Isyaroh

Isyaroh
Jenguk Rofiq di penjara


__ADS_3

Percakapan akhir episode sebelumnya


Aku bilang ke Fatimah mau pulang saat itu juga. mumpung masih pagi.


" Sayang mas harus balik ke jogja sekarang, banyak masalah yang harus mas selesaikan " Kataku


" Tidak boleh...." jawab Fatimah


" Kenapa sayang ? " Tanyaku


" Gak boleh kalo sekarang, besuk siang saja...! " Fatimah berucap dengan nada sedih.


" Mas ingin ini cepat selesai sayang, agar kita cepat kembali bersatu lagi ! " hiburku.


" Tapi gak musti hari ini juga kali mas,.. !?! " Cegah Fatimah.


Aku termenung sejenak, apakah Fatimah merasa. Jika aku ada rencana jenguk Sidiq dulu ???


" Fatimah gak tahu kenapa, perasaan Fatimah gak ikhlash. Gak ngijinin mas berangkat hari ini " ucap Fatimah disela isak tangisnya.


" Maaf mas, bukanya Khotimah ikut campur. Tapi Mbak Fatim ini punya perasaan yg sangat lembut.


Khotimah khawatir saja, jika mas nekat terjadi sesuatu. Pasti mbak Fatim sedih, bahkan Khotimah juga sedih. Mas udah Khotimah anggap sebagai kakak kandungku sendiri.


Mengingat mas begitu mencintai mbak Fatim. Khotimah merasa bersukur sekali mas. Jangan berangkat hari ini mas. " Khotimah berkata panjang lebar.


" Iya iya aku ikuti saran kalian, aku berangkat besuk. Hari ini kita bertiga nyantai yuk ! Cari ikan mancing dikolam terus nanti kita pepes lagi ! " kataku.


" Serius mas, Khotimah boleh ikut ? " seru Khotimah.


" Tanya istriku tercinta dong...! " kataku.


" Iya boleh adikku, tapi jangan rewel ya. jangan gangguin mbak sama suami mbak ! " Ucap Fatimah


" Iya mbak, iih curiga amat !" Khotimah godain Fatimah.


" Udah yuk siapin pancingan, mas beli umpan dulu ! " kataku.


Cari kolam kiloan dimana sekitar sini. Tanyaku dalam hati, ah tar nanya yg jual peralatan pancing aja.


Sampai dikolam pemancingan agak sepi. Lumayan tenang gak brisik, dr pada ramai banyak preman kampung yg sok jago.


" Kok Pancinganya cuma bawa satu ? Kalian gak ikut mancing ? " tanyaku.


" Gak ah mas aja, aku sama Khotimah lihat aja ! " jawab Fatimah.


" Yaudah pesen minum kek, aku jeruk aja !" pintaku.


" Biar Khotimah aja, mas dan mbak sini aja !" kata Khotimah langsung bangkit.


" Bro ada yg pamer bawa cewek dua sekaligus. Lo minta satu sono " seoran pemancing teriak dgn bahasa mereka.


" Mas gak usah ditanggepin, dia emang suka bikin ribut " ujar Fatimah.


" Iya tenang saja " kataku.


Strike pertamaku dapet ikan mas.


" Wah gede tu mas, hati hati jgn sampai lepas ! " seru Fatimah.


Gak kujawab, sibuk narik ikan.


Tiba tiba ada yg nyeletuk


" Gede mana sama punya laki lo mbak ?" Aku yg lagi melepas ikan, hampir saja menjawab untung Fatimah bisikin.


" Udah gak usah diurusin !!! " cegah Fatimah saat aku mau bangkit.


" Mulut nya say, udah keterlaluan " bisikku.


" Sayang cantik cantik budek.. ! " celoteh satunya.


" Mas.... sabar inget pesan Yuyut. jangan mundur ke masa lalu " kata Fatimah yg menurunkan emosiku.


" Wah dapet gede banget mas ? " Khotimah yg baru datang langsung teriak.


" Halah segitu aja gede, gedean punyaku neng " celetuk satunya lagi.


Cuma Bocah sok jago sebenarnya, tiga tiganya bisa kuhajar sekaligus. Tapi biarlah asal gak main pisik.


" Diemin aja Khot cuma anak ingusan sok jago. Gak usah diladenin ! " kataku setengah teriak biar di denger.


" Mas ngapain sih....! " Fatimah panik.


" Udah pulang aja yuk " Khotimah juga ikut panik.


" Udah kalian tenang saja kalo mereka macem macem tak ceburin kolam semua nanti. lihat saja " bisikku.


