
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Urusanmu hanya denganku saja, lepaskan dia biar dia pergi dari sisni. Aku yang akan melayanimu dalam ertarungan ini.” kataku menantang orang ini.
Namun tanpa sempat kulihat dengan jelas orang itu justru melumpuhkan aku dengan sekali totok diurat besar leherku. Bahkan juga Sena, dan kemudian tubuhku dan tubuh Sena dibawa dengan entengnya ke suatu tempat dan aku serta Sena dilemparkan kehadapan seseorang yang sedang duduk disebuah kursi.
Aku dan Sena taqk mampu bergerak sama sekali, bahkan bicarpun tidak mampu. Aku hanya bisa pasrah. Ternyata masih banyak orang yang memilik tingkat ilmu kanuragan yang begitu tinggi.
“Sopo iki kok, tok gowo rene Yan ?” ( SIapa ini kok kamu bawa kemari Yan ) Tanya orang tua itu.
*****
Episode ini
“Niki ngaku ngaku byut panjenengan lek, pramilo kulo bet mriki.” ( ini mengaku sebagai buyut kamu Om makanya saya bawa kesini ). Jawab orang yag dipanggil Yan itu, entah Yanto atau siapa namanya.
“Coba diuculke bocah loro kui, tak takonane.” ( coba kamu lepaskan dua anak itu biar saya Tanya ) kata oraang tua yag duduk itu.
Kemudian orang yang dipanggil Yan itu memapah orang tua yang duduk itu. mungkin karena factor usia sehingga tidak mampu berjalan dengan tegak. Kemudian orang tua itu duduk disampaing kami yang terbujur kaku. Tak mampu berbuat apapun.
“Loh yan, yen nonoton soko pasuryane iki yo isih putu ponakanmu to, pancen bener iki buyutku. Sik siji iki cetho getihe Sidiq Ali karo Jafar dadi siji. Sik sijine isih mambu getihe bojone Jafar.” ( loh yan, kalo melihat paras wajahnya ini juga masih cucu ponakan kamu. Memang ini buyutku. Yang satu ini jelas darah Sidiq Ali dan Jafar. Yang satu masih bau darah istrinya Jafar.) kat orang tua yang sudah tidak mmampu berdiri tegak itu.
Kemudian kami berdua diusap wajah kami sampai ke dada kami, sehingga kami merasakan adanya udara segar yang membuat kami bisa bergerak dan bicara lagi seperti semula.
“Ngger, sopo jenengmu lan opo hajatmu teko mrene ?” ( Ngger siapa namamu dan apa keperluanmu datang kesini ) Tanya orang Tua itu.
“Ngapunten mbah,Nami kulo Ahmad Sidiq estunipun bade ngawu ngawu buyut kawulo ingkang Asmo Munatsir, ananging wonten margi wau kepanggih Aki puniko wonten klenta klentu lajeng bondoyudo. Lan kulo sekalian saget dipun rangket.” ( Maaf mbah, Nama saya Ahmad Sidiq sebenarnya pingin mengaku mbah buyut saya yang bernama Munatsir, tetapi di jalan ketemu aki itu ada salah paham kemudian berantem. Dan saya berdua dapat diringkus.” Jawabku pada orang tua itu.
“Ladalah… tenan putune Sidiq Ali anakku, sliramu kok wani karo kae ngger, kae ki isih mbahmu isih sepupune Sidiq Ali kang aran Hadian. La iyo tangeh lamun sliramu iso unggul ing jurit yen to bondoyudo karo mbahmu hadian. Kanti sayeti Angin kang diduweni Hadian kui iso mlaku seko parang tritis (Pantai Selatan ) teko watu kemloso ( Lereng Merapi ) ming itungan menit. Senajan sliramu rangkep kulite ora bakal menang mungsuh mbahmu Hadian.” Kata orang tua itu.
(Ladalah… bener kan cucu Sidiq Anakku kamu kok berani dengan orang itu, itu masih kakekmu masih sepupu Sidiq Ali yang bernama Hadian. Dengan sayeti Angin yang dimiliki Hadian bisa berjalan dari Parang tritis sampai watu kemloso dalam hitungan menit.
