
Akhir episode sebelumnya
Bentar Ini ada telpun barang kali penting atas namanya Sidiq profilenya anak kecil lucu.
Aku terkesiap kaget.
...................
Aku yg masih lunglai terkesiap kaget, menerima Hp Dari tangan Fatimah istri tercintaku itu
" Assalaamu 'alaikum...
Maaf lama angkatnya, masih tidur tadi. Ini juga dibangunin Istriku, dibilang ada tlpun terus bangun.
" Owh ya maaf, nanti saja kalo sudah gak cape sy telpun lagi
Assalaamu 'alaikum. "
Klik hp dututup sebelum kujawab salam
Syukurlah Arum tanggap.
Meski sebenarnya aku merasa berdosa, tapi tak ada yg dapat aku lakukan.
" Mas kok gak sopan bicara angkat tlp gitu,, gak kasih kesempatan ngomong ? ! "
" Iya maaf, mas masih lemes banget.
Khotimah udah berangkt kerja ? " tanyaku
" Udah " jawbnya singkat.
Mungkin masih dongkol dengan sikapku tadi waktu bicara di tlp dengan Arum.
" Kamu juga cape kan say, istirahat dulu yuk...! " kataku.
Fatimah gak jawab tapi ikut rebahan di ranjang juga. Hanya pandanganya lurus ke atas, masih marah pikirku.
Yaudah tak biarin dulu, aja sampai marahnya reda.
" kamu kenapa sayang, kok cemberut tiba tiba ? " Aku membuka pembicaraan.
" Harusnya Fatimah yg nanya mas, kenapa masku yg biasanya baik sama semua orang. Tadi terima telpun ketus begitu. Apa diantara mas dan dia ada masalah ? " Fatimah memberondongku dengan pertanyaan.
" Maksut sayang ketus gimana ? Aku kan cuma bilang lagi cape aja ? " kilahku.
" Mas,... kita ini sudah syah suami istri. Gak perlu kita sembunyikan sesuatu. Fatimah tahu suamiku itu spt apa, kelebihanya apa kekuranganya apa ? " katanya.
" Maksutnya gimana Say... mas gak faham ? " tanyaku.
" Saat mas bicara jujur, Fatimah tahu. Saat mas bohong Fatimah tahu.
Saat mas menyembunyikan sesuatu, Fatimah pun Fatimah merasakan.
Meski Fatimah belum tahu itu apa. Fatimah yakin, mas masih merahasiakan sesuatu !" Cobalah bicara terbuka mas !? " kata Fatimah.
Aku terdiam sejenak, baru kusadari sekarang. Istriku perasaanya sangat peka sangat perasa. Mampukah aku menyembunyikan status Sidiq ? Meski hanya sementara waktu. Sampai istriku melahirkan.
Sungguh dilematis.
Aku jujur Kemungkinan hati istriku terluka.
Aku tutupi berarti aku pengecut atau pecundang.
Tak terasa, air mataku hampir mengalir. Untung cepat kusadari dan kuseka.
Namun terlambat, hal itu sudah dilihat Fatimah.
" Mas nangis ? " tanya Fatimah.
" Gak cuma masih ngantuk aja mungkin, mataku jd berair...! " kataku bohong.
" Sampai kapan mas akan terus berbohong begini ? Fatimah tahu yg bohong dan yg jujur " katanya.
Aku benar benar terpojok oleh istriku.
" Apa yg kamu ketahui tentangku, dan apa yg kau curigai dariku. Mas gak akan berubah sikap. Semua aku lakukan demi kamu dan anak kita." kataku. mungkin itu kalimat ambigu memang.
" Fatimah percaya itu.
Fatimah hanya gak ingin seperti kemarin itu. Bilang gak papa tapi. " fatimah sambil terisak.
" Jangan pernah berpikir Fatimah bisa bahagia jika mas menempuh bahaya sendiri...! " ujar Fatimah.
Apa maksut Fatimah tak dapat kupahami.
" Kamu bicara apa mas gak ngerti maksutnya ? " tanyaku.
