
" *mohon maaf masih dalam revisi, tanpa merubah dan mengurangi isi cerita. Semoga tetap menghibur !!!
...🙏🙏🙏*...
.......................
Bagian akhir episode lalu
Mas tamunya sudah datang !" suara Fatimah mengagetkan kami.
" Owh iya, ajak kesini aja. Khot antar ibunya Mbak Isti kekamar, dan kamu temenin dulu." pintaku pada Khotimah.
" Ibukku juga mas, kan udah jadi ibuk Khotimah sekarang." jawab Khotimah.
" Iya deh, o ya mas Hanif, mas Dicky dan mas Fanani mohon tunggu di ruang depan sebentar ya. Saya ada rembuk keluarga." ucapku.
" O iya siap pak !" jawab ketiganya serempak. Langsung meninggalkan tempat.
Bersamaan dengn masuknya Fatimah, Arum dan Sidiq.
" Assalaamu 'alaikum Ayah...!" suara Sidiq menyapaku dengan sebutan ayah.
Membuat beberapa orang dan ibunya isti dan lainya yg belum faham cerita jadi kaget.
" Hai sidiq anak ayah yg ganteng, sini sama ayah. Ayah mau bicara sama bunda dan mamahnya Sidiq. Sidiq main sama tante Khotimah dan eyang putri dulu ya !" pintaku pada Sidiq.
" Iya yah, tapi nanti Sidiq bobok sama ayah lagi !" jawab Sidiq.
" Maaf aku antar Sidiq ke Khotimah dulu ya " ucapku ke Arum, Isti dan Fatimah.
Ketiganya serempak menjawab " iya mas !"
Aku menyusul Khotimah
" Khot mas titip Sidiq dulu ya ?" ucapku pada Khotimah.
" Iya boleh, sini Sidiq sama tante dulu !" ajak Khotimah ke Sidiq.
Sidiq mengikuti ajakan khotimah, meski agak ragu atau malu munkin.
Aku kembali menemui Arum dn Fatimah juga Isti.
" Siapa yang hendak memulai bicara, aku rasa gak perlu kujelaskan lagi. Semua sudah jelas, baik Fatimah maupun Arum juga Isti yg menjadi saksi malsm ini." Ucapku.
Kemudian Arum yg menyahut perkataanku.
" Maaf sebelumnya, bukan maksut Arum mau mengusik kebahagiaan keluarga Fatimah dan mas Yasin. Arum hanya memikirkan Sidiq yg tidak bersalah apapa. Kalo Arum sendiri menyadari posisi Arum sekarang. Yang Arum mau hanyalah pengakuan atas Sidiq, sebagai anak. Agar nasibnya nanti tidak terlunta lunta dengan status yg tidak jelas." ucap Arum memulai pembicaraan.
" Iya Fatimah tahu maaf, kesalahan kalian dimasa lalu menjadikan Sidiq sebagai korban. Solusi yg Fatimah usulkan, Sidiq kami adopsi. Untuk keperluan surat menyurat kelak, biar tertuang nama bapaknya. Dengan catatan Arum tetap boleh jenguk Sidiq. Tapi tetap harus pemberitahuan pada kami, jika mau bawa Sidiq keluar rumah !" kata Fatimah menanggapi Arum.
" Arum sebagai ibu kandung Sidiq, tentu punya hak juga buat ajak Sidiq jalan. Soal Adopsi itu sebatas keperluan pengakuan dan surat menyurat saja kan Fatimah ?" tanya Arum pada Fatimah.
" Lebihnya dari itu jujur saja ya Arum, Fatimah tidak ingin kamu sering berinteraksi dengan bapaknya Sidiq suamiku. Fatimah menjaga semuanya, biar bagaimanapun kalian punya kisah masa lalu. Tentu saja demi menghindari hal yg kurang baik !" jawab Fatimah istriku.
" Iya Arum tahu itu, dari awal sudah bilang Arum tidak akan mengusik kebahagiaan kaliyan." sela Arum.
Pembicaraan sudah mulai menghangat, aku yg merasa bersalah tak mampu untuk bicara. Aku ikuti saja pembicaraan mereka, sambil berharap semua berakhir baik.
" Iya Fatimah percaya itu, hanya saja ini demi kebaikan semua. Juga demi kehormatan kita sebagai wanita." jelas Fatimah.
Dari dialog itu tampaknya Fatimah lebih menguasai segalanya. Dari materi maupun dari segi emosi nya.
