Isyaroh

Isyaroh
Peran kang Salim dan Samsudin dalam misi Yasin.


__ADS_3

Namun apa yang disampaikan Eis itu justru membuat Fatimah


kaget, bahkan sedikit geram. Karena kemarin mas Yasin bilang tidak tahu jika


Arum sampai melahirkan. Tapi keguguran. Ini Eis cerita jika sudah tahu sejak di


pesantren dulu. Fatimah jadi jmeras dibohongi oleh mas Yasin. Kenapa dengan Eis


dia bisa jujur, tapi dengan Fatimah yang sudah resmi jadi istrinya harus


berbohong. Fatimah harus tanyakan ini pada mas Yasin. Atau jangan jangan sampai


saat ini pun hatinya tetap hanya untuk Eis. Api cemburu sudah mempengaruhi


Fatimah waktu itu,ingin rasanya marah marah pada mas Yasin saat itu juga,


sayangnya yang dihadapan Fatimah adalah Eis bukan mas Yasin.


Saat sedang meremung tiba tiba kudengar suara mas yasin dan


mas Samsudin di depan pintu kamar, seperti mau masuk. Kebetulan sekalian harus


Fatimah selesaikan saat ini juga, selagi ada Eis juga mas Samsudin. Apa mau


mereka sebenarnya…!!!


Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, dan mas Yasin serta mas


Samsudin masuk.


“Gak papa nih aku ikutan masuk kamar kaliyan ?” Tanya mas


Samsudin kepada mas Yasin.


“Lah kok kalian malah pada nangis begitu, ada apa ?” Tanya


suamiku tapi aku cuekin saj masih jengkel dengan apa yang di ceritakan Eis


tadi.


“Eis, udah bilang ke Fatimah belum ?” tiba tiba mas Smsudin


bertanya ke Eis.


“Udah Aa’, Eis juga sudah cerita kalo kita dah tahu hubungan


Sidiq dengan mas Yasin, baru mau nerusin cerita jika tadi kita juga sudah Tanya


pada Arum ibunya Sidiq untuk memastikan pikiran kita semalam.” Kata Eis pada


mas Samsudin.


Tanya Arum untuk memastikan ? terus yang dimaksut Eis sudah


tahu dari saat di pesantrenn tadi apa ?”


 Aku malah menjadi


buingung, dengan kalimat kalimat Eis.


“Lah kan Eis sudah tahu dari saat di pesantren kenapa tadi


masih memastikan Tanya Arum ?” kataku pada Eis.


“Iya Fatimah, Eis pernah denger dari suamimu kalo dia pernah


deket dengan gadis yang namanya Arum. Kemudian hubunganya kelewat batas, hingga


Arum mengandung. Kemudian suamimu mau tanggung jawab tapi sama keluarganya


malah diusir. Keluarganya bialng Arum keguguran, jadi tadi mastiin pertama


apakah dia Arum yang diceritakan mas yasin atu bukan. Kalo iya kok punya anak,


padahal dulu katanya keguguran. Atau mungkin sekedar namanya yang sama, itu


maksutnya.” Penjelasan Eis melegakan dan meredakan amarah dan api cemburu Fatimah.


Untung belum jadi marah marah sama mas Yasin suamiku,kataku


dalam hati.


“Owh gitu, iya gak papa Eis tergantung mas Yasin saja kalo


Fatimah sih. Kalo mas Yasin boleh Fatimah juga ijinkan.” Kataku sambil


tersenyum. Walaupun sebenarnya terwsenyum untuk kekonyolanku sendiri yang


hamper saja salah Faham dengan suamiku sendiri.


“Wah,ternyata kehadiranku disini gak di anggap nih. Nanya


gak dijawab,sementara kalo Eis yang nanya dijelaskan secara detail. Apa aku


keluar kamar saja biar gak ganggu.” Canda suamiku.


“Tuh kan Eis, suamiku pemarah dan pencembruru kan ternyata.”


