
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Tak lama kemudian terdengar Adzan Subuh dan kami segera melaksanakan Sholat subuh berjamaah, dan aku segera tidur setelahnya karena jam 9sembilan siang nanti harus kembali berangkat ke markas Joyo Maruto dan menemukan jasada jasad korban kebiadadaban Joyo Maruto.
Aku merasa penasaran dan kasihan dengan jasad Rahman, aku harus menemukan secara komplit dan menyerahkan ke keluarganya. Juga termasuk korban korban anak perawan yang menjadi korban kebiadaban dan kekejian Joyo Maruto. Ingin rasanya Segera berhadapan dengan Joyo Maruto, untuk orang sekeji itu kalo aku terpaksa harus membunuhnya juga gak masalah Demi menyelamatkan banyak nyawa orang yang tak bersalah , batinku…???
*****
Aku tertidur karena rasa lelah dan mengantuk, bagaimanapun mata juga harus diberikan hak nya untuk beristirahat. Demikian tubuh yang lain harus diberikan hak untuk beristirahat sebagai kodrat manusia.
Manusia yang diberi kesempurnaan dibanding makhluk lain, diberi akal dan Nafsu, juga Iman untuk mengendalikan Nafsu dibantu akal untuk berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Gak cukup akal saja karena kadang akal tanpa iman maka akal yang akan dikendalikan Nafsu sehingga pikiranya selalu berdasarkan Nafsu semata. Sehingga dibutuhkan Iman untuk mengendalikan keduanya.
Aku dibangunkan Fatimah istriku saat pak Yadi datang menjemput aku dan Sena. Aku mohon ijin untuk mandi dulu menghilangkan lelah. Sementara Fatimah aku minta untuk menyediakan minum buat pak Yadi, sebagai bentuk penghormatan kepada Tamu.
Setelah aku selesai mandi kemudian gentian Sena yang mandi, sementara Aku menemani pak Yadi ngopi dulu.
“Diminum dulu pak kopinya ?”
“Owh iya pak makasih, bagaimana rencananya nanti pak ?” Tanya pak Yadi yang belum tahu jika Joyo Maruto sudah kabur dari markas.
Aku menunggu Sena untuk menjawab pertanyaan pak Yadi, agar bisa lebih lengkap dalam memberikan keterangan. Serta tidak dianggap mendahului pihak yang berwajib, karena malam itu kita sifatnya hanya bertahan. Karena jika tidak kita datangi mereka akan terus mengirimkan teluh dan Santet. Yang bisa saja membahayakan warga kampong lainya.
:Kita Nunggu Sena dulu pak, agar nanti kita bisa berbicara secara lengkap dan terinci semua hal yang sudah dan kemungkinan akan terjadi.” Jawabku.
“Owh iya pak, tapi apakah kita perlu membawa personil banyak tau kira kira butuh berapa orang yang dibutuhkan ?” Tanya pak Yadi.
Wah sama saja aku harus cerita juga, batinku. Untung Sena segera datang dan ikut bergabung dengan kami.
“Maaf ya pak nunggu saya kelamaan !” ucap Sena pada pak Yadi.
“Gak papa Mas Sena, mungkin saya yang terlalu pagi datangnya. Jadi mengganggu istirahatnya.” Jawab pak Yadi.
“Gak juga kok pak, hanya memang kita tadi tidurnya sudah habis subuh jadi bangunya agak kesiangan. Dan ini ada kaitanya dengan apa yang akan kita lakukan nanti.” Jawabku pada pak Yadi.
“Maksutnya Pak ?” Tanya pak Yadi.
“Jadi semalam kami mendapat serangan dari Joyo Maruto dan muridnya. Awalnya dengan serangan teluh kemudian kami mendapat tantangan untuk kesana. Karena kami berpikir jika tidak kami layani mereka akan melakukan serangan kepada masyarakat maka dengan terpaksa tantangan mereka kami layani dan kami datang ke markas mereka.” Kataku membuka pembicaraan.
“Kemudian apa yang terjadi di sana pak ?” Tanya Pak Yadi.
