
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Huaaaaaahhhhg membosankan melempari kamu seperti melemperi monyet htan saja, kali ini aku akan memukuli kamu saja seperti memukuli anjing liar, wkakaka,,,,!” Ajar Panggiring dan kemudian kudengar lanhkah kaki Ajar Panggiring meski terdengar agak susah, mungkin sambil menahan sakit tulang rusuknya yang retak. Tapi inji bisa bahaya, bisa jadi dia juga akan memukul rusukku sampai patah juga, sebelum menyiksaku sesuka hatinya nanti, batinku.
Dan….
Buuuk…. Punggungku teras dipukul dengan keras, kemudian
Buuuk gentian pinggang kananku juga kena pukulan lagi.
“Ha ha ha… mana Yasin yang katanya berani dipukulin diam saja gak bisa balas.” Teriak Ajar Panggiring yang puas bisa menyiksa aku yang tidak dapat membuka mataku.
*****
Aku bisa mendengar lanhkah kakinya yang seperti menahan sakit rusuknya, dan untung pukulan dia tidak terlalu keras. Mungkin masih kesakitan jika menerahkan banyak tenaga akibat luka dalam dan rusuknya yang retak. Sehingga pukulanya tidak begitu saki kurasakan.
Aku merasa agak tenang, tapi apakah dia bawa senjata tajam atau tidak aku juga tidak tahu. Sayang kepekaan refleku tidak sebagus Sena. Harusnya sena yang menghadapi dan bertarung dalam gelap begini karena dia sudah menguasai getaran reflek bahkan dari bulu halus dikulitpun bisa merasakan arah datangnya bahaya.
Aku ingat sesuatu, kemudian aku duduk bersila dan memusatkan seluruh tenagaku. Mengatur nafas dan peredaeran darah kemudian menyalurkan energy dari pusar naik keatas sampai ke ubun ubun ke bahu kanan turun ke bawah sampai dibawah pu…ng ku dan kekiri lurus tepat di jantung selama tiga kali bacaan kalimah thoyibah Tahlil dan terahir kukonsentrasikan diantara kedua alisku. Akhirnya aku berhasil membuka lathoif nafsiku dan mampu melihat keberadaan Ajar panggiring yang saat itu hendak memukul kepalaku dengan sebatang kayu yang digunakan memukul aku tadi. Rupanya saat aku bermeditasi dan berdoa tadi dia memanfaatkan untuk mengumpulkan tenaganya.
Untung saja aku melakukan dengan cepat sehingga tidak terlambat.
Saat kayu itu kurang sejengkal dari kepala bagian belakangku aku cepat merunduk ke kiri dan mengayunkan kaki kananku kearah perut Ajar panggiring.
Dan buuk….
HEeekgh…. Ujung tumitku mengenai perut Ajar Panggiring meski tidak telak mengenai ulu hatinya. Bisa langsung koit kalo kena ulu hatinya batinku. Namun ujung kakiku hanya mengenai sedikit dibawah pusarnya.
Itu cukup membuat Ajar Panggiring mengaduh bahkan sampai terkencing karena dekat dengan kandung kemihnya. Kemudian aku bangkit berdiri menghadap kea rah Ajar Panggiring yang kaget. Melihat aku bisa mengetahui keberadaanya, meski mataku masih terpejam rapat.
“Haah jangan bangga dulu, dan jangan menggertak aku. Kamu hanya kebetulan saja bisa menghinari seranganku. Kulihat matamu masih tertutup rapat, kamu gak akan bisa melihat aku secara pasti.” Ancam Ajar Panggiring padaku.
“Mataku memang belum bisa melihat tapi mata hatiku masih bisa melihatmu dengan jelas. Tanganmu yang satu masih menahan rusukmu yang sakit, dan kamu tak bisa mengerahkan seluruh energimu karena kesakitan jika mengerahkan banyak tenaga.” Ucapku.
Ajar panggiring terkesiap kaget kulihat dari mata batinku lewat Lathoif nafsiku.