" Mas di jogja terancam bahaya kan ? " katanya.
" Gak lagi, sekarang sudah aman buat mas, tp belum buat Fatimah " jawabku.
"Yaudah, sementara ini Fatimah percaya tapi jgn ambil resiko sendirian mas ingat nanti Yuyut kesini " katanya.
"Ya istirahat dulu yuk, eh anaknya udah gede belum ya ? " kataku mengalihkan pembicaraan.
" Iih apaan sih, baru juga 2 bulan mas ! " jawab Fatimah.
.................
Apakah Fatimah curiga dengan telpun tadi ya..?
Bukankah chatnya sudah aku hapus semua. Dan dia gak pernah berani buka buka hpku...???
Aku jadi terpikir yg tidak tidak.
Apa yg diucapkan Fatimah tadi semua kalimat ambigu.
Seperti mencurigai sesuatu tapi mau tanya ragu ragu. Dirikupun demikian, mau jujur ragu ragu,entahlah...?
Kami tertidur, dengan membawa mimpi dan pikiran masing masing.
" Mas udah lewat dhuhur nih, jamaah yuk... ? " bisik Fatimah di telingaku.
" Hhemm apa ? " tanyaku.
" Udah hamir jam 1 siang, sholat yuk ! " jawab istriku.
" Masa sih ? gak denger suara adzan dr mushola ! " kataku.
" Iya tadi mas dibangunin pas adzan gak mau. Pules banget tidurnya ?! " kata Fatimah.
" Iya maaf sayang, selama di jogja kemarin kurang istirahat. Disini gak ada kerjaan mlh tidur dan makan mulu jd lemes ! " jawabku.
" Ngapain aja di jogja kemarin ? " tanya Fatimah.
" Banyak orderan bibit anggur dan durian, sampai lembur lembur " jawabku
" Banyak duit dong mas !? " tanya istriku
" Baru dp, plg nanti 3bln lagi kalo bibitnya sudah tumbuh. Buat tabungan anak kita ini " kataku sambil usap perut Fatimah.
" Udah sholat dulu, ntar keterusan...! " sergahnya
" Gak lah, pegel yg semalem juga belum hilang...! " kataku
" Halaaah tapi sukak kan.. ?! " kata Fatimah genit dan menggoda.
" Ayuk lah ambil wudhu " kataku sembari bangkit dari ranjang.
Setelah bersih bersih muka di kamar mandi. Kemudian ambil wudhu kami pun sholat berjamaah.
" Bentar lg bapak ibu pulang mas, Fatimah masak air buat bikin minum ya ! " pinta Fatimah.
" Sekalian masak, mas bantuin yuk, aku pingin masakin bapak ibu pepes ikan yg kita beli di pasar tadi " kataku.
" serius mas...?" tanya Fatimah.
" Dih kayak yg gak pernah nyicipin masakanku saja !?? " kataku
" Bukan gitu...!? " kata Fatimah
" Terus kenapa ? " tanyaku
" Gak papa sih, cuman di kampung ini gak ada suami bantu istri di dapur. Tar ada yg lihat gimana malu gak ? " terang Fatimah.
" Ngapain malu, kan bantuin istri sendiri, bukan istri orang lain ! " gurauku..
__ADS_1
" Yeee gak gitu juga mas !" jawab Fatimah
" Ya udah yuk.. ! " Kugandeng tangan Fatimah menuju ke dapur.
Aku bersihin ikan dan ku siapkan bumbu bumbunya.
" Say punya daun pisang gak ? " Tanyaku
" Ambil di kebun samping rumah tu banyak ! " kata Fatimah.
" Itu punya kita ? " tanyaku
" Ya iyalah, masa punya org lain Fatimah suruh ambil.! " ucapnya.
Aku jln ke kebun yg dimaksut, cukup luas kok di biarin saja. kataku dlm hatu.
Setelah ambil dua batang daun pisang kubawa pulang.
" Tolong cuciin daun pisangnya " pintaku
" Mas bisa masak pepes pasti diajarin Eis ya dulu.... ! ?" tanya Fatimah yg buatku kaget.
