Isyaroh

Isyaroh
Kembali dipukuli Kakaknya Arum


__ADS_3

Tiba tiba pak Yadi mendekati aku dan berbisik.


“Pak sebaiknya bapak menyingkir ini orang tua dan keluarga Arum mau menjenguk pak Sastro. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Aku terkesiap mendengar itu. Dari mana juga mereka tahu jika pak Sastro kena musibah apakah mereka juga tahu jika Arum sekarang aku ungsikan. Menghindari hal yang tiak diinginkan aku segera menyingkir dari tempt itu. Mencari jalan lain agar tidak berpapasan dengan mereka. Agak bingung juga sebab jalan keluar masuk agaknya hanya satu arah saja. Bagaimana jika nanti berpapasan mereka ????


Gak ada jalan lain tetap harus berpapasan, gak papalah aku akan menunduk saja biar Nampak jelas wajahku


Hatiku berdebar saat kulihat dari kejauhan bapak dan kakaknya Arum yang berjalan berlawanan arah denganku.


Semoga saja mereka tidak memandangku atau mengenaliku, kataku dalam hati.


Jarak semakin dekat aku semakin menunduk, aku agak memaliangkan wajah agar tidak dikenali oleh mereka berdua.


Biar bagaiamanapun aku tidak mau ada keributan apalagi harus kontak fisik dengan keluarga Arum. Sebisa mungkin aku harus menghindari itu. Sempat kudengar percakapan mereka yang membuat aku semakin merinding.


“ Lek kamu itu lo Candra, selama ini selalu melindungi Arum kok Arum disembunyiin mantan pacarnya yang begajulan begitu diam saja.” Kata bapaknya Arum pada Candra kakaknya Arum.


“Udah kalo ketemu sekali lagi gak usah dikasih ampun saja pak. Itu sama saja merendahkan martabat keluarga kita. Arum juga sih, dah tahu dia sekarang juga sudah punya wanita lain yang sedang hamil juga masih mau aja di ajak.” Geruru Candra.


Entah setelah itu percakapan apa lagi yang mereka bincangkan, karena aku bisa menghindari tatapan mata dengan mereka saja sudah untung banget, pikirku. Meski ternyata itu belum berakhir, ternyata mereka tidak hanya berdua tapi diluar rumah sakit banyak sekali teman teman Candra satu kampong yang dulu ikut menghajar aku.


Aku cukup mengenali beberapa wajah mereka yang dulu begitu bernafsu menghajar aku pada saat kedatanganku yg kedua ke rumah Arum. Beberapa orang sempat terlibat adu mulut denganku, sehingga cukup untuk mengenali wajah mereka. Yah peristiwa kurang lebih dua tahunan yang lalu, belumlah begitu lama untuk melupakan wajah wajah mereka.


Akan tetapi bagi mereka justru akan lebih mengenali wajahku, yang waktu itu mereka lebih lama memandangi wajahku penuh amarah. Sampai aku sudah terkaparpun mereka masih meandangi dan menghajar aku. Wah jelas ini berbahaya buatku.


Langkahku terhenti, mau mencari tempat sembunyi juga susah. Mau keluar jelas gak mungkin, karena mereka tepat didepan pintu masuk keluar itu.


Yaa Allah, apakah harus terulang lagi peristiwa seperti dulu, batinku. Dalam keraguan dan kekhawatiranku aku berhenti dengan membelkangi pintu masuk itu. Namun mengawaasi mereka dari pantulan kaca jendela sebuah ruangan kamar.


Agak lama aku berhenti disitu, takutnya pasien atau keluarga pasien melihat dan mencurigai aku. Tapi mau kemana lagi aku sembunyi, keluar gak mungkin. Kembali masuk ketemu kakak dan bapaknya Arum. Disitu terus mengundang kecurigaan orang. Tak terasa keringat dinginku pun keluar, aku benar benar panik tak tahu harus bagaimana.


