Isyaroh

Isyaroh
Menangkap Anggada lagi


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode Lalu


Akhirnya semua sepakat untuk merubah misi bersama cari uang sekarang misinya adalah balas dendam.


Jika kemarin mereka menyerang Yasin sekedar gertakan maka sekarang mereka sepakat menerang yasin dengan tujuan balas dendam jika Yasin terpaksa harus dibunuh pun  mereka tak segan lagi untuk melakukan itu.


Kemudian Maheso Suro disuruh menyusul muridnya Anggada untuk memancing Yasin keluar.


Maka berangkatlah Maheso Suro untuk memancing agar Yasin mengejarnya dan akan dibawa ke suatu tempat yang sudah disepakati. Dan disana Yasin nanti akan dihabisi beramai ramai oleh kelomoknya Joyo Maruto…..?!?


*****


Episode ini


Usai jalanya sidang


Author POV


Sidang berjalan cukup lancar meski perdebatan cukup A lot antara jaksa penuntut umum dan pengara Rofiq. Dan hasil keputusan masih ditunda menghindari hal hal yang tida diinginkan. Mengingat cukup gaduhnya pengunjung sidang dari kedua belah kubu yang berseberangan hampir saja bentrok. Namn masih bisa dikendalikan oleh para petugas.


Sementara Yasin melihat hal itu seperti sebuah scenario yang dibual oleh pihak musuh, kedua belah pihak yang ricuh itu sebenarnya sudah diseting agar membuat kekacauan. Namun tidak begitu berhasil, kerana sidang cukup lancar tidak sampai diskors.


“Sena, kamu jangan terpancing kayaknya mereka yang bersetru itu sebenarnya satu kelompok yang sengaja bikin ricuh acara Sidang.” Kata Yasin kepada Sena.


“Iya mas, justru Sena yang khawatir mas yang terpancing tadi.” Jawab Sena.


“Aah kamu, begini soalnya yang kulihat tadi belain Rofiq itu sebenaranya sebagian aku kenal sebagai orangnya pihak lawan. Jadidari awal aku dah curiga.” Kata Yasin kepada Senaa.


“Iya mas, kelihatan sekali permainan mereka mudah kebaca arahnya.” Jawab Sena.


“Kita lihat saja, nanti perkembanganya, terus waspada aja. Tampaknya ada lagi yang datang Gurunya Anggada sudah sampai kesini.” Kata Yasin.


Sementara diluar ruangan Sidang Maheso Suro bersama Anggada sedang mengatur rencana untuk menjebak Yasin agar mengejar salah satu dari mereka, dan Anggada yang dijadikan pancingan.


“Anggada, kamu pancing Yasin biar mengejar kamu. Nanti semua menunggu ditempat yang kita sebutin tadi. Manfaatkan emosi anak itu agar marah dan mengejar kamu. Sebagian mengawasi dar kejauhan agar Anggada tidak sampai tertangkap Yasin sebelum sampai di tempat yang dimaksut.” Penjelasan Maheso Suro yang kemudian lebih meninggalkan tempat itu.


Dan yasin di dalam ruang sidang masih berbincang bincang dengan Rofiq dan Sena untuk member dorongan semangat kepada Rofiq. Agar tidak tergoyahkan oleg situasi yang memancing kerusuhan tadi.


“Bang gak usah khawatir dengan tuduhan dan tuntutan pencemaran nama baik karena pak Yadi tadi menghubungi aku dan katanya dari jajaranya sudah mendapatkan bukti bukti yang mengarah kepada pelaku sebenarnya. Dan untuk kesalahan abang member kesaksian palsu itu katakana saja itu dibawah tekanan dan ancaman. Karena buktinya sekarang memang abang juga diancam oleh mereka.” Yasin member penjelasan kepada Rofiq.


“Yang masih menjadi ganjalan bagiku adalah ingin segera menemui si Gembul. Harus ada penyelesaian urusan pribadi antara aku dan gembul. Jika itu sudah aku gak peduli lagi apapin yang akan terjadi.” Kata Rofiq.


“Jangan begitu bang, saat ini ada yang sedang merindukan abang yang berharab abang segera bisa bebas dan segera menikahi dia. Bukankah abang baru saja meminang Arum dan sudah diterima ?” kata Yasin menyadarkan dan mengendalikan Emosi Rofiq.


“Iya mas Rofiq, gak usah terlalu dibahas soal si Gembul itu tadi. Yang penting sekarang menata rencana kehidupan mendatang yang lebih baik.” kata Sena ikut menasehati Rofiq.