" Udah dong jgn sebut sebut dia, awas jgn sampai bapak ibu tahu, malu kan !!? " Seruku ke Fatimah.
" Iya iya... kan cuma nanya aja mas " jawab Fatimah senyum senyum
Berarti dia udah percaya, aku gak pernah mikirin Eis lagi. Tapi apakah dia akan percaya juga terhadap masa laluku dgn Arum, yg sudah menghasilkan anak. Sidiq....!?!
" Heeh ingat masa lalu ya, kok jd bengong. Ni daun pisangnya udah dicuci " katanya agak sewot. ( masih ada rasa cemburu mungkin )
" Gak kok... bukan inget masa lalu sayang. Cuma takut kamu sebut nama itu di depan bapak ibu. Udah tirisin dulu daunya, terus nanti ikanya dibungkus pakai daun pisang. ikanya sudah aku bumbuin tuh " kataku.
" Owh iya mas, kirain td trus inget masa lalu kok bengong " ucapnya.
" Gak lah... aku siapkan perapianya dulu buat mepes, dipepes diluar saja biar dapurnya gak kotor " kataku
"Terserah mas saja " kata Fatimah
Perapian sudah siap, kayu sudah jd arang.
" Aduh punya panggangan ikan gak ya ? " tanyaku
" Ada tu di rak piring mas, Bikin kopi gak ? " tanya Fatimah.
" Bikinin, seperti biasa nya ! " jawabku
" iya sudah tahu " jawabnya singkat
" Mas kopinya...! " Fatimah bawain kopi
" Taruh situ aja, bantuin kipasin nih, aku minum dulu ! " pintaku
" hihihi... coba ngaca dulu mas " Fatimah menertawakan aku.
Aku lihat wajahku dgn kamera hp, ya ampun penuh corengan hitam. Rupanya saat ngelap keringat, tangan bekas pegang arang kotor gak terasa. Kulihat tanganku memang penuh noda arang.
Wajah Fatimah kuolesi arang juga, biar sama.
" Diih kok Fatimah yg dijadiin sasaran, jahat iiih.." Kata Fatimah.
" Biar adil kan, hehehe...!? " gurauku.
" Hampir mateng nih, sudah keluar aroma harumnya " kataku
" Tandanya mateng gimana mas ? " Fatimah nanya. Memang soal masak malah lbh ahli aku dr istriku, hehehe.
" Nanti daun pisang yg luar udah hangus, Aroma harum keluar ikanya udah berubah warna " kataku
" Kan ikan nya gak kelihatan, terbungkus daun ? " katanya.
" Udah lihatin aja nanti...! " sergahku.
Saat lg berbincang, tiba tiba ibu mertua dateng.
" Dicari kemana mana gak ada, tahunya disini. Kaliyan ni lg apa ? kok muka kalian cemong cemong gitu....?? " ibu mertua menahan tawa.
" Bikin pepes ikan bu " kataku
" kok gak pakai presto saja, mlh mainan arang kayak anak kecil " kata ibu mertua.
.............
di meja makan
" Pak anak dan menantumu bikin pepes ikan nich " kata ibu mertua.
" Iya pak, suamiku jago masak loh ! " Fatimah menimpali.
" Aromanya sih enak nich... ini apa bu ? tanya bapak mertua.
" Tahu tu,,,, mantumu yg bikin ! " jawab ibu mertua.
" Owh itu saus pedes asem manis pak, rasa asemnya dr jeruk nipis, manisnya dr gula jawa " jawabku
" Hmm enak... Fatimah kalah masakanmu " kata bapak mertua.
" yee bapak banding bandingin gitu...!? " seru Fatimah.
" Bukan cuma komentar aja, belajar bikin pepes dimana nak ? " tanya bapak mertua.
" Eem belajar sendiri kok pak " jawabku tergagap
" Ehhemm masa sih mas belajar sendiri ? " timpal Fatimah.
Aku pelototin dan kakinya kutendang.
