
Namun apa yang disampaikan Eis itu justru membuat Fatimah
kaget, bahkan sedikit geram. Karena kemarin mas Yasin bilang tidak tahu jika
Arum sampai melahirkan. Tapi keguguran. Ini Eis cerita jika sudah tahu sejak di
pesantren dulu. Fatimah jadi jmeras dibohongi oleh mas Yasin. Kenapa dengan Eis
dia bisa jujur, tapi dengan Fatimah yang sudah resmi jadi istrinya harus
berbohong. Fatimah harus tanyakan ini pada mas Yasin. Atau jangan jangan sampai
saat ini pun hatinya tetap hanya untuk Eis. Api cemburu sudah mempengaruhi
Fatimah waktu itu,ingin rasanya marah marah pada mas Yasin saat itu juga,
sayangnya yang dihadapan Fatimah adalah Eis bukan mas Yasin.
Saat sedang meremung tiba tiba kudengar suara mas yasin dan
mas Samsudin di depan pintu kamar, seperti mau masuk. Kebetulan sekalian harus
Fatimah selesaikan saat ini juga, selagi ada Eis juga mas Samsudin. Apa mau
mereka sebenarnya…!!!
Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, dan mas Yasin serta mas
Samsudin masuk.
“Gak papa nih aku ikutan masuk kamar kaliyan ?” Tanya mas
Samsudin kepada mas Yasin.
“Lah kok kalian malah pada nangis begitu, ada apa ?” Tanya
suamiku tapi aku cuekin saj masih jengkel dengan apa yang di ceritakan Eis
tadi.
“Eis, udah bilang ke Fatimah belum ?” tiba tiba mas Smsudin
bertanya ke Eis.
“Udah Aa’, Eis juga sudah cerita kalo kita dah tahu hubungan
Sidiq dengan mas Yasin, baru mau nerusin cerita jika tadi kita juga sudah Tanya
pada Arum ibunya Sidiq untuk memastikan pikiran kita semalam.” Kata Eis pada
mas Samsudin.
Tanya Arum untuk memastikan ? terus yang dimaksut Eis sudah
tahu dari saat di pesantrenn tadi apa ?”
Aku malah menjadi
buingung, dengan kalimat kalimat Eis.
“Lah kan Eis sudah tahu dari saat di pesantren kenapa tadi
masih memastikan Tanya Arum ?” kataku pada Eis.
“Iya Fatimah, Eis pernah denger dari suamimu kalo dia pernah
deket dengan gadis yang namanya Arum. Kemudian hubunganya kelewat batas, hingga
Arum mengandung. Kemudian suamimu mau tanggung jawab tapi sama keluarganya
malah diusir. Keluarganya bialng Arum keguguran, jadi tadi mastiin pertama
apakah dia Arum yang diceritakan mas yasin atu bukan. Kalo iya kok punya anak,
padahal dulu katanya keguguran. Atau mungkin sekedar namanya yang sama, itu
maksutnya.” Penjelasan Eis melegakan dan meredakan amarah dan api cemburu Fatimah.
Untung belum jadi marah marah sama mas Yasin suamiku,kataku
dalam hati.
“Owh gitu, iya gak papa Eis tergantung mas Yasin saja kalo
Fatimah sih. Kalo mas Yasin boleh Fatimah juga ijinkan.” Kataku sambil
tersenyum. Walaupun sebenarnya terwsenyum untuk kekonyolanku sendiri yang
hamper saja salah Faham dengan suamiku sendiri.
“Wah,ternyata kehadiranku disini gak di anggap nih. Nanya
gak dijawab,sementara kalo Eis yang nanya dijelaskan secara detail. Apa aku
keluar kamar saja biar gak ganggu.” Canda suamiku.
“Tuh kan Eis, suamiku pemarah dan pencembruru kan ternyata.”
Kataku menggoda suamiku.
“Ya baguslah Fat, berate suamimu cinta, kalo gak cinta mana
mungkin cemburu.” Jawab Eis.
“Tuh dengerin kata Eis, baru tahu kan kalo suamimu ini
mencintai kamu tulus ?” kata suamiku.
“Diih mas Yasin aja
yang kegeeran, maksut Eis gak gitu juga kali mas. Mungkin maksut Eis hanya
mengatakan mas Yasin butuh diperhatiin saja.” Gurauku biar suasana agak cair.
“Wah seneng lihat kalian bisa bercanda begitu, jadi iri nih
Eis.” Canda Eis yang mulai cair dengan kondisi ini.
“Tenang aja neng, aa’ juga bisa bercanda seperti mereka.”
Sahut Samsudin.