Kalo saja pasien yang didalam itu aku mengenal mungkin aku akan masuk dan pura pura menjenguk. Sekedar menghindari mereka, namun jika tidak kenal bagaimana. Tidak ada jalan keluar lagi nih, pikirku.


Tiba tiba dari pantulan kaca jendela itu kulihat teman teman Candra bergerak menjauhi pintu.


Haaaahhh aku bisa bernafas agak lega, aku berbalik hendak keluar dari rumah sakit itu. Pelan pelan aku melangkah sambil mengawasi kemana perginya teman teman Candra itu.


Saat sudah diluar pintu, aku makin terkejut karena melihat teman teman candra yang tadi di depan pintu sedang berkumpul di tempat parker dan jumlah mereka ternyata mencapi sekitar 25 orang.


Wah kalo ketahuan salah satu dari mereka bisa mampus disini aku nih, kataku dalam hati sambil berbelok arah menjauhi tempat parker itu. Namun justru aku menuju kesebuah tempat yang tidak ada jalan keluarnya. Waduh mau ngapain nih disini, gak ada jalan tembus dan mau balik sangat mungkin dilihat mereka yang dalam jumlah banyak orang. Aku duduk sebentar menenangkan diri disitu.


“Mas, kalo mau nongkrong jangan disini. Ini tempat pemusnahan sampah medis berbahaya.” Tegur seorang tenaga kebersihan rumah sakit.


“Owh iya maaf, saya hanya sebentar saja kok. Baru cari ketenangan, saudara saya baru kritis di dalam jadi saya cari tempat sepi buat menenangkan diri.” Kataku beralasan.


“Cari tempat yang aman saja mas, disini bahaya bukan tidak boleh.” Katanya.


Mau gak mau aku harus menyingkir dari tempat itu. Bingung hendak melangkah kemana aku, rasanya semua tempat kali ini merupakan tempat berbahaya bagiku.


Masuk ke kantin depan yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan tempat parker itu meski tidak jauh juga. Tapi itu adalah tempat ter aman yang ada saat ini, aku melangkah hati hati menghindari tatapan mata dengan salah satu teman Candra tersebut.


Akhirnya aku berhasil masuk ke kantin itu, tanpa diktahui oleh salah seorang dari mereka.


Aku segera memesan Kopi, untuk menenangkan diri setelah cukup tegang menghindari pertemuan dengnan orang orang itu.


Aku juga menghubungi pak Yadi menceritakan posisiku yang terpojok dikantin saat ini karena banyak tetangga Arum yang dulu ikut menghajar aku. Dan aku sedang menghindar bertemu mereka, agar tidak ada keributan.


“Assalaamu’alaikum pak, maaf saya terpojok dikantin samping parkiran. Diluar banyak tetangga Arum yang dulu ikut mukulin saya. Ternyata mereka rombongan dengan bapak dan kakaknya Arum.” Chatku pada pak Yadi.


Sambil menunggu balasan aku menyeruput kopiku biar agak tenang. Beberapa saat kemudian ada juga yang ikut ngopi dikantin itu. Lumayan gak sendirian pikirku. Meski meja kami terpisah tapi jarak yang cukup dekat paling tidak bisa saling menyapa pikirku.


“NGopi apa ngeteh ?” Tanya salah satu orang itu.


“Kopi aja.” Jawab satunya.


“Aku the aja,aku gak ngopi.” Jawab satunya.


“Yoi, mbak kopi dua the manis satu.” Pinta yang menawarkan minuman pada dua temanya itu pada pegawai kantin.


Sambil menunggu balasan pak Yadi aku pandangi hpku yang bingung harus bagaimana.


“Itu mbah Sastro bisa diculik begitu gimana ceritanya ?” ucap salah satu orang yang baru pesan minuman dikantin itu membuka obrolan.


Begitu mendengar percakapanya, keringat dinginku semakin banyak keluar. Waduh ini orang orangnya Candra berarti. Wah kayaknya aku harus menghadapi satu maslah lagi nih, pikirku.