" Jangan mas, malu gak usah ribut disini !" Cegah Fatimah.


Kulihat bocah bocah itu juga tidak bersuara lagi.


Strike ke dua ku dapet ikan Bawal, besar hampir 2kg.


Cukup lah buat satu rumah, sebagian dibagi tetangga sebelah pikirku.


Tapi saat aku lg strike, 3 bocah tadi nyamperin. 1 godain Fatimah satunya godain Khotimah satunya lagi nyamperin aku.


Terpaksa Kail kulepas.


" Mau apa kalian ? " Bentak ku


" Lo tadi bilang kami sok jago, sekarang buktiin ! " kata yg menghampiriku. Sambil mengayunkan tangan kearah wajahku.


Aku mundurkan wajahku, sehingga tanganya menghantam angin. dan tubuhnya terhuyung kedepan. Sehingga dorongan ringan tanganku menambah dia makin terdorong dan masuk kolam


..."byuuurrr"...


Dua temanya tampak grogi


" Mau nyebur sendiri atau aku ceburin ? " bentakku


"Iya..." tanpa dikomando lagi, dua bocah itu nyebur kolam sendiri. .


Pemilik kolam datang.


" Ada apa ribut disini ! " Bentaknya


" Mereka ganggu istri dan adikku, maka tak ceburin kolam " kataku datar.


Pemilik kolam itu memandangiku hingga beradu tatapan mata denganku.


" Lo bukan orang sini asli, Lo gak tahu siapa yg lo ceburin itu ? " katanya tanpa melepas tatapan matanya.


" Gak penting siapa dia, udah ganggu istriku, maka jiwa laki lakiku terpanggil. " jawabku juga tetap dengan menatap matanya.


" Lo punya nyali juga rupanya, lo tinggal dimana ? " tanya dia.


Duh aku lupa alamat lengka dusun istriku. Untung Khotimah yg jawab..


" Kue kangmas e nyong, suamine mbakayuku mbak Fatim paman "


( Itu kakakku suaminya mbak ku mbak Fatim paman )


Begitu kira kira dialeknya.


" Berarti itu Fatimah e Kang Hamid ? kok gak bilang dari tadi. berarti kamu ponakane nyong juga " kata orang itu yg lantas berubah sikap drastis.


" Duh maaf paman, saya tadi kurangajar sama paman " kataku mohon maaf, sambil jabat tanganya.


" Uwis ora papa, paman malah bangga duwe ponakan kaya kue... jenengmu sapa ? " Tanya paman itu


" Yasin paman " kataku.

__ADS_1


" Khot itu siapa ? " , bisik Fatimah


" Ya Allah mbak, iku Paman Narto adik ibuk ku masa lali ? " jawab Khotimah


Begitulah kejadian dikolam itu. Akhirnya tiga bocah yg sok jago itu diomelin.


" Khot jangan bilang siapa siapa tentang tadi, mas malu " kataku.


" Iya khot, kok kamu juga gak bilang itu kolam paman Narto, jd gak enak terus gak mau dibayar kan ?!? " timpal Fatimah


" Sengaja kok, pingin lihat masku nek jadi Zain dulu gimana. Ternyata luwih gagah gitu mbak, hihihi..." gurau Khotimah.


" Wah bener bener kamu khot, berarti kamu kenal tiga anak tadi ? " Sergahku


" Kenal sih gak, cuma tahu dia sering bikin ribut. Makanya Khotimah pingin lihat. Masku mas Zain bukan mas Yasin tu kayak apa, hihihi..!" candanya.


" Bener bener adikmu ini say, kamu harus cubit dia buat aku " kataku


" Dengan senang hati " jawab Fatimah langsung cubit Khotimah.


" Aduuuuh sakit mbak ampun ampuni Khotimah....! " jeritnya.


" Fatimah.... Kamu apakan adikmu ? " Tahu tahu bapak ibu mertua sudah di samping kami. yg sedang motongin ikan.


" Kok sudah kondor pak bu ? " tanyaku


" iya tiba tiba inget rumah saja " jawab ibuku


" Mau minum apa pak bu, kalo makan siangnya baru mau masak." kata Fatimah


" Gak usah, perlu bantuan ibu gak masaknya ? " tanya ibuk mertua


" Gak usah bu, bapak ibu istirahat saja. Biar kami bertiga yg kerjakan " kataku


" Biar mereka berdua saja, masak kamu laki laki didapur ! " seru ibu mertuaku.


" Gak papa bu, biar tambah Romantis. biat Khotimah cepet nyusul kakaknya " gurauku.


