Isyaroh

Isyaroh
Selamatkan Laras


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Sesaat kemudian Sena kembali dan mengatakan jika Laras sudah jauh, tak ada disekitar rumah pak Yadi. Dan Sena sudah berkeliling mencari tidak ketemu.


Kemudia aku meminta kepada Pak Yadi.


“Maaf pak Yadi, kita harus kejar laras, kemungkinan laras digiring ke markas mereka. Jika tidak segera kita susul bisa jadi Laras hanya akan pulang nama. Karena akan dijadikan tumbal Darah Perawan untuk upacara ritual kepercayaan mereka.” Kataku pada pak Yadi.


“Yaudah kita kejar bertiga dengan mobil dinas saya saja sekarang sambil saya koordinasi dengan jajaran pak.” Sahut pak Yadi…..???


*****


Episode ini


“Bawa rompi anti peluru dan mesiu pak, siapa yahu nanti dibutuhkan !” pintaku pada pak Yadi.


“Apa mereka bersenjata Api juga ?” tanya pak Yadi.


“Bisa jadi pak ?” jawabku singkat sambil lari ke mobil pak Yadi.


Aku sambil meraba kantong celanaku, untung rokok dan korek terbawa ini nanti bisa jadi bermanfaaf untuk membuat bom waktu, pikirku.


Setelah mobil jalan aku baru ingat bahwa Joyo Maruto punya ilmu semacam sayeti anginya mbah Hadian.


“Celaka…!” gumamku yang didengar Sena dan pak Yadi.


“Kenapa pak ?” Tanya Pak Yadi.


“Tokoh tetua mereka berilmu sangat tinggi pak, bisa bergerak secepat angin. Saya butuh bensin dan botol jika kondisi darurat bisa buat molotof pak.” Jawabku.


“Nanti kita beli di bensin eceran sekalian botolnya !” jawab pak Yadi.


“Mas Yasin kayak punya pengalaman perang aja nih ?” seru Sena.


“Gak juga hanya perkiraan saja antisipasi kondisi terburuk untuk selamatkan Laras.” Jawabku.


Kemudian pak yadi menepikan mobil di depan penjual bensin eceran beli bensin 5 liter sekaligus botolnya. Kita kea rah mana pak mengejar Larasnya.


Aku baru ingat jika belum tahu kearah mana Laras di bawa pergi dan dimana markas mereka pun aku belum tahu.


“Sebentar pak !” aku mencobab mencari keberadaan Laras dengan mata batinku dengan membuka lathoif nafsi dan berkonsentrasi membyangkan wajah laras.


“Ke arah watu kemloso pak, kayaknya markas mereka disekitar sana.” Kataku. Jarak ke tempat itu tidak terlalu jauh namun mobil tidak bisa mencapai lokasi.


Dan akhirnya kami berhenti di sebuah tempat karena tidak mungkin dilalui dengan mobil, hanya bisa dilalui dengan jalan kaki lewt jalur setapak dan itupun medannya cukup Sulit.


“Sebentar pak, pelan pelan saja kayaknya sudah dekat dengan lokasi markas mereka, aroma dupa dan kemenyan sudah merebak sekali. Bisa jadi mereka sudah melakukan upacara ritual persembahan tumbal darah perawan. Kita harus hati hati pak jangan sampai ketahuan.” Kataku.


Melalui jalur yang terjal dan berbatu aku menaiki bukit kecil untuk melihat keadaan sekitar.


“Pak Yadi bawa peluru berapa biji ?” tanyaku pada pak Yadi.


“Aduh kalo yang peluru Logistik Cuma tiga pak kalo yang non logistic saya bawa enam pak.” Jawab pak Yadi.


“Maksutnya gimana pak ?” tanyaku bingung.


“Owh iya, maksutnya kalo yang logistic itu dari kantor dan setiap mengeluarkan satu peluru saja harus ada laporan tertulisnya pak. Kalo yang non itu pribadi saja buat jaga jaga.” Jawab pak Yadi.


“Owh begitu, mudah mudahan cukup pak. Kan ada bensin juga.” Kataku.


“Sena gunakan indera keenam kamu sekarang.” Ucapku pada Sena.


Kemudian Sena pun meletakkan botol berisi bensin dan meditasi sebentar, sementara aku yang sudah membuka lathoif Nafsiku sudah bisa melihat keberadaan markas mereka yang sengata ditutupi dengan ilmu halimun, agar tidak semua orang bisa melihat keberadaanya.