" Aduh... sakit mas " jerit Fatimah
" Ah kalian ini ada aja yg di ributin, udah makan aja. jangan ngobrol. Pepesnya sisain buat Yuyut dan Khotimah. Pasti yuyut seneng nih ! " kata ibu mertua.
Selesai makan bersama.
" Pak bu, itu kebun kenapa dibiarin gak terawat ? " tanyaku
" Mau buat apa ? lagian gak ada yg urusin " bapak mertua yg jawab.
" Buat pembibitan buah kan bisa itu pak. Tinggal di tawarkan online saja ! " kataku.
" Yg mau ngurusin siapa ? " ibu yg menjawab.
" Itu Khotimah, dr pd kerja ikut orang. biar diajarin Fatimah. Prospeknya bagus kok pak bu. Kedepanya bisa buat sentra buah kalo banyak yg nanam bisa jadi dusun wisata buah " terangku.
" iya juga sih, tapi Khotimah nya mau gak ? " kata bapak.
" Itu tugas Fatimah pak, ngasih tahu adiknya. " kataku.
" Kemarin udah tak bilangin, katanya mau. Tapi ingin lihat langsung caranya makanya pingin ikut ke jogja " kata Fatimah.
" Kelamaan.. besuk bawa sample yg dirumah aja, buat belajar. Selama kamu disini kan bisa ngajarin ! " jawabku
" Berarti nunggu mas besuk pas kesini lagi ? " tanya Fatimah.
" Gak perlu, kamu tlp Amir saja suruh kirim lewat paket. buat belajar dikit aja dulu. ! " kataku.
............
kedatanga yuyut dan nasehat yuyut
Selepas Isya' Yuyut datang bersama Khotimah. Setelah berbasa basi sebentar, Yuyut memintaku untuk rabahan dikamar mau diperiksa.
Dan jari tangan dan kakiku tak satupun luput dari cengkraman tanganya. Sakitnya gak ketulungan, ini nenek nenek kuat amat, batinku.
Sebentar Yuyut periksa kondisiku.
" Udah kamu dah pulih sekarang " kata yuyut. Semua jadi lega, terutama Fatimah tentunya.
" Ya makasih yut, tapi tadi sakit bgt dipegang yuyut !?! " kataku.
" Itu melancarkan peredaran darahmu " katanya.
" Owh gitu ya yut ? " kataku.
" Hmmm... apa bener kamu kemarin ketemu mbah tunjung ? " tanya Yuyut
" iya Yut " jawabku.
Aku lantas disuruh menceritakan kronologis kejadianya.
__ADS_1
" Ya ya... Gak disangka...?!?" gumam Yuyut.
" Ada apa yut ? " tanya ibu mertuaku.
" Anak dan menantumu, diawal akan banyak cobaan. Tapi jangan khawatir, semua itu akan berakhir baik...! "
" Cobaan apa yut ? " tanya Fatimah cemas.
" Kamu sabar aja, apapun yg terjadi. Kamu dan suamimu harus akur. "
" Iya yut..." jawab Fatimah singkat
Aku yg jd berpikir macem macem.
" Dan kamu cucu mantu, kamu harus lurus jln kedepan. jgn mundur kebelakang. Kamu harus paham ini, perpaduan darah yg ada padamu harus terjaga. jika tidak bisa berbahaya.
Yang sudah berlalu ya sudah, kamu harus tahu itu. Hari itu cuman dibagi tiga.
Kemarin \= masa lalu
Hari ini \= yg kamu jalani
Besuk \= Masa depanmu.
yang kamu alami sekarang adalah hasil masa lalumu, yang kamu lakukan sekarang adalah tanaman untuk masa depanmu..." nasehat Yuyut untukku.
Yuyut memberi nasehat padaku panjang lebar. Sampai ibu mertuaku memotong
" Udah Yut, Yuyut sama Khotimah makan malam dulu. Tadi Fatimah dan suaminya siapin masakan Istimewa buat kalian !" kata ibu mertuaku.
" Beneran mas mbak ? " Khotimah yg menyahut.