“Kami bertarung pak, Sena melawan Maheso Suro dan saya sendiri melawan Mento Rogo. Dan akhirnya Joyo Maruto kabur dengan ketiga muridnya.” Kataku lanjut.
“Berarti sekarang markas mereka kosong, kemudian kita jadi melakukan penggerebekan tidak pak ?” Tanya pak Yadi.
“Kita tetap berangkat kesana pak, namun tujuan kali ini adalah membongkar jejak jejak kejahatan Joyo Maruto. Karena ada indikasi bahwa Joyo Maruto melakukan ritual Sesat dan juga melakukan pembunuhan berantai dan terencana. Dan nanti kita akan menggali tanah untuk membongkar tempat tempat yang dicurigai menjadi tempat mengubur korban korban yang dijadikan tumbal oleh Joyo Maruto.” Jawabku pada pak Yadi.
“Innalillahi… sampai sejauh itukah pak kejahatan Joyo Maruto ?” Tanya pak Yadi.
“Kita buktikan nanti pak, dan mungkin nanti kita juga butuh catatan criminal orang hilang yang tidak di temukan. Terutama anak anak gadis pak.” Jawabku.
“Owh iya, apakah mungkin pak berita anak anak gadis yang hilang beberapa wakt lalu itu menjadi Korban joyo Maruto semuanya ?” Tanya pak Yadi.
“Kita lihat nanti pak saya belum berani menyimpulkan karena ini sifatnya baru Praduga belum ada bukti bukti yang valid.” Jawabku.
“Ok pak, kalo begitu apa kita bisa berangkat sekarang juga ?” tanya pak Yadi lagi/
“Bisa pak, tap kami biar berangkat sendiri saja bersama saudara sudara saya.” Jawabku.
“Boleh pak, kalo begitu saya berangkat duluan dan nanti jika ditemukan adanya mayat yang dikubur disana langsung saya hubungi tim forensic biar bisa melakukan identifikasi di lokasi sekaligus tes DNA nya.” Kata Pak Yadi.
“Boleh pak, dan nanti saya akan menyusul bertiga dengan kakak dan adik saya Sena.” Jawabku.
Kemudian pak Yadi berangkat duluan bersama teman teman sejawatnya dan aku menyusul beberapa waktu kemudian.
Aku menghampiri kang Tohari dan aku ajak berangkat ke Markas Joyo Maruto lagi.
“Kang bisa ikut ke markas Joyo Maruto lagi gak ?” tanyaku ke kang Tohari.
“”Aku gak bisa sekarang dan itu adalah pekerjaan Farhan dan Zulfan karena ada kemungkinan mendapat sapaan dari makhluk makhluk astral di tempat itu.
__ADS_1
 ucap kang Tohari.
“Baiklah biar semua saja ikut, Farhan dan Zulfan biar gak kerepotan nanti disana.” Kataku.
Kemudian akhirnya kami berangkat berempat, Aku, Sena Farhan dan Zulfan menyusul pak Yadi ke markas Joyo Maruto. Dan sesampai disana kami langsung membagi tugas setelah beberapa orang polisi melakukan penyisiran di markas tersebut dan mengatakan semua aman terkendali.
Kami berangkat sudah cukup siang, karena tadi ngobrolnya cukup lama. Sehingga samapi di tempat kami berhenti untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Ternyata rombongan pak Yadi masih menunggu kami disitu semuanya.
“Monggo pak panjenengan jalan duluan yang lebih hafal medan dan lebih faham dengan urusan supranatural.” Sapa pak yadi kepadaku.
“Iya pak, maaf terlambat lama gak saya ini pak ?” Tanyaku balik ke pak Yadi.
“Gak kok, kita juga belum lama nyampai tadi harus jemput personil dan sekaligus tim forensic juga ikut.” Jawab pak Yadi.
Kemudian kami menaiki bukit kecil dan berjalan kaki sekitar seratus meter kemudian menuruni bukit kecil itu menuju ke markas Joyo Maruto. Kemudian pak Yadi membagi tugas beberapa orang personil, ada yang mulai menggali tanah yang aku tunjukan dan ada pula yang menggeledah isi rumah Joyo Maruto tersebut.