”Aduh nyuwun pangapunten, kulo ingkang lepat sampun cumanthoko wanton mulosro kalian mbah Hadian. Awit kolo wau ngakenipun musuh panjenengan mbah buyut.” Kataku menyesali kekurang ajaranku pada kakek sepupu Kakek Sidiq Ali.
(Aduh mohon maaf, saya yang salah sudah berani memukul mbah Hadian. Karena tadi bilangnya musuh simbah buyut.)
“Wah ora cetho kabeh koweki Yan, mosok putumu dewe mbok gawe dadi koyo ngene.” Kata orang tua itu yang ternyata adalah mabh buyutku yang bernama Munatsir.
“Wah gak jelas semua kalian Yan, masak cucu kamu sendiri kamu bikin jadi begini.”
“Pangapunten lek, kulo mboten mangertos menawi puniko wayahipun Kaang Sidiq Ali.” Kata Mbah Hadian.
( Maaf lek/om saya gak tahu kalo ini cucunya Kak Sidiq Ali.)
“Sing gede pangapuramu yo ngger, simbah ora ngerti yen sliramu isih putuku dewe. Soale saiki akeh sik mik ngaku aku kanti niat ora becik.” Kata mbah Hadian pada kami.
(Yang besar hatimu/memaafkan ya ngger, simbah gak tahu jika kamu masih cucuku sendiri. Soalnya sekarang banyak yang hanya mengaku aku dengan niat yang tidak baik.”
“Boten dados punupo mbah, kulo ingkang lepat sampun cumanthoko wanton dumateng panjenengan.” Jawabku.
(Tidak jadi mengapa mbah, saya yang salah sudah kurang ajar berani dengan Simbah.)
__ADS_1
Kemudian aku di beri wejangan/nasehat setelah tenagan kami dipulihkan. Dan setelah aku mengatakan maksurt dan tujuan kami menemui beliau kami dipersilhakan kembali. Dan diberi tahu oleh mabah Hadian, jika dia ingin mewariskan aji sayeti angin itu kelak pada generasi anak anakku bukan padaku. Dengan alasan dalm diriku masih ada unsure naafsu Amarah yang besar sangat berbahya jika dengan sayeti angin yang juga bisa bersifat panas. Harus yang punya kesabaran ekstra untuk menggunakan itu.
Akuun mengangguk hormat dengan beliau berdua.
Dan terakhir pesan Mbah Munatsir adalah agar aku sering berkunjung ke rumahnya ( Makam / kuburanya agar mengajak juga saudara yang lain, agar bisa kembali menyatukan Ahli warisnya.
Beberapa saat setelah pamit maka kami kembali tersadar jika sedang berada dimakam kakekku Sidiq Ali.
Hampir bersamaan aku dan Sena tersadar, dan Sena Langsung mengajakku pulang. Dan kamipun segera melangkah pulang dengan berjalan kaki. Karena perintah Yuyut juga begitu.
“Aji Sayeti Angin ? luar biasa gerakan bah hadian tadi ya Sena. Sampai instingmu gak berguna dan bahkan lathoif nafsiku juga belum mampu menangkapnya.” Kataku Pada Sena.
“Iya mas, orang dulu kan kuat bertapanya sehingga kuat juga batinya sehingga kekuatan batin itu bisa menambah kekuatan fisik berlipat ganda.” Jawab Sena.
“Yang aku heran, menurut cerita mbah Hadian itu makamnya masih di wilayah Yogyakarta sedangkan mbah Munatsir itu di wilayah jawa tengah arah ke candi Borobudur. Kok tadi bisa bersamaan disitu ya ?” kataku pada Sena.
“Gak tahu juga mas Sena, coba nanti tanyakan ke Yuyut saja.” Jawab sena.
Kamipun kembali melanjutkan langkah kaki menuju kerumah, dan sesampainya dirumah Rofiq juga sudah menunggu kami, belum tidur.
“Kamu kayak gak ada capeknya Zain dari kemarin tidur sebentar sebentar terus sama saudaramu Sena itu.” ucap Rofiq.
“Biasa aja bang, namanya juga baru melakukan tirakat ( \= Thoriqoq \= jalan maksutnya sedang menjlani proses mengasah diri orang jawa ada yang menyebut nglakoni \= menjalankan ).