“Maaf pak Yadi, tolong pejamkan mata sebentar dan bacalah surah Al-Fatihan tiga kali saya bantu buka mata batin bapak biar bisa menembus halimun yang menutupi markas mereka.” Ucapku pada pak Yadi.


Kemudian setelah pak Yadi memejamkan mata dan sambil membaca curah Al-Fatihah aku berdoa untuk membantu pak Yadi agar bisa menembus Halimun yang dipasang musuh.


“Astaghfirrullah… itu rupanya markas mereka.” Ucap Pak Yadi.


Kemudian kami mendekati markas itu dar atas bukit kecil, sedangkan markas itu berada dibawahbukit tersebut.


“Kita berhenti disini dulu pak, kita harus atur strategi agar tidak salah melangkah.” Kataku pada Pak Yadi dan Sena.


Setelah melihat posisi markas mereka serta keadaan lingkungan sekitarnya aku segera mengajukan usul pada pak Yadi.


“Kita harus berbagi tugas pak, agar langkah kita sistematis dan tepat sasaran. Karena jika terjadi bentrok fisik secara langsung kita semua akan kalah.” Kataku pada pak Yadi.


“Apakah jumlah mereka terlalu banyak pak ?” Tanya pak Yadi.


“Bukan soal jumlahnya pak, tapi tetua mereka yang berjuluk Joyo Maruto itu sangat tinggi ilmunya. Jika saya dan Sena menghadi Joyo Mruto berdua pun tak akan mampu melawan apa lagi mengalahkannya pak.” Jawabku.


“Waduh saya sampai lupa tidak mengajak personil tadi buru buru, Radio panggil juga gak bawa Ponsel juga gak ada signal. Bagaimana ini pak ?” Tanya Pak Yadi.


“Aduuuh iya kita terlalu buru buru tadi.” Ucapku baru ikut sadar ketika pak Yadi bilang.


“Tapi Laras harus diselamatkan pak.” Kata pak Yadi kemudian.


“Iya pak, saya tahu, tapi atur dulu strategi, kita bagi tugas ini menjadi tiga job saja pak.” Ucapku.


“Ok, terus pembagianya bagaimana pak ?” Tanya Pak Yadi. Karena yang dihadapi adalah pelaku supranatural maka pak Yadi menyerahkan strategi ke aku.


“Pak Yadi bisa memasang peluru di pohon itu yang agak doyong kearah markas ?” tanyaku ke pak Yadi.

__ADS_1


“Maksutnya pasang peluru gimana pak ?” Tanya pak Yadi.


“Dua atau tiga peluru dipasang dan di seting sekali tembak tiga peluru itu ikut meletus dan pohon itu tumbang menimpa markas mereka.” Tanyaku.


“Bisa sih pak, tapi harus ada logam yang menghubungkan tiga peluru tersebut agar sekali tembak logam itu bisa meledakan tiga peluru itu.” Jawab pak Yadi,


“Logam ? galo potongan sabuk ini bisa pak ?” Tanyaku sambil melepas ikat pinggangku yang ujungnya logam.


Kemudian dipegang pak Yadi, dan diperiksa.


“Sepertinya cukup kuat pak bisa untuk jadi ganti petuk pistol nanti.” Ucap Pak Yadi.


Sukurlah, kemudian Sena nanti bakar markas bagian belakang mereka dengan bensin ini. Tapi caranya pakai sumbu agar kamu punya kesempatan lari sebelum apai merambat besar ke bensin dan jadi bom molotaf nanti.” Kataku pada sena.


“Sumbunya pakai apa mas ?” Tanya Sena.


“Pak saya boleh pinjam Rompi anti pelurunya ?” tanyaku ke pak Yadi.


“Boleh pak, pakai saja.” Jawab Pak Yadi.


Kemudian aku membuka jaket baju dan kaos dalamku, kemudian memakai rompi anti peluru dan baju serta jaket kulitku. Sementara kaos dalamku aku robek jadi tiga sobekan untuk dijadikan sumbu peledak.


“Nanti ujung kaoa ini masukan ke botol dan ujung satunya kamu bakar, usahakan ditempat yang cukup kering, pastikan apai bisa merambat dan setelah itu kamu langsung berlari ke arah mobil bersiap kabur bersama pak Yadi.


“Kapan Aku membakarnya Mas ?” Tanya Sena.