“Hati hati banyak binatang berbisa yang sengaja di simpan sebagai jebakan dan sebagai sarana proses ritual pak.” Kataku pada pak Yadi.
Kemudian pak Yadi memberikan peringatan kepada semua personil agar berhati hati dan menggunakan sepatu boot yang tinggi untuk savety.
Setelah semua personil di gerakan aku berjalan menuju ke tempat bertarung semalam. Ingin membuktikan apakah yang aku gunakan untuk memukul Mento Rogo semalam Kayu atau Tulang, pikirku.
Aku berjalan di temani Sena dan Farhan, sementara Zulfan aku minta untuk membacakan doa dulu sebelum memulai proses penggalian mencari jenazah. Mohon pada sang maha Pencipta untuk diberi keselamatan dan dijauhkan dari mara bahaya serta gangguan dari semua makhluk.
Sampailah aku di lokasi semalam mengadakan pertempuran dengan murid murid Joyo Maruto.
Aku mengingat lokasi dimana aku menjebak Mento Rogo dan memukulnya. Sepertinya semalam tidak jauh dari pohon besar itu. iya dan di tumpukan daun kering yang sebagian berserakan itu, pikirku.
Kemudian aku melangkah kesana dan mengamati tempat itu yang sepertinya sering dipergunakan sebagai tempat pembakaran. Aku mengorek ngorek daun kering yang berserakan ditempat itu menggunakan ranting dibantu Sena dan Farhan juga.
Kemudian Mataku tertuju pada sebuah benda hitam memanjang yang tak jauh dari tempatku berdiri. Kemudian aku dekati dan aku jongkok untuk mengamati benda tersebut. Dan aku pegang, ternyata…
“Farhan….!” Panggilku pada Farhan.
“Ada apa mas.” Tanya Farhan ketika sudah dekat denganku.
“Apakah ini yang kamu maksut dengan tulang kaki manusia ?” tanyaku dengan Farhan.
Kemudian Farhan mengamati benda tersebut,diputer puter dan di bolak balik dan dipandang dari beberapa sisi.
“Coba mas lihat dari sisi dalam benda ini perhatikan apakah ini Tulang kaki atau kayu ?” Tanya Farhan.
“Masyaa  Allah, ini sih bukan tullang kaki tapi tulang kaki berikut dagingnya yang hangus terbakar tapi kok tidak membusuk Farhan ?” kataku pada Farhan.
“Yaudah bawa sekalian itu biar sekalian diperiksa.” Ucapku pada farhan kemudian kami berjalan menuju ke tempat pak Yadi. Dan menyerahkan benda itu untuk diperiksa tim forensic.
Kemudian pak Yadi pun menyerahkan benda itu kepada tim forensic untuk di periksa secara detail.
Sambil menunggu hasil aku menceritakan pengalaman spiritual yang terjadi semalam saat kami baru sampai di rumah. Ketika Fatimah istriku mengatakan seperti ada yang mengikuti dan berjumpanya Farhan dengan sosok Rahman yang menceritakan kronologis kejadian dia dibunuh oleh Mento Rogo dan kemudian di mutilasi. Samapi dengan cerita dia yang sebenarnya kesitu mencurigai kekasihnya yang akan menikah jadi korban pembunuhan sebagai Tumbal oleh Joyo maruto.
Pak Yadi mendengarkan dengan sangat serius, bahkan berkali kali sampai menghela nafas karena terkejut dengan pa yang dia dengar itu.
Namun obrolan kami terpaksa berhenti karena tim forensic sudah selesai memeriksa dan mendatangi kami.
“Maaf pak, dari hasil penelitian kami, ini memang kaki manusia dan tidak mengalami pembusukan pertama dagingnya terbakar hingga menjadi arang. Kemudian tempat itu sering dipergunakan atau bahkan mungkin tiap hari digunakan untuk perapian, sehingga tempat itu menjadi minim bakteri pembusuk sehingga kondisinya jadi seperti sekarang ini. dan ini jelas ada tukang kakinya yang tidak ikur terbakar. Menunjukkan ini korban mutilasi, dan potongan tubuh lainya belum di temukan.” Jelas anggota tim forensic tersebut.
