Isyaroh

Isyaroh
Perintah guru yang terlupakan


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Kemudian aku masuk Rumah dan segera membersihkan diri dan Sholat Isya bersama Sena.


Setelah itu kami melanjutkan bicara diruang tamu sambil ngopi. Gak terasa sudah pukul 1.30’ cukup lama juga yan dari habis maghrib sampai jam segini, pikirku.


Saat kami sedang membicarakan pertarungan ku dengan Joyo Maruto tiba tiba yuyut muncul dan langsung menyahut pembicaraan.


“Untung saja Kamu ditolong oleh Eyangmu Yasin, kalo tidak kamu sudah jadi bangkai tadi saat melawan ilmu kelabang seyutony Joyo Maruto.” Ucap Yuyut.


“Eyang Saya Yut, Eyang Siapa yut…?” tanyaku heran pada Yuyut.


*****


Episode ini


“Iya itu canggah ( leluhur kakeknya kakek ) mu, kamu cari tahu sendiri siapa dia.” Ucap Yuyut.


Aku termenung sejenak, jadi ingat ketika diminta Abah Guruku mencar leluhurku sampai tuju tingkat dan membacakan atau mengirimkan Surat Al-Fatihah sebanyak mungkin. Sebagai ujud birul walidain. ( Bakti pada orang tua ) aku seperti diingatkan akan dawuh abah guru yang belum aku laksanakan tersebut karena keburu dinikahkan dengan Fatimah istriku dan selanjutnya dihadapkan dengan banyak masalah ini.


“Iya Yut, saya baru ingat jika dulu diperintah Abah Guru mencari leluhur sampai 7 tingkat keatas dan disuruh mengirmkan hadiah Fatihah sebanyak mungkin. Namun belum berhasil sampai sekarang.” Jawabku.


“Bukan belum berhasil, tapi kamu belum berusaha bilang saja begitu.” Ucap Yuyut.


“Iya Yut belum saya laksanakan.” Jawabku cepat sebelum tongkatnya melayang ke tubuhku lagi.


“Yaudah Yuyut mau istirahat lagi jangan berisik. Satu lagi canggah kamu tadi yang mengobati kamu juga dari racun kelabang sayutonya Joyo Maruto. Dan sekaligus membantumu membuka Lathoif ruhi kamu.” Ucap Yuyut padaku.


Lathoif ruhi ? itu sangat sulit dilakukan bahkan bsa bertahun tahun masa bisa dengan secepat itu ? pikirku.


Tapi gak tahulah yang penting aku jadi ingat untuk mencari leluhurku sampai tingkat 7 minimal agar bisa hadiah doa  kepada beliau para leluhurku.


Setelah dirasa ngobrolnya cukup aku dan Sena pun pergi istirahat sejenak sambil menunggu subuh.


Aku masuk kekamar Fatimah istriku sudah tertidur pulas. Hati hati aku naik ke ranjang gar tidak membangunkan Fatimah yang tertidur pulas.


Aku merasa iba dengan Fatimah istriku yang terlalu sering aku tinggalkan,, jika awal nikah saat belum tumbuh rasa cinta sering kutinggal keluar entah mancing entah nongkrong saja. Kemudian saat sudah menyadari adanya rasa cinta pada diri kami berdua dan sudah saling menyatakan, justru harus terpisah oleh  keadaan. Fatimah istriku harus aku ungsikan ke rumah bapak ibunya demi keamanan.


Sampai sekarang, rasanya belum juga bisa lepas dari belenggu masalah yang jujur saja mengganggu urusan kemesraan antara aku dan Fatimah. Lama kupandangi wajah istriku, “kamu tu cantik Fat gak tahu mataku baru terbuka setelah menjadi suami syah kamu. Dulu kamu gak lebih dari temen biasa bahkan kadang menjadi comblangku dengan Eis. Tapi ternyata malah kamu jodohku, dan dari perjodohan kita justru bisa membuka tabir tabir masa lalu. Bahkan sampai bisa membuka tabir masa lalu kakek kakeku Sidiq Ali dan Jafar Sanjaya. Yang ternyata pernah terlibat cinta segi tiga dengan Yuyut kamu.


Dunia memang Aneh, mempertemukan kita dengan cara yang aneh. Ibumu dulu mencari keturunan Jafar sanjaya atau Sidiq Ali untuk dijodohkan denganmu, justru mendapatkan keturunan dari keduanya yaitu aku. Untung saja waktu itu ibumu tidak menemukan akau saat aku masih di jalan kegelapan Jika menemukan aku saat itu yang ada pasti ibumu jadi anti pati denganku.