“Gak usah gitu juga kali Aa’, wajah Aa’ yang serius kayaknya
gak pantes kalo bercanda.” Seru Eis. Membuat kami semua tertawa.
“Alhamdulillah kita semua ini saudara sejati, persaudaraan
kita tidak akan luntur apapun yang terjadi.” Kataku tulus kepada semuanya.
Tiba tiba terdengar suara Isti dari luar kamar memanggil
Fatimah.
“Fatimah, kamu lagi apa ?” Tanya Isti dari luar kamar kami.
“Masuk saja Isti, kita kumpul disini rame rame.” Jawabku.
“Masak dikamar kamu, gak sopan dong Isti nanti.” Jawab Isti.
“Gak papa Isti, kita kali ini lagi kumpul bareng bareng
kok.” Ucap Eis ikut menyahut.
Kemudian Isti juga ikut masuk ke kamar.
“Kalian ini ngapain, dari luar kedengaran tertawa ramai
banget.” Tanya Isti.
“Ini Is, Samsudin sama Eis lagi konsultasi dengan Fatimah.
Bagaimana caranya cepet punya dedek bayi.” Kataku menggoda.
“Diih mas Yasin bicaranya gitu ?” sahut Isti.
“Gak kok Is, kami Cuma mau ikut merawat Sidiq buat pancingan
biar Eis juga cepet nyusul Fatimah.” Kata Samsudin.
“Owh gitu, ya gak papa biar kalian Samsudin dan Eis juga
segera punya momongan. Seperti Fatimah dan mas Yasin.” Jawab Isti.
“Aku tulus berharap kalian cepet dapat momongan juga, biar
kebahagiaan kalian komplit.” Ucapku menimpali.
“Iya, mas Yasin kan lebih pengalaman. Sekarang aja anaknya
Hampir dua.” Goda Isti. Rupanya beberapa waktu bergaul dekat denganku membuat
isti bisa juga bercanda. Biasanya orangnya seriusnya selangit.
“Wah itu sih menghina bukan menyanjung.” Jawabku.
“jiahahaha… akhirnya kena juga kamu Yasin dikerjain sama
Isti.” Komentar mas samsudin merasa senang suamiku dikalahkna sama Isti.
“Iya tunggu saja pembalasanku nanti, akan berlipat lipat
Isti.” Jawab suamiku sambil senyum.
“Gak kok, aku kan Cuma bicara jujur saja, jangan marah
begitu. Biasanya juga kamu yang suka jahil, sekarang sedikit dijahilin gak
boleh marah lah !” balas Isti.
“Iya aku gak marah kok, kan aku tetep menang dari kamu
Isti.” Kata suamiku.
“Menang gimana maksutnya ?” Tanya Isti dengan mimic serius.
“Ya aku mampu membuat seorang Isti yang seriusnya setengah
mati sekarang bisa bercanda.” Kataku datar disambut tawa Semuanya.
Sementara Isti hanya tersenyum kecut mengakui perubahan dirinya sekarang bisa
bercanda tidak seperti biasanya yang selalu berwajah serius.
“Dasar kamu memang pembawa virus, sukanya jahil bikin orang
sebel. Untung saja istrimu orangnya Sabar kayak Fatimah, kalo isti sudah gak
betah punya suami kamu.” Jawab Isti dongkol.
“Untung juga aku dulu gak dinikahin sama kamu tapi
dinikahkan dengan Fatimah.bisa stress aku punya istri berwajah serius total
begitu. ” Jawab suamiku kembali membuat Isti jengkel.
__ADS_1
“Udah deh mas ah, mas ini kalo ngomong gak mau kalah terus.”
Sergahku yang kasihan melihat isti dijahilin suamiku.
“Gak papa Fat, ini kan ungkapan kegembiraan kita sesame
santri, sedikit gojlokan canda biasa lah.” Jawabku.
Setelah cukup lama kami semua ngobrol kami keluar kamar
untuk menemui Arum dan Sidiq.
*****
Yasin POV
“Sidiq sini gendong ayah yuk !” ajak ku pada Sidiq.
“Jangan mas, kamu kan masih ada luka, jangan gendong Sidiq
dulu.” Kata Arum.
Aku sendiri sampai lupa jika dadaku masih ada luka jahitan,
untung saja diingatkan Arum.
“Maksutku mau ajak Sidiq bicara kok Arum.” Kataku.
“Ayah, dah sembuh ya. Kemarin dada Ayah dipukul pukul paki
alat sama dokter sakit gak ?” Tanya Sidiq polos. Maksutnya saat melihat aku
diberi kejut jantung oleh dokter barang kali.