Pantas semalam akau pegang tidak seperti tulang ternyata masih terbungkus daging yang sudah menjadi arang. Karena tiap hari dibakar dengan perapian kecil, batinku.
Namun belum hilang rasa heranku, ada yang berteriak.
“Kami menemukan satu buat mayat yang lehernya tergorok…!” ucap salah satu personil.
Kami pun mendekati lokasi penggalian, dengan menutup hidung kami karena aroma tak sedap sungguh sangat menyengat. Kemudian karena kondisi mayat yang sedang mengalami proses pembusukan itu, kemudian diangkat oleh tim khusus dan di masukan kedalam kantong mayat. Dan kan di autopsy di rumah sakit saja.
Disusul yang tim penggali berikutnya juga begitu bahkan dengan kondisi mayat yang jauh lebih mengerikan karena proses pembusukan nya sudah semakin parah. Bahkan sudah Nampak belatung yang menggeroti daging wajahnya. Hingga tak mungkin lagi mengenali wajah siapa itu. kecuali kenal dengan baju yang digunakanya.
Dan tim yang ketiga pun sama menemukan mayat seseorang yang kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi mayat yang ke dua. Bahkan daging pipinya sudah mulai habis sehingga tampak tulang rahang dan giginya.
Aktifitaspun aku minta untuk berhenti sejenak, karena terdengar tanda masuk sholat dhuhur dari kejauhan. Dan aku meminta ijin untuk melakukan sholat dhuhur dulu. Dan mengajak bagi yang menjalankan ibadah sholat. Kemudian beberapa orang mengikuti aku mencari sungai kecil untuk berwudhu. Dan kemudian melaksanakan sholat dhuhur.
Setelah selesai menjalankan sholat dhuhur kami beristirahat sejenak, satu orang di tugaskan untuk mencarikan makan siang dan minuman hangat, ada juga yang meminta minuman dingin dengan es.
“Ini kayaknya gak mungkin bisa selesai sehari ini pak Yadi.” Kataku pada pak Yadi.
”Kenapa pak ?” Tanya pak Yadi.
“Karena diperkirakan korban lebih dari tujuh, dan mungkin sebagian sudah berupa tulang belulang saja.” Kataku pada pak Yadi.
“Atau begini saja pak, hari ini kita selesai atau tidak selesai kita berhenti setelah Asar saja. Karena peralatan kita juga sangat terbatas dan kalo kemaleman ngeri juga di tempat ini.” jawab Pak Yadi.
“Baik lah pak nanti sampaikan saja kepada para personil dan tenaga pembantu yang menggali itu. jika jam empat sore kegiatan harus di hentikan semua. Karena itu juga demi keamanan dan keselamatan semuanya.” Kataku pada pak Yadi.
__ADS_1
Tiba tiba terdengar sebuah jeritan panjang seperti orang kesakitan.
“AAhhh toloooongg….!” Jerit seseorang dari dalam padepokan Joyo Maruto.
Kemudian kami mendekati dan memeriksa orang yang menjerit tersebut, ternyata kakinya di sengat beberapa kelabang saat dia terperosok kedalam lubang kecil yang penuh dengan kelabang.
“Udah bawa ke rumah sakit saja pak, sebelum semakin parah bengkaknya.” Kataku.
Kemudian orang itu dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan dan penanganan medis. Belum juga orang yang di sengat kelabang itu dibawa ke mobil ada lagi yang menjerit, ternyata kakinya di gigit seekor ular berbisa jenis elapidae yang mematikan.
Sehingga kaki orang itu harus diikat agar tidak melakukan gerakan (Imobilisasi ) dan segera dilarikan kerumah sakit bersama dengan orang yang disengat kelabang tersebut.
“Pak perintahkan semua keluar dari lokasi padepokan dulu. Karena di dalam padepokan penuh dengan jebakan binatang berbisa.” Kataku pada Pak Yadi.
Kemudian pak Yadi pun memerintahkan semuanya keluar dari bangunan padepokan Joyo Maruto tersebut.