Kataku menggoda suamiku.


“Ya baguslah Fat, berate suamimu cinta, kalo gak cinta mana


mungkin cemburu.” Jawab Eis.


“Tuh dengerin kata Eis, baru tahu kan kalo suamimu ini


mencintai kamu tulus ?” kata suamiku.


 “Diih mas Yasin aja


yang kegeeran, maksut Eis gak gitu juga kali mas. Mungkin maksut Eis hanya


mengatakan mas Yasin butuh diperhatiin saja.” Gurauku biar suasana agak cair.


“Wah seneng lihat kalian bisa bercanda begitu, jadi iri nih


Eis.” Canda Eis yang mulai cair dengan kondisi ini.


“Tenang aja neng, aa’ juga bisa bercanda seperti mereka.”


Sahut Samsudin.


“Gak usah gitu juga kali Aa’, wajah Aa’ yang serius kayaknya


gak pantes kalo bercanda.” Seru Eis. Membuat kami semua tertawa.


“Alhamdulillah kita semua ini saudara sejati, persaudaraan


kita tidak akan luntur apapun yang terjadi.” Kataku tulus kepada semuanya.


Tiba tiba terdengar suara Isti dari luar kamar memanggil


Fatimah.


“Fatimah, kamu lagi apa ?” Tanya Isti dari luar kamar kami.


“Masuk saja Isti, kita kumpul disini rame rame.” Jawabku.


“Masak dikamar kamu, gak sopan dong Isti nanti.” Jawab Isti.


“Gak papa Isti, kita kali ini lagi kumpul bareng bareng


kok.” Ucap Eis ikut menyahut.


Kemudian Isti juga ikut masuk ke kamar.


“Kalian ini ngapain, dari luar kedengaran tertawa ramai


banget.” Tanya Isti.


“Ini Is, Samsudin sama Eis lagi konsultasi dengan Fatimah.


Bagaimana caranya cepet punya dedek bayi.” Kataku menggoda.


“Diih mas Yasin bicaranya gitu ?” sahut Isti.


“Gak kok Is, kami Cuma mau ikut merawat Sidiq buat pancingan


biar Eis juga cepet nyusul Fatimah.” Kata Samsudin.


“Owh gitu, ya gak papa biar kalian Samsudin dan Eis juga


segera punya momongan. Seperti Fatimah dan mas Yasin.” Jawab Isti.


“Aku tulus berharap kalian cepet dapat momongan juga, biar


kebahagiaan kalian komplit.” Ucapku menimpali.


“Iya, mas Yasin kan lebih pengalaman. Sekarang aja anaknya


Hampir dua.” Goda Isti. Rupanya beberapa waktu bergaul dekat denganku membuat


isti bisa juga bercanda. Biasanya orangnya seriusnya selangit.


“Wah itu sih menghina bukan menyanjung.” Jawabku.


“jiahahaha… akhirnya kena juga kamu Yasin dikerjain sama


Isti.” Komentar mas samsudin merasa senang suamiku dikalahkna sama Isti.


“Iya tunggu saja pembalasanku nanti, akan berlipat lipat


Isti.” Jawab suamiku sambil senyum.


“Gak kok, aku kan Cuma bicara jujur saja, jangan marah


begitu. Biasanya juga kamu yang suka jahil, sekarang sedikit dijahilin gak


boleh marah lah !” balas Isti.


“Iya aku gak marah kok, kan aku tetep menang dari kamu


Isti.” Kata suamiku.


“Menang gimana maksutnya ?” Tanya Isti dengan mimic serius.


“Ya aku mampu membuat seorang Isti yang seriusnya setengah


mati sekarang bisa bercanda.” Kataku datar disambut tawa Semuanya.


Sementara Isti hanya tersenyum kecut mengakui perubahan dirinya sekarang bisa


bercanda tidak seperti biasanya yang selalu berwajah serius.