" Ya sudah gak papa, tapi jangan sampai istrimu jd manja nak ! " kali ini bapak mertua yg bicara.


" Njih pak " jawabku.


Hari itu kulalui dengan ceria, sampai


saat malam menjelang tidur.


" Mas perasaan Fatimah kok was was ya. ingat temen temen pondok dulu " kata Fatimah.


" Kamu jgn bilang inget...! " belum selesai bicara dipotong Fatimah


" Bukaaaaan tapi inget semuanya bukan khusus. tertama saat aku pamitan dulu itu..." tiba tiba air mata Fatimah menetes.


Aku jadi iba, " Ceritalah apa yg ingin kamu ceritakan" kataku sambil membelai rambutnya dengan kasih sayang.


" Mas Fatimah terpikir Isti'anah..." kata Fatimah.


" Isti'anah ? kenapa dia ? " tanyaku.


"Gak tahu mas, tiba tiba kangen dia...? " kata Fatimah.


Ingat saat perpisahan setelah kita dinikahkan.


Fatimah kemudian membuka


cerita lamanya.


Saat Fatimah berkemas mau pulang, hampir semua Santriwati memandangku Sinis.


" Dan saat Fatimah masuk kamar, ternyata Eis sudah ada didalam kamarku, menunggu Fatimah....


" Fatimah mau nangis mau minta maaf sama Eis....


hampir tiap satu kalimat terhenti karena isak tangisnya...


" Dia memelukku, dia berbisik... ini bukan salahmu. Aku sudah tahu, kamu jangan merasa bersalah padaku. begitu bisiknya padaku


" Kemudian Eis bilang gini..."


" Fat.... kamu sahabat aku, Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu. Soal teman teman yg salah faham padamu. Biar Eis nanti yg jelaskan ke mereka "


" Eis beruasaha tersenyum padaku, agar dia tampak tegar mas. Tapi matanya tak mampu menipuku, kulihat ada titik air mata yg menetes disudut matanya "


" Lalu Fatimah merangkulnya dan berkata, Eis... aku harus bagaimana ? Aku tahu kalian saling cinta. Harusnya, kamu yg ada di posisiku tadi. Eiisss... "


" Saat itu tangisku tidak dapat kutahan lagi, dan semua santriwati berkumpul disitu. Sebagian masuk ke kamarku. "


" Dan tiba tiba Isti'anah merangkul kami berdua, dia berkata..."


" Fatimah & Eis sahabatku saudaraku, kami teman teman sudah mendengar semuanya


Buat Eis, kami salut dengan ketegaran hatimu.


Dan buat kamu Fatimah,...


Aku pribadi & mewakili teman teman semuanya....


kami mohon maaf, sudah suudhon padamu.


Kami semua juga mengucapkan, Selamat atas pernikahanmu.


Kalo tadi kami suudhon, sekarang kami justru tau, ini juga tentu berat buat kamu.


Dinikahkan dengan orang yg tidak kamu cintai.


Dan tentu kamu juga pasti merasa bersalah pada Eis, meski itu bukan salahmu bukan juga salah suamimu.


Sampaikan salam maaf kami semua, yg juga sudah suudhon dengan suamimu.


Karena kami tahu, ini juga gak mudah baginya, bagimu dan bagi Eis. " kata Isti'anah.


" Begitulah mas yg terjadi saat itu, maka semua yg ada disitu semua menangis. Jadi tangisan waktu itu, bukan hanya sekedar perpisahan kami saja. " cerita Fatimah.


Akupun tak terasa menitikan air mata


Sekeras apapun hati seseorang jika mendengar itu sudah hamir pasti menangis haru.


" O iya mas...


satu hal lagi pesan dari Eis begini "


Aku hampir saja gak kuat...


" Udah Sayang gak usah diteruskan, Eis itu masa lalu. Dan kamu adalah masa depanku...."


" Gak mas... ini Amanah, harus Fatimah sampaikan "


" Apa sayangku pesan Eis sahabatmu itu..


Aku sampai tak bisa menutupi rasa haruku... Air mataku hampir saja menetes. Namun kutahan semampuku...


" Eis bilang gini mas


" Fat udah jangan nangis, demi Allah aku ikhlash. Aku hanya pesan satu hal buat suamimu.


tolong nanti kamu sampaikan ke suamimu. jika Aku Eis, dan semua santriwati disini tidak ada yg menyalahkan kamu Fatimah ataupun suamimu.


