Isyaroh

Isyaroh
Candra Naksir Khotimah


__ADS_3

Kok bisa kamu menjalani kehidupan seperti itu ?” Tanya Candra.


“Bisa saja lah mas, namanya kita sudah gak terlalu ambil pusing dengan urusan urusan duniawi. Yang penting kita berupaya semaksimal mugkin soal hasil kan Tuhan yang menentukan. Kita mencintai seseorang kalo Tuhan menggariskan jodoh kita orang lain mau apa lagi.” Kataku.


“Owh iya, aku kan belum nikah jadi gak tahu. Kemarin waktu aku sama bapak kerumahmu kamu kenalkan dengan sepupu istrimu dia udah punya pacar apa belum. Kalo belum aku kenalin dong, atau kalo mau aku mau kok langsung menikahi dia !” kata Candra.


Bak tersambar petir aku mendengar ucapan Candra waktu itu, karena Khotimah yang dia maksut sedang ada pendekatan dengan Fanani. Meski belum ada pembicaraan yang pasti, tapi ini ada orang yang menyatakan mau menikahi dia. Bagaimana aku harus menjelaskan ke Candra dan Khotimah nanti ? Candra kakaknya Arum, baru saja berbaikan dengan akau yang selama ini dia sangat membenciku. Kalo ditolak bisa bahaya, tapi aku juga gak mungkin memaksa Khotimah untuk kepentinganku sendiri juga.


“Waduh soal dia punya pacar apa belum kayaknya privasi ia deh mas, tapi kalo mas Candra serius langsung dilamar saja. Jangan sampai kedahuluan orang lain, sebab gadis yang sudah dilamar haram hukumnya dilamar orang lain kalo dia tahu. Kalo baru pacaran sih boleh dilamar.” Kataku pada Candra.”Tunggu, gadis yang punya pacar boleh dilamar oraang lain. Tapi melamar gadis yang sudah dilamar orang lain tidak boleh, kalo yang dilamar gak ma uterus bagaimana ?” Tanya Candra padaku.


“Begini mas, kalo misalnya mas Candra melamar Khotimah sepupu istriku. Kemudian wali nikahnya tidak langsung member jawaban tapi minta waktu misalny. Nah selama belum memberikan jawaban menerima atau menolak itu wali nikahnya haram menerima lamaran orang lain. Sebelum memberikan jawaban menolak lamaran orang yang sebelumnya. Kalo pacaran kan gak ada ikatan antar orang tua, jai punya pacar dilamarpun boleh. Soal diterima atau tiak itu kan haknya wali nikahnya atau gadis itu.” kataku.


“Kalo misalnya sepupu istrimu itu sudah dilamar orang, terus aku gak tahu melamar dia bagai mana ?” Tanya Candra kemudian.


“Yam as Candra kan gak tahu jadi gak papa, tapi wali nikah Khotimah harus member penjelasan bahwa Khotimah sedang dalam proses Khitbah / lamaran. Kalo lamaran itu sudah diterima maka mas Candra harus mundur. Kalo belum dan wali nikahnya rencana menolak lamaran orang sebelumnya maka mas Candra harus menunggu sampai orang sebelumnya mendapat jawaban.” Jelasku pada Candra.


“Owh begitu ya aturanya agama, tapi bagus juga sih. Menghindari ada orang tua gadis yang menerima dua lamaran atau lebih, dengan memilih mana yang paling kaya misalnya.” Komentar Candra.


“Lebih dari itu mas, jangan sampai kita itu jadi pengkhianat. Menerima lamaran kemudian membatalkan tiba tiba karena ada yang melamar dan dirasa lebih mapan misalnya. Makanya yang melamar pun dosa ketika sudah tahu bahwa gadis yang akan dilamarnya sudah dilamar orang lain.” Jawabku.


“Iya juga ya, ternyata aturan agama itu detail sampai ke soal lamar melamar juga diatur ya ?” komentar Candra.


“Makanya kalo mas Candra suka Khotimah segera lamar saja dia, soal diterima dan tidaknya itu soal nanti. Dari pada kedahuluan orang lain, mas Candra hanya bisa gigit jari nanti.” Kataku sambil bercanda.


