Isyaroh

Isyaroh
Kedatangan Candra


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Aah mas ini besuk kan ada jadwal sendiri, kata Yuyut mas akan disuruh berlatih dengan Sena juga sebagi sparing partner dan selain itu aka nada ujian buat mas dan Sena untuk bisa mengalahkan salah satu pimpinan makhluk astral di sekitar rumah kita ini.” ucap Fatimah.


Haah mengalahkan pimpinan makhluk Astral ?


aku jadi teringat ketika disuruh kang salim melawan raja Sosro Sukmo. Dan ingat juga kata kang Salim bahwa yang aku hadapi sekarang aalah 100 kali lipat kekutanya dari Raj Jin Sosro Sukmo.


Waduh seratus kali lipat….???


*****


“Tunggu tunggu, aku disuruh mengallahkan pemimpin makhluk Astral ? kok kayak waktu di tampat kang Slim dul ?” tanyaku.


“Ya memang begitu kata Yuyut, dulu yang mas sampai terkena racun itu ?” Tanya Fatimah kemudian.


“Heem, tapi saat disuruh mengalahkan raja jin itu aku di kasih beberapa clue dulu sebelum ahirnya bisa mengalahkan Raja jin daerah situ.” Jawabku pada Fatimah.


“Mungkin juga Yuyut akan kasih rahasia juga kali mas, masak ya nggak sih.” kata Fatimah.


“Iya sih, yaudah Aku mo istirahat dulu mala mini. Jujur masih lemes setelah kemarin  berjuang ditengah laut kemudian samapi siangnya di tempat Sena kembali kesini langsung disuruh adu fisik sama Khotimah. Duh rasanya jalan saja kayak yang melayang rasany.” Kataku pada Fatimah.


“Yaudah mas tidur saja dulu Fatimah pijitin sini.” Ucap Fatimah langsung memijit tanganku sambil memelukku dari atas karena aku berbaring menghadap ke atas.


“Jangan gitu nijitnya, nanti malah gak jadi mijit dong.” Godaku.


“Aah mas ini gak papa kali Fatimah Cuma pingin peluk saja karena tadi sempat khawatir saat mas jatuh dan Khotimah baru dirasuki masih berniat menyerangmu>” kata Fatimah.


“Bukan gak boleh, kasihan anak kita yang dalam pert kamu bisa ngap nanti.” Godaku pada Fatimah.


“Yee gak lah, kan ini juga perut Fatimah disamping gak kebawah mas.” Ucap Fatimah.


“Iya mas juga cuman canda kok.” Kataku sambil merasakan pijatan Fatimah yang terasa lembut tapi kadang sakit dibagian tertentu.


Namun lama kelamaan aku jadi tertidur pulas, bangun bangun sudah adzan subuh. Saat bangun masih terasa agkka kaku sendi sendiku, tapi sudah agak mendingan disbanding sebelum dipijit Fatimah semalam.


Dengan agak malas malasan aku bangun dan menuju ke kamar mandi untuk bebersih diri dulu sebelum berwudhu untuk sholat.


Tidak ada hal istimewa yang terjadi sampai subuh dan semaan AlQuran selesai.


Baru pada siang hari menjelang dhuhur tiba tiba saja aku dikejutkan kemunculan Candra yang datang tanpa kabar dan bersama orang tuanya.


Wah nekat juga ni anak, beneran datang bersama bapaknya, apa beneran mau melamar Khotimah sekarang, pikirku.

__ADS_1


Tapi gak papa sih mumpung ada bapak mertua ibu mertua dan Yuyut. Biar semua jadi lebih jelas, soal kesibukan dirumahku yang akan mengundang warga untuk sedekahan gak masalah, pikirku.


Malah sekalian buat tasyakuran atas dipinangnya Khotimah nanti kalo jadi, batinku.


“Assalaamu’alaikum…!” sapa bapaknya Candra dengan lembut.


“Wa’alaikummussalam pak, maafkan saya gak sempat datang lagi pada acara tahlilanya lek Sastro.” Kataku sambil menghampiri dan menyalami Bapaknya Candra sambil cium tangan hormat pada calon ertua gagak tersebut.


“Iya gak papa, bapa tahu kamu baru disibukan urusan lainya.” Kata bapakku eeh bapaknya candra tersebut.


Setelah aku persilahkan duduk, kemudian aku membuka obrolan dengn Candra dan Ayahnya.


“Kok rapi sekali mas Candra dan bapak, apakah habis bepergian ke acara resmi ?” tanyaku pada Candra dan bapaknya.


“Enggak aku sama Candra sengaja datang kesini, karena ada hal penting yang mau candra sampaikan.” Kata bapaknya.


“Owh begitu, ehhemm apakah cukup dengan saya atau dengan yang lainya mas Candra ?” tanyaku memancing. Meski aku dan keluarga juga baru repot namun gak mungkin juga menolak keinginan baik Candra yang akan melamar Khotimah adik sepupu istriku itu.


