Isyaroh

Isyaroh
Perang Mulut dalam Sidang


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Belum sempat orang itu menjawab datang Rofiq tiba tiba, mungkin dikasih tahu Isti jika aku sedang memarahi sesorang.


“Kalo gak biar dengan saya saja pak urusanya, kalo Yasin jangan sampi lah. Dengan saya saja yang memang saat ini masih berstatus tahanan luar. Kalo mau ngajak ribut urusanya dengan saya saja.” Kata Rofiq tiba tiba. Membuat orang yang diutus itu mejadi semakin ciut nyalinya.


“Jangan bang, ini urusan pribadiku biar aku selesaikan sendiri saja. Gini saja pak, sampaikan ke Margono apa maunya dia. Kalo berani berbuat ya berani bertanggung jawab, kemarin teriak teriak gak ada yang ditakutin sekarang mau ngajak damai saja nyuruh orang lain.” Kataku pada orang itu.


“Maksutnya saya diutus untuk mengawali pak, nanti musyawarahnya tetap melibatkan pak Margono dan di ketahui pihak Kepala dusun dan para tetua kampong buat saksi.” Jawab orang itu.


“Silahkan saja pak, ditentukan tempat dan waktunya. Dari pihak Margono mau melibatkan siapa saja terserah, yang jelas saya tidak akan melibatkan siapapun. Saya mewakili keluarga korban karena ayah korban tidak bisa hadir. Dan sampaikan juga ke Margono, selama ini berapaa kali dia mukulin orang, apa yang dia cari. Kalo kemarin mukulin Rendy tanpa bukti kuat karena mau menunjukkan power dia. Saya siyap melayani, baik dengan cara apapun juga siyap. Kalo mau mencari lawan yang berani melawan sekarang sudah ketemu orang yang berani melawan. Tapi kalo hanya sekdar menggertak saja, mkatakan dia menggertak orang yang salah.” Kataku pada orang yang disuruh margono tersebut.


Aku terpaksa mengatakan semua itu karena kelakuan beberapa orang kampong sebelah itu sudah sangat keterlaluan. Jika menghadapi orang luar selalu main keroyok, meski warganya salah juga pada dibelain. Selama ini memang belum pernah bertemu lawan yang berani, sehingga merasa semua orang takut pada mereka.


Padahal kalo diurut siapa dedengkot mereka yang paling ditakuti disana, orang tersebut masih jauh dibawah Rofiq levelnya. Dan seandainya mereka tahu Rofiq di pihakku tentu saja mereka sudah ketakutan. Bahkan bisa bisa pada terkencing di celana, namun semua itu aku niatkan untuk sekedar menyadarkan arogansi mereka. Bukan untuk membuat keributan, sama sekali tidak ada niatan begitu dalam pikiranku.


“Yan anti saya sampaikan pak, soalnya saat ini semua sudah pada kumpul berharap pak Yasin mau hadir sekarang.” Jawab orang itu.


“Itulah arogansi kalian semua, jika punya keinginan memaksa tanpa melihat kebutuhan orang lain. Bilang saja kalo sekarang saya gak bisa, saya paling bisa datang nanti malam. Bilang saja begitu, kalo mau paksa harus sekarang saya juga punya hak untuk menolak paksaan mereka. Intinya kalo mau damai berembuknya nanti malam. Kalo maksa sekarang itu bukan ngajak damai tapi ngajak Ramai, silahkan pilh yang mana !” jawabku tegas pada orang itu yang sudah sangat ketakutan.


Akhirnya dia terpaksa pulang sendiri tanpa bersamaku, entah disana dia dimarahi atau tidak aku juga gak mau tahu. Memang harus dengan cara seperti itu jika menghadapi orang yang sok jago dan arogan seperti Margono c situ.


Setelah orang itu pergi, aku bicara pada Rofiq.


“Kamu gak usah ikut ikutan bang, kalo kamu muncul jelas mereka ketakutan kalo ada yang mengenalmu. Biar aku saja yang menghadapi mereka, mereka itu hanya orang orang yang besar mulut. Gak ada yang pernah figt satu lawan satu, adanya main keroyokan. Kalo ketemu orang satu lawan satu, kalo musuh gak beraani dipukuli. Tapi kalo lawan nya berani dia yang dipukuli atau atau lari. Gak pernah dalam sejarah dari mereka itu figtt secara fair play.” Kataku pada Rofiq.


