
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Khot tunggu, jangan gunakan tenaga dalam kamu sembarangan, teriak suamiku. Namun Khotimah tidak mendengar dan justru kembali melancarkan pukula kali ini bahkan mengarah ke kepala suamiku.
“Is, cepat lakukan sekarang jangan sampai terlambat….!” Kataku pada Isti.
Isti segera berlari namun lebih cepet pukulan Khotimah sehingga mas Yasin terpaksa menangkis dengan tanganya lagi dengan dilandasi inner power juga. Sehingga keduanya terpental namun Khotimah cepat bangun sementara suamiku masih belum bisa bangkit sempurna. Sehingga saat Khotimah melancarkan pukulan lagi, suamiku tidak mungkin lagi melakukan perlawanan.
Sementara Isti masih juga belum bisa menaburkan bubuk itu, aku menjadi semakin panik.
*****
Episode ini.
Khotimah yang sudah bangun dan bersiap menyerang kemudian melompat kearah suamiku dan mengayunkan dahan yang masih dia pegang sebagai senjata. Sementara suamiku masih berusaha bangkit dengan agak susah payah. Aku jadi kepikiran ketika tahu Khotimah mampu membelah batu hanya dengan dahan kayu. Lantas bagaimana nasip suamiku yang belum siap menerima serangan itu.
Aku lemas dan tak mampu untuk menyaksikan adegan mengerikan itu hingga aku hanya bisa menutup mataku dengan kedua tanganku. Dan terdengar suara yang sangat menyayat hati.
Praaak….
Suara benturan dua benda keras dan diikuti lengkingan suara mengerikan.
“Huarrrrrrrrrrrgggh……!”
Tiba tiba di saat yang sangat kritis Yuyut didampingi bapak ibuku dan juga Sena datang.
Ternyata suara benturan dua benda keras tadi adalah dahan yang dipegang Khotimah mengenai tongkat yuyut yang telah dilemparkan Yuyut. Tepat disaat kritis, karena suamiku ternyata tak mampu bangkit berdiri.
“Isti cepat taburkan bubuk itu.” perintah Yuyut.
Isti yang sadar dari rasa tertegun nya segera melemparkan bubuk yang diberikan Yuyut pada Khotimah. Khotimah yang meraung bukan karena kehendaknya itupun makin menjerit dan sempat mengeluarkan ancaman sebelum jatuh pingsan terkena bubuk itu.
“Huuarrghhh kalian liciik membohongi dan membokong aku, tunggu pembalasanku….!” Tubuh Khotimah pun jadi lunglai akhirnya terjatuh. Sena yang segera berlari membantu suamiku berdiri segera memapah suamiku masuk ke rumah. Di ikuti semua yang ada disitu.
*****
Flashback beberapa menit sebelumnya
Yasin POV
“Gila tenaga Khotimah luar biasa, dan kenapa kayak berantem beneran. Bahkan aku peringatkan pun dia malah semakin membabi buta. Aku gak mungkin melawaan dia dengan kekuatan full, aku hanya kan bertahan saja.” Gerutuku dalam hati.
Apa mungkin Khotimah punya dendam pribadi gara gara Fanani atau yang lain sehingga ini jadi ajang balas dendamnya padaku, ataukah dia benar benar hanya ingin menguji kekuatanku saja.
Tak sempat berpikir panjang karena Khotimah sudah bersiap menyerangku lagi setelah pukulan pertamanya aku tangkis tadi.
“Khot tunggu, jangan gunakan tenaga dalam kamu sembarangan.” Aku berteriak kencang memperingatkan Khotimah. Sebenarnya aku masih bisa mengimbangi tenaga dalam Khotimah namun aku takut justru dia yang terluka, dan pasti aku yang akan disalahkan Fatimah nanti.
Gerakan Khotimah yang begitu cepat tak sempat aku hindari, terpaksa aku bertahan dengan menangkis seranganya dengan kedua tanganku dengan sedikit bergeser surut kebelkang. Dan ternyata pukulan Khotimah kali ini berlipat lipat kekuatanya. Sampai kedua tanganku mati rasa saat mengkis, dan aku sampai terbatuk menahan tenaga dalam Khotimah.
Aku terlempar kebelakang tanpa mampu mengatur posisi jatuhku, meskipun Khotimah juga terlempar ke belakang. Namun naas aku seperti merasakan tulang tulangku remuk, sehingga sulit bangkit lagi. Sementara Khotimah justru sudah siap menyerangku lagi. Sekuat apapun aku berusaha bangkit namun aku justru terjatuh lagi tak mampu menahan berat tubuhku sendiri.
Aku pasrah…
Tiba tiba terdengar benturan dua benda keras ternyata Yuyut menolongku dengan melemparkan tongkatnya mengenai dahan yang dipegang Khotimah.
Aku terjatuh lagi, tahu tahu sudah dipapah Sena masuk ke rumah.