“Begini, seperti yang dulu pernah saya sampaikan. Jika saya tertarik untuk dengan adik sepupu istrimu. Dan jika masih terbuka kesempatan maka saya berniat untuk melamar adik sepupu istrimu itu. untuk aku jadikan pendamping hidupku kelak.” Jawab Candra.


“Alhamdulillah, terimakasih atas niat baik bapak dan mas Candra. Sampai saat ini memang adik sepupu Istriku itu belum ada yang meminang. Akan tetapi soal bersedia atau tidaknya tentu ada yang lebih berhak menjawab dari saya. Untuk itu mohon bersabar sebentar, biar saya panggilkan bapak mertua dan ibu mertua juga Khotimah yang bersangkutan.” Jawabku pada Candra. Sambil bangkit berdiri mencari Khotimah.


Aku mencari Khotimah di dapur dan menyampaikan apa yang diucapkan Candra dan bapaknya. Sekaligus kepadaa bapak dan ibu mertua bersama Yuyut tentunya.


“Pak, bud an Yuyut di depan ada tamu yang punya niat mau melamar Khotimah. Dan jujur saya katakana bahwa yang akan melamar Khotimah adalah kakak kandung dari ibunya Sidiq. Kalo menurut saya sih orangnya baik, tapi monggo bapak ibu Yuyut dan Khotimah yang akan menjalani nanti untuk menilai dan memberikann jawaban.” Ucapku.


“Lah katanya dulu yag deket sama Khotimah adalah seorang polisi yang bertugas disini ?” jawab ibu mertuaku.


“Betul bu, namun setelah saya selidiki pria tersebut masih berstatus menikah. Sehingga memang Khotimah saya larang dekat dengan dia.” Jawabku pada ibu mertuaku.


“Kalian saja dan Khotimah yang menemui, biar yuyut disini saja.” Kata Yuyut.


Kemudian kami berempat kembali ke ruang tamu menemui Candra da bapaknya.


Setelah semuanya duduk aku kembali membuka obrolan, dengan memperkenalkan keluarga besar Khotimah.


“Perkenalkan pak, dan mas Candra ini adalah keluarga besar Fatimah istri saya. Ini yang bernama Khotimah adik sepupu istri saya, ini bapak mertua saya dan ini ibu mertua saya. Karena Khotimah yatim piatu maka bapak dan ibu saya yang akan mewakili keluarga Khotimah. Dan tentunya juga Khotimah sendiri.” Kataku memperkenalkan.


“Owh jadi nak Khotimah ini sudah yatim piatu, maaf pak dan bu kedatangan saya dan anak saya kesini ini mau mempererat tali persaudaraan. Antara keluarga saya kakeknya Sidiq dan ini anak saya Candra pak denya Sidiq. Dan maksut khusus kamiadalah hendak meminang keponakan bapak ibu Khotimah untuk dijadikan istri anak saya nanti. Biar hubungan persaudaraan kitaakan lebih baik dan lebih erat lagi.” Ucap bapaknya Candra.


Bapak mertuaku yang menjawab lebih dahulu.


“Pertama saya mengucapkan terimakasih atas niat baik keluarga bapak, memang saat ini saya adalah Wali nikahnya Khotimah. Namun tentu saja, sebagai orang tua semua itu saya serahkan kepada Khotimah yang akan menjalani.” Jawab bapak mertuaku.


Aku jadi dag dig dug apa jawaban yang akan disampaikan Khotimah pada candra dan bapaknya.


Suasana menjadi hening sejenak, kulihat Candra juga gelisah menunggu jawaban Khotimah.


“Nah Khotimah, kamu sudah dengar sendiri, apa yang menjadi maksut dan tujuan tamu kita. Dan apa yang disampaikan pak de mu. Sekarang keputusan ada di tangan kamu Khotimah, bagaimana jawaban kamu atas pinangan ini ?” Tanya ibu mertua ke Khotimah.


“Khotimah paa dasarnya nurut sama pak de dan bude sebagai pengganti orang tua Khotimah. Juga mas Yasin yang sudah Khotimah anggap sebagai kakak kandung Khotimah sendiri. Jadi dalam hal ini keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada pakde bude dan mas Yasin untuk menjawabnya.” Jawaban Khotimah sungguh diluar dugaanku. Ternyata Khotimah cukup pintar untuk berdiplomasi. Apakah memang karena sudah mewarisi ilmu Yuyut yang ahli diplomasi, pikirku.


“Kalo kamu sendiri gimana nak, tentunya yang lebih faham dan lebih mengenal nak siapa namanya ?” Tanya ibu mertuaku.


“Namanya Candra bu, mas Candra ini kakak kandungnya Arum ibunya Sidiq.” Jawabku.

