
" Duh gimana ni say " tanyaku.
" Biasa aja mas, bapak ibu faham lah, kita kan masih termasuk pengantin baru ! " jawab Fatimah.
" Hadewwwh bukan itu sayang. Gimana caranya bilang bapak ibu, kalo kamu mau saya tinggal disini dulu maksutnya " lanjutku.
" Fatimah ikut saja, mau diajak pulang atau tidak terserah mas aja " jawabnya kecewa.
Agaknya Fatimah ini dalam hatinya pingin ikut, tapi ada keraguan.
" Kalo gak lagi ada masalah sih pasti kuajak pulang. Tapi kan...." kataku terpotong.
" Tapi apa mas ? " sergah Fatimah.
" Aku takut terjadi apa apa sama kamu kalo ikut " jawabku.
" Mas egois...!!! " pekik Fatimah.
" Kok egois gimana ? " tanyaku bingung.
" Memang yg khawatir cuma mas, Mas fikir Fatimah gak khawatir apa mas " protesnya.
Tiba tiba istriku teriak sambil nangis. Duh kedegaran mertua gak nih pikirku panik. Takut disalahin, anaknya nangis dikira kenapa napa.
" Kalo mas kan laki laki " ucapku.
" Memang kenapa kalo laki laki ? Mas pikir Fatimah gak tahu, kalo mas ngerahasiain sesuatu.
Mas pasti nyembunyiin masalah kan ? " desaknya.
Waduh peka juga istriku ini...!?!
" Aku hanya ingin kamu gak kenapa napa " jawabku.
" Fatimah juga gak ingin mas kenapa napa !!! " kilahnya.
" Ehheemm " suara bapak mertua berdehem.
Tiba tiba kedua mertuaku datang.
" Kalian kenapa ? barusan tadi bercanda mesra. Kok sekarang berantem ? " tanya ibu mertua.
" Mas Yasin tuh egois, Fatimah seebbeel " jawab Fatimah.
Aku diam saja lihat istriku marah, mungkin ini salah satu kekurangan yg harus aku terima.
Kalo marah ngambekan gini, aku harus banyak mengalah. Padahal aku juga temperamental. Aku harus bisa menyesuaikan dengan sifatnya.
" Sabar dulu sayang... " hiburku.
" Gak mau... mas egois " jawabnya.
Maksutku mau peluk pundaknya biar tenang. Di depan mertua juga gak masalah, toh istriku....!
Tapi Fatimah ngambeknya kebangetan, malah pergi ninggalin aku masuk kamar.
Aku jadi canggung, mau ngejar Fatimah ninggalin mertua gak sopan. Gak aku kejar Fatimah marah beneran...!!!
Apa karena lagi hamil atau memang sifat ya ?
" Bu... Fatimah ditemenin sana " kata bapak mertua.
" Maaf pak bu, mungkin bawaan hamil, Fatimah jadi gampang marah " kataku.
" Gak papa nak, Ibu dan bapak sudah dengar tadi biar Fatimah ibu yg hibur. Kamu bicara sama bapak saja." ucap ibu mertuaku bijak.
" Njih bu... " sahutku sopan pada mertua.
Ibu mertua pun kekamar nyusul Fatimah.
" Memang masalah di dusunmu besar po nak ? Sampai istrimu kamu ungsikan ? " tanya bapak mertuaku.
" Saya tidak tahu seberapa besar pak, tapi yg jelas saya tidak ingin Fatimah kenapa napa. Apa lagi dia baru hamil pak. Saya sangat khawatir...! " jawabku.
" Yang perlu kamu tahu, sifat dasar dia itu manja, agak kolokan. Yang sabar saja ! " kata bapak mertuaku.
" Njih pak, saya terima kelebihan dan kekurangan Fatimah. Karena saya juga banyak kekurangan. " jawabku.
" Sekarang cerita jujur ke bapak ada masalah apa di dusunmu " tanya bapak mertuaku.
