
Tak ada yg istimewa dari maghrib sampai Isya. Hanya ada wa dari Pak Yadi, Polisi yg ngobrol di masjid kemarin.
" اسلا م علیكم و و
Selamat malam Pak Rois
Ada kabar baik, identitas korban meninggal kemarin sudah ditemukan. Dan Tersangka / Pelaku juga sudah teridentifikasi. Saat ini masih dalam pencarian. "
Saat aku baca wa tersebut, istriku datang dan ikut baca.
" Tumben pegang HP mas, biasanya Amir yg suruh bawa. " tanya Fatimah.
" iya.. Aku rasa saat seperti ini, aku harus selalu pegang Hp. " jawabku datar, ada yg mau aku sampaikan ke istriku. Tapi aku masih Ragu.
"Im...? " tanyaku lembut, berusaha lembut mungkin tepatnya.
" Ya.. kenapa, masih sore nih. Anak anak masih pada nderes ( baca qur an ) " jawab istriku manja, sambil memainkan bulu kumisku.
" Lah kok ngomongin masih sore.. Emang ngapain.... ? " tanyaku Aku meletakkan Hp ku, ku belai rambut indah istriku.
" Owh kirain.... Udah mau minta jatah. Lagian tumben gak keluar ikut ronda ?" tanya Fatimah.
" Kan udah janji, malam ini waktuku hanya untukmu sayangku." aku mencoba menggodanya.
" Dihhh co cweet mas, jadi melayang nih diriku..." jawab nya sambil senyum dan peluk aku.
" Eeeeh.... dari dulu tu aku Romantis kale,,, Imah aja yang gak ngerasa.. !" jawabku.
" Halaaah Romantis Apaan, kemarin pergi lama juga gak ada kabar sama sekali. Aku kangeeen mas... Udah gitu pulang juga gak sentuh aku sama sekali. Sebel tau....!" serunya.
Kambuh ceriwisnya nih istri...!
" Ya maaf, aku ngaku salah... Tapi bukan berarti aku cuek. begitu pulang ada masalah, ditemukan mayat itu. Terus aku dimintai keterangan sama polisi. Malamnya dilanjutkan di Masjid sama Amir "
Aku tidak ceritakan pertemuan dan pertarunganku dengan Jin rambut api.
" Aku pingin ngomong, ada permintaan padamu. Kalo keberatan jangan marah ya ? " ucapku.
" Bilang aja sih... asal gak minta poligami insya Allah aku gak marah kok " seru Fatimah.
Haddewwh....
Apa mungkin benar, dia sudah benar benar mencintaiku.
Ah kenapa sih aku yg jadi gini ?
" Begini Mah....." kataku
Belum selesai ngomong, di potong istriku.
" Iiih bentar panggil Im bentar panggil mah bentar panggil sayang... Maunya panggil Aku apa kek yg pasti." kata Fatimah.
Begitulah perempuan, gak sadar kalo dia juga kadang panggil pah, pak mas juga gak jelas.
" Yaudah... Gini sayangku... Besuk kan kamu ke Majenang, habis dari situ aku ke pondok Abah. kamu tinggal di majenang dulu. " aku berheti sejenak.
" Untuk urusan tanggung jawabku sebagai Rois, dan mimpin mujahadah. Sudah aku mandatkan ke Amir. Kalo selama kita gak dirumah, biar mbak surti dan Amir tinggal dirumah kita saja.
Kan Amir sudah kita anggap sebagai anak kita. Urusan jualan kita serahkan mbak surti. Biar sekaligus buat operasional kegiatan ngaji dan mujahadah. Gimana menurutmu ? Setuju atau tidak ? " tanyaku.
" Ya gak papa sih... Kalo demi kebaikan kita. Sekalian Amir belikan hp, yg murah murah aja. Asal bisa buat komunikasi kalo ada apa apa. Takutnya nanti kalo hubungi no mas, mas gak dirumah. Kalo hp ditinggalkan Amir... Kalo aku kangen, gimana ? " jawab Fatimah.
" Yo jangan, biar amir bawa Hp ini saja, Aku yg cari lagi. Soalnya kalo ada yg order no nya gimana nanti...? " jawabku
" Owh iya ya... " ucapnya.
" Mang Mas ada duit buat beli Hp ? " tanya Fatimah.
" Ada sih... Tapi nanti ongkos ke majenang dan ke pondok Abah, kamu yg Tanggung ya ?" jawabku.
" Sama aja bohong, apa nanti di majenang aja minta dibeliin bapak mas !" kata Fatimah.
" Ah ogah.. Malu lah... Masak menantu tanpa modal sama sekali. Mending gak bawa Hp gak papa" aku menolak.
" Gak papa mas, modal kasih sayangmu sudah lebih dari cukup kok..." jawab istriku genit.
