
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Kamu gak usah ikut campur, kamu siapa yang diundang disini bukan kamu. Jadi lebih baik kamudiam saja.” Kata omnya Winda yang sombong itu.
Aku masih tetap diam. Kulihat bahkan Winda juga diam ketakutan, ayahnya Winda pun tampak bingung melihat kondisi ini.
“Tidak bisa pak, pak yasin itu dalam perlindungan saya kalo bapak sopan dan bicara wajar saya diam saja. Tapi bapak sudah kurang ajar bicaranya.” Bentak Ardian kali ini dengan suara keras.
Om nya Winda malah semakin kalpa juga.
“Tutup mulutmu…!” bentaknya.
”Sudah Ardian kamu duduk saja, biar aku yang bicara.” Kataku pada Ardian.
Ardian pun kembali duduk, aku hanya ingin tahu seperti apa seorang Ardian yang mempunyai kelebihan bisa melihat makhluk halus itu menghadapi orang seperti om nya Winda yang berangasan gampang marah.
“Maaf pak, jika teman saya salah dalam bicara. Saya tidak bermaksut menghalangi perceraian Fanani dan ibu Inda. Saya hanya menyampaikan apa yang menjadi keinginan Fanani dan menyampaikan apa adanya saya ketahui, itu saja. Jika memang keputusan cerai itu sudah menjadi keputusan ibu Winda saya juga tidak bisa memaksa. Jadi silahkan ibu Winda jika ingin meneruskan proses perceraianya. Saya permisi dan mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu kenyamanan keluarga ini.” kataku pura pura bangikt hendak pergi.
Namun belum satu langkah Winda menghentikan langkahku.
“Tunggu pak, saya sudah memtuskan untuk menunda perceraian dan ingin diadakan mediasi lagi dimana saya ingin mendengar sendiri ucapan mas Fanani suami saya. Setelah itu saya kan memutuskan mau bercerai atau melanjutkan rumah tangga kami.” Kata Winda yang memang sudah kubaca dari awal akan bilang begitu.
Aku dan Ardian keblai duduk dank au kemnbali angkat bicara.
“Kalo begitu kapan kita atur waktunya dan saya harpa tidak usah terlalu banyak orangnya. Cukup ibu Winda pak Fanani dan satu wakil keluarga. Dan saya yang akan memoderatori mediasi tersenut agar berjalan lancer.” Kataku.
Kemudian Winda berbisik bisik pada ayahnya.
“Pak saya sekalian minta difasilitasi dalam mediasi tersebut. Saya minta dirumah bapak dan bapak yang mengatur jalanya mediasi. Dan besuk saya kan kerumah bapak untuk melanjutkan mediasi agar segera ada keputusan.” Ucap ayahnya Winda.
“Baiklah besuk silahkan datang kerumah saya untuk melanjutkan mediasi ini dengan meghhadirkan Fanani.” Jawabku.
“”Terimakasih pak, jamnya besuk saya kabari dan gak usah repot repot pak.” Ucap ayahnya Winda.
Kemudian aku dan Ardian kembali pamit pulang, aku dan Ardian tetap menyalami omnya WInda meskipun masih tampak wajah tidak senangnya kepada kami. Namun kau biarkan saja yang penting mempersiapkan acara besuk untuk mediasi kedua.
Aku segera melangkah pulang bersama Ardian, mampir dulu mencari warung kopi untuk melepaskan lelah karena habis bersitegang tadi cukuop menambah beban pikiranku.
“Om nya tadi gak sopan banget ya pak ?” kata Ardian.
“Biasa lah, mungkin dia memang tidak suka dengan Fanani dari dulunya.” Kataku pada Ardian.
“Tapi ya nggak seharusnya bilang kasar begitu kan pak, menuduh bapak berbuat demi uang.” OProtes Ardian.