" Begini pak..." Aku menceritakan semua yg aku alami dari awal hingga akhir.
Tentang isyaroh yg aku terima dari Abah
Tentang Kejadian di kampungku,
Tentang perjalananku ke pondok kang Salim
Tentang kejadian kejadian aneh / mistis
Sampai ke pesan kang salim bahwa, ada dua ancaman, yaitu ancaman lahir dan ancaman batin.
" Ya memang berat kalo begitu ! " kata bapak mertuaku.
Tiba tiba ibu mertua datang.
" Kalo sekiranya disana berat, kalian hidup disini saja nak. Ibu gak tega kalo Fatimah ikut, tapi kalo ibu Fatimah gak ikut Fatimah yg ketakutan mikirin kamu nak. Kulihat kalian sudah serasi dan saling mencintai. Udah lah tinggal disini saja, hidup seadanya.
Soal pekerjaan gak usah khawatir, itu kios ibu kalian kelola..." kata ibu mertuaku.
" Maaf ibu... Bukan saya tidak mau. Tapi ini dawuhnya Abah ibu..." jawabku.
" Gimana pak ? " ibu mertua minta pertimbangan suaminya.
" Ya gak segampang itu memang, bapak juga lagi mikir Kira kira berapa hari itu selesai nak ? " tanya bapak.
" Maaf pak saya juga belum memastikan " jawabku.
Semua terdiam, tiba tiba Fatimah muncul. langsung nangis memeluk aku dan menciumi aku. Aku jadi kikuk di depan mertuaku.
" Maafin Fatimah mas tadi lepas kontrol, Fatimah menyesal " kata Fatimah. Aku jadi terharu.
" Iya sudah sudah mas gak marah sayang, " jawabku.
" Kalian ini kan masih pengantin baru termasuknya, bukan bapak belain Fatimah. Tapi kalo kalian pisah terlalu lama itu juga gak bagus. " kata bapak mertua.
Bapak mertua berhenti sebentar,
kemudian melanjutkan lagi.
" Kalo Fatimah ikut juga gak aman.
Kalo kalian disini semua, Amanah Abah kalian abaikan... jadi..." bapak tampak ragu ragu...!
" Fatimah... biar suamimu pulang
Kamu disini dulu...! " perintah bapak mertua.
" Tapi pak, aku gak tega kalo mas Yasin sendirian disana berjuang Fatimah cuma ngumpet " kilah Fatimah.
" Ya dengerin dulu, Suamimu disana tapi harus sering jenguk kamu disini bisa to nak ? " tanya bapak mertuaku.
" Bisa pak, nanti seminggu sekali saya kesini.." jawabku.
" Ya jangan seminggu mas, 3 hari sekali ya mas ? " pinta Fatimah.
" Duh kalo 3 Hari sekali ya tugasnya makin lama. Malah gak kelar kelar " jawabku.
" Ya Hp nya dibawa mas saja, Amir belikan yg murah murah " pinta Fatimah.
" Loh Amir itu siapa nak ? kok bawa hp kamu ? " tanya ibu mertua bingung.
" Begini bu... Saya kan buka toko tanaman online, Amir itu yg saya percaya ngurusin. Karena order nya gak tentu jam nya. Hp saya suruh pegang Amir..." jawabku.
" Ya jangan gitu, berarti kalo kamu pergi pergi itu gak bawa Hp. ya kasian istrimu to...! " seru ibu mertuaku.
" Ya gitu buk, kemarin aja tak suruh minta beliin bapak dulu gak mau, malu katanya menantu gak modal " sahut Fatimah.
" Owalaaah nak nak... Ibu bapak ki gak cari mantu kaya, cukup sik ngerti agama dan bisa menyayangi istrinya. makanya kami pasrahkan ke Abah untuk di pilihkan jodohnya" kata ibu mertuaku bikin terharu.
Lanjut ibu mertua.