Udah kepalang basah, mau bagaimana lagi menghindar pun aku gak mungkin lagi. Tapi wajah ketiga orang itu tidak aku kenal dan kayaknya mereka juga tidak mengenali aku. Jadi sementara masih aman lah, pikirku.


“Pastinya gak tahu aku juga, tapi kata tetangga mbah Sastro yang ngasih kabar mereka yang menculik mbah Sastro itu mencari adiknya Candra si Arum itu. Karena mbah Sastro gak ngasih tahu kemudian dianiaya dan dibawa pergi.” Jawab satunya lagi.


Aku hanya menunduk sambil mendengarkan ada rasa penasaran juga bagaimana kronologis penculikan itu terjadi.


“Kok tahu tahu bisa dirumah sakit ini, siapa yang membawa kesini ?” Tanya seseorang lagi.

__ADS_1


“Ada polisi yang kasih kabar, kebapaknya Candra karena hp mbah sastro ikut terbawa saat mbah Sastro dibawa.” Jawab satunya lagi.


“lah terus si Arumnya itu sebenarnya dimana ? sejak peristiwa dia hamil itu gak pernah denger lagi ceritanya. Tahu tahu malah sekarang sudah ngilang lagi. Batu tahu juga kalo ternyata kemarin sama mbah Sastro dan ternyata dia melahirkan bayi itu. Yang kudengar dulu kan keguguran.” Ucap salah seorang diantara ketiga orang tersebut.


Aku semakin tidak karuan mendengar isi percakapan orang orang itu.


“Aku juga gak ngerti, salama ini Candra juga menutup rapat tentang Arum adiknya.” Jawab yang lain.


“Sayang ya, padahal Arum itu anaknya Ramah mudah bergaul rajin juga ikut kegiatan kampong dulunya.” Komentar seseorang yang tadinya hanya diam.


“Ya itulah yang membuat Candra begitu membenci orang yang menghamili adiknya itu. Dulunya Candra sangat menyayangi adiknya bahkan sangat melindunginya. Tapi sejak peristiwa itu Candra denger nama adiknya saja seperti tidak berkenan.” Jawab yang lain.


Aku makin tertunduk bukan hanya takut ketahuan, tapi merasa semakin sedih ingat masa lalu. Bagaimana mungkin seorang Arum yang dikenal baik seperti itu kemudian namanya rusak oleh perbuatanku.


“Ngopi gak ngajak ngajak, aku sampai kehausan diparkiran tadi.” Ucap salah seorang yang baru datang.


Aku kaget dengan ucapan orang yang baru datang dan tiba tiba ikut nimbrung obrolan itu. Spontan aku mendongakkan wajahku, sehingga tanpa sengaja mata kami saling menatap.


Dan aku seperti tersambar petir, melihat wajah orang itu yang cukup aku kenali sebagai salah satu orang yang dulu memukuli aku. Yaah sudah nasipku nih, harus bertemu mereka dalam suasana seperti ini. Aku tak mungkin melarikan diri justru akan menambah masalah saja. Aku diam pasrah apa yang akan terjadi terjadilah. Aku kembali menundukkan wajahku.


Kulihat orang itu membisikkan kepada temen temenya entah apa yang dia ucapkan. Aku sudah tidak peduli lagi, aku hanya menunggu apa yang akan mereka lakukan padaku.


Tiba tiba salah seorang dari mereka keluar kantin, wah ini pasti mengundang teman temanya pikirku. Tapi apa mau dikata, aku tak mampu berbuat apa apa. Dan benar sesaat kemudian sekitar lima orang masuk dan langsung menghampiriku.


Ua orang duduk dikanan kiriku satu orang berdiri dibelakangku dan satu orang duduk menghadapiku.


Aku dikepung langsung oleh empat orang, sedang yang lainya duduk dimeja kursi kantin dihadapanku.


Aku menghela nafas panjang pelan pelan menunggu apa yang akan mereka lakukan.


