Isyaroh

Isyaroh
Reaksi Fatimah


__ADS_3

Bagian akhir eisode lalu


Kalo ibu bilang, apa cintamu pada suamimu tidak akan berubah ? " tanya ibu mertua menegaskan Fatimah.


" Insya Allah tidak akan merubah cinta Fatimah ke mas Yasin bu !" ucap Fatimah mantap.


Tapi apakah akan tetap begitu setelah tahu semuanya. Apkah justru akan berubah jadi membenciku. Aku terpaku diam, berharap semua baik baik saja.


Kulirik ibu mertuaku pun agak ragu mengatakan. Bahkan air mata hampir menetes di pipinya.


" Ibu kok malah nangis sih ?" tanya Fatimah. Sementara Khotimah ikut tegang.


" Baiklah ibu akan berbicara sekarang....!" seru ibu mertuaku.


" Begini Fatimah....! Sebelumnya ibu minta kamu tetap harus bersabar. Apapun nanti yg ibu katakan, kuharap kamu tetap sabar. Memang ibu menyerahkan semua keputusan padamu." suara ibu mertua terhenti sesaat.


Aku semakin tidak menentu, aku tak mampu menutupi kecemasanku saat itu. Sampai sampai bapak dan ibu mertuaku memperhatikan aku. Saat aku menghela nafas panjang. Dan ibu mertuaku menatapku tajam.


" Nak Yasin, maafkan ibu nak. Semua keputusan nanti ada ditangan Fatimah." seru ibu mertuaku.


" Saya sudah pasrah bu, meski tak mampu mengutarakan sendiri dengan lisanku. Maka saya mohon ibu yang menyampaikan ini pada Fatimah." Aku tak sanggup melanjutkan bicara lagi, terasa basah mataku meski tak sampai mengalirkan air mata.


Kembali aku menarik nafas panjang, menenangkan hati. Menanti apa reaksi Fatimah nanti, setelah tahu jika aku ini telah memiliki seorang putra, yg fotonya sudah pernah dia lihat di PP Arum saat dia telpun waktu itu.


" Mas, ada apa sebenarnya ? jangan membuat bingung Fatimah !" seru Fatimah.


Aku tak mampu berkata, hanya memandang wajah Fatimah dengan pandangan nanar.


Ibu mertuaku yang melanjutkan bicara.


" Fatimah anakku, jangan paksa suamimu bicara. Ibu lanjutkan bicara kamu tenang !" seru ibu mertuaku.


Tiba tiba bapak mertua menimpali bicara.


" Dengarkan ibumu bicara, bapakpun tak sanggup mengutarakan. Bapak cukup menjadi saksi saja !" kata bapak mertuaku.


" Kamu pernah bilang Fatimah, jika kamu sudah tahu suamimu punya masa lalu yg tidak baik. Dan kamu tidak pernah mempermasalahkan itu. Masih ingat saat kamu bilang begitu ?" tanya ibu mertuaku pada Fatimah.


" Iya bu Fatimah masih ingat, dan masih pegang kata kata itu. Selama mas Yasin membuang semua masa lalunya. Fatimah terima mas Yasin apa adanya sebagai suami, sebagai Imamku. Asal tidak ada dusta dan tidak membawa masa lalunya dalam kehidupan sekarang ini !" jawab Fatimah dengan tegas.


Aku sampai tak berani menatap wajah istriku itu. Aku benar benar merasa seperti seorang pengecut dimata istriku. yaaa aku seorang pecundang yg mau lari dari kenyataan.


" Mana keberanianmu Ahmad Sidiq alias Zain alias Yasin...?! Yang katanya tidak pernah takut, tidak pernah gentar menghadapi apapun mana ?!? Kamu tidak lebih dari pengecut yg bersembunyi di balik ibu mertuamu. Seorang pecundang yg lari dari tanggung jawab, yg takut akan resiko." hati kecilku berontak.


Dan tiba tiba aku seperti mendapatkan kekuatan baru, mendapatkan keberanian mengambil resiko terburuk sekalipun. " Dari pada Fatimah tahu dari lisan ibu mertuaku. Lebih baik dia dengar langsung dariku. Apapun resikonya, harus aku terima harus aku hadapi sebagai seorang laki laki sejati." bisik hati kecilku.


" Baiklah Fatimah istriku tercinta, mas akan bicara langsung padamu. disaksikan oleh semuanya.Mas akui selama ini mas menyimpan dusta masa lalu. Menyimpan dosa masa laluku, yg ternyata dampaknya akan terus sampai kemasa depan. Yang mungkin kamu tidak akan bisa atau tidak akan mudah menerima itu." kataku lantang. Setelah merasakan seperti dapat kekuatan baru.


" Bicaralah mas, Fatimah lebih suka mas jujur. Mungkin Fatimah akan lebih bisa menerimamu, jika mas Yasin mau jujur !" pinta Fatimah.