" Tuh kan mulai mancing mancing. btw anak anak dah pada pulang belum yg ngaji. Kalo Amir masih kasih tahu sekalian, besuk suruh jagain rumah sama ibu nya." aku bertanya pada Fatimah.
" Alaaa cuma alasan, pingin tahu udah sepi belum aja kan... ?" celetuk istriku, yg malam itu bersolek cantik dan wangi. Iya lah.... hampir sebulan gak di kasih nafkah batin.
" Udah mas... Anak anak udah selesai ngaji sama Amir. Amir juga sudah ku kasih tau. Sekarang juga udah pulang.... " lapor Fatimah.
Cerita istriku seperti laporan pada atasan.
" Owh yaudah.... makasih" aku jawab datar sambil nahan senyum.
" cuma gitu doang ? " tanya Fatimah.
" Terus maunya gimana" jawabku.
" Iiih.... Mas jahat banget, nyebelin. Udah pakai parfum wangi masih nanya juga ? " protes Fatimah.
" Owh... Ya kalo itu kan gak perlu diomongin....! Dalam hal itu prinsipnya sedikit bicara banyak kerja !" jawabku sambil tertawa.
" Aaaaa mas ni bisaan kalo nggodain cewek.... awas kalo diterapkan ke yg lain ya... !" seru istriku.
" Ya gak lah sayang... cukup satu Fatimah Yang aku cinta. Boleh jujur gak nih.... ?" tanyaku.
" Apa....?" tanya Fatimah.
" Aku baru tahu kalo sekarang dihati kita masing masing sudah ada cinta. Kita sudah saling jatuh cinta, bener gak ?" pancingku.
Istriku tertegun sejenak.
Kemudian berbaring disisiku, dan menatapku.
" Fatimah gak tahu, kapan persisnya Fatimah mulai mencintaimu mas. Sungguh luar biasa Abah ya..? Menikahkan kita, yg sebelumnya tidak punya rasa saling cinta. Tapi ternyata aku menemukan kecocokan pada diri mas Yasin. Awalnya aku berpikir hanya taat orang tua dan guru. Ketika mau dinikahkan sama kamu mas." ujarnya.
Lah kok bisa istriku punya pikiran yg sama denganku. Ini bukan soal wajah atau body yg aduhai.
Tapi aku banyak menemukan kecocokan pada diri Fatimah. Mungkin inilah salah satu karomah beliau.
" Ehmm berarti pas malam pertama itu, kalo aku paksakan menggauli kamu. Kamu pasti tersiksa ya ?" potongku.
" Iiih kok nginget nginget yg dulu siih... Waktu itu aku hanya takut mas. Takut kalo kamu ternyata gak bisa mencintai aku. Tapi kalo Kamu maksa aku juga takut dosa kalo gakvmau. Gak tahu waktu itu bingung, meskipun secara naluri juga ada Nafsu sih. Secara wajah mas juga cukup ganteng, hehehe. " jawab Fatimah.
" Iya aku juga seperti itu juga. Disitu mungkin kecocokan kita " balasku.
__ADS_1
" Aku hampir gak tahan, berada dikamar dengan gadis yg manis. Cuma berdua dan boleh digauli. Gak kebayang waktu itu kita gak ngapa ngapain..." kataku.
Istriku pun meluk aku, erat sekali.
Tampak aura kebahagiaan memancar di wajahnya.
" Masss..." Fatimah merajuk
" Apa lagi sayang... ? " jawabku.
" Mas Cuma mau ngobrol aja...?" tanya Fatimah.
" Ya gak lah sayang, ini kan salah satu ekspresi cinta juga. Pokoknya malam ini waktuku hanya untukmu..." kataku.
" Cuma waktunya aja kah ?" tanyanya lagi.
" Semua lah..... diriku seutuhnya untukmu " jawabku.
" Yakiin mas.... ? Nanti Aku kasih tanda lagi, ditempat yg kelihatan boleh gak...? biar ketahuan ada istrinya. " tanya dia.
" Ah mau kamu penuhin juga boleh kok..."kataku tersenyum.
Selanjutnya Readers bayangkan sendiri saja lah kira kira bagaimana.
...
Aku bangun lihat jam Sudah pukul 4.45
Istriku sudah bangun duluan, aduh gak bangunin subuh tadi..
Aku buru buru masuk kamar mandi mau mandi besar tentunya terus sholat subuh. Ternyata kamar mandi baru dipakai istriku mandi.
" Masih lama gak say, aku belum subuh nih " pintaku.
" Bentaaar... Aku juga barusan masuk. Kan sama sama kesiangan. " jawab Fatimah.
Ahhh istriku makin vulgar saja bicaranya
" Yaudah cepetan ya, berangkat ke majenang nya pagi aja..." kataku.