*****
“Uhhuuk… aduh dadaku masih terasa sesak, kamu kok bisa datang bareng Yuyut dan bapak ibu mertuaku lagi. Gimana ceritanya Sena ?” kataku sudah mearasa agak mendingan meski masih sakit.
__ADS_1
Sementara Khotimah masih dirawat Yuyut dan yang lainya.
“Maaf mas, sebenarnya Yuyut dan bapak ibuya mbakyu Fatim gak pulang tapi kerumah Sena.” Jawab Sena.
“Lah kok bisa begitu ?” tanyaku heran.
“Kemarin Yuyut member wejangan ke mbakyu Fatim dan temenya itu sebenarnya mengatur rencana ini. Yuyut ingin memancing khodam ‘panggiring sukma’ agar muncul sekedar mengetahui kekuatanya. Karena khodam ‘panggiring sukma itu banyak. Dan levelnya juga bertingkat, jadi Yuyut pingin tahu yag mas Yasin akan hadapi nanti seberapa kekuatanya.” Jawab Sena.
“Lah kenapa tadi Khotimah bilang,katanya aku disuruh mengajari kanuragan pada Khotimah ?” tanyaku.
“Iya maaf, itu sebagian dari rencana yuyut. Jadi mbakyu Khotimah pun tidak tahu rencana ini. mas Yasin dan mbakyu Khotim memang dijadikan umpan buat memancing khodam itu. ternyata khodam itu lebih memilih mbakyu Khotim. Makanya Mbakyu Fatim dan temenya disuruh mengawasi dengan dibekali ramua khusus jika salah satu dari kalian dihinggapi khodam itu agar diberi ramuan itu.” jelas Sena.
Aah yuyut bisa aja ngerjain aku, batinku.
“Aku tadi sempat mengira Khotimaah menyimpan dendam pribadi sama aku. Tapi aku gak berani menggunakan kekuatan penuh takut melukai. Jadinya malah aku sendiri yang terluka begini.” Kataku pada Sena.
Yuyut kemudian muncul dihadapan kami, sambil terkekeh kekeh.
“HE he he… gimana cu rasanya menikmati ajian lebur sakethi ku tadi.” Tanya Yuyut sambil terkekeh jelek.
“Enak Yut, rasanya kayak bandeng presto tulangku jadi lunak semua.” Jawabku jengkel pada Yuyut.
“He he he… kalo kamu begitu kayak lihat kakekmu Jafar rasanya Cu…!” pemarah dank eras kepalanya keluar.
“Gak kok yut, maaf hanya bercanda kok. Sakitbanget yut untung Yuyut datang menolong disaat yang tepat tadi.” Kataku.
“Sebenarnya yuyut sudah lama lihat dari awal kamu mulai bertarung sebelum Khotimah dirasuki tadi. Cuma memang Yuyut bertindaknya nunggu kamu terdesak dulu.” Jawab yuyut enteng banget kayak gak punya dosa aja pikirku.
Kemudian Yuyut segera memegang kedua lenganku untuk mengembailkan aliran darahku agar normal kembali.
AAuuw sakit yut.” Teriakku ketika kedua telapak tanganku dipegangi dan dikibaskan seperti mengibaskan tali mainan agar bergelombang. Kemudian disusul totokan dua kali ke dadaku kanan dan kiri. Rasanya seperti dipukul benda keras. Aku sampai terbatuk dan hampir muntah rasanya perutpun seperti di kocok kocok.
Namun setelah selesai aku merasakan nafasku kembali normal dan nyeri di kedua tanganku juga berangsur hilang.
“Udah yut, udah sembuh kayaknya.” Ucapku pada Yuyut.
“Kamu ini sakit dikit saja teriak teriak, bentak Yuyut. Kamu sekarang boleh istirahat. Besuk malam mulai mengasah ketajaman batin lagi.” Ucap Yuyut.
“Gak, hanya masih syok sidikit, tadi agak lama dikuasi khodah panggiring sukma” jawab Yuyut.
“boleh aku lihat kondisinya Yut.” Tanyaku.
“Boleh tapi pelan pelan saja bicaranya.” Perintah yuyut.
Kemudian aku segera memasuki kamar Khotimah bersama Sena, dikamar Khotimah sedang ditungguin Fatimah dan Isti.
“Kamu gak papa khot ?” tanyaku pada Khotimah.
“Gak papa kok mas, Cuma masih lemes sebenarnya apa yang terjadi kok Khotimah jadi pingsan lagi ?” Tanya Khotimah yang belum tahu kejadian yang menimpanya.
“Owh gak papa, Cuma kecapaian saat latihan tadi.” Jawabku.
“Mas sudah diobatin yuyut ?” Tanya Fatimah berbisik.
Aku hanya mengangguk tidak menjawab, agar khotimah tidak curiga.
“Yaudah Khotimah istirahat saja, mas juga mau istirahat dulu.” Kataku sambil member kode pada Fatimah agar mengikuti aku.