“Kamu mau gak bantu aku ?” Tanya Candra tiba tiba.


“Bantu apa mas ?” tanyaku balik.


“Tanyain pada sepupu istrimu dia sudah punya pacar belum, kalo sudah aku takut kalo ditolak jika melamarnya nanti.” Kata Candra.


Aku tertawa mendengar pengakuan Candra yang ternyata cemen nyalinya. Tapi aku melihat ketulusan dia yang menyukai Khotimah sepupu Istriku itu.


“Aku takut kalo cerita malah membuat mas Candra jadi patah semangat nanti.” Kataku sambil menggodai dia.


“Maksut kamu gimana ?” Tanya Candra penasaran.


“Khotimah itu masih bingung, ada lelaki yang menyukai dia dan dia juga suka. Tapi lelaki itu dulu sudah pernah nikah,hanya istrinya pergi meninggalkan dia. Sehingga Khotimah bimbang, karena berpikir istrinya sampai pergi jangan jangan lelaki itu yang bermasalah. Yang saya takutkan kalo laki laki itu kemudian melamar khotimah, maka mas Candra akan kehilangan kesempatan. Karena kemungkinan besar lamaranya akan diterima mengingat Khotimah juga ada rasa suka.” Jawabku pada Candra.


“Berarti dia sudah punya pacar namanya, kenapa gak bilang dari tadi aja.” Jawab Candra.


“Kalo aku jadi mas Candra, baru status pacar aja gak akan membuatku mundur. Karena pacar itu ikatan yang tidak dilindungi hokum. Baik hokum Negara maupun hokum agama, siapa cepat dia dapat mas. Jadi lelaki ya harus berani lah masa baru denger dia punya pacar saja udah mundur. Apa lagi kronologisnya sudah aku kasih bocoran seperti itu. kalo memang suka kenapa harus mundur mas, lanjutkan saja.” Kataku member dorongan pada Candra.


Aku berpikir jika dia berani melamar Khotimah mungkin sedikit banyak aku bisa menyarankan pada Khotimah untuk menimbang antara memilih Candra yang perjaka tulen dengan Fanani yang statusnya belum jelas duda atau beristri.


“Kamu tinggal ngomong sih enak, aku yang malu jika lamran ditolak nanti.” Kata Candra.


“Ha ha ha… itu namanya kalah sebelum berperang mas. Tahu lamaran diterima atau tidak kan kalo sudah dilakukan, kalo belum sudah takut bayangan yang ada nanti penyesalan saja.” Jawabku.


“Penyesalan bagaimana, kan kita juga perlu memperhitungkan diterima atau di tolak. Kalo sekiranya ditolak mendingan gak usah dari pada malu.” Kilah Candra.


Dalam hatiku berkata,”cemen banget mas nya Arum ini ternyata. Apa gak ingat usahaku dulu saat mau menikahi Arum. Meski ditolak bahkan malah sampai dihajar tapi tetap tidak menyerah bahkan datang lagi dan dihajar lagi sampai akhirnya aku mengambil keputusan melupakan, karena katanya Arum sudah dinikahkan dengan orang lain. Meski itu hanya bohongan yang berakhir penyesalan juga.


Tapi gak mungkin juga aku mengungkit masa lalu itu, yang mungkin juga akan menyinggung perasaan dia.


“Menurut mas Candra, apakah lamaran mas Candra sudah pasti ditolak oleh wali nikahnya nanti ?” tanyaku.


“Ya gak tahu pasti sih, tapi katanya sepupu istrimu sudah punya pacar ?” kata Candra.


“Kan hubunganya juga belum pasti, kalo ternyata Khotimah mundur kareana mungkin istrinya balik lagi atau karena hal lain kan bisa saja.” Jawabku.


“Iya sih tapi bagaimana menurut kamu apakah aku harus melamar kepada orang tuanya ?” Tanya Candra.


“Orang tuanya sudah meninggal semuanya mas, sekarang wali nikahnya adalah bapak mertuaku yang kakak kandung bapaknya Khotimah.” Jawabku.


“Owh begitu, bisa gak kamu bantu aku agar Khotimah dan mertuamu mau menerima aku ?” Tanya Candra.