Saat sedang asik ngobrol tiba tiba pak Yadi datang dan menyapa kami bertiga.


“Assalaamu’alaikum pak…!” spa pak Yadi yang baru saja datang.


“Wa’alaikummussalam pak Yadi, baru kelihatan pak saya kira sudah ada disini dari tadi.” Jawab Yasin ke pak Yadi.


“Iya maafkan saya pak, sebenarnya tadi mau kesini lebih awal tapi ini ada berita bagus pak. Pemilik losmen tempat terjadinya TKP mau bersaksi bahwa beberapa jam sebelum pembunuhan terjadi. Korban bersama pelaku berada dikamar losmen dia daan sempat bertengkar mulut sebelum korban lari dan dikejar pelaku. Dan pagi harinya korban ditemukan meninggal.” Kata pak Yadi.


“Alhamdulillah… berarti titik terang sudah datang dan kasus ini Insya Allah segera bisa berakhir.” Ucap Yasin bersyukur. Berharab kasus ini segera berakhir dan dapat hidup tentram dengan anak istri dan keluarganya. Tanpa mengetahui jika para dukun itu sekarang sudah tidak lagi berpihak dan melakukan penyerangan untuk kepentinganya, melainkan saat ini tujuan para dukun itu sudah berubah untuk membalas dendam dan mengancam untuk membunuh Yasin.


“Iya Pak Yasin, tapi masih ada satu hal lagi yang perlu bapak Yasin ketahui.” Kata Pak Yadi.


“Apa itu pak, selama itu membantu proses ini cepat selesai maka saya siap melakukan apapun pak. Sudah lama saya seperti hidup dalam kungkungan seperti ini.” Jawab Yasin.


Kemudian pak Yadi menceritakan jika awal mula pemilik Losmen tersebut bersedia bersaksi karena dia selalu merasa didatangi Korban dan meminta tolong padanya agar mau menjadi saksi bahwa pelaku sebenarnya adalah xxxxxx putra dari seorang yang punya nama besar dan selama ini dianggap dermawan. Serta memiliki jaringan bisnis yang kuat juga relasi dari berbagai kalangan. Sehingga tindak kejahatan yang dia lakukan pun cukup sulit untuk menjerat dia ke ranah hokum. Karena semua terorganisir dengan rapi.


“Jadi begitu pak ceritanya, dan saat ini pak Yasin diminta datang menemui beliau di rumah saya, karena sementara ini beliau juga tinggal dirumah saya dan minta perlindungan di rumah saya.” Kata pak Yadi.


“Terus maksutnya mau menemui saya buat apa pak ? kan sudah ditempat pak Yadi dan lebih aman jika disana ?” Tanya Yasin ke Pak Yadi.


“Pemilik Losmen itu minta bantuan pak Yasin agar tidak diganggu arwah Korban tiap malam, dan perlu pak Yasin tahu bahwa anak gadisnya juga sering diganggu bahkan hampir bunuh diri dan mau membunuh keluarganya beberapa hari lalu.” Kata pak Yadi.


“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. Samapi segitunya mereka dalam bertindak, baiklah pak apakah saat ini juga saya harus ikut pak Yadi kerumah pak Yadi ?” Tanya Yasin.

__ADS_1


Sebaiknya begitu pak, lebih cepat lebih baik agar kasus ini segera selesai. Pak Yasin kesini sama siapa tadi ?” Tanya pak Yadi.


“Owh iya maaf sampai lupa memperkenalkan, ini Sena sepupu jauh saya dari daerah pantai Selatan.” Jawab Yasin memperkenalkan Sena.


“Owh iya, salam kenal mas Sena saya Yadi, owh iya Pak Yasin bagaimana jika kita segera berangkat sekarang. Kebetulan saya hanya sendiri dengan mobil Dinas. Saya harap pak Yasin bersedia ikut saya saja beserta lainya.” Kata pak Yadi.


“Maaf pak, saya tadi kesini ikut mobil sepepu saya Sena, jadi biar kami bertiga juga kerumah pak yadi bertiga aja pak Yadi jalan duluan.” Kata Yasin.


Maka keempatnya bersama keluar ruangan Sidang. Untuk bersama menuju kerumah pak Yadi.


Sementara Anggada diluar yang mengetahui Yasin keluar bersama pak Yadi yang menggunakan seragam Polisi dan datang dengan mobil Dinasnya menjadi ragu bahkan bingung apa yang harus dilakukan. Karena Yasin dan rombiongan bersama seorang polisi lengkap dengan baju dinas dan pistol yang diselipkn di pinggangnya.


 


“Bagaimana ini, Yasin dikawal polisi ?” ucap Anggada pada temanya.