“Ternyata kamu masih berani muncul juga, apa kamu belum merasa cukup mendapat pelajaran dari kami waktu itu.” Tanya seseorang yang duduk dihadapanku.


“Maaf, aku disini karena aku yang membawa pak Sastro kesini bersama beberapa polisi yang menyelamatkan pak Sastro dari penculikan itu.” Jawabku berusaha tenang.


“Waah hebat dong kamu berarti pahlawan sekarang, Edi tolong kasih tahu Candra pahlawan penolong mbah Sastro ada disini. Biar Candra bisa berterimakasih padanya.” Ucap orang itu pada temenya yang dia panggil Edi.


“Heri saja yang punya nomer Candra, aku gak punya.” Jawab orang yang disebut Edi itu.


Aku melihat pegawai kantin agak khawatir melihat apa yang terjadi diantaara kami. Aku mau mengajak mereka menyingkir, tapi takut mereka salah paham mengira aku mengajak ribut. Tapi kalo gak menyingkir dan ada keributan disini bisa merugikan kantin.


Aku memilih diam dulu saja, lagian aku gak mungkin melawan juga jumlah mereka terlalu banyak. Menunggu saja apa yang akan terjadi. Kami jadi terdiam cukup lama dikantin itu, sekedar untuk menghabiskan kopi yang aku pesan pun rasanya sudah gak mungkin. Jangankan minum kopi, bergerak sedikitpun bisa menimbulkan salah paham. Makanya aku memilih untuk diam, berharap pak Yadi segera datang melerai mereka. Tapi chatku pun belum juga dibacanya, belum ada balasan.


Beberapa saat setelah hening mencekam, datanglah Candra kakaknya Arum yang langsung menggantikan posisi orang yang duduk dihadapanku.


“Masih kenal aku gak kamu ?” Tanya Candra kepadaku.


“Masih mas ?” jawabku. Meskipun usia dia denganku sepantar akan tetapi dari pertama bertemu dulu aku panggil dia mas. Karena aku dulu adalah calon adik iparnya yang ditolak.


“Serius masih inget aku, kalo inget aku siapa ?” Tanya Candra.


“Mas Candra, kakaknya Arum kan ?” jawabku pelan.


“Siapa kurang jelas ?” bentaknya.


“Mas Candra, kakaknya Arum !” ulangku agak keras.


“Arum siapa ?” Tanya candra lagi.


Aku menghela nafas sebelum menjawab kakaknya Arum yang agak songong ini.


“Arum itu dulu pacar saya mas !” jawabku tegas. Agak menaikan intonasi bicara. Meski sudah kucoba sekuatku untuk bersabar tapi sulit juga menahan reaksi spontanku.


“Owh pacar kamu ya Arum itu, berarti kamu adik iparku dong. Kalo gitu minum kopinya dihabiskan dulu nih.” Kata Candra mengambil cangkir kopiku dan menuang isinya ke kepalaku.


Aku mencoba tetap diam dan bersabar, tidak membalas perbuatanya.


“Kalo saja kamu dulu tidak menodai adikku mungkin aku gak akan begini padamu. Aku tahu kamu dulu cukup disegani di dunia hitam juga. Sekarang aku pingin tahu seberapa garangnya dulu kamu.” Kata Candra memancing emosiku.


“Maaf mas, itu masa lalu saya saja, saya sekarang hanya ingin hidup wajar gak ingin aneh aneh lagi.” Jawabku.


Tapi justru tamparan keras dipipiku yang kudapat dari Candra.


“Kenapa baru sekarang kamu begitu, setelah merusak kehormatan adikku dan menjatuhkan martabat keluargaku. Apa kamu merasa dengan begitu kamu bisa lepas dari kami ?” bentak Candra membuat orang orang disekitar tempat itu ikut mengerumuni kami diluar kantin.