“Lah tapi sesumbarnya begitu, gak ada yang ditakutin katanya. Aku sempat mencuri dengar dari obrolan Amir dan Heri tadi.” Kata Rofiq.


“Kayak gak pernah lihat orang yang suka sesumbar saja bang. Orang macam begitu kan banyak, jangan dianggap mereka itu seperti kita dulu. Kalo berani ya bilang berani, klo gak berani ya jujur bilang gak berani.” Jawabku pada Rofiq.


“Aku kan paling gak suka dengan orang macam gitu, lagian kompak amat mereka datang rombongan mukulin orang tanpa ada bukti bersalah.” Kata Rofiq masih emosi.


“Kan sudah aku bilang kalo mereka gak berani figt one by one, adanya ya keroyokan. Kalo yang datang hanya dua atau tiga orang juga mereka masih kecil nyalinya.” Kataku.


“Yaudah terserah kamu aja Zain, tapi kalo ada apa apa jangan sungkan bilang ke aku. Gatal juga nih tangan pingin gamparin orangnya.” Kata Rofiq.


“Gak akan terjadi bang, kan sudah lihat sendiri tadi baru digertak begitu saja sudah ciut nyalinya. Mana ada orang bernyali ciut  begitu, mending terluka dari pada terhina kan ?” kataku pada Rofiq.


“Iya mang, itu kalo kita dulu tapi gak tahu kalo mereka.” Jawab Rofiq.


“Ya itulah bedanya bang, kita dulu berkelahi demi susuap nasi dan sebotol wisky, kalo mereka bikin onar keroyokan sekedar mencari gengsi dan sensasi. Jadi kalo ketemu lawan yang berani pasti kabur sendiri.” Kataku sambil ngakak.


“Kok lo yakin banget begitu Zain ?” Tanya Rofiq.


“Karena aku orang Asli sini, dan hafal mereka semua. Berani hanya dikandang kalo keluar daerah mana ada yang berani. Aku hafal satu persatu mental dan karakter penduduk sana. Hanya sayangnya mereka belum pernah bikin ulah denganku selama ini. jadi belum ada yang berani melawan mereka, dipikirnya orang kampong ini gak ada yang berani. Makanya mereka berulah begitu. Dan aku juga sekedar member sedikit pelajaran saja biar mereka gak arogan bukan mau ribut beneran. Dan kau yakin mereka juga gak akan berani, sedikit banyak mereka juga tahu kok aku punya masa lalu.” Kataku.


“Ok deh, aku mau lanjut ke belakang aku mau belajar grafting juga boleh kan Zain ?” Silahkan saja bang. Aku malah senang jika bang Rofiq nanti bisa Grafting dan bisa kerja sama denganku.” Jawabku.


Rofiq pun mundur kebelakang untuk kembali belajar Grafting pada Amir dan Heri. Tapi begitu Rofiq pergi Fatimah menyusul dan langsung ngomel ke aku. Ternyata dia nguping semua pembicaraanku tadi.


“Owh jadi begitu yam as, gak inget istri lagi Hamil apa ?” gerutu istriku.


Wah ini sih, gak bisa dilawan yang begini, bisa berhari hari di cuekin kalo ditentang kalo sudah begitu.


“Gak kok, Cuma gertak saja aku masih ingat kalo punya istri lagi hamil. Aku gak akan aneh aneh apalagi ribut sama orang kampong sebelah itu. Hanya sekedar memberi pelajaran saja,biar mereka gak akan Arogan.” Kataku.


“ Gak usah lah mas, macam gak ada yang diurusin saja. Asal mereka udah ngaku salah udah biarin saja gak usah ngomng kayak yang tadi. Takutnya malah jadi nambah urusan, ingat baru kemarin mas kamu kena musibah tertembak. Masih belum jera juga, apa masih mau mengikuti emosimu. Padahal kamu sudah dipesan yuyut juga kayak gitu, dan berapa kali kamu terluka membuat khawatir semua orang. Masih belum merasa juga apa ?” omelan Fatimah seperti gak mau berhenti, salahku juga tadi gak lihat kalo Fatimah nguping. Jadi ngomongnya ngelantur kemana mana, jadinya kena omelan istri begini deh.