“Kita ikuti saja, sapa tahu ngawalnya gak sampai jauh. Jadi kita bisa ada kesempatan menghadang Yasin nanti.” Ucap seorang temanya.


“Kita ikuti saja pakai motor, aku bonceng kamu nanti kita cari kesempatan dan waktu yang tepat untuk menghadang Yasin.” Ucap anggada.


Mereka pun membuntuti Yasin dan rombonganya dari kejauhan.


“Lah itu Polisinya jalan pakai mobil sendiri kok gak sama Yasin.” Ucap teman Anggada.


“Iya tapi sapa tahu dia akan mengawal sampai ke rumah Yasin juga. Kita ikuti saja dulu !” jawab Anggada.


Kemudian Anggada dan temanya pun segera enaiki motor membuntuti Yasin dari jarak yang cukup jauh namun masih kelihatan.


“Lah kok mereka belok kearah jalan lain bukan kerumah Yasin.” Ucap Anggada.


“Udah kita ikutin saja terus, maloah lebih bagus semakin jauh dari rumah yasin berarti kesempatan kita memancing dia justru lebih terbuka.” Ucap temanya.


Merekapun terus mengikuti arah mobil Yasin dan pak Yadi yang terus melaju kearah rumah Pak Yadi.


*****


Yasin POV


“Sena, sepertinya ada yang mengikuti kita, coba aku koordinasi dengan pak Yadi. Kita jebak orang yang membuntuti kita.” Ucapku pada Sena.


“Masak sih, maksutnya motor itu yang dari tadi jaga jarak dengan kita ?” Tanya Sena.


Dari hasil chat ku dengan pak Yadi sepakat menjebak orang yang mengikuti aku.


“Sen jalan agak melambat biar pak Yadi duluan.” Kataku.


“Buat apa ?” Tanya sena bingung.


“Udah ikuti saja nanti juga tahu, ini aku sudah koordinasi dengan pak Yadi.” Kataku.


Sena pun memperlambat jalanya sementara justru pak Yadi mempercepat laju kendaraanya. Dan Sena jadi semakin bingung.


“Apa rencana mas Yasin, kenapa malah pak Yadi meninggalkan kita duluan ?” Tanya sena.


“Ikutin saja aba abaku bentar lagi kita susul pak yadi dengan kecepatan tinggi juga.” Kataku pada Sena.


Sena hanya mengikuti saja apa permintaanku, dan saat kulihat motor dibelakang yang mengikuti aku juga menurunkan kecepatanya dan jaraknya dengan pak Yadi sudah cukup jauh aku bilang ke Sena.


“Sekarang kejar pak Yadi, nanti kira kira 500meter ada pertigaan besar ambil kiri dan berhenti disitu sebentar.” Kataku pada Sena.


Sena pun mengikuti permintaanku, kemudian tancap gas lagi mengejar pak Yadi yang sudah cukup jauh. Sehingga motor yang mengikuti aku itupun ikut tancap Gas namun tidak bisa mengikuti laju kecepatan Mobil Sena. Sehingga ketika Mobil Sena belok kiri dan berhenti di pertigaan yang aku maksut, motor itu tidak mengetahuinya.


“Langsung puter balik hadapkan motor kearah jalan raya yang menuju kerumah pak Yadi Sena.” Pintaku pada Sena.


Senapun mengikuti saja apa yang aku minta, dan tepat saat posisi mobil menghadap kejalan raya motor yang mengikuti aku itu pun melintas dihadapan kami.


“Cepat lanjutkan kejar motor itu !” pintaku pada Sena.


“ Hah kita kejar motor itu buat apa ?” Tanya Sena.


“Udah cepetan ikutin saja, lebih enak membuntuti dari pada dibuntuti. Dari pada diawasi mending mengawasi motor itu, Ayo cepat.” Senapun segera menjalankan mobilnya dan mengejar motor yang tadi membuntuti kami.


Ketika jarak sudah semakin dekat dan aku bisa melihat bahwa yang dibelakang itu adalah Anggada. Aku minta Sena untuk mendekati motor itu dan mengikuti kecepatanya serta memerintahkan motor itu minggir. Sementara Mobil pak Yadi pun berhenti tidak jauh dari tempat itu dan sudah bersiap dengan senjata apai yang sudah dikeluarkaan dari sarungnya dan diarahkan ke Anggada dan temanya tersebut.


“Cepat Minngir atau polisi di depan itu akan menembak kamu !” bentakku pada Anggada dan Temanya.