“Gak usah dipikirin, itu kan menunjukkan dia sendiri kalo berbuat apa apa demi uang. Jadi menganggap orang lain pun melakukan sesuatu juga demi uang.” Kataku.
“Owh begitu ya pak ?” jawab Ardian.
“Iya, ibaratnya teko isi air mengeluarkan apa yang ada dalam teko tersebut. Isinya kopi ya keluar kopi, isinya teh keluarnya the. Klo orang yang dipikiranya duit omonganya juga hanya seputar duit saja. Dan menganggap orang lain juga seperti dia.” Kataku.
Ardiian mengangguk angguk seakan memahami maksutku.
Setelah cukup kami melanjutkan perjalanan kami ke rumah, sesampai dirumah aku langsung masuk kekamar ganti baju. Kemudian Fatimah datang.
“Gimana jalanya mediasi mas, apakah masih ada kemungkinan mereka rujuk kembali ?” Tanya Fatimah istriku.
“Alhamdulillah, besuk mereka akan datang kesini melanjutkan mediasi dengan melibatkan Fanani.” Jawabku pada Fatimah.
“Sukurlah, artinya masih ada kemungkinan kalo fanani bakal rujuk dengan istrinya.” Ucap Fatimah.
“Yaudah kasih tahu saja nanti fanani kalo besuk istrinya dan ayahnya akan datang kesini dan meminta Fanani juga ikut bicara.” Kataku pada Fatimah.
“Mas Isti juga dikasih tahu ya biar gak penasaran juga.” Kata Fatimah.
“Iya terserah kamu saja lah Fat, aku agak pusing nih tolong kerikin nati. Mungkin aku masuk angin, agak nggak enak badan nih.” Kataku yang merasakan agak pusing.
“Iya mas bentar, sekalian Fatimah ambil minyak angin dulu.” Jawab Fatimah.
Kemudian Fatimah keluar kamar dan kembali lagi membawa minyak angin dan uang logam buat ngerik.
“Leherku Fat tegang banget rasanya buat nengok aja kaku raasanya.” Pintaku pada Fatimah untuk mengerik leher bagian belakang.
“Mas kayak yang lagi stress, Fatimah urur saja ya ?” kata Fatimah.
“Terserah kamu lah yang tahu, tapi jangan ditotok lagi kayak dulu. Ntar kamu ambil kesempatan dalamkesempitan kayak dulu lagi.” Candaku pada Fatimah.
“Gak dong mas, dulu kan terpaksa kalo gak ditotok mas pasti gak mau terus gak bisa sembuh.” Jawab Fatimah.
“Kirain sekarang pingin lagi.” Gurauku.
“Gak lah dah pernah juga kok, eh mas tadi Isti penasaran terus nanyain balas dendam apaan kata Isti.” Cerita istriku.
“terus kamu ceritakan ke Isti juga ?” tanyaku penasaran.
“Ya iyalah, dari paa dia penasaran terus.” Jawab Fatimah.
“Duh malu dong Fat yang begituan diceritakan ke orang lain.” Protesku pada Fatimah.
“Gak papa kalmias, sama Isti ini bukan pada sembarang orang.” Jawab Fatimah.
“Bagimu gak papa bagiku malu dong Fat.” Jawabku.
__ADS_1
“Gak papa dah terlanjur, Isti juga Cuma ngakak doing gak komentar apa apa kok tadi.” Kata Fatimah.
Sebenarnya aku mau marah, tapi melihat kedekatan Fatimah dengan isti aku diamkan saja. Paling juga diketawain doing sama Isti nanti. Gak akan disebar sebarkan ke orang lain, pikirku.
“Yaudah tapi lain kali jangan begitu lagi dobg say, jaga privasi suamimu ini.” kataku pada Fatimah.
“iya mas, lagian kan wajar namanya juga suami istri kok.” Jawab Fatimah sambil memijit bagian leherku yang kaku.
“Aduh rasanya kok sakit banget ya Fat, bagian yang kamu pijit itu.” kataku.