“Gak dong Sidiq, itu bukan mukul tapi mengobati. O iya Sidiq
sudah pernah jalan jalan ke kota bandung belum ?” tanyaku pada Sidiq.
“Bandung itu dimana Yah ?” Tanya dia polos.
“Bandung itu tempat Om Samsudin sama tante Eis ?” kataku.
“Belum pernah Yah.” Jawab Sidiq.
“Mau gak kalo Sidiq diajak Om Samsudin kesana ?” tanyaku.
Sidiq tampak ragu dn memandang Arum ibunya seakan minta
pertimbangan jawaban.
“Mau gak Sidiq, kok diem saja ?” Tanya Arum ibunya.
“Boleh gak mah ?” Tanya Sidiq.
“Terserah Sidiq, tapi kesananya Sidiq sendirian gak sama
mamah ya ?” kata Arum.
Sidiq tampak ragu ragu untuk menjawab.
“Sama Ayah gak ?” Tanya Sidiq lagi.
“Gak dong, kan Ayah mau punya dedek lagi harus jagain bunda
juga.” Jawab Arum.
“Sidiq takut mah, kalo sendiri.” Jawab Sidiq.
“Gak sendiri Sidiq, ka nada Om Samsudin dan tante Eis. Besuk
kalo udah disana Sidiq Om ajak jalan jalan keliling kota bandung deh !” kata
Samsudin.
“Memang kenapa om mau ajak Sidiq ?” Tanya Sidiq.
“Om pingin punya anak seperti Sidiq, biarpun hanya sebentar
om pingin ajak Sidiq tinggal dirumah Om dan tante Eis.” Jawab Samsudin.
“Sudahlah, mungkin Sidiq butuh waktu untuk berpikir. Dan
jangan bahasakan dengan om dan tante tapi baiknya suruh panggil bunda Eis dan
Abi saja.” Sahut Fatimah.
“Bagus jug aide kamu Fat, Eis setuju begitu.” Jawab Eis.
Hari itu serasa kami memulai kehidupan baru yang indah,
sampai sampai kami semua merasakan aura kebahagiaan terpancar disemua wajah
yang ada saat itu.
Tak terasa malam mulai datang dan kembali kami berkumpul
menjalankan jamaah solat maghrib dilanjutkan solat isya dan mujahadah. Kang
Salim kami persilahkan untuk memimpin sebagai kehormatan kami kepada beliau
senior kami semua.
Kang salim memimpin solat da mujahadah dengan khusyuk, dari
awal hingga akhir mujahadah suasana seperti adem hanya gangguan berupa kantuk
yang mewarnai jamaah mujahadah waktu itu. Suasana tersebut sangat mengingatkan
saat saat kita di pesantren
bermujahadah. Kalo kebetulan Abah guru berhalangan Hadir maka kang Salim yang
Setelah selesai melaksanakan mujahadah, kang Salim membuka
pembicaraan.
“Kang Yasin, kita
bicara sebentar didepan yuk !” ajak kang Salim padaaku.
“Ayuk kang, diruang depan atau di luar rumah ?” kataku.
“Diluar ruamh saja, ada yang mau akang tunjukan.” Kata kang
Salim.
Aku menuruti perintah kang Salim, sementara yang lain tetap
berada diruang mujahadah.
“Samsudin ikut yuk !” kang salim mengajak Samsudin juga.
Kahirnya kami bertiga keluar rumah ngobrol di teras depan
rumah awalnya, kemudian dilanjutkan menuju belakang rumah tempat aku membuat
pembibitan buah.
“Nah kang, disini ada banyak sekali pasangan tumbal ilmu
hitam kemarin. Makanya sering banget kalian diganggu. Akang khawatir jika it uterus terusan maka
akan mengganggu kehidupan rumah tangga kamu dengan Fatimah. Karena sifat dari
tumbal itu panas dan membuat penghuni rumah jadi gampang marah.” Kata kang
Salim.
“iya kang, memang ada yang pasang biar kami tidak betah
tinggal dirumah ini.” Jawabku.
“Kenapa kamu biarin gak kamu buang saja tumbalnya ?” kata
kang Salim.
Ku tahu belum lama juga kang, Kemudian muncul masalah lain
yang lebih berat. Sehingga aku sampai lupa untuk membuang tumbal dan mengusir
mahluk astral yang pernah kutemui waktu itu.” Jawabku.
“Lain kali gak boleh begitu kang, jangan sepelekan hal
kecil. Dan harusnya kang Yasin tahu lebih awal. Kalo tahunya belum lama berarti
ada sesuatu yang gak beres pada dirimu !” seru kang Salim.
“Maksutnya kang ?” tanyaku.