Mau gak mau dua orang itu terpaksa menepikan motornya dan berhenti. Kemudian pak Yadi mendekati dan memborgol dua orang tersebut serta memaksanya naik ke mobil dinas Pak Yadi. Dengan dua tangan mereka di borgol jadi satu.


Dan dialog pun terjadi cukup lama disitu.


“Owh rupanya teman lama yang mengikuti aku.” Kataku pada Anggada.

__ADS_1


Anggada tampak mau marah, namun pistol pak Yadi ditongkan di jidatnya sehingga dia hanya bisa memelototi aku saja tanpa berani bicara.


“Lah katanya punya ilmu kebal, ditodong pistol saja udah takut, owh iya ilmu kebalmu kanhanya kacangan ya, buktinya tanganmu juga masih bisa patah kena double stick ku dulu. Gimana rasanya, masih mau lagi kah.” Kataku pada Anggada.


Sementara temanya sangat ketakutan bahkan badanya sampai gemetar.


“Hei kamu apanya Anggada ? teman seperguruanya, punya ilmu kebal juga mau ku coba patahin juga tulang tulang kamu ?” bentakku pada teman Anggada itu.


“Ampuun saya hanya disiuruh mengikuti kalian saja..!” jawab orang itu.


“Siapa yang nyuruh dan buat apa, kalo bohong kubikin tangan kamu seperti tangan temen kamu itu !” bentakku.


Sementar Sena dan Rofiq hanya bengong saat aku menginterogasi dua orang itu. dan akhirnya orang itu mengaku bahwa disuruh Maheso Suro untuk memancing aku dan menggiring aku kesuatu tempat untuk dibantai disana.


Tepat disaat orang itu selesai bicara ponsel Anggada berbunyi dan kemudian aku ambil.


Ternyata telpon dari maha gurunya Anggada Maheso Suro, kemudian aku angkat tapi Anggada Yang aku suruh menyapa duluan.


“Ya Ki Ageng……!” sebelum dilanjut Ponsel aku jauhkan dri mulut Anggada.


Maka yang terdengar adalah Suara Maheso Suro kemudian.


“Halo…. Halo…. Anggada…. Halo….


Sudah sampai mana, sudah berhasil membawa Yasin sampai dimana ?” Tanya Maheso Suro.


Kemudian aku yang menjawab.


“Sudah sudah berhasil ditangkap oleh Yasin Anggada nya, sebentar lagi kamu yang akan aku tangkap Maheso geblek….!?” Bentakku ke maheso Suro.


“Kurang ajar kamu, jangan senang dulu bisa menangkap muridku kamu yasin !” ancam Maheso Suro.


“Iya aku memang belum senang kalo Cuma bisa nagkap murid kamu saja, toh kalo Cuma nangkep murid kamu yang goblok seperti gurunya yang tolol juga udah aku lakukan dari dulu. Sayangnya gurunya lebih pengecut gak berani berhadapan dengan aku langsung.” Jawabku.


Kemudian Ponsel dimatiiin oleh Maheso Suro, kemudian Anggada dan temenya dibawa oleh pak Yadi untuk dimasukan ke Hotel prodeo alias penjara.


“Pak Yasin ikut saya sebentar ngawal dua orang ini ke kantor polisi, dan MAs Rofiq juga mas Sena ikut sekalian saja. Tapi pak Yasin biar bersama saya.” Kata pak Yadi.


Kemudian kami membawa dua anak buah Maheso Suro itu kekantor Polisi dan kemudian segera kemabli kerumah pak Yadi setelah urusan di kantor polisi beres.


Sesampai dirumah pak Yadi, belum sampai masuk kerumah sudah dihadang Siska istri pak Yadi.


“MAs Yadi, itu orangnya teriak teriak lagi seperti kemarin…!” seru Siska istri pak Yadi.


Aku kaget buka karena ucapan Siska istri pak yadi yang mengatakan ada yang teriak teriak lagi. Tapi kaget karena sekarang manggil suaminya dengan sebutan ‘mas’ bukan pak e seperti dulu. Wah usahaku berhasil berarti, batinku.


“Siapa mbak Siska yang teriak teriak ?” tanyaku pada istri pak Yadi.


“Itu pak, pemilik losmen tempat menginap korban dulu ?” ucap Siska.


Kemudian pak yadi segera mengajakku masuk ke tempat orang itu diikuti Sena dan Rofiq. Sesampai disana tiba tiba dari menjerit orang itu kemudian malah tertawa.


“Wha hahah ahahah….. kamu yang aku tunggu akhirnya datang juga sekarang.” Berkata seperti itu orang itu sambil menunjuk mukaku….???


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2