
Sementara, kulihat Isti hanya menahan tawa geli.
" Lupa apa Fatimah ?" tanyaku heran.
" Tadi, sehabis Fatimah ngingetin pesan ibu dan Yuyutnya Fatimah. Mas bilang gak mau ngrepotin beliau berdua. Terus Isti ngajak dibahas setelah mujahadah, tapi mas ngotot minta dibahas langsung. Eeeh akhirnya cuma jadi debat kan ?" kata Isti.
Aku jadi inget sekarang, dengan ucapanku tadi.
" He he he ya maaf, lagi bad mood tadi " kilahku.
Akhirnya kami ngobrol santai, saling mengingatkan kekurangan masing masing. Sampai akhirnya Arum dan Khotimah ikut Bergabung.
"Jadi gini mas, Isti kan dah denger saat mas di pondok nya kang Salim.
Kang Salim kan sudah memberikan ISYAROH ( Isyarat ) pada mas Yasin, jika kelemahan mas itu di psykologis. Jadi tolong untuk hal itu diperkuat mas !" ucap Isti.
" Aku mang punya trauma masa lalu jadi agak susah kemarin waktu ditempat kang Salim." kilahku.
" Terus kalo sekarang gimana ?" tanya Fatimah.
" Minimal banyak berkurang, apa yg kemarin aku khawatirkan sudah bisa terlewati dengan Aman !" jawabku.
Aku berbicara dengan nada santai setelah perdebatan cukup hangat sebelumnya.
Sidiq yang di pangkuanku lama lama tertidur. Kemudian ku berikan pada Fatimah, namun dilarang Arum. Biar aku yang gendong sini Fat, kamu jaga kandunganmu. Udah semakin besar tuh, USG belum ?" tanya Arum.
" Belum lah, belum 4 bulan kok Rum !" jawab Fatimah.
" Masa ? kok udah nampak besar. Salah hitung gak ?" tanya Arum.
" Udah gak usah dibahas, nanti waktunya lahir kan lahir !" sahutku.
" Gak gitu, maksut Arum kalo gak salah hitung bisa jadi istrimu hamil anak kembar !" jawab Arum.
Aku tersentak kaget, seingatku anak kembar itu faktor genotip. Dan aku gak punya gen kembar. Apa mungkin Fatimah ? batinku.
" Fatimah punya gen kembar gak Fat ?" tanyaku.
" Gak tahu juga kalo dari nenek atau kakek. Fatimah sendiri kan anak tunggal. Tau gak Khotimah ?" tanya Fatimah ke Khotimah.
" Saudara Yuyut ada yg kembar katanya, tapi meninggal sebelum menikah. Kembaranya yang satu meninggal sebelum punya anak." jawab Khotimah.
" Ya bisa jadi, kalo begitu Fatimah mungkin bawa gen kembar !" ucapku.
" Isti jadi penasaran, kalo kaliyan punya anak Kembar. Pasti lucu lucu dan kalian pasti bahagia banget nanti." kata Isti.
Aku hanya terdiam, gak enak dengan Arum.
" Fatimah agak takut nih, gimana nanti kalo lahiran anak Fatimah kembar ?" ucap Fatimah.
" Gak papa Fat, semua dukung kamu nanti." kata Arum menghibur Fatimah.
" Owh iya segera USG aja nanti !" Isti menimpali.
" Gak usahlah, biar jadi sureprise aja. Lagian kita kan baru di karantina sekarang !" jawab Fatimah.
" Lah terus pemeriksaan kandungan kamu gimana nanti Fat ?" tanya Arum.
Aku sangat haru melihat hubungan Arum dan Fatimah yang terlihat begitu dekat seperti tanpa pernah ada masalah. Ya mungkin Arum begitu peduli dengan Fatimah karena Fatimah pun sangat peduli dengan Sidiq.
" Ada nanti bidan Desa yang akan datang periksa kandungan Fatimah secara rutin !" jawabku.