Tanpa terasa tanganku sudah membelai rambut panjang Fatimah, karena kalo tidur atau baru berdua denganku jilbabnya selalu dilepas. Aku jadi gemes melihat wajah istriku, hingga aku gak sabar langsung mencium pipinya hingga dia terbangun.


“Iih mas bikin kaget saja, jangan kasar napa sih ?” ucapnya tapi sambil memelukku juga.


“Gak kok,mas hanya gemes mandangin wajah kamu jadi gak sabar terus cium kamu aja. Yaudah bobok lagi, subuh masih cukup lama.” Kataku pada Fatimah.


Kemudian kami sama sama tertidur dalam dekapan kasih sayang. Meski perut Fatimah sudah semakin besar namun bagiku tetap Sexy dan menarik. Yang tak pernah bosan untuk memandang wajahnya disamping inner beautynya yang menambah pesona.


*****


Usai subuh aku mencoba mengikuti Semaan Al-quran dan Alhamdulillah sudah kuat baca satu juz meski tidak kuat lagi meneruskan karena mataku masih terasa perih dan kornea mataku seperti berakomodasi secara paksa.


Usai membaca satu juz aku mundur dan ngopi sambil nunggu Fatimah menyiapkan ramuan obat. Aku mulai berpikir untuk memberikan perhatian kecil tapi yang bisa membuat hati istriku senang. Kira kira apa ya yang membuat dia bisa senang dengan perhatian kecilku, batinku.


Makanan dia gak punya makanan Favorit, pakaian dia juga bukan pengagum fashion, apa ya ? tanyaku dalam hati. Tiba tiba Nurul istrinya Sena lewat dan aku panggil.


“Dik Nurul lagi repot gak ?” tanyaku pada Nurul istri Sena.


“Gak kok mas, ada apa ?” Tanya balik Nurul.


Aku agak sungkan sebenarnya mau ngajak ngobrol kalo gak ada Sena, tapi lagi baca Quran meneruskan aku tadi.


“Emm maaf kalo mau bicara sebentar boleh gak, Cuma mau nanya sesuatu saja.” Jawabku.


“Boleh nanya apa mas ?” kata Nurul.


Kemudian aku cerita kalo mau menyenangkan hati Fatimah dengan perhatian kecil itu berupa apa yang mungkin disukai Fatimah.

__ADS_1


“Wah itu sih beda orang beda beda mas, tapi Nurul salut sama niat kamu mas. Gini saja Nurul coba pancing Mbakyu Fatim biar ngaku apa yang membuat dia itu bisa bahagia, nanti kalo udah aku kasih tahu sama mas Yasin deh.” Ucap Nurul.


“Beneran nih mau bantu ?” tanyaku pada Nurul.


“iya mas, bantuin biar keluarga makin harmonis itu kan pahala mas.” Jawab Nurul sambil benerin kaca matanya.


“Ok makasih sebelumnya, udah Cuma mau nanya itu aja kok. Makasih ya waktunya.” Ucapku pada Nurul.


“Iya mas, sama sama.” Jawab Nurul sambil jalan ke dapur mungkin mau menyiapkan minum buat suaminya yang sudah hampir selesai satu juz bacanya. Kemudian akan dilanjutkan Isti atau Khotimah yang berikutnya.


“Mau ngabisin kopi dulu atau mau diobatin dulu mas ?” Tanya Fatimah.


“Ngabisin kopi dulu deh kalo dingin gak enak nanti.” Jawabku.


“Yaudah Fatimah temenin sambil ngobrol.” Kata Fatimah.


Tumben nemenin aku ngopi sambil merokok lagi, terpaksa aku matiin rokokku dulu takut berefek pada anakku yang didalam kandungan Fatimah.


“Gak sayang mas, masi panjang dimatiin ?” Tanya Fatimah entah Apa maksutnya.


“Kan lebih sayang Anak dan istri dari ada rokoknya.” Jawabku dengan rayuan harian seperti biasa.


“Mas cerita dong bagaimana Laras semalam ?” pinta Fatimah.


Waduuh masak harus cerita komplit sampai cerita kalo aku lihat auratnya saat di Altar mau dipersembahkan buat tumbal segala. Tapi ya apa boleh buat kalo ditutupi dn tahu dari orang lain malah makin bahaya pikirku.


Akhirnya aku ceritakan kronologis awal dari saat masih dirumah pak Yadi kemudian terkena ilmu ‘Panggiring Sukma’ dan akhirnya disekap d pedepokan Joyo Maruto dan hampir dijadikan Tumbal oleh mereka. Lengkap dengan adegan Laras di lucuti busananya dengan parang oleh Joyo Maruto.


