
Episode 84
Kulihat Rofiq terdiam cukup lama, semakin penasaran dengan apa yang akan aku ceritakan karena menyangkut Arum ibunya Sidiq. Sementara Rofiq tahu Sidiq anak biologisku dengan Arum, dan akan mewarnai cerita yang akan aku sampaikan.
“Jadi mau dengerin ceritanya gak bang, kalo gak siap mending gak usah saja lah.” Kataku pada Rofiq.
“ Ceritain saja, aku penasaran nih apa penyebab kamu jadi bertaubat.” Kata Rofiq.
“Yakin siap dengerin ?” tanyaku.
Rofiq hanya mengangguk dan agak ragu juga penasaran.
Agak ragu aku untuk memulai cerita masa laluku dengan Arum yang mengakibatkan aku harus opname dua kali di rumah sakit, dan yang kedua saat dihajar kerabat dan tetangganya Arum itulah aku diselamatkan sesorang dan kemudian membawaku ke pesantren hingga aku bisa sadar.
“Kamu masih ragu mau cerita padaku Zain ?” Tanya Rofiq tiba tiba, membuyarkan lamunanku.
“Gak bang, hanya bingung mau mulai dari mana.” Jawabku.
Kemudian aku menceritakan awal kedekatanku dengan Arum, yang saat itu masih duduk di bangku kelas 2 SMA.
“Awal perkenalanku dengan Arum saat kami bertemu disebuah terminal, waktu itu Arum pulang sekolah dan kondisi hujan deras. Sehingga angkutan umum yang menuju kerumahnya tidak beroperasi. Lalu aku menawarkan diri untuk mengantarkan dia pulang. Jujur waktu itu aku tulus bang, gak ada niatan apapun. Hanya gak teega Arum digodain banyak orang di terminal. Jadi untuk menyelamatkan dia,dia aku antar pulang. Dari situlah kami saling berkenalan dan bertukar no hp. Sehingga sering sms an.” Kataku mengawali cerita.
“Sesudah itu terus bagaimana ?” Tanya Rofiq gak sabaran.
“Habis itu kiami sering janjian ketemuan, saja belum ada ikatan pacaran. Karena aku tahu diri, dia gadis baik baik sementara aku, abang tahu sendiri. Baru setelah kira kira 5 bulan kami saling kenal dan sering ketemuan. Aku beranikan diri mengajak dia berpacaran.” Lanjutku.
“Arum mau kamu ajak pacaran ?” Rofiq bertanya seperti anak yang oon.
“Awalnya Arum hanya bilang gini, kita jalani saja pertemanan ini gak usah ada kata pacaran. Kalo memang jodoh kan nanti juga ada jalan. Begitu jawaban Arum waktu itu.” Kataku terhenti sambil menyalakan kembali rokok yang sudah habis kuhisap.
Disaat seperti itu jika tidak menghisap rokok mood ceritaku bisa hilang soalnya. Maka aku segera melanjutkan ceritaku tentang perjalanan hidupku saat sebelum masuk pesantren.
“Lama lama,karena kudesak agar Arum mau jadi pacarku, dia menyatakan mau tapi dengan sarat. Aku tidak boleh datang kerumahnya, karena Arum dilarang berpacaran oleh keluarganya sebelum lulus sekolah.” Aku berhenti cerita sambil menghisap rokok, agar dapat menenangkan diri dan tidak larut terbawa kenangan masa laluku dengan Arum. Karena saat ini aku sudah mempunyai istri yang sedang hamil juga Arum baru didekati Rofiq.
“Dan akibat kami sering pergi berduaan, sementara waktu itu abang tahu sendiri. Tiada hari tanpa minum alcohol, maka suatu saat Arum pun dapat kupaksa minum hingga mabuk dan akhirnya dibawah pengaruh alcohol aku dan Arum melakukan perbuatan terlarang itu.” Kataku sambil menghela nafas sebentar untuk menenangkan perasaan bersalahku waktu itu.
“Dan dari situ menjadi awal yang berkelanjutan hingga menyebabkan Arum mengandung. Dan aku dimintai tanggung jawab oleh keluarganya. Saat aku datang, begitu melihat penampilan dan statusku mereka berubah pikiran, dan memilih menghajar aku hingga aku tak sadar.” Ucapku terhenti menahan betapa perihnya masa lalu kami.