" Nyatanya Pilhan Abah juga pas, Apa memang kalian dulu sudah pacaran sebelumnya ? " tanya ibu.
" Gak kok buk, kita dulu gak pacaran. Hanya saling suka aja. " jawabku bohong.
Istriku nyubit, sambil berbisik..
" Ngarang, bohongin orang tua...." bisiknya.
Kemudian bapak menyambung,
" ya udah, tapi berangkatnya habis jumatan nanti. Komunikasi dijaga terus. Soal kamu jenguk istrimu berapa hari sekali, terserah kalian. Atur sendiri, kalian yg lbh tahu urusan rumah tanggamu...! " kata bapak mertuaku.
Aku lega, bapak mertuaku ternyata bijak.
" Ya gitu aja nak, bapak sama ibu istirahat dulu. Kalian bicara baik baik, Fatimah ngambek e di kurangi yo nduk ! " nasehat ibu mertua untuk Fatimah.
" Iya..." Jawab Fatimah agak kaku.
Setelah Kedua mertuaku pergi.
" Owh kamu kalo marah gitu ya, kaya anak kecil ngambek..! " godaku pada istri sambil senyum
" Ya maaf... Fatimah janji mau berubah " katanya tersipu sambil nunduk.
__ADS_1
" Gak usah... Aku malah suka kok, bisa buat hiburan. kalo marah lucu hehehe..." gurauku.
" Apaan sih awas Fatimah cubit lagi.." balasnya.
Aku lari masuk kamar menghindari cubitanya.
Ah lumayan masih ada waktu rebahan sebentar.
Aah sampai rumah bisa kesorean nanti, tapi gak papalah.
Nurut sama orang tua saja...!
" Mas.." sapa Fatimah.
Tiba tiba istriku nyusul ke kamar.
" Mau tidur lagi ? " tanya Fatimah.
" Gak juga sih, cuma rebahan aja jujur mas cape nih. " kataku.
" Cape kenapa ? " tanya Fatimah.
Aku jadi bingung, kerja fisik juga gak.
Tapi mo bilang kalo di tempat kang Salim kemarin, di gembleng fisik dan mental. Sampai ngalamin kayak gitu, pasti nambah dia khawatir lagi.
" Maas Ah kebiasaan gitu...
masih marah sama Fatimah ? " sergahnya.
" Nggak kok aku sama sekali gak marah. Hanya berpikir, kalo aku mondar mandir jogja Majenang pakai motor aja gimana ya ? "
" Diih gak nyambung... tadi Fatimah nanya, cape kenapa ? Apa kemarin ditempat kang salim latihan fisik terus sampai kecapaian ? " tanya Fatimah lanjut.
" Gak juga sih.." jawabku.
" Terus cape kenapa ? " desaknya.
" Cape habis kasih nafkah batin istri yg harus di qodo' " jawabku asal.
" Sssst... Malu mas, takut bapak ibu denger...! " bisik Fatimah.
" Owh iya lupa, maaf... Habis kamu gemesin... " kataku.
" Mass...? " sapa Fatimah manja.
" Apa an sih mas mas terus...? " kataku menggoda.
" Fatimah pingin masalah ini cepet selesai, bisa kembali ke jogja kita bisa bersama sama lagi.." kata Fatimah.
" Ya kalo itu sama lah, Mas tu sekarang gak peluk kamu sehari aja kangen. Sekedar peluk aja, udah nyaman. Tidak sekedar urusan ranjang, tapi entah apa nyaman jika disisimu terus " balasku.
" Kok malah bilang gitu sih, bikin tambah sedih tau. Itu juga yg Fatimah pikirin. Aku menikmati keusilan mas yg kadang bikin gemes dan seebbbelll kalo mas gak disampingku. Serasa ada yg kurang sekarang. gak ada yg jahilin Fatimah, gak ada yg bikin tertawa gak ada yg bikin seebbbel juga, hahaha..." katanya sambil tertawa, namun tampak raut kesdihanya.