“Berarti mas lihat detailnya Laras dong ?” kata Fatimah sambil senyum.


“Ya lihat lah gimana agi kan aku mau menyelamatkan dia masak harus merem.” Jawabku.


“Iya Fatimah ngerti kok, Cuma penasaran saja. Mas kalo lihat orang lain gitu timbul hasrat gak ?” desak Fatimah. Membuatku bingung mau jawab apa.


:”Ya gitu deh,,, juju raja ya ngaruh lah aku kan laki laki Normal. Hanya saja aku tetap focus dengan tujuan dan aku tetap menjaga Iman. Laras aku tutupin dengan Jaket aku supaya dada dan bagian tubuh depanya tertutup saat ku bawa lari.” Jawabku.


Kemudian tiba tiba Sena datang ikut nimbrung.


“Tapi suami mbakyu tu tetep suka iseng, udah tahu laras semi bugil malah mau dikasihkan aku. Untung pak Yadi yang lbh dekat dan memerima Laras untuk dimasukan  ke mobil.” Ucap Sena.


“Kalo jahil dan iseng mah kayaknya dah gak bisa hilang dik, Mbak mu ini terima sajalah dari pada berharap dia sembuh malah makin bikin sakit hati nanti.” Jawab Fatimah.


Kemudian Nurul datang membawa kopi buat Sena dan ikut nimbrung.


“Itu tuh, suamiku semalam habis gendong gadis lain dalam kondisi gak pakai baju.” Jawab Fatimah sambil senyum.


“Astaghfirrullahal’adzim….! Beneran apa mas Yasin ?” Tanya Nurul kaget. Wah ini anak polos banget juga modelnya sama kayak Isti kayaknya kaku gak biasa bercanda, pikirku.


“Iya memang betul.” jawabku datar. Tapi disambung Sena.


“Tapi kamu jangan suudzon dulu, ceritanya mas Yasin tu lagi nyelametin si Laras yang mau diperkosa dan dijadikan tumbal. Dan saat as Yasin mengambil laras posisinya sudah terbuka auratnya dan tidak sadar. Jadi kondisi darurat demi menyelamatkan nyawa ya tetep mas Yasin bopong dengan ditutupi jaketnya mas Yasin.” Ucap Sena.


“Ooowwh maaf mas Nurul mikirnya tadi salah.” Ucap Nurul.


Fatimah hanya tersenyum melihat tingkah Nurul yang baru kenal dengan sifat isengku.


“Gak papa dik, dan karena aku orangnya suka berbagi maka setelah deket suamimu maka aku panggil dia untuk menggantikan kau membopong dan dimasukan ke mobil untuk dibawa kabur.” Kataku memancing emosi Nurul biar ngambek sama Sena dulu.


“Jadi mas Sena juga ikut bopong gadis itu ?” Tanya Nurul pada suaminya.


“Jangan salah paham dulu, akhirnya yang nyamperin pak Yadi karena lebih dekat dan yang bopong memasukan ke mobil pak Yadi bukan aku. Aah mas Yasin mau bikin istriku cemburu ya ?” ucap Sena.


“Loh aku kan hanya bilang memanggilmu untuk gentian membopong gak bilang kamu yang membopong ?” jawabku berkilah.


“Iiih mas aah jangan godain dik Nurul dong dia kan belum tahu sifat mas yang suka iseng begitu nanti marah beneran sama dik Sena.” Protes Fatimah.


Aku hanya tertawa saja mendengarnya.


“Aah mas Yasin tu masak sama adik sendiri saja godain gitu sih ?” ucap Nurul.


“He he he maaf maaf sekali sekali lah dik Nurul biar kamu gak terlalu serius dalam menjalani hidup. Dibikin selow saja.” Jawabku.


Begitulah obrolan kami pagi hari itu, setelah itu aku ke kamar dengan Fatimah untuk diobati mataku yang masih belum sehat betul penglihatanya. Ternyata warangan itu memang betul betul kuat. Untung saja tidak sampai buta, batinku.


Setelah selesai diobati Fatimah dan rasa perihnya sudah berkurang jauh di banding pertama kau kembali ke kamar tamu. Berbarengan dengan datangnya pak Yadi yang berpakaian dinas.


Setelah aku persilahkan masuk dan ikut duduk bergabung kemudian pak Yadi membuka obrolan.


“Maaf pak, soal gelang yang kemarin itu bagaimana ya ? Apa sudah di temukan sekarang ?” Tanya pak Yadi.