“Owh waktu itu aku hanya dengar kamu habis dihajar orang saja, gak tahu permasalahanya. Secara kita dulu memang penuh masalah, jadi wajar kalo sampai dihajar orang. Terus kemudian bagaimana ?” sela Rofiq.
“Aku menyesali apa yang telah aku lakukan, namun semuanya sudah terlambat. Untuk kembali kekomunitas kita aku sudah gak ingin, pulang kerumah juga tidak berani. Akhirnya aku hidup menggelandang sampai akhirnya ikut seorang pengepul rosok,sekedar untuk bisa makan.” Lanjutku.
“Setelah itu, kamu masih bertemu Arum tidak ?” Tanya Rofiq yang makin penasaran.
“Setelah itu aku berusaha mengumpulkan uang bang, dan setelah terkumpul sedikit uang aku beranikan diri untuk mendatangi rumah Arum. Maksutku aku mau bertanggung jawab, jika Arum melahirkan dan jika diperkenankan aku juga siap menikahi dia. Namun justru aku dihadang dan dihajar lagi tanpa ampun, jika tidak diselamatkan seorang musafir, mungkin aku sudah habis waktu itu.” Kataku.
“Siapa yang nolongin kamu ?” Tanya Rofiq.
“Orang itulah yang kemudian membawa aku kesebuah pesantren dimana Isti adik abang juga mondok di situ. Dan Isti juga tahu saat aku dibawa kesana masih dalam keadaan pincang karena tulang kaki dan tanganku patah bang.” Lanjut ceritaku.
“Jadi kamu awalnya masuk pesantren karena terpaksa, bukan keinginanmu sendiri ?” Tanya Rofiq.
“Iya bang, awalnya aku stress disana, 3 bulan pertama rasanya pingin kabur terus. Sama sekali tidak pernah terbayang hidup di pesantren yang serba dibatasi, dari soal tidur hingga soal makan. Karena aku disana langsung diawasi lurah pondok yang bernama kang Salim, yaitu orang yang menyelamatkan aku itu.” Kataku melanjutkan cerita.
“Terus kamu bertemu lagi dengan Arum kapan ?” Tanya Rofiq yang penasaran dengan hubunganku dengan Arum setelah peristiwa itu.
“Sebentar bang, aku lanjutkan ceritaku dulu. Jadi didalam pesantren itu aku sama sekali gak bisa pergi jauh. Dan saat itu aku tahunya Arum sudah keguguran dan dinikahkan dengan orang lain. Karena saat aku dihajar yang kedua kalinya. Kalimat itulah yang diucapkan oleh kerabatnya Arum. Jadi saat itu juga aku sudah tidak memikirkan Arum,karena kukira sudah menikah dengan orang lain. Jadi saat aku dipanggil guru ngajiku untuk dinikahkan dengan istriku yang sekarang ini aku langsung bersedia, tanpa proses pacaran sama sekali.” Ucapku.
“Serius kamu Zain ?” Tanya Rofiq menegaskan.
“Serius bang, karena aku sudah berniat dan bersumpah disaksikan penghuni pondok jika aku tidak akan menyakiti perempuan lagi dan tidak akan berpacaran lagi. Aku benar benar berniat merubah jalan hidupku bang.” Jawabku.
“Jadi berawal dari itu kemudian kamu bertaubat dan akhirnya sampai sekarang ini ?” kata Rofiq.
“Iya bang, sampai akhirnya aku pulang kembali kerumah ini, dan suatu ketika aku dimintai tolong seseorang untuk menangani kasus mistis di daerahnya. Tanpa kuduga, disitulah aku bertemu Arum dan dari situlah aku baru tahu jika Arum tidak keguguran dan belum menikah. Bahkan melahirkan anak yang dikandungnya, dari hubungan terlarangnya denganku, dialah Sidiq. Anak biologisku dengan Arum bang.” Kataku mengkahiri cerita.
“Owh jadi begitu, aku nanya lagi kalo bersedia menjawab sukur, gak bersedia juga gak papa gak usah jawab.” Kata rofiq.