" Gak ah... kalo pagi mas pasti langsung mo pergi. Nginep dulu semalam disana...! " Pintanya.
" Yaaaa "jawabku pasrah.
....
Habis sholat Subuh.
" Mau minum kopi atau susu mas " tanya Fatimah.
" Kopi aja, semalem udah..." belum selesai bicara, pipiku dijewer istriku.
" Gak boleh ngomong gitu lah..." protesnya.
Iya juga ya.
Ada sesuatu yg diomongkan gak masalah. Tapi kalo dilakukan jadi masalah.....!!!
Tapi kalo yg itu, dilakukan ( kalo dengan pasanganya ) gak masalah. Tapi kalo diomongkan bisa jadi masalah...hehehe...!
Sekaliyan aku buatin pisang goreng parnir pakai keju dan susu !" katanya
" Katanya gak boleh ngomong gitu ? " godaku sambil senyum.
" Ini kan susu beneran, bisiknya pelan sambil nyubit." sergahnya.
aku nahan perih, sambil komen.
" Aduh sakit.... Owh kalo yg semalam palsu ya... ?" kataku ngkakak.
Mungkin saking sebelnya, istriku sampai mukul mukul aku.
" sebbbbeeelllll " gerutunya.ih
tok tok tok...
Suara orang ketuk pintu.
" Assalaamu ' alaikum.."
" Kok kaya suara mbak surti ibunya Amir, bukain tuh.." pintaku pada Fatimah.
" Wa ' alaikummussalam. " jawab kami sesaat setelah diam.
Karena kaget, sampai telat jawab salam
" Owh mbak Surti mbak..." istriku mempersilakan mbak surti masuk dan diersikakan duduk.
" Buatin minum dong bu" pintaku pada Fatimah.
Kalo depan orang ya panggilnya bu, kalo berdua sih ebas, hehehe.
" Ada apa mbak surti pagi pagi ? " tanyaku.
" ini pak, kata Amir nanti disuruh jaga rumah sini, memangnya bapak sama ibu mau tindak kemana ?" jawab mbak surti.
" Owh... iya mbak, saya sama istri mau ke Majenang nanti. gak tahu mau berapa hari. Jadi urusan rumah warung dan kampung, saya serahkan mbak surti dan putranya. Ya meskipun Amir sudah saya anggap anak sendiri. Tapi yg lebih berhak kan mbak surti..." kataku.
"Owhh iya gak papa pak, la ada kerso apa pak ke majenang ?" tanya mbak Surti.
Istriku tiba bawa minuman.
" Gak ada apa apa, cuman ini istri saya kan lagi hamil muda, biar istirahat dulu. hamil muda kan katanya masih riskan." jawabku.
" Owalaaaahhhh ibu hamil to, akhirnya njih pak, alkamndulillah..." ucap mbak Surti.
Begitulah ucapan versi lidah jawa, ya harus maklum.
Mbak surti pun pulang, setelah minum.
"Im ... mang berapa bulan sih hamilnya... ?" tanyaku.
" baru 1 ,5 bulan kok.
Kemarin inget sekalian periksa ke bidan, ternyata positif. " jawab Fatimah
" Sukurlah, akhirnya kita akan dikaruniai buah hati, buah cinta kita ya say" kataku.
__ADS_1
" Iya " jawabnya singkat.
Kita berangkat pagi aja, nginep gak papa, lagian aku juga masih kangen. Kalo kesiangan kasihan calon bayi ini.
Kataku sambil mencium perut istriku.
Aku sudah sampai di Terminal jombor mencari bus.
Sudah banyak calon penumpang, bentar lg penuh. aku car tempat duduk yg nyaman buat berdua.
Singkat cerita sampailah aku dirumah mertuaku. Kami disambut bak tamu jauh, memang semenjak istriku ikut aku ke jogja baru kali ini pulang. ya memang baru 6 bulan lebih dikit.
Begitu dikamar tamu bpk ibu mertuaku lgsg memandang perut istriku.
" kok perutmu masih rata nduk " tanya Ibu mertuaku isriku senyum senyum.
" Iya,, tapi sudah isi 1,5 bulan yung.... " jawab Fatimah.
" Alhamdulillah...! " seru ibu mertuaku.
Owh ternyata mertuaku sudah pingin nimang cucu dari putri semata wayangnya.
mungkin beliau telat punya anak kali.
Mengingat usia Fatimah dan ibunya jauh banget padahal anak tunggal.
Akupun menceritakan maksut dan tujuanku menitipkan Istriku. Bapak dan ibu mertuaku tidak keberatan, bahkan malah senang. Tapi aku diminta tinggal beberapa hari dulu disitu.