“Mau ngopi gak, kok kayaknya cape banget begitu ?” Tanya Rofiq.
“Boleh sih, mang yang lain udah tidur semua bang ?” tanyaku pada Rofiq.
“Udah dari tadi, gak lama setelah mujahadah pada berangkat tidur semuanya.” Jawab Rofiq sambil jalan menuju ke dapur.
“Kembali ke sayeti angin tadi, memang sangat berbahaya jika dipegang oleh orang yang slah Sena. Bahkan orang seperti akupun tidak pantas karena masih suka emosi spontan.” Kataku.
“Iya mas, maaf emosi mas Yasin kadang tidak terkontrol seperti tadi.” Ucap Sena.
“betul aku mengakui itu, kadang sulit engontrol emosiku jika harkat dan martabat keluargaku dilecehkan orang.” Jawabku.
“Wah makasih bang, sebenarnya aku merasa gak sopan dibuatin kopi sama bang Rofiq.” Kataku.
“Udah santai saja kita kan bakalan jadi saudara juga.” Ucap Rofiq.
“Iya bang, kami tadi sedang membahas soal perjalanan spiritual kami. Intinya aku mengakui jika emosiku masih tinggi sehingga banyak hal yang harus aku benahi saat ini.” kataku pada Rofiq.
“Terus apa kalian berhasil melaksanakan perintah dari Yuyut ?” Tanya Rofiq.
“Alhamdulillah bang kami berhasil, tinggal melapor pada Yuyut nanti kalo beliau sudah bangun.” Jawabku.
Kemudian kami melanjutkan obrolan sampai menjelang subuh, karena tanggung jika harus tidur dulu. Takutnya malah subuhnya lewat. Biar nanti saat semaan baca sedikit saja sekedar untuk memulai. Biar dilanjut yang lainya, karena jujur saja badanku dan Sena masih sangat capek. Dan biarlah besuk Sena pulang dulu menengok anak istrinya. Kasihan kelamaan disini juga kasihan anak buahnya yang masih dalam masa pendidikan, pikirku.
Sebelu subuh Khotimah, Fatimah Isti dan Yuyut sudah bangun, kemudian Yuyut langsung mendekati aku dan Sena.
“Udah berhasil bertemu mbah buyutmu ?” Tanya Yuyut.
“Sudah Yut.” Jawabku singkat.
“Kalian ketemu Hadian sahabatku juga ?” Tanya Yuyut lagi.
“Loh Yuyut juga kenal mbah Hadian juga ?” tanyaku Kaget.
“Gak Cuma Kenal, kami juga pernah satu pesantren dulunya. Berarti kamu tadi sudah merasakan Sayeti angin juga ya ?” Tanya Yuyut.
“Aah Yuyut nih sukanya ngerjain cucunya sendiri, pasti udah sekongkol sama mbah HAdian juga ?” kataku pada Yuyut.
“Iya memang aku yang meminta dia mengantarkan kamu ke buyut kamu, biar kamu cepat sampainya. Ketahuilah jika kalian tadi ketemu Hadian dan di bawa jauh ke tempat Mbah Munatsir hanya hitungan beberapa menit.” Ucap Yuyut.
__ADS_1
“Owh pantes, tadi kupikir kok mbah Hadian disana padahal menurut cerita makamnya ada di wilayah Yogyakarta saja kok bisa sama mabh buyut Munatsir ?” kataku.
“Iya, memang Yuyut dari rumah juga tawasul dan kirim fatikhah ke dia ( Mbah Hadian ) dan Yuyut minta dia antarkan kamu ke mbah Buyutmua.” Kata Yuyut.
Aku gak begitu faham dengan apa yang disampaikan Yuyut saat itu, tapi yang jelas yang kualami memang begitu. Sehingga aku gak mau terlalu berpikir secara logis, karena ini sudah bukan lagi ranah logika,pikirku.
“Nah sekarang kamu sudah siap untuk menghadapai Ajar Panggiring, kemudian baru Gurunya Panggiring pemilik ilmu ‘Panggiring Sukma’.” Kata yuyut.
“Jadi pemilik asli ilmu ‘Panggiring Sukma itu bukan Ajar Panggiring Yut ?” tanyaku heran.
