
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Khotimah tampak bingung dan ragu untuk menjawab, aku lihat masih ada keraguan dalam hati Khotimah. Sehingga aku juga ikut merasakan dag dig dug menunggu Khotimah bicara.
“Khotimah belum punya pengalaman apapun tentang ini, maka Khotimah serahkan pada mas Yasin saja yang yang sudah lebih pengalaman dan tahu siapa Khotimah dan siapa mas Candra. Jika mas Yasin bilang baik Khotimah nurut. Jika mas Yasin bilang jangan maka Khotimah juga nurut artinya mundur dari mas Candra.” Ucap Khotimah. Membuatku kemvali terpojok.
@@@@@*****>>>>>?????
*****
Episode ini
“Mohon maaf semua, kalo saya simpulkan Khotimah masih malu malu untuk mengatakan jawaban sebenarnya. Tapi intinya tidak ada penolakan dri Khotimah maupun bapak mertua dan ibu mertua saya sebagai pengganti orang tua Khotimah. Dan kebetulan hari ini dirumah kami sedang ada persiapan acara sedekahan, jadi menurut hemat saya jawaban resmi akan saya sampaikan besuk sekaligus dan beberapa keluarga akan datang kerumah mas Candra. Bagaimana mas Candra, kiranya gak keberatan menunggu sehari untuk jawabanya kan ?” tanyaku pada Candra.
“Baiklah, saya siap menunggu jawaban resminya besuk. Dan apapun jawabanya insya Allah saya siap menerima. Dan mohon maaf kami tidak tahu jika sekarang baru ada acra seperti ini. jadi kami datang hanya membawa badan saja tidak membawa oleh oleh ala kadarnya.” Jawab Candra.
Sebenarnya arah pembicaraan Khotimah au sudah paham, dan bapak ibu mertuaku pun tampaknya juga sudah menyerahkan soal Khotimah dari awal. Namun sengaja kutunda sehari biar aku besuk kesana sekalian mengajak Rofiq untuk gentian melamar Arum. Meskipun Arum masih di tempat kang Salim, akan tetapi masih bisa dihubungi via telpon saat proses lamaran,pikirku. Biar sama sama impas, menerima jawaban juga memberikan jawaban lamaran.
Alhamdulillah Candra dan bapaknya bisa menerima keputusanku untuk menunda sehari jawaban lamaran Candra. Dan sepertinya Candra dan bapaknya juga sudah bisa membaca jika lamaranya juga bakal diterima.
Kemudian mereka pun pamit pulang dan akan menunggu jawaban dari pihak Khotimah katanya.
Aku mengantar kepergian Candra dan bapaknya sampai ke halaman rumahku, kemudian masuk kerumah lagi untuk persiapan sedekahan dan semaan Alquran.
“Kenapa kamu harus menunda jawaban sampai besuk nak, padahal Khotimah juga sudah nurut. Dan ibu dan bapak juga sudah percaya ke kamu ?” Tanya Ibu mertuaku.
“Gak papa kok bu, biar seru saja dan jujur besuk saya sekalian kesana member jawaban juga akan mengajak kakaknya Isti untuk gentian melamar Arum adiknya Candra ?” jawabku sambil tersenyum.
“Maksut kamu ibunya Sidiq ?” Tanya ibu mertuaku.
“Iya bu, kebetulan kakaknya Isti dan Arum juga sudah saling menyukai. Jadi sekalian saja biar diresmikan bu.” Jawabku.
“Aah kamu ini ada ada saja akalnya, kirain masih ada yang harus dibicarakan lagi.” Kata ibu mertuaku.
“Gak papa kan bu, biar hari ini kita bisa konsen dengan acara sedekahan dan semaan Alquran. Kayaknya bisa sekalian khataman lagi nanti.” Jawabku pada ibu mertuaku.
“Terserah kamu saja lah, yang penting semua bisa berjalan dengan baik.” ucap ibu mertuaku.
Kemudian aku ikut membantu kesibukan di dapur yang sedang mempersiapkan untuk kenduri sedekahan dan khataman Al-Quran. Sambil ngegodaiin Khotimah, yang tampaknya juga mulai ada rasa tertarik dengan Candra.
“Gimana ya rasanya kalo barusan dilamar dan jawabanya masih digantung begini.” Ucapku pada Khotimah.
“Biasa aja tuh mas, Khotimah gak ngerasa gimana gimana.” Jawab Khotimah.
Sementara Isti dan Fatimah istriku hanya senyum senyum saja.
“Udah jangan digodain lagi mas, nanti Khotimah ngamuk loh ?” ucap Fatimah ikut menggoda.