Aku berharap Isti sebagai penengah, bisa mendinginkan suasana. Jika dialog itu semakin memanas.
" Maksut Fatimah kehormatan yg gimana ?" tanya Arum agak salah faham.
__ADS_1
Aku pribadi maklum, karena sejak peristiwa Arum mengandung itu kata kehormatan jadi mengerikan bagi Arum. Namun aku tak mamu berbuat banyak.
Aku serba salah dihadapan dua wanita itu. Satu istri sah ku yg baru mengandung. Satu lagi ibu dari anak kandungku yg lahir diluar nikah.
Andai saja bukan karena kesabaran Fatimah istriku tentu saja Arum tak akan bisa hadir disitu malam itu.
Mau gak mau, aku harusangkat bicara.
" Begini biar aku jelaskan...!" kataku ku jeda sebentar.
" Maksut istriku, untuk menjaga nama baikmu Arum dan menghindari fitnah. Kita harus jaga jarak, jadi kalopun harus bertemu ya bertemunya seperti ini !" jelasku.
Tiba tiba Isti ikut menimpali.
" Maaf mbak Arum, sebenarnya saya pribadi sempat salah sangka. Tapi ternyata mbak Arum itu luar biasa. Sama seperti pada mas Yasin Ayah Sidiq suami Fatimah kami pun sempat salah sangka. Jadi kaliyan punya masa lalu yg buruk pun kami yakin, mbak Arum itu orangnya baik. Jadi Fatimah dan semua yg disini ingin mbak Arum punya masa depan yg lebih baik lagi !" seru Isti.
" Masa depan yg lebih baik gimana maksutnya ?" tanya Arum.
"Maksut Isti begini mbak Arum, mbak Arum itu punya niat yg tulus menurut Isti. Untuk berubah jadi baik dan berkeinginan Sidiq dididik dengan pendidikan agama yg baik. Jadi maksut Isti dan Fatimah tadi, menunjukkan Adab atau perilaku yg seharusnya. Bukan karena cemburu atau curiga, begitu kan Fatimah ?" tanya Isti menegaskan Fatimah.
" Iya Arum maksut Fatimah begitu, hanya mungkin Fatimah tidak bisa ngomong seperti Isti !" ucap Fatimah.
" Owh iya, Arum faham sekarang. Maaf tadi sempat agak kurang faham. Jadi Arum malam ini boleh gak nemenin Sidiq disini ?" tanya Arum.
" Tentu boleh dong Arum, kamu kan tamu Fatimah malam ini !" jawab Fatimah.
Hatiku jadi lega, melihat dua wanita yg pernah singgah di hatiku itu bisa rukun. Dan saling memahami posisi dan kondisi masing masing. Apa lagi saat Fatimah dan Arum saling berpelukan. Rasanya runtuh pertahanan air mataku, tak mampu kubendung lagi.
Berbagai rasa tak menentu yg ada dalam hatiku saat itu. Haru, bahagia kagum pada keduanya penyesalan atas dosa campur aduk jadi satu.
Kulihat Isti pun menitikan air mata juga. Kemudian Isti ikut merangkul Arum dan Fatimah. Seperti dejavu pikirku, ingat cerita Fatimah saat sedang pelukan dengan Eis dan Isti ikut memeluk mereka. Hatiku semakin tak menentu " aduh Fatimah keoikiran seperti aku tidak ya ?" batinku.
" Sudahlah Fatimah dan mbak Arum, kasihan Sidiq sudah malam !" seru Isti.
Kemudian Sidiq dipanggil Isti, dan bersenda gurau bersama Fatimah, Arum dan Isti. Sementara Khotimah lebih memilih bersama ibunya Isti.
.....................
...Fatimah pov...
" Nama lengkapnya siapa Sidiq ?" tanya Fatimah ke Sidiq.
" Sidiq Sekartadji bunda " jawab Sidiq polos.
Nama depan nya pasti diambil dari nama asli suamiku, Ahmad Sidiq.
Sedangkan nama belakang dari ibunya Sekar Arum, diambil Sekar nya. Sedang tadji artinya sama dengan jalu / Tadji ayam. Boleh juga Arum kasih nama anaknya.
" Aduh bagus sekali namanya ya, Arum pinter ya merangkai nama ?" kataku setengah nyindir juga.
Jujur meski secara hati nurani aku sudah menerima keaadaan ini. Tapi secara manusiawi ada sedikit jealous juga.
" Ah gak juga Fat, semoga gak jadi masalah nama itu !" jawab Arum.
