
Episode 75
Sekiatar jarak 3 meter dia berhenti.
“ Kamu tahu tajamnya pedangku ini kan, sekarang perhatikan !” orang itu memerlihatkan aksi dia mengiris lidahnya dengan pedang, kemudian membacokkan pedangnya ke bagian tubuhnya sendiri yang tidak meninggalkan luka.
“ Permainan anak kecil, gak usah pamer padaku.” Kataku.
Orang itu tampak marah, kulihat dari dekat penampilanya. Ternyata selain pedang, dia juga membawa sebuah keris. Ini pasti yang diceritakan Burhan siang tadi, kataku dalam hati. Menghadapi orang ini bukan dengan senjata tajam, kemudian golokku aku letakkan di tanah. Aku ambil double stick yg kuselipkan di pinggang belakang.
“ Silahkan kamu maju jika mau mencoba kerasnya benda ini.” Kataku.
Aku sedikit spekulasi, bahwa orang itu pasti hanya mengandalkan ilmu kebalnya saja. Melihat gerak kakinya yang tidak seirama dengan ayunan pedangnya. Jika itu benar aku yakin akan dengan mudah melumpuhkan dia,pikirku.
Aku memainkan double syick ku untuk melindungi dari serangan yang mungkin datang tiba tiba.
“ Kamu mau pakai jurus apapun gak akan bisa melukaiku.” Kata orang itu.
Aku tidak menggubrisnya, mengingat medan yang tidak rata dan ditumbuhi rumput liar, aku meminimalisir gerakan kaki. Meski lebih hafal medan dari pada orang itu, namun aku harus tetap waspada.
Saat orang itu mengayunkan pedang mengarah kepundakku,aku tahan dengan doble stick ku dan ayunan pedangnya mengenai rantai penghubung stick. Saling mengukur kekuatan orang itu menekan sekuat tenaganya. Agar pedangnya menyentuh pundakku, tindakan konyol batinku. Secara pedang nya yg cukup panjang sehingga sekuat apapun dia menekan tenaganya banyak terbuang.
Aku yang menahan pedang itu dengan doble sticku yang pendek, tak perlu sampai mengeluarkan setengah tenagaku sudah mampu menahan pedang tersebut. Hal itu aku manfaatkan untuk semakin menguras tenaganya.
Saat orang itu sudah tampak letih, aku memutar badan sambil mendorong double stick ku sekuat tenaga hingga pedangnya lepas. Orang itu sempat kaget, namun rasa percaya dirinya yang berlebihan membuat dia lengah. Dia tidak melompat mundur mengatur jarak. Aku tidak buang kesempatan itu, double stick ku yang masih mengayun aku putar arah kuarahkan pada siku tanganya dan berhasil mengenai. Sampai terdengar suara teriakanya.
Klaak…
“ Woaaaaah….” Jeritnya kesakitan.
Aku hentikan seranganku, orang itu memegangi sikunya yang hamper bisa dipastikan tulang sikunya retak.
“ B*ngs*t kau…!” ucapnya sambil lari meninggalkan arena perkelahian.
“ Dasar bodoh, kamu kebal senjata tajam hanya kulitmu. Tapi tulangmu tidak anti patah, jadi aku tidak gunakan senjata tajam.” Kataku sambil tertawa mengejek kebodohanya.
Tiba tiba kudengar langkah kaki mendekatiku, aku secara reflek berbalik arah dengan posisi siap menyerang. Tapi yang datang ternyata Fanani dan kedua kawanya.
“ Ini kami pak, Fanani.. !” teriak Fanani. Untung aku belum melancarkan serangan.
“ Aah kamu bikin kaget saja !” kataku.
“ Maaf sekali pak, kami tadi sempat tertidur. Tidak tahu apa yang terjadi, kami terbangun langsung mencari bapak.” Kata Fanani.
“ Yaudah kita masuk rumah saja sekarang, kita bicara didalam saja.” Kataku.
“ Tapi kami tadi sempat mendengar sura perkelahian dan teriakan pak, apa ada musuh datang pak ?” Tanya Fanani.