Aku jadi ingat jika menyimpan gelang yang bisa jadi petunjuk itu.

__ADS_1


“Owh iya pak, saya hampir lupa sebentar saya ambilkan.” Kataku pada pak Yadi.


Aku kemudian kembali ke kamarku untuk mengambil gelang yang akau temukan dengan Sena kemarin sore.


“Ini pak Gelangnya,memang ada initial nama, silahkan bapak periksa sendiri.” Kataku pada pak Yadi.


“Iya pak, berarti dugaan kita dari awal tidak meleset jika kalung ini memang milik pelaku initial ini kan sudah jelas. Dan katanya kemarin ada foto yang memperlihatkan gelang ini bersama pemiliknya. Kira kira siapa yang menyimpan foto itu ya pak, itu sangat penting untuk menguatkan bahwa gelang ini miliknya dan ada disekitar TKP mayat ditemukan dulu.” Kata pak Yadi.


“Wah jenengan tanyanya sama Tuti saja pak jangan dengan saya, mungkin Tuti tahu atau minimal ngerti siapa yang mempunyai foto tersebut pak.” Jawabku.


“Owh iya, yaudah kalo begitu biar saya mencari Tuti saja pak biar semuanya jelas.soalnya sidang berikutnya juga akan segera digelar dengan menghadirkan saksi pemilik Losmen dan mungkin juga Tuti dan Kawanya pak.” Jawab pak Yadi.


“Baiklah pak, semoga kasus ini cepat selesai saya sudah cape dengan kasus ini pak.” Ucapku.


“Iya pak, tapi kalo kasus ini sudah selesai jangan terus gak kontak lagi dengan saya pak. Bapak masih punya janji untuk ngopi bersama dengan keluarga saya loh !” ucap pak Yadi.


“Owh iya siap pak, silahkan datang kesini kita ngopi bareng nanti pak.” Ucapku.


Kemudian pak Yadi mohon pamit dan meninggalkan kami untuk mencari Tuti dengan membawa kalung itu.


Setelah pak Yadi pergi


“Wah ada lagi Tuti, siapa lagi tuh Tuti mas ?” Tanya Fatimah.


Aku jadi kaget ditanya begitu, gak mungkin yang ini aku ceritakan detailnya, batinku.


“dia itu teman korban yang dulu diancam mau dibunuh kemudian dilindungi pak Yadi.” Jawabku.


“Kok mas Yasin juga kenal dia ?” desak Fatimah. Membuatku harus hati hati bicara dengan istriku ini yang tampaknya baru dhinggapi api cemburu.


“Ya karena dari awal aku sudah kerja sama dengan pak Yadi membongkar kasus ini, karena aku akan dijebak jadikan pelaku pembunuhan tersebut.” Jawabku


“Owh begitu, kirain temen lama mas di masa lalu juga.” Ucap Fatimah.


“Ciyyee combokur nih…?” godaku.


“Gak lah GR amat orang Fatimah Cuma Nanya aja kok.” Jawab istriku memerah pipinya.


Saat sedang asik ngobrol tiba tiba ada seseorang yang datang dengan terburu buru.


“Maaf apa benar ini rumah pak Yasin ?” Tanya orang itu.


“Iya benar saya yang bernama Yasin.” Jawabku.


“Maaf pak diminta tolong kerumah pak Yadi, katanya penting.” Ucap orang itu.


“Loh barusan saja pak Yadi dari sini kok. Bapak ini siapa ?” tanyaku curiga padanya.


“Begini pak, saya ini tetangganya pak Yadi, barusan saya ditelpon pak Yadi disuruh minta tolong pak Yasin karena laras sekarang kambuh lagi. Teriak teriak karena pak Yadi menghubungi bapak tidak bisa dan baru menyelidiki sesuatu katanya.” Ucap orang itu.


“Kambuh gimana ?” tanyaku gak percaya.


“Dia teriak teriak meminta pulang dan meminta sesaji pak ? Kata Pak Yadi yang tahu kejadian sebelumnya pak Yasin sehingga saya diminta datang kesini mencari bantuan.” Ucap orang itu.


“Minta pulang, pulang kemana maksutnya ?” tanyaku heran. Karena hampir gak mungkin jika Joyo Maruto akan mengulangi perbuatanya lagi saat ini. disamping kakinya yang terluka pasti juga sibuk membenahi Padepokan dia dulu yang semalam aku rusak bersama Sena dan pak Yadi.


“Dia menyebut nama Joyo Maruto pak, gak tahu itu apa atau siapa maksutnya.” Jawab orang itu.


“Joyo Maruto ???” tanyaku dan Sena berbarengan.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2