" Aku juga menikmati kekolokanmu, cemberut kamu dan semuanya... tapi.. " suaraku terjeda.
" Tapi apa mas ? " tanya Fatimah.
" Kamu kalo nyubit beneran sakitnya, perih panas, sampai bekasnya masih pada item item nih.. yg tadi pagi masih merah " kataku.
" Masa sih... Tapi kata orang orang memang Fatimah kalo nyubit sakit. Padahal sih biasa aja perasaan " jawabnya.
" Fatimah pijitin sini biar rileks, kayaknya mas masih tegang " kata Fatimah.
" Biasanya kamu suka yg tegang Aauuw sakit bgt cubitanmu tuuh.! " godaku hingga Fatimah cubit aku.
" Lagi serius nih, jangan ngomong kearah situ, kalo keterusan repot. kasihan nanti mas cape " katanya.
" Iya ya... Pundak ku rasanya kaku, nih " kataku.
" Iya ini uratnya tegang, urat leher juga, mas mikir berat ya ? Sampai urat besarnya kaku..! " kata Fatimah.
Aku terkesiap kaget.....!
" Tunggu... Kamu kok kayak yg ngerti urat, macam tukang pijit " kataku.
" Enak aja ngatain tukang pijit..." jawabnya.
" Bukan maksutku, bisa tahu kayak punya ilmu urat....? " ucapku.
" Kata ibu, turunan dari nenek dari ibu dulu tukang urut. Hampir semua penyakit dia bisa tahu dari pegang bag tangan atau kaki aja.." lanjut Fatimah.
" Owh gitu ya...? " ucapku sok faham.
" Waktu dipesantren sering dimintain tolong temen temen kalo ada santriwati yg kesleo atau terkilir " kata Fatimah.
"Adduuh pelan sakit bangetthh, kok gak pernah denger ya ? " kataku.
" Ya iya lah, mas mana mau perhatiin Fatimah waktu itu... Kalo sekarang sih memang iya...! " godanya.
" Mass...? " sapa Fatimah.
" Apa ? " tanyaku.
" Mang mas habis ngapain kemarin ? " tanya istriku.
" Maksutnya ? " jawabku bingung.
" ini ada banyak urat yg salah posisi, bahkan ada yg bengkak. kayak yg habis berantem, ini kepala mas juga benjol.. Kenapa tolong jujur mas ? " Fatimah berkata panik.
Aduuh gimana ini...?
Mau gak mau harus cerita, udah terlanjur ketahuan...!
Tapi gak boleh komplit takut dia nangis lagi repot.
" Iya aku mau jujur sekarang..." kataku.
" Ya udah cerita sambil aku benerin letak urat yg salah " ucap Fatimah.
Sambil meringis menahan sakit aku cerita. Aku cerita jika, memang banyak rintangan yg aku hadapi, yg memang harus menggunakan pertarungan baik fisik maupun batin.
" Makanya mas gak usah bohong, perasaan istri gak bisa dibohongi. Dari kemarin Fatimah udah curiga kok. Pasti mas nyimpen sesuatu ! " kata Fatimah.
" Iya maaf... aku hanya gak ingin apa yg menimpaku menimpamu juga sayang. " jawabku.
" Gak bisa main rahasia rahasia gitu mas, bapak ibu harus tahu sekarang " kata Fatimah.
Tiba tiba Fatimah turun dari ranjang keluar kamar. gak mungkin aku kejar, karena aku gak pakai baju pas diurut tadi aah sudahlah terlanjur tahu...!
" Ini lo pak bu,
bukti firasat Fatimah bener kan. Mas Yasin bohong, kalo bilang gak kenapa napa. Uratnya aja pada berantakan tadi bu..." ucap Fatimah.
" Aduh maaf bu, gak pakai baju habis diurut Fatimah tadi " kataku malu.
" Udah gak papa, aku ibumu juga.
Sini ibu lihat uratmu, gak usah risih. Aku sudah jadi mahrom kamu. kamu sudah jadi anak ku. " kata ibu mertuaku.