“ Makanya kita bicara didalam rumah saja biar enak.” Kataku.
Kemudian kami bergegas masuk rumah, sampai di dalam rumah Hanif, Dicky dan Fanani hanya diam saja meras bersalah.
“ Kalian tidak usah merasa bersalah, memang sirep yang kedua tadi sangat kuat maka aku tidak bangunkan kalian. Tapi kenapa kalian bisa terbangun tadi ?” tanyaku.
“ Saya juga tidak tahu pak, tiba tiba saja terbangun dan kantuk akmi hilang seketika. Kemudian kami yang sama sama terbangun dengar suara seperti orang berkelahi. Kemudian kami mencari arah suara itu.” Dicky yang menjawab.
“ Nah pas sudah agak deket kami dengar suara teriakan, langsung kami menuju kea rah suara itu. Ternyata bapak sendirian pegang double stick.” Kata Hanif. Sementara Fanani pimpinanya diam saja merasa gak enak denganku.
“ Kamu kenapa Fanani ?” tanyaku pada Fanani.
“ Gak papa pak,saya hanya malu dan heran baru kali ini merasakan sendiri ilmu sirep itu memang ada.” Jawab Fanani.
“ Jadi selama ini kamu gak percaya ya ?” tanyaku.
“ bukan gak percaya pak,tapi belum pernah mengalami dan membuktikan sendiri. “ jawab Fanani.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Fanani.
“ Terus tadi itu ada kejadian apa pak ?” Hanif menyela bicara.
Kemudian aku ceritakan kronologi sesaat setelah mereke kusuruh wudhu tapi malah tertidur. Dan semuanya juga tertidur, maka kuputuskan patroli sendiri. Sampai dengan pertemuanku dengan orang yang kebal senjata tajam itu.
Kemudian dalam pertempuran itu aku berhasil melumpuhkan dia, tulang sikunya retak. Meski kulitnya tidak mengalami luka.
“ Wah beneran ada juga ya pak, ilmu kebal seperti itu ?” Dicky yang dari tadi diam saja,ikut bertanya.
“ Yah, memang ada tapi saat ini sudah jarang. Sudah bukan zamanya pakai ilmu ilmu gak jelas manfaatnya begitu.” Jawabku.
“ Tapi kalo kebetulan musuh kita punya ilmu begituan dan kita harus bertempur bagaimana pak ?” Tanya Fanani.
“ Ilmu kebal itu ada beberapa jenis, tapi itu gak penting. Yang jelas, yang tidak bisa dilukai kan kulitnya. Maka yang kuincar adalah tulangnya. Maka aku gunakan double stick, yang tidak melukai kulit tapi bisa mematahkan tulang.” kataku.
“Owh begitu ya pak ?” Tanya Fanani.
“ Sebenarnya bisa saja dilukai, dengan cara tertentu menurut jenis ilmu kebalnya.” jawabku. Tapi kelamaan jika harus cari info jenisnya, cara paling mudah ya incar tulangnya.” Kataku menjelaskan.
__ADS_1
“ Tadi gak bapak kejar saja pak ?” Tanya Hanif.
“ Buat apa ? biarin saja biar buat pelajaran bagi yang lain.” Jawabku.
“ Udah jam berapa ini, aku mau masak ikan sarden buat makan sahur, ada yang mau makan. Gak puasa juga gak papa.” Kataku.
“ Gak usah pak, nanti aja kalo mau saya bikin mie instans saja “ jawab fanani.
Kutinggalkan mereka di dapur untuk masak buat makan sahur. Saat melintasi ruang mujahadah Istriku dan semua masih tertidur lelap. Biarin saja lah, tapi Fatimah aku bangunin saja lah. Biar pindah ke kamar, kayaknya udah aman, pikirku.
“ Fat mau pindah kamar gak ?” tanyaku pada Fatimah.
“ Jam berapa mas ?” Tanya balik Fatimah.
“ Jam 02.05 nih.” jawabku.
“ Mas juga mau bobo dikamar kan ?” kata Fatimah.