“Tanya saja bang, kalo bisa aku jawab aku jawab nanti.” Sahutku.
“Bagaimana sikap istrimu saat tahu tentang Sidiq dan Arum adalah masa lalumu.?” Tanya Rofiq hati hati, mungkin takut menyinggung urusan rumah tanggaku.
“Biasa bang, namanya wanita pasti awalnya juga kecewa. Namun setelah aku jelaskan dan di bantu Isti adik abang. Akhirnya Fatimah istriku bisa menerima semua keadaan ini.” Jawabku pada Rofiq.
“Kamu beruntung Zain, makanya aku bilang aku iri padamu karena itu. Istrimu sungguh luar biasa sabar bisa menerima keadaan ini. Kalo gak lihat sendiri mungkin aku tidak akan percaya ini.” Ucap Rofiq yang nampaknya tulus memuji istriku.
“Oleh karena itu bang, demi Anak istriku apapun akan aku lakukan. Bahkan jika harus berkorban jiwapun tetap akan aku lakukan.” Ucapku.
__ADS_1
“Iya Zain, tapi disisi lain aku juga kagum sama Arum juga. Dia juga sangat sabar, melihat kamu bersama istrimu dan sekarang jadi satu atap dengan kalian dia bisa menjalani dengan sabar.” Kata Rofiq.
“Iya bang, aku juga tahu makanya kalo abang minat nikahin saja bang. Kapan lagi bisa bertemu wanita yang baik, dan cantik juga kan bang. Soal Sidiq biar dia jadi anakku bang, gak usah khawatir.” Kataku pada Rofiq.
“Kamu serius Ikhlas jika aku menikahi Arum Zain, aku khawatirnya kamu masih ada hati sama dia nanti.” Ucap Rofiq.
“Ikhlas bang, justru aku bersukur jika Arum dinikahi abang. Kita akan jadi saudara, seperti Fatimah dan Isti adik abang. Jika Arum abang nikahi maka, lengkap sudah tali persaudaraan kita nanti.” Kataku
“Tapi kira kira Arum mau gak denganku Zain ?” Tanya Rofiq.
“ Lah Klo soal itu abang yang bisa menilai, selama disini beberapa hari sudah sejauh mana kedekatan kalian ?” tanyaku balik.
“Aku hanya ngobrol biasa saja, belum pernah menyinggung soal itu Zain.” Kata Rofiq.
“Yaudah Tanya saja langsung orangnya bang. Langsung ajak nikah saja, gak usah lama lama.” Ucapku.
“Kamu mau membantuku gak Zain ?” Tanya Rofiq.
“Membantu apa bang ?” tanyaku balik.
“Kamu yang bilangin ke Arum, aku ragu mengatakan sendiri Zain. Jadi kalo dia nolak tu aku gak begitu malu dihadapan dia.” Ucap Rofiq.
“Aah abang nih,kayak ABG aja gitu aja takut, ditolak ya cari yang lain lah. Lagian itu hanya ketakuatan abang saja, yang sebenarnya belum tentu terjadi. Akan lebih baik jika abang yang bilang langsung. Kalo aku yang bilang jelas gak mungkin lah bang, mengingat kita dulu puya masa lalu. Bisa bisa malah Arum tersinggung dan pergi dari sini, dan itu membahayakan dia dan Sidiq bang.” Sahutku.
“Iya ya, tapi aku masih ragu Zain, aku merasa diriku sudah ajuh dari kebaikan sekarang ini.” Ucap Rofiq.
“Nah itu kesalahan abang, menurutku dosa yang pernah kita lakukan tidak perlu terlalu disesali bang. Cukup dijadikan pelajaran saja, sebagai pengingat kita ini manusia biasa yang gak mungkin lepas dari salah dan dosa. Yang penting jangan diulang lagi kesalahan yang sama, kita bukan malaikat yang tidak pernah salah. Tapi kita juga bukan Iblis yang tidak pernah benar bang. Kita manusia, ada kalanya salah tapi ada kalanya benar juga. Jadi kesalahan masa lalu cukup jadikan motivasi kita berbuat lebih baik. jangan malah memvonis diri berlebihan begitu.” Kataku memberi semangat pada Rofiq.
