Isyaroh

Isyaroh
Yasin terbawa ombak


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Aku gak mau larut dengan kemungkinan kemungkinan yang ada. Aku jalani saja apa yang disarankan Yuyut. Dan aku segera menemui Ftimah istriku setelah selesai diwejang yuyut.


Aku ceritakan apa yang disampaikan yuyut untukku kepada Fatimah istriku.


“Kok aneh yam as, kenapa bisa barengan dengan keinginan Fatimah ke pantai.” Tanya Fatimah.


“Gak usah dipikirin itu bukan ranah untuk dipikir tapi dijalani saja.” Kataku.


“Tapi menurut mas cara seperti itu melanggar Syariat atau tidak mas ?” Tanya Fatimah.


“Melanggar syariat bagaimana maksutnya ?” tanyaku balik pada Fatimah.


“Karena harus diceburin kelaut kemudian ditimbun pasir dan sebagainya. Apakah cara itu di benarkan ?” Tanya Fatimah. Aku gak tahu pasti apakah dia beneran bertanya atau sekedar ngetes, karena aku sebenarnya yunior dia di pesantren dulu.


“Kita ibaratkan begini saja Fat, kamu sakit karena sesuatu. Sehingga harus diobati dengan sebuah benda dan dengan cara tertentu. Misalnya kamu kemasukan duri, sehingga harus diambil durinya dengan jarum dengan cara tertentu apakah kamu anggap jarum itu atau cara tertentu itu kamu anggap menyalahi syariat ? jika kamu yakin kesembuhan itu tetap datangnya dari Allah. Intinya kesyirikan itu adanya didalam hati bukan terletak pada bendanya. Semua tergantung niat. Dan kau mengikuti saran yuyut itu sekedar melakukan ikhtiar bukan menganggap cara itu yang bisa menyembuhkan aku. Karena ikhtiar juga wajib, dan yang tahu caranya adalah ahlinya.


Dan dalam hal ini ahlinya kan Yuyut, aku hanya mengikuti saran dari yang lebih faham. Juga yakin jika yuyut pun gak berpikir ini harus dilakukan dengan cara seperti itu. hanya saja yang Yuyut ketahui caranya seperti itu sebagai usaha atau ikhtiar kita. Sedangkan hasil adalah hak prerogative Allah. Itulah mengapa manusia diberi akal tapi juga dibekali iman. Dua duanya harus dipakai sesuai porsinya masing masing. Gak usah risau dengan anggapan orang mau dibilang sirik atau apapun yang tahu hanya kita.


Karena kita yang menjalankan kita yang merasakan jika iman kita pada Allah sebagai satu satunya Dzat yang maha mengatur segalanya tidak goyah, tidak menganggap ada selain Allah yang bisa menolong kita gak masalah.


Hanya saja kadang kita membutuhkan sesuatu sebagai Wasilah ( Perantara ) seperti kita sakit minum obat, obat hanya perantara kesembuhan datang dr Allah. Itu saja gak usah dibikin pusing, jangan dikit dikit itu gak ada dijaman nabi. Kalo ngomongin itu bisa sehari semalam gak selesai Fat, karena banyak sekali pendapat tentang itu. yang jelas bagiku selama tidak berbenturan dengan usul fiqh tidak masalah, udah gitu aja. Kalo mau bahas itu secara khusus, lain waktu saja ya.” Kataku panjang lebar seperti sedang menasehati saja. Padahal meski dia istriku tapi ngajinya lebih lama dia dari pada aku.


“Iya mas, malah ceramahin Fatimah. Kan Fatimah Cuma nanya saja bukan mau ngajak debat.” Jawabnya sambil senyum.


“debat juga boleh saja, asal berdasrkan Argumen bukan berdasarkan sentiment. Itu mencerdaskan jika debat adu argument bukan adu sentiment. Kalo adu sentiment berakhir permusuhan pasti.” Jawabku santai.


“Iya iya, terus kapan mo berangkat mas ?” sore ini dan nanti malam aku harus berendam dilaut setelah Isya. Jadi berangkat dari sini habis Maghrib saja. Besuk kamu nyusul sama bapak ibu dan yuyut juga, bawain aku ganti baru aku bisa memenuhi keinginan kamu esuk harinya.” Jawabku.


“Mang mas gak kecapaian nanti ?” Tanya Fatimah.


“Insya Allah tidak.” Jawabku singkat.