Aku segera jalan ke kamar mau masuk ke kamar, namun dihentikan Rofiq yang dari tadi sudah menunggu.
“Zain, bisa gak ajari aku juga ilmu kanuragan seperti itu. biar bisa ikutan membantu kamu.” Tanya Rofiq.
“Sama Sena ini aja bang, saat ini aku masih kecapean.” Kataku.
“Ya gak harus sekarang kan, maksutnya lain kali.” Kata Rofiq.
“Bisa lah bang, kita memang harus saling bantu.” Ucapku.
Kemudian Fatimah ikut nimbrung.
“Mas Rofiq, kata Yuyut kalo mau mempelajari kanuragan sama dik Sena ini saja. Dia memang spcialist ngajar kanuragan, dirumahnya juga dijadikan padepokan kata Yuyut.” Sahut Fatimah.
“Aah mbakyu Fatim terlalu berlebihan menilai saya, saya masih belum sebanding dengan suami mbakyu kok.” Ucap Sena merendah.
__ADS_1
“Apapun itu Sena, kamu sudah dijinkan untuk mengijazahi ilmu kanuragan kalo aku malah belum. Jadi kau hanya bisa memakai untuk diri sendiri, ijazahnya hanya mempelajari dan mengamlakan bukan mengajarkan.” Kataku pada Sena.
“Gak papa mas Rofiq, kalo berkenan bisa kita mulai mala mini ditempat mas Yasin dan mbakyu Khotimah tadi berlatih.” Kata Sena.
Kemudian disambut baik oleh Rofiq dan segera mereka menuju ke belakang rumah.
Sementar aku mengajak Fatimah ke kamar untuk bicara seputar Khotimah tadi.
Sampai di kamar.
“Fat kamu tega amat ngerjain suami kamu sendiri sih ?” tanyaku.
“Itu Yuyut mas, katanya biar tahu kekuatan khodam itu karena mas Yasin sendiri yang harus menghadapi. Jadi perlu mengukur keuatan khodam itu.” jawab Fatimah.
“Mas Heran deh, kok tiba tiba Khotimah jadi kuat dan gerakanya kayak udah sering berlatih begitu ?” tanyaku pada Fatimah.
Fatimah hanya tersenyum sebelum menjawab.
“Mas gak tahu aja kalo dulu Khotimah itu sering dilatih yuyut, dan saat berlatih sparing partnernya adalah Fatimah.” Jawab Fatimah mengejutkan aku.
“Jadi, kamu juga bisa olah kanuragan?” tanyaku heran.
“Dulu sih, kan selama ngaji Fatimah gak ikutan mas, khusus ngaji saja.” Jawab Fatimah.
“Owh jadi kamu ngaji di pondok sementara Khotimah terus dilatih sama yuyut ?” kataku.
“Iya mas, makanya dulu ketika mendengar cerita masa lalu kamu Khotimah jadi penasaran. Kemudian saat mincing dan di gangguin itu Khotimah sengaja pingin lihat aksi kau menghajar orang orang itu.” kata Fatimah sambil senyum.
“Wah kurang ajar tu anak, jangan jangan kamu juga Fat ?” tanyaku.
“Dikit sih, habis penasaran Cuma denger dari orang lain waktu dipondok, tapi ketika sudah jadi suami belum pernah lihat sendiri.” Jawab Fatimah santai kayak gak punya beban aja, batinku.
“Dasar kalian ya, tunggu pembalasanku besuk.” Ancamku dalam candaan.
Ketika aku berbaring meluruskan pinggangku, yag hendak istirahat. Aku jadi ingat jika dibelakang Rofiq sedang berlatih kanuragan dengan Sena. Jadi bimbang mau istirahat atau lihat mereka yang berlatih.
“Fat, baiknya kau istirahat atau lihat Rofiq dan sena yang seang berlatih ya ?” tanyaku minta pendapat Fatimah.
“Istrirahat dulu lah mas, kemarin sebelumnya juga udah fisik dilaut, tadi berlatih sama Khotimah sampai begitu. Masa iya Fatimah kamu diemin terus” ucap Fatimah manja dan menggoda.
“Ah kamu ini bisa aja mnggoda, tapi lihat sebentar saja yuk kayak apa Sena kalo olah kanuragan.” Ajakku pada Fatimah.
“Aah mas ini besuk ka nada jadwal sendiri, kata Yuyut mas akan disuruh berlatih dengan Sena juga sebagi sparing partner dan selain itu aka nada ujian buat mas dan Sena untuk bisa mengalahkan salah satu pimpinan makhluk astral di sekitar rumah kita ini.” ucap Fatimah.
Haah mengalahkan pimpinan makhluk Astral ?
aku jadi teringat ketika disuruh kang salim melawan raja Sosro Sukmo. Dan ingat juga kata kang Salim bahwa yang aku hadapi sekarang aalah 100 kali lipat kekutanya dari Raj Jin Sosro Sukmo.
Waduh seratus kali lipat….
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1