“Kamu cari tahu sendiri, sebelum ini akang ngapain saja.
Melakukan kesalahan apa sehingga bisa menjadi hijab yang cukup tebal. Hingga
menghalalngi Nur (Cahaya) dan menimbulkan kegelapan.” Jawab Kang Salim yang
jarang sekali member penjelasan secara gambling. Selalu disertai teka teki
untuk dicari sendiri jawabanya.
Persis seperti Abah guru juga yang selalu memberikan
pelajaran pada santrinya juga sebagian nasehatnya kadang harus dicerna. Dan
juga mengajarkan kepada Santri santrinya semua, agar selalu membersihkan diri
dan hati. Karena dengan bersihnya diri dan Hati akan membuka tabir / Hijab yang
menghalangi Hati untuk dapat membaca ISYAROH atau tanda tanda akan terjadinya
sesuatau.
Memang tidak mudah bahkan tidak semua santri mampu mencapai
itu, sepintar apapun dia, jika hati masih kotor maka tidaklah akan mampu
menangkap signal signal alam yang disebut Isyaroh tersebut.
Kang Salim adalah satu dari beberapa orang yang sudah
mencapai maqom tersebut, sementara Aku dan Samsudin hanya sesekali mampu
merasakan atau membaca isyaroh Alam tersebut.
“Iya kang, nanti aku coba cari !” kataku.
“Dan kamu juga Din, kamu sama halnya seperti Yasin masih
sama juga terbelenggu hatimu dalam hijab yang gelap. Kalian harus kerja sama
mallam ini gak boleh tidur didalam rumah. Yasin sudah siap kan kondisi fisik
kamu sudah gak masalah kan ?” Tanya kang Salim.
“Iya kang, Insya Allah aku kuat.” Jawabku.
__ADS_1
“Atuh berat gak tidur mah kang, apalagi semalam suntuk.”
Gerutu Samsudin yang memang dari dulu terkenal gak kuat ngatuk.
“Tenang Din, nanti kujitak tiap kamu ngantuk.” Godaku pada
Samsudin.
“Y udah kita nanti mulinya tengah malam tepat, sekarang
masuk rumah dulu.” Kata kang Salim.
“Wah bisa bisa Samsudin ketiduran di dalam rumah nanti
kang.” Kataku pada kang Salim.
“Guyur pakai air klo tidur mah ?” sahut kang Salim ikut
godain Samsudin.
“Aah padahal mujahadah tadi aja udah nguap mulu.” Gerutus
Samsudin.
Kami pun masuk kerumah dan kembali keruang mujahadah.
Kulihat masih beberapa orang disitu termasuk, Arum Rofiq Khotimaah danIsti, Eis
juga Fatimah.
“Khot bikini kopi biar yang ngantuk ini bisa melek,.” Kataku
sambil nunjuk Samsudin.
“Ah si aa’ mah, biasana ge udah bobo jam segini.” Sahut Eis
istri Samsudin.
“Owh pantes saja….?” Kataku menggantung.
“Pantes apaan Yasin ?” protes Samsudin.
“Ya Pantes udah nguap mulu dsri tadi.” Kataku bohong sambil
senyum.
“Apaan kamu senyum senyum gitu, pasti ngetawain aku ya ?”
gerutu Samsudin.
“Pantes istrimu gak hamil hamil, ya kamu tinggal tidur
mulu.” Bisikku pelan ke Samsudin.
“suuek lo aah dasar Yasin tukang reseh dari dulu gak berubah
berubah.” Samsudin ngomel gak jelas membuat yang lain bingung. Karena gak tahu
apa yang aku bisikan ke Samsudin. Aku memilih ke dapur bantu Khotimah bikin
kopi sambil nahan tawa.
“Apaan sih kalian, dari dulu kerjaanya bercanda mulu.” Tanya
Isti sementara aku sudah menjauh ke dapur.
“Tahu tuh si Yasin, kurang kerjaan banget jadi orang.”
Gerutu Samsudin.
“Apa sih A’, kok marah marah begitu. Malu ah dilihatin yang
lain ?” seru Eis.
“Biasa Eis, mang suamiku yang suka jahil, paling juga ada
rahasia yg disimpan mereka berdua, biarin saja Eis.” Fatimah Istriku kudengar
ikut nimbrung.
“Iya mang Yasin alias Zain tu dari dulu sama sekali gak
berubah soal itu.” Tiba tiba Rofiq ikut komentar.
“Mas Rofiq juga hafal kah sifat Mas Yasin ?” Tanya Isti
adiknya Rofiq.
“Ya cukup hafal lah, pernah bersama pernah sama sama hadapi
lawan dan pernah juga kami ribut berdua waktu itu.” Kata Rofiq.
