Isyaroh

Isyaroh
Pak Sastro dibawa kerumah Yasin


__ADS_3

Kemudian Candra memanggil salah satu temanya untuk menjaga pak Sastro. Kemudian berangkat kerumah Yasin bersama bapaknya setelah menerima alamat rumahnya dari pak Sastro.


Berangkatlah mereka kerumah Yasin, meski masih ada sedikit keraguan dalam hati mereka, namun mereka tetap menuju kerumah Yasin.


Sesampai di alamat yang dituju, baik Caandra maupun bapaknya agak ragu untuk masuk ke pekarngan rumah Yasin. Sampai akhirnya Ardian yang kebetulan lewat menyapa mereka.


“Maaf cari siapa pak ?” Tanya Ardian yang meengejutkan Candra dan bapaknya.


”Saya mau bertemu dengan pak Yasin, saya kakaknya Arum yang dulu ikut tinggal disini. Dan ini bapak saya dan bapaknya Arum juga.” Ujar Candra.


“Maaf boleh saya lihat KTP panjengan berdua dulu pak, masalahnya baru rumah dan penghuninya baru dalam pengawasan.” Kata Ardian.


Kemudian Candra dan bapaknya menyerahkan KTP mereka, kemudian Ardian masuk menemui Yasin.


“Maaf pak, apakah bapak mengenal orang orang ini ?” Tanya Ardian sambil menunjukan KTP Candra dan Bapaknya.


“Ini kakak dan bapaknya Arum, kenapa mereka ?” Tanya Yasin pada Arian.


“Mereka mau masuk kerumah ini pak, katanya mau ketemu bapak.” Kata Ardian.


“Persilahkan mereka masuk, tadi saya sudah bertemu dirumah sakit.” Kataku.


Kemudian Arian kembali menemui Canra dan Ayahnya dan memepersilakan mereka masuk.


“Mari pak silahkan masuk, pak Yasin sudah menunggu di dalam.” Kata Ardian mengajak Canra an bapaknya masuk kerumah Yasin.


Sementara Yasin meninta tolong Fatimah untuk menyediakan minuman buat menghormati tamu. Serta mengatakan jika kakak dan bapaknya Arum datang. Sekaligus mengtakan sebaiknya Rofiq, Isti dan ibuknya juga ikut menemui mereka. Utuk memulai pembicaraan perihal lamaran Rofiq ke Arum. Meski hanya sekedar pembukaan bukan lamaran resmi, lamaran resmi tetap nanti dari pihak Rofiq yang akan datang ke rumah Arum.


*****


Suasana pembicaraan dengan keluarga Arum dan keluarga Rofiq.


Setelah Candra dan bappaknya duduk diruang tamu, aku dan Fatimah menyambut mereka dengan hangat seperti pada seorang saudara yang lama tak ketemu. Dan aku mulai memperkenalkan anggota keluargaku satu persatu.


“Maaf yam as dan bapak, jika tadi kurang nyaman dengan penyambutan karena kami memang baru dalam pengawasan. Dan perkenalkan ini Fatimah istri saya, kemudian Khotimah aik sepup istri sebelahnya adalah Isti’anah teman kami di pesantren dulu. Dan ibu itu adalah ibu kandung Isti yang sudah seperti ibu kandung kami juga. Sementara yang laki laki itu adalah kakaknya Isti bang Rofiq.” Kataku menyambut Candra dan bapaknya sekaligus memperkenalkan keluarga besarku.


“Wah ramai juga ya keluarga disini, meriah banyak saudara begini.” Komentar bapaknya Arum. Sementara Candra hanya tampak diam.


“Ya begitulah pak, kami ini senansip sepenanggungan sama sama sedang diancam seseorang sehingga kami berkumpul disini dan saling menjaga.” Jawabku. Kemudian aku menceritakan secara singkat tentang permasalahan yang kami hadapi, termasuk ancaman terhaap Arum dan Sidiq. Sehingga Arum dan Sidiq pun terpaksa aku suruh tinggal dirumah ini. Dan saat ini telah aku ungsikan ke sebuah pondok di jawa barat karena Sidiq menjadi target utama dari penculikan mereka.


“Bapaknya Arum mendengarkan dengan serius, sampai matanya berkaca kaca ketika mendengar Arum dan Sidiq menjadi target utama penculikan. Meski mungkin sudah dengar sendiri dari Arum saat video call di rumah sakit tadi.