“Gak aku pijit mas, hanya aku urut biar peredaran darahnya lancer. Ini namanya timbunan asam laktat menyumbat peredaran darah jadi mas merasa pusing karena suplay darah ke kepala kurang.” Jelas Fatimah.
“Aauw sakit banget rasanya fat.” Aku merasakan seperti terbakar panas ketika leherku dipegang tangan Fatimah istriku.
“Jangan berisik lah mas, dikira ngapain kalo ada yang denger.” Goda Fatimah istriku.
“Ngapa ngapain juga gak papa kan suami istri katanya.” Balasku pada Fatimah.
“gak gitu juga kali mas. Meski suami istri juga gak sembarangan gitu.” Ucap Fatimah.
“Sembarangan bagaimana maksutnya ?” tanyaku.
“Ya gak lantas bikin heboh teriak teriak gitu, siang siang dikira yang lagi getol aja.” Jawab Fatimah.
“Tapi mang kita kan lagi getol juga.” Kataku.
Fatimah wajahnya memerah kulihat dari kaca lemari di kamarku. Kemudian mendorong kepalku karena jengkel.
“Dasar mas ni, kalo ngomong iiig.” Serunya.
Aku hanya tersenyum melihat istriku begitu.
“Udah gentian bagian depan menghadap kesini sekarang !” pinta Fatimah.
Aku hanya mengikuti kata katanya dan berbalik menghadapnya, sengaja aku pandangi wajahnya lekat.
“Ngapain sih lihatin kayak gitu, kayak gak pernah lihat aja.” Kata Fatimah.
“Katanya suruh berbalik, ya jadinya pas wajahku memandang wajahmu. Masak mau mandang selain wajah ?” kataku.
“Iya tapi gak usah gitu juga kali lihatnya.” Kata Fatimah sambil mengurut jidatku di atas mata kesamping.
Terasa sedikit demi sedikit rasa pusingku mulai berkurang, dan lama lama menghilang.
“Udah enakan mas ?” Tanya Fatimah.
“Udah makasih banyak ya sayang.” Ucapku.
“Makasih doing nih ?” goda Fatimah.
“Lah mang harus bayar, kayak pijit dip anti pijat saja.” Balasku.
“Gak pernah lah Cuma lihat saja, kata orang orang gitu.” Kataku.
“udah ah, gak usah dilanjutin pernah juga terserah kan dulu.” Kata Fatimah memancing.
“Gak kalo yang itu aku gak pernah beneran kok.” Jawabku.
“Iya iya, sensi amat mas Fatimah juga Cuma bercanda aja kok.” Ucap Fatimah.
“Eeh gimana kandungan kamu sekarang gak ada keluhan kan ?” tanyaku pada Fatimah.
“Adam as.” Jawab Fatimah.
“Apaan kendalanya ?” tanyaku Khawatir.
“Pingin sekali sekali kamu yang bawa anak ini, bentar saja deh biar Fatimah istirahat bentar saja.” Kata istriku sambil tertawa.
“Hehehe kalo itu sih aku gak bisa bantu Fat, nyerah saja kalo itu.” jawabku.
“Makanya mas, tolong hargai wanita wanita itu membawa anak sekitar Sembilan bulan tanpa berhenti. Jadi jangan pernah sakiti istrimu dan wanita lain.” Ucap Fatimah serius.
Meski awalnya bercanda tapi ternyata ucapan Fatimah itu bermaksut menyadarkan betapa pentingnya menghargai wanita. Pasti ini ada hubunganya dengan kasusnya Khotimah dengan Fanani. Fatimah inginkan yang terbaik untuk Khotimh adik sepupunya.
Meski tanpa diminta pun aku akan tetap menjaga Khotimah dan memberika yang terbaik untuk Khotimah.
“Iya sayang, kau tahu kok kan aku juga sangat menyayangi kamu dan menghormati wanita juga.” Jawabku.
