Isyaroh

Isyaroh
Dialog dengan Sena


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode Lalu


Sementara Sena hanya senyum senyum saja melihatku terbengong.


“Ayo mas pulang, aku juga tertidur kok tadi.” Jawab Sena. Kemudian kami bertiga berjalan pulang, entah kenapa aku sempat melihat Yuyut agak sedih dan meitikkan air mata meski hanya terlihat dalam temaram lampu yang tidak jelas, namun kelihatan titik air mata Yuyut yang terkena sinar lampu meski remang namun meantulkan cahaya dari titik air matanya itu.


“Yuyut kenapa sedih ya ?” kataku dalam hati…..!!!


*****


Episode ini


“Yut kenapa Yuyut menangis Yut, kalo cape istirahat saja biar aku telpon salah satu yang di rumah suruh jemput Yuyut.” Ucapku pada Yuyut.


“Yuyut gak cape, Yuyut sebenarnya sedih mikirin kamu Yasin.” Jawab Yuyut.


“Sedih mikirin saya kenapa Yut ?” tanyaku heran.


“Masih akan banyak rintangan yang akan kamu hadapi, sebuah amanah dari abah gurumu itu sudah berat. Meski kelihatnya sepele, kamu hanya disuruh membersihkan sampai ke atas. Tapi ketahuilah bahwa sebagian dari keluarga besarmu banyak yang tersesat jalan. Dann itu adalah tugas kamu mngajaknya kembali ke jalan yang benar.” Jawab Yuyut.


“Hanya begitu saja Yut ? kenapa sampai membuat Yuyut menangis ?” tanyaku lanjut.


“Justru ujian terberat kamu nanti muncul dari keluarga besarmu. Meski masalah yang kamu hadapi sekarang tidak bisa dianggap enteng. Tapi pasca masalahmu ini, masih aka nada masalah internal keluarga dan juga lingkungan sekitarmu.” Jawab yuyut sambil berjalan dengan tongkatnya.


Aku jadi heran dengan Yuyut yang tak lagi suka bentak bentak dan memukulku dengan tongkatnya lagi.


“Ujian macam apa itu Yut ?” aku bertanya terus mengenai perkataan Yuyut yang masih mengambang bagiku.


“Saat ini, dan sebenarnya dari zaman dulu tantangan atau ujian terberat itu bukanlah musuh manusia yang sakti mandra guna. Melainkan musuh terbesar itu adalah hawa nafsu manusia itu sendiri. Ada saatnya kamu akan menemui masa masa sulit, sehingga kehidupan rumah tanggamu sedikit terguncang. Dan kamu akan terkucilkan oleh lingkungan dan keluargamu, karena kamu berada di titik terendah dalam kehidupanmu. Sehingga tak satu orangpun yang akan mendengarkan ucapanmu meski itu benar. Karena di saat itu, orang tak memandang apa isi perkataan seseorang. Tapi mereka memandang siapa yang berkata.” Jawab yuyut.


Sejenak aku berpikir, benar juga kata Yuyut saat inipun sudah muncul gejala orang memandang siapa yang ngomong bukan apa isi omonganya. Dan aku akan mengalami titik terendah ? apa maksut yuyut aku akan mengalami di posisi titik terendah dalam hidupku itu, kemudian akan mengguncang rumah tanggaku ?


“Maaf Yut, maksutnya saya akan mengalami titik terndah itu seperti apa Yut ?” tanyaku pada Yuyut sambil menggandeng untuk menuntun Yuyut menyeberangi sungai bersama Sena.


“Orang hidup, semakin lama akan semakin semakin banyak keinginan sehingga keinginanan itu akan dianggap menjadi sebuah kebutuhan. Bahkan orang tak akan malu lagi melakukan hal hal yang melanggar aturan demi mendpatkan apa yang diinginkan dengan alasan dianggap sebuah kebutuhan.” Jawab Yuyut.