“Tergantung seberapa serius mas Candra menyukai Khotimah, kalo serius aku akan berusaha tapi kalo Cuma main main maka aku akan mencegah.” Jawabku.


“Aku gak main main, aku serius lihat sepupu istrimu rasanya adem aku langsung suka sama dia sejak lihat pertama kali.” Kata Candra.


“Yaudah lamar saja, jangan sampai terlambat kalo kalah duluan aku gak bisa bantu apa apa. Soalnya kalo sudah kedahuluan orang lain melamar mas Candra sudah tidak bisa melamar Khotimah lagi nanti.” Jawabku.


Candra malah jadi bingung dan gelisah, dia menepikan mobilnya kesebuah warung mengajakku minum dulu sambil melanjutkan obrolan sebelum sampai rumahku. Mungkin Candra malu jika obrolan dilanjutkan dirumahku, jadi dia ingin melanjutkan obrolan sambil ngopi ngopi.


“Kita lanjutin sambil ngopi aja yuk, dari pada keburu sampai rumahmu aku gak bisa lanjutin ngobrol nanti.” Katanya.


“Gak sekalian dirumah biar nanti sekalian aku telponkan mertuaku kalo mas Candra serius mau melamar Khotimah ?” godaku.


“Jangan dulu lahaku masih belum berani memutuskan sekarang.” Katanya ketakutan.


“Yaudah, tapi kalo kalah duluan sama orang lain jangan salahkan aku kalo mas Candra kelaman mikir.” Jawabku.


“Iya, aku akan msegera mengambil keputusan nanti aku bicara sama bapak dulu. Atau besuk kamu kujemput bantu aku ngomong sama bapak.” Kata Candra.


‘yang begitu ya mas Candra sendirilah gak usah sama aku. Mas bicara saja sama bapak, nanti kalo udah baru aku ikut bantuin. Jangan libatkan aku dalam pembicaraan dengan bapak, malah nanti aku yang dikira bujukin mas Candra agar melamar Khotimah.” Kataku.


“Yaudah, mau minum apa ?” Tanya Candra. Aku tersenyum dalamhati membaatin, “secepat itukah Candra berubah drastis denganku, dulu lihat aku seperti lihat anjing buduk sorot matanya penuh kebencian tapi sekarang berubah 180 derajat.” Meskipun aku juga memahami karena aku memang sangat bersalah waktu itu.

__ADS_1


“Aku kopi hitam tanpa gula aja mas.” Jawabku singkat.


Kemudian pelayan warung itu mengantarkan dua buah minuman kepada kami. Sambil menikmati kopi dan camilan yang dihidangkan kami melanjutkan obrolan.


“Aku serius mau mengajak sepupumu untuk menikah kalo dia mau, menurutmu apa yang harus aku lakukan. Tolong beri tahu aku bagaimana langkah yang harus aku lakukan !” pinta Candra.


“Hanya satu cara, lamar dia segera. Kemungkinan yang terjadi dia akan minta waktu,karena dia dekat dengan seseorang tapi belum pasti bisa berlanjut apa tidak. Tapi kalo tidk segera melamar dan kedahuluan maka hilanglah semua kesempatan yang ada. Dan mas Candra tidak punya harapan lagi buat mendapatkan Khotimah.” Jawabku.


“Sebenarnyaa seberapa jauh hubungaan Khotimah dengan pri itu ?” Tanya Candra kemudian.


“Sebatas saling tertarik, tapi baik Khotimah maupun lelaki itu masih sama sama ragu. Lelaki itu ragu karena masih ada rasa suka dengan mantan istrinya istrinya dan Khotimah juga demikian. Ragu karena belum tahu penyebab pasti istrinya pergi meninggalkan dia. Dan yang pasti belum ada lmaran resmi, sehingga masih terbuka bagi siapapun yang maau melamr Khotimah.” Jawabku.


Candra mendengarkan dengan sangat serius, aku jadi berpikir apakah Candra ini termasuk orang yang minder terhadap wanita. Sepertinya dia sangat minim pengalaman terhadap wanita, padahal dari segi wajah juga cukup tampan, bersih dan rapi penampilanya.


