Isyaroh

Isyaroh
Planning hadapi Lawan


__ADS_3

" Begitulah Fat, pesan kan Salim." kataku pada Fatimah.


" Tapi sekarang kan beda mas, masa iya mas mau hadapi 7 Dukun itu seoang diri ? Konyol itu mas namanya !" protes Fatimah dengan intonasi tinnggi.


Aku hanya terdiam tak mampu menjawab.


Tiba tiba Isti datang,....


" Maaf Isti ikut nimbrung, dan tanpa sengaja dengerin percakapan kalian. Aku setuju dengan Fatimah, mas Yasin jangan konyol !" seru Isti


"Bukan aku sok hebat, tapi jika amanahnya begitu aku harus gimana lagi ?" jawabku.


" Mas jangan telan mentah mentah apa yang disampaikan kang Salim. Maksut dari tugas ini harus mascselesaikan sendiri itu bukan berarti seorang diri. Tapi mas Yasin harus aktif tidak pasif, bukan tidak boleh minta bantuan orang lain !" seru Isti.


Jika Isti sudah begitu, dia menunjukkan powernya sebagai santri yg sudahsenior dari aku. Karena harus ku akui, jika dia lebih dulu nyantri dari pada aku.


Kemampuan di bidang agamapun jauh diatasku. Bahkan dengan istriku pun aku masih di bawahnya. Aku hanya sedikit lebih faham dalam ilmu terapan. Karena pengalaman hidup yang aku alami lebih berwarna dari mereka berdua.


" Ok, jika aku harus minta bantuan pada siapa, coba kasih tahu ?" tanyaku pada Isti.


Sementara Fatimah mendengarkan perdebatanku dengan Isti. Kemudian ikut menyahut.


" Mas masih inget gak, pesan ibuku sama yuyut ?" tanya Fatimah menyela.


" Pesan yang mana ?" tanyaku balik.


" Ibu pernah pesan, darahmuda mas masih bergejolak. Belum bisa mengukur kekuatan sendiri. Sementara Yuyut juga berpesan jika menemui kesulitan disuruh menghubungi Yuyut kan ?" jawab Fatimah.


" Iya aku ingat, tapi apa iya aku merepotkan beliau berdua ?" tanyaku ke Fatimah.


" Baiknya nanti kita bicarakan lagi, setelah mujahadah !" kata Isti.


" Kenapa harus nunggu selesai mujahadah Is ? Jika sekarang bisa dilakukan. Aku paling tidak bisa menunda !" sahutku pada Isti.


" Mungkin maksut Isti biar suasana tenang mas, kalo sekarang mas Yasin kelihatan masih tegang !" kata Fatimah menimpali.


" Gini aja, kita lanjutkan bicara tapi diruang mujahadah. Ambil wudhu dulu, laksanakan solat sunat mutlak. Kita mohon petunjuk pada Allah, mas Yasin jangan hanya mengutamakan Akal. Itu bahaya jika tidak di barengi iman !" kata Isti.


" Aku tidak mengandalkan akalku saja Is, justru aku menggunakan iman makanya aku gak takut !" bantahku atas pernyataan Isti.


Suasana pembicaraan memang agak menghangat. Antara Fatimah dan Isti yg melawan aku sendiri.


" Sudah sudah, makin jelas mas Yasin agak emosi. Ambil wudhu solat terus lanjutkan bicara nanti !" seru Isti.


Aku tak ada pilihan lain, kecuali menuruti kata Isti. Memang seperti itulah perdebatan para santri selalu diwarnai adu argument atau dalil. Sehingga perdebatan jadi seru tapi tidak pernah sampai jadi bermusuhan. Jika perdebatan selesai, maka selesailah masalah. Meski tidak ada titik temu pun tetap saling menghormati.


Meskipun, tetap dengan pendapat masing masing selama punya dasar atau dalil yg sesuai. Bukan pendapat yang hanya berdasarkan opini atau sentimen pribadi.


Segera kami ambil air wudhu dan solat sunat mutlak. Setelah selesai dialog pun dilanjutkan kembali.


" Jadi maksutku begini Fatimah dan Isti. Aku sadar tidak akan mampu melawan mereka seorang diri. Soal kenapa aku berani, itu karena aku punya keyakinan atau iman !" kataku memulai dialog.

__ADS_1


Isti langsung membantah statmentku tadi.


" Owh tidak bisa begitu mas, jangan iman kamu jadikan kedok tindakan konyolmu itu !" bantah Isti.


" Konyol bagaimana ? Apakah ketika Rasulullah dan para sahabat berperang melawan musuh yang jumlahnya ratusan kali lipat dulu itu juga disebut tindakan konyol ?" tanyaku.


Bahkan setelah solatpun perdebatan justru semakin panas.


" Mas Yasin tidak bisa menisbatkan ( menganalogkan ) dengan perang badar, perang khondaq dan lainya !" Fatimah pun ikut menyerangku dengan argumentasinya.