" Gak bukan buat kamu, tapi buat Yuyut, hihihi..." kataku.
" Yeee mas nih... nyebelin " gerutu Khotimah membuat yg lain tertawa.
Setelah makan malam
" Say bilangin tu Khotimah biar bisa buka usaha sendiri. Sama Amir kirin alamat biar di paketin. Mumpung aku masih disini, nanti tak ajarin grafting juga ! " Seruku pada Fatimah.
" iya udah tak wa Amir, besuk mau kirim paketnya " jawab Fatimah.
" Paket apa mbak Fatim ? " tanya khotimah.
" Batang anggur, buat belajar kamu " kata Fatimah.
" Asik nih, bisa bikin kebun anggur ! " ujar Khotimah.
" Asal Khotimah serius pasti bisa " kataku
" Iya mas, Khotimah mau serius. kebetulan ada lahan orang tua yg masih belum di tanami " katanya semangat.
" Kok gak bilang kamu sayang ? " tanyaku pada Fatimah.
" Fatimah kan gak tahu juga, kita kan lama di pesantren mas, pulang juga setahun sekali. Mana Fatimah tahu " jawabnya.
" Owh iya ya, mas lupa, hihihi " kataku
................
Beberapa hari aku dirumah mertua, tidak ada berita penting dari Amir maupun pak Yadi.
Hal itu aku gunakan untuk menata kebun, dan ngajari Khotimah. juga aku sempatkan mancing berdua dgn Fatimah.
Sampai suatu hari saat sedang santai dengan Fatimah dan khotimah. Sambil lihat hasil grafting Anggur.
" Lumayan bagus, hasil pertama kamu sudah bisa tumbuh 40%. Itu sudah bagus. Kamu ada bakat, biasanya pertama itu tingkat hidupnya hanya 20% Selamat ya Khot. tinggal ketekunanmu saja. " kataku.
" Siap mas..." jawabnya bangga.
drrrt drrrt drrrt...
Hp ku bergetar.
Pak Yadi Telpun
"Assalaamu 'alaikum pak Yadi...
" Wa ' alaikummussalaam pak..
Masih ditempat mertua ya pak ? "
" Iya pak, masih...
Sekalian ngerjain kebun buat pembibitan buah ini pak.
Mumpung yg dirumah sudah ada Amir dan Heri "
" Sibuk banget gak pak ? "
" Nggak pak, ini baru nyantai ngobrol sama istri dan sepupu kami "
" Tidak mengganggu kan pak ? "
" Owh tidak pak
Ada apa ya pak ? "
"Ini pak, masalah kasus yg kemarin.
Sidangnya Rofiq akan digelar dua hari lagi. bapak diminta hadir.
" Owh Iya pak, segera saya berangkat ke jogja. "
" Ok pak terimakasih, saya tunggu ya
pak.
" Siap pak
Ada yg Lain lagi Pak ? "
" Iya pak
Kasus yg mistis semakin meluas pak.
Warga banyak yg ketakutan.
Banyak yg cari bapak, minta bantuan.
" Owh gitu ya pak...?
Baik saya segera pulang pak ! "
" Satu hal lagi pak
Rofiq suka ngamuk di penjara, sebut sebut nama panggilan bapak.
" Sebut sebut nama panggilan saya yg dulu ?! "
" Iya pak
kalo udah gitu sulit di kendalikan. untung ada adiknya yg jenguk dan menenagkan dia.
" ok pak besuk saya coba lihat kondisinya, di Polda ya pak ?"
" Iya pak
Ya begitu dulu pak, saya tunggu kepulanganya ke jogja.
" Assalaamu ' alaikum....! "
" Wa ' alaikummussalaam..."
...klick...
Telpun di tutup.
Aku bilang ke Fatimah mau pulang saat itu juga mumpung masih pagi.
" Sayang mas harus balik ke jogja sekarang, banyak masalah yang harus mas selesaikan " Kataku
" Tidak boleh...." jawab Fatimah
..............
...bersambung...
__ADS_1