“Dasar kamu memang pembawa virus, sukanya jahil bikin orang


sebel. Untung saja istrimu orangnya Sabar kayak Fatimah, kalo isti sudah gak


betah punya suami kamu.” Jawab Isti dongkol.


“Untung juga aku dulu gak dinikahin sama kamu tapi


dinikahkan dengan Fatimah.bisa stress aku punya istri berwajah serius total


begitu. ” Jawab suamiku kembali membuat Isti jengkel.

__ADS_1


“Udah deh mas ah, mas ini kalo ngomong gak mau kalah terus.”


Sergahku yang kasihan melihat isti dijahilin suamiku.


“Gak papa Fat, ini kan ungkapan kegembiraan kita sesame


santri, sedikit gojlokan canda biasa lah.” Jawabku.


Setelah cukup lama kami semua ngobrol kami keluar kamar


untuk menemui Arum dan Sidiq.


*****


Yasin POV


“Sidiq sini gendong ayah yuk !” ajak ku pada Sidiq.


“Jangan mas, kamu kan masih ada luka, jangan gendong Sidiq


dulu.” Kata Arum.


Aku sendiri sampai lupa jika dadaku masih ada luka jahitan,


untung saja diingatkan Arum.


“Maksutku mau ajak Sidiq bicara kok Arum.” Kataku.


“Ayah, dah sembuh ya. Kemarin dada Ayah dipukul pukul paki


alat sama dokter sakit gak ?” Tanya Sidiq polos. Maksutnya saat melihat aku


diberi kejut jantung oleh dokter barang kali.


“Gak dong Sidiq, itu bukan mukul tapi mengobati. O iya Sidiq


sudah pernah jalan jalan ke kota bandung belum ?” tanyaku pada Sidiq.


“Bandung itu dimana Yah ?” Tanya dia polos.


“Bandung itu tempat Om Samsudin sama tante Eis ?” kataku.


“Belum pernah Yah.” Jawab Sidiq.


“Mau gak kalo Sidiq diajak Om Samsudin kesana ?” tanyaku.


Sidiq tampak ragu dn memandang Arum ibunya seakan minta


pertimbangan jawaban.


“Mau gak Sidiq, kok diem saja ?” Tanya Arum ibunya.


“Boleh gak mah ?” Tanya Sidiq.


“Terserah Sidiq, tapi kesananya Sidiq sendirian gak sama


mamah ya ?” kata Arum.


Sidiq tampak ragu ragu untuk menjawab.


“Sama Ayah gak ?” Tanya Sidiq lagi.


“Gak dong, kan Ayah mau punya dedek lagi harus jagain bunda


juga.” Jawab Arum.


“Sidiq takut mah, kalo sendiri.” Jawab Sidiq.


“Gak sendiri Sidiq, ka nada Om Samsudin dan tante Eis. Besuk


kalo udah disana Sidiq Om ajak jalan jalan keliling kota bandung deh !” kata


Samsudin.


“Memang kenapa om mau ajak Sidiq ?” Tanya Sidiq.


“Om pingin punya anak seperti Sidiq, biarpun hanya sebentar


om pingin ajak Sidiq tinggal dirumah Om dan tante Eis.” Jawab Samsudin.


“Sudahlah, mungkin Sidiq butuh waktu untuk berpikir. Dan


jangan bahasakan dengan om dan tante tapi baiknya suruh panggil bunda Eis dan


Abi saja.” Sahut Fatimah.


“Bagus jug aide kamu Fat, Eis setuju begitu.” Jawab Eis.


Hari itu serasa kami memulai kehidupan baru yang indah,


sampai sampai kami semua merasakan aura kebahagiaan terpancar disemua wajah


yang ada saat itu.


Tak terasa malam mulai datang dan kembali kami berkumpul


menjalankan jamaah solat maghrib dilanjutkan solat isya dan mujahadah. Kang


Salim kami persilahkan untuk memimpin sebagai kehormatan kami kepada beliau


senior kami semua.