“Apakah itu berhubungan dengan materi atau harta Yut ?” tanyaku menegaskan.


“Iyaaa… di dunia ini godaan terbesar itu ada tiga hal. Satu Harta, du Tahta ( Jabatan ) dan yang ketiga adalah Wanita bagi laki laki. Kamu harus benar benar bisa menjaga diri dan membentengi keluargamu dari tiga hal tersebut.” Ucap Yuyut.


Kenapa bisa hampir serupa dengan pesan Kakek Sidq Ali tadi ya, batinku. Melalui tembang yang salah satu penggalan syairnya mengajarkan agar bisa menjaga dari hawa nafsu yang bersumber dari panca indera.


Harta, tahta dan wanita adalah symbol dari kerakusan (Harta) ketakaburan / kesombongan (Tahta) dan Nafsu birahi (Wanita). Memang benar adanya semua bentuk kejahatan sumbernya dari tiga hal tersebut.


Demi Harta orang berebut bisa saling membunuh demi Harta, Tahta dan Wanita ( symbol Birahi ). Seperti kasus yang menimpaku saat ini, demi harta tega membunuh orang, demi Tahta tega memfitnah orang demi wanita tega menggadaikan iman ( Menempuh jalan sesat ).


Seandainya orang mau hidup wajar menerima apa adanya, mungkin dunia ini akan damai sejahtera.


Tapi gak mungkin juga, manusia memilik sifat sombong yang menjadi biang segala perbuatan dosa. Makan sepiring nasi, dengan sayur dan lauk sekedarnya sudah cukup sebenarnya. Tapi atas nama gengsi dan kesombongan kadang memaksakan diri makan saja harus ditempat yang mewah dengan mengeluarkan uang yang cukup besar. Bahkan secangkir kopi saja bisa mengeluarkan sampai dengan lima puluh ribu rupiah di tempat tertentu.

__ADS_1


Belum lagi masalah  alat transportasi malu menggunakan mobil biasa, lebih merasa bangga dengan mobil mewah yang harganya miliaran. Padahal yang lihat juga biasa saja, hanya yang bersangkutan yang merasa bangga. Belum lagi hal hal lainya yang intinya hanya ingin menunjukan siapa aku.


Akan tetapi itu adalah hal yang manusiawi dimana semua orang memiliki watak tersebut. Tinggal lebih dominan takabur / sombongnya atau lebih dominan rasa syukurnya.


“Heh… Mikirin apa Mask ok malah jadi bengong habis ngonbrol sama Yuyut ?” Tanya Sena mengejutkan aku.


“Gak kok, hanya memikirkan nasehat Yuyut tadi aja.” Jawabku.


“Ini sudah Hampir sampai rumah kan. Mas Yasin ma uterus istirahat atau masih kuat melanjutkan ngobrol dengan aku Nanti ?” Tanya Sena.


“Owh boleh kalo kamu gak cape, aku biasa ngobrol samapi subuh juga.” Jawabku pada Sena.


“Yang bener mas ?” Tanya Sena.


“Iya beneran, bahkan dulu sering istriku aku tinggal keluar sendirian. Kalo gak di pos Ronda ya mincing ke sungai. Tapi sekarang sih gak pernah lagi.” Kataku.


“Yaudah nanti kalo masih kuat kita lanjut ngobrol, ada hal yang akan Sena  obrolkan.” Kata Sena.


Kemudian kami melanjutkan perjalanan, dan akhirnya sampai kerumah kulihat jam masih belum genap jam satu dini hari. Padahal tadi perasaaan lama banget dialog dengan Kakek Sidiq Ali. Eeh tapi hanya dialam mimpi soalnya.


Aku mengantarkan Yuyut ke kamarnya, kemudian kembali menemui Sena di ruang tamu.


“Jadi mau ngobrol nih, kalo cape istirahat di ruang mujahadah saja.” Kataku pada Sena.


