Isyaroh

Isyaroh
Menghadapi lmu panggiring Sukma


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Sudah sudah lanjutin tadi, apa yang ada dalam pikiranmu Zain tentang ceritaku tadi ?” Tanya Rofiq penasaran.


“Abang terkenba ilmu panggiring sukma bang, abang seperti diarahkan menuju ke suatu tempat dengan dikendalikan dari jauh. Seperti yang dialami Fanani dan lainya dulu itu.” jawabku pada Rofiq.


“Apa mas, ilmu panggiring sukma. Itu kan ilmu orang jaman dulu yang sudah langka, apa masih ada orang ynag begitu ?” kata Isti.


“Kenyataanya masih Is, sudah dua kali diantara kita terkena ilmu seperti itu. jadi mau gak mau kita harus melaksanakan


Isti tampak sedikit memucat wajahnya mendengar keteranganku, bahwa masih ada orang yang mengamalkan ilmu panggiring sukam tersebut. Panggiring berarti penggring sedangkan sukma adalah Ruh untuk gampangnya. Jadi ilmu panggiring sukma adalah ilmu yang mapu mengendalikan seseorang dari jarak jauh agar mengikuti instruksi orang tersebut.


Jika sekarang ini mirip ilmu gendam yang membuat kesadaran seseorang hilang dalam beberapa detik. Namun jika orang terkena ilmu panggiring sukma maka bisa seharian mungkin lebih bahkan dia akan kehilangan kesadaran, dan di bawah kendali orang lain.


Zaman dulu bahkan ceritanya orang yang terkena ilmu tersebut bisa membunuh orang terdekatnya tanpa disadarinya.


Yang aku khawatirkan adalah jika kemampuan orang itu sampai kesitu, kemudian mengendalikan orang dirumah untuk mencelakai yang lainya.


Bagaimana mungki aku bisa melawan orang orang terdekatku sendiri, meski dia dalam pengaruh namun secara fisik dia adalah orang dekatku. Aku jadi bingung memikirkan kemungkinan kemungkinan itu, tadi Rofiq kena meski sebatas dia digiring keluar. Tapi bukan tidak mungkin suatu saat dia akan digiring untuk mencelakai aku, mungkin Fatimah bahkan bisa jadi juga Isti atau ibunya.


“Mas mikirin apa ?” pertanyaan Isti mengejutkan aku.


“Eeh maaf, aku jadi agak khawatir dengan ilmu itu Is.” Jawabku singkat. Agak ragu juga untuk menjelaskan karena bisa membikin takut orang orang dirumahku. Namun jika tidak kusampaikan bagaimana menyuruh mereka agar selalu waspada, selalu berdzikir karena pikiran sedikit kosong saja bisa kena pengaruh ilmu itu.


Meskipun menurut disiplin ilmu yang aku pelajari semua itu tak lepas dari peraan serta makhluk Ghaib yang membantu mengendalikan. Semacam orang kesurupan yang berbuaat dan berkata bukan kehendaknya sendiri. Bedanya ilmu panggiring sukma itu yang mengendalikan justru manusia biasa melalui khodam jin atau jin suruhan.


Aku sendiri tidak menyangka jika harus berhadapan dengan orang yang memilik ilmu tersebut. Bahkan membayangkan pun aku tidak, namun saat ini semua itu sudah terjadi didepanku menimpa keluargaku dan target utamanya adalah diriku.


“Ada apa dengan Ilmu itu mas, kayaknya mas Yasin jai gelisah begitu. Gak kayak biasanya selalu santai menghadapi apapun.” Komentar Isti.


Sebenarnya Isti dan Fatimah istriku adalah seniorku, namun dalam hal seperti ini memang aku dulu digembleng secara khusus. Sehingga dalam hal ini aku lebih tahu dari isti dan Fatimah, mungkin juga karena mereka adalah wanita juga.