“Setelah pohon itu roboh menimpa Markas mereka, begitu markas tertimpa pohon mereka akan berlari kearah pohon itu karena bunyi ledakan dari pohon itu yang ditembak pak Yadi. Nanti begitu pak Yadi menembak tiga peluru itu sekaligus juga langsung lari ke arah mobil. Dan Sena begitu markas merka tertimpa pohon mulai bakar sumbu dan tinggalkan tempat lari ke mobil juga. Biar aku yang menyelamatkan Laras nanti.” Kataku.


“Apa tidak terlalu berbahaya pak kalo sendirian ?” Tanya Pak Yadi.


“Tidak ada jalan lain pak, makanya semua harus benar benar terkendali dan sesuai rencana, meleset sedikit saja memang berbahaya. Jadi saya mengandalkan pak Yadi sukses dalam merobohkan pohon itu, kemudian Sena Sukses membakar markas itu insya Allah saya Aman dalam membawa Laras pergi dari Sini.” Jawabku.


“Terus kapan kita mulai beraksi pak ?” Tanya Pak Yadi.


“Nanti saat proses Ritual persembahan dimulai, dan Laras yang akan dijadikan tumbal sudah dibawa ke altar itu pak.” Kataku sambil menunjukkan altar persembahan Tumbal.


“Rencana ini cukup jitu tapi sangat berbahaya juga pak, karena salah sedikit mengacaukan rencana berikutnya.” Kata pak Yadi.


“makanya saya percayakan ke bapak urusan menggunakan pistol dan peluru. Dan Sena cukup bisa dipercaya mengerjakan tugas itu, sementara saya sudah jaga jaga dengan rompi anti peluru juga siap dengan dua botol bensin bila mana dibutuhkan nanti. Jadi semua sudah saya perhitungkan pak, semoga saja berjalan sesuai rencana.” Kataku.


Kemudian dari bawah terdengar teriakan teriakan aneh seperti orang yang sedang bersorak sorai tapi berirama dan seperti ada diberi aba aba.


“Ritual….. Agung…. Mbah Jambrong….!”


“Ritual…...Agung…. Mbah Jambrong….!


Begitu teriakan mereka, kemudian aku lihat Joyo Maruto keluar membopong Laras yang tak sadarkan diri. Kemudian diletakkan di atas Altar oleh Joyo Maruto. Kemudian Joyo Maruto berdiri sementara yang lain duduk bersila dibelakang Joyo Maruto. Dan Joyo Maruto berteriak kencang.


“Mbah Jambrong…..


Ritual Agung Sampun Bade kawiwitan.


Puniko tumbal Agung Ludiro Suci Perawan sampun kacawisaken.


Sumonggo samangkeh panjenengan ingkang Bade……


………………………………………..


………………………………………..


lan sumunggo baju barat ingkang bade ngersaaken Ludiro soho jasad ipun.


( Mbah Jambrong….


Ritual Agung sudah mau dimulai.


Ini Tumbal besar darah suci perawan sudah disediakan.


Terserah nanti panjenengan ( kamu \= jawa halus ) yang akan….. ( Mengambil kesucian / keperawananya)


Melalui badan saya yang melaksanakan ( mengambil keperawanannya.)


……………………………………….


……………………………………….


Dan silahkan para jin hantu gentayangan yang mau merasakan darah dan tubuh ( jasadnya \= setelah disembelih )


Kemudian joyo Maruto menari mengeliling Altar setelah lebih dulu meletakkan Parang besar yang akan digunakan untuk membunuh Laras dan mengambil darahnya. Aku, Sena dan Pak yadi sampai merinding melihat proses ritul mereka seperti itu.


Kemudian setelah menari mengelilingi Altar mereka berhenti dan semua duduk bersila dibelakang Joyo Maruto dan Semua bersujud menghadap Altar yang diatasnya tergeletak Laras yang tak berdaya.


Kemudian Joyo Maruto mengambil parang besar tadi dan mendekati Laras, pak Yadi sudah bersiap membidik Joyo Maruto dengan Pistolnya.


“Jangan dulu Pak, karena dia tidak akan membunuh Laras sebelum mengambil keperawanannya.” Kataku.


Dan benar saja, Joyo Maruto hanya merobek semua pakaian Laras dengan parangnya kemudian duduk sambil komat kamit baca mantera.


“Sekarang saatnya merobohkan pohon itu dengan sekali tembkan pak, dan kamu Sena siap siap kamu sekarang duluan menuju belakang Markas.” Ucapku Pada Sena.