“Mas Yasin nanya atau bilang kalo udah cape pingin istirahat nih ?” tantang Sena padaku.


“Wuaduuch kayaknya ada yang nantangin adu begadang nih.” Gurauku pada Sena.


“Ha ha ha… gak lah mas, tapi yang aku dengar dari leluhur Eyang Sidiq Ali dulu semua pada betah begadang. makanya Sena pingin lihat saja mas Yasin kuat gak begadang malam  ini setelah semalam berendam semalam dilautan.” Kata Sena.


Aku suka dengan gaya bicara Sena yang blak blakan begitu, menujukan orang yang terbuka dan tidak suka ngomong dibelakang.


“Hmmmm boleh lah kalo mau menguji sampai mana kuat menahan tidur, kira kira Yasin atau sena yang bakal menyerah duluan untuk pamit tidur atau bahkan tertidur nanti.” Guraku pada Sena.


“Gak usah merendah begitulah, kita masih memiliki darah yang sama. Meski kamu dari istri kakek Jafar atau Mbah putrid. Tapi aku yakin kamu juga memiliki darah yang serupa juga.” Kataku.


“Udah ganti topic aja mas, tadi saat mujahadah ada beberapa anak kampong yang ikut juga. Dan mereka berpakaian serta berpenampilan cukup eksentrik. Ikut mujahadah gak pakai peci rambut juga ada yang disemir hidung ada yang dikasih cincin ( body Pearching ) di telinga juga. Apa memang begitu mas cara mas mengajak mereka ?” Tanya Sena.


“Ya sama aja dengan kamu kan, ngumpulin preman tukang palak, tukang mabuk sampai tadi aku aja hampir di palak. Untung saja dipesan sama yuyut aku hari itu gak boleh marah sama siapapun dengan alasan apapun. Jadi ya aku ngalah aja tadi, disamping saat itu juga lagi sama istriku yang baru hamil. Btw aku bikinin kopi dulu ya ?” kataku pada Sena.


“Wah gak enak malah mas yang buatin, aku aja yang buat, tunjukin dapurnya aja.” Kata Sena.


“Yaudah kita bikin bersama aja yuk, sekalian ngobrolnya pindah tempat di ruang mujahadah. Asbaknya bawa aja.” Kataku.


Kemuian berdua bikin kopi didapur dan melanjutkan ngobrol di ruang mujahadah.


“Mas tadi ketiduran beneran waktu dimakam eyang Sidiq Ali ?” Tanya Sena.


“Kenapa emang ?” Tanyaku balik ke Sena.


“Gak papa sih, aku juga sempat ketiduran dan bermimpi lihat eyang Sidiq Ali lagi nembang.” Ucap Sena membuat aku kaget.


“Terus sempat bicara gak dengan Kakekku ?” tanyaku penasaran.


“Sempat lah mas, kalo gak sempat mana sena tahu itu eyang Sidiq Ali.” Jawab Sena.


“Orangnya seperti apa ?” tanyaku makin penasaran.


“Tinggi mas, putih gak hitam juga gak. Tutur katanya sangat Halus, aku aja dipanggil ngger. Beliau kasih tahu aku kalo dulu ayahku adalah muridnya.” Jawab Sena membuatku makin penasaran. Terus yang nemuin aku di mimpi tadi siapa, batinku.


“Apa kamu dikasih wejangan atau pesan pesan khusus ?” tanyaku kemudian sambil menyeruput kopi.

__ADS_1


“Ada mas, dan ini yang akan aku bicarakan khusus denganmu mas.” Jawab Sena.


“Apa pesan beliau ?” tanyaku makin penasaran.


“Beliau memberikan pesan lewat penjabaran sebuah tembang.” Jawab Sena lagi.


“Tunggu tunggu,,, apakah tembang itu berisi perintah mengendalikan hawa Nafsu yang bersumber dengan panca Indera kita, serta perintah memperbanyak membaca alquran dalam bahasa jawa dengan kata sanepo ( kata kiasan ) sabdo kang luhur ( Firman yang Tinggi /Agung \= Al-Quranul Karim ).” Tanyaku pada Sena.