Tiba tiba ibu mertuaku menyahut.


“Nanti semua berangkat bersama sekalian sama Fatimah juga. Biar yang lain dirumah, Insya Allah dirumah gak akan terjadi apa apa mala mini. Khotimah yang sudah di serahin untuk sementara jaga rumah ini. dan melanjutkan seaman quran bersama Isti dan lainya.” Kata ibu mertuaku.


“Owh njih bu, sendiko dawuh bu.” Jawabku.


“Biasa aja nak ngomongnya ibu malah gak ngerti kalo kamu ngomong pakai bahasa jawa halus begitu.” Jawab ibuku yang memang bahasanya ngapak.


“Njih bu, gak papa bu saya merasa gak sopan kalo bicaranya ngoko ( bhasa jawa Kasar ) karena saya bahasanya begitu. Beda kalo Fatimah yang matur, memang sudah bahasanya seperti itu jadi bukan gak sopan.” Kataku pada ibu mertua.

__ADS_1


“Yow is sak karepmu ( Yaudah terserah kamu ).” Jawab ibu mertuaku.


Dibantu Fatimah Khotimah dan Isti aku mempersiapkan semua yang diperlukan untuk perjalanan nanti dan yang dibutuhkan saat ritual yang akan aku lakukan.


“Mas. Kok Fatimah jadi khawatir ya ?” ucap Fatimah.


“Khawatir kenapa Fat ?” tanyaku.


“Jadi teringat kata yuyut yang katanya mas bisa seperti kakek Jafar yang dibunuh orang itu.” jawab Fatimah.


“Ya ini kan sedang usaha Fat, agar bisa lepas dari pengaruh buruk dari orang yang mau mencelakai aku.” Jawabku.


“Iya mas, tapi Fatimah jadi khawatir banget dengan keselamatan kamu.” Jawab Fatimah.


“Gak usah berlebihan begitu, semua sudah diatur. Kamu khawatir seperti apapun kalo takdir sudah menghendaki begitu aku juga tidak bisa menghindar. Makanya kita hanya wajib ikhtiar gak wajib berhasil, karena semua sudah diatur Allah.” Jawabku.


“Iya mas Fatimah juga tahu, khawatir kan boleh namanya juga menyangkut keselamatan suami.” Jawab Fatimah.


“Iya boleh banget dan aku senang kamu mengkhawatirkan aku. Tapi gak usah berlebihan juga lah Fat, yang penting doakan saja semua lancar agar tanda yang dimaksut Yuyut itu bisa hilang.” Jawabnya.


“Pasti lah mas kalo itu, bahkan gak hanya Fatimah semua nanti malam akan mendoakan mas juga meski dri rumah sekalipun.” Jawab Fatimah.


“Iya Fat, biar nanti yang dirumah semua mendoakan kalian semua agar selamat.” Isti menyahut.


“Mbak Fatim juga jaga diri dan kandunganya ya ?” kata Khotimah.


“Iya Fat, sebenarnya mas juga gak sampai hati kamu dilibatkan. Tapi ini perintah Yuyut dan aku gak berani membantah.” Kataku.


Tiba tiba Yuyut yag menyahut, tahu tahu sudaah di belakangku.


“Apa musuh kakekku cukup banyak Yut ?” tanyaku pad Yuyut.


“”Banyak bahkan ada yang sampai ke keturunanya ikut mendendam akibat cerita turun teurun.” Jawab Yuyut.


“Memangnya salah kakek saya Jafar apa sih Yut, kok banyak musuhnya ?” tanyaku penasaran.


“Ini bukan soal salahnya apa, tapi kakek kamu Jafar orangnya keras kepala seperti kamu. Sehingga banyak yang sakit hati, meskipun sebenarnya kakek kamu yang benar. Tapi kalo bicara terlalu vulgar dan berani. Beda dengan kakekmu Sidiq Ali, yang bisa menahan diri dan merubah orang yang jahat dari sedikit demi sedikit.” Jawab Yuyut.


“Misalnya bagaimana Yut ?” tanyaku menegaskan.


“Saat dulu orang pada berjudi, kakek kamu Jafar Sanjaya kalo lihat langsung membubarkan mereka dan yang menentang akan dilawan. Memang kakekmu Jafar boleh dibilang ilmu kanuraganya mumpuni. Bedaa cara dengan kakekmu Sidiq Ali, mereka didekati dan dinasehati pelan pelan sedikit demi sedikit. Bahkan kakekmu Sidiq Ali awalnya ikut gabung main judi juga.” Kata Yuyut.


