Isyaroh

Isyaroh
Serangan merembet ke warga dusun


__ADS_3

Baru saja, rombongan Amir keluar ruang mujahadah. Datang seseorang menggedor gedor pintu sambil teriak.


" Pak... pak Yasin, tolong....!" teriak orang yang datang itu.


Semua jadi menengok ke pintu, dan Amir mendahului buka pintu.


" Mas Amir tolong ada orang kesurupan di pos ronda." ucap seoarang warga pada Amir.


" Nunggu pak Yasin dulu ya !" jawab Amir.


" Gak usah nunggu aku Mir, kamu duluan. Nanti aku menyusul, setelah ngurus rumah dulu." kataku.


Amir pun langsung menuju post ronda diantar orang tersebut. Sebut saja namanya Hardi, yang artinya gunung.


"Awalnya gimana pak Har ?" tanya Amir sambil jalan.


" Gak tahu, tadi baru beberapa orang yang dipos ronda, tiba tiba 3 orang berteriak gak jelas. Yang dua orang lari cari bantuan Aku yang kaget terus bangun." jawab pak Hardi sambil jalan.


Mereka berdua pun jalan ke pos Ronda, yg letaknya tidak jauh dari rumahku.


Aku meminta tolong ke Fanani, untuk berbagi tugas dengan rekanya. Satu ikut denganku menangangi yg kerasukan bersama Amir. Yang lain tetap stay dirumah, jagain dari hal hal yang mungkin terjadi. Bisa jadi ini hanya jebakan seperti saat sidang siang tadi.


" Baiknya, salah satu susul Amir, lihat kondisi. Jika diperlukan aku akan kesana. Tapi jika cukup Amir aku gak usah kesana. Khawatirnya ini jebakan saja !" ucapku.


" Tapi mas, apa gak kasihan Amir dan temen temenya ?" Isti tiba tiba menyahut.


" Ini bukan gak kasihan, tapi demi kewaspadaan. Yang kita hadapi adalah orang super licik. Ingat ceritaku saat sidang tadi kan ?" jawabku pada Isti.


" Owh iya, tapi mereka udah mas bekali doa doa nya belum ?" tanya lanjut Isti.


" Udah dong, bahkan udah biasa menangani hal begituan juga kok Is !" jawabku.


" Mas ini ada chat dari ibu !" Fatimah tiba tiba menyahut.


" Apa pesan beliau ?" tanyaku.


" Mas baca sendiri gih !" kata Fatimah sambil menyerahkan Hp nya padaku.


Aku baca pelan pelan chat dari ibu mertua di Hp Fatimah.


" Assalaamu 'alaikum Fat...


Ibu dah tanya ke Yuyut, tentang yang kamu tanyakan.


Yuyut pesen buat suamimu,


Bilang ke dia, tingkatkan kewaspadaan, dan segera laksanakan tugas yang harus dia kerjakan. Cari segera penangkalnya, sebelum semua terlambat.


Lebih Fokus ke masalah ruhiyah nya, biar masalah jasadiyah di tangani kepolisian."


Begitu pesan yang dikirim ibu mertuaku. Pesan dari Yuyut, yang disampaikan melalui Fatimah istriku.


" Yaudah, kamu kontak Amir bilang aku bantu dari rumah. Dan biar Fanani yang mengawasi disana. Mas mau wirid sebentar, semua jangan keluar rumah !" kataku.


" Iya mas !" jawab Fatimah.


" Mas baca Hizip ya !" Isti mengingatkan aku.


" Iya Is, Fat tolong pegang hp aku. aku lagi gak bisa diganggu. Kalo ada yang telpun angkat dulu, bilangin aku baru gak bisa diganggu !" kataku.


Aku lantas masuk ke kamar khusu yang biasa aku gunakan untuk ritual pribadi. Baca hizip dan doa doa khusus termasuk doa tulak bala.


Kamar aku kunci dari dalam, agar tak terganggu. Lampu kamar kuhiupkan yang redup biar lebih khusuk dan tenang.


Aku mulai baca doa dimulai dengan Kalimat pujian pada Allah, shollawat Asmaul husna dilanjutkan Hizip Nashor.


Tiba tiba ditengah aku baca doa, aku merasa seperti berada di tempat lain atau di dimensi lain.


....................


Di tempat kejadian


Amir datang di pos ronda, disana sudah berkumpul banyak orang.


Sebagian ada yang memegangi orang orang yang kerasukan. Namun justru sebagian orang itu malah ikut kerasukan. Sehingga jumlah yang kerasukan menjadi semakin banyak.

__ADS_1


Amir jadi agak panik, tapi untung cepat beradaptasi. Semua yang masih sadar di bimbing doa.


" A 'udzu bikalimatillahi tammah min syari maa kholaq."


yang artinya...


"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari semua godaan makhluq "


Semua yang ada disitu membaca doa tersebut, agar tidak ikut kersukan.


Amir kemudian membaca doa doa rukyah untuk menghalau Jin jin yg merasuki itu. Menggunakan media Air putih sebagai wasilah menyadarkan orang orangtsebut.


...................


...Yasin POV...


Aku yang merasa seperti ada di dimensi lain, tiba tiba seperti melihat Amir dari kejauha.


Kulihat Amir agak kewalahan menghadapai banyak orang kesurupan itu. Aku kemudian ingat pemukul gong Simolodra itu.


Pemukul gong itu kupatar dan menimbulan dengingan seperti dinging ribuan lebah.


Orang orang yang kerasukan itu pun menjerit keras. Termasuk puluhan makhluq astral yang ada disekitar itu. Semua menjerit, seperti kesakitan mendengar desingan suara lebah itu.