" Kamu ingat saat membangunkan aku karena ada telpun dengan profile anak kecil itu ?" tanyaku pada Fatimah.


" Iya, Fatimah ingat yang mas bicara gak sopan terus Fatimah tegur itu kan ? Ada apa dengan peristiwa itu mas ?" tanya balik Fatimah.


" Kamu perlu tahu Fatimah ! Foto profile anak itu adalah anakku !" ucapku dengan menahan segala gejolak hati.


Fatimah tampak tercengang tak berucap apapun. Bahkan Khotimah pun menatapku dengan tatapan tajam penuh selidik.


" Maksut kamu apa mas ?" tanya Fatimah sambil melotot menahan amarah.


Kemudian, dengan perasaan yg hancur aku jelaskan kronologi kejadianya.


Aku cerita jika dulu waktu belum masuk pesantren, aku pernah punya pacar bernama Arum. Dan kuceritakan kenapa Arum sampai hamil.


......................


...flashback 3 tahun yg lalu...


Sepulang sekolah Arum kujemput untuk jalan jalan week end.


Dengan sebelumnya kuajak mampir ke Pos. Sekedar aku pamerkan pada teman temanku, Aku perkenalkan Arum sebagai pacarku. Dan Arum pun waktu itu bangga jadi pacarku.


" Mau jalan kemana mas ? Arum gak boleh lewat dari jam 5 sore sudah harus sampai rumah ! " pinta Arum.

__ADS_1


" Nanti malem boleh gak aku kerumahmu ? " aku balik bertanya tanpa menjawap pertanyaan Arum.


" jangan dulu mas, Arum gak boleh kedatangan tamu cowok. Kecuali teman sekolah dan urusan sekolah ! " kata Arum.


" Kenapa kalo kedatangan tamu cowok yg bukan teman sekolah dan bukan urusan sekolah ? " tanyaku lanjut.


"Arum belum boleh punya pacar, sebelum selesai sekolah ! " jawab Arum.


Waktu itu meski status kami acaran tapi aku dilarang berkunjung ke rumahnya. Disamping Arum dilarang pacaran, juga mempertimbangkan Statusku yg tidak jelas.


" Kita lihat pantai atau gunung nih ? " tanyaku pada Arum.


" Pinginya sih pantai mas, tapi jelas nanti kemalaman kalo di pantai. " kata Arum.


" Yaudah ke bebeng aja lihat bunker yuk ! " kataku.


" Terserah mas saja " jawab Arum.


Akhirnya berangkatlah kami berdua mengendarai sepeda motor melewati jalan berbatu waktu itu.


Udara cukup dingin, aku mengeluarkan sebotol Vodka untuk menghangatkan badan. Tak ada niat lain selain itu, awalnya waktu itu.


" Mas katanya dah janji berhenti minum gituan ? " tanya Arum.


" Iya, ini cuma buat penghangat badan kok, gak akan sampai mabuk. " kataku pada Arum.


" Kalo dingin pulang aja yuk, Arum juga takut kesorean dimarahi bapak sama mas ku ! " kata Arum.


" Nanti ah, baru juga sampai sudah ngajak pulang ! " Kataku.


" Tapi cuaca mendung mas, mau turun hujan tuh ! " protes Arum.


" Hujan air ini, tinggal berteduh kan beres. " kataku.


" Takutnya nanti gak berani pulang pas hujan mas. " Serunya.


" Gak berani pulang nginep juga gak papa, banyak penginapan ini ! " kataku.


" Gak mau, Arum bukan cewek gampangan mas !!! " sergah Arum marah.


Sampai di bangker yg waktu itu terkunci, kami berjalan mengitari lokasi sambil meihat pemandangan di areal bukit. Waktu itu sering dijadikan area perkemahan dan jika malam tahun baru penuh pengunjung. Pasangan muda mudi dan rombongan yg bikin acara aoi unggun dan bakar bakar. Penduduk setempat pun banyak yg menyewakan tikar, jual kayu bakar, jagung manis buat bakar bakar bahkan banyak bertebaran warung kopi dan mie instans buka sampai larut bahkan sampai pagi lagi.


Saat sedang asik jalan berdua tba tiba petir terdengar keras dan hujan deras turun seketika.


Semua berhamburan mencari tempat berteduh. Arum justru ngajak pulang meski hujan cukup lebat.


" Pulang aja yuk mas, takut kemaleman nanti ! " ajak Arum khawatir.


" Tapi aku gak bawa jas hujan ! " jawabku.


" Gak papa lah mending basah dari pada telat sampai rumah. " kata Arum.


Aku lihat kekhawatiran di wajah Arum jadi gak tega. Akhirnya meski hujan cukup lebat kami nekat pulang. Jaketku aku suruh pakai Arum biar gak kedinginan.


Di jalan hujan bukan makin reda justru semakin deras, disertai angin kencang dan patir. Aku tak pedulikan itu, tetap melajukan motorku. Hingga tiba tiba Arum berteriak...!