“Jujur saja kau tu takut sama perempuan, maksutku belum pernah ngomong suka dengan perempuan. Jadi saat ini ketika sudah waktunya berumah tangga saja masih bingung bagaimana cara ngomong dengan orang yang aku sukai, apalagi langsung melamar. Aku jaadi bingung mau mulai dari mana.” Cerita Candra seperti curhat.


Semakin kesini aku semakin yakin jika Candra tulus sudah memaafkan aku, terbukti dengan ia mau membuka diri bahkan menceritakan yang seharusnya itu menjadi privasi dia.


“Maf mas, selama ini mas Candra belum pernah punya pacar kah ?” tanyaku hati hati.


“Sudah sih, tapi itu dulu karena ulah temen temenku. Saat aku lagi ngobrol berdua dengan orang yang aku suka, aku mau menyatakan cinta tapi gak bisa ngomongnya. Tiba tiba temen temenku pada dating dan langsung pada berteriak, udah jadi ngomong belm Ndra kalo kamu mencintai dia, kok dari tadi Cuma pada bengong saja. Jelas saja aku jadi malu banget, tapi mau gak mau aku dipaksa segera ngomong didepan banyak orang lagi.” Kata Candra.


Aku bener bener gak bisa menahan tawaku mendengar cerita Candra waktu itu, meski sebenarnya takut menyinggung juga. Tapi apa daya tawaku tak dapat kutahan sampai sampai perutku terasa mulas.


“Lah malah ngetawain begitu, apanya yang lucu ?” kata Candra.


“Pantas kalo mas Candra jadi bingung mau melamar gadis, ternyata mas Candra ini orangnya pemalu toh sama wanita. Haadewwh maaf aku gak bisa nahan tawa dengerin cerita mas Candra. Tinggal bilang mau gak kamu jadi pacar aku, gitu aja susah amat sih mas. Missal ditolak yaudah cari yang lain, dari pada menyimpan didalam hati jadi nyesek sendiri.” Kataku sambbil tertawa.


“Yaitulah yang bagi aku susah, takut kalo ditolak kan malu.” Katanya.


“Ngapain juga malu, ditolak itu hal biasa kalo menyatakan cinta takut ditolak jangan menyatakan cinta. Seperti kalo mau melamar takut di tolak jangan melamar. Jadilah jomblo sekamanya.” Kataku pada kakaknya Arum yang ternya cupu itu.


“aah udah ah , yuk kuantar pulang. Tapi jangan singgung masalah ini dulu dirumah kamu nanti aku masih belum siap.” Kata Candra khawatir.


Hadeewwh aku masih menahan perutku yang sakit karena mentertawakan kecupuan Candra tadi. Kok bisa sih aku bertemu oraang macam begini kataku dalam hati. Kupikir dulu orangnya sangar berani dan tegas, ternyata dibalik itu semua hatinya begitu kecil. Untung saja dia kakanya Arum pak denya Sidiq anakku. Kalo bukan sudah aku bully habis habisan tadi, pikirku sambil menahan tawa.


“Ngapain sih masih tertawa tawa, menurut kamu ceritaku tadi lucu ?” kata Candra.


“Wah lucu banget mas, aku kira mas Candra dulu yang aku kenal galak dan sangar itu orangnya benar benar pemberani. Ternyata sama wanita saja ketakutan, jadi aku gak habis pikir saja.” Kataku spontan gak bisa ngerem mulutku.


“Aah kamu ini, makin kurang ajar sama aku !” gerutunya.


“Maaf mas, habis gak ngira sama sekali sih kalo mas Candra orangnya seperti itu.” kataku agak menyesal juga.


Untunglah kami segera sampai dirumahku dan aku ajak Candra masuk kerumah dulu. Dan kebetulaan Khotimah ada di depan langsung aku minta tolong untuk dibuatkan minum sekedar menahan kepulangan Candra agar tidak burur buru.


Candra yang melihat Khotimah malah jadi salah tingkah sendiri, seperti orang yang ketaakutan tanpa ekspresi sama sekali.


“Ayo mas duduk dulu, pulang habis maghrib sekalian saja, tanggung maghrib nih.” Kataku.


“Iya.” kata Candra singkat seperti baru belajar bicara saja.


