
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
............
Tiba tiba kami dikejutkan oleh suara seorang wanita yang lebih tua beberapa tahun dari Wiwin yang muncul tiba tiba dari pintu yang menghubungkan pendopo dan ruang dalam rumah.
Dan tanpa ku duga Wiwin menjadi mata gelap dan langsung menyerangku dengan tanganya. Dan anehnya kulihat mata Wiwin enjadi merah semerah bara api.
“Bangsaaa**** kalian…..!” teriak Wiwin.
Aku menghindari serangan Wiwin sahabat sekaligus tetangga satu kampungku itu.
“Sabar Win, ini hanya salah faham.” Kataku pada Wiwi.
Namun Wiwin seakan tak mau mendengarkan perkataanku. Selanjutnya Santi istri pertama ki Soma malah ikut menyerang kami. Untung Sena cepat bergerak menahan serangan istri pertama ki Soma tersebut.
Sebenarnya aku maupun Sena dapat dengan mudah melumpuhkan mereka, namun karena yang kami hadapi cewek jadi agak sungkan saja. Apa lagi aku yang mengahadapi Wiwin sahabatku sewaktu masih sekolah meski tidak terlalu akrab. Namun dia salah satu orang yang tidak pernah rese denganku  dulu. Yang tidak ikutan membenciku waktu itu, meski saat itupun aku memang layak untuk di benci.
Aku hanya menghindari serangan Wiwin tanpa memberikan balasan. Namun Wiwin yang sudah diluar kendali itu justru semakin beringas. Bahkan menyerang pada bagian bagian tubuh yang di titik titik yang mematikan. Meski aku masih dapat dengan mudah menghindarinya.
“Kamu sadarlah Win, kita ini sahabat dari kecil yang tidak pernah bermusuhan sama sekali. Aku juga menaruh hormat kepadamu dari dulu sampai sekarang.” Kataku sambil menghindari serangan Wiwin.
Sementara Sena ku lihat juga tidak mengalami kendala menghadapi istri pertama ki Soma. Aku yakin Sena mampu menghadapi istri ki Soma tersebut. apa lagi ki Soma sendiri sudah berhasil dia kalahkan, pikirku.
Satu tendangan Wiwin sempat mendarat di perutku saat aku sedang memperhatikan pertarungan Sena dan istri pertama Ki Soma.
Meski tidak mengakibatkan luka apapun namun tendangan tersebut membuat aku tersurut mundur juga.
“Wiwin kamu sadarlah, kita ini bukan musuh. Jangan terpengaruh ucapan orang itu.” kataku pada Wiwin.
Namun sekali lagi seakan Wiwin tidak lagi dapat di ajak komunikasi apa lagi mau kompromi. Seperti tidak mendengar ucapanku sama sekali Wiwin terus menyerang aku dengan membabi buta.
Hmm terpaksa harus dilumpuhkan, agar bisa menghilangkan pengaruh jahat yang ada padanya Batinku.
Wiwin yang aku hadapi sekarang memang Bukan Wiwin yang aku kenal dulu. Meski dulu juga beberapa kali melihat dia bertarung baik saat di turnamen maupun dalam pertarungan jalanan. Namun juga tidak sekasar ini bertarungnya, pikirku.
Dan wiwin yang ku kenal dulu bukanlah sosok wanita yang gampang tergoda oleh lelaki, namun kenapa justru dia lebih memilih orang yang sudah beristri ? aku merasa ada kejanggalan dalam hal ini, sehingga timbul niat dalam hatiku untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi kepada Wiwin sahabatku itu.
“Sena segera lumpuhkan lawanmu, biar Aku melumpuhkan wiwin. Nati panggil Zulfan suruh nyusul kemari bawa kendaraan. Kita bawa Wiwin pulang kerumah dulu biar cepat sadar.” Pintaku pada Sena.
“Baik mas…!” jawab Sena. Yang sejurus kemudian mendaratkan pukulannya ke istri pertama ki Soma.
Kemudian kulihat Sena menghubungi Zulfan untuk membawa mobil Sena kesini, untuk membawa Wiwin pulang secara paksa.
Sementara istri ki Soma sudah pingsan Wiwin justru semakin beringas dalam menyerangku. Aku jadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan Wiwin. Se rukun rukunya istri pertama dan kedua aku rasa juga gak akan seperti Wiwin dan Santi ini. harus ku ungkap segera apa yang sebenarnya terjadi dengan Wiwin.
Namun sebelum Zulfan datang biarlah aku bermain main dengan Wiwin dulu. Beberapa kali serangan Wiwin ku elakan dengan gerakan bergeser ke kanan atau kekiri. Membuat Wiwin justru semakin emosi, namun aku sengaja membuat dia makin marah. Biar ketahuan makhluk apa yang mengendalikan dia, batinku.
