Isyaroh

Isyaroh
Minta bantuan Kang Salim & Yuyut


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Assalaamu ‘alaikum pak, maaf saya mohon ijin mau bicara berdua dengan bapak jika diperkenankan.” Ucap Fanani.


Fatimah bingung urusan istrinya atau urusan Khotimah tadi dia dengar. Sementara Khotimah tidak mau menatap wajah Fanani sedangkan Fanani sendiri berusaha mencuri pandang pada Khotimah.


“Mas, kamu bicara diluar aja gih jangan diruang mujahadh ini.” bisik Fatimah yang menampakkan sedikit rasa cemas padaku.


“Ok Fan, kamu tunggu diluar atau diruang tamu. Aku selesaikan bicara dengan istriku dulu.” Jawabku pada Fanani.


Kemudian Fanani keluar, dank au melanjutkan pembicaraanke dengan Fatimah dan Khotimah.


“Intinya aku pesan pada kalian dan sampaikan pada semua saja nanti. Kalo saat ini kita semua harus berhati hati dan jangan sampai berbuat hal hal yang negative. Aku akan kembali memagari rumah ini dari nol nanti malam. Dan untuk kamu Fatimah tolong tanyakan ke Kang Salim, nanti minta bantuan sama Isti. Hubungi Eis atau Samsudin untuk disambungkan ke kang Salim.” Kataku pada Fatimah.


“Iya mas, nanti aku minta bantuan Isti saja biar dia yang bicara.” Kata Fatimah.


Aku faham maksutnya, takut jika telpon yang ngangkat Samsudin. Tapi gak papa lah itu bukti istriku setia gak mau sampai hanyut dengan masa lalunya.


“Yaudah aku temuin Fanani dulu barang kali ada hal penting yang akan dibicarakan denganku.” Kataku sambil melangkah meninggalkan Fatimah dan Khotimah diruang mujahadah.


*****


Fatimah POV


Setelah Suamiku pergi aku minta Khotimah adik sepupuku memanggil Isti untuk berunding meminta tolong kang Salim dan juga aku sendiri akan menghubungi Yuyut. Meski aku tak katakana dulu pada suamiku yang mungkin malu jika Fatimah mengusulkan minta bantuan Yuyut.


Karena Fatimah sudah hafal betul bagaimana sifat suamiku itu, semenjak kami tinggal bersama setelah menikah Fatimah sudah mempelajari semua sifatnya. Baik sifat baiknya maupun sifat buruknya yang harus Fatimah terima. Karena kami sudah disatukan dengan ikatan tali pernikahan yang suci, dan aku makin percaya jika suamiku sudah benar benar mengubur masa lalunya dulu baik dengan Eis mantan dia yang juga sahabatku maupun dengan Arum pacar masa lalunya.


Meski Fatimah dulu sempat marah dan sakit hati menerima kenyataan suamiku punya anak dari perempuan lain dan lahir diluar nikah. Seandainya waktu itu tidak disadarkan isti sahabatku, mungkin juga rumah tanggaku dengan mas Yasin sudah bubar ditengah jalan meski aku dalam keadaan hamil. Karena emosi yang kurasakan waktu itu, wanita mana yang bisa menerima kenyataan suaminya sudah punya anak dan tahu setelah menikah. Persaan yang campur aduk menjadi satu, marah, kecewa dan cemburu. Itulah yang Fatimah rasakan waktu itu.


“Ada apa Fat, kok tumben ngajak ngobrol Isti. Apa ada masalah penting ?” Tanya Isti padaku.


“Iya Is, bahkan sangat penting untuk keselamatan kita semuanya.” Jawabku pada Isti.


“Tunggu Fat, apa ini ada kaitanya dengan kejadian yang semalam menimpa Khotimah dan masku ?” Tanya isti pada Fatimah.


“Jadi kamu sudah diberi tahu juga sama suamiku Is ?” tanyaku pada isti.


“Iya, semalam setelah mas Rofiq ditemukan kami ngobrol cukup lama bertiga. Dan suamimu menyebut ada yang mengirim ilmu ‘Panggiring Sukama’ dan sudah menjelaskan seperti apa ilmu itu dan bahayanya.” Jawab Isti.


“kebetulan kalo kamu sudah denger juga, jai bisa langsung pada inti permasalahanya Is. Suamiku bilang kita harus minta bantuan atau petunjuk kepada kang Salim. Jadi Fatimah minta tolong Isti untuk menghubungi kang Salim. Sementara Fatimah mau menghubungiYuyut Fatimah juga, yang dulu sudah menolong mas Yasin saat terkena racun jerat sukma ketika di gembleng kang Salim di pondoknya.” Jawab Fatimah ke Isti.


“Boleh Fat, lalu apa yang harus Isti sampaikan ke kang Salim nanti ?” Tanya Isti pada Fatimah.

__ADS_1


“Isti bilang saja apa adanya yang intinya suamiku kesulitan menghadapi ilmu panggiring Sukma minta diberi tahu carra menghadapinya minimal. Sukur sukur kang Salim bisa hadir dan membantu kita disini. Jujur Fatimah agak khawatir karena sifat suamiku yang nekat.” Kataku pada Isti.