“Eh iya lupa, sekarang kan Khotimah baru kuat kuatnya semalam aja aku dihajar sama dia.” Ucapku. Sementara khotimah masih belum faham, karena belum tahu kejadian semalam.
Tiba tiba Sena dan Rofiq datang ikut membantu persiapan acara.
“Semalam kemana lo Zain gak ikut latihan bersama Sena dan aku ?” Tanya Rofiq.
“Semalam cape banget bang habis latihan sama Khotimah. Owh iya besuk ikut aku ke tempatnya Arum sekalian kamu Melamar Arum. Aku member jawaban lamaran Candra ya Bang !” kataku pada Rofiq.
“Haah bukanya Arum masih ditempat kang Salim ?” Tanya Rofiq.
“Iya gak papa kan, masih bisa melaksanakan proses lamaran juga kok.” Jawabku.
Singkat cerita semua setuju dengan usulanku, besuk sekalian member jawaban lamaran Candra pada Khotimah. Sekalian Rofiq melamar Arum, meski Arumnya sendiri gak ada dirumahnya.
Ketika semua sudah siap maka segera setelah sholat asar kami semua melakukan doa bersama didahului khataman Al-Quran. Sekalian membagikan sedekah berupa potongan nasi tumpeng dan lain lain juga memberikan penjelasan apa makna simbolis dari nasi tumpeng dan semua yang ada dalam proses kenduri sedekahan tersebut.
__ADS_1
Sebagai orag dusun yang maih banyak pencinta seni budaya jawa, mereka yang belum bias baca Al-Quran aku ajak untuk membaca kidung wahyu kolosebo sekaligus menjelaskan apa makna dan tujuan dari isi kidung tersebut. Mendengar penjelasanku banyak orang tua yang kemuian tertarik untuk ikut belajar baca Al-Quran. Karena mereka tertrik justru setelah tahu bahwa maksut dan isi kidung tersebut salah satunya adalah perintah membaca Alquran yang dalam kidung disebut dengan kalimat ‘Sabdo Kang Luhur’ \= Firman yang ( Maha )Tinggi \= Al-Quranul Karim ( Al-Quran yang Mulia )
Alhamdulilah banyak yang tertarik dan berniat belajar baca Al-Quran.
Acara berjalan dengan lancar, dan kemudian kami lanjutkan dengan jamaah mghrib sampai dengan Isya dan mujahadah. Setelahnya maka kami diminta yuyut untuk berkumpul lagi dilapangan tempat aku dan Khotimah semalam berlatih kanuragan.
*****
Di lapangan belakang rumah
“Perlu kalian ketahui, agar mempermudah penerimaan ilmu kanuragan berupa jurus jurus kalian harus memperbanyak Mengirim Fatihah kepada Sahabat Ali bin Abi Tholib menantu rasulullah. Karena semua jurus jurus yang diajarkan di semua pesantren semua bersumber dari sana. Melalui jalur murid beliau yang berbeda beda,
kemudian dikembangkan lagi oleh murid muridnya hingga sekarang menjadi banyak cabang, namun sumbernya tetap satu dari Sayidina Ali bin Abi Tholib.” Ucap Yuyut memberi prolog sebelum memulai latihan kanuragan.
Kemudian Yuyut membagi kami menjadi dua kelompok, pertama adalah Khotimah dan Rofiq sedangkan kelompok kedua aku Sena dan Isti, sementara Fatimah tidak mengikuti latihan fisik karena sedang Hamil.
“Kamu kakaknya Isti, kamu sealam sudah berlaih dengan Sena. Sekarang praktekan dan lawan tandingmu adalah Khotimah.” Ucap Yuyut.
Ku lihat Rofiq agak merasa diremehkan ditandingkan dengan Khotimah. Sehingga roman mukanya agak ditekuk. Sementara aku hanya membatin,” Rasain kamu kalo nyepelein Khotimah, mungkin kamu tahunya semalam Khotimah kerasukan saja bisa membuatku babak belur begitu.” Batinku sambil senyum.
Sedangkan Sena dan kamu Yasin, kalian mala mini akan kuantar kesebuah tempat dan kalian berdua harus mencari keberadaan sebuah gong. Saat ini cukup mengetahui saja keberadaanya dimana. Karena untuk mendapatkanya Yuyut Yakin kalian berdua belum mampu.” Ucap Yuyut.
Aku agak kkaget karena baru ngebayangin Rofiq yang akan bertanding dengan Khotimah.
“Siap Yut, saya siap.” Jawabku spontan.
“Dan kamu isti, karena kamu terlalu lembut kamu tinggal disini saja biar bantu yuyut nanti setelah mengantar Sena dan Yasin ke suatu tempat,” Kata Yuyut.