Aku ingat jika Wiwin ini dulu sangat marah jika ada yang menggoda dengan menoel atau mencolek tubuhnya. Bahkan beberapa kali Wiwin harus adu fisik dengan cowok yang mengganggunya itu, jika mereka sampai mencolek tubuh Wiwin yang agak subur itu. Namun masih dalam batas wajar, justru membuat bagian yang menonjol tampak  semakin menonjol.
__ADS_1
Di saat dia menyerangkan pukulan dengan tangan lurus kedepan aku memutar tubuhku kekiri sehingga dorongan serangan Wiwin membawa tubuhnya terdorong kedepan tepat dibelakangku. Dengan posisi membelakangiku juga, karenadia menyerangku dengan tangan kananya lurus kedepan mengarah  ke dadaku.
Tepat disaat tubuh Wiwin di belakangku dengan posisi beradu pantat. Maka aku membungkuk sehingga pantatku mendorong tubuh Wiwin kesamping dan terjatuh.
Aku sebenarnya menahan tawa dengan itu, namun Wiwin yang langsung bangkit dan kembali menyerangku lagi itu membuat aku heran. Ini jelas bukan kemauan Wiwin, kalo Wiwin yang asli diperlakukan seperti itu pasti kemarahannya akan muncul. Mau gak mau aku harus segera melumpuhkan Wiwin, dan membawa dia pulang agar bisa di hilangkan khodam khodam jahatnya, pikirku.
Antara tega gak tega, saat Wiwin menyerang aku lagi maka aku sengaja menahan serangan Wiwin dengan membalas melancarkan serangan kepadanya. Hingga dia terpental dan jatuh pingsan. Dengan menggunakan jurus Suci Hijaiyah di level menengah dan sedikit tenaga sekedar membuat dia pingsan.
“Sena Cepat Amankan Wiwin, Zulfan sampai mana ?” tanyaku pada Sena.
“Sebentar lagi sampai kok katanya.” Jawab Sena.
Untunglah lokasi rumah tu cukup jauh dari pemukiman warga biasa, sehingga pertarungan tadi tidak didengar warga. Sehingga tidak menimbulkan masalah baru dengan warga.
Sesaat kemudian Zulfan datang membawa mobil untuk mengangkut Wiwin.
Kalian duluan bawa Wiwin biar aku menyusul bawa motor nanti.” Kataku kepada Sena dan Zulfan.
Kemudian Zulfan Dan Sena memasukkan tubuh Wiwin yang sudah terikat dalam keadaan pingsan. Sementara aku mencoba masuk ke rumah ki Soma itu untuk menyelidiki apa saja yang ada di dalam. Dengan menahan mual karena mencium aroma kemenyan jawa itu aku masuk kerumah itu untuk penyelidikan.
Tidak ada yang aneh di tempat ritual mereka ini, hanya menemukan beberapa piranti santet dan teluh kemudian aku melihat sesuatu yang agak berbeda dengan lainya. Ada selembar kulit Kijang yang sudah di tulis rajah dengan huruf jawa. Kemudian aku mencoba membaca meski masih dengan sedikit kesulitan. Tapi aku akhirnya bisa membaca tulisan tersebut.
“………. Asah Asih asiho marang aku
………
………
“Sun puter, sik tak puter atimu supaya tresno Asihmu ming kanggo aku.
………..
“Ing Atimu ming ono aku…
“Ing Netramu ming Katon aku.
Ing uripmu ming tansah kelingan marang aku
Ora biso uwal siri soko mikirke aku.
Ora bakal ono wong liyo kang biso ngisi jerone atimu.
Tak kunci atimu
tak Kunci netramu
Nora biso uwal wewayanganing Aku soko ati lan Netramu.
…………..”
( …… Rasakan kasih sayangmu kepadaku
……
……
Aku putar, yang kuputar cinta kasihmu hanya untukku.
__ADS_1
Di hatimu hanya ada aku.
……
……
Di matamu hanya ada Aku.
Dalam Hidupmu hanya teringat padaku.
Tidak bisa lepas dari memikirkan Aku.
Tidak aka nada orang lain yang bisa mengisi Hatimu.
Ku KUnci hatimu.
Ku kunci Penglihatanmu.
Tidak bisa lepas bayangan wajahku dari hati dan penglihatanmu.
…….. ( Dan seterusnya )
Â
“Owh ini yang ki Soma lakukan untuk memikat hati kedua istrinya, berarti benda ini harus aku hancurkan.” Kataku dalam hati.
Kemudian aku segera pergi keluar hendak menyusul Sena dan Zulfan yang membawa Wiwin kerumah.
Saat aku keluar pintu, tiba tiba ada yang menyerangku dari samping kananku yang ternyata istri pertama ki Soma yang sudah siuman….!!!
*Episode ini hanya pendek
Besuk pagi Insya Allah up lagi dengan durasi yang seperti biasanya.*
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏***...
__ADS_1
Â