“Iya, kau juga mau damai saja kok. Cuma gak sekarang kan mau nelpon istrinya Fanani juga. Cuma ditunda nanti malam apa salahnya.” Jawabku.


“Bukan masalah ditundanya, tapi mas tadi bilangnya kalo ngajak damai nanti malam kalo maksa sekarang namanya ngajak ramai silahkan pilih. Terus kalo mereka beneran maksa dan ngajak ramai gimana ?” protes Fatimah.


“Gak bakaln itu terjadi, mask an hafal betul siapa mereka.” Kataku.


“Gak, ini kalo misalnya mereka ngajak ramai beneran terus gimana ?” desak Fatimah.


“Kan ada polisi yang jaga disini, serahkan ke Fanani dan lainya saja.” Kataku asal.


“Terserah kamu lah mas, kalo mas masih mau ribut berarti kamu gak pingin lihat Fatimah dan anak kita bisa tenang.” Kata Fatimah sambil ngambek dan pergi.


Lah kok jadi beneran ngambeknya ya, wah ini yang paling aku takutin menghadapi istri yang baru hamil uring uringan gini.


Aku terpaksa menyusul Fatimah ke kamar, untuk membujuknya agar tidak marah lagi.


“Udahlah, aku janji gak aka nada kekerasan dengan orang orang kampong sebelah itu.” kataku.


“Mas tu jangan begitu terus lah, gak mikirin Fatimah yang sangat khawatir waktu mas tertembak kemarin bahkan semuanya khawatir. Sampai Sidiq anakmu juga menangis begitu, kamu gak ngerti mas. Fatimah yang lihat itu semua, jadi Fatimah yang harus merasakan sedihnya.” Kata Fatimah sambil menangis.


“Yaudah aku minta maaf, nanti malam aku akan ajak Rofiq dan Fanani untuk musyawarah damai dengan mereka.” Kataku mengalah pada istri. Biarinlah mau dikatakan pengecut juga demi istri biar tenang.


“Beneran gak akan kesana sendirian ?” Tanya Fatimah istriku meyakinkan.


“Iya demi kamu aku turuti semua keinginanmu sekarang, tapi gak usah ngambek begitu dong. Mas kan jadi sedih kalo kamu ngambek begitu sayang.” Kataku sedikit merayu.


“Bodo, mulai ngegombal.” Kata Fatimah sambil melempar bantal padaku. Kemudian malah berbaring miring membelakangi aku yang berdiri menghadapnya.


Tapi kulihat dia seperti menahan tawa, kemudian aku kepikiran untuk gentian menggodanya.


‘yaudah kalo kamu marah mending aku samperin sekarang mereka biar ribut sekalian sekarang juga.” Kataku pura pura melangkah keluar kamar.


“Jangan mas, Fatimah gak marah kok Cuma sebel dikit saja.” Kata Fatimah khawatir beneran.


Aku berbalik sambil tersenyum.


“Nah gitu dong sayang gak usah suka ngambek kenapa ?” kataku sambil mendekati Fatimah istriku. Dan ikut berbaring disampingnya, barang kali bisa tidur sejenak sampai dhuhur nanti pikirku.


“Mas mau tiduran apa mau tidur beneran ?” Tanya Fatimah dengan intonasi yang sudah seperti biasa saat tak ngambek.


“Mau istirahat sebentar, sampai dhuhur nanti terus mau telpon istrinya Fanani. Sambil mencari kata kata yang tepat agar istri Fanani mau diajak mediasi. Kan Khotimah juga aman kalo Fanani rujuk  kembali.” Kataku.


“Nah mendingan juga mikirin yang begitu bukan ngurusin keributan melulu.” Jawab Fatimah.


“Iya, aku ngaku salah udah aku mo istirahat bangunin nanti dhuhur ya say ?!?” pintaku pada Fatimah.

__ADS_1


Aku memilih diam tidak menanggapi ocehan Fatimah, dari pada ramai merusak keharmonisan rumah tangga kami. Meskipun nanti aku mengajak Fanani pun hanya aku minta untuk mengantarkan saja. Soal berembuk biar aku sendiri saja, pikirku.