“ Wah kamu dah kayak Ustadz aja sekarang ngomongnya Zain.” Komentar Rofiq.
“Aaah suek lo bang, aku ngomong serius malah abang bercanda.” Gerutuku.
“Aku serius Zain, sekarang kamu beda banget sama dulu sumpah !” kata Rofiq sambil mengankat tangan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
“Biasa aja kali bang, gak usah gitu. Biar bagaimanapun kita ini sama sama pernah hidup bareng dalam dunia kelam. Hidup tanpa arah dun tujuan, kalo sekarang kita bertemu dalam suasana begini ya kita sukurin saja. Jujur kemarin sempat juga aku dendam sama abang,saat mendengar rekaman suara abang yang mau jebak aku.” Kataku sambil senyum.
“Hahaha… iya aku tahu kok, tapi siapa yang kamu jadiin mata mata waktu itu, bener si Jendul kan ?” Tanya Rofiq.
“Iya bang, makanya sekarang aku amankan, karena dia takut abang dan anak buah abang.” Kataku.
“Tapi kan sekarang beda, kenapa masih kamu sembunyiin dia ?” Tanya Rofiq.
Mendengar aku menyebut nama Gembul, tiba tiba raut wajah Rofiq mendadak berubah tegang, seakan menahan emosi yang tak terkendali.
“Tapi udah bang, gak usah emosi begitu. Pikirkan saja bagimana cara bicara dengan Arum besuk.” Ucapku menenangkan Rofiq.
Akhirnya wajah Rofiq yang tadi sangat tegang lambat laun berubah menjadi datar biasa lagi.
“Iya Zain, aku spontan jika mendengar nama Gembul jadi suka naik darah. Yang selama ini sering aku jadikan kepercayaan ternyata adalah musuh besarku yang selama ini kucari. Dan yang menyebabkan aku jadi terjerumus begini.” Kata Rofiq.
“Tenang bang, semua ada hikmahnya pasti. Fainna ma’al usri yusro. Bersama kesusahan ada kemudahan. Yang menimpa abang dulu, jika abang sabar maka akan datang nikmat yang tak terduga bang. Bukankah abang dulu juga santri kan ?” kataku pada Rofiq.
“Iya Zain, aku sudah sangat lama menjauh dari Allah Zain. Aku merasa sangat bodoh sekarang ini, karena menuruti dendam jadi gelap mata dan meningggalkan jalan yang benar.” Kata Rofiq.
“Ya itulah manusia bang, jika aku yang diposisimu pun belum tentu aku bisa berasbar. Makanya kita diperintah saling mengingatkan, bukan saling menyesatkan.” Kataku lanjut.
“Tapi omong omong, ni kamu gak nemenin istrimu Zain. Wah jadi gak enak nih ganggu waktu kamu dengan istrimu.” Kata Rofiq.
“Yah udah tanggung bang, bentar lagi subuh lanjut ngobrol aja sambil nunggu subuh.” Kataku.
“Serius gak papa nih, takutnya istrimu juga nungguin kamu nanti.” Kata Rofiq kata katanya sudah menjurus ke hal sensitive.
“Aaah gampang lah itu bang, istriku kan saat ini bebas hambatan.” Gurauku.
“Maksut kamu ?” Tanya Rofiq bingung.
“Dia kan lagi hamil gak ada liburnya bang, jadi kapanpun selalu ready.” Kataku sambil tertawa.
“Suek lo,,, bikin iri aja Zain.” Jawab Rofiq sambil cengar cengir.
“Makanya buruan nikah, dari pada nanti pingin cari LC lagi,wkakaka…!” sahutku sambil tertawa lepas. Memang begitulah dulu jika aku dan Rofiq ngobrol saling ejek dan saling menjatuhkan didepan komunitas. Namun hanya sebatas candaan sehari hari tidak pernah menjadi dendam. Sebelum aku hijrah dan sebelum adanya kasus yang sekarang ini.
“Preeet,,, gak lah Zain. Aku jarang nyari gituan.” Ucap Rofiq.
“Sok ah lo bang, macem aku gak tahu aja. Tiap karaokean abang selalu berakhir nge room kan !” candaku.