Aku gak bisa memenuhi keinginanya. paling sku hanya bisa nginap semalam. langsung pergi ke pondoknya Abah .
Aku dan istri istirahat dikamar "pengantin" tempat plg bersejarah bagi kami berdua.
Saat istriku aku ingatkan peristiwa malam pertama dulu, cuma senyum saja.
...
Akhirnya.
Setelah menginap semalam aku pamit dengan kedua mertuaku dan istriku tentunya. Istriku nampak berkaca kaca, aku mencoba tegar. Bapak mertuaku memberiku cincin.
" Pakailah nak.... Ini bukan Syirik, Tapi Allah memberi kelebihan pada cincin ini
Jika aura negatif, cincin ini bisa menjadi indikator. " Kata bapak mertuaku.
" Njih pak.." jawabku.
Aku cium tangan bapak ibu mertuaku, dan tentu saja istriku kupeluk dan kucium.
" Sabar ya doakan aku cepat kembali " kataku pada Fatimah.
Aku melangkah pergi meninggalkan mereka.
Sebenarnya semalam aku sudah mendapat "Isyaroh" keberadaan kang Salim didaerah ciamis. segera aku menuju kesana. tanpa diketahui istriku, tahunya aku ke pondok Abah.
Tak terlalu sulit mencari daerah yg dimaksut, hanya saja... untuk mencapai pondoknya harus jln kaki, padahal jaraknya masih 3km lebih. Mana sudah hampir maghrib lagi. Udah gitu masih melewati hutan kurang lbh 2km.
Aduuh.... mana lupa gak jadi beli Hp, aku harus bawa lampu penerangan. mumung belum masuk hutan harus beli lampu senter.
Ya maklum di pelosok yg ada ya senter jadul, pakai batu batrei tak apalah.
Tapi mending cari mushola maghrib dulu, takutnya gak nemu masjid atau mushola nanti.
Selepas maghrib ku melngkah lurus sampai mentok hutan, ikuti jln setapak lurus nanti ditengah hutan ada penerangan lampu itulah pondok / padepokan kang Salim. Begitu isyaroh yg aku terima dan informasi lgsg dari warga.
Owh ternyata kang Salim selain mengajar ngaji quran, juga ngajar pencak silat dan ilmu hikmah.
Ya memang dari dulu bakatnya kelihatan disitu.
Lah aku bakatnya apa ?
gak jelas ngaji kitap nanggung, ngaji quran nanggung pencak silat nanggung.
yg paling lihai cuma silat lidah.
( 😀😀😀)
Tapi tak apalah Allah pasti kasih hambanya kelebihan.
Mulai terdengar lolongan anjing hutan, berarti hutanya sudah dekat. Sayup sayup terdengar suara suling degung. Seruling khas sunda, tapi masak ditepi hutan...? Terus tercium aroma melati, ah mungkin memang ada pohon melati disini. Tapi ini bau hio...? ( menyan cina berbentuk lidi )
biarin sajalah.
Tiba tiba.
Cincin pemberian mertua terasa hangat. Seakan mau menggerakkan tanganku halus dan perlahan. kuikuti getaranya.
tanganku bergerak pelan, aku ikuti terus getaranya, dan kuikuti gerakan tanganku pandangan mataku menatap sosok Ular yg sangat besar.
Kusiapkan Golok yg aku bawa.
jaga jaga kalo ular itu menyerang.
ular beneran atau jadi jadian gak jelas juga. Pokoknya mendekat aku bacok. ternyata benar ular itu tiba tiba menyerangku. Aku masih sempat melompat dengan berkoprol.
Tapi belum sempat berdiri ular itu menyerang lagi. Aku gak mungkin menghindar sementara posisiku belum sempurna berdiri. Tak da jln lain golok terhunus yg sudah aku siapkan ku arahkan ke kepala ular. creepp.... tembus dikepala ular dan ular itu mati....!
Tiba tiba tubuh ular itu menjadi samar samar lalu hilang. Kuarahkan batreku ke arah bekas kepala ular itu.
Golok ku ikut hilang...srreeett..
terdengar suara melesat menuju kearahku.
Refleku masih jalan, bisa aku tangkis dengan batre senter..
ssssreeeet..... Terdengar lagi lbh cepat dari yg tadi.
Dan hanya ada tangan yg bisa buat menangkis
Dan crreesss
benda itu menggores tanganku, luka kecil sih bag ilaki laki.
Aku lebih waspada lagi pasang kuda kuda dengan kedua tangan menyilang di depan. kaki kanan mundur sedikit kaki kiri kutekuk dikit kedepan.
Tapi tiba tiba dibekas goresan benda tadi seperti mati rasa, lama lama melebar dan akhirnya aku roboh.
...bersambung...
__ADS_1