Yang penting Fatimah tidak khawatir tapi memberi pelajaran dan menyadarkan orang orang tersebut tetap terlaksana, kataku dalam hati.


Aku akhirnya tertidur tak lagi jelas mendengarkan apa saja kata Fatimah. Sampai akhirnya aku dibangunkan saat mau solat dhuhur. Setelah sholat dhuhur aku kemudian menghubungi istri Fanani lewat telpon.


“Assalaamu’alaikum, maaf dengan siapa ya saya bicara ?” sapa Winda istri Fanani.


Mendengar suara dan bahasanya, sepertinya Winda cukup kooperatif. Gak sesulit cerita Fanani pikirku.


“Wa’alikummussalaam, saya Yasin  bu WInda mau menindak lanjuti gugatan cerai ibu Winda terhadap suami ibu Fanani.” Jawabku.


“Menindak lanjuti bagaimana ya pak, apakah bapak dari pengadilan agama ?” Tanya Winda.


“Begini bu Winda, dalam proses perceraian ka nada proses mediasi. Nah saya yang ditunjuk untuk melakukan mediasi tersebut. Dan saya mau waktu kapan kita bisa melakukan proses mediasi tersebut. Agar perkara ini segera selesai dengan baik dan mendapatkan kepastian Hukum.” Jawabku berdiplomasi.


“Owh begitu, kalo begitu saya harus Tanya keuarga saya dulu pak. Mungkin nanti sore saya akan kabari ke no bapak. Dan saat ini saya hanya mau berkomunikasi dengan bapak, tidak mau berkomunikasi dengan Fanani yang sekarang masih berstatus suami saya itu.” jawab Winda. Rupanya memang Winda beneran belum mau berkomunikasi secara langsung terhadap Fanani.


Mungkin juga Winda masih memendam rasa sakit hati, entah karena apa. Itu yang mungkin harus aku cari sebabnya nanti, pikirku.


“Baik buk, sekalian nati ditanyakan apakah dalam proses mediasi perlu menghadirkan ibu dan suami ibu atau cukup perwakilan keluarga dulu. Sekiranya suasana hati ibu sudah tenang mungkin perlu sekaligus ibu dan suami ibu hadir biar cepat selesai. Namun jika belum siap cukup perwakilan keluarga dulu.” Jawabku pada Winda.


“Iya pak, kalo saya pribadi siap untuk hadir dan pingin segera ada kejelasana putusan hukumnya.” Jawab Winda.


“Boleh bu, nanti saya usahakan suami ibu juga bisa ikut hadir, agar masalahnya cepat selesai dengan lancer dan baik bagi semuanya. Barang kali ada yang mau ibu tanyakan terkait proses mediasi ini bu ?” tanyaku pada Winda.


“Sementara mungkin cukup itu saja pak. Nanti jika ada pertanyaan akan saya hubungi lagi. Dan untuk waktu mediasi nanti saya kabari setelah saya berunding dengan keluarga saya pak.” Jawab Winda.


“Baiklah bu Winda, saya tunggu kabarnya nanti semoga semuanya lancer. Terimakasih assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuhu.” Kataku mengakhiri telpon dengan Winda istri Fanani.


Setelah itu aku menyampaikan kepada Fanani terkait hasil pembicaraan dengan Winda istrinya. Fanani hanya diam dan mengangguk.


“Nanti saat mediasi kamu jangan berbicara dengan nada tinggi agar maslah ini cepat selesai dan kalian bisa kembali rujuk. Akuilah kesalahanmu dan berjanjilah untukk tidak mengulanginya lagi. Tunjukkan keseriusan kamu untuk berubah menjadi lebih baik, agar Winda istrimu bisa kembali luluh kepadamu.” Kataku pada fanani.


“Iya pak, saya akan coba tenang nanti.” Jawab Fanani.


“Baiklah kamu siap siap saja mulai sekarang, kamu tata hati kamu jangan sampai saat mediasi nanti kamu justru tampak emosi. Bahkan jika Winda istrimu marahpun kamu harus tetap sabar, agar emosinya tidak semakin naik. Kalo kamu masih mau kembali kepada istrimu, dari kalimatnya saat bicara istrimu kurasa cukup baik dan kooperatif. Jadi sekarang kuncinya ada dikamu, apakah masih mau menuruti ego kamu atau mau mengalah sedikit pada istri kamu.” Kataku pada Fanani.