Kang salim memimpin solat da mujahadah dengan khusyuk, dari


awal hingga akhir mujahadah suasana seperti adem hanya gangguan berupa kantuk


yang mewarnai jamaah mujahadah waktu itu. Suasana tersebut sangat mengingatkan


saat  saat kita di pesantren


bermujahadah. Kalo kebetulan Abah guru berhalangan Hadir maka kang Salim yang


Setelah selesai melaksanakan mujahadah, kang Salim membuka


pembicaraan.


“Kang  Yasin, kita


bicara sebentar didepan yuk !” ajak kang Salim padaaku.


“Ayuk kang, diruang depan atau di luar rumah ?” kataku.


“Diluar ruamh saja, ada yang mau akang tunjukan.” Kata kang


Salim.


Aku menuruti perintah kang Salim, sementara yang lain tetap


berada diruang mujahadah.


“Samsudin ikut yuk !” kang salim mengajak Samsudin juga.


Kahirnya kami bertiga keluar rumah ngobrol di teras depan


rumah awalnya, kemudian dilanjutkan menuju belakang rumah tempat aku membuat


pembibitan buah.


“Nah kang, disini ada banyak sekali pasangan tumbal ilmu


hitam kemarin. Makanya sering banget kalian diganggu.  Akang khawatir jika it uterus terusan maka


akan mengganggu kehidupan rumah tangga kamu dengan Fatimah. Karena sifat dari


tumbal itu panas dan membuat penghuni rumah jadi gampang marah.” Kata kang


Salim.


“iya kang, memang ada yang pasang biar kami tidak betah


tinggal dirumah ini.” Jawabku.


“Kenapa kamu biarin gak kamu buang saja tumbalnya ?” kata


kang Salim.


Ku tahu belum lama juga kang, Kemudian muncul masalah lain


yang lebih berat. Sehingga aku sampai lupa untuk membuang tumbal dan mengusir


mahluk astral yang pernah kutemui waktu itu.” Jawabku.


“Lain kali gak boleh begitu kang, jangan sepelekan hal


kecil. Dan harusnya kang Yasin tahu lebih awal. Kalo tahunya belum lama berarti


ada sesuatu yang gak beres pada dirimu !”  seru kang Salim.


“Maksutnya kang ?” tanyaku.


“Kamu cari tahu sendiri, sebelum ini akang ngapain saja.


Melakukan kesalahan apa sehingga bisa menjadi hijab yang cukup tebal. Hingga


menghalalngi Nur (Cahaya) dan menimbulkan kegelapan.” Jawab Kang Salim yang


jarang sekali member penjelasan secara gambling. Selalu disertai teka teki


untuk dicari sendiri jawabanya.


Persis seperti Abah guru juga yang selalu memberikan


pelajaran pada santrinya juga sebagian nasehatnya kadang harus dicerna. Dan


juga mengajarkan kepada Santri santrinya semua, agar selalu membersihkan diri


dan hati. Karena dengan bersihnya diri dan Hati akan membuka tabir / Hijab yang


menghalangi Hati untuk dapat membaca ISYAROH atau tanda tanda akan terjadinya


sesuatau.


Memang tidak mudah bahkan tidak semua santri mampu mencapai


itu, sepintar apapun dia, jika hati masih kotor maka tidaklah akan mampu


menangkap signal signal alam yang disebut Isyaroh tersebut.


Kang Salim adalah satu dari beberapa orang yang sudah


mencapai maqom tersebut, sementara Aku dan Samsudin hanya sesekali mampu


merasakan atau membaca isyaroh Alam tersebut.


“Iya kang, nanti aku coba cari !” kataku.


“Dan kamu juga Din, kamu sama halnya seperti Yasin masih


sama juga terbelenggu hatimu dalam hijab yang gelap. Kalian harus kerja sama


mallam ini gak boleh tidur didalam rumah. Yasin sudah siap kan kondisi fisik


kamu sudah gak masalah kan ?” Tanya kang Salim.