“Iya mas, kok mas Yasin tahu ?” Tanya balik Sena.


“Itu juga mimpi yang aku alami tadi saat dimakam.” Jawabku membuat Sena terkejut sampai mengernyitkan Alis matanya.


“Kok bisa begitu ya mas, dan perasaan tadi cukup lama aku diwejang tapi kok kita sampai umah belum ada am satu tadi.” Ucap Sena.


“Itulah misteri alam mimpi,  aku jadi ingat cerita mbah Hasyim As’ary yang mimpi diajar kitab selama 40 th dan ketika bangun beneran hafal kitab yang dipelajari dalam mimpi tersebut.” Kataku.


“Tapi hal itu bisa dianggap cerita takhayul mas, bahkan yang kita alami dan kita lakukan bisa dianggap Musrik.” Jawab Sena.


“Kalo yang menganggap Musryrik manusia aku gak takut. Kecuali yang menganggap musyrik itu Allah. Dan memang hal itu bukan untuk ditiru ( Mimipinya Syaikh HAsyim As’ari ) karena itu peristiwa yang sangat langka dan tidak bisa dicita citakan. Nati orang jadi malas belajar, karena dulu mbah Hasyim seperti itu begitu tawadhu’nya dengan mbah kholil gurunya. Sampai tiap hari hanya disuruh nerawat kuda saja bekiau lakukan dengan sepenuh hati. Kalo orang sekarang gak bakalan ada yang kuat seperti mbah Hasyim.” Jawabku.


“iya sih mas, bener juga dan peristiwa semacam yang kita alami pun gak boleh di ceritakan pada sembarang orang takut jadi Fitnah nanti.” Kata Sena.


“Nah yang itu aku setuju, cukup kita yang mengalami sja yang mengetahui. Karena itu bukan sebuah qoidah Syariat hanya merupakan pengalaman spiritual pribadi saja. Dan tiap orang punya perjalanan spiritual sendiri sendiri.” Kataku.


“Kemudian kalo misalnya ada yang nanya, apakah hal mimpi seperti iyu boleh dipercaya, bagaimana mas ?” tanya Sena.


“Selama mimpi itu mengajak kebaikan, bukan melanggar Syariat atau menentang syariat kenapa gak ? kecuali mimpi dibilangi kamu sekarang udah suci udah gak perlu sholat gak perlu puasa. Atau dibilangi puasa yang wajib itu bukan dibulan ramadhan dan sebagianya yang melanggar syariat, itu abaikan tinggalkan jelas itu bisikan setan namanya.” Kataku pada Sena.


“Iya juga sih Mas, hanya kadang aku agak bingung jelasinya kalo ketemu kelompok yang anti dengan ziaroh dan lainya.” Kata Sena.


“Buat apa jelasin kepada mereka yang memang sudah anti dan gak mau tahu, percuma. Kecuali dia itu bertanya mencari kebenaran. Sementara ini yang aku temui mereka yang bertanya bukan mencari kebenaran tapi sekedar mencari pembenaran atas apa yang dia katakana. Jadi aku malas untuk menjawab pertanyaan kalo sudah begitu.” Jawabku.


“Jujur mas aku sering kali dibilang sesat hanya gara gara merawat dan mengasuh anak anak yang suka mabuk tadi itu, bahkan kadang aku juga jadi bingung apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Karena mereka kadang ikut sholat dan mujahadah masih dalam posisi mabuk. Padahal kan itu jelas dilarang dalam Alquran ?” kata Sena.


Aku jadi tertawa dengan keluh kesah Sena yang seperti itu.


“Wkakaka,,,, kamu kok malah jadi bodoh hanya karena omongan orang sih ?” kataku.


“Maksutnya Mas,,,,,???”


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2