" Kenapa gak bisa ? Bukankah Rasulullah itu Uswatun Khasanah ( contoh yang baik ) yang harus diikuti dan diteladani bagi semua muslim ?" kataku membantah ucapan Fatimah dan Isti.


Aku mencoba memojokkan mereka dengan kisah kisah perjuangan Nabi dan shohabat. Semula kukira mereka sudah kalah dengan Argumentasiku dengan dasar / Dalil qiyas tersebut. Namun tak kusangka, dengan sanga-t tenang Isti menjawab.


" Bedanya, Rasulullah dijamin Allah karena sebagai utusan-Nya. Saat itu beliau sedang diuji iman nya. Dan dengan kondisi pengikut yang baru sedikit diharuskan bertahan melawan kedholiman, penindasan maka mau gak mau angkat senjata.


Karena langsung mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril ?


Sedangkan mas Yasin ?


Apa dapat wahyu dari jibril ?


Apa kalah jumlah dengan lawan ?


Gak kan ?" bantah Isti.


Aku sampai garuk garuk kepala, menghadapi kecerdasan Isti. Jika boleh jujur, soal pengetahuan Agama memang dia jauh di atasku. Hanya soal pengalan hidup yang aku lebih dari Isti.


" Yakin itu harus suamiku, tapi keyakinan itu juga harus berdasar. Keyakinan saja tanpa dasar itu konyol namanya " seru Fatimah.


" Maksutmu gimana Fat ?" tanyaku.


" Dalam menerapkan keyakinan itu gak seperti itu mas ! Mas yakin kan kalo rejeki itu sudah diatur Allah ?" tanya Fatimah.


Aku jadi makin tidak faham maksutnya.


" Ya yakinlah Fat " jawabku tegas.


" Kalo mas yakin rejeki diatur Allah, terus mas Yasin gak mau kerja hanya berdasarkan keyakinan itu konyol gak namanya ?" jawab Fatimah, memaksaku berpikir.


" Apa hubunganya dengan masalah ini ?" kilahku.


Kemudian disahut oleh Isti, sambil senyum senyum merasa menang.


"Isti tanya satu hal lagi, biar mas Yasin faham maksut Fatimah. Tolongdijawab saja !" kata Isti.


" Iya, tanya apa ?" kataku yg sebenarnya sudah terdesak.


" Mas yakin, ajal itu sudah diatur Allah, jawab saja !" kata Isti.


" Ya sangat yakin lah !" jawabku.

__ADS_1


" Terus kalo mas berdiri di rel kereta api saat kereta api melintas di rel itu konyol gak ?" tanya Isti.


Aku baru faham, maksut Fatimah dan Isti. Tapi masih gengsi mengakui kalo mereka yang benar.


" Ya gak bisa disamakan begitu kalo itu kan bunuh diri namanya !" bantahku.


" Ya sama saja dengan mas Yasin yang mau menghadapi para dukun itu seorang diri. Itu juga bunuh diri namanya !" Seru Fatimah menimpali dengan suara penuh emosi.


Aku benar benar tak berkutik, melawan dua seniorku di pesantren itu. Meskipun yang satu sudah berubah status jadi istriku.


Aku diam saja, tak satu kata pun terucap. Mau mengaku salah malu, mau membantah tak mampu. Gak bisa diungkapkan perasaanku saat itu.


" Udah lah mas, Fatimah begitu kan karena dia mencintai kamu. Bukan ingin menjatuhkan martabatmu sebagai suaminya !" ucap Isti lembut. Membuat aku pun luluh tak lagi merasa gengsi untuk mengaku salah.


" Baiklah, aku mengaku kalah dan mengaku salah. Sekarang apa yang seharusnya aku perbuat sekarang ?" tanyaku.


" Sebenarnya pertanyaan itu yang Isti dan Fatimah tunggu mas. Hanya saja kami hafal dengan sifat keras kepalamu, sehingga harus berdebat begini. Dan maksut Isti, habis mujahadah nanti kita bicarakan lebih lanjut hal itu !" jawab Isti.


" Kenapa gak bilang dari tadi ?" tanyaku.


Tiba tiba Fatimah berkata sambil tertawa.


" Bener kan Is ? Suamiku tu kalo lagi emosi jadi pelupa gitu !" ucap Fatimah.


Sementara, kulihat Isti hanya menahan tawa geli.


" Lupa apa Fatimah " tanyaku heran.


" Tadi, sehabis Fatimah ngingetin pesan ibu dan Yuyutnya Fatimah. Mas bilang gak mau ngrepotin beliau berdua. Terus Isti ngajak dibahas setelah mujahadah, tapi mas ngotot minta dibahas langsung. Eeeh akhirnya cuma jadi debat kan ?" kata Isti.


Aku jadi inget sekarang, dengan ucapanku tadi.


" He he he ya maaf, lagi bad mood tadi " kilahku.


Akhirnya kami ngibrol santai, saling mengingatkan kekurangan masing masing. Sampai akhirnya Arum dan Khotimah ikut Bergabung.


...............


...Bersambung...


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2