Aku sengaja diam menunggu Candra yang mulai bicara duluan, kulihat dia seperti gelisah tidak tenang dan salah tingkah. Sampai Khotimah datang membawa minuman pun dia makin tegang dan tidak berani memandang kedepan apalagi menatap Khotimah, wajahnya hanya tertunduk menatap kelantai. Hamoir saja kau tak kuat menahan tawaku melihat tingkah Candra yang masih seperti ABG yang baru jatuh Cinta.


“Ehhm makasih ya Khot, minumanya.” Kataku membuka suara.


Dengan kalimat datar dan biasa seperti itu saja mebuat Candra kaget.


“Tumben mas, bilang makasih segala ke Khotimah biasanya langsung diminum saja. Ada apa nih kok sepertinya ada yang aneh ?” Tanya Khotimah yang penasaran dengan sikapku.


“Gak ada apa apa kok, memang gak boleh bilang makasih sama adiknya ?” godaku ke Khotimah.


“Ya gak gitu, Cuma biasanya mas Yasin kan gak biasanya gitu sama Khotimah. Kalo yang bikinin mabk Isti atau yang lain memang mas bilang makasih, tapi tidak kalo yang bikinin Khotimah.” Jawab Khotimah.


“Yak arena jarang bilang makasih selama ini, makanya aku bilang makasih sekarang biar kamu merasa dihargai.” Kataku menggoda sambil melikirik Candra yang hanya tertunduk.


“Ada apa sih ramai amat mas, eeh ada tamu kok minumnamnya gak diminum udah ditawarin belum tuh Khot ?” kata Fatimah istriku yang kemudian duduk di sampingku.


“Eeh iya lupa, silahkan diminum mas mas ini mas nya Mbak Arum yang kemarin kesini itu kan ?” Tanya Khotimah.


“Eeeh  iya mbak, saya mas nya Arum.” Jawab Candra singkat dan tergagap. Entah apa yang dia rasakan saat itu.


“Owh iya, mas ini yang kemarin kesini sama Bapaknya itu yam as. Maaf namanya siapa mas ?” tanya Fatimah istriku yang lupa namanya Candra.


“Nama saya Candra mbak.” Jawab Candra mendadak jai gugup.


“Mas canra jangan panggil istri saya mbak, apa lagi Khotimah sepupu istriku. Mas Candra kan pak de nya SIdiq.” Kataku.


“Iya mas, apa lagi Khotimah kan masih adiknya mbak Fatim panggil nama saja.” Kata khotimah yang malah ikut duduk menemani kami.


“Gimana mas, proses pemakaman lek nya tadi, lancarkan ?” Tanya Fatimah.


“Iya lancar kok semua lancar gak ada kendala.” Jawab Candra.


Hilang sudah kesan Candra yang dulu kukenal galak bengis dan temperamental. Kini Candra yang kulihat seperti kucing kecil yang tersiram air kedinginan menggigil dan ketakutan.


Ah duania, mungkin ini yang disebut cokro manggilingan ada saat kita dibawah ada saat kita diatas. Ketika dulu aku dibawah dinjak injak bagai hewan tak berguna oleh Candra. Saat ini justru Candra yang tidak berkutik sama sekali dihadapanku. Aku jadi kasihan melihatnya yang sangat kebingungan sampai bicarapun dia seperti gagap.

__ADS_1


“Owh iya mas, aku minta tolong ya. Supaya mas Candra ikut membujuk bapaknya agar lamaran bang Rofiq terhadap Arum besuk diterima !” kataku member semangat pada Candra.


“Iya, aku terserah Arum saja kalo dia mau aku dan bapak hanya bisa merestui saja.” Kata Candra.


“Alhamdulillah kalo mas Candra bersedia, besuk kalo mas Candra mau melamar seseorang aku juga siap membantu mas,  tinggal bilang saja gadis mana yang akan dilamar. Nanti aku akan bantu semampuku, sudah saatnya mas Candra juga menikah masak mau membujang terus.” Kataku memancing.


“Loh mas Candra ini juga belum menikah ?” Tanya Fatimah istriku.


“Belum nih, masih belum ada yang mau.” Jawab Candra sudah gak terlalu kaku.


“Belum ada  yang mau atau belum pernah mencoba melamar gadis mas ?” godaku.