Fanani tampak memahami apa yang aku maksutkan, dan dia juga Nampak sangat berharap istrinya masih mau kembali kepadanya.


“Iya pak, saya akan mendengarkan dan mmengikuti nasehat bapak, dan tolong nanti ikut bujuk istri saya agar mau kembali rujuk kepada saya.” Kata Fanani.


“Pastilah, nanti pasti kau bantu memang itu gunanya mediasi, dan aku juga minta tolong sama kamu agar jangan terpancing emosi. O iya nanti malam kamu anterin aku untuk berembuk dengan keluarga Margono yang menganiaya Rendy. Agar masalah Rendy juga cepat selesai.” Kataku.


Fatimah mendengar apa yang aku sampaikan ke fanani dia Nampak puas, karena merasa keinginanya aku penuhi. Tanpa mengetahui rencana asliku yang hanya akan meminta Fanani mengantar bukan ikut berembuk dengan mereka.


“Nah gitu dong mas, biar Fatimah gak khawatir nanti.” Kata Fatimah istriku.


“Iya, aku penuhi permintaan kamu berangkat kesana gak sendirian.” Kataku pada Fatimah.


“Terimakasih mas, mau dengerin permintaan Fatimah.” Jawab Fatimah.


Aku hanya membalas dengan senyuman saja, agar Fatimah merasa puas tidak khawatir yang berlebihan.


Usai makan siang bersama aku kembali ngobrol dengan Rofiq di ruang tamu sambil ngopi. Kali ini ditemani Isti adiknya Rofiq. Membicarakan Arum yang saat ini masih berada dipondok kang Salim.


“Gimana ya Arum disana, tahu leknya meninggal tentunya sedih banget.” Ucap Isti membuka obrolan.


“Kira kira sampai kapan Zain Arum tinggal disana ?” Tanya Rofiq.


“Gak tahulah kalo itu, tentunya samapi masalah ini selesai tuntas. Kalo udah gak sabar susul aja bang ajak bapaknya Arum kesana kemudian nikah disana !” kataku menggoda Rofiq.


“Bukan itu Zain, maksutku biar aku bisa resmi melamar dulu kalo dia sudah pulang kesini.” Jawab Rofiq.


“Udah tenang saja, besuk bisa diatur melamar sekalian nikah Ijab Qobul sekalian. Biar nanti pengurusan surat nikahnya menyusul, kan bisa jika ada pengantar sudah terjai pernikahan yang dikeluarkan oleh Yayasan Pomdok Pesantren. Jadi nanti di KUA tinggal mencatat bahwa sudah terjadi proses pernikahan, untuk mendapat surat Nikah.” Kataku pada Rofiq.


“Memang bisa begitu ?” Tanya Rofiq.


“Bisa lah, yang penting ada surat dari yayasan pondok pesantren yang menyatakan bang Rofiq dan Arum sudah dinikahkan, ditanda tangani wali nikah, saksi saksi mempelai berdua dan yang menikahkan.” Jawabku.


“Apa tidak rawan pemalsuan kalo begitu ?” Tanya Rofiq.


“Kalo soal pemalsuan sih buku nikah aja bisa dipalsu bang. Kita kan gak berniat memalsu dan tidak memalsu memang bener bener melaksanakan akad nikah secara sah Agama, kemudian mencari pengesahan secara hokum Negara dengan mencatatkan ke KUA sebagai institusi resmi pemerintah. Sedangkan dari pondok pesantren itu mengeluarkan surat sebagai bukti telah terjadinya proses akad Nikah.” Jawabku.


“Mang siapa yang mau menikahkan nanti ?” Tanya Isti.


“Gampang itu Is, kita minta tolong ke pondok pesantren yang mempunyai legalitas Formal. Kita datang kesana dan kita nikahkan disana biar mendapat surat keterangan itu. aku kenal dengan beberapa pondok pesantren yang biasa melaksnakan akad nikah, tentu saja resmi dan sah secara hokum agama. Dan bisa mengeluarkan surat keterangan resmi juga untuk mengurus surat Nikah.” Jawabku pada Isti.


