
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Pantas kamu begitu sempurna bagiku, kayak lagunya Andra And the back bone.” Gurauku pada Fatimah meskipun aku mengakui sebagai ungkapan jujur hatiku.
“IIch mas ngegombal terus sih ? Fatimah sampai melayang nih ?” kata Fatimah.
Aku yang gemas dengan Fatimah Istriku langsung memeluknya dan membisikan lembut di telinga.
“Mas juga mali mengatakan ini Fat, tapi jujur kamu adalah istri yang sempurna bagiku, mas gak ngegombal ataupun merayu atau membohongimu, Itu ungkapan jujur dari dalam lubuk hatiku sayang.” Kataku sambil menyumbunyikan wajahku disamping Fatimah.
Fatimah lantas memandang wajahku dengan tatapan mesranya.
“Maass…..!??”
*****
Episode ini
Â
“Kenapa lagi, aku jujur kok memang itu yang aku rasakan.” Jawabku.
“Bukan itu, Fatimah percaya kok mas Jujur.” Kata Fatimah.
“Terus kenapa ?” tanyaku pada Fatimah.
“Malu mau bilang ?” jawab Fatimah.
“Malu kenapa sama suaminya kok malu, kan aku udah tahu luar dalamnya Fat.” Godaku.
“Yee bukan itu kali mas, maksut Fatimah mau ngomong tapi ragu ragu nih. Takutnya mas gak berkenan, terus jadi ngambek.” Ucap Fatimah.
“Kalo kamu gak jadi ngomong juga mas Ngambek kok.” Jawabku pura pura ketus.
“Fatimah pingin sekali kali main kepantai, kalo bisa sebelum lahiran.” Kata Fatimah.
Deg…. Aku baru Sadar selama Fatimah jadi istriku belum pernah sekalipun kuajak jalan jalan. Aku jadi merasa bersalah, tapi bagaimana dengan kondisi sekarang yang seperti ini,pikirku.
“Owh iya maafkan mas ya, selama jadi istriku kamu belum pernah sekalipun kuajak jalan jalan.” Jawabku.
“Gak papa sih mas, Fatimah maklum kok sadar sepenuhnya karena saat kita sudah merasa saling mencintai justru muncul banyak masalah. Tapi entahlah saat ini rasanya pingin banget pergi ke pantai.” Kata Fatimah.
“Seandainya kondisi tidak demikian mungkin besukpun aku siap mengantarmu, tapi saat ini baru begini. Lagian kamu pingin ke pantai juga pas kondisi seperti ini sih ?” jawabku.
“Gak tahu juga mas, tapi gak harus kok kalo memang tidak memungkinkan.” Kata Fatimah meski terlihat agak kecewa.
“Memang kenapa kamu tiba tiba pingin ke pantai ?” tanyaku.
“Gak papa sih, Cuma pingin lihat ombak dan nyentuh air laut saja. Fatimah pingin kita jalan jalan dipantai melihat dan dilihat orang. Kayak orang pacaran mas, tapi jangan di ketawain ya !!!” kata Fatimah.
“Owh itu, dengan kondisi perutmu besar begitu apa kamu gak merasa repot nanti ?” tanyaku pada Fatimah.
“Memang ada bedanya dirumah dengan dipantai kan sama sama perut Fatimah besar juga mas ?” jawab Fatimah agak maksa.
“Ya gak sih, cuman aku kasihan kalo kamu harus jalan dipantai dengan perut besar begitu. Kan masuk kepantainya juga harus jalan kaki ?” jawabku.
“Kalo Fatimah cape mas mau gak gendong Fatimah ?” kata Fatimah.
Aku jadi merasa aneh dengan keinginan Fatimah, apakah ini permintaan bayi dalam kandunganya. Tapi bukankah usia kandungaya sudah melewati masa ngidam, pikirku.
__ADS_1
Aah ada ada saja permintaan Fatimah ini, aku harus berpikir keras untuk memenuhi permintaan Fatimah istriku. Diluar itu permintaan bayi atau bukan, aku memang merasa bersalah belum pernah mengajaknya jalan jalan.
Bahkan selama jadi istriku belum pernah melakukan sesuatu yang khusus buat menyenangkan dia. Aku baru sadar jika aku ternyata egois terhadap istriku. Hanya sibuk urusan lain dan untuk diriku sendiri saja. Tanpa memikirkan cara untuk membuatnya senang, kenapa ya aku baru menyadari sekarang.
Memang sih, awal nikah dulu begitu tanpa ada rasa saling mencintai. Tapi saat sudah saling mencintaipun itu gak terpikirkan olehku. Kalo hanya belum terlaksana sih mending, ini malah terpikir saja gak pernah….!!!
“Iya kalo perlu aku gendong keliling pantai sepuas kamu nanti.” Jawabku.
“Mas Fatimah serius nih, jangan bercanda begitu ah.” Jawab Fatimah.