“Jangan membual, pukulanmu tidak membuat aku terluka, aku sengaja tidak mengerahkan tenaga besar supaya dapat mentiksamu lebih lama. Biar aku bisa puas melihatmu menderita.” Ucap Ajar Panggiring. Sambil nerkata dia mengayunkan kepalan tangan kanannya kearah wajahku tepat kearah hidungku. Dengan cepat kepalan tanganya kutangkap dan seketika itu juga kugenggam erat dan langsung kuputar kekiri tangan kanannya hingga dia tak mampu melepaskan dan menjerit kesakitan. Karena aku putar kuat hingga tubuhnya mengikuti gerakan putaran tanganku sampai tertsimpuh membelakangi aku.
“Aku bisa saja mematahkan tangan kamu ini jika aku mau, tapi sekali lagi aku tawarkan kamu menyerah saja dan aku akan biarkan kamu hidup normal. Atau kamu memilih hidup cacat dengansatu tangan dan satu kaki.” Bentakku.
“AAaachhh kurang ajaaarr kaau…
Lepaskan dan kita bertarung lagi kalo berani…!” katanya sambil teriak kesakitan. Aku menahan posisi tanganya dalam keadaan seperti itu, jika kutekan lagi bisa patah atau lepas persendianya tapi jika aku kurangi aka nada kesempatan dia melepaskan tanganya.
__ADS_1
Ajar Panggiring mengerang menahan nyeri dan sambil komat kamit tidak jelas entah mengomel atau mengumapat tidak jelas.
Namun seketika aku ingat bahwa dia bukan mengomelo atau mengumpat tapi merapalkan sebuah mantera mengundang khodam jin yang seperti tadi. Dengan terpaksa aku lepoaskan tanganya namun saat tangan dia terlepas kuberi dia hadiah tendangan lagi di pinggang kirinya, sehingga mau gak mau dia pun harus berhenti mengucapkan mantera itu.
Ajar panggiring mengaduh dan terguling satu putaran dan berhenti merapalkan manteranya.
Buuuk…
aaagghh.. hmmmhhhh
“Aku gak akan kasih kesempatan buatmu untuk hidupp lagi, sekarang harus dipastikan aku atau kamu yang akan merging nyawa malam ini.” Ancam Ajar Panggiring.
“Kemudian dengan mata batinku kulihat dia menggerakan kedua tanganya keatas dan kemudian menyatukan kedua telapak tanganya diatas kepala. Kemudian turun ke bawah sampai kedua telapak tanganya yang saling bertemu menelungkup itu berhenti tepet diantara kedua matanya seperti seorang yang sedang menyembah sesuatu.
Aku tidak mau lengah, akupun melakukan gerakan jurus pertahanan jurus sesuai urutan huruf hijaiyah seperti ajaran kang Salim. Aku mengambil jurus ‘Qof’ namanya serta dengan menyebut asma Allah dalam Asmaul Husna. Denagna posisi dan gerakan kai tertentu bersiap menahan gempuran dari Ajar Panggiring.
Samar samar dengan mata batinku aku melihat perubahan tangan ajar Panggiring yang berubah dari waran sebelumnya menjadi agak kemerahan dan lama lama menyala seperti bara. Ilmu apa ini, apa ini yang disebut ilmu ‘Jari Api’, batinku. Aku harus betul betul waspada dengan Ajar panggiring ini. yang ternyata masih banyak stok ilmu kanuragan yang dimilikinya. Aku meningkatkan kekuatan batinku untuk menghadapi Ajar Panggiring.
Sesaat kemudian Ajar Panggiring melompat maju menyerangku dengan kedua taganya bersamaan menghantam kearah tubuhku. Akupun yang sudah bersiap segera menyambut serangan itu juga dengan kedua tanganku pula.
Terjadi benturan dua pasang tangan yang saling beradu pukul dan menimbulkan suara benturan yang cukup keras. Aku merasakan panas seperti terbakar dan terdorong surut kebelakang. Sementara Ajar Panggiring juga terpental ke belakang tapi segerara bangkit lagi.
Aneh….!
Seakan dia tidak lagi merasakan kesakitan di rusuknya yang retak seperti tadi. Pantas berai mengeluarkan tenaga dalamnya, pikirku.
Ajar panggiring mengulangi gerakan yang seperti sebelimnya dan kembali melancarkan seranganya kepadaku dengan jurus yang sama.