“Iya sih mas, maksut Fatimah sampaikan itu pada yang lain mas. Agar mereka menghargai wanita, jangan hanya jadikan mereka budak saja.” Kata istriku.
Setelah aku merasakan lebih segar aku ajak Fatimah keruang tamu sambil nunggu waktu asar yang hampir tiba.
Begitu keluar kamar berpapasan dengan isti yang barusan berjalan dari ruang tamu.
“Eeh mas Yasin, udah pulang ?” Tanya isti.
“Udah dari tadi tapi terus minta dipijit Fatimah tadi agak pusing.” Jawabku.
“Pakai ditotok dulu gak ?” goda Isti.
Spontan aku jadi malu karena Isti tahu kami punya cerita.
“Aah kamu ini, kepo aja urusan orang makanya cepet nikah aja biar gak kepo.” Jawabku.
Isti hanya senyum senyum saja mendengar jawabanku, kemudian Fatimah muncul.
“Hayo ngapain kalian, ada istrinya juga masih merayu Isti yam as Yasin.” Goda Fatimah.
“Gak kok, Isti yang mulai duluan.” Jawabku.
“Apaan sih, kalian ini bikin Isti gak enak hati aja.” Sungut Isti.
__ADS_1
 “Bercanda Is, aku juga gak suka sama kamu.” Candaku.
“Ya jangan gitu juga kali mas ngomongnya sama Isti.” Protes Fatimah.
“Loh maksutnya gak suka seperti sukanya sama kamu suka sebagi saudara aja Fat.” Kilahku.
“Dasar kamu mas dari dulu gak bosen bosenn iseng sama orang.” Jawab isti.
“Biar suasana gak tegang Is, menghadapi masalah begini harus diselingi candaan.” Kataku.
“iya mas, Isti juga tahu kok.” Jawab isti.
“Yaudah kita lanjutkan obrolan dirung tamu yuk !” ajakku pada Fatimah dan Isti.
Kemudian kami bersama keruang tamu membahas besuk akan kedatangan tamu Winda istri fanani dan Ayahnya untuk melanjutkan proses mediasi.
Kemudian aku menceritakan jalanya sidang dirumah ayahnya Winda.
“Jadi sempat ribut juga ya mas disana ?” Tanya Isti.
“Aku sih gak, hanya Ardian yang malah jadi emosi ketika aku dituduh melakukan ini demi uang.” Kataku.
“Tumben mas gak marah dibilang begitu !” ucap Fatimah.
“Iya lah, kan aku sudah belajar sabar dan kupikir ada unsure salahnya Fanani juga kok mereka samapi marah begitu. Kemudian berprasangka buruk kepadaku. Dan itu hanya om nya Winda saja, Winda dan Ayahnya gak berpikir begitu.” Jawabku.
“Berarti besuk masih ada kemungkinan mereka rujuk kan mas ?” Tanya Isti.
“Insya Allah, yang jelas Winda sendiri masih mencintai Fanani dan hanya berharap Fanani berubah. Tampaknya tadi WInda juga menutupi jika Fanani pernah kepergok lagi mau selingkuh. Dan tidak diungkap saat musyawarah tadi. Jadi kesimpulanku Winda masih berharap bisa kembali kepada Faani.” Kataku menjelaskan.
Dengan keteranganku itu mereka akhirnya sedikit lega. Minimal jika Fanani bisa rujuk dengan Winda maka urusan Khotimah bisa dianggap selesai tinggal menunggu pinangan Candra.
Saat sedang melakukan musyawarah kecil tiba tiba kedatangan tamu pak Lurah yang datang bersama stafnya. Hal itu cukup megejutkan aku dan lainya, ada apakah pak Lurah datang kerumahku.
Belum juga kelar satu maslah masak iya akan ditanbahi masalah lain lagi, pikirku.
Setelah kami persilahkan duduk dan Fatimah dan isti mundur aku menyambut pak Lurah dengan sapaan umum.