"Owh sukurlah, yang penting tetap terjaga. Sekarang gini aja, Fatimah jangan mengerjakan pekerjaan berat dulu. Kan ada Isti,ada Khotimah dan juga Arum. Biar kami yang kerjakan pekerjaan Fatimah !" ucap Arum.
Semua terdiam, apa lagi aku tak mampu berucap sepatah katapun saat itu.
Untunglah terdengar kumandang adzan asar saat itu. Kami semua pun menjalankan Solat asar berjamaah. Hanya Arum yg gak ikut karena baru berhalangan.
" Aku belum bisa ikut, paling besuk baru tuntas !" seru Arum.
__ADS_1
"Yaudah mbak Arum jagain Sidiq aja ya ?" ucap Isti.
Usai jamaah solat Asar, kami kembali melanjutkan obrolan tentang strategi melawan tindak kedholiman yang melibatkan kami sebagai targetnya.
" Sebenarnya, kejadianya gimana mas ?" tanya Fatimah.
" Sulit dijelaskan, yg jelas gak cuma satu kasus aja. Tapi saling berkaitan, dari kasus pembunuhan prostitusi sampai peredaran Narkoba dan mungkin ada kaitanya dengan kejadian kejadian Mistis." ucapku.
" Mendingan telpun bapak, suruh nanyain ke Yuyut mas !" usul Fatimah.
" Aku malu Fat, Fatimah saja yang telpun. Nanti kata Yuyut gimana mas ngikut aja." jawabku.
" Yaudah, nanti Fatimah telpon bapak !" kata Fatimah.
" Nah gitu kan adem mas lihatnya, Isti ikut bahagia kalian akur gitu. Seperti saat Isti denger kaliyan telpun pas Isti godain Fatimah waktu itu !" ucap Isti.
"Yang Fatimah sampai cemburu dan marah itu ya ?" gurauku.
" Yee ngomongin yang gitu mulu !" sungut Fatimah.
Aku dan Fatimah kemudian mengajak Isti dan Khotimah lihat proses grafting Anggur & Durian.
Arum datang belakangan setelah menidurkan Sidiq.
" Ini buat bikin bakal batang bawah di tanam sampai tumbuh akar dan daun. Kemudian setelah cukup kita lakukan Grafting dengan jenis yang kita inginka." kataku memulai pembicaraan.
Sore itu sambil perkenalan cara grafting anggur. Aku godain Khotimah.
" Dari tiga polisi itu ada yg cocok gak Khot ?" ucapku menggoda Khotimah.
" Apaan sih mas nih !" gerutu Khotimah.
" Tenang aja Khot, suami Fatimah tu sehari gak isengin orang aja bisa demam dia !" ejek Isti padaku.
" Iya mbak, kerjaanya usil tuh. Untung mbak ku orangnya sabar." timpal Khotimah.
" Eeh kok jadi pada ngeroyok aku nih ?" guraku.
" Yah... Sidiq mau mandi." ucap Sidiq.
" Owh Sidiq udah bangun, mo mandi sama siyapa ? Ayah bunda atau mamah ?" tanyaku pada Sidiq.
" Sama Ayah aja !" pinta Sidiq.
Aku segera ajak Sidiq masuk kamar mandi.
" Tolong siapin baju gantinya Sidiq, biar aku yang mandiin." kataku tanpa menyebut nama khusus. Dan kulihat Arum dan Isti yang bergerak menyiapkan baju ganti Sidiq.
" Ayuk mbak Arum, kita siapin baju gantinya Sidiq !" ajak Isti ke Arum.
Hari itu semua berjalan lancar sampai maghrib tiba.
Aktivitas berjalan normal tak ada kendala. Sampai saat mujahadah bakdal Isya.
.......................
Ditengah pelaksanaan Mujahadah, terdengar suara atap rumah seperti di lempari batu. Makin lama makin sering dan makin jelas. Aku berusaha tetap tenang, agar jamaah tidak bubar.