Aku agak terkesiap karena tidak mengira Ajar panggiring akan menyerang aku secepat itu dengan jurus yang sama. Aku pikir dia akan kesakitan dulu memegang rusuknya yang retak. Sehingga aku hampir saja lengah untung saja aku segera dapat menguasai situasi dan menangkis serangan Ajar Panggiring juga dengan jurus yang sama.
Hmmm rupanya dia meningkatkan tenaga dlamnya, hingga aku yang sekarang terpental. Tidak mau ambil resiko aku meningkatkan jurusku ke level diatanya.
Kuambil gerakan jurus ‘Kaf’ setingkat lebih tinggi dari yang tadi, kulihat Ajar panggiring masih menggunakan jurus yang sama, mungkin hanya menambah sisa powernya dikeluarkan semua.
“Apakah gak ada jurus lain lagi yang kamu bisa ?” ledek ku pada Ajar Panggiring.
Namun Ajar Panggiring tidak menyahut dan dengan luapan amarahnya dia menyerangku dengan lebih bertenaga dan disertai teriakan kerasnya seakan mengelurkaan seluruh sisa kekuatan yang masih dia miliki.
Aku menyambut seranganya dengan berdiri tegak dan telapak tangan menghadap kedepansatu diatas satu dibawah menyerupai huruf ‘Kaf” dalam huruf Hijaiyah.
Dan yang terjadi kemudian berbeda denagn yang sebelumnya.
Tidak sampai terjadi benturan fisik namun benturan dua kekuatan yang diluar fisik. Sebelum kedua tangan ku dan Ajar panggiring saling bersentuhan. Kami berdua sama sama terpental ke belakang, namun aku tidak sampai jatuh, sedang Ajar panggiring sampai terguling dua kali putaran meski dia langsung bangkit dan duduk bersila menyilangkan kedua tanganya di atas dada.
Aku segera mempersiapkan diri untuk ganti dengan jurus lain, sambil melihat apa yang akan dilakukan Ajar panggiring tersebut.
Kemudian kulihat kedua tangan Ajar Panggiring bergerak memutar bergantian secara berirama satu dengan lainya dan sejurus kemudian dia melakukan serangan langsung dari posisi duduknya sehingga aku agak kalang kabut menghindari seranganya yang begitu cepat tanpa terduga.
Dan bear saja, karena aku tidak mempersiapkan jurus pertahanan apapun dan sedikit terlambat menghindar dadaku masih bisa tersentuh oleh Ajar panggiring. Meski hanya tersentuh teapi efeknya cukup membuat dadaku sesak dan tejatuh kebelakang seperti tertabrak benda keras dan kecepatan tinggi. Aku sampai terbatuk beberapa kali…
Uhhuuuk uhhhuuukk hhuuukkk…
Aku segera bangkit tidak mau kecolongan lagi dan aku langsung naikan beberapa tingkat jurusku langsung ke ‘Lam Alif’ aku gak mau ambil resiko gegabah atau meremahkan lawan ini pikirku.
Benar saja akhirnya Ajar panggiring tak lagi mau berdialog kembali menyerangku dengan jurus yang sama. Namun kali ini aku lebih siap dan lebih meningkatkan power dan menaikan jurus beberapa tingkat diatasnya.
__ADS_1
Aku harus segera menyelesaiakn pertempuran ini, karena mataku juga harus segera mendapatkan perawatan, kalo tidak aku takunya akan menjadi buta beneran. Yang aku pikirkan adalah bagaiman nanti reaksi Fatimah istriku bila itu terjadi.
Aku sudah bersiap menerima serangan Ajar panggiring kali ini, dengan masih menggunakan jurus yang sama serta aksi tutup mulutnya ajar panggiring menerjangku dengan sangat cepat dan dengan kekuatan penuhnya.
Akupun sudah siap bahkan tak sabar menanti serangan Ajar panggiring, dengan segenap kemapuan lahir batinku kukerahkan menyambut serangan Ajar Panggiring yang sudah benar beenar kesetanan.
Dan kembali benturan dua kekuatan lahir dan batin terjadi, sehingga menimbulkan suara yang cukup mengerikan. Aku masih tetap bisa berdiri di tampatku meski aku merasakan benturan hebat dan tangan seta kakiku cukup bergetar goyah, serta tanganku hampir mati rasa seperti saat berlatih dengan Khotimah waktu itu. setelah agak tenang aku melihat bagaimana keadaan Ajar panggiring dengan mata batinku.