“Iya tapi nanti, mau makan sahur dulu sekarang.” Jawabku.
Mas mau puasa ?” Tanya Fatimah.
“iya “ jawabku pendek.
“ Gak mau temenin Fatimah dikamar ?” goda Fatimah.
“ Aah kamu, malah mancing mancing mas saja iih !” kataku.
“ Bentar aja gak papa kan masih jam Segini “ bisik Fatimah.
Aku jadi bimbang juga, tapi niatku untuk puasa sudah bulat, meski juga gak mau mengecewakan istri juga.
“ Yaudah tapi aku makan sahur dulu sebentar, habis sahur nanti ya sayang ?” jawabku berbisik.
“ Yaudah Fatimah bantuin masak, biar cepet !” kata Fatimah.
Selsai makan sahur dan menghisap rokok pukul 2.30. Fatimah yang nenemnin aku makan sahur memandangi aku.
“ Kenapa ?” tanyaku menggoda.
“ Udah kan sahurnya ?” Tanya Fatimah.
“ Belum.” Kataku menggoda.
“ Sahur batin yang belum ?” bisikku pada Fatimah sambil melangkah kemar mandi ngelap keringat karena habis berkelahi tadi sekalian gosok gigi.
“ Iih bisa aja mas ini kalo bercanda.” Katanya manja sambil mencium pipiku.
Saat aku masuk kamar, Fatimah sudah menggukan pakain yang sangat seksi. Tadinya aku mau godain dulu, namun aku yang sudah beberapa hari tidak mendapatkan jatah. Dan waktu juga semakin mengejar maka akupun segera peluk Fatimah.
Tanganku membelai rambut panjang Fatimah, sementara bibirku menciumi pipi dan menjalar ke bibir leher dan semakin kebawah.
“ Say kamu makin sexy dengan perutmu yang makin besar.” Kataku y
Sambil mengusap perut Fatimah yang berlanjut ke area sensitive, seiring dengan irama usapan dan belaian tanganku. Fatimah yang sudah menahan gairah itu segera melucuti aku yang masih berpakain lengkap.
Dan ciuman bibir kami berlangsung lama, sehingga jurus terakhir sebagai pamungkas perhelatan berakhir. Aku terbaring disisi Fatimah, sesaat aku istirahat mengatur nafas yang dua kali bertempur malam ini.
Aku lihat jam sudah jam 03.40 aku segera merapikan pakaianku dan menuju kamar mandi. Selesai mandi saat aku keluar, fanani dan kawan kawan ternyata sedang masak mie instan di dapur.
“ Pada masak mie ?” tanyaku.
“Iya pak, tiba tiba laper.” Jawab Hanif.
“ Bapak sudah Sahur ?” Tanya Dicky.
“ Udah, dah habis mandi tadi keringetan dan sedikit kotor saat berkelahi dengan penyusup itu.” Jawabku bohong. Gak mungkin bicara terus terang habis ngapain juga kan.
“ Owh iya pak.” Jawab ketiganya.
Bodo amat mau tahu habis ngapain sebenarnya juga terserah aja, aku segera menuju ruang mujahadah. Sholat sunnah sambil nungguin subuh.
...*************************...
Di markas Maheso Suro
“ Dasar tolol kalian, begitu saja gak becus. Mana si Japra malah tertangkab lagi.” Kata Maheso Suro berang dengan rekan rekanya.
Saat baru memarahi partner kerjanya, mereka dikejutkan datangnya seseorang.
“ Tolong ki Ageng, tangan saya tangan saya patah.” Jerit seseorang.
“ Dasar geblek kamu, kenapa tanganmu bisa begini. Bukankah sudah kuberi ilmu lembu sekilan dan tameng wojo ?” Tanya Maheso Suro pada muritnya.
“ Iya ki, tapi ini bukan karena senjata tajam. Dan saya tidak sempat menggunakan lembu sekilan ki.” Jawabnya.
__ADS_1
“ Siapa yang melakukan ini “ Tanya Maheso Suro.
“ Orang yang disebut zain atau Yasin itu ki.” Jawab murit Maheso Suro.