“Ah kamu ini, bikin malu saja ya aku masih belum berani melamar gadis karena masih bingung mencari yang cocok.” Kata Candra sambil melirik Khotimah.


Sementara Khotimah yang merasa dirinya dilirik dan di perhatikan Candra juga ada perubahan pada wajahnya. Entah apa yang Khotimah pikirkan. Dan bagaimana hubungan dia dengan Fanani juga belum ada kabar.


“Segera saja mas, jangan banyak pilih malah bingung sendiri nanti. Kalo sudah ad yang dipandang cocok segera saja dilamar.” Kata Fatimah istriku.


Dalam hati aku berkata, “tuh kan gak Cuma aku yang bilang gitu” kataku dalam hati untuk Candra.


“Iya , kalo dik Fatimah ada pandangan boleh aku dikasih tahu biar aku ajak bapak melamar dia.” Jawab Candra mulai mincul keberanianya.


“Kayak gak bisa milih sendiri saja mas, harus istriku yang nyariin. Memang disini atau disekitar sini gak ada gadis yang kamu suka ?” tanyaku menggoda, melihat keberanian Candra yang sudah mulai muncul.


Tiba tiba Candra menginjak kakiku sambil tertunduk malu.


“Udah diminum dulu mas, jangan terlalu didengerin ucapan suamiku yang memang suka banget jahilin oraang.” Kata Fatimah Istriku.


Untung saja waktu terus terdengar kumandang Adzan maghrib, sehingga kami segera bergegas melaksanakan sholat maghrib. Sehingga Candra terlepas dari bullyanku.


Dan setelah solat maghrib pun Candra pamit pulang, karena dirumahnya ada acara ytahlilan untuk mendoakan alamarhum pak Satro.


“Aku mohon pamit dulu ya, nanti habis Isya ada acara tahlilan soalnya. Besuk kapan kapan aku main kesini lagi. “ pamit candra pada aku dan istriku.


“Iya mas hati hati,sama besuk kalo kesini lagi sekalian bapak diajak ya !” kataku pada Candra.


“Kenpa ?” Tanya Candra bingung.


“Sekalian kalo mas Candra mau melamar, kan ajak orang tua biar kelihatan serius.” Kataku.


Candra hanya tertunduk dan diam tak menjawab kemudian berlalu meninggalkan rumahku, tapi aku yakin dia tidak akan marah saat ini. karena semua kartu dia sudah aku pegang, keadaan sudah berbalik tidak seperti dulu lagi, batinku.


“Maksutnya mau melamar siapa mas, kamu tadi bilang mas Candra mau melamar melamar siapa ?” Tanya Fatimah.


“Aku bisikin sini, Candra naksir Khotimah dan mau melamar Khotimah !” bisikku di telinga istriku.


“Haaah terus Fanani gimana ?” kata Fatimah sambil melotot.


“Aku juga belum tahu, nanti kita tanyakan ke Khotimah saja. Bagaimana kelanjutan hubungan dengan Fanani. Kalo hanya dibuat menggantung tanpa ada kejelasan mending terima saja lamaran Candra. Jelas dia serius, masih perjaka dan yang jelas makin merekatkan persaudaraan. Tapi kalo hubungan Khotimah dengan fanani gak jelas, kalo hubungan Khotimaah dengan Fanani sudah jelas atau ada kepastian aku akan sampaikan ke Candra.” Kataku.


“Iya sih mas, kadang Fatimah juga mau nanya ke Khotimah juga gak enak. Tapi Fatimah juga Khawatir kan siapa dan bagaimana Fanani kita belum tahu, rumahnya dimana juga belum tahu.” Kata Fatimah.


“Yaudah, nanti habis mujahadan kita Tanya saja Khotimah. Kalo masih menggantung sekalian kita kasih tahu kalo Candra juga berniat melamar dia.” Kataku pada Fatimah.


“Iya deh terserah mas saja, Fatimah percayakan pada mas soal Khotimah. Kalo menurut mas lebih baik Candra ya Fatimah ikut saja. Dan kalo menurut mas lebih baik Fanani juga Fatimah ikut saja. Tergantung Khotimahnya sendiri yang akan menjalani nantinya.” Kata Fatimah istriku.




...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2