" Njih bu " jawabku.
" Fatimah bantu ibu... Pegang dan tekan urat yg ini...! " perintah ibu mertua pada ibu Fatimah.
Fatimah pegang tubuh pinggang, kemudian ibu pegang urat leherku.
" Aaakhgggg... !!! Aku spontan menjerit nahan sakit, sampai gigit bantal.
" Gimana bu " tanya bapak.
Ibu menghela nafas.
" Bisa tidak bisa pulangmu ditunda besuk....! "
"Tapi bu..." ucapku tertahan.
" Kamu harus nurut, aku gak ingin anakku Fatimah jadi janda kalo kamu nekat pulang sekarang " bentak ibu mertuaku.
" Terus baiknya gimana buk e ? " tanya bapak mertua.
" Kita jemput yuyut, ajak kesini, biar nanti malam diobati yuyut dulu yg bisa yuyut... " jawab ibu mertuaku.
Aku pasrah saja lah.
" Tuh kan mas... Untung aku tadi coba urut, kalo gak ? Mas mau Fatimah jadi janda ? " jerit Fatimah.
Aku benar benar gak berani jawab.
" Fatimah sudah, Bapak tahu maksut suamimu kok. Dia gak ingin kamu kenapa napa, ini bukti suamimu itu orang baik.
Adapun dia kurang jujur padamu, itu cara dia mau lindungi kamu, sudah tidak usah saling menyalahkan." kata bapak mertuaku.
" Sebener nya apa yg terjadi bu ? " tanya bapak mertuaku pada istrinya.
Ibuk ( mertuaku ) terdiam sejenak.
" Ada yg aneh, ada banyak bekas luka dalam, bahkan seperti luka luar. yg tampaknya masih baru, tapi kalo baru harusnya masih parah. kalo lama gak mungkin..! " ucap ibu mertuaku.
Aku gak nyangka bisa ketahuan semuanya....!
" Pak Biar mantu kita istirahat aja dulu, bapak jumatan dulu nanti jemput yuyut.
Fatimah , jaga suamimu, jangan diganggu dulu. biar tidur tengkurab dulu, jangan di baringkan. urat urat punggungnya biar rileks dulu...!" kata ibu mertuaku.
" Iya bu..." jawab Fatimah.
__ADS_1
Ibuku mau beranjak keluar aku memanggilnya tanpa berubah posisi tetep tengkurap. entah sejak di pegang fatimah dan ibunya aku jadi kaku.
" Ibu... maafkan saya, hanya bikin susah. Harusnya saya bisa bikin Fatimah bahagia, tapi malah menyusahkan semuanya " ucapku.
Tak mampu menahan haru, aku terhenti.
" Sebenarnya saya tidak bermaksut bohong, saya hanya tidak ingin Fatimah jadi sedih. apa lagi celaka. saya juga tidak ingin meninggalkan Fatimah sebenarnya. Fatimah istri yg sempurna bagi saya.." kataku.
" Ibu ngerti nak..
Dah kamu istirahat saja dulu, maafin ibuk juga tadi bentak kamu..." kata ibuk mertuku.
" Gak papa bu, saya pantas di bentak kok. Fatimah, maafin suamimu ini, belum bisa kasih kamu bahagia malah memberimu duka "kataku.
" Maasss... mas gak usah ngomong aneh aneh, bikin Fatimah makin sedih. Fatimah juga udah bahagia kok begini." jawabnya.
" Ibu tinggal dulu " kata ibu.
" Njih bu " Jawabku.
" Sakit banget mas ? " tanya Fatimah.
" Nggak kok cuma sekarang jadi kaku gak bisa gerak. Kayak kena totok jalan darahnya " kataku.