“Jadi begini Is, ilmu itu kalo dulu bisa digunakan untuk mencelaki seseorang melalui orang orang terdekatnya. Missal aku diancam akan dibunuh oleh seseorang, dalam melakukan aksinya orang itu bisa mempengaruhi Fatimah istriku untuk membunuhku saat tidur. Dan Fatimah bergerak bukan atas kehendaknya sendiri melainkan sudah dalam pengaruh orang lain. Jadi apa yang dia lakukan itu diluar kesadaranya. Tahu tahu sudah melakukan pembunuhan tanpa disadari sebelumnya. Itu yang mengganggu pikiranku saat ini.” jawabku pada Isti.


“Bisa begitu Zain, kedengaranya menyeramkan sekali. Apa kamu tahu penangkalnya Zain ?” Tanya Rofiq dengan wajah yang begitu serius.


“Penangkal yang bagaimana maksutnya bang ? Kalo penangkal yang aku ketahui kita harus selalu ingat Allah. Sedikit saja kita lengah akan mudah dimasuki ilmu itu dan kita berbuat tanpa kendali kita sendiri.” Jawabku.


“Mas pernah denger hal itu dari mana ?” Tanya Isti.


“Waktu aku di hukum dan di minta tiap malam wirit di makam eyang guru ( Orang tua Abah guru ) sebenarnya saat itu aku diawasi dan dibimbing oleh senior kita yang diberi tugas khusus oleh Abah guru kita untuk menggembleng santri santri tertentu yang menjalani tirakat seperti aku. Jadi hukuman itu bukanlah sekedar hukuman biasa, namun selebihnya dari itu aku diajarkan mulai dari perkenalan berbagai jenis ilmu kebatinan orang orang dulu. Bukan untuk diamalkan melainkan aku disuruh mencari cara untuk menghadapinya.” Jawabku pada Isti.


“Termasuk ilmu panggiring sukma juga ?” Tanya Isti.

__ADS_1


“Iya, namun sayangnya saat itu aku tidak di pertemukan dengan pemilik ilmu tersebut, sehingga belum tahu bagaimana cara menghadapinya. Padahal aku dulu disuruh menghadapi berbagai macam ilmu itu tanpa dibekali apapun. Aku disuruh mencari cara sendiri, hanya dibekali bacaan bacaan doa dan di suruh mencoba sendiri doa mana yang menjadi penangkal. Sehingga sering kali aku harus jungkir balik ketika diserang dengan ilmu ilmu kebatinan itu. sampai akhirnya aku bisa menemukan cara melawanya.” Terangku pada Isti.


“Bagaimana kalo sekarang kamu coba Zain, kamu cari penangkal ilmu itu !” kata Rofiq.


“Mau aku juga begitu bang, tapi itu juga gak mudah mungkin seperti waktu itu juga. Aku harus jungkir balik dulu terkena serangan bru kemudian bisa menemukan cara melawan ilmu tersebut. Tanpa harus ikut larut dalam keyakinan orang orang seperti itu. karena pada dasarnya ilmu tersebut tetap bersumber pada khodam Jin. Hanya Jin juga ada levelnya bang, dan cara melawan sampai dengan jenis doa atau hizip apa yang harus digunakan pun berbeda beda.”  Kataku menjelaskan pada Rofiq.


“Kayaknya gak ada pilihan lain mas, kecuali mas harus minta bantuan, baik itu Yuyutnya Fatimah atau kang Salim. Beliau nerdua lah yang mungkin bisa membantu minimal member petunjuk kepada mas Yasin. Langkah apa yang harus dilakukan. Karena mas harus ingat jika disini ada Fatimah ada Khotimah dan lainya yang harus mas lindungi.” Kata Isti.


“Aku juga baru berpikir hendak meminta tolong siapa dulu Is, apakah Yuyut apakah kang Salim ataukah dua duanya langsung.!” Jawabku pada Isti.


“Ya kenapa gak dua duanya ja Zain, ingat banyak yang harus kamu tangani. Dan juju raja kulihat kamu kayak merasa kelalahan begitu sekarang ini.” kata Rofiq.


“Gak tahu juga ni bang, menurut kamu gimana Is. Bagaimanapun kamu adalah seniorku di pesantren, kamulah yang pertama kali mengajarkan aku tentang adab. Ingatkan saat kamu memarahi aku karena gak sopan sama kang Salim. Itu adalah pertama kalinya aku dibentak wanita Is. Dan aku anggap itu pelajaran pertama yang aku dapat di pondok pesantren.” Kataku.


“Wah ingatan mas Yasin luar biasa, padahal Isti aja sudah lupa kok peristiwa waktu itu.” jawab Isti.


“Ya iyalah, kamu mudah lupa. Tapi bagiku gak akan lupa, selain itu ku anggap pelajaran pertama di pondok pesantren juga pertama kalinya ada gadis yang berani bentak aku.” Jawabku sambil tertawa.


“Iya gimana gak aku bentak, baru datang udah kurang ajar sama lurah pondok, bilang gimana dulu itu. lurah pondok punya tanah garapan nggak atu gimana ?” Tanya isti yang lupa peristiwa dulu.


“Gak tahu aku juga udah lupa, udah sekarang menurutmu aku harus bagaimana ?” tanyaku pada Isti.


“Ya itu tadi mas, kamu harus minta bantuan kepada yuyut dan kang Salim. Biar tugasmu semakin ringan.” Jawab Isti.


“Iya aku juga sepakat dengan isti.” Kata Rofiq.


“Baiklah, kita istirahat dulu saja besuk kita lanjut lagi. Masih ada hal lain yang harus aku bicarakan yang kaitanya dengan bobolnya pagar ghaib kita. Siapa yang telah menyebabkan pagar ghaib kita bobol.” Kataku.


“Maksut kamu apa zain, pagar ghaib bobol gimana ?” Tanya Rofiq.


“Maaf apakah orang yang melakukan ciuman bisa membuat pagar ghaib itu bobol.” Kata Rofiq. Membuat aku dan Isti kaget. Bahkan kemudian Isti memandang Rofiq penuh selidik.


“Bukan aku, jangan salah faham dulu Isti. Tapi aku pernah melihat maaf adik sepupumu Zain dengan Fanani itu berciuaman saat kalian sedang sholat dan waktu itu aku hendak kekamar mandi. Waktu itu Khotimah sedang cuti gak sholat.” Kata Rofiq hati hati.


Aku jadi berpikir keras lagi, apakah mereka Fanani dan Khotimah sudah melakukan lebih dari itu atau belum. Jika sudah melakukan lebih dari itu maka semakin rumitlah permasalahan ini.


Bagaimana jika mereka sudah kelewat batas kemudian Candra jadi melamar Khotimah dan diterima hingga menikah kemudian Candra complain.


Wah ada ada saja maslah yang datang silih berganti, rasanya aku seperti  tak sanggup lagi berpikir. Masalah yang satu belum kelar malah muncul masalah masalah baru yang juga rumit.


“Hadddeewwwh besuk aja lah coba kau tanyain kepada Khotimah dulu. Saat ini aku sudah gak mampu berpikir, aku mau istirahat dulu.” Kataku pada Isti dan Rofiq.


Kamipun segera berangkat tidur, tapi aku memilih tidur diruang mujahadah. Karena kamarku sedang dipakai Khotimah yang ketakutan jika sendirian.


Karena capek akupun segera terlelap dan bangun bangun sudah pada diruang mujahadah mau menjalankan sholat subuh. Akupun segera mengambil air wudhu dan jamaah sholat subuh seluruh penghuni rumah.


Seusai sholat subuh aku ajak Khotimah dan Fatimah bicara bertiga, membhasa tentang kejadian semalam.


“Apa yang kamu rasakan sebelum dan sesudah kamu diganggu makhluk halus Khot ?” tanyaku pada Khotimah.


“Awalnya Khotimah bingung mas, timbul perasaan galau saat melihat mas Yasin pulang bersama mas Fanani. Sehingga Khotimah sulit tidur dan sulit menghilangkan bayangan wajah mas Fanani. Kemudian samar samar Khotimah melihat ada makhluk menyeramkan yang menatap Khotimah dengan tatapan mata tajam. Dan mulut menyeringai mengerikan memperlihatkan taringnya yang panjang. Setelah itu dia mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh wajah Khotimah, dan berkata bahwa dia akan menghabisi isi rumah ini satu persatu. Kemudian Khotimah ketakutan dan memanggil mbak Fatim, setelahitu tak tahu lagi apa yang terjadi pada Khotimah.” Cerita Khotimah kepadaku.