“Seperti saat kamu nikah dengan fatimah dulu juga begitu ya mas ?” Tanya Isti.


“Iya, dan aku juga tahunya dari situ. Saya kira dulu harus ijab qobul lagi yang dilakukan oleh pihak KUA. Tapi ternyata cukup menyerahkan surat keterangan sduah Nikah dari pondok. Dan pihak KUA tinggal mencatat tanggal pernikahan dan lain lainya.” Jawabku.


“Owh pantes kamu bisa faham begitu, ternyata kamu dulu juga begitu Zain ?” Tanya Rofiq.


“Mas Rofiq kok panggilnya Zain terus sih ?” kata Isti.


“Aku gak biasa panggil Yasin jadi canggung kalo panggil Yasin, dan nama Zain kan aku salah satu yang mengusulkan ama itu dulu, boleh dibilang nama itu pemberianku.” Kata Rofiq.


“Udah gak usah ribut bicarain masa lalukenapa sih bang ? bikin sebel aja abang nih ?” kataku pada rofiq.


Beberapa saat kemudian ditengah kami mengobrol datang lagi utusan warga kampungnya margono tadi. Dengan membawa surat undangan yang intinya mengajak musyawarah terkauiit kasus yang menimpa Rendy.


“Assalaamu’alaikum pak, mohonmaaf ini saya diutus memberikan undangan untuk musyawarah nanti malam.” Kata orang itu.


“Owh ya pak, makasih sampaikan saja nanti saya akan datang.” Kataku pada orang itu.


Orang itupun segera pamitmeninggakan kami, aku kemudian membaca undangan tersebut.


 


 


Paguyuban Rukun Warga dusun XXXXX Desa XXXXX Kecamatan XXXXX xxxxx xxxxx


No : xx/33/yyy/12


Lampiran


Hal       : Undangan


Kepada


Yth Bpk Ahmad sidiq / Yasin

__ADS_1


Di dusun yyyyyyy


...UNDANGAN ...


Assalaamu’alaikum warohmattullahi wabarokatuhu.


Kami pengurus Rukun Warga Dusun xxxx menyesalkan adanya pengrusakan kebun milik warga kami, yang mengakibatkan kesalah pahaman dan terjadinya insiden yang menimpa saudara Rendy. Dan untuk menyelesaikan masalah tersebut kami mengharap kehadiran bapak/ibu saudar pada :


o   Hari                : Kamis


o   Tanggal         : xx/xx/xx


o   Tempat           : Bali dusun xxxx


o   Jam                 : 20.00 s/d selesai


 


 mengingat pentingnya Acara tersebut, kami harap kehadiran bapak/ibu/sdr sesuai jam undangan yang kami sampaikan. Agar acara dapat berjalan lancar dan selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan.


Demikian undangan yang kami sampaikan atas perhatian dan kejadiranya kami ucapkan banyak terimakasih.


Yogyakarta, xxx/xxx/20xx


Mengetahui                                                                                      Sekretaris  Rukun Warga


 


 


Rukun Warga                                                                                               xxxxxxxxxxxx


 


Begitulah undangan yang aku terima dari Warga kampong sebelah tersebut, aku letakkan kembali undangan tersebut diatas meja. Yang penting sudah tahu jam dan lokasi tempatnya saja,pikirku.


“Kamu jadi datang kesana nanti mas ?” Tanya Isti.


Jadilah Is, biar masalah cepat selesai.” Kataku.


“Aku ikut gak Zain ?” Tanya Rofiq.


“Gak usah, malah bikin takut mereka kalo kamu ikut.” Kataku sambil bercanda.


“Sialan lo, kamu pikir aku hantubikin takut ?” jawab Rofiq.


“Bukan gitu, sebagian orang sana sudah ada yang kenal kamu dan tahu gimana kamu bang. Malah dikira aku akan bikin onar kalo datang denganmu. Aku nanti dianterin Fanani saja.” Kataku.


“Sukurlah, yang penting jangan sendirian mas, kasihan Fatimah khawatir nanti.” Kata Isti.


“Iya, aku juga tahu.” Jawabku pada Isti.