“Kok bisa begitu Yut ?” tanyaku heran.


“Awalnya Yuyut juga heran, tapi setelah tahu maksutnya akhirnya yuyut faham dan maklum.” Jawab Yuyut.


“Lah memang tujuanya apa kakek Ali kok malah ikut judi ?” tanyaku.


“Mengalahkan mereka semua biar kapok dan gak berani main judi. Serta penasaran dengan kakekmu yang menang terus.” Jawab yuyut.


“lah kalo penasaran terus kenapa Yut ?” tanyaku makin penasaran.


“Meraka bertanya rahasianya biar bisa menang terus, kemudian dikasih wiritan sama kakek kamu yang disuruh baca setelah sholat.” Kata Yuyut.

__ADS_1


“Terus mereka bisa menang saat judi, setelah mengamalkan wirid itu Yut ?” tanyaku lagi.


“Ya nggak, tapi sebagian dari mereka akhirnya sadar jika judi itu tidak baik dan akhirnya mereka taubat. Yang tidak mau taubat juga dibiarin saja sama kakekmu. Tapi yang mau taubat akhirnya dijadikan muritnya Itulah perbedaan kakek kamu Jafar Sanjaya dan Sidiq Ali.” Kata Yuyut menjelaskan tentang kedua kakekku jafar Sanjaya dan Sidiq Ali.


Singkat cerita, kami berangkat kepantai setelah sholat maghrib dan kemudian sholat isya di pantai pesisir selatan. Setelah selesai aku dibawa ketengah laut dengan meminjam perahu nelayan Dan tanpa member tahu aku lebih dulu, yuyut mendorongku terjun ke laut.


“Berusahalah agar kamu bisa selamat tidak terbawa Arus, besuk subuh kutunggu ditempat tadi. Semua tergantung usahamu sendiri saat ini. yuyut hanya menunggu hasil usahamu seperti apa.” Kata yuyut langsung meninggalkan aku yang sebenarnya gak bisa berenang.


Bahkan beberapa kali aku harus menelan air laut yang asin dan bikin mual serta menambah haus.namun aku harus tetap berusaha selamat meski beberapa kali terseret ombak, dan beberapa kali tergores batu karang sehingga perih luka ditambah kena air laut semakin menambah rasa sakitnya.


Untunglah sebelum perutku semakin penuh dengan air laut aku bisa menepi di sebuah batu karang meski hanya kecil dan sempit. Cukup untuk duduk sendiri sambil mengatur nafas, dan memuntahkan air laut yang terminum.


Namun beberapa saat aku menahan lengketnya air laut dan basah kuyup serta kedinginan membuat aku semakin menggigil tertiup kencangnya angin laut. Hingga dari duduk aku mencoba mengatur posisi di  batu karang sempit itu untuk berbaring setengah duduk. Untuk mengurangi rasa pegal dan mual yang aku rasakan.


Dalam hembusan angin laut yang semakin kencang, dan perutku yang mual aku merasakan menjadi sedikit pening. Dan akhirnya aku tidak ingat lagi, entah pingsan ataukah tertidur waktu itu aku gak tahu.


Sampai menjelang subuh aku baru tersadar karena wajahku seperti diterpa ombak yang cukup besar. Nyaris mmbuatku jatuh kelaut lagi. Aku berusaha bangkit duduk, agar tidak jatuh ke dalam laut lagi.


Namun aku harus sampai ke pantai saat subuh, tapi gmana caranya berenang aja gak bisa ditambah ombak yang cukup besar. Dalam lamunanku aku dikejutkan datangnya ombak yang sangat besar hingga menerpaku dan jatur kedalam air laut disapu ombak. Aku tak mampu melawan derasnya ombak laut selatan. Disamping ombaknya besar aku memang tidak bisa berenang. Sehingga aku hanya terapung apung dibawa ombak kemanapun dia bergerak dan aku harus kembali menenggak air asin laut tersebut. Udahlah, aku pasrah saja sudah gak ada kekuatan lagi untuk melawan ganasnya ombak. Aku sudah pasrah jika memang harus tergulung ombak kemanapun….!!!


 


 


Refresh Visualisasi tokoh






...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2