__ADS_1


“Owh iya Nak Candra, kamu kan yang lebih tahu dia kalo menurutmu apakah nak Candra ini sesuai jika menjadi suami Khotimah, sebab suami istri itu adalah pasangan hidup selamanya jika bisa. Meski sama sama baik kan belum tentu pas jika menjadi suami istri. Jadi perlu di pertimbangkan juga kesesuaian karakter keduanya, biar langgeng dalam mengarungi bahtera rumah tangga nanti.” Jawab ibu mertuaku diplomatis juga.


Aku seperti dipojokkan untuk menjadi penentu keputusan atas jawaban pinangan tersebut. Benar benar berhadapan dengan ahli diplomasi , batinku.


“Ini sebuah penghormatan yang sebenarnya terlalu tinggi jika keputusan ini diserahkan kepada saya. Saya mungkin hanya sekedar memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan saja. Jadi begini bapak,ibu juga Khotimah. Sepanjang yang saya kenal, mas Candra ini orangnya sangat peduli dan melindungi wanita, saya tidak bisa cerita lebih lanjut mungkin semua sudah pahammaksut saya. Dan juga mas Candra ini bukan type lelaki buaya, terbukti begitu tertarik dengan Khotimah langsung menyatakan pinangan secara Resmi itu harus kita hargai.


Sementara Khotimah, sepanjang yang saya kenal juga gadis yang baik. berani juga menghormati kepada orang yang lebih tua. Jadi menurut saya dengan karakter keduanya yang seperti itu, saya rasa tidak ada perbedaan karakter yang mengkhawatirkan terjadinya konflik rumah tangga yang besar. Kalopun konflik kecil itu saya rasa adalah dinamika dalam rumah tangga yang justru bisa menjadi bumbu romantisme sebuah keluarga.


 Namun begitu itu hanya sebatas penilaian saya pribadi, untuk keputusan tetap saya serahkan kepada bapak, yang lebih berhak. Karena Khotimah sudah menyerahkan semua keputusan ini pada bapak dan ibuk.” Jawabku.


Bapak tampak terdiam sejenak sebelum menjawab.


“Baiklah, mungkin saya perlu bertanya pada nak Candra secara langsung sebelum menjawab. Kalo boleh bapak tahu, pertimbangan paling kuat nak Candra hingga memutuskan anak saya Khotimah untuk dipersunting apa nak ?” Tanya bapak mertuaku.


Candra agak tergagap, kaget mendapat pertanyaan yang sama sekali tidak dia sangka.


“Jujur pak saya sendiri bingung kalo ditanya begitu. Karena saya bukan orang yang tahu banyak tentang wanita. Hanya saja, saya pernah bertanya kepada Yasin menantu bapaka. Soal pasangan atau istri, dan menanyakan Khotimah sudah ada pasangan atau belum. Dan di jawab kalo suka ya dilamar saja, sebelum dia dilamar orang lain. Karena kalo sudah dilamar orang lain haram hukumnya dilar yang lainya. Jadi itu saja pertimbangan saya. Kalo soal mengapa saya memilih Khotimah yang saya lamar saya gak tahu pak, karena melihat Khotimah pertama kali saya merasa adem.


Dan melihat istri Yasin anak bapak yang kakak sepupunya Khotimah yang begitu baik hati. Saya jadi punya pemikiran bahwa Khotimah pun tidak akan jauh dari kakak sepupunya Fatimah istri yasin. Maaf itu pak pertimbangan saya.” Ucap Candra.


Aku mendengar jawaban Candra dengan tersenyum, vukup baguslah jawabanya. Kelihatan jujur dan tidak mengada ada mengalir dari hati kecilnya.


“Alhamdulillah jika itu pertimbangan Nak Candra, bapak rasa itu jawaban yang cukup memuaskan bapak. Tapi sekali lagi, saya perlu menanyakan pada Khotimah untuk yang terakhir kali sebelum memutuskan jawaban. Khotimah, menurut hati kecilmu sendiri saat ini, kamu mantap tidak jika kamu diperistri nak Candra ini ?” Tanya bapak mertuaku ke Khotimah.


Khotimah tampak bingung dan ragu untuk menjawab, aku lihat masih ada keraguan dalam hati Khotimah. Sehingga aku juga ikut merasakan dag dig dug menunggu Khotimah bicara.


“Khotimah belum punya pengalaman apapun tentang ini, maka Khotimah serahkan pada mas Yasin saja yang yang sudah lebih pengalaman dan tahu siapa Khotimah dan siapa mas Candra. Jika mas Yasin bilang baik Khotimah nurut. Jika mas Yasin bilang jangan maka Khotimah juga nurut artinya mundur dari mas Candra.” Ucap Khotimah. Membuatku kemvali terpojok.


@@@@@*****>>>>>?????


Mohon maaf up kali ini pendek saja


insya Allah Up berikutnya masuk ke pertempuran lagi.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2