“Iya Yut.” Jawab Isti pelan.
Kemudian yuyut segera mengajak aku dan Sena pergi kesebuah sendang kecil ( Belik ) disamping belik itu ada pohon kapok ( pohon Randu Alas ) yang cukup tinggi.
Kemudian Yuyut menyuruh kami duduk dibawah pohon kapok itu. kami diperintahkan untuk menunggu biji pohon itu jatuh dan menangkapnya serta tidak boleh sampai terjatuh ke tanah.
Masih di beri sarat tidak boleh menengok ke atas, melihat biji yang jatuh. Melainkan harus mengasah kepekaan dengan mendengarkan desiran angin dari atas jika biji itu jatuh.
“Wah ini tantangan baru yang harus aku coba, batinku. Tapi Sena udah pernah belum ya, jangan jangan dia sudah biasa berlatih begini.” Kataku dalam hati.
Kemudian Yuyut meninggalkan kami berdua yang duduk berhadap hadapan satu disamping kiri belik dan satu disamping kanan belik. Kami disuruh salaing menatap agar saling mengawasi jika salah satu dari kami menengok keatas akan dihukum kata yuyut.
Setelah beberapa saat kami berdua justru dikejutkan dengan suara.
Pyuuuk….
Suara biji kapok randu alas yang jatuh tepat di depan kami.
“Sena, kamu gak merasakan saat biji kapok itu melayang jatuh tadi, apa kamu juga baru sekali berlatih begini ?” tanyaku pada Sena.
“Tidak merasa mas, ini latihan pertamaku.” Jawab Sena.
“Sama Aku juga baru sekali ini. aneh aneh saja Yuyut nih. Gimana caranya mengetahui ada biji kapok yang jatuh dari atas kalo gaka melihatnya.” Kataku pada Sena.
“Sena juga bingung mas, tapi gimana lagi ini perintah Yuyut kita. Ya kita ikuti saja perintahnya.” Jawab sena.
“Iya sih tapi perintah yang Aneh tanpa Clue sedikitpun.” Gerutuku.
Biji kapok kedua yang jatuh malah nyaris menimpaku.
“Aduh hampir saja malah menimpaku, bukanya bisa menangkap malah bisa tertimpa nih.” Ucapku.
“KOnsentrasi saja mas, siapa tahu nanti kita bisa tahu.” Kata Sena.
Bener juga sih, tapi gak semudah teori kali, pikirku.kemudian aku menarik nafas panjang dari hidung dan mengeluarkan pelan pelan lewat mulutku beberapa kali untuk mengatur peredaran darah dan detak jantungku. Agar lebih mudah untuk bermeditasi dan melatih konsentrasi.
Namun baru saja aku serius mau berkonsentrasi, tiba tiba harus tertawa ngakak. Melihat sena kejatuhan biji kaok randu Alas. Lumayan juga pasti rasanya, cukup berat dan jatuhnya dari ketinggian sekitar 3meter an.
“Wkakaka,,, kamu gak papa Sena ?” tawaku tapi agak khawatir juga dengan Sena yang merasakan sakit kepalanya tertimpa biji kapok randu yang lumayan juga kalo kena kepala.
“Gak papa mas, Cuma kaget aja terus hampir jatuh ke air.” Jawab Sena. Yang kemudian kembali berkonsentrasi sementara aku masih menahan geli. Mau ngakak lagi gak enak juga sama Sena. Perutku jadi agak kaku menahan tawa, boro boro konsentrasi menahan tawa saja kau susah banget. Hingga akhirnya aku melihat sena dengan konsentrasi penuh itu kemudian melompat kekiri dan menangkap sesuatu.
“Hap, aku berhasil dapat satu mas.” Ucap sena. Padahal jelas tadi kulihat dia beradu pandang denganku, tapi kenapa bisa tahu ada biji kapok yang jatuh.
Kemudian aku mencoba mengikuti langkah yang Sena lakukan, berkonsentrasi. Namun sama saja aku tak dapat menangkap signal ketika ada biji kapok jatuh. Sementara Sena sudah tiga kali berhasil menagkap biji kapok yang jatuh. Aku jangankan menagkap merasakan deiran angin dari biji kapok yang jatuh pun masih sulit, apalagi jatuh meluncurnya kebawah dalam kecepatan tinggi karena grafitasi.
__ADS_1
Aku gagal dalam latihan ini, kemudian menghadap yuyut yang barusan membimbing Rofiq yang sedang bertempur fisik dengan Khotimah adikku.
Aku melapor kepada Yuyut jika aku telah gagal dalam latihan kepekaan dengan Sena.namun sena berhasil menangkap tiga biji kapok itu tanpa menyentuh tanah.