“Mas juga serius Fatimah gak bercanda, apa perlu aku buktikan sekarang ? Minta digendong kemana ?” jawabku.
“Gak gitu juga kali mas, Fatimah hanya pingin merasakan romantisme berdua saat diluar rumaah, jujur saja Fatimah pingin memperlihatkan pada diri sendiri dan orang lain, ini lo suami Fatimaah yang sangat sayang sama Fatimah.” Kata Fatimah.
Aku hampir tak bisa menahan tawaku mendengar ucapan Fatimah yang ku anggap lucu.
“Untuk apa seperti itu sayang, bukankah aku sayang kamu cukup kamu yang merasakan gak perlu orang lain tahu.” Jawabku pada Fatimah.
“Wanita gak begitu mas, wanita akan bangga jika orang lain tahu suaminya sangat menyayangi dan mencintai. Memang sih agak agak pamer, tapi itulah wanita mas.” Kata Fatimah.
“Bukankah semua isi rumah ini sudah tahu semua kalo aku sangat menyayangi dan mencintai kamu. Bahkan ada tetangga yang sampai iri pada kita ?” jawabku.
“Beda mas, Fatimah maunya didepan umum kita kelihatan saling mencintai apalagi tahu pas aku hamil begini mas masih mau memperlihatkan kasih sayang didepan umum. Fatimah bangga banget pasti mas.” Kata Fatimah.
Aku jadi bingung dengan kemauan istriku itu, apakah semua wanita begini. Ataukah hanya istriku saja yang begini, gak ngerti juga aku. Tapi yang jelas aku pigin bahagiakan Fatimah istriku ini, hanya memikirkan bagaimana caranya.
“Iya deh aku usahakan bisa mengajakmu kepantai sebelum kamu melahirkan. Akan kutunjukkan pada dunia betapa suamimu ini sangat menyangi dan mencintai kamu.” Jawabku sambil senyum.
“Aaah mas gitu ah, Fatimah serius juga…!” jawab istriku sewot.
“Lah aku juga serius, jika kamu memang pingin orang lihat kita adalah pasangan yang bahagia akan aku tunjukkan bahwa kita adalah pasangan yng serasi bahagia saling mencintai dan menyayangi.” Kataku.
“Serius gak ni mas ?” Tanya Fatimah istriku.
“Serius lah, jujur aku merasa bersalah padamu belum pernah mengajakmu jalan jalan, belum pernah membuatmu senang, belum pernah kasih kejutan dan lain lain. He he he mas baru nyadar selama ini mas egois.” Jawabku.
“Gak kok mas, Fatimah gak bilang gitu.” Kata Fatimah.
“Iya, aku sendiri yang merasa Fat.” Kataku.
Seperti sebelumnya seusai subuh dilanjutkan seaman alquran sampai dengan jam Sembilan pagi.
Setelah itu aku dipanggil Yuyut ke kamarnya, entah kenapa aku masih saja ketakutan tiap kali dipanggil yuyut. Rasanya seperti akan diadili terus ketika Yuyut memnggilku, namun aku juga gak mungkin menolak atau mengabaikan panggilan Yuyut.
Dengan hati berdebar aku masuk ke kamar yuyut, ternyata ada ibu mertua disitu. Aku jaddi sedikit lega, berharap ada yang membantuku jika Yuyut memarahiku.
“Duduk di kursi itu !” perintah Yuyut datar. Tumben gak bentak aku,batinku.
“Iya yut, ada apa Yut ?” tanyaku.
“Yuyut mau tahu, apakah benar kakek kamu dulu meninggal dibunuh orang ?” Tanya Yuyut.
“Menurut cerita begitu Yut, karena saya juga belum lahir ketika peristiwa itu.” jawabku hati hati takut salah ucap tongkat melayang.
“Hmm… kamu perlu tahu, jika Jafar Sanjaya memang punya watak yang keras. Wajar jika musuhnya banyak. Beda dengan Sidiq Ali yang lebih bisa bersabar dan pandai strategi.” Kata Yuyut.
“Owh begitu ya Yut. Saya malah baru tahu Yut.” Kataku hati hati dengan suara sedang. Kalo keras dikira membentak kalo pelan beliau tidak dengar.
“Kamu adalah perpauan darah dari Sidiq Ali dan Jafar Sanjaya, tapi yuyut lihat darah Jafar Sanjaya lebih kental mengalir di darahmu. Meski darah Sidiq Ali juga mengalir di daarahmu.” Kata Yuyut.
“Maksutnya bagaimana Yut, saya gak Faham ?” tanyaku pada Yuyut.
“Sisi lemahmu sama dengan Jafar Sanjaya, emosimu lebih dominan jika marah. Itulah yang menyebabkan Jafar Sanjaya dulu banyak musuh, sehingga ditikam dari belakang saat sedang dimasjid.” Kata Yuyut.