“Iya kang, Insya Allah aku kuat.” Jawabku.

__ADS_1


“Atuh berat gak tidur mah kang, apalagi semalam suntuk.”


Gerutu Samsudin yang memang dari dulu terkenal gak kuat ngatuk.


“Tenang Din, nanti kujitak tiap kamu ngantuk.” Godaku pada


Samsudin.


“Y udah kita nanti mulinya tengah malam tepat, sekarang


masuk rumah dulu.” Kata kang Salim.


“Wah bisa bisa Samsudin ketiduran di dalam rumah nanti


kang.” Kataku pada kang Salim.


“Guyur pakai air klo tidur mah ?” sahut kang Salim ikut


godain Samsudin.


“Aah padahal mujahadah tadi aja udah nguap mulu.” Gerutus


Samsudin.


Kami pun masuk kerumah dan kembali keruang mujahadah.


Kulihat masih beberapa orang disitu termasuk, Arum Rofiq Khotimaah danIsti, Eis


juga Fatimah.


“Khot bikini kopi biar yang ngantuk ini bisa melek,.” Kataku


sambil nunjuk Samsudin.


“Ah si aa’ mah, biasana ge udah bobo jam segini.” Sahut Eis


istri Samsudin.


“Owh pantes saja….?” Kataku menggantung.


“Pantes apaan Yasin ?” protes Samsudin.


“Ya Pantes udah nguap mulu dsri tadi.” Kataku bohong sambil


senyum.


“Apaan kamu senyum senyum gitu, pasti ngetawain aku ya ?”


gerutu Samsudin.


“Pantes istrimu gak hamil hamil, ya kamu tinggal tidur


mulu.” Bisikku pelan ke Samsudin.


“suuek lo aah dasar Yasin tukang reseh dari dulu gak berubah


berubah.” Samsudin ngomel gak jelas membuat yang lain bingung. Karena gak tahu


apa yang aku bisikan ke Samsudin. Aku memilih ke dapur bantu Khotimah bikin


kopi sambil nahan tawa.


“Apaan sih kalian, dari dulu kerjaanya bercanda mulu.” Tanya


Isti sementara aku sudah menjauh ke dapur.


“Tahu tuh si Yasin, kurang kerjaan banget jadi orang.”


Gerutu Samsudin.


“Apa sih A’, kok marah marah begitu. Malu ah dilihatin yang


lain ?” seru Eis.


“Biasa Eis, mang suamiku yang suka jahil, paling juga ada


rahasia yg disimpan mereka berdua, biarin saja Eis.” Fatimah Istriku kudengar


ikut nimbrung.


“Iya mang Yasin alias Zain tu dari dulu sama sekali gak


berubah soal itu.” Tiba tiba Rofiq ikut komentar.


“Mas Rofiq juga hafal kah sifat Mas Yasin ?” Tanya Isti


adiknya Rofiq.


“Ya cukup hafal lah, pernah bersama pernah sama sama hadapi


lawan dan pernah juga kami ribut berdua waktu itu.” Kata Rofiq.


“Udah bang, jangan ungkit masa laluku di depan mereka. Sama aja kasih materi


kuliah nanti ke mereka.” Kataku pada Rofiq.


Akhirnya kami ngobrol sampai hamper jam 12 malam, kemudian


mereka kusuruh istitahat, sementara aku dan Samsudin harus keluar rumah. Dan


waktu itu Fatimah minta ijin ngajak Eis nemenin dikamar.


“Iya gak papa, sekalian kasih tahu tuh biar cepet pinya


momongan caranya gimana.” Godaku yang pada saat itu sudah benar benar measa


cair gak canggung karena Eis dulu pernah deket denganku dan sebaliknya.


“Iiih mas Yasin sukanya begitu !” protes Fatimah.