Aku sendiri bersembunyi sambil mengintip kegiatan ritual sesat tersebut, sambil menunggu saat Yang tepat. Setelah dirasa Sena sampai ke belakang markas aku member kode Pak Yadi untuk segera menembak pohon itu. Dan….


Dooorrrr….suara tembakan pak Yadi, yang kemudian pak Yadi langsung lari menuju ke mobil.


Dooorrr…. Doooorrrr dooorrr diikuti suara tiga peluru hampir barengan


Dillanjutkan suara pohon tumbang menimpa markas mereka ( Padepokan Joyo Maruto )


krreeekkkeekkkettttteeeekkk brrrruuuuuukkkkk praaangg suara benda dapur yang pada pecah tertimap pohon dan genting Atap.


Suara tembakan mengacaukan yang sedang melakukan ritual itu, karena mereka baru focus sehingga yang di dengar mereka hanya ledakan yang besar tiga peluru sekaligus meledak tadi.


Sehingga semua kaget dan berlari kea rah pohon tumbang termasuk Joyo Maruto. Aku melangkah mendekati Laras dengan tetap membuka mata bayinku, siapa tahu Mento Rogo Sudah sembuh dan menggunakan aji welut puithnya.


Dengan hati hati aku melangkah, jaket kulit kuikatkan di punggung sekalian untuk membawa botol bensin yang masih dua.

__ADS_1


Aku menunggu markas terbakar namun kenapa belum terbakar juga, kalo gak segera terbakar pasti mereka kembali ke altar lagi semuanya, pikirku.


Dan ternyata benar aku mendengar Joyo Maruto berteriak, salah satu tungguin Tumbal jangan sampai lengah.


Dan ternyata yang mendekat adalah Ajar Panggiring, wah orang ini cukup tangguh kalo aku bertempur dengan dia bisa makan waktu dan ketahuan yang lain nanti, qaku bingung mencari akal.


Tiba tiba …


Boom.. boom … boom……


Suara ledakan dari belakang Rumah dan membakar markas Joyo Maruto, semua panik dan memadamkan api. Dan ajar panggiring pun berlari ke dalam markas sambil teriak.


“Selamatkan Kakang Mento rogo….!” Teriak Ajar Panggiring. Begitu Ajar panggiring masuk markas secepat kilat aku lompat ke Altar dan membopong Laras dan akan segera kabur. Namun sayang ada yang sempat melihat aku entah siapa yang did lam rumah itu, sehingga aku harus cepat bertindak sebelum dia teriak langsung botol bensin kulemparkan ke kepalanya hingga dia jatuh pingsan.


 Namun sayangnya suara botol jatuh itu justru terdengar yang lainya, sehingga aku gak mau ambil resiko botol yang satunya aku lempar ke bagian peintu, kemudian lampu minyak yang ada dialtarpun aku lemparkan kesitu juga sehingga…


Buluuuup terbakar juga bagian depaan rumah itu, cukup waktu untuk menghalangi mereka mengejarku.


Laras Yang yaaa ampun semi bugil aku bopong didepan dan aku tutup dengan jaketku dalam kondisi yang masih belum sadar juga. Aku terus berlari dengan mengerahkan segenap kemampuan lahir dan batinku untuk segera masuk kemobil yang sduah dalam kondisi menyala, dan Sena juga pak Yadi sudah siap didalam mobil.


“Sena Jemput Laras bawa masuk dulu, kalian pergi duluan aku hadapi yang mengejar aku dulu.” Teriakku pada Sena. NAmun yang keluar adalah pak Yadi dan memapah Laras dan menyerahkan pistolnya padaku.


“Pakai ini pak buat jaga jaga, nanti saya telpon bantuan jika sudah Ada Signal.” Kata pak Yadi sambil membawa Laras masuk Mobil.


Kemudian mobil berjalan dengan membunyikan sirine polisi, sehingga orang orang yang mengejarku tadi pada berhenti. Aah kenapa gak dari tadi saja membunyikan sirine , batinku.


Dan Aku gak mau ambil resiko berhadapan dengan joyo Maruto kali ini, kemudian aku menembakkan pistol pak Yadi  ke atas sambli Teriak


“ Polisi Jangan Bergerak….!” Mereka pun diam ditempat dan aku kabur berlari mengejar mobil pak Yadi.