“Sembarangan aja, gak selalu juga Zain, aku selektif dulu kalo nyari,” sahut Rofiq.
__ADS_1
“ Selektif apaan, tante tante juga lo mbat bang. Abang pikir aku gak ngerti apa ” Seruku.
“Reseh ah lo Zain, waktu itu kan gue mabuk berat dan yang ada Cuma dia aja.” Sanggah Rofiq.
“Mang pernah lo gak mabuk berat bang, apalagi kalo lagi di karaokean ?” balasku.
“Dasar kampret lo Zain, bikin gue tengsin aja lo.” Kata Rofiq sambil tanganya melayang memukul lenganku. Aku biarkan saja dia memukul lenganku karena itu sebatas ungkapan kekesalan kalah dalam berargument.
Tiba tiba kami dikejutkan kedatangan Arum yang membawa dua cangkir Kopi buat aku dan Rofiq.
“Kalian ini, semalaman gak tidur malah dari tadi bercanda melulu. Nih Arum buatin kopi sekalian biar gak ngantuk sampai subuh bentar lagi.” Kata Arum datar.
Namun bagi Rofiq sangat mengejutkan, mungkin khawatir Arum dengar apa yang Rofiq bicarakan, tentang rencana Rofiq mau mengajak dia nikah tadi. Kesempatan buat ngerjain Rofiq nih, pikirku.
“Eeeh kamu dah bangun, udah dari tadi Rum, kok udah bikin kopi segala ?” tanyaku.
“Udah 20mnt an yang lalu, denger kalian berisik jadi bangun.” Jawab Arum.
“ Berarti sempat dengar pembicaraan kami tadi dong ?” kataku sambil senyum senyum. Sementara Rofiq malah semakin grogi.
“Pembicaraan tentang apa ?” Tanya Arum. Entah gak tahu beneran atau hanya pura pura gak tahu saja.
Kulihat Rofiq wajahnya semakin tegang saja, mendengar aku bertanya begitu dengan Arum.
“Pembicaraan tentang kamu.” Jawabku enteng. Membuat Rofiq melotot padaku, namun terus tertunduk karena tatapanya justru bertemu dengan tatapan mata Arum.
“Tentang Arum, bicarakan apa mang ?” Arum berkata sambil menahan senyum, mungkin dia sudah dengar melihat respon dia senyum begitu pikirku. Sekalian saja lah aku teruskan, biar sekalian tahu apa reaksi keduanya.
“Aah kamu pasti pura pura, padahal kamu sudah dengar kan ?” tanyaku.
Sementara Rofiq makin tertunduk dan salah tingkah.
“Yang mana maksutnya ?” kata Arum tak lagi mampu menahan senyumnya.
Udah lah dari pada kelamaan aku perjelas saja, toh naga naganya Arum juga bakaln menerima Rofiq, melihat gelagat dan respon dari wajahnya,pikirku.
“Itu tuh, tentang rencana bang Rofiq yang mau ngajak kamu nikah.” Kataku sambil melihat Rofiq yang mukanya sudah memerah menahan malu. Sementara Arum pun tertunduk malu, tidak langsung menjawab.
Setelah beberapa saat, barulah Arum ngomong.
“Kalo yang itu Arum gak dengar, katanya sambil kembali melangkah meninggalkan aku dan Rofiq.
“Kalo sekarang kan sudah dengar, terus bagaimana menurutmu Rum ?” tanyaku.
“Yang bersangkutan saja diam kok, mas Yasin aja Cuma bikin isu tuh.” Jawab Arum.
Rofiq yang dari tadi tertunduk tiba tiba mengangkat mukanya menatapku agak jengkel.
“Kampreet bener lo Zain, ternyata sama aja lo dari dulu gak berubah. Aku sampai keringat dingin nih.” Ucap Rofiq.
“Tapi seneng kan, sudah ada signal tuh, tinggal melanjutkabn dan segera gerak cepat aja. Jangan Cuma berani nembak LC doang.” kataku sambil tertawa.
Rofiq benar benar malu dan salah tingkah di hadapanku, mungkin juga mau marah tapi juga gak mungkin saat ini.
...bersambung...
Satu komen readers adalah seribu semangat bagi Author.
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1