“Apakah Yuyut tahu siapa yang melakukanya ?” tanyaku.
“Baru juga dibilang, emosimu sudah keluar padahal kalo kamu tahu pelakunya juga mau apa. Orangnya juga sudah meninggal sekarang.” Ucap Yuyut.
Aku baru sadar ternyata aku memang temperamental, mudah marah dan kadang kurang perhitungan.
“Iya Yut, maafkan saya Yut.” Kataku.
__ADS_1
“Yuyut minta kamu harus lebih bersabar sekarang, yuyut tidak mau kamu bernasip seperti Jafar Sanjaya. Yuyut gak mau cucuku Fatimah cepat menjadi janda.” Ucap Yuyut.
“Dengerin itu nak, ibu juga khawaatir kalo kamu masih emosian begitu. Mengalahlah sedikit jika hanya soal sepele, jangan membahayakan diri hanya karena hal sepele.” Tambah ibu mertuaku.
“Injih bu, saya akan lebih menahan diri sekarang.” Jawabku.
“Meski Yuyut bukan nenek kamu asli, tapi yuyut sudah anggap kamu cucu sejak pertama kali melihatmu. Karena ada cirri keturunan Sidiq Ali diwajahmu. Bentuk hidung yang kamu miliki serta sorot matamu punya Sidiq Ali. Namun Yuyut agak heran padamu ?” kata Yuyut.
“Heran kenapa Yut ?” tanyaku penasaran.
Yuyut tampak diam sejenak, seperti ragu ragu mau mengatakan sesuatu.
“Kamu mempunyaai tanda khas juga dari Jafar Sanjaya.” Kata Yuyut.
“Owh itu Yut, yak an memang saya cucu dari Kakek Jafar juga yut. Kakek dari ibu kandungku.” jawabku
“Bukan tanda fisik yang Yuyut maksutkan, tapi tanda itu berupa aura yang tidak semua orang bisa melihtnya.” Kata yuyut.
“Tanda seperti apa Yut.” Tanyaku pada Yuyut.
“Tanda itu memang bisa hilang namun saratnya juga berat.” Kata Yuyut yang tidak menjawab pertanyaanku.
“Buat apa dihilangi Yut, kalo itu justru bisa menjadi cirri saya juga keturunan kekek Jafar.” Tanyaku pada Yuyut.
“Kamu gak faham juga, apa yuyut harus bicara secara gambling ?” kata Yuyut.
“Iya Yut, biar saya juga gak bingung.” Jawabku.
“Sebenarnya itu bukan tanda lahir, tapi itu tanda kiriman orang yang akan berbuat jahat kepadamu. Dan menginginkan kematianmu, kamu boleh percaya boleh tidak. Beberapa saat sebelum kakekmu Jafar Sanjaya dibunuh dia memiliki tanda yang sekarang ada pada dirimu.” Kata Yuyut.
“Sejak kapan Yut tanda itu ada padaku Yut.” Tanyaku pada Yuyut.
“Persisnya tidak tahu, tapi aku lihat baru semalam saat kamu mengelurkan tenaga untuk memecah batu tanda itu baru Nampak padamu. Sebelumnya tidak ada, Yuyut mau bilang semalam tapi kasihan istrimu pasti panik. Jadi yuyut tahan dulu, dan bicara dulu sama ibu kamu.” Kata Yuyut.
“Maaf Yut, bukan saya gak percaya tapi saya hanya bisa pasrah jika hal itu terjadi kepada saya.” Jawabku pada Yuyut.
“Bukan pasrah begitu saja, tapi kamu harus Ikhtiar agar tanda itu hilang. Dan tanda itu harus dibuang degan sebuah proses ritual seperti bai’atnya thoriqoh tertentu yang cukup berat.” Jawab Yuyut.
“Apa itu yut, jika memang bisa diikhtiari saya sanggup Yut, meski berat.” Jawabku.
“Yakin kamu sanggup dengan saratnya ?” Tanya Yuyut.
“Iya Yut, saya sanggup apa Yut saratnya.” Jawabku mantap.
“Mala mini kamu Yuyut buang ke tengah laut, dan besuk kamu harus bisa kembali kepantai dimana kami menunggu kamu kemudian kamu harus ditimbun pasir sebatas leher dan yang melakukan harus istrimu. Barulah Yuyut bisa mengambil atau membuang tanda itu kelaut.” Kata Yuyut.
Aku memang pernah mendengar sebuah thoriqoh yang bai’atnya diceburkan kelaut oleh mursyidnya. Kemudiana ada juga yang ditimbun pasir, jadi aku gak begitu heran dengan keterangan Yuyut.
Yang membuat aku heran adalah, sesuai dengan keinginan Fatimah yang pingin mengajak Aku ke pantai.
Apakah semua ini ada hubungannya atau sebatas kebetulan saja ???Â
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...