" Owh gak kok Rum, gak masalah sama sekali !" jawabku sedikit dusta.
" Iyalah lagian hanya sebatas nama kan gak masalah ya Fat !" sahut Isti.
" Iya Is bener tu Is !" jawabku.
" Syukurlah, Arum lega Sidiq dapat bunda yg solihah cantik dan baik hati." ucap Arum.
" Ah gak usah berlebihan Arum, Fatimah manusia biasa juga kok !" jawabku. Dalam hatiku berkata "Fatimah begini sebenarnya menahan Arum, menahan pedihnya luka hati." bisiku dalam hati.
" Fat, boleh gak aku bicara empat mata dengan Arum ? Sementara Sidiq kamu ajak ke kamarmu. Kan Sidiq pingin tidur sama ayahnya ?" ucap Isti.
__ADS_1
" Iya boleh, yuk Sidiq ikut bunda ! biar mamah Sidiq ngobrol sama tante Isti dulu." ucapku.
Sidiq yg sudah ngantuk itu hanya nurut saja kugendong. Lalu kuajak masuk kekamar dan aku tidurkan. Ada kekaguman pada Sidiq, selain paras wajahnya yg tampan.
...Fatimah pov end...
.......................
...Isti pov...
" Maaf mbak Arum, kita sesama wanita. Saya mau bicara dari hati ke hati. Boleh tidak mbak ?" tanyaku ke Arum.
" Ada masalah apa ya ?" jawab Arum balik bertanya.
" Gak ada masalah kok, hanya curhat sesama wanita saja !" kataku.
" Iya gak papa, Arum sebenarnya minder sama kamu dan Fatimah yg begitu penyabar. Gak seperti Arum yg banyak dosa, kaliyan begitu taat agama !" ucap Arum justru membuka jalan bagiku untuk masuk ke topik sebenarnya.
" Gak usah minder mbak Arum, kita itu sama. Sama sama berpeluang mendapat dosa dan mendapat pahala !" jawabku membesarkan hatinya.
" Tapi kalo Arum sudah melakukan dosa besar, tidak seperti kaliyan yg masih suci. Hamil dan melahirkan diluar nikah, sungguh memalukan di dusun." jawab Arum sambil terisak.
" Gak ada orang suci, semua punya dosa. Hanya Rasulullah yg punya gelar maksum. Kalo yg mbak maksut suci itu masih perawan sebelum nikah, itu bukan karena Isti itu baik, tapi karena pertolongan Allah saja mbak Arum !" jawabku ke Arum.
"Maksutnya ?" tanya Arum penasaran.
" Apa yg sudah terjadi pada mbak Arum itu takdir. Yang sudah lalu biarlah berlalu, sekarang rencana mbak Arum gimana ? Yang untuk mbak Arum sendiri, kalo soal Sidiq kan sudah selesai !" jawabku ke Arum.
" Entah lah, Arum belum punya rencana apapun !" jawab Arum.
" Maaf jika Isti lancang, apa mbak Arum masih berharap cinta nya mas Yasin eeh maksut Isti mas Ahmad Sidiq ?" tanyaku membuat Arum terkejut.
Lama terdiam tak bisa menjawab.
" Jujur saja gak papa mbak, itu kan masalah hati. Gak bisa dipaksa atau dilarang !" desakku pada Arum.
" Jujur saja, sulit melupakan mas Sidiq. Disamping dulu saling cinta. Dialah satu satunya orang yg sudah menjamahku. Sampai aku mengandung dan melahirkan. Tapi begitu tahu Fatimah, Arum tak lagi berharap lebih. Fatimah bisa menerima Sidiq saja Arum dah bersukur. Biar Fatimah dan suaminya tetap bahagia, Arum rencana mau pergi keluar kota cari kerja. " Jawab Arum.
" Kenapa harus keluar kota mbak Arum ?" tanyaku.
" Biar bisa melupakan bapaknya Sidiq, dan mendapatkan penggantinya. Arum juga manusia normal butuh pendamping. Selama ini nunggu bapaknya Sidiq, tapi ternyata sudah jadi milik orang lain. Jadi Arum harus ikhlas asal Sidiq diakui sebagai anaknya." jawab Arum.
Membuat aku juga tak mampu menahan tetes air mataku.
..............................
...bersambung...
Note :
Masalah sebesar apapun,, bisa diselesaikan dengan komunikasi yg baik.
Tanpa komunikasi yg baik, masalah kecilpun akan menjadi besar.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...