“Lah terus bagaimana untuk besuk pak, jika di dalam rumah itu banyak jebakan binatang berbisa begitu ? “ Tanya Pak Yadi.
“Besuk usahakan bawa minyak tanah yang banyak pak, karena semua binatang itu takut dengan minyak tanah, biar mereka menyingkir saja dulu.” Jawabku,
“Perlu garam tidak pak ?” Tanya pak Yadi.
“Gak perlu pak, garam hanay untuk mengusir hewan berlendir seperti siput atau semacamnya. Untuk ular dan lainya gak ngaruh pak dikasih garam.” Kataku.
 Akhirnya setelah semua terkondisi dan kami sudah selesai makan siang maka pencarian korban pun segera dimulai. Untung saja tenag yang membantu tampaknya sudah terbiasa menjalankan tugas seperti ini.kalo tidak pasti gak doyan makan setelah melihat kondisi tiga jenasah yang ditemukan tadi, batinku.
Meski aku sendiri cukup mual saat mendekati tiga mayat tadi. Namun masih untung tidak harus memegang langsung karena aromanya bisa tiga hari belum  hilang, pikirku.
Ketika proses penggalian dilakukan lagi beberapa saat kemudian ada lagi yang berteriak teriak gak jelas.
Kemudian aku Sena,FArhan dan Zulfan segera mendekati orang tersebut.
“Ada apa ?” tanyaku pada petugas penggali tersebut.
“Maaf Pak saya gak sengaja mencangkul tengkorak manusia hingga terbelah.” Jawab orang itu.
“Yaudah kamu lanjutkan pelan pelan jika perlu jangan gunakan cangkul tap dengan alat lain yang tidak membahayakan terkena tengkorak manusia.” Kataku.
Kemudian orang itu dibantu temanya mengorek tanah yang menutupi tengkorak tersebut.
“Kayaknya gak mungkin dilanjut lagi pak. Karena peralatan yang kurang memadai dan tadi lupa gak di breafing dulu tatacara nya. Karena tempat ini masih sarat dengan suasana mistis.” Kataku.
“Apa kita hentikan sekarang saja pak ?” Tanya Pak Yadi.
Kita tunggu tengkorak yang sudah ketemu itu sampai terangkat dulu pak.” Jawabku ke pak Yadi.
Kami melanjutkan pembicaraan lagi seputar cerita mistis tadi malam. Namun baru saja kita mulai ngobrol sudah terdengar lagi jeritan sesorang yang kemudian kejang kejang. Cukup lama Farhan dan Zulfan memberikan pertolongan pad orang itu. Namun tiba tiba bertambah lagi orang  yang kerasukan sehingga menjadikan riuh dan gaduhnya suasana. Banyak teriakan dan jeritan gak jelas yang sungguh sangat mengganggu kami.
“Hentikan semua aktifitas, banyak khodam Joyo Maruto yang mengamuk karena merasa terganggu.” Tiba tiba Farhan berteriak.
“Baiknya ajak yang masih sadar pulang dulu pak yadi, yang sudah kerasukan kita sembuhkan dulu. Dan aktifitas kita lanjutkan besuk pagi dengan pengarahan dulu. Tampaknya tapi banyak yang melanggar  arahan kita sehingga jadi seperti ini.” kataku pada pak Yadi.
Kemudian pak yadi menyuruh seorang Anggota polisi  untuk memulangkan  personil tenaga bantuan yang masih sehat gak kerasukan. Soal kerangka yang belum terambil biarkan saja dulu, pikirku. Lebih baik menyelamatkan yang masih sehat dan menyembuhkan yang kerasukan lebih dahulu.
Karena yang kerasukan sikapnya sudah mengkhawatirkan bergeraknya sudah seperti Zombi yang berusaha mencekik siapa saja yang dihadapanya. Bahkan kepada sesame mereka yang kerasukan pun mereka saling serang dan saling cekik.
“Farhan kamu ajak Zulfan menepi  dan lantunkan doa doa dan bacakan surah Al Jin biar aku dan Sena yang mencoba menghadapi mereka.” Kataku pada Farhan.
“Iya mas…….!!!” Jawab Farhan.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...