“Udah bang, jangan ungkit masa laluku di depan mereka. Sama aja kasih materi
kuliah nanti ke mereka.” Kataku pada Rofiq.
Akhirnya kami ngobrol sampai hamper jam 12 malam, kemudian
mereka kusuruh istitahat, sementara aku dan Samsudin harus keluar rumah. Dan
waktu itu Fatimah minta ijin ngajak Eis nemenin dikamar.
“Iya gak papa, sekalian kasih tahu tuh biar cepet pinya
momongan caranya gimana.” Godaku yang pada saat itu sudah benar benar measa
cair gak canggung karena Eis dulu pernah deket denganku dan sebaliknya.
“Iiih mas Yasin sukanya begitu !” protes Fatimah.
“Yaudah akau sama Samsudin mau keluar rumah dulu dah
ditungguin kang Salim.” Kataku.
Aku keluar vmenyusul Samsudin dan kang Salim yang sudah
duluan, kemudian aku dan Samsudin diminta untuk duduk berhadapan dengan posisi
saling menatap. Kemudian diberikan doa khusus dan tidak boleh terpejam selama
melafadzkan doa juga harus tetap saling menatap.
Entah berapa lama kemudian aku dan Samsduin seakan saling melihat
kelebihan dan kekurangan masing masing. Bahkan aku seakan bis melihat masa lalu
udin dengan Fatimah demikian juga Samsudin melihat masa laluku dengan Eis.
Lebih dari itu kita jadi sama sama tahu posisi saat ini seperti apa hati kita
masing masing.
Tiba tiba kami seperti dalam sebuah pusaran angin, dan kami
berputar dan akhirnya terjatuh disebuah padang rumput yang luas. Sehingga kami
sama sama bingung berada dimanakah ini ? pikir kami berdua.
“Mana kang Salim Din ?” tanyaku.
“Entahlah, kita sekarang dimana juga gak tahu.” Kata
Samsudin.
Tiba tiba terdengar suara gamelan dan suara sinden
menyanyikan tembang tembang daerah.
“Apaan tu, Yasin ?” Tanya Samsudin.
“Suara gamelan jawa, dan tembang jawa.” Kataku.
“Kok suaranya kenceng sekali, ada acara apakah ?” Tanya
Samsudin.
“Gak tahu lah, Tanya aja sama yang nembang tuh atau yang
nabuh gamelan.” Kataku asal.
Tanpa kuduga, Smsudin beneran bertanya pada salah satu
penabuh gamelan.
“Ada acara apa ini pak kok pakai tarian dan tembangan jawa
gini ?” Tanya Samsudin.
“Nekat juga ni anak, pede banget nyamperin orang langsung
nanyain begitu.” Kataku dalam heran.
Samsudin yang kelihatan pendiam begitu ternyata mempunya
keberanian diluar dugaanku, bahkan yang aku sendiripun harus berpikir ulang
melakukan begitu. Berjalan menghampiri kerumunan orang yang sedang menari dan
menabuh gamelan seperti gakbersalah. Kemudian langsung bertanya tanpa ada rasa
beban sama sekali.
Klalo aku gak bisa melakukan itu, tapi Samsudin dengan
cueknya melakukan tanpa beban begitu. Aku jadi kagum dengan sahabatku itu.
Meski kelihatan agak culun dihadapanku tapi keberanianya gak bisa diremehkan.
“Ini kan mau buat acara pernikahan kamu dan temen kamu itu
?”jawab penabuh gamelan itu.
“ Haah sapa yang mau nikah pak ? ya kit amah sudah punya
Istri semua ?” protes Samsudin.
“Gak bisa, ini temanten putrinya juga sebentar lagi dating,
kalin segera siap kesini.” Kata orang itu.kemudian aku dan samsudin di dudukkan
di dua kursi pelaminan yang berhadapan. Sesaat kemudian kulihat dua orang gadis
diiring untuk disandingkan denganku dan Samsudin.
Yang kami heran dua gadis itu adalah, Fatimah istriku dan
Eis istrinya Samsudin. Tapi Fatimah tidak kelihatan hamilnya, apakah di tutupi
biar gak kelihatan atau bagaimana ini ? aku diam terheran heran. Belum habis
heranku bertambah kaget lagi aku dan Samsudin,. Karena justru aku disandingkan
dengan Eis, sementara Samsudin disandingkan dengan Fatimah istriku. Aku
berontak tidak terima, namun seakan akan aku kehilangan kekuatanku. Demikian juga
__ADS_1
Samsudin, dia juga terkuali lemas tak berdaya.
bersambung