“Yaudah akau sama Samsudin mau keluar rumah dulu dah


ditungguin kang Salim.” Kataku.


Aku keluar vmenyusul Samsudin dan kang Salim yang sudah


duluan, kemudian aku dan Samsudin diminta untuk duduk berhadapan dengan posisi


saling menatap. Kemudian diberikan doa khusus dan tidak boleh terpejam selama


melafadzkan doa juga harus tetap saling menatap.


Entah berapa lama kemudian aku dan Samsduin seakan saling melihat


kelebihan dan kekurangan masing masing. Bahkan aku seakan bis melihat masa lalu


udin dengan Fatimah demikian juga Samsudin melihat masa laluku dengan Eis.


Lebih dari itu kita jadi sama sama tahu posisi saat ini seperti apa hati kita


masing masing.


Tiba tiba kami seperti dalam sebuah pusaran angin, dan kami


berputar dan akhirnya terjatuh disebuah padang rumput yang luas. Sehingga kami


sama sama bingung berada dimanakah ini ? pikir kami berdua.


“Mana kang Salim Din ?” tanyaku.


“Entahlah, kita sekarang dimana juga gak tahu.” Kata


Samsudin.


Tiba tiba terdengar suara gamelan dan suara sinden


menyanyikan tembang tembang daerah.


“Apaan tu, Yasin ?” Tanya Samsudin.


“Suara gamelan jawa, dan tembang jawa.” Kataku.


“Kok suaranya kenceng sekali, ada acara apakah ?” Tanya


Samsudin.


“Gak tahu lah, Tanya aja sama yang nembang tuh atau yang


nabuh gamelan.” Kataku asal.


Tanpa kuduga, Smsudin beneran bertanya pada salah satu


penabuh gamelan.


“Ada acara apa ini pak kok pakai tarian dan tembangan jawa


gini ?”  Tanya Samsudin.


“Nekat juga ni anak, pede banget nyamperin orang langsung


nanyain begitu.” Kataku dalam heran.


Samsudin yang kelihatan pendiam begitu ternyata mempunya


keberanian diluar dugaanku, bahkan yang aku sendiripun harus berpikir ulang


melakukan begitu. Berjalan menghampiri kerumunan orang yang sedang menari dan


menabuh gamelan seperti gakbersalah. Kemudian langsung bertanya tanpa ada rasa


beban sama sekali.


Klalo aku gak bisa melakukan itu, tapi Samsudin dengan


cueknya melakukan tanpa beban begitu. Aku jadi kagum dengan sahabatku itu.


Meski kelihatan agak culun dihadapanku tapi keberanianya gak bisa diremehkan.


“Ini kan mau buat acara pernikahan kamu dan temen kamu itu


?”jawab penabuh gamelan itu.


“ Haah sapa yang mau nikah pak ? ya kit amah sudah punya


Istri semua ?” protes Samsudin.


“Gak bisa, ini temanten putrinya juga sebentar lagi dating,


kalin segera siap kesini.” Kata orang itu.kemudian aku dan samsudin di dudukkan


di dua kursi pelaminan yang berhadapan. Sesaat kemudian kulihat dua orang gadis


diiring untuk disandingkan denganku dan Samsudin.


Yang kami heran dua gadis itu adalah, Fatimah istriku dan


Eis istrinya Samsudin. Tapi Fatimah tidak kelihatan hamilnya, apakah di tutupi


biar gak kelihatan atau bagaimana ini ? aku diam terheran heran. Belum habis


heranku bertambah kaget lagi aku dan Samsudin,. Karena justru aku disandingkan


dengan Eis, sementara Samsudin disandingkan dengan Fatimah istriku. Aku


berontak tidak terima, namun seakan akan aku kehilangan kekuatanku. Demikian juga

__ADS_1


Samsudin, dia juga terkuali lemas tak berdaya.


bersambung


__ADS_2