Sementara pegawai kantin pada ketakutan. Dan orang yang berkumpul semakin banyak, namun tidak diperbolehkan ikut masuk oleh temen temen Candra. Mungkin inilah rencana mereka mau menjatuhkan dan mempermalukan aku dihadapan banyak orang,pikirku. Aku memang merasa sangat malu waktu itu, tapi aku juga berpikir. Masih lebih malu Arum dan keluarganya saat Arum ketahuan hamil diluar nikah waktu itu.


“Semua orang mohon didengar, orang ini adalah seorang yang telah menghamili gadis yang masih dibawah umur. Kemudian dia tinggal begitu saja, oleh karena itu hati hatilah dengan orang ini. Jangan tertipu dengan penampilanya yang sok alim.” Teriak Hendra didepan banyak orang.


Sebagian teman temanya menerikan kata “Huuuuuuu….. !” bersamaan.


Sehingga yang tidak tahu persis permasalahana ikut mengumpat dan meneriaku dengan kata kata kotor dari mulai nama binatang sampai dengan umpatan yang biasa ditujukan kepada para pelaku criminal.

__ADS_1


“Aku hanya membiarkan saja Candra mengeluarkan luapan kemarahanya. Entah kenapa waktu itu aku gak merasa marah sedikitpun pada Candra. Bahkan aku justru membayangkan kalo posisiku pada waktu itu ada di Candra, mungkin juga aku akan bersikap lebih keras dan lebih kasar.


“Kamu gak usah khawatir, kopi kamu biar aku kakak iparmu yang bayarin. Kalo masih kurang aku tambah nih.” Kata Candra mengambil sisa minuman ketiga temenya dan kembali dituangkan ke kepala dan sebagian di siramkan ke wajahku.


Aku tetap diam tanpa ekspresi apapun, dan itu justru membuat Candra semakin marah.


“Wah rupanya adik iparku ini terlalu pendiam, mungkin masih belum makan aku kasih makn dulu biar bisa ngomong.” Kata candra sambil mengambil roti dan disumpalkan ke mulutku serta diratakan di wajahku.


Semua tindakan Candra tidak ada yang membuatku memberikan respon. Semua aku diamkan saja, sampai temenya ada yang sudah tidak sabar dan ikut mengerjai aku.


“Ndra kamu jamgan kasar sama adik ipar kamu sendiri. Aku beri contoh yang halus biar dia mau bicara.” Kata orang itu.


Aku perlu mewaspadi orang lain selain Candra kakaknya Arum. Kalo Candra yang melampiaskan dendam padaku. Dipukulpun aku akan diam saja, tapi jika orang lain yang gak ada hubunganya dengan Arum akan lain ceritanya,pikirku. Dan benar orang itu tanganya berkelabat mau menonjok mukaku pas di bagian hidungku. Secepat kilat aku tangkap kepalan tanganya dan aku remas sekuat tenaga.


“Benar kamu memang bisa membuatku bicara, karena aku agak ada urusan sama kamu. Jadi kalo kamu sentuh aku aku juga bisa memukul kamu.” Kataku sambil meremas kuat kepalan tangan orang itu hingga meringis kesakitan.


“Kalo kamu mau buat maslah dengan aku, lain kali saja saat ini biarkan mas Candra yang bertindak.”kataku kemudian sambil mendorong tangan oran itu hingga tersungkur jatuh. Dengan jatuhnya orang itu membuat yang lain hanya diam tak berani berbuat macam macam, keculai Candra yang memang ada urusan langsung denganku.


“Silahkan mas Candra, kalo belum puas menghajar aku aku gak akan balas, tapi tidak berlaku selain mas Canra. Selain mas Candra ada yang senggol aku akan balas.” Hardikku.


“Owh kamu mau nunjukin dirimu dihadapanku sekarang. Jangan kira aku takut, ayo kita duel jangan kamu diam tak membalas aku gak suka.” Kata Candra. Mungkin tersinggung dengan ucapanku dianggap meremehkan dia.


“Aku tidak mau melawanmu mas Candra, karena aku sadar telah berbuat salah pada keluargamu terutama adik kamu Arum. Jadi bukan aku meremehkan kamu, tapi jika dengan memukuli aku membuatmu puas, aku ikhlas kok.” Kataku.