“Memang Fat, suamimu itu agak keras kepala sehingga sering bertindak diluar batas kemampuanya sendiri tanpa memikirkan resikonya. Masih untung diberi keselamatan sampai sekarang, artinya dia bisa selamat sampai sekarang. Tapi khawatir juga jika dia masih bersikap begitu.” Kata Isti padaku.


“Yaudah kita bagi tugas saja Is, kamu kontak kang Salim lewat Eis atau mas Samsudin dan Fatimah kontak Yuyut lewat ibu Fatimah.” Ucapku pada Isti.


“Eehhem kamu masih takut komunikasi langsung dengan Samsudin kah Fat ?” bisik Isti pada Fatimah.


“Gak gitu Is, aku mau berusaha jadi istri yang baik saja. Bukan takut tapi aku gak mau suamiku jai salah sangka nanti. Dan yang pasti menghindar itu lebih baik dari menahan, bagaimanapun Fatimah dan mas Samsudin kan punya cerita. Makanya sebisa mungkin Fatimah menghindar untuk kontak langsung, jangan sampai merusak semuanya.” Jawap Fatimah ke Isti.


“Baguslah Fat kalo begitu Isti bangga mendengarnya, juga senang melihat kalian sekarang ini begitu saling mencintai. Siapa yang kan menyangka jika tahu pernikahan tak terduga kalian dulu, bahkan kami semua sempat salah paham.” Kata Isti.


“Udah ah jangan bilang gitu terus Is, udah terkubur semua masa lalu Fatimah.” Jawabku. Meskipun Fatimah tahu maksut Isti itu ucapan tulus yang membesarkan hati Fatimah saja.


“Ok Fat maaf, aku nanti telpon Eis saja, agak siangan dikit. Jam segini mungkin masih pada sibuk, sekalian pingin tahu perkembangan Arum disana. Kan bakal jadi kakak iparku juga nanti.” Kata Isti sambil senyum menggodaku.


“Iya terserah kamu Is, tapi sekalian nanti kalo bisa ngbrol dengan Sidiq ya, Fatimah kangen juga sama anak itu.” jawabku pada Isti.


“Serius kamu Fat, kamu benar benar menyayangi Sidiq anak tirimu itu ?” Tanya Isti.


“Serius Is, aku seakan melihat masa kecil suamiku jika memandang wajah Sidiq. Fatimah bisa membayangkan jika suami Fatimah saat kecil ya seperti Sidiq itu.” jawab Fatimah pada Isti.


Jujur memang wajah Sidiq itu lebih dominan suamiku dari pada ibunya Arum. Jadi memandang wajah anak itu seperti memandang masa kecil suamiku yang masih imut, lucu banget. Mungkin karena itu juga Fatimah sayang juga sama Sidiq, meski tidak lahir dari rahim Fatimah.


“Mbak Khotimah diberi tugas apa sekarang ?” Tanya Khotimah menyela obrolan kami.


“Kamu awasin mas Yasin aja dari kejauhan jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka Khot. Biar mbak bicara sebentar dengan Isti.” Jawab Fatimah.


Kemudia Khotimah melangkah untuk melihat suamiku dari kejauhan, tidak berani mendekat karena ada Fanani disitu. Mungkin Khotimah juga masih berat untuk sama sekali menghilangkan bayangan Fanani dari ingatanya. Maklumlah Khotimah belum lama berhubungan dengan fanani tapi sudah harus terpisah karena keadaan. Tapi memang harus begitu demi kebaikan Khotimah juga, meski terasa berat tentunya.


Meskipun aku dilarang suamiku untuk cerita pada siapapun, namun naluri wanitaku tak mampu menahan untuk bercerita. Apa lagi dengan Isti sahabatku yang sudah aku kenal lama dan pernah hidup satu atap di pesantren. Akhirnya aku ceritakan juga, sesuatu yang sebenarnya adalah aib adikku dan juga aib bagiku juga. Sampai sampai Isti pun kaget mendengar ceritaku tentang Khotimah dan Fanani.


“Astaghfirrullahal ‘adzim…! Kok bisa sampai begitu ya Fat. Untung saj cepat ketahuan deh, kalo gak Isti gak bisa bayangin jika mereka masih menjalin hubungan.” Kata Isti.


“jangan keras keras Is, sebenarnya Fatimah dilarang suami untuk cerita ke siapapun. Tapi Fatimah gak bisa memendam ini sendirian,makanya cerita ke kamu Is.” Kata Fatimah kepada Isti.


“Iya iya aku faham dan aku juga faham maksut suami kamu Fat.” Isti akan simpan rahasia ini Fat.


“Makasih Is, Fatimah percaya sama Isti kok.” Kata Fatimah.


“Owh jadi benar itu penyebanya sampai pagar ghaib bis ditembus makhluk astral.” Komentar Isti.


“benar itu bagaimana maksutnya Is ?” Tanya Fatimah pada isti.