" Awas ada pohon tumbang...! " Jerit Arum.


Spontan Aku banting stir kekiri, kebetulan ada jalan gang masuk penginapan.


" Yaudah kita berteduh dulu saja, bahaya jika meneruskan perjalanan petir dan angin mengerikan ! " kataku.


" Tapi Arum gak mau, Arum gak mau masuk penginapan mas, Arum ogah mas....!!! " ucap Arum ketakutan.


" Terus mau dimana lagi, ditempat ini ya cuma ini tempat berteduh ! " kataku.


" Tapi Arum gak mau mas, nanti mas jahatin Arum !!! " Seru Arum.


" Gak lah, aku gak akan jahatin kamu. Kamu kan pacar aku, masa depanku nanti. " bujuk ku pada Arum yg menggigil kedinginan.


Waktu itu akupun tidak punya niatan jahat awalnya. Sekedar berteduh menghindari petir dan angin.


Akhirnya kami sepakat berteduh di penginapan itu. Tepat di pertigaan bila ketimur arah kebebeng keselatan menuju jalan rayaarah kota Yigyakarta.

__ADS_1


Sampai di kamar kusuruh Arum mandi dan keringkan baju sebentar biar gak kedinginan.


Meski aku sendiri kedinginan basah kuyup dan menggigil. Aku menenggak Vodka yg kubawa. Yang baru kuminum sedikit tadi. Lumayan agak hangat badan.


Arum keluar dari kamar mandi, kulihat sudah tak menggigil lagi. Bajunya tidak terlalu basah, sehingga tidak perlu ganti baju seragam SMA nya lagi.


" Mas udah jangan minum lagi, katanya mau berhenti. Katanya lebih sayang Arum dari pada minuman ? " ucap Arum menyuruhku berhenti.


" Mas kedinginan kalo gak minum bisa sakit, biar ini jadi botol yg terakhir yg kuminum. Habis ini berhenti total deh ! " kataku yg sudah terengaruh alkohol. Jika di prsontase mungkin tidak sampai 80% tingkat kesadaranya.


" Beneran janji ini yg terakhir ? sudah berapa botol hari ini ? " tanya Arum.


" Baru dua kok !" jawabku.


" ini yg ke tiga ? " tanya Arum lanjut.


Aku hanya mengangguk tidak menjawab.


" Kamu masih kedinginan Rum, minum dikit gih biar hangat ! " ucapku.


" Gak ah, dosa dan takut mabuk ! " kilah Arum.


" Dikit aja biar gak kedinginan ! " bujukku.


Akhirnya setelah kupaksa dan ku iming imingi ini untuk perayaan teraikhirku Arum mau minum. Dan wajahnya jadi memerah lepas kesadaran. Arum hanya tertunduk tak mampu mengangkat kepalanya.


" Pusing..." hanya itu yg terucap.


Kemudian aku baringkan Arum di bed, karena kondisi yg sudah di pengaruhi Alkohol. Maka terjadilah hal yg seharusnya tidak boleh terjadi.


Dan dari situ menjadi awal terulangnya perbuatan itu. Hngga suatu ketika mengakibatkan Arum Hamil.


...flashback off...


.........................


Tiba tiba Fatimah berdiri, dan berkata.


" Kalo begitu, mas nikahi aja itu Arum. Dan biarkan Fatimah disini membesarkan anak ini sendiri. Mas urus anak mas sekalian ibunya, yg memang kamu cintai. Karena kita memang menikah tanpa dasar rasa cinta kan. Jadi silahkan rawat anak mas itu, dan nikahi pacarmu yg dulu yg mas Yasin cintai. Gak usah perdulikan Fatimah lagi !" Berkata begitu Fatimah sambil melangkah pergi masuk ke kamar.


Akudiam terpaku, yah semua memang salahku. Bukan salah Fatimah jika dia jadi membenciku.


" Sabar nak, biarkan Fatimah menyendiri dulu biar tenang. Bapak yakin dia hanya syok dengar cerita mu tadi." ucap bapak mertuaku menghiburku.


" Iya nak, kamu gak usah deketin Fatimah dulu pasti dia masih kecewa padamu." seru ibuk mertuaku.


Aku hanya mengangguk diam, tak sanggup berkata apapun.


" Khotimah, temani kakakmu Fatimah, biar mas mu Yasin malam ini tidur di kamarmu !" perintah ibu pada Khotimah.


" Njih bude !" Khotimah menuju kamar Fatimah. Tanpa bicara apapun.


Tinggal aku dan kedua mertuaku yg masih disitu.


" Terus gimana dengan rencanamu nak ?" tanya ibu mertua.


" Maaf pak buk, bolehkah saya telpun Isti teman pesantren kami dulu. Hanya dia yg mampu menasehati Fatimah saat ini !" jawabku


" Telpunlah sekarang juga !"


...bersambung...


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2