" Memang tadi jalan darah di totok sama ibu, mas habis kena racun yg ganas. Juga barusan mengalami luka parah, kenapa gak bilang ? Kalo Fatimah tahu, Fatimah dari semalam gak akan minta jatah batin dulu. Karena keselamatan mas lebih penting maafin Fatimah ya mas "kata Fatimah berkaca kaca, sambil mencium pipiku. Tapi aku hanya terbujur kaku tidak bisa meresponya.
" Itu bukan salahmu, aku juga pingin kok. Sudah nahan beberapa hari.." jawabku.
" Sst.... Udah mas, istirahat aja. Fatimah usap punggung mas pelan pelan merangsang saraf saraf yg bermasalah biar kembali normal." kata Fatimah.
Usapan halus tangan Fatimah, terasa seperti medan magnit yg menarik bulu bulu halus dikulit. nyaman banget...!
Sesekali Tangan Fatimah yg Satunya membelai rambut dan pipiku.
Aku masih kaku tidak bisa merespon.
Bahkan mataku semakin terasa berat dan aku seperti tertidur.
Tapi aku masih bisa melihat Fatimah istriku.
Masih bisa mendengar hembusan nafasnya saat dia mencium pipiku
Apakah aku pingsan ?.
Atau apakah rohku keluar dari tubuhku, atau aku sedang bermimpi. Aku bahkan melihat tubuhku sendiri yg terbujur kaku.
Yang sedang di belai lembut istriku.
Aku lihat ibu masuk kamarku dengan membawa cawan berisi cairan
" Fatimah balurkan ini keseluruh tubuh suamimu, semua harus terolesi. Sampai ke organ intimnya. ini tugasmu sebagai istri, tidak ada yg berhak kecuali kamu. Ibu keluar dulu, nanti tutup pintu kamar, dikunci buka seluruh pakainya tanpa kecuali. Kalo sudah selesai selimuti saja, gak usah pakai in baju dulu.
ingat semua harus terolesi.." perintah ibu mertuaku.
" Iya bu..." jawab Fatimah.
Aku lihat ibu melangkah keluar, Fatimah mengunci kamar. Dan sesaat kemudian Fatimah menelanjangi aku, sampai bugil.
Aah kenapa ada persaan malu ya.
" Maaf mas, demi kesembuhanmu kamu harus aku telanjangi. Kata ibuku begitu, ada sisa Racun sedikit yg bisa merusak susunan sarafmu. " bisiknya.
" Fatimah tidak menyangka, perjuanganmu sampai mempertaruhkan nyawa mu demi aku. Fatimah gak bisa bayangin rasanya gimana saat kamu kena racun itu. Sedang sisa yg sedikit saja mampu merusak urat sarafmu "
Aah apakah separah itu, ?batinku.
Apakah itu yg dimaksut adalah Racun jerat Sukma ?
Aku mau masuk ke tubuhku, biar bisa merasakan belaian Fatimah saat membalur tubuhku, tapi tidak bisa. tubuhku seperti kayu yg kaku dibolak balik fatimah tanpa gerak. Apa aku sudah mati, kini roh ku lihat jasadku sendiri yg terbaring kaku...? batinku.
Aku berusaha masuk ketubuhku, tapi tetap tidak bisa. sampai baluran terakhir di wajahku atau wajah dari jasadku, bahkan kepala dan rambutku.
Tiba tiba aku merasa wajahku seperti basah, saat Fatimah membalur wajah jasadku, lama lama seperti basah keringatan dan menggigil. perut mual, dan hhhuuuekk.
Aku memuntahkan sesuatu, ini kan seperti saat dipenjara di istana jin itu ?
Ini racun jerat sukma ? Apakah dulu waktu mutah itu gak bersih total ?
Dan ini adalah sisanya...?
Memang sih tidak sebanyak dulu.
setelah muntah itu aku juga merasa lbh ringan, persis seperti peristiwa di istana jin dulu.
" Maaf mas aku selimuti dulu ya nanti gak usah pakai baju, semoga mas cepat sadar. Maaf terpaksa dibikin pingsan tadi sama Fatimah. Karena perintah ibu, dan maaf juga seluruh badanmu kutelanjangi dan ku baluri minyak dan daun dadap serep.
cepet sadar ya mas... ! " bisiknya.