Tidak kusangka bapaknya kemudian datang dan ikut menangani aku dengan memukul kepalaku dengan botol minuman, aku sampai terhuyung menahan pening dan darah segar mengucur dari kepalaku. Tapi aku tetap bertahan untuk tegak berdiri berpegangan kursi kantin itu.


“Monggo pak, saya tidak akan lari dan tidak akan sakit hati kalo panjenengan dan mas Candra yang menghajar saya saat ini.” Kataku pada bapaknya Arum.


Bapaknya Arum justru mereda mendengar jawabanku saat itu.


“Kamu katakana saja dimana Arum sekarang, setelah itu menjauhlah dari kehidupan kami. Sudah cukup kamu membuat keluarga kami hancur, sudah cukup kamu mempermainkan anakku Arum. Sekarang tunjukan diamana Arum dan cucuku.” Kata kata bapaknya arum yang menyebut Sidiq dengan sebutan cucuku  justru meluluhkan hatiku. Aku duduk berimpuh dihadapan bapaknya Arum, secara tulus aku mohon maaf pada beliau. Sebuah keinginan yang  selama ini tidak pernah tersampaikan, mungkin ini saat yang tepat untuk aku mohon maaf secara langsung.


“Ampun pak, mas Candra dan seluruh keluarga besar Arum. Saya mengakui saya yang saat ini menyembunyikan Arum dan Sidiq anak saya dan Arum. Namun iti saya lakukan demi menyelamatkan Sidiq dan Arum ibunya yang diancam akan diculik. Namun para penculik mengira Arum disembunyikan pak Sastro hingga pak Sastro yang jadi korban. Dan kalo saya diminta mengatakan dimana Arum dan Sidiq sekarang. Saya tidak akan bersedia, lebih baik saya yang jadi korban. Saya tahu selama ini Arum dan Sidiq sudah sangat menderita karena saya, saya tidak ingin menambah penderitaanya lagi.” Jawabku dengan menahan pening dan dari kepalaku mengalir darah yang membasahi wajahku.


Tak ada yang bersuara waktu itu,tiba tiba pak Yadi datang dan segera menolongku. Pak Yadi hendak memarahi orang orang disitu namun aku cegah.


“Kalian tahu tidak, yang menolong pak Sastro adalah bapak ini.  Kalo ada masalah lama jangan di bawa dalm kondisi seperti ini…!” kata pak Yadi yang Aku potong.


“Sudahlah pak gak papa, saya emang pantas mendapat perlakuan seperti ini dari mereka pak. Saya terima tidak akan sakit hati.” Kataku.sambil membersihkan darah yang masih megalir diwajahku.


“Kamu obati dulu lukamu kedalam, setelah itu aku masih ingin bertanya tentang keadaan Arum anakku juga cucuku.” Kata kata bapaknya Arum melunak.


“Njih pak, Tanya sekarang juga boleh saya gak papa kokmasih kuat.” Kataku.


Tiba tiba Candra memegang lenganku dan mengajakku melangkah masuk ke rumah sakit.


“Maafkan aku juga, tadi salah faham kukira kamu otak yang mau menculik arum dan lek Sastro.” Kata Candra.


“Gak papa mas, aku ikhlas kesalahan mas Candra belum apa apa disbanding kesalahanku.” Kataku.


“Sudah ayu periksa dulu kedalam, nanti kita lanjutkan bicara baik baik.” kata Candra.


Baru saja kami melangkah melewati pintu masuk sudah ditunggu dokter.


Bapak Ahmad Sidiq alias Yasin, ditunggu pak Sastro, beliau mencari bapak katanya ada pesan yang harus disampaikan. Tanpa diobati lebih dulu aku hanya cuci muka dan membersihakan darah yang mengotori wajah aku menuju ke ruangan dimana pak Sastro dirawat diikuti Candra dan bapaknya.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2