Maheso suro terdiam sejenak, kemudian matanya menjadi merah. Tanganya seperti mengepulkan asap tipis, sebuah ajian Lebur saketi. Semua terdiam tak ada yang berani bicara.
Bruuaakkk…
Tangan maheso memukul peja dan mejanya pun hancur berantakan dengansekali pukul.
“ Anggada….!” Panggil maheso Suro pada muritnya.
“ Iya ki Ageng ?” suaramurit Maheso Suro yang ternyata bernama Anggada ketakutan dan menahan sakit.
“ Urus sendiri lukamu, aku sendiri yang akan mencari anak itu dan menghajarnya. Dan kalian semua harus bisa mengambil kesadaran target satunya, agar bisa kita paksa bicara sesuai keinginan kita dalam persidangan yang akan datang.
“Aku akan semedi sebentar, mencari kelemahan anak itu, aku akan ketempat dalang anyi anyi. Aku akan Tanya beliau.” Kata Maheso Suro.
Kemudian Maheso suro pergi meninggalkan yang lain, sementara Anggada menahan sakit yang semakin terasa.
“ Semoga, kakak ipar anak itu berhasil menculik anaknya itu bocah. Biar dia mau mengakui dialah pembunuhnya.” Ucap Si Soma yang habis di semprot Maheso Suro karena Japra muritnya juga gagal dan tertangkap.
“ Muritmu si Japra itu memang tolol, bisa sampai tertangkap. Katanya jago sirep, mana buktinya ?” ejek Ajar panggiring.
“ Diam kau, muritmu sendiri mana juga gak ada tindakan jelas. Cuma pada bisa makan doing !” balas si Soma.
“ Sudah jangan pada bertengkar, aku jadi penasaran pingin menghadapi bocah itu. Seberapa hebat dia.” Kata salah satu dukun geblek itu yang bernama Seto pamening.
“ Kamu pikir dengan Brajamustimu yang masih tingkat dasar itu bisa melawanya ?” ejek Soma yang gak mau diremehkan.
Tiba tiba tangan Seto Pamening mengenggam kuat, mengepalkan kedua teapak tanganya. Dan sejurus kemudia, kedua tangan tersebut meninju bersamaan kearah Soma. Meski jaraknya cukup Jauh dan tidak sampai menyentuh soma, tapi membuat si Soma terpental 2 meter ke belakang.
Itulah ajian Brajamusti, mampu memukul lawan dari jarak jauh.
Sungguh perjuangan seorang Yasin akan semakin berat, belum lagi dengan Maheso Suro yang ternyata pemuja dalang Anyi anyi.
...***************...
Kembali kerumah Yasin
...Yasin POV...
“Aah hamper lupa hari ini Tuti dibebaskan, artinya dijadikan Umpan dia sekarang” kataku dalam hati.
Aku nanti harus mendatangi dia, akan kuberi tahu agar tetap hati hati.
Tiba tiba hp ku bergetar,ada Chat masuk.
“ Assalaamu “alaikum Pak Yasin, ada Info. Pimpinan paranormal yang bernama Maheso suro akan mencari bapak. Karena murit kesayanganya semalam bapak luka.”
Chat pak Yadi.
Aku makin Geram, aku gak suka diuber mendingan aku yang akan cari dia sekarang, kataku dalam hati. Tanpa balas Chat pak Yadi aku segera keluar rumah, mencari info tentang keberadaan meraka.
Sepintas di jalan kulihat bapaknya Rendy disebuah tempat, aah aku dekati dia saja batinku.
Namun sayang keberadaanku ketahua, bapaknya Rendy malah pergi menjauh dan aku kejar. Begitu dekat kutabrak motornya hingga dia jatuh.
Aku turun, bapaknya rendy mau bangkit tapi sudah langsung kuhadiahi sebuah tendangan ke perutnya. Hingga dia jatuh meringkuk memegang perut.
“ Berani kamu macam macam dengan keluargaku, kubuat kau menyesal seumur hidup.” kataku.
Mohon maaf, Author berusaha update tiap hari.
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1