Kami semua berharap dan berdoa, kamu dan suamimu bisa saling mencintai.


satu lagi, jika suamimu masih mau kuanggap sahabat dan saudaraku.


maka sampaikan padanya, dia harus janji menyangi dan mencintai kamu.


Apakah kamu bersedia Fatimah ? "

__ADS_1


" Maka meledaklah tangisan kami semua, " lnjut Fatimah.


Ya Allah, kenapa Fatimah membuka lg cerita itu, apa kurang yakin terhdapku. Apa kurang yakin wanita yg ada di hatiku cuma dia. Apa kurang yakin, aku gak pernah mikirin Eis lagi.


Tapi kenapa yg disebutkan awal Isti'anah bukan Eis. Atau hanya sindiran saja, jika aku ada masa lalu selain dengan Eis.


Tapi juga ada masa lalu dengan Arum, yg tidak dikenalnya. Karena sebelum aku tinggal dipesantren itu. Yg jauh lbh parah, dan Arum sampai melahirkan anakq. Yang aku juga baru tahu, ah entahlah.


" Masss.... kok ikut nangis ? "


" Iya mas sedih lihat kamu nangis, kok kayak ngerasa bersalah gak bisa bahagiain istri...! " kataku.


" Gak mas.. Fatimah bahagia kok bahagia banget.. Mas pingin Fatimah gak malam ini ? " tanya Fatimah.


" Kali ini terserah Fatimah saja, Mas ikut. Saat begini mas lebih suka lihat kamu senyum. Lebih suka .memelukmu dengan kasih sayangku, bukan sekedar nafsuku.


Kecuali Fatimah yg minta, maka mas wajib memberi. " kataku.


" Sama kok mas, Fatimah juga lagi butuh pelukan sayang dr pd pelukan merangsang, bobo aja ya ? " kata Fatimah.


" iya sini aku belai rambutmu biar nyaman boboknya...." ucapku lembut.


" Mas juga bobo ya..! " ucap Fatimah sama.


" hmmmm " jawabku Singkat.


Sampai istriku tertidur, masih kubelai dan kupandangi wajahnya. Bukan aku tak berhasrat, tp moment berkasih sayang seperti ini sangat penting juga.


Entah berapa lama aku membelai dan memandangi istriku. Sampai akupun tertidur sambil memeluknya.


Tahu tahu sudah dibangunin subuh.


" Mass bangun udh subuh.." bisik istriku.


"Iya sayang bentar lagi ya, aku subuh dirumah aja, masih ngantuk " kataku


Lamat lamat ku dengar istriku berbisik


" Semalam Fatimah pura pura tidur mas. Sengaja pingin buktiin, dlm hatimu ada kasih sayang beneran atau sekedar nafsu. Ternyata kamu benar benar muenyayangiku. makasih suamiku. " bisik Fatimah.


" Kurasakan pipiku mendapat kecupan sayang. kemudian langkah Fatimah keluar kamar, hendak ke mushola.


Aku sangat terharu dengan bisikanya tadi... Ah jadi hilang kantuk ku. Tapi sholat dirumah saja lah.


..................


Pertemuan dengan Rofiq


Pagi saat pada kumpul minum teh dan sarapan. Aku menyampaikan pada bapak dan ibu mertuaku. Bahwa aku harus segera pulang ke jogja. Untuk menyelesaikan kasus yg menyeretku.


Meski awalnya Fatimah keberatan tapi akhirnya melepaskanku berangkat pagi itu juga. Meski ketika dikamar saat prepare barang sempat menangis dan memelukku erat. Seakan tak mau lepas, namun dengan berat hati juga aku katakan.


" Sayang... seberapa besarnya cintaku padamu, Tapi aku tetap harus pergi, untuk kita dapat bersatu lagi.


Dan seberapa besarnya cintamu padaku, kau tetap harus melepasku pergi. Karena kepergianku bukanlah untuk meninggalkanmu. Tapi kepegianku untuk mencari ketenteraman hifup kita. Hidupmu dan hidupku serta anak yang ada dalam kandunganmu.


Sudah sayang, hapus air matamu ya ? " kataku.


Mungkin karena tangis Fatimah keras, bapak ibu mertuaku serta Khotimah ikut masuk kamar. Menenangkan Fatimah, otomatis dengar yg aku bilang ke Fatimah. Yang membuat mereka juga ikut haru. Bahkan Khotimah ikut nangis bareng Fatimah.


" Pak buk Saya mohon doa restunya. Agar semua masalah cepat selesai. Dan saya juga Fatimah bisa hidup damai lagi. Dik Khotimah, maafin mas ya suk usil Sayang doakan mas ya !" kataku pada Fatimah.