“Bukan Ajar Panggiring itu baru muridnya, kamu dan Sena akan hadapi gurunya langsung. Kalo hanya ajar Panggiring kamu sendiri sudah cukup, tapi menghadapi gurunya kalian berdua harus kerja sama. Dan setelah itu Yuyut sudah tidak bisa bantu lagi. Yuyut hanya bisa bantu kamu sampai disitu, selebihnya itu tergantung sahamu sendir.” Ucap Yuyut membuat aku dan Sena hanya mapu berpandangan
Berarti pasangan penabuh gong ku itu harus segera ditemukan. Kareana kalo yang dimaksut Yuyut adalah dalang Ayi Anyi yang punya gundolo Sosro hanya bis adihadapi dengan Gong dan penabiuhnya itu.
“Tapi kamu jangan terlalu kahawatir, pada saat yang tepat kamu akan bertemu dengngan orang yang akan menolong kamu ?” kata Yuyut.
“Kok Yuyut Yakin begitu Yut ?” tanyaku penasaran.
Karena kalian berdua tadi bisa menemui mbah buyutmu Munatsir meski harus menghadapi Sayeti angin dulu. “ kata Yuyut.
“Maksutnya bagaimana yut ?” tanyaku ke Yuyut.
“Yuyut tadi hanya membaca ilmu titen, jika kamu berhasil menemui buyutmu munatsir maka aka nada orang yang menolongmua nanti saat dalam bahaya besar meskipun kamu terkena sayeti angin hingga harus terlempar jauh, tapi justru itu yang akan membawa kamu kepada orang yang menolongmu.” Kata yuyut.
Aku jadi paham maksut Yuyut, Mbah buyutku bernama Munatsir \= orang yang ditolong melewati mbah Hadian \= dari kata Hudan \= petunjuk dengan ditempa Sayeti Angin angin sejati yang mebawa kepada yang menolong.
Dalam hati aku berkata, “ini kan ilmu yang kudapat dari Abah Guruku dalam membaca ISYAROH. Yuyutku menyebutnya ilmu Titen, hanya beda penamaan sja,pikirku.
“Jad begitu ya Yut ?” kataku memahami kata kata Yuyut.
“Iya,makanya kamu sekarang persiapan, biar besuk Sena pulang Istrirahat dirumahnya kasihan anakistrinya. Kamu besuk cari Ajar panggiring dusahakan kamu bertemu dan bertanding satu lawan satu. Jika Ajar panggiring tidak Sendiri maka jangan langsung kau lawan tapi carilah bala bantuan lain tapi bukan Sena. Nanti malam kamu berangkat cari Ajar Panggiring pancing dia keluar, bawa penabuh gong sebagai senjatamu melawah ajar panggiring.” Kata Yuyut.
Kumandang adzan subuh menghentikan obrolan kami, dan kami pun segera melaksanakan sholat subuh dilanjutkan Semaan Al-Quran. Aku tidak samapai selesai karena terus istirahat persiapan menghadapi Ajar Panggiring nanti malam harus mulai mencari.
Setelah membaca Al-Quran satu juz aku langsung masuk ke kamar dan disusul Fatimah.
“Mas, Hati hati ya nanti jangan sampai lengha dan jangan sampai terpancing emosinya. Ingat Aku dan anakmu masih mengharapkan kamu kembali utuh. Fatimah gak mau kamu terluka mas.” Ucap Fatimah sambil menangis membuatku juga menjadi sedikit ragu ragu dan Was was. Tapi harus bagaiana lagi gakada pilihan lain saat ini. biar maslah segera tuntas, aku harus segera hadapi Ajar Panggiring. Baru yang lainya meskipun aku tidak boleh mengajak sena, pikirku.
“Doakan saja ya semoga suamimu ini bisa kembali dengan Selamat. Aku juga masih ingin selalu bersamamu danmelihat amak kita lahir besuk.” Jawabku pada Fatimah.
Kemudioan Fatimah tampak berkaca kaca entah apa yang dia pikirkan, aku berprasangka baik saja jika aku disuruh sendir maka aku dipandang mampu menghadapi Ajar Panggiringseorang diri, meski harus dengan kewaspadaan penuh,pikirku.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...