Namun tak kusangaka bekanya menenmukan mobil pak Yadi malah Joyo Maruto yang tahu tahu sudah berdiri di hadapanku…!


Aduuuh…. Akhirnya aku harus bertempur juga dengan orang ini, pikirku.


“Lagi lagi kamu yang menghalangi aku…!” Ucap Joyo Maruto.


“Kamu lagi kamu lagi yang selalu bikin masalah…!” balasku mencoba mengulur waktu berharap pak Yadi segera mengirimkan bantuan.


“Sekarang rasakan pukulanku bila aku tak sedang membopong muridku apa kamu masih sanggup menahnya ?” ucap Joyo Maruto.


“Tunggu tunggu, sebelum kamu mati di tanganku kakek tua, apa kamu juga punya ilmu sayeti angin juga ?” kataku mengullur waktu.


“Hmm dari mana kamu tahu ilmu sayeti angin, tapi ilmuku bukan Sayeti angin melainkan Suro Maruto makanya aku disebut Joyo Maruto artinya joyo \= jaya/menang Maruto \= Angin.” Jawab Joyo Maruto.


“Owh tapi masih hebat Sayeti Angin dari pada Suro ( Kekuatan ) Angin kan ?” ledekke sambil mengulur waktu. Sekaligus melafadzkan amalan tiga ayat terakgir surah At-Taubah ijazah Abah guru.


“Kamu banyak Omong pasti hanya nunggu bantuan kan, aku gak akan terkecoh tipuanmu kali ini sekarang rasakan ini.” ucap Joyo Maruto.


Gak mauambil resiko besar tetap saj kugunakan pistol pak Yadi, biarin dianggap pengecut bertahan hidup lebih penting,pikirku.


Door…


Tembakanku mengenai KaKi Joyo Maruto hingga jatuh namun dia masih bisa bangun lagi dengan segala kemarahanya dia siap melancarkan seranganya. Aku acngkan pistol dan aku sudah bertekat menembak kepalanya, ini sudah darurat membunuh atau dibunuh, pikirku.


Sialnya, saat kutarik pelatuk pistol itu ternyata pelurunya habis. Aku baru ingat kata pak Yadi jika peluru Logistiknya hanya tiga, apakah maksutnya yang dipasang dipistol ini ?


Satu buat nembak pohon tadi, satu tembakan peringatan yang kulakukan laid an terakhir kutembakkan ke kaki Joyo maruto \= 3 ??? habislah riwayatku sekarang. Mau gak mau aku harus menghadapai Joyo Maruto dengan kekuatan jasani dan ruhani juga saat ini.


“Haa haa haa… pelurumu habis,,, mampuslah kau sekarang…!” teriak Joyo Maruto sambil melompat tinggi dan mengepalkan kedua tanganya menyerangku menukik kebawah mengarah ke kepalaku.


Aku tak ada pilihan lain keculai mempersiapkan jurus bertahanku, pasang kuda kuda dan aku menyilangkan tangan didepan dada kemudian menyambut pukulan Joyo Maruto


lamat lamat kudengar Joyo Maruto berteriak….


“Haah Lembu sekilan, siapa kamu sebenarnya….???!” Kata Joyo Maruto namun sudah terlambat benturan sudah terjadi aku terpental lima langkah ke belakang dan joyo Maruto jatuh terguling kemudian cepat bangun lagi.



Sementar aku agak susah berdiri, merasakan badanku seperti disengat ribuan kelabang, rasanya kulit jadi kebas dan kesemutan semua. Namun aku memaksa untuk bisa bangkit dan member perlawanan.


“Lumaya juga kamu ternyata…” Ucap Joyo Maruto. Sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah rupanya dia terluka dalam saat benturan Tadi. Jadi bukan hanya akau yang kesakitan Joyo Mrutopun kesakitan.


“Kamu juga lumayan dari pada muritmu yang goblok kayay Ajar panggiring.” Kataku agak berbesar hati.


“Tapi kamu jangan bangga dulu, aku tadi baru menggunakan seperempat tenaga dalamku, sekarang aku gunakan setengah saja dari tenaga dalamku. Aku mau lihat apakah kamu masih bisa sesumbar seperti itu ?” ucap joyo maruto.


Waduh baru seperempat, lah aku sudah full power saja masih begitu, gimana kalo dia sekarang pakai setengahnya…?”


“Rasakan sekarang….!” Kata Joyo Maruto langsung menyerangku lagi saat aku masih terbengong…..???


 




...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2