“Yaudah besuk kamu mengulang sendiri latihan seperti itu sampai bisa ditempat yang tadi.” Kata Yuyut.
Waduh, bisa repot nih kalo harus sampai bisa, batinku. Aku agak malas dari dulu jika disruh berlatih dengan meditasi dan konsentrasi seperti itu. mending juga langsung menghadapi musuh sekalian, gerutuku dalam hati.
Kemudian yuyut menyuruh Khotimah dan Isti masuk Rumah, aku belum sempat mendengar jalanya latih tanding Khotimah dengan Rofiq malah sudah disuruh masuk, pikirku.
“Yasin kamu sekarang sama Sena ketempat tadi. Bacalah Sholawat sebanyak mungkin sampai kalian ditemui sosok yang mengaku pimpinan di tempat itu. kemudian kalahkan dia, tanyakan dimana gong Simo ludro disimpan. Jika gak mau bilang bakarlah pohon Randu Alas itu besuk pagi’ Perintah Yuyut.
Aku dan Sena langsung berangkat kembali ketempat yang tadi dengan tujuan yang berbeda.
Aku dan sena duduk berdampingan dengan membaca solawat Sadhiliyah yang diajarkan oleh Mursyid thoriqoh Sadhiliyah. Setelah beberapa saat aku membaca sholawat tiba tiba aku merasa disebuah tempat yang asing.
Dalam sebuah taman bunga yang berwarna warni kelopak bunganya dan aromanya pun berbeda beda.
Kemudian aku dan Sena di datangi sesosok tinngi besar dan hitam, dengan ujut manusia biasa namun sorot matanya memancarkan kedengkia dan kebengisan pemilik mata tersebut.
“Kalian Siapa, menggangu di tempat kami.” Tanya sosok itu.
“Kami kesini mencari pemimpin tempat ini. untuk menanyakan dimana keberadaan Gong Simoludro” jawaabku tegas pada sosok itu.
“Apa urusanya kalian dengan gong itu, aku lah pimpinan tempat ini.” jawabnya.
“Kebetulan jika begitu, katakana dimana keberadaan gong terseut.” Tanyaku. Sementara Sena masih agak ragu menghadpi sosok tinggi besar tersebut.
“Aku tidak akan mengatakan dimana gong itu berada. Terus apakah kalian mau merusak tempat ini ?” Tanya sososk itu mengancam.
“Iya.” jawab Sena mulai muncul ketegasanya untuk melawan sosok itu.
“Haaa haaah haaaa… silahkan kalo kalian mampu merusaknya.” Tantang sosok iti.
“Gak juga kok, kami gak akan merusak tempat ini. kalo kamu gak mau bilang ya sudah kami mau pulang saja. Karena perintahnya kalo kamu gak mau mengataka hanya disuruh membakar pohon Randu Alas yang dibeliktempat kami duduk tadi.” jawabku.
Mendengar jawabanku itu justru sosok itu marah dan mengeluarkan cambuk dan hendak mencambuk kami berdua. Untung sajakami berdua cepat menghindar. Dan berpencar memecah konsentrasi sosok yg tingginya hampir 3 meter barangkali diukur.
Kami berdua harus berlompatan menghindari kilatan cambuk yang ditujukan kepada kami satu persatu.
Kemudian aku member kode pada Sena untuk menyerang jika sosok itu sedang menyambuk salah satu dari kami maka satunya harus menyerang. Begitu sebaliknya dan seterusnya, kemudian aku memancing dia agar menyerang aku agar Sena bisa melancrkan seranganya.
Namun beberakali sosok itu justru berpaling wajah ke Sena dan kemudian kembali ke akau dank e Sena lagi. Seakan akan dia tahu rencanaku untuk menyerangnya.
Tidak sabar denga kindisi yag ada, aku mencari sebuah dahan atau lebih tepatnya ranting karena ukuraya sangat kecil yang aku dapat. Kemudian Sena pun melakuka hal yang sama juga.
Saat aku melihat dia sedikit meleng karena memperhatikan sena yang sedang mencari dahan atau ranting, secepat yang aku bisa aku melompat menyerang sosok itu dengan ranting yang langsung aku arahkan ke kedua mata sosok tersebut.
Dan saaat itu pula sosok itu hendak mencabuk Sena, aku harus lebih cepat sebelum sena terkena cambuk itu. karena kulihat Sena juga agak meleng ketika mencoba memetik ranting yagternyata masih ulet susah di patahkan.
“Sena Awas…!” teriakku sambil menusukan ranting yang akau bawa kea rah salah satu mata sosok itu.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1