Tiba tiba lisanku mengucap setengah sadar, aku mengucap.


wamaa roaita idz rommaita, wa laa Kinnallaha roma.


ucapku keras, mungki bisa didenger yang di luar kamar.


Kemudian aku ayunkan pemukul gong itu kearah orang orang yg ada di posko itu.


Terdengar seperti ribuan tawon menyerang makluk astral itu.


Terdengar jeritan dari berbagai jenis ujut penampakan, itu. Akhirnya semua tersadar dan kulihat Amir membirikan air putih yang tadi sudah dibacakan doa doa sebelumnya.


Aku tersentak kaget karena udah berada di kamar khususku tempat ritualku tadi.


Nafasku terengah, seperti habis lari jauh. Rupanya cukup menguras energi untuk memasuki dimensi lain tadi.


Aku lantas menutup ritualku dengan bacaan tahmid dan Asmaul husna dan keluar kamar.


Ibu nya Isti pun ikutan berdoa dan menitikan air mata. Sedangkan Arum tampaknya sedang menidurkan sidiq di kamarnya, karena sedang berhalangan.


Aku lihat keruang tamu dan halaman depan. Ternyata dua teman Fanani ikut menjaga rumah dengan patroli diluar rumah.


Aku kembali ke ruang mujahadah, semua sudah mengakhiri doanya. Mungkin tahu aku sudah keluar dari kamar khususuku tadi.


" Mas, kamu gak papa kok sampai keringetan begitu ?" tanya Fatimah istriku.


" Alhamdulillah gak papa, Amir belum balik kesini ?" tanyaku balik.


" Belum tuh !" jawab Fatimah dan isti bersamaan.


" Mungkin langsung pulang kerumahnya mas !" Khotimah menimpali bicara.


" hmmm iya juga, bisa jadi begitu !" sahutku. Tak lama kemudian Fanani datang.


" Gimana mas Fanany ?" tanyaku pada Fanani.


" Sudah terkondisi pak, semua sudah sadar !" jawab Fanani.


" Ok makasih mas Fanany !" ucapku.


" Tadi ada keanehan pak !" kata pak Hardi.


" Apa yang Aneh ?" tanyaku.


" Ada suara lebah, seakan membantu Amir menghalau makhluq makhluq itu. Dan jerit kesakitan dari makhluq Astral.Tapi ujut lebah itu sendiri tak nampak satu pun !"


" Udah biarin saja, yang penting semua selamat !" ucapku.


" Mas pesan Yuyut jangan lupa !" kata Fatimah mengingatkan Aku.


" Iya mas baru mikir dimana itu lokasinya, apakah harus kesana atau gimana masih nunggu nih !" jawabku.

__ADS_1


" Kita hanya bisa bantu doa mas untuk urusan itu !" seru Isti.


" Iya Is, bantuan doa kalian sangat aku butuhkan !" jawabku.


Sesaat kemudian Arum datang dan ikut bergabung.


" Maaf Arum ketiduran saat ngelonin sidiq tadi. Kayaknya ada sesuatu yg terjadi, apa ?" tanya Arum.


" Iya tadi ada yang kesurupan, tapi udah di tangani kok Rum !" jawab Fatimah.


" Tampaknya udah cukup malem nih, kita Istirahat saja. Besuk usahakan bisa bangun tahajut. Saling ingetin saja !" ucapku yang merasa cukup lelah hari ini.


" Iya deh, Khotimah mau bareng ibu apa bareng mbak Arum ?" tanya Isti ke Khotimah.


" Sama ibu boleh ya ? Mbak Isti aja yang temenin mbak Arum !" jawab Khotmah.


" Khotimah kangen ibunya ya ? Sampai segitunya." gurau Arum.


" Iya mbak, serasa sama ibu kandung saja nih !" jawab Khotimah.


" Yaudah aku masuk kamar duluan, cape banget hari ini." ucapku yangudah nahan kantuk.


" Mas duluan gih, Fatimah nanti nyusul. Masih pingin ngobrol bentar lagi." kata Fatimah.


" Iya, aku duluan ya !" ucapku sambil jalan masuk kamar.


Kudengar Arum berbisik ke Fatimah.


" Duluan gak papa Fat, kalo Arum kan baru bangun." ucap Arum.


" Bentar lagi ah, ada yg Fatimah mau omongin ke kaliyan." kata Fatimah.


" Apa kayaknya penting banget ?" tanya Isti.


" Masalah pesan dari Yuyutku !" jawab Fatimah.


" Kenapa dengan pesan Yuyut mu Fat ?" desak Isti.


" Iya Fat sapa tahu kita bisa bantu kan kita udah sepakat jadi saudara. Jadi gak perlu sungkan minta tolong Arum !" ucap Arum.


" Jadi gini, yuyut tadi pesan lewat ibu. Ibu yang kirim Chat !" kata Fatimah.


" Chat nya apa isinya ?" tanya Isti.


"Ini kaliyan baca sendiri !" ucap Fatimah sambil menyerahkan HP ke Isti.


Isti terbelalak membaca Chat tersebut, demikian juga Arum.


" Jadi, suamimu dilarang kontak fisik dengan siapapun ?" tanya Isti.


" Iya, padahal Isti tahu sendiri watak suamiku !" ucap Fatimah sambil berkaca kaca.


" Terus maksutnya bisa mengalami seperti kemarin itu apa ?" tanya Arum.


" Mas Yasin suamiku, hampir tidak tertolong kemarin.....!" ucapan Fatimah terhenti.


...............


...Bersambung...


Terimakasi *atas dukungan dari Readers semuanya.


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.*


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2