“Apa kabar pak lurah, kok tumben mau datang di gubuk saya. Apa ada perintah bagi saya ?” tanyaku pada pak Lurah.
“Alhamdulillah kabar baik, mas Yasin sendiri gimana kabarnya ?” Tanya balik pak lurah.
“Alhamdulillah pak, saya juga baik baik saja pak. Sejauh ini masih aman aman saja kok.” Jawabku. Karena paklurah juga mengikuti perjalanan kasus yang sedang menimpa aku. Dan menghadiri saat aku sedang disidang para tetua kampong waktu itu.
“Begini mas yasin, saya mendengar dari warga kampong sebelah. Katanya terjadi miss antara warga sana dan ponakan mas Yasin. Nah tujuan kami kesini tidak lain ingin mendamaikan agar jangan sampai kasus ini dibawa ke ranah hukum.” Kata pak Lurah.
“Owh itu, lah apa yang mereka sampaikan pak sehingga pak lurah arus repot repot daatang kemari ?” tanyaku pada Pak Lurah.
“Intinya mereka meminta saya sebagai Lurah untuk menjadi penengah saja, karena katanya kemarin sudah ada musyawarah tapi masih belum ada keputusan. Jad saya dimintai tolong untuk ikut menyelesaikan.” Jawab pak Lurah.
“Saya pribadi tidak keberatan kalo soal mau damainya pak. Hanya saja saya tidak setuju dengan tradisi mereka yang suka main tangan pada orang orang yang lemah dan tidak berani. Makanya saya memposisikan diri sebagai orang yang berani agar mereka berpikir bahwa tidak semua orang itu bisa diperlakukan seenaknya. Dan sekaligus member peringatan bahwa selama ini tindakan mereka yang selalu begitu itu adalah salah.” Jawabku pada pak lurah.
“Saya harap mas Yasin dan keluarga Rendy yang lain bisa bersabar, biar masalah ini cepat selesai.” Kata pak Lurah.
“Saya setuju pak untuk bersabar, namun dalam hal ini saya rasa tidak cukup bersabar saja. Namun juga harus memakai ketagasan, kalo tidak mereka akan selalu seperti itu. suatu saat mungkin juga akan terulang dan berganti korban saja.” Jawabku pada pak Lurah.
“Maksutnya butuh ketegasan bagaimana mas ?” Tanya Pak Lurah.
“Jangan hanya korban yang dinasehati untuk bersabar tapi para pelaku juga harus dikasih peringatan keras pak.” Jawabku ke pak Lurah.
“Bukanya kemarin mas Yasin sudah member peringatan bahkan katanya ancaman juga ke mereka ?” kata pak lurah.
“Itu kan saya pak, dari pihak pemerintah Desa harusnya yang menegur. Kalo hanya saya mereka hanya tidak akan mengganggu keluarga dan orang orang yang saya kenal. Tapi ke orang ain mereka akan mungkin tetap berbuat sama. Kalo saat ini mereka memang baru berpikir, tapi saat kejadian apa mereka berpikir pak. Kalo saya tidak bersikap tegas dan berani mungkin mereka akan berpikiran cukup dengan kata maaf jika nanti mereka berbuat hal yang sama lagi. Itupun kalo saya gak bilang sebagai bekas orang jalanan, kalo kalian menyenggol saya akan balas memukul. Mungkin mereka tidak akan jera pak.” Jawabku panjang lebar.
“Peringatan seperti apa mas, saya enggan dengan warga sana yang agak bar bar.” Kata pak Lurah.
“Kalo Pak Lurah Takut, apa perlu saya yang member peringatan dengan cara sendiri ?” tanyaku.
Pak Lurah tampak ragu ragu untuk menjawab, mungkin ingat ketika aku disidang tetua kampong dulu dan tahu bagaimana aku memgang prinsip.
**********@@@*****……?????  Â
Â
Â
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1