasa lapar di perutku sungguh sangat mengganggu. Sampai mengeluarkan bunyi kruyyuk kruyyyuk…!”
Mana ada makanan ditempat seperti ini, mada perut sudah sangat lapar, bahkan dirumah pun aku gak pernah merasakan se lapar ini. apakah ini salah satu godaan dengan rasa lapar yang berlebih. Aku mulai berpikir, kayaknya rasa lapar ini hanya ujian saja gak biasanya aku selapar ini, batinku.
Namun rasa lapar yang semakin melilit aku terpaksa mencari pepohonan atau buah yang bisa aku makan. Dan aku mulai melangkah kembali ke tempatku semalam untuk melanjutkan dzikir. Jika memang menemukan makanan ya nanti aku makan tapi jika tidak maka aku harus bisa menahan. Toh aku sudah minum juga saat berwudhu tadi. Gak akan mati kalo gak makan semalam saja, pikirku.
Sampai di tengah perjalanan, aku melihat disamping kananku ada pohon pisang yang sudah ada beberapa yang matang. Kemudian aku segera mengambil beberapa biji pisang itu untuk mengisi perutku.
“Alhamdulillah masih ada yang bisa untuk mengganjal perut.” Kataku dalam hati.
__ADS_1
Setelah cukup kenyang aku kembali ketempatku berdzikir, lama lama terasa sangat panas bahkan batu yang aku duduki pun terasa panas. Namun aku tetap mencoba bertahan, meski keringatku begitu deras.
Panas matahari yang semakin tinggi itu pun semakin menyengat kulitku. Rasanya ingin berteduh sebentar , namun teringat pesan kang tohari namun aku urungkan dan tetap bertahan di tempatku.
*****
Di tempat Joyo Maruto
Author POV
Sementara Maheso Suro dan Mento Rogo yang kabur menemui Joyo Maruto yang sedang diwejang dalang Anyi Anyi.
“Ayyyiiii….ayyyiiiii…..ayyyiiiiii… wahai anak manusia janganlah kamu meragukan kemampuanku bisa bisa kamu akan aku telan bulat bulat menjadi isi perutku nati, Ayyyiiii….ayyyiiiii…..ayyyiiiiii… !” kata Dalang Anyi Anyi.
“Auuuunggh…..Ampun ki dalang saya tidak ragu…Auuuunggh….!” Jawab Joyo Maruto.
“Ayyyiiii….ayyyiiiii…..ayyyiiiiii… carilah pengikut sebanyak banyaknya, agar kemampuan kamu makin bertambah. Ajak manusia untuk menjadi pengikutku aku akan beri dunia sesuai keinginan manusia, Ayyyiiii….ayyyiiiii…..ayyyiiiiii… “ kata Jin laknat tersebut membujuk Joyo Maruto untuk mencari pengikut. Itu artinya Jin itu menyuruh Joyo Maruto menyesatkan banyak orang.
Memang begitulah jika manusia sudah bersekutu dengan makhluk jin. Akan selalu dituntut untuk mencari pengikut sebagai teman dia nanti di neraka.
Tak lama kemudian datanglah Mento Rogo dan dan maheso Suro yang datang dengan raungan Serigala kelaparan.
“Auuuungghh….. Auuuunngghh auuuunnggh… Ampun ki, kawan kami Soma terbunuh oleh kawan Yasin…auuuunggh….!” Kata Mento Rogo.
Membuat Joyo Maruto Kaget dan hampir saja meluap kemarahanya, karena salah satu anak buahnya terbunuh.
Namun cepat di egah oleh Dalang Anyi anyi, katanya itu memang sudah harus terjadi dan bagi Maheso Suro dan Mento Rogo dalang Anyi Anyi sudah menyiapkan sebuah ajian yang bisa saling menghidupkan jika salah satunya mati. Dengan cara bila satunya mati dan di lompati oleh satunya maka yang mati itu akan menjadi hidup lagi begitu juga sebaliknya.
“Ayyyiiii….ayyyiiiii…..ayyyiiiiii… kalian berdua aku warisi ilmu ‘Nyowo Kembar’ jika salah satu dari kalian mati maka lompatilah maka yang mati akan hidup begitu juga sebaliknya, Ayyyiiii….ayyyiiiii…..ayyyiiiiii… “ kata Dalang Anyi anyi.
“Auuuunngh… terima kasih ki…auuuunngh…!” teriakan Maheso suro dan Mento Rogo.
Kemudian Jin itu meminta Maheso Suro dan mento Rogo untuk bertapa di bawah air terjun di sebuah sungai. Keduanya diminta untuk duduk dibawah air terjun itu sampai dengan air terjun itu berbalik mengalir ke atas. Jika itu dilakukan dengan benar maka, dalam tiga hari akan berhasil. Dan mereka berdua selama bertapa itu hanya boleh meminum air dari air terjun tersebut.
Maka berangkatlah Maheso Suro Dan Mento Rogo ke air terjun yang dimaksut. Keduanya segera memulai bertapa duduk saling berhadapan dan tangan mereka saling mengait. Dan bersilang di depan dada, guyuran air terjun tersebut sangatlah deras. Namun keduanya sudah bertekat untuk mendapatkan ilmu tersebut. Maka semua rasa sakit dan perih tidak mereka rasakan sama sekali. Tekat keduanya sudah bulat untuk membalas dendam Kepada Yasin. Apapun resikonya harus aku ambil kata hati keduanya….!!!
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1