" Tunggu mas...! " Khotimah menahanku.


" Ada apa ? " tanyaku menyelidik.


" Mas Harus janji, kesini lagi demi kami semua. Kami semua menyayangi mas. Khotimah gak akan rela mas tingalkan mbak Fatim. " ucap Khotimah.


" Iya adikku yg cantik, mas juga sayang kalian semua. Dan sangat mencintai kakakmu Fatimah. ya kan sayang " Kataku sambil mencium kening Fatimah.


Gak tahu kenapa waktu itu, rasanya seperti hendak pergi lama sekali.


Aku melangkahkan kakiku dengan berat. Ternyata ibu mertuaku mengikutiku dan menghentikan aku diluar.


" Nak kamu menantuku satu satunya. Ibu bahagia kamu dan Fatimah begitu saling mencintai. Namun ibu tahu, kamu masih menyembunyikan sesuatu di masa lalu mu.


Ibu sudah tahu, dan Ibu minta kamu gak usah kasih tahu Fatimah dulu. Jika kamu sudah mempunyai putra. Gak usah kaget, ibu tahu dari Yuyut. Tapi ibu percaya jika kamu sudah berubah total.


Ingat ya jgn bilang Fatimah, biar ibu yg bicara pelan pelan !"seru ibu mertuaku.


Aku langsum bersimpuh dikaki ibu mertuaku.


Tapi dilarang disuruh langsung berangkat.


Akupun melangkah mantap, satu masalah terselesaikan.


.Sampai dirumah, aku lgsg mandi ganti baju kermah pak Yadi. minta dianter jenguk Rofiq.


"Assalaamu ' alaikum pak yadi...."


Wa 'alaikummussalaam we monggo pak. Ini kebetuan saya ada tugas, untuk ke Sel nya Rofiq. mau ikut atau gimana ini pak ? " tanya pak yadi.


" Kebetulan tujuan saya kesini mau minta tolog pak yadi nganter saya kesana ?! " kataku.


" Kalo gitu kita berangkat skaramg pak !?!" ujar pk Yadi.


"Mari pak saya dibelakang jenengan saja " kataku.


Setelah Sampai, saya diajak pak Yadi masuk Ruang tahanan Rofiq.


Pas jam besuk, ada dua orang wanita yg nunggu di luar pintu kamar tahanan. Karena bareng pak Yadi aku lgsg masuk.


Jenguk siapa ibu dan anak itu..?


Sampai di sel tahanan Rofiq.


" hai Zain bangsat lo jebak gue ! " kata Rofiq.


" Njebak lo ? bukanya lo yg mau jebak gue...? " bentakku penuh dendam.


Aku melihat ibu dan anak itu melihat kerahku dan Rofiq.


Apa dia keluarganya pikirku..?!?


" Bodo amat, gue akan hancurin hidup lo !" Tiba tiba Rofiq Histeris, dan meraung serta mencakari apa saja.


" Mas Rofiq..." Seru gadis itu


Owh adiknya Rofiq.


Kemudian Rofiq pingsan, aku iba juga. Lalu pintu sel dibuka, Rofiq di baringkan dengan tangan tetap diborgol. Dan diikat tali biar gak ngamuk.


" Silakan dibantu sareatnya pak, saya panggil adiknya yg biasa menangani biar ikut bantu. " kata pak Yadi.


" Silakan pak " kataku kemudian memanjakan doa doa Rukyah, samar samar kudengar gadis yg dipanggil pak Yadi itu melantukan doa yg sama dengan yg kubaca. mungkin mengikuti, baguslah kalo hafal juga.


lama lama Rofiq sadar, dan kutanya halus.


" Masih inget saya gak bang ? " tanyaku.


" Lo Zain kan, kenapa lo nolongin gue yg udah fitnah lo ? " kata Rofiq.


Sambil bicara ku dengar gadis itu msih terus melantunkan doa yg sama seperti tadi. kok doanya sama persis ? Apa gurunya satu sanad ilmu dengan guruku. Ah biarin saja, sama juga lrbih bagus.


" Iya bang gue nolong karena kemanusiaan aja " kataku


Eh kok lama lama suara gadis belakangku ini kok kayak kenal, kudengarkan betul. kok mirip suara teman satu pondok ku dulu. setelah dia selesai kucoba menengok memastikan kulihat wajahnya, dan tanpa sengaja, kami bertatap muka sama sama kaget. sama sama menyeru...!


" Kamu...... ? Suaraku bersamaan.....


.................


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2