“Ternyata seperti itu kejaianya, mohon maaf jika kami tai tadi sempat salah paham. Karena berita yang kami terima lain dengan kenyataan yang terjadi.” Candra ikut nimbrung dalam pembicaraan.


“Lain bagaimanan mas, apakah mas Candra juga mendengar jika Arum tinggal di rumah ini, dari mana ?” tanyaku pada Candra.


“Iya, kami mendengar belum lama ini juga. Ceritanya kan ada salah satu pemuda didekat dusun kami yang sebenarnya ingin memperistri Arum. Dan dia katanya ikut mengawasi Arum yang katanya ikut tinggal dirumah ini.” Kata Candra.


Kami yang mendengarkan jai agak kaget, tapi khususnya aku sudah dapat menduga bahwa orang itu tidak lain adalah Damar, yang sudah mengtakan sebelumnya saat melakukan penyelamatan pak Sastro tadi.


“Owh begitu, apakah yang mas Candra maksut pemuda itu adalah bernama Damar ?” tanyaku lanjut paa Candra.


Candra jadi kaget ketika aku menyebutkan nama Damar. Mungkin juga dia tidak mengira jika aku sudah mengenal Damar.


“Kok kamu tahu ?” Tanya balik Candra.


“Iya tahu, karena Damarlah yang menunjukkan rumah lek Sastro pada penculik tersebut. Karena dia mengira Arum kembali kerumah lek Sastro. Padahal aku ungsikan ke pondok pesantren senior kami di pesantren dulu.” Jawabku.


“Owh begitu, ya dari Damar itulah kami mendengar jika Arum disini dan Damar bilangnya Arum kumpul kebo dengan kamu disini. Sehingga kami sempat marah dan berniat menyusun rencana untuk membyuat perhitungan denganmu.” Keterangan Canra membuat kami sedikit tegang, atau dengan kata lain tersinggung dengan berita bohong dari Damar. Yang sebenarnya hanya merupakan luapan kecemburuan Damar.


“Maaf mas, suamiku memang memminta Arum tinggal disini tapi demi keamanan dia dan Sidiq yag sudah kami angkat menjadi anak kami. Dan disini juga ada aku istrinya, mana mungkin mereka mau kumpul kebo ?” kata Fatimah sedikit meninggi intonasi bicaranya. Aku menyenggol Fatimah member isyarat agar jangan terpancing emosi.


“Maaf maksut Istri saya itu Arum disini tidak hanya sendiri ada beberapa wanita lain yang juga ikut disini. Dan juga ada istri saya, awalnya antara istri saya dan Arum hanya menyelesaikan permasalahan yang ada diantara kami. Dan Alhamdulillah semua berakhir dengan bisa saling memahami masa lalu kami dan menerima kenyataan sekarang ini. Sehingga Arum dan istriku seperti saudara dan tidak ada masalah diantara mereka berdua dengan posisi masing masing. Berikut juga keberadaan Sidiq yang sudah dianggap anak oleh Fatimah istriku juga.” Kataku menjelaskan dan mendinginkan suasana agar tidak memanas.


“Iya saya tahu kok sekaranga, maaf itu tadi adalah keterangan palsu yang diberikan Damar saja.” Kata bapaknya Canra yang menyambung pembicaraan.


“Gak papa pak, namanya juga salah faham korban fitnah. Yang penting sekarang semuanya sudah jelas. Dan satu hal lagi, selama disini Arum cukup dekat dengan bang Rofiq ini, mungkin juga aka nada keterangan yang akan diberikan oleh bang Rofiq tentang Arum, silahkan bang Rofiq.” Kataku mempersilahkan Rofiq untuk memulai pembicaraan, agar bisa masuk dalam rencana dia yang akan berniat meminag Arum.


“Betul pak, saya kakaknya Isti dan ini ibu saya. Saya memang belum lama juga mengenal Arum. Tapi saya an Arum cukup saling mengenal, artinya saya tahu Arum dan masa lalunya, demikian juga Arum juga tahu masa lalu saya. Sehingga antara saya dan Arum menjadi akrab karena tahu kekurangan masing masing.’ Kata kata Rofiq terhenti sejenak.