Alhamdulillah jamaah mujahadah tetap melanjutkan baca doa. Suara seperti batu kerikil yang menimpa atap hilang. Tapi beberapa saat kemudian justru terdengar suara seperti ledakan di atas rumahku. Diikuti suara sepert taburan pecahan benda menjatuhi genting rumah.
Seperti suara kerikil dan pasir yang dilemparkan ke atap rumahku.
Semua tetap bertahan, dalam posisinya duduk bermujahadah.
Akhir, doa kutambah doa tulak bala.
Suasana berubah hening, biasanya selesai mujahadah langsung pada ngobrol. Saat itu selesai mujahadah semua teriam.
" Sidiq sama Arum suruh kumpul sini semua !" pintaku pada Amir dan Heri.
__ADS_1
" Menurut mas Yasin, suara itu tadi apa ?" tanya Isti.
" Nanti aja, aku mau tengok keluar sebentar. Kaliyan disini saja semua." ucapku.
Setelah Arum dan Sidiq ikut kumpul aku ajak tiga polisi yang menyamar itu keluar rumah.
" Isti, Fatimah dan semua saja bantu doa ya !" kataku pada mereka.
Tanpa menunggu jawaban aku langsung keluar rumah. Memeriksa kondisi luar rumah dan atap rumah.
Tak ada bekas apapun yang tampak. Padahal jelas tadi semua mendengar suara atap rumah di lempari batu kerikil dan suara ledakan.
" Mas Fanani temenin saya dulu, yang lain kembali kedalam saja. Jangan sampai kita terkecoh, cowok keluar rumah semua." pintaku.
Aku dan Fanani berjalan mengitari rumah. Memeriksa secara rinci, apakah ada jejak jejak mencurigakan. Sampai tiga kali kami mengitari rumah.
Pas putaran ketiga itulah, terlihat api sebesar bola voli yang berputar putar melayang diudara.
" Apa itu pak ?" tanya Fanani.
" Udah biarin aja, gak usah dibahas." jawabku sambil terus melantunkan doa.
Tiba tiba bola api itu menjauh dan lenyap di kejauhan. Lenyapnya bola api itu berganti dengan aroma dupa yang sangat menyengat.
" Hemmm.. agaknya permainan telah dimulai. Para dukun bayaran itu sudah mulai menjalankan aksinya." bisikku dalam hati.
Fanani ikut berjalan mengitari rumah, sampai dengan tujuh kali putaran. Mengikuti arah orang thowaf berlawanan dengan arah jarum jam.
Sebenarnya aku merasakan kehadiran makhluq makhluq astral yang membawa aura negatif. Namun aku biarkan saja, selama tidak masuk kerumahku bikin rusuh. Dan dengan melakukan ritual membuat pagar ghoib mengelilingi rumah itu. Aku berharap makhlukk mkhluk astral itu tak mampu mengganggu orang dirumah. Tentu saja berharap atas ijin Allah Swt.
Selesai berputar tujuh putaran, aku dan Fanani segera masuk rumah.
Kulihat semua kumpul di ruang mujahadah.
Susana hening, tak satupun dari mereka berbicara.
" Kok pada diam saja ?" tanyaku mencoba mencairkan suasana kaku.
Kulihat Sidiq yang sudah tertidur di pangkuan Fatimah. Sementara Arum memijit mijit kaki Sidiq.
" Tadi kita mencium aroma kembang mas ?" jawab Fatimah.
" Gak papa, mudah mudahan semua aman." kataku.
"Pak kami mau pulang saja besuk kami kesini lagi." kata Amir mewakili teman teman nya.
" Owh yaudah, besuk jangan lupa ibuk mu suruh kesini sebelum ke pasar Mir!" kataku.
" Njih pak !" jawab Amir singkat.
Baru saja, rombongan Amir keluar ruang mujahadah. Datang seseorang menggedor gedor pintu sambil teriak.
" Pak... pak Yasin, tolong....!" teriak orang yang datang itu.
Semua jadi menengok ke pintu, dan Amir mendahului buka pintu.
...............
...Bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...