Ternyata dia tergeletak cukup jauh terpental dari lokasi benturan tadi. “Apakah dia pingsan atau mati.” pikirku. Agak ragu aku mendekati takut ini adalah sebuah jebakan dan dia menyerangku tiba tiba. Menghadapi orang licik harus penuh waspada, pikirku.
Pelan pelan aku mendekati Ajar Panggiring, memastikan dia masih bernafas atau tidak. Atau sekedar Trik dia untuk menjebakku saja. Semakin mendekati Ajar panggiring. Kulihat ada gerakan sedikit tangannya, masih hidup gumamku. Kemudian kakinya juga bergerak dan akhirnya dengan mata batinku dia masih mapu untuk duduk dan melakukan sebuah gerakan tangan seperti mengambil nafas panjang, untuk mengatur jalan peredaran Darah, karena dai sudut bibirnya aku bisa melihat dia mengeluarkan darah, dan terluka dlam cukup parah tampaknya.
Aku ragu ragu untuk mengambil tindakan apa yang akan aku lakukan. Jelas gak mungkin bagiku menyerang orang yang sudah kalah, tapi juga harus waspada dengan tipu muslihatnya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu reaksi dari Ajar Panggiring lebih dulu.
“…….reneo reneo aku rene gowo pangan, aku ngundangsukma sukma nglambrang kelwan poro danyang, panganen bocah iku….! ( Makanlah anak itu ) ” Ucap Ajar panggiring Sukma. Rupanya dari tadi dia hanya diam sambil merapalkan mantera itu. namun kulihhat setelah itu Ajar panggiringpun jatuh pingsan sambil memuntahkan darah.
Baru saja aku mau mendekat aku dikagetkan dengan berbagai macam suara dan aroma aroma yang tak sedap. Tiba tiba saja disekelilingku sudah terdapat makhluk Astral yang semuanya hendak menyerang aku..
Aku tertipu oleh Ajar Panggiring, rupanya sudah sejak tadi dia merapalkan mengungang Jin Jin khodam ‘Panggiring Sukma’ itu. Makhluk makhluk it uterus berusaha mendekati aku yang sudah cukup lelah untuk bertarung dengan begitu banyak makhluk astral itu.
Lebih tak menyenangkan lagi aroma busuk yang dikeluarkan membuat aku mual dan pening. Sehingga membuat aku beberapa kali harus menahan muntah atau mau muntah tapi hanya keluar angin saja.
Tiba tiba sosok jin dekil dan bertaring menyerangku dengan kuku tajamnya, namun aku masih bisa menghindari seranganya. Dan memukulnya hingga terpental kebelakang, namun tidak membuat yang lain takut dan justru semakin beringas menyerangku secara bersamaan. Satu dua dari mereka memang berhasil aku pukul mundur dengan jurus jurus Hijaiyah. Namun karena jumlahnya yang terlalu banyak, akupun merasakan ada kulit dagingku yang rasanya seperti terkelupas karena cabikan kuku kuku tajam mereka.
Dan aku semakin sulit untuk bertahan karena jumlah mereka justru semakin banyak dan seakan mereka sedang berebut makanan. Dan ingin mancabik cabik kulit dagingku untuk mereka santap.
Makin lama aku merasakan rasa perih hampir diseluruh tubuhku, karena mkhluk mkhluk itu bahkan ada yang menyerang dari bawah mencengkeram dan mencabik cabik kakiku bahkan sudah tak mampu lagi jika aku harus menghitung jumlah mereka. Dari kanan kiri depan belakang bahkan dari bawah pun ada yang menyerang mencabik cabik kulitku, bahkan ada yang berhasil menggigitku.
Aku benar benar terpojok, seperti seekor kerbau ditengah kepungan harimau yang kelaparan dicakar dan digigit kulit daginganya dalam keadaan hidup hidup.
Sekuat tenaga tangan dan kakiku memukul dan menendang mereka namun percuma saj, satu pergi dua datang, apa lagi yang harus aku lakukan sekarang…..???
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1