Kata Fatimah sambil mencium aku.
Tubuhku kemudian dibaringkan tidak tengkurap lagi, "aduh segera tutup dong Fatimah Auratku kelihatan...! "jeritku tak terdengar.
Fatimah menutupkan selimut ke tubuhku, sehingga hanya wajah yg nampak.
Kemudian Fatimah membuka kunci pintu kamar. Ternyata ibu masih didepan kamar, menunggu.
" Udah nduk..."tanya ibu.
" Udah buk " jawab Fatimah.
Ibu mertuaku memegang urat leherku
" Racunya sudah bersih, tapi sukmanya masih terpaku. " Ibu mertuaku bergumam lirih tapi aku bisa dengar.
" Fat... kamu duduk disampingnya, Kamu usap bagian yg paling disukai suamimu saat bermesraan. " ucap ibu mertua.
" Ya malu to bu, dilihat ibu.." jawab Fatimah.
" Gak papa, aku hadap kesana..." kata ibu mertua.
" Lihat juga gak papa kok, Fatimah hanya mau usap dadanya ! " kata Fatimah
Ibu mertua hanya tersenyum.
Fatimah mulai mengusap dada jasadku, pelan.
Tiba tiba aku seperti merasakan setiap usapan tangan Fatimah.
Dan saat jari jarinya memainkan pu**ng susuku, aku seperti terangsang. Sampai sampai selimut yg di bagian alat vitalku tampak bergerak. Aah aku malu banget, disitu ada ibu mertuaku.
Aku mau hentikan Fatimah, aku tahan tangan Fatimah. Tapi rasanya ada yg mendorongku entah menarikku hingga aku jatuh tepat di jasadku....!
Dan.....
" Sayang...? " ucapku.
Aku tersadar....!
" Kok aku tenlanjang ? " kataku.
" Sukurlah kamu sudah sadar, tapi jangan gerak dulu. istirahat saja. nanti sholat sambil tiduran dulu, belum boleh berdiri....." perintah ibu mertua.
" Njih bu..." jawabku.
" Tak tinggal dulu, Fat jagain terus suamimu ya " kata ibu mertua.
" Iya bu, beres Fatimah jagain terus kok..." jawab Fatimah sambil senyum senyum.
" kok kamu senyum senyum gitu " tanyaku heran.
" Iya bahagia aja, suamiku sudah sadar " jawabnya.
" Kayaknya gak cuma itu deh " sahutku.
" Dih ya itu aja gak ada yg lain..." jawab Fatimah.
" Kok badan mas lengket dan telanjang gini ? " tanyaku.
" Jangan salah paham dulu, itu buat luluran badan mas. harus rata makanya harus dibuka semuanya pakainya " jawabnya.
" Yang membaluri siapa tadi ? " tanyaku.
" Ya Fatimah lah masa ya ibu " jawabnya.
" Owh pantas kamu senyum senyum, pasti perhatiin semua anggota tubuhku secara lama dan seksama tadi " protesku.
" Hahaha.. Kok tahu.." jawabnya.
" Ih curang... Aku aja gak pernah lihat tubuhmu secara komplit secara kayak kamu gitu..." kataku.
Fatimah cuma tertawa.
" Gak akan Fatumah ijinin pokoknya, hahaha.... " katanya.
Tiba tiba ibu mertua masuk bawa makanan.
" Ah kalian ini, bentar ketawa bentar berantem, suapin suami kamu Fat.." perintah ibu.
" Ini bu, Fatimah curang mencari kesempatan dalam kesempitan orang.." kataku.
" Terserah kalian lah yg penting rukun " ucap ibu mertuaku.
" Mau gak disuapin ? " tanya Fatimah.
" Ya mau lah..." jawabku.
__ADS_1
...bersambung...