“Sebenarnya mas Rofiq semalam sudah cerita, tapi gak komplit. Mas Rofiq pernah secara tak sengaja  melihat Khotimah dan Fanani berciuman. Tapi hanya sebatas itu saja ceritanya gak sedetail yang kamu certain tadi.” Ucap Isti.


“Ya begitulah, untung gak sampai merenggut kegadisan Khotimah waktu itu, karena waktu itu Khotimah pas datang bulan. Astaghfirrullah jika sampai terjadi bagaimana nanti kelanjutanya Is. Fatimah sampai merinding kalo inget itu.” kata Fatimah.


“Ada baiknya Fat, adik kamu disuruh berjilbab minimal menjadi pengingat dirinya sendiri jika akan berbuat yang tidak baik. ingat dengan penampilanya yang berjilbab. Bukan berarti yang gak berjilbab tidak baik, karena berjilbab juga belum tentu baik. namun paling tidak sedikit mengurangi resiko.” Kata Isti.


“Udah pernah sih aku suruh, tapi jawabnya belum siap. Tapi saat ini mungkin moment yang tepat, apalagi dia akan segera dipinang Candra. Harus lebih menjaga kehormatan dirinya dari pandangan laki laki yang bukan mahromnya.” Jawab Fatimah.


“Iya bener itu, biar nanti kita bilangi bersama Fat, mungkin Khotimah mau mendengarkan. Jujur saja adik kamu itu kan cantik putih dan menarik. Wajar mengundang birahi laki laki, apa lahi fanani yang sudah beristri dan sedang pisah ranjang. Begitu lihat Khotimah pastilah timbul keinginan apa lagi Khotimah juga sudah terbuai dengan kata kata Fanani.” Komentar Isti.

__ADS_1


“Iya Is, aku juga ikut merasa bersalah karena kurang mengawasi Khotimah kemarin. Tapi untunglah semua belum terlambat, sehingga masih bisa diselamatkan.” Jawabku pada Isti.


Cukup lama Fatimah dan isti ngobrol, sampai akhirnya Isti pergi untuk menelpon Eis dan aku menelpon ibu di kamarku.


...Fatiamah POV end...


...*****...


Yasin POV


Diluar rumah Yasin sedang berhadap hadapan dengan Fanani saling bicara dengan serius.


“Kalo kamu mau berjanji sungguh sungguh menjauhi Khotimah aku akan membantumu untuk bisa rujuk dengan istrimu.” Kaata Yasin pada Fanani.


“iya pak saya berjanji, tidak akan mengganggu dan mendekati Khotimah lagi.” Jawab Fanani.


“Jujur aku kecewa kepadamu yang telah berani menjamah Khotimah adikku, sementara kamu sudah beristri **** baru pisah ranjang tapi kamu belum resmi bercerai. Dan kamu juga masih berharap balik dengan istrimu, tapi kamu malah memberikan harapan pada Khotimah. Sehingga Khotimah terbuai dengan ucapan manismu. Untung saja ada orang yang hendak melamarnya sehingga aku berusaha tahu bagaimana hubunganmu dengan Khotimah. Dan aku baru tahu jika ternyata kamu itu belum be/rcerai bahkan masih mencintai istrimu. Aku kasih tahu saja, yang namanya wanita itu memang seperti maghnet bagi laki laki. Jadi kamu harus bisa menahan diri jangan asla wanita cantik kamu dekati kamu kasih harapan palsu. Ingat jika kamu suatu saat punya anak perempuan diperlakukan begitu, atau adik perempuan kamu, kakak perempuan kamu atau bahkan ibu yang melahirkan kamu. Tentu kamu juga gak akan terima bukan.” Kataku pada Fanani.


“Maaf pak, saya mengakui saya salah. Saya tidak akan mengulanginya lagi, saya bener bener mohon maaf pak.” Ucap Fanani sambil tertunduk tak berani menatap wajahku.


“Kali ini kau maafkan, tapi aku tidak mau dengar lagi hal itu terulang. Ingat posisimu sudah beristri, mungkin juga istrimu marah bukan sekedar lihat kamu makan diwarung dengan mantan kamu. Jujur saja apakah ada hal yang lain yang lebih parah dari itu. kalo kamu masih mengharapkan bantuanku kamu harus jujur sekarang.” Pintaku pada Fanani.


“Iya pak, ada hal lain, sebenarnya istri saya saat tahu saya makan bersama diwarung tidak langsung marah. Tapi mengawasi kami dan kemudian mengikuti kami.” Jawab Fanani.


“Terus kalian pergi kemana waktu itu ?” tanyaku menegaskan.


“Kami pergi ke sebuah penginapan pak, dan begitu kami masuk istri saya langsung menghampiri kami dan melabrak kami berdua dimuka orang banyak.” Jawab Fanani.


Hampir saja aku tak sanggup mengendalikan tanganku yang sudah kuangkat mau menampar wajah Fanani.


“Mas jangan dipukul…!” terdengar suara Khotimah yang teriak mencegahku menampar Fanani.


... bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2