Setelah hampir tiba waktunya, setelah solat Isya aku bilang kalo mala mini aku mau ke kampong sebelah. Mujahadah biar dipimpin kakanya isti Rofiq, aku dan Fanani akan berangkat ke kampong sebelah.


Dengan agak terpksa Rofiq mau pimpin mujahadah,setelah aku memberikan catatan padanya. Sebagai orang yang sudah pernah belajar dipesantren juga tentu mudah bagi Rofiq untuk menyesuaikan diri, batinku.


Kemudian aku segera berangkat dengan diantar Fanani, sesampai dilokasi aku bilang sama fanani.


“Kamu gak usah ikut masuk, biar aku saja yang masuk. Kalo gak terjaadi keributan kamu diluar saja, gak usah ikut masuk.” Kataku.


“Iya pak.” Jawab Fanani singkat.


Aku langsung masuk kedalam balai Dusun tersebut, menyalami orang orang yang sudah lebih dahulu hadir disitu. Sambil sedikit beramah tamah dengan beberapa orang yang sudah kenal baik denganku.


Dan acarapun segera dimulai, dengan diawali dengan prolog dan basa basi seperti biasa. Dan akhirnya sampailah paa pokok pembicaraan utama sesuai undangan yang diberikn padaku. Dan aku langsung diminta untuk memberikan tanggapan atas peristiwa yang menimpa Rendy ponakanku.


“Assalaamu’alaikum warohmatulaahi wabarokatuhu…” aku memulai dengan salam dan prolog standart orang bicara dalam forum. Sampai pada pokok pembicaraan tenyang pandanganku terhadap kasus yang menimpa Rendy.


“Jadi yang saya sayangkan dari tindakan keluarga pak Margono adalah, sikap urakan. Apa lagi disitu juga ada beberapa orang yang sudah sepuh, yang seharusnya bisa menenangkan anak anak muda agar tidak berbuat brutal. Dan pak Margono sendiri juga sudah sepuh, tapi malah ikutan memukuli padahal belum ada bukti yang kuat. Itu adalah tindakan yang saya sesalkan.” Kataku mengakhir pembicaraan, meski beberpa kali di interupsi namun tetua kampong tersebut tetap mempersilahkan aku menyelesaikan bicara dulu. Suasana memang cukup gaduh saat itu.


“Siapa orangnya yang tidak marah mas, kalo melihat kebun miliknya dirusak orang. Mungkin jenengan juga akan marah jika hal itu menimpa kebun jenengan ?” protes Margono menanggapi perkataanku.


“Ya kalo pak Margono bilang begitu, berarti masih menuduh ponakan saya yang melakukanya. Kalo begitu namanya anda bukan ngajak damai, biar kasus ini ditangani yang berwajib saja. Kalo terbukti pak Margono yang benar biar ponakan saya yang dipenjara. Tapi kalo tidak terbukti atau bukti menunjukkan ponakan saya tidak bersalah ya pak Margono dan anaknya silahkan menikmati tinggal di penjara nanti.” Kataku santai meski menahan amarah tinggi.


“Wah ya jangan begitu mas, kok malah mendoakan saya masuk penjara.” Kata Margono.


“Bukan saya mendoakan, tapi itu resiko dari tindakan kamu sebagai orang tua yang kekanak kanakan. Bukanya menasehati anaknya agar tidak main pukul malah member contoh yang tidak baik.” jawabku.


“Ya waktu itu kita kan lagi emosi, jadi memang kurang control mas.” Kata Margono.


“Yang bisa emosi itu bukan Cuma Pak Margono pak, saya jauh lebih bisa emosi. Kalo kemarin pak Margono bilang gak takut sama siapapun. Saya lebih tidak takut lagi pak, semua pasti tahu kan siapa saya dimasa lalu ? Klo sekarang saya diam bukan berarti takut. Saya baru berusaha menjadi orang yang sabar, tapi kalo ada yang mengajak dan memaksa saya menggunakan cara cara lama saya dulu, terpaksa saya ladenin. Silahkan pak Margono yang kemarin koar koar gak ada yang ditakutin sekarang maunya bagaimana ?” kataku yang sudah tidak mampu lagi menahan emosiku mendengar jawaban Margono yang seenaknya sendiri bicara.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2