“Aku agak gak enak mau menanyakan sesuatu kepadamu Khot. Masalahnya ini menyangkut privasi kamu, tapi karena kamu adalah tanggung jawabku. Karena aku sudah deiberi perintah untuk menjagamu, juga demi keselamatan kita semua aku mau gak mau harus menanyakan ini kepadamu. Meski aku sangat berat untuk menanyakan.” Kataku membuka pembicaraan kearah hal yang sebenarnya sangat Privasi bagi khotimah.

__ADS_1


Bahkan aku sebenarnya juga malu, tidak tega sungkan juga risih juga membahas masalah demikian.


“Tanya aja mas, Khotimah percaya kok sama mas Yasin jika memang itu tujuanya untuk kebaikan. Khotimah tidak akan tersinggung meski menyangkut privasi khotimah.” Jawab Khotimah.


“Memang ada apa sih mask ok kayaknya serius banget begitu ?” sahut Fatimah istriku.


Aku menghela nafas sebentar, menyusun kalimat dalam otakku agar tidak salah ucap. Sehingga bisa menimbulkan kesalah pahaman dan menyinggung martabat Khotimah sebagai wanita. Bahkan mungkin juga bisa menyinggung Fatimah sebagai kakak sepupunya Khotimah.


“Jadi apa yang terjadi semalam itu sangatlah merisaukan aku. Bukan sekedar peristiwa Khotimah yang diganngu makhluk halus, dan Rofiq yang Sempat menghilang dari rumah saja.” Kataku terhenti sambil menenangkan perasaan yang tidak menentu untuk melanjutkan.


“Terus apa yang mas pikirkan sampai begitunya.” Tanya Fatimah.


“Semalam yang menimpa Khotimah dan Rofiq itu adalah ilmu panggiring Sukma. Dan itu pada level tingginya bisa mengendalikan seseorang dari jarak jauh untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh pemilik ilmu tersebut. Termasuk bisa mengendalikan agar orang yang terkena ilmu tersebut melukai dan membunuh orang terdekatnya.” Kataku.


“Maksut mas Yasin,kalo kena ilmu itu bisa membunuh orang terdekatnya karena pengarug ilmu tersebut ?” kata Khotimah ketakutan.


“Jujur memang bisa seperti itu, tapi aku juga belum tahu pasti tingkat orang yang semalam mengirim ilmu tersebut sampai seberpa tinggi. Tapi masalah utamanya bukan disitu, ada yang lebih merisaukan aku lagi.” Kataku kemudian.


“Apa lagi mas ?” Tanya Khotimah makin penasaran. Sementara Fatimah hanya menunggu keterangan yang akan aku berikan.


“Mas heran, dulu kang Salim sudah memperkuat pagar ghaib rumah ini, tapi kenapa sekarang mudah sekali diterobos makhluk makhluk itu. Padahal setahuku, gak mudah makhluk astral memasuki rumah ini, kecuali beberapa hal yang mempengaruhi aura rumah ini sehingga membuat pagar ghaib itu rapuh.” Jawabku.


“Maksutnya gimana mas, Khotimah malah semakin gak paham ?” Tanya Khotimah.


“Maaf ya Khot, mas mau bertanya tolong jawab dengan jujur. Karena ini sangat penting bagi keselamatan kita semua. Apakah kamu dengan Fanani dalam berpacaran kemarin melampaui batas ?” aku bertanya dengan pelan dan hati hati agar Khotimah tidak tersinggung, juga Fatimah tidak salah Faham.


Khotimah tidak langsung menjawab, hanya tertunduk malu dan kulihat hampir menitikan air mata.


“Jawab pertanyaan mas mu Khot, jangan hanya diam saja…!”  tiba tiba Fatimah malah membentak.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2