“Saya tahu siapa dan bagaimana Arum dan Arum juga tahu siapa dan bagaimana saya. Kemudian saya dan Arum membuat sebuah kesepakatan untuk membuat lembaran baru dimasa depan dengan membina rumah tangga bersama. Dan saya beserta ibu dan adik saya sebenarnya sedang mengatur waktu untuk meminang Arum secara Resmi, namun keburu Arum harus diungsikan karena terancam bahaya. Dan saat ini kebetulan bapak dan mas nya Arum ada, maka saya memberanikan diri untuk membuka pembicaraan ini. Bahwa nanti pada saatnya saya akan sowan kerumah bapak untuk meminang Arum yang akan saya jadikan sebagai istri saya.” Kata Rofiq.


Bapak dan kakanya Arum tampak saling memandang seakan saling meminta persetujuan menanggapi apa yang dikatakan Rofiq barusan.


“Saya sebagai ibunya Rofiq juga menegaskan pak, bahwa anak saya serius untuk berencana membina rumah tangga dengan putrid bapak. Dan ini Isti adiknya juga mendukung rencana kakaknya, jujur saja Rofiq anak saya dulu pernah menikah dan istrinya entah kemana pergi saat usia pernikahanya belum genap satu tahun. Sampai sekarang tidak ada beritanya lagi, maka setelah beberapa tahun rasanya suah cukup penantian kami dan ketika anaka saya berniat mau meminang Arum putrid bapak kami semua langsung setuju dan mendukungnya.” Ucap ibundanya Rofiq dan Isti.


Bapak dan kakaknya Arum masih terdiam belum memberikan jawabana.


“Jadi begini pak dan mas Candra, apa yang disampaikan bang Rofiq tadi sebagai pembuka saja pinangan resmi nanti dari pihak bang Rofiq yang akan sowan kerumah bapak. Ini hanya sekedar informasi saja bahwa saat ini Arum sudah ada yang akan meminang dan bapak tidak harus menjawab sekarang. Masih ada waktu untuk memikirkan sampai pada saat bang Rofiq meminang secara resmi nanti.” Kataku.

__ADS_1


“Bukan nak, bukan begitu maksutku. Bapak justru terharu dengan apa yang kalian semua katakana, ibarat saat ini dianggap lamaran resmi pun kami tidak mmasalah. Dan yang jelas semua itu kami serahkan ke Arum yang akan menjalani. Jadi jika mau melamar Arum bukan orang lain yang menjawab, biar Arum sendiri yang menjawab. Karena dia yang akan menjalani berumah tangga, jadi kalo sekarang saya belum menjawab itu bukan apa apa, biar nanti Arum sendiri yang menjawab, saya bapaknya hanya akan merestui apa yang akan dipilih Arum anakku, jika dia bersedia bapak juga akan member restu.” Kata bapaknya Arum berkaca kaca entah apa yang beliau pikirkan sampai berkaca kaca begitu.


“Alhamdulillah kalo begitu bapak, semoga saja nanti Arum putrid bapak juga akan menerima lamaran anak saya secara resmi didepan bapak. Sehingga kita yag sudah tua ini bisa merestui pernikahan mereka kelaka.” Kata ibunya Isti.


“Aamiin…!” jawaban serentak keluar dari mulut kami bersamaan.


Suasana berubah menjadi agak hening namun bukan karena tegang tapi ada rasa keharuan dihati masing masing yang hadir disitu.


“Owh maaf sampai lupa gak nawarin minum, mari silahkan diminum pak, mas Candra silakah diminum.” Kataku yang dari tadi juga sampai lupa menawarkan minuman yang sudah dihidangkan.


“Iya makasih, gak papa saat ini yang penting diantara kita sudah tidak ada ganjalan lagi.” Kata Candra menjawab kat kata ku.


“Iya mas, aku juga bersyukur semuanya berakhir dengan happy ending. Semoga saja nanti bang Rofiq bisa resmi menikahi Arum. Sehingga makin mempererat persaudaraan ini.” Jawabku.


Setelah beberapa saat Candra dan bapaknya dirumahku diapun mohon pamit untuk kembali kerumah sakit, menunggui pak Sastro yang sudah ditinggalkan beberapa waktu.


*****


 


Percakapan Candra dan bapaknya dirumah sakit


Author POV


Setelah sampai dirumah sakit Candra dan bapaknya langsung menuju ruangan pak Sastro. Kemudian temen Candra yang menunggui segera mohon pamit untuk pulang.


“Kebetulan kamu sudah datang Ndra, aku mo pamit pulang dulu ya. Tadi sudah dutelpon istriku.” Kata temen Candra.


“Ok, makasih ya sudah bantu nungguin lek ku.” Jawab Candra.


“Iya bro sama sama, pak saya pamit pulang dulu maaf tidak bisa menemani lama lama disini.” Pamit temen Candra pada bapaknya Candra.


Kemudian dia segera bergegas keluar dari ruangan itu, dan menuju kerumahnya bersama teman temanya.


“Menurutmu bagaiman Candra, terkait lamaran temen si Yasin tadi ?” Tanya bapaknya Candra.


Candra agak kebingunga menjawab pertanyaan bapaknya, hingga bapaknya kembali mengulang pertanyaanya.


“Maksutku, apakah kita terima saja nanti lamaranya atau kamu punya pandangan lain ?” Tanya ulang bapaknya Candra.


“Menurutku jangan buru buru diterima pak, pertama kita belum tahu siapa orang itu kedua niat kita tadi kan kesana minta penjelasan Yasin terhadap hubunganya dengan Arum dan Sidiq anaknya. Jujur saja, kalo Candra lebih ingin Arum dinikahi Yasin biar anaknya punya status yang jelas tidak sekedar dianggap anak saja.” Jawap Candra.


“Itulah bingungnya, yang Canra inginkan kan hanya Sidiq punya status yang jelas dan Arum juga gak bakalan malu nanti dikedepanya.” Jawab Candra.


“Klo soal malu Arum sudah menanggung malu sekian tahun lah, dimasa depan asal dia sudah bersuami kan orang sudah lupa dengan apa yang pernah terjadi padanya. Dan soal Sidiq sudah diadopsi mereka kan sudah selesai masalahnya. Jadi gak usah mengungkit masa lalu lagi. Kalo bicara kesalahan kita semua juga salah, dulu dia mau bertanggung jawab juga kita yang menolak dan mengatakan Arum keguguran dan sudah dinikahkan dengan orang lain.” Kata bapaknya Candra.


“Iya sih pak, ya terserah bapak saja lah. Yang penting Arum juga mau menerima lelaki itu, karena Damar yang kita harapkan mau menikahi Arum tapi Arumnya yang gak mau. Dan kemudian ternyata terbukti bahwa Damar juga terlibat dengan kasus penganiayaan lek Sastro.” Jawab Candra.


“Yaudah intinya kita serahakan saja sama Arum. Kita jangan lagi memaksakan kehendak kita yang justru bisa membuat Arum pergi dari rumah lagi.” Jawab bapaknya Candra.


Ditengah tengah pembicaraan mereka, tiba tiba pak Sastro kembali terlihat nafasnya tidak normal. Kemudian Candra segera memanggil dokter jaga untuk menangani pak Sastro agar memberikan penanganan khusus kepada pak Sastro.


Sesaat kemudian dokter segera memberikan pertolongan, namun menurut dokter itu kondisi pak Sastro normal normal saja jantung dan paru parunya tidak ada masalah.


“Tapi tadi terlihat seperti sesak nafas dan wajahnya juga tampak pucat dan sedikit membiru “ Kata bapaknya Candra.


“Bisa jadi pasien mengalami mimpi buruk pak, jadi bereaksi ke kondisi fisiknya yang tengah beristirahat. Tenang saja pak, kondisi jantung dan paru parunya semakin baik, mungkin hanya mengalami trauma saat kejadian kemarin.” Kata dokter itu.


Kemudian dokter itu kembali meninggalkan Candra dan bapaknya.


“Bagaimana pak, apakah kata dokter tadi memang lek Sastro hanya mimpi buruk saja ?” Tanya  Candra pada bapaknya.


“Itu juga yang aku pikirkan, soalnya menurut informasi yang kemarin mendatangi rumahnya adalah para orang orang pinter ( Supranatural ) dan lek mu sendiri dulunya juga sering berhubungan dengan orang orang seperti itu dan juga pernah menjadi bagian dari kegiatan supranatural.” Kata bapaknya Candra.


“Terus apa yang akan kita lakukan sekarang pak ?” Tanya Candra.


“Kalo lek mu sudah boleh pulang, mau gak mau kita harus minta tolong Yasin untuk menghilangkan pengaruh buruk yang membuat lek mu sampai seperti itu tadi. Sepertinya dia bisa menangani hal hal mistis juga, kan dia bilang dulu pernah dimintai tolong lek mu Sastro menangani hal hal mistis.” Kata bapak nya Candra.


“Iya sih pak, tapi kan dia juga baru ada masalah sekarang. Atau kita bawa saja kerumahnya biar kita rawat bersama disana ?” kata Candra.


“Gak enak lah terlalu merepotkan mereka, disana sudah banyak orang yang tinggal kok.” Kata bapaknya Canra.


“Ya habis bagaimana lagi pak, kan memang kitra sedang butuh pertolongan sekalian kita bisa selidiki Rofiq yang mau melamar Arum itu orangnya seperti apa.” Jawab Candra.


“Bapak yang gak enak nanti bilangnya, dikiranya kita memanfaatkan mereka.” Kata bapaknya Candra.


Namun Canra bersikeras agak pak Sastro dibawa kerumah Yasin dulu besuk sampai pengaruh mistis yang mengganggunya hilang. An akhirnya bapaknya hanya bisa menyetujui permintaan anak lelakinya itu. Esuk rencananya pak Sastro akan dibawa kerumah Yasin agar mendapatkan perawatan batiniyah sebelum dibawa pulang.


Hingga keesokan harinya saat Candra dan bapaknya mengurus administrasi mereka mengabari Yasin jika ingin membawa pak Sastro kerumahnya. Dan hal itu ditanggapi Yasin dengan senang hati dan mempersilahkan untuk membawa pak Sastro kerumahnya.

__ADS_1


 Maka segera pak Sastro dipapah dibawa kerumah Yasin, sesampai disana kemudian pak Sastro ditempatkan di kamar khusus yang sudah disiapkan. Candra dan bapaknya menunggui pak Satro di damping Yasin.


“Bagaimana keaaanya lek ku ?” Tanya Candra pada Yasin.


“Biar istirahat dulu saja, nanti malam coba aku periksa kondidi psykologisnya. Apakah benar ada pengaruh mistis atau tidak. Saat ini biar pak Sastro istirahat untuk menyembuhkan luka lukanya biar lebih segar secara fisik.” Kata Yasin.


“Baiklah, aku minta tolong usahakan agar lek ku bisa kembali sehat seperti sebelumnya, kasihan dia sebtang kara.” Ucap Candra.


“Insya Allah mas, aku akan berusaha semaksimal mungkin tapi jangan lupa bahwa Allah lah yang menentukan.” Jawabku.


Waktu berjalan dari detik menit hingga jam, pak Sastro yang sudah bisa diajak komunikasi menceritakan bahwa saat dia tertidur selalu mimpi didatangi makhluq mengerikan yang mencekik lehernya dan mengancam dia akan dibunuh. Yasin mendengarkan dengan serius dan didampingi Candra serta bapaknya.


Kemudian Yasin menjelaskan bahwa apa yang dialami pak Sastro bisa jadi halusinasi juga meski ada kemungkinan memang ada gangguan mistis. Untuk itu perlu diselidiki lebih lanjut, baik secara lahir maupun batin. Dan salah satu caranya adalah dengan membacakan doa doa ruqyah agar jika ada gangguan dari makhluk supra natural bisa pergi.


Dan Yasin mengatakan akan menelpon seniornya dulu untuk menanyakan keadaan pak Sastro terkait kejadian yang dia alami.


Dan Yasin segera menelpon kanh Salim terkait kondisi pak Sastro yang dirasakan ada keanehan, karena ketika dibacakan doa doa tidak memberikan respon apapun namun saat doa selesai dipanjatkan pak Sastro justru berbicara seakan ngelantur dengan pembicaraan yang tidak jelas. Dan apa yang dibicarakan adalah kebiasaan beliau dimasa lalu saat masih aktif dalam mempelajari ilmu kebatinan.


Dari mulai laku ( upaya mendapat ilmu ) sampai dengan penglaman dia saat memperoleh bisikan bisikan pada saat melakukan ritual ritual tertentu.


Dalam telpon kang Salim hanya berpesan, “suruh pak Sastro meninggalkan itu semua dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah. Dan semua anggota keluarga yang ada harus siap menerima apapun yang terjadi pada pak Sastro. Karena itu adalah jalan yang terbaik bagi pak Sastro.


Aku agak tersentak dengan perkataan kang Salim, seakan memberikabn Isyarioh yang tidak baik akan menimpa kepada pak Sastro. Berat hati ini untuk menyampaikan pada Candra dan bapaknya, sementara hal ituharuslah aku sampaikan. Mau tidak mau mereka juga harus tahu ini, namun untuk membuka pembicaraan dan juga menyusun kalimat untuk berbicara itu yang sulit.


Agak lama aku terdiam disampaing Candra dan bapaknya. Dari pesan kang Salim aku bisa menangkap jika memang ada gangguan supranatural yang menimpa pak Sastro. Namun itu harus dilawan oleh pak Sastro sendiri, dengan cara melepas semua yang pernah dia cari agar bisa kembali kejalan yang diridhoi Allah. Itu artinya pak Sastro harus benar benar pasrah hanya kepada Allah dan benar benar menggantungkan semuanya hanya kepada Allah.


Kemudia aku mengajak Candra dan ayahnya untuk mendoakan pak Sastro agar diberi kekuatan melawan gangguan mahkluk astral yang mengganggunya. Dan aku minta pada Candra agar memperbanyak membaca Asma ul husna “YAA SHOMAD” yang artinya tempat bergantung. Karena saat ini pak Sastro harus benar benar menggantungkankan dirinya hanya kepada Allah saja.


Jika sebelumnya sering mengandalkan ilmu yang dia cari maka semua itu sekarang ini harus ditinggalkan dan hanya bergantung kepada Allah. Dan menerima apapun ketentuan yang telah Allah gariskan. Meski dalam hati kecilku bertanya, kenapa kang Salim tidak memberikan doa ataupun cara khusus dalam hal ini. Namun aku tetap harus berusaha agar dapat membantu pak Sastro dalam menghadapi ini. Terutama adalah menyelamatkan iman dan aqidahnya tentunya. Soal yang lain nomer belakang, namun bagaimana nanti memberikan penjelasan kepada Cndra dan bapaknya, jika sampai mereka mengira aku tidak serius dalam membantu jika terjadi sesuatu pada pak Sastro.


Karena dari apa yang disampaikan kang Salim adalah lebih mengutamakan keselamatan Aqidah dan Iman pak Sastro dari pada sekedar menyelamatkan fisiknya. Apakah memang harus seperti itu akhir perjalanan pak Sastro yang selama ini kukenal baik dan selama ini juga sudah berbuat baik dengan orang lain termasuk berbuat baik dengan Arum ibunya Sidiq.


“Kamu kenapa kok banyak merenung saja ?” Tanya Candra padaku.


“Maaf mas, yang perlu diketahui bahwa saat ini yang harus dipentingkan adalah member dukungan kepada pak Sastro agar kuat menjaga Iman dan Aqidahnya. Bukan sekedar menyelamatkan fisiknya saja, karena ini merupakan perjuangan terberat pak Sastro.” Kataku membuka pembicaraaan dengan Candra. Dengan bahasa yang masih normative.


“Maksutnya bagaimana ?” Tanya Candra.


“Saat ini pak Sastro memang sedang diganggu mahkluk halus. Atau mungkin ada yang menyebut kena teluh, namun itu sebagai tebusan atas apa yang pernah dilakukan beliau dulu. Yang maaf, pernah salah mengambil jalan.” Kataku.


Candra malah semakin bingung mendengarkan perkataanku. Kemudian dia berbisik kepada Ayahnya entaah apa yang dikatakan.kemudian bapaknya Candra mengajakku berbicara empat mata.


“Apa yang sebenarnya terjadi dengan adikku itu ?” Tanya bapaknya Candra to the point.


“Maaf pak, saya belum bisa matur. Tapi intinya kita semua harus terus berharap namun jangan meninggalkan tawakal kita pada Allah. Saya tidak bisa matur lebih banyak lagi.’ Kataku pada bapaknya Candra.


Bapaknya Candra hanya terdiam sementara kondisi pak Sastro yang secara fisik /Medis sudah baik tapi justru menunjukkan gejala gejala memburuk. Bicaranya semakin ngelantur, kadang lupa siapa dirinya bahkan kadang mengaku dirinya adalah penguasa sebuah wilayah ghoib dan sebagainya.


Aku mencoba untuk menenangkan dan mengingatkan pak Sastro agar selalu menyebut asma Allah.


Dan pak sastro justru melototi aku dengan nada marah dia bahkan mengusir